Bab 5: Harga dari Sebuah Kekuatan dan Mata yang Melihat Segalanya

​Asap sisa kebakaran masih mengepul tipis dari puing-puing bangunan di sekitar alun-alun Pulau Toroa. Di tengah medan pertempuran yang hancur berantakan itu, Roronoa Zoro berdiri dengan napas yang memburu. Matanya yang tajam menatap bergantian ke arah dua sosok pemuda di hadapannya—Giyu Tomioka dengan pedang airnya yang tenang, dan Zenitsu Agatsuma yang baru saja melesat layaknya kilatan petir dari langit.

​Zoro menurunkan Wado Ichimonji dari mulutnya, memegangnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menyarungkan dua katana standar miliknya. Sikap bertarungnya telah mereda, namun kewaspadaannya justru berada di titik tertinggi. Sebagai seorang pendekar pedang yang telah mengasah instingnya di ambang hidup dan mati berkali-kali, Zoro merasakan sebuah keganjilan yang luar biasa dari kedua orang ini.

​"Kalian..." Zoro memulai, suaranya berat dan memecah keheningan malam yang canggung. "Kalian sangat kuat. Tapi ada yang aneh. Saat pedang kita beradu tadi, aku tidak merasakan 'niat' dari tebasanmu." Zoro menatap lurus ke arah mata biru gelap Giyu. "Tidak ada niat membunuh, tidak ada niat melindungi, tidak ada emosi sama sekali. Seolah-olah aku sedang beradu pedang dengan boneka baja yang dikendalikan oleh hantu."

​Di atas menara lonceng yang berjarak ratusan meter, Muzan Kibutsi yang duduk bersandar di dinding bata yang dingin, tersenyum tipis. Keringat membasahi dahi anak berusia empat belas tahun itu. Sakit kepala yang berdenyut hebat mulai menyiksa pelipisnya akibat mempertahankan sinkronisasi mental ganda. Namun, mendengar analisis Zoro membuatnya merasa kagum. Insting pendekar masa depan dari kru Topi Jerami itu memang tidak bisa diremehkan. Zoro bisa merasakan ketiadaan jiwa di dalam boneka-boneka tersebut, meskipun ia tidak memahami konsep Puppet System.

​Muzan tahu, percakapan lebih lanjut hanya akan menimbulkan kecurigaan. Ia harus segera menarik kedua bonekanya dan memulihkan diri.

​Melalui kendali mentalnya, Muzan membuat Giyu menyarungkan pedang Nichirin-nya dengan gerakan yang perlahan dan sangat terukur. Bunyi klik dari tsuba yang menyentuh sarung pedang bergema pelan.

​"Dunia ini sangat luas, Roronoa Zoro," ucap Giyu datar, suaranya diatur oleh Muzan untuk memberikan kesan misterius yang mendalam. "Apa yang kau lihat di hadapanmu hanyalah riak kecil di permukaan lautan. Jika tujuanmu adalah menjadi yang terkuat... maka kau masih harus berlayar lebih jauh lagi."

​Zoro menyeringai lebar. Alih-alih merasa terhina oleh nasihat tersebut, darahnya justru mendidih karena antusiasme. Ia menyarungkan Wado Ichimonji ke pinggangnya. "Menarik. Aku tidak tahu dari mana asal kalian, atau aliran pedang aneh macam apa yang kalian gunakan. Tapi ingat baik-baik... Suatu hari nanti, jika kita bertemu lagi, pedangku tidak akan berhenti hanya pada memotong sabuk perutku." Zoro melirik ke arah sabuk haramaki hijaunya yang telah terputus akibat kecepatan Zenitsu. "Aku akan melampaui kalian."

​Giyu tidak membalas. Ia hanya membalikkan badannya. Di saat yang sama, Zenitsu—yang masih berada dalam mode tidur mematikannya—bergerak dengan kecepatan kilat, meraih kerah belakang haori Giyu.

​Dalam sekejap mata, percikan listrik kuning meledak ringan di udara.

​ZZZTTT!

​Keduanya menghilang dari pandangan Zoro dan para prajurit Angkatan Laut yang tersisa, meninggalkan embusan angin kencang yang menyapu debu jalanan. Mereka bergerak terlalu cepat untuk diikuti oleh mata telanjang, melesat melintasi atap-atap rumah penduduk menuju arah gereja tua.

​Zoro mendengus pelan, senyum puas masih terukir di wajahnya. Ia berbalik dan berjalan menjauh dari alun-alun, sama sekali tidak mempedulikan Letnan Roka yang masih ternganga kebingungan. Malam ini, Zoro mendapatkan pelajaran berharga bahwa East Blue mungkin tidak selemah yang ia bayangkan.

​Di puncak menara lonceng, Muzan memutus sinkronisasi kesadarannya secara paksa tepat ketika Giyu dan Zenitsu mendarat di lantai kayu menara.

​"Ukh..."

​Muzan mengerang tertahan. Tubuh aslinya yang kurus dan lemah langsung ambruk ke lantai kayu yang berdebu. Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Rasanya seolah-olah otaknya baru saja diremas dan ditarik ke dua arah yang berlawanan. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat. Rasa sakit ini adalah kompensasi mutlak dari hukum pertukaran yang adil. Mengendalikan dua kekuatan manusia super secara bersamaan dengan otak seorang remaja yang kekurangan gizi adalah tindakan yang menyiksa saraf.

​"Sistem..." bisik Muzan dengan suara parau yang bergetar. "Tarik kembali Giyu dan Zenitsu ke dalam Puppet Storage."

​Di hadapannya, tubuh Giyu dan Zenitsu seketika terurai menjadi partikel-partikel cahaya—cahaya biru gelap dan cahaya kuning keemasan—yang kemudian melesat masuk ke dalam dahi Muzan.

​Begitu kedua boneka itu ditarik kembali, beban komputasi di otak Muzan menghilang. Rasa sakit kepalanya mereda drastis, menyisakan kelelahan fisik yang luar biasa dan rasa lapar yang membakar perutnya. Ia belum makan apa pun sejak bereinkarnasi ke dunia ini.

​Muzan berguling telentang, menatap langit-langit menara kayu yang berlubang, membiarkan cahaya bulan sabit menyinari wajahnya yang pucat dan kotor.

​"Kelemahan terbesarku benar-benar tubuh fisik ini," gumamnya pelan di tengah napasnya yang berat. "Aku tidak bisa terus-menerus bersembunyi di balik bayang-bayang jika batas sinkronisasiku begitu rendah. Aku harus mencari cara untuk melatih tubuh ini, atau setidaknya mencari Buah Iblis tipe Zoan yang bisa meningkatkan vitalitas dasar... Tidak, Buah Iblis akan membuatku kehilangan kemampuan berenang. Di dunia yang sembilan puluh persennya adalah lautan, itu adalah kelemahan fatal."

​Muzan menyingkirkan pikiran itu untuk sementara. Prioritas saat ini adalah memulihkan diri. Ia merogoh saku celananya yang robek dan mengeluarkan beberapa gulung uang kertas kotor serta uang logam bernilai 4.850 Belly yang ia rampas dari ketiga preman sebelumnya. Ia sengaja tidak menyerap uang receh ini ke dalam sistem untuk keperluan transaksi sehari-hari di dunia nyata.

​Dengan bertumpu pada dinding, Muzan memaksa dirinya berdiri. Kaki kurusnya sedikit gemetar. Ia harus keluar dari gereja ini sebelum ada prajurit Angkatan Laut yang melakukan patroli penyisiran.

​Muzan menuruni tangga spiral menara dengan hati-hati. Begitu sampai di lantai dasar, ia menyelinap keluar melalui pintu belakang gereja, menghindari jalan utama yang kini dipenuhi oleh warga dan prajurit yang sedang memadamkan sisa-sisa api. Ia menyusuri gang-gang gelap di bagian barat kota pelabuhan, daerah yang tidak terkena dampak amukan Kapten Barts.

​Setelah berjalan tertatih-tatih selama hampir dua puluh menit, Muzan menemukan sebuah penginapan kecil berlantai dua yang terlihat murah namun bersih. Papan namanya berbunyi 'Sea Gull Inn'. Beberapa pelaut terlihat tertidur mabuk di teras depannya.

​Muzan merapikan pakaian compang-campingnya sebisa mungkin, menghapus sebagian kotoran dari wajahnya, lalu mendorong pintu kayu penginapan itu. Suara lonceng kecil bergemerincing di atas pintu.

​Seorang wanita paruh baya bertubuh gempal yang sedang mengelap gelas di meja resepsionis menoleh. Alisnya berkerut melihat seorang anak gembel masuk ke penginapannya.

​"Hei, Nak, ini bukan tempat penampungan. Kalau kau mau meminta sisa makanan, pergilah ke pintu dapur di belak—"

​Kata-kata wanita itu terpotong ketika Muzan meletakkan dua lembar uang bernilai 1.000 Belly dan sekeping koin 500 Belly di atas meja konter. Mata hitam anak itu menatap dingin, memancarkan aura kedewasaan yang sangat tidak wajar untuk usianya.

​"Aku butuh satu kamar untuk malam ini. Air hangat untuk mandi. Dan makanan yang layak. Sebanyak yang bisa dibeli dengan sisa uang ini," ucap Muzan dengan nada yang tenang namun memerintah.

​Wanita itu terdiam sejenak, terintimidasi oleh tatapan Muzan, sebelum akhirnya mengambil uang tersebut. Di East Blue, uang adalah raja. Selama pelanggan bisa membayar, mereka tidak akan banyak bertanya.

​"Kamar nomor 4 di lantai dua. Kuncinya ada di pintu. Aku akan menyuruh pelayan membawakan seember air hangat dan mengantarkan makan malammu dalam lima belas menit," kata wanita itu seraya memasukkan uang ke dalam celemeknya.

​"Terima kasih."

​Muzan mengambil kunci kayu dari meja dan berjalan menaiki tangga. Kamarnya sempit, hanya berisi sebuah ranjang kayu dengan kasur tipis, sebuah meja kecil, dan sebuah baskom cuci. Namun bagi Muzan yang baru saja bereinkarnasi ke tubuh gembel jalanan, ini adalah fasilitas bintang lima.

​Ia melepas pakaian kotornya, mengabaikan bau apek yang menyengat, lalu duduk di tepi ranjang. Tak lama kemudian, seorang pelayan pria masuk membawa ember kayu berisi air hangat, sabun kasar, dan sebuah nampan kayu berisi semangkuk besar sup daging sapi panas, roti gandum tebal, dan segelas susu hangat.

​Begitu pelayan itu pergi, Muzan segera membersihkan tubuhnya dengan spons basah dan sabun. Air hangat yang menyentuh kulitnya membantu mengendurkan otot-ototnya yang tegang. Setelah merasa cukup bersih, ia mengenakan kembali pakaian lamanya—berniat membeli pakaian baru besok pagi—lalu duduk menghadapi nampan makanannya.

​Aroma sup daging sapi itu membuat perutnya bergejolak hebat. Tanpa ragu, Muzan menyantap makanan itu. Rasanya luar biasa nikmat. Tubuhnya yang kekurangan gizi menyerap setiap kalori dan nutrisi dengan rakus. Ia menghabiskan seluruh makanan itu hingga tetes terakhir, menyisakan mangkuk yang bersih mengkilap.

​Muzan bersandar di kursi kayunya, menghembuskan napas panjang yang penuh dengan kepuasan. Tubuhnya kini terasa sedikit lebih bertenaga. Rasa sakit kepalanya telah sepenuhnya hilang.

​"Sekarang," gumam Muzan, matanya berkilat di bawah cahaya lampu minyak yang temaram. "Mari kita periksa hasil panen malam ini."

​Ia memanggil panel sistem. Layar biru transparan muncul di udara kosong di hadapannya.

​«"STATUS HOST:"»

Nama: Muzan Kibutsi

Usia: 14 Tahun

Afiliasi: Tidak Ada

Kekuatan Fisik: 4.1 (Meningkat sedikit karena asupan nutrisi)

Kecepatan: 5

Ketahanan: 3.1

Kekuatan Mental: 86 (+1 akibat adaptasi tekanan sinkronisasi)

Kapasitas Pengendalian Boneka: 2

​Muzan mengangguk pelan melihat peningkatan kecil pada statusnya. Ia kemudian beralih ke tab yang paling penting.

​«"BELLY COUNTER:"»

Saldo Belly: 769.850 Belly

​"Tujuh ratus enam puluh sembilan ribu Belly," Muzan mengusap dagunya perlahan. "Sistem, hitungan ini berarti uang ini tersimpan dengan aman di dalam ruang dimensimu, kan? Jika aku membutuhkannya untuk transaksi tunai di dunia nyata, bisakah aku menariknya kembali?"

​«"Jawaban: Ya. Host dapat menarik Belly fisik dari Counter kapan saja dengan jumlah sesuai keinginan. Uang yang ditarik akan langsung termanifestasi di tangan atau Inventory Host. Uang yang ditarik akan memiliki nomor seri yang sah dan diakui oleh Bank Dunia One Piece."»

​"Sempurna. Tidak perlu khawatir tentang uang palsu atau perampokan," batin Muzan.

​Ia masih membutuhkan sekitar 230.150 Belly lagi untuk mencapai angka satu juta demi membuka fitur [Shop]. Fitur itu mungkin berisi item penyembuh, peningkatan kapasitas, atau material penting lainnya yang tidak bisa didapatkan dari Gacha karakter. Ia harus merencanakan cara mendapatkan sisa uang itu secepatnya.

​Muzan mengalihkan fokusnya ke tab [Inventory].

​Di sana tersimpan beberapa kotak slot.

​[Tiket Gacha Karakter Menengah (Tier Biru)] x 2

​[Tiket Gacha Karakter Kuat (Tier Ungu)] x 1

​"Sistem memberikan misi tersembunyi yang sangat berharga hanya karena aku berhadapan dengan Roronoa Zoro. Artinya, interaksi dengan karakter Canon yang memiliki signifikansi tinggi dalam alur takdir dunia ini akan memicu trigger hadiah yang besar," analisis Muzan. "Ini berarti aku harus terus membayangi pergerakan kru Topi Jerami, atau secara aktif mengganggu peristiwa besar yang melibatkan mereka."

​Tapi sebelum ia merencanakan rute perjalanannya esok hari, ia menatap [Tiket Gacha Karakter Kuat] di dalam inventory-nya. Tiket berwarna ungu gelap itu memancarkan daya tarik yang luar biasa.

​Muzan adalah seorang kolektor kekuatan. Meski ia saat ini hanya bisa mengendalikan dua boneka secara bersamaan, memiliki variasi karakter di dalam Puppet Storage akan memberikannya fleksibilitas taktis. Giyu luar biasa untuk pertarungan jarak dekat yang mematikan dan pertahanan solid. Zenitsu adalah kartu as serangan kejutan dan kecepatan mutlak. Keduanya murni petarung Damage Per Second (DPS).

​Apa yang Muzan butuhkan sekarang bukanlah petarung garis depan lagi. Ia adalah seorang dalang yang bergerak di balik bayang-bayang. Ia membutuhkan mata yang bisa melihat menembus kebohongan, mendeteksi penyergapan, dan memetakan medan pertempuran dari jarak jauh. Ia butuh karakter dengan kemampuan Utility atau intelijen.

​"Sistem," panggil Muzan dengan nada serius. "Gunakan [Tiket Gacha Karakter Kuat (Tier Ungu)]."

​Panel berubah. Layar roulette raksasa muncul. Kali ini, karena tiket yang digunakan adalah tiket spesifik (Tier Ungu jaminan), roda roulette itu langsung memancarkan aura ungu pekat sejak detik pertama ia berputar. Tidak ada warna putih, hijau, atau biru. Hanya warna ungu yang bergradasi dari terang ke gelap.

​Roda itu berputar dengan kecepatan gila, menciptakan suara dengungan mekanis yang memenuhi pikiran Muzan.

​Muzan menatap roda itu tanpa berkedip. Beri aku karakter dengan kemampuan sensorik yang tinggi. Atau karakter yang bisa memanipulasi pikiran. Apapun yang bisa mengamankan posisiku sebagai komandan tak terlihat.

​Jarum roda mulai melambat. Bunyi klik... klik... klik... terdengar seiring pergeseran jarum melewati batas-batas warna ungu, sebelum akhirnya berhenti secara dramatis dengan suara dentingan keras.

​«"DING!"»

«"Gacha Selesai. Selamat, Host mendapatkan Boneka Tingkat Kuat (Tier Ungu)!"»

«"Mengekstrak data karakter... Menyesuaikan hukum chakra dan energi dengan hukum alam semesta One Piece..."»

«"Ekstraksi selesai."»

​Sebuah kartu berbingkai ungu menyala perlahan muncul dari layar dan melayang ke arah Muzan.

​Kartu itu bergambar seorang pemuda dengan rambut cokelat panjang yang diikat rapi di ujungnya, mengenakan pakaian tradisional berwarna putih longgar (kimono) dengan celana gelap. Postur berdirinya sangat tenang, tangan kanannya terangkat dengan dua jari mengarah ke depan dalam segel tangan yang khas. Namun yang paling mencolok adalah matanya. Matanya berwarna putih bersih tanpa pupil yang jelas, dengan urat-urat nadi yang menonjol di sekitar pelipisnya. Di dahinya, terdapat sebuah segel hijau berbentuk silang.

​Muzan membaca nama yang tertera di bawah kartu tersebut, dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman paling mematikan yang pernah ia buat malam itu.

​«"Boneka Diperoleh: Neji Hyuga"»

«"Asal Dunia: Naruto (Era Shippuden)"»

«"Afiliasi Asli: Klan Hyuga / Desa Konoha (Jonin)"»

«"Kekuatan/Gaya Bertarung: Byakugan (Kekkei Genkai), Juken (Gentle Fist - Tinju Suci), Hakke Rokujuuyon Sho (8 Trigrams 64 Palms)"»

«"Status Boneka: Tersimpan di [Puppet Storage]"»

​"Byakugan..." desis Muzan pelan, nyaris tak percaya dengan keberuntungannya.

​Dari semua kemampuan sensorik di dunia anime, Byakugan milik klan Hyuga adalah salah satu kemampuan intelijen yang paling tidak masuk akal. Di dunia One Piece, kemampuan ini setara dengan Kenbunshoku Haki (Haki Observasi) tingkat lanjut yang aktif secara permanen, ditambah dengan kemampuan x-ray jarak jauh dan penglihatan 360 derajat.

​"Keluarkan Neji Hyuga," perintah Muzan tanpa ragu.

​Di dalam kamar penginapan yang sempit itu, partikel cahaya ungu mulai berkumpul di antara ranjang dan meja kayu. Cahaya itu memadat, membentuk sosok pemuda berambut cokelat panjang. Seragam putihnya tampak bersih, memancarkan aura seorang elit klan bangsawan.

​Ketika cahaya memudar, Neji berdiri mematung. Matanya yang berwarna putih pucat tampak sangat mengerikan karena kekosongannya. Sebagai boneka tanpa jiwa, Neji tidak memancarkan emosi apa pun. Ia hanyalah sebuah cangkang yang menunggu untuk diisi oleh kesadaran Muzan.

​Muzan menutup matanya, memfokuskan sebagian kecil kesadarannya—hanya sekitar 10%—ke dalam tubuh Neji, sekadar untuk menguji indera sensoriknya tanpa harus menggerakkan tubuhnya untuk bertarung.

​Seketika, dunia di sekitar Muzan meledak menjadi lautan informasi visual.

​Ini bukan sekadar melihat dengan dua mata. Ini adalah melihat segala arah secara bersamaan. Muzan bisa melihat bagian belakang kepalanya sendiri. Ia bisa melihat struktur kayu dari ranjang tempat tubuh aslinya duduk. Dan yang paling menakutkan, ketika ia memfokuskan chakra—yang sistem terjemahkan sebagai energi stamina mental di dunia ini—ke arah mata Neji, pandangannya menembus dinding penginapan.

​Urat-urat nadi di pelipis wajah Neji menonjol keluar.

​Muzan kini bisa melihat wanita pemilik penginapan di lantai bawah sedang menghitung uang koin di laci kasirnya. Ia menembus lebih jauh ke luar jalanan, melihat sekelompok pelaut mabuk yang sedang buang air kecil di sebuah gang berjarak tiga ratus meter dari penginapan. Ia bahkan bisa melihat aliran darah dan detak jantung seekor tikus yang bersembunyi di balik lemari kamarnya.

​"Luar biasa," batin Muzan, menarik kembali kesadarannya dengan cepat karena kelebihan sensorik itu mulai membuatnya pusing. Urat di pelipis Neji kembali mereda, dan matanya kembali normal.

​"Dengan Neji sebagai pengamat dan pelindung jarak dekat menggunakan Gentle Fist yang bisa menghancurkan organ dalam musuh tanpa perlu merusak kulit luar, aku memiliki sistem pertahanan mutlak."

​Di dunia One Piece, karakter yang mengandalkan otot keras atau kulit tebal (seperti Barts) adalah mayoritas. Seni bela diri Juken milik Neji yang memasukkan energi langsung untuk merusak jaringan tubuh bagian dalam dan memblokir aliran energi (mirip dengan teknik Ryuo atau Haki Persenjataan internal) adalah counter alami bagi para petarung tipe tersebut.

​Muzan menatap Neji dengan pandangan berbinar penuh perhitungan. "Tarik kembali."

​Sosok Neji memudar menjadi cahaya dan kembali masuk ke dalam sistem. Muzan kini memiliki Giyu (Ungu), Zenitsu (Biru), dan Neji (Ungu). Tiga pion catur yang sangat mematikan di awal permainannya.

​Ia menatap jam dinding yang berdetak di kamarnya. Pukul dua pagi. Besok adalah hari yang panjang. Ia harus mengumpulkan informasi tentang keberadaan Roronoa Zoro atau Monkey D. Luffy.

​Muzan mematikan lampu minyak di atas meja, merebahkan tubuh lelahnya ke atas kasur tipis, dan membiarkan kesadarannya tenggelam ke dalam tidur yang lelap, dijaga oleh sistem yang senantiasa waspada.

​Keesokan paginya.

​Sinar matahari pagi menembus celah jendela kayu, membangunkan Muzan. Ia merasa tubuhnya jauh lebih bugar setelah tidur delapan jam dan makan malam bernutrisi tinggi. Ia segera bangkit, mencuci wajahnya di baskom, dan bersiap keluar.

​Hari ini agendanya adalah berbelanja pakaian yang pantas, mencari informasi, dan menentukan arah pelayaran.

​Muzan turun ke lantai satu. Penginapan itu sudah ramai oleh pelaut dan penduduk lokal yang sedang sarapan. Suasana terdengar heboh. Semua orang membicarakan kejadian semalam.

​Muzan meminta semangkuk bubur gandum dan duduk di sudut meja yang sepi, mendengarkan percakapan mereka sambil makan dengan tenang.

​"Hei, kau dengar tidak? Kapten Barts 'Rahang Besi' sudah dipindahkan ke penjara bawah tanah Angkatan Laut dengan rantai besi berat! Rahangnya yang menakutkan itu hancur berkeping-keping!" seru seorang pria botak sambil memukul meja.

​"Ya, aku mendengarnya! Katanya dia dikalahkan oleh seorang pemuda yang bisa menggunakan sihir air! Dan yang lebih gila lagi, muncul pemuda lain yang bergerak secepat petir kuning, nyaris menebas Roronoa Zoro!"

​"Zoro si Pemburu Bajak Laut?! Gila... Dua monster baru muncul di East Blue dalam satu malam. Siapa mereka?"

​Muzan menikmati buburnya dalam keheningan. Tidak ada yang mencurigai anak kecil kurus berpakaian lusuh di sudut ruangan itu sebagai arsitek di balik kehancuran Kapten Barts.

​Tiba-tiba, seorang pedagang keliling yang baru masuk ke penginapan ikut nimbrung dalam percakapan. "Kalian membicarakan Zoro? Berita basi! Tadi pagi-pagi sekali, aku melihat pria berambut hijau itu membeli perbekalan dan menyewa perahu layar kecil."

​"Oh? Dia mau pergi ke mana?" tanya pengunjung lain.

​"Katanya dia mau pergi menuju Kota Shells! Pangkalan Angkatan Laut Cabang ke-153 yang dipimpin oleh Kapten Morgan si Tangan Kapak!"

​Telinga Muzan sedikit bergerak mendengar nama itu. Kota Shells. Kapten Morgan.

​Otaknya langsung memutar memori dari kehidupan sebelumnya. Kota Shells adalah tempat di mana cerita sesungguhnya dimulai. Itu adalah tempat di mana Roronoa Zoro akan ditangkap oleh Morgan karena melindungi seorang anak perempuan dari serigala peliharaan Helmeppo (anak Morgan). Dan yang paling penting, itu adalah tempat di mana Monkey D. Luffy akan bertemu dengan Zoro untuk pertama kalinya dan merekrutnya menjadi anggota kru pertama Bajak Laut Topi Jerami.

​Kapten Morgan juga memiliki brankas pajak yang mengumpulkan uang hasil pemerasan dari warga Kota Shells. Nilai kekayaan seorang Kapten korup Angkatan Laut pasti jauh melebihi buronan sekelas Barts. Jika Muzan bisa mendapatkan akses ke brankas itu, ia akan dengan mudah melampaui batas satu juta Belly yang ia butuhkan untuk membuka Shop.

​"Kota Shells..." gumam Muzan pelan, menghabiskan suapan terakhir buburnya. "Jarak tempuh normal dari Toroa ke Shells menggunakan kapal feri penumpang mungkin memakan waktu satu hari penuh."

​Ia meletakkan beberapa koin tembaga di meja sebagai bayaran makanannya, lalu melangkah keluar dari penginapan. Udara pagi pelabuhan terasa segar. Meski sebagian dermaga masih berupa puing-puing hitam akibat serangan Barts, aktivitas komersial tetap berjalan. East Blue adalah lautan yang tangguh.

​Tujuan pertama Muzan adalah toko pakaian. Dengan menarik 5.000 Belly tambahan secara fisik dari sistem, ia membeli pakaian yang sederhana namun bersih dan elegan: kemeja putih berlengan panjang yang pas di badannya (menggantikan kain lap yang ia pakai sebelumnya), celana kain hitam panjang, sepatu bot kulit ringan, dan sebuah jubah hitam tebal berkerudung (hoodie) untuk menyembunyikan wajahnya jika diperlukan.

​Melihat dirinya di cermin toko, Muzan Kibutsi tak lagi terlihat seperti anak jalanan yang akan mati besok. Ia kini tampak seperti seorang bangsawan muda yang sedang menyamar, dengan wajah pucat yang tenang dan mata hitam yang tajam menyimpan seribu rahasia.

​Setelah itu, ia berjalan menuju pelabuhan penumpang. Ia mencari kapal karavel berukuran sedang yang melayani rute antar-pulau komersial. Ia tidak ingin menyewa perahu kecil sendiri; itu merepotkan dan berbahaya bagi tubuh aslinya jika bertemu badai. Berada di kapal penumpang yang besar jauh lebih aman, karena bajak laut jarang menyerang kapal dagang besar yang dijaga oleh bodyguard bersenjata, kecuali kelompok bajak laut besar.

​"Satu tiket ke Kota Shells," ucap Muzan kepada pria bertopi kapten di loket pelabuhan, menyodorkan uang 2.000 Belly.

​"Kapal berangkat dalam setengah jam, Nak. Berada di dek atas jika kau ingin udara segar, tapi jangan berkeliaran di area kargo," kata petugas itu sambil memberikan karcis kayu.

​Muzan mengangguk dan segera menaiki kapal bernama 'Sea Breeze' tersebut. Ia mencari tempat duduk di area buritan (belakang) kapal, bersandar pada pagar kayu sambil memandang lautan biru yang luas membentang. Angin laut menerpa wajahnya, memainkan poni rambut hitamnya.

​Tepat ketika kapal itu membunyikan lonceng peluitnya dan perlahan bergerak meninggalkan pelabuhan Pulau Toroa, sebuah jendela sistem berkedip merah terang di depan pandangan Muzan, menutupi pemandangan lautan.

​«"DING!"»

«"MISI UTAMA (RANTAI) TERPICU: FAJAR ERA BARU."»

«"Detail: Roda takdir dunia ini telah berputar. Pertemuan pertama antara Sang Kapten Masa Depan (Monkey D. Luffy) dan Pendekar Pedang Pertama (Roronoa Zoro) akan segera terjadi di Kota Shells."»

«"Tujuan Utama: Intervensi peristiwa di Kota Shells. Pastikan pembebasan Zoro terjadi (secara langsung maupun tidak langsung), dan kalahkan Kapten Morgan sebelum Angkatan Laut atau pihak lain mengeklaim kekalahannya."»

«"Tujuan Tambahan: Rebut brankas rahasia Pangkalan Cabang 153."»

«"Hadiah Penyelesaian Misi: 50.000 Belly, 1 Tiket Gacha Karakter Kuat (Tier Ungu), dan Pembukaan Fitur [Collection: Fraksi]."»

​Mata Muzan menyipit membaca panel misi tersebut. Sistem tidak hanya menyuruhnya untuk mencari uang, tetapi secara aktif mendorongnya untuk berbenturan dengan garis waktu utama. 'Pembukaan Fitur Collection: Fraksi' terdengar seperti sesuatu yang akan mengubah skala operasinya dari sekadar petarung individu menjadi pasukan yang sesungguhnya.

​"Kalahkan Kapten Morgan sebelum pihak lain melakukannya," Muzan membaca ulang kalimat itu. Itu berarti ia tidak boleh membiarkan Luffy yang memberikan pukulan terakhir penyelesaian kepada Morgan seperti di cerita aslinya. Ia harus mencuri panggung itu.

​Tangan Muzan mencengkeram pembatas kayu kapal dengan erat. Di balik kerudung jubah hitamnya, sebuah senyum ambisius terukir.

​"Luffy... Maafkan aku. Tapi aku akan mencuri Experience Point pertamamu di East Blue. Neji, Giyu, Zenitsu... Bersiaplah. Malam ini, kita akan meruntuhkan sebuah pangkalan militer."

​Kapal layar komersial itu membelah ombak, membawa sang dalang boneka menuju panggung pertunjukan yang sesungguhnya, meninggalkan Pulau Toroa yang kini hanya akan mengingat legenda tentang tiga pendekar pedang misterius dalam sejarah kecil mereka.

Episodes
1 Bab 1: Kematian, Reinkarnasi, dan Nol Belly
2 Bab 2: Tarian Air dan Dalang di Balik Layar
3 Bab 3: Dalang di Menara Lonceng dan Amukan Rahang Besi
4 Bab 4: Benturan Dua Aliran Pedang dan Kartu As Kedua
5 Bab 5: Harga dari Sebuah Kekuatan dan Mata yang Melihat Segalanya
6 Bab 6: Hadiah Lautan Lepas dan Berakhirnya Kemiskinan Mental
7 Bab 7: Eksekusi Palsu dan Pencuri Takdir
8 Bab 8: Pencuri Takdir dan Manipulator Absolut
9 Bab 9: Badut, Pencuri, dan Jentikan Api
10 Bab 10: Rencana Gelap di Desa Syrup dan Kucing Hitam yang Licik
11 Bab 11: Kecepatan Buta Melawan Kilatan Mutlak
12 Bab 12: Jiwa yang Bangkit dan Pelayan Sang Dalang
13 Bab 13: Zirah Baja, Prinsip Sang Koki, dan Bayangan Elang
14 Bab 14: Jarak Menuju Puncak Dunia dan Lahirnya Erebus
15 Bab 15: Evolusi Sang Dalang dan Mata Berdarah Legenda
16 Bab 16: Pendaratannya Sang Pembawa Ilusi di Arlong Park
17 Bab 17: Runtuhnya Kerajaan Hiu dan Deklarasi Erebus
18 Bab 18: Kota Awal dan Akhir, Panggung Sang Legenda
19 Bab 19: Asap, Api, dan Gerbang Menuju Surga
20 Bab 20: Selamat Datang di Surga, Agen Pembawa Maut
21 Bab 21: Pesta Para Pembohong dan Malam Pembantaian
22 Bab 22: Tangan Iblis Ohara dan Pertemuan di Ladang Pembantaian
23 Bab 23: Langit yang Dirobek Petir dan Target Baru
24 Bab 24: Pulau Prasejarah dan Bisikan Sang Dewa
25 Bab 25: Jebakan Lilin dan Penjagal dari Langit
26 Bab 26: Mahakarya yang Meleleh dan Penghakiman dari Langit
27 Bab 27: Panggilan Menuju Neraka Pasir dan Percakapan Dua Dalang
28 Bab 28: Sang Dewa, Sang Alkemis, dan Sambutan Hangat di Nanohana
29 Bab 29: Pasir yang Berdarah dan Panel Logistik Sang Dalang
30 Bab 30: Sepotong Daging, Dewa yang Terhina, dan Bidak Kekacauan
31 Bab 31: Bayangan di Bawah Terik Padang Pasir
32 Bab 32: Bayangan di Atas Lautan Pasir Yuba
33 Bab 33: Badai yang Terkoyak dan Keputusasaan Pemberontak
34 Bab 34: Roda Perjudian di Kota Hujan
35 Bab 35: Jeruji Air dan Bayangan di Balik Kaca
36 Bab 36: Hujan di Sarang Buaya dan Mundurnya Sang Raja Pasir
37 Bab 37: Langit Alubarna yang Berdarah dan Langkah Sang Dalang
38 Bab 38: Kaca di Atas Pasir dan Benturan Dua Penguasa
39 Bab 39: Tetesan Air dan Pergeseran Papan Catur
40 Bab 40: Tangan Iblis dan Runtuhnya Sejarah
41 Bab 41: Pukulan Mutlak dan Keruntuhan Makam Kerajaan
42 Bab 42: Tirai Terakhir Sang Buaya Pasir
43 Bab 43: Hujan Manipulasi dan Panggilan Sang Joker
44 Bab 44: Sinyal dari Dunia Bawah dan Tiket Emas Menuju Takdir
45 Bab 45: Raksasa di Balik Kabut dan Monster Berekspresi Kosong
46 Bab 46: Bayangan Kegelapan dan Roti Ceri yang Menetes
47 Bab 47: Retakan di Hutan Belantara dan Ekspansi Sang Dalang
48 Bab 48: Bayangan Strategis dan Tiket Perak di Bawah Langit Jaya
49 Bab 49: Benturan Dua Kekuatan Mutlak: Amaterasu vs. Aokiji
50 Bab 50: Komet Emas di Tengah Pusaran dan Sang Dewa Gravitasi
51 Bab 51: Gaung Kehampaan dan Tuan Baru di Atas Awan
52 Bab 52: Suara Lonceng Emas dan Bayangan di Balik Daun
53 Bab 53: Bentrokan Petir dan Kilau Cermin Suci
54 Bab 54: Melodi dari Masa Lalu dan Cetak Biru Dewa
55 Bab 55: Seniman Keabadian dan Guncangan di Keadilan Absolut
56 Bab 56: Bayangan Sang Singa Emas dan Panggung Kehancuran
57 Bab 57: Musim Dingin di Atas Langit dan Runtuhnya Era Keemasan
58 Bab 58: Ilusi Sempurna dan Tirai Kaca Realitas
59 Bab 59: Cermin Retak di Atas Awan
60 Bab 60: Gelombang di Bawah Cakrawala dan Bayangan Rambut Merah
61 Bab 61: Benturan di Atas Permukaan Laut dan Senyuman Sang Kaisar
62 Bab 62: Tarian Benang Merah di Bawah Langit Senja
63 Bab 63: Ruang Bedah Kematian dan Kedinginan Bintang Kutub
64 Bab 64: Metropolis Air dan Ujian Sang Revolusioner
65 Bab 65: Jarum di Bawah Air dan Bayangan Agen Pembunuh
66 Bab 66: Jejak Kacamata Bulat di Kota Air
67 Bab 67: Pisau Bedah Chakra dan Panggung yang Disiapkan
68 Bab 68: Bayangan Jatuh di Pulau Tanpa Malam dan Lahirnya Baja Kematian
69 Bab 69: Mendidihnya Lautan Keadilan dan Runtuhnya Langit Pengadilan
70 Bab 70: Tiga Kutub Keadilan dan Runtuhnya Gerbang Neraka
71 Bab 71: Kabut Segitiga Kematian dan Bangkitnya Sistem Tahap Dua
72 Bab 72: Bayangan Suci di Atas Kabut Hitam
73 Bab 73: Ilusi Sang Ksatria dan Tirai Dimensi yang Terkoyak
74 Bab 74: Takhta Bayangan yang Runtuh dan Bergemanya Nama Sang Musuh Dunia
75 Bab 75: Tolakan Absolut dan Terbukanya Gerbang Kamui
76 Bab 76: Labirin Ruang di Atas Lautan Beku dan Fondasi Pohon Dunia
77 Bab 77: Hujan Energi di Atas Kayu Lapuk dan Tawa Sang Penguasa Kegelapan
78 Bab 78: Kilau Emas di Balik Kabut dan Senyuman Sang Pembuat Ilusi
79 Bab 79: Pertemuan Dua Jenius dan Meriam Kiamat yang Terbangun
80 Bab 80: Kiamat Plasma dan Turunnya Raja Segala Pahlawan
81 Bab 81: Simfoni Emas di Kepulauan Mangrove
82 Bab 82: Kesombongan Raja dan Langit Sabaody yang Runtuh
83 Bab 83: Penjara Bawah Laut dan Terompet Pasukan Raja Penakluk
84 Bab 84: Benturan Kiamat Tiga Arah dan Bangkitnya Sang Penguasa Bayangan
85 Bab 85: Kiamat yang Menggema dan Matahari Siang yang Membakar Lautan Es
86 Bab 86: Neraka yang Terbagi dan Kebangkitan Sang Penguasa Mutlak
87 Bab 87: Hantu dari Era Lampau dan Lonceng Kematian di Tepi Senja
88 Bab 88: Siang Paling Terang dan Pencuri di Dalam Gelap
89 Bab 89: Senyum Sang Penakluk dan Lautan yang Membatu
90 Bab 90: Senyum Sang Matahari dan Detak Jantung Kiamat di Bawah Es
91 Bab 91: Sang Naga Kiamat dan Mahakarya Pasir Merah
92 Bab 92: Kehancuran Mental dan Sang Penguasa Kematian Absolut
93 Bab 93: Cahaya Surgawi di Palung Kelam dan Kebangkitan Sang Dewa Perang
94 Bab 94: Dua Meteor di Atas Badai Petir dan Ratapan Para Komandan Kaisar
95 Bab 95: Benteng Petir Abadi dan Kebangkitan Sang Senjata Kiamat
96 Bab 96: Tarian Para Dewa dan Kehancuran Aliansi Dua Kaisar
97 Bab 97: Takhta Kosmik dan Kiamat Dua Kaisar
98 Bab 98: Kebangkitan Sang Senjata Kiamat dan Mata Takdir yang Melihat Masa Depan
99 Bab 99: Pembangkangan Terhadap Hukum Waktu dan Dua Penguasa Ketiadaan
100 Bab 100: Fajar Terakhir di Ujung Lautan dan Kunci Takhta Kosmik
101 Bab 101: Benturan Konsep Kosmik dan Awal Mula Realitas Baru
102 Bab 102: Reboot Sistem dan Sistem Puppet Tingkat Dewa!
103 Bab 103: Puppet Kapten Byakuya Kuchiki! Awal Pesta Berdarah di Kotak Pasir Shino
104 Bab 104: Satu Orang Melawan Sepuluh Ribu Pasukan!
105 Bab 105: Berhamburan, Senbonzakura!
106 Bab 105: Reaksi Iwagakure dan Panen Poin Pertama!
107 Bab 107: Puppet Kelas S, Enel!
108 Bab 108: Menambal Cacat Boneka dan Target Baru, Desa Kusagakure!
109 Bab 109: Shichibukai, Enel!
110 Bab 110: Menghancurkan Ambisi dan Kehendak Sang Dewa Petir!
111 Bab 111: Satu Pukulan, Satu Desa Hancur!
112 Bab 112: Puppet Ketiga, Sang Iblis Bulan Atas Kokushibo!
113 Bab 113: Pencapaian Spesial, Asal Usul Iblis Sempurna!
114 Bab 114: Agatsuma Zenitsu dan Item SSS-Rank!
115 Bab 115: Kedatangan Namikaze Minato!
116 Bab 116: Petualangan Aneh Namikaze Minato!
117 Bab 117: Kokushibo vs Namikaze Minato!
118 Bab 118: Membuka Gerbang Dunia Baru!
119 Bab 119: Namikaze Minato: Di Mana Seireitei? Di Mana Grand Line?
120 Bab 120: Diskusi Petinggi Konoha!
121 Bab 121: Perang Dunia Shinobi Ketiga Meletus!
122 Bab 122: Iblis Bulan Bawah dan Target Ichibi!
123 Bab 123: Penggerebekan Kuil Diming dan Iblis Bulan Bawah Ketiga!
124 Bab 124: Kartu As yang Ditinggalkan Kazekage Kedua!
125 Bab 125: Enel vs Boneka Kazekage!
126 Bab 126: Ichibi Shukaku, Aku Ambil Ini!
127 Bab 127: Puppet Baru, Crocodile dan Zaraki Kenpachi!
128 Bab 128: Zaraki Kenpachi dan Reaktor Energi Abadi!
129 Bab 129: Tiga Desa Ninja Berunding Damai?!
130 Bab 130: Skenario yang Terdistorsi!
131 Bab 131: Kekacauan Tiga Desa Ninja Besar, Uchiha Madara!
132 Bab 132: Shichibukai, Sir Crocodile!
133 Bab 133: Akulah Uchiha Madara!
134 Bab 134: Uchiha Madara: Aku Telah Melihat Segala Strategimu!
135 Bab 135: Izanagi Uchiha Madara dan Kedatangan Tiga Kage!
136 Bab 136: Skenario yang Terdistorsi! Tiga Bayangan Hadir, Madara Menanti
137 Bab 137: Reaksi Para Kage dan Bentrokan Dua Faksi!
138 Bab 138: Reaksi Para Kage dan Tabrakan Dua Faksi Besar!
139 Bab 139: Tabrakan Dua Faksi Utama dan Pengepungan Tiga Kage!
140 Bab 140: Mode Chakra Gaya Petir!
141 Bab 141: Pelepasan Reiatsu, Raikage yang Tertindas!
142 Bab 142: Penguasa Seireitei? Reio (Raja Roh)!
143 Bab 143: Beban Informasi Terlalu Masif, Ketiga Kage Terguncang!
144 Bab 144: Seluruh Dunia Ninja Harus Bersatu!
145 Bab 145: Tubuh Asura?
146 Bab 146: Fisik Senju Hashirama? Aku Sama Sekali Tidak Puas!
147 Bab 147: Boneka Tingkat SS, Empat Kaisar Kaido!
148 Bab 148: Negeri Hujan, Organisasi Akatsuki!
149 Bab 149: Hanzo, Kau Salah Paham, Aku Tidak Tertarik Padamu!
150 Bab 150: Empat Kaisar, Kaido si Binatang Buas!
151 Bab 151: Kaido vs Hanzo!
152 Bab 152: Bunuh Hanzo
153 Bab 153: Kaido Berdiri di Bulan!
154 Bab 154: Target Utama, Tenseigan Raksasa!
155 Bab 155: Kebangkitan Otsutsuki Hamura!
156 Bab 156: Benturan Puncak! Kehancuran di Permukaan Bulan!
157 Bab 157: Daya Hancur Mengerikan dari Kebangkitan Buah Iblis!
158 Bab 158: Musuh Berasal Dari Dunia Shinobi!?
159 Bab 159: Penguatan Abadi, Tenseigan!
160 DraBab 160: Kekuatan Mengerikan dari Mata Tenseigan!
161 Bab 161: Fitur Baru Sistem! Toko Poin!
162 Bab 162: Domain Boneka, Gunung Natagumo!
163 Bab 163: Teman Namikaze Minato!
164 Bab 164: Rengoku Kyojuro! Sarang Iblis?
165 Bab 165: Penemuan, Gunung Natagumo!
166 Bab 166: Keputusan Sarutobi!
Episodes

Updated 166 Episodes

1
Bab 1: Kematian, Reinkarnasi, dan Nol Belly
2
Bab 2: Tarian Air dan Dalang di Balik Layar
3
Bab 3: Dalang di Menara Lonceng dan Amukan Rahang Besi
4
Bab 4: Benturan Dua Aliran Pedang dan Kartu As Kedua
5
Bab 5: Harga dari Sebuah Kekuatan dan Mata yang Melihat Segalanya
6
Bab 6: Hadiah Lautan Lepas dan Berakhirnya Kemiskinan Mental
7
Bab 7: Eksekusi Palsu dan Pencuri Takdir
8
Bab 8: Pencuri Takdir dan Manipulator Absolut
9
Bab 9: Badut, Pencuri, dan Jentikan Api
10
Bab 10: Rencana Gelap di Desa Syrup dan Kucing Hitam yang Licik
11
Bab 11: Kecepatan Buta Melawan Kilatan Mutlak
12
Bab 12: Jiwa yang Bangkit dan Pelayan Sang Dalang
13
Bab 13: Zirah Baja, Prinsip Sang Koki, dan Bayangan Elang
14
Bab 14: Jarak Menuju Puncak Dunia dan Lahirnya Erebus
15
Bab 15: Evolusi Sang Dalang dan Mata Berdarah Legenda
16
Bab 16: Pendaratannya Sang Pembawa Ilusi di Arlong Park
17
Bab 17: Runtuhnya Kerajaan Hiu dan Deklarasi Erebus
18
Bab 18: Kota Awal dan Akhir, Panggung Sang Legenda
19
Bab 19: Asap, Api, dan Gerbang Menuju Surga
20
Bab 20: Selamat Datang di Surga, Agen Pembawa Maut
21
Bab 21: Pesta Para Pembohong dan Malam Pembantaian
22
Bab 22: Tangan Iblis Ohara dan Pertemuan di Ladang Pembantaian
23
Bab 23: Langit yang Dirobek Petir dan Target Baru
24
Bab 24: Pulau Prasejarah dan Bisikan Sang Dewa
25
Bab 25: Jebakan Lilin dan Penjagal dari Langit
26
Bab 26: Mahakarya yang Meleleh dan Penghakiman dari Langit
27
Bab 27: Panggilan Menuju Neraka Pasir dan Percakapan Dua Dalang
28
Bab 28: Sang Dewa, Sang Alkemis, dan Sambutan Hangat di Nanohana
29
Bab 29: Pasir yang Berdarah dan Panel Logistik Sang Dalang
30
Bab 30: Sepotong Daging, Dewa yang Terhina, dan Bidak Kekacauan
31
Bab 31: Bayangan di Bawah Terik Padang Pasir
32
Bab 32: Bayangan di Atas Lautan Pasir Yuba
33
Bab 33: Badai yang Terkoyak dan Keputusasaan Pemberontak
34
Bab 34: Roda Perjudian di Kota Hujan
35
Bab 35: Jeruji Air dan Bayangan di Balik Kaca
36
Bab 36: Hujan di Sarang Buaya dan Mundurnya Sang Raja Pasir
37
Bab 37: Langit Alubarna yang Berdarah dan Langkah Sang Dalang
38
Bab 38: Kaca di Atas Pasir dan Benturan Dua Penguasa
39
Bab 39: Tetesan Air dan Pergeseran Papan Catur
40
Bab 40: Tangan Iblis dan Runtuhnya Sejarah
41
Bab 41: Pukulan Mutlak dan Keruntuhan Makam Kerajaan
42
Bab 42: Tirai Terakhir Sang Buaya Pasir
43
Bab 43: Hujan Manipulasi dan Panggilan Sang Joker
44
Bab 44: Sinyal dari Dunia Bawah dan Tiket Emas Menuju Takdir
45
Bab 45: Raksasa di Balik Kabut dan Monster Berekspresi Kosong
46
Bab 46: Bayangan Kegelapan dan Roti Ceri yang Menetes
47
Bab 47: Retakan di Hutan Belantara dan Ekspansi Sang Dalang
48
Bab 48: Bayangan Strategis dan Tiket Perak di Bawah Langit Jaya
49
Bab 49: Benturan Dua Kekuatan Mutlak: Amaterasu vs. Aokiji
50
Bab 50: Komet Emas di Tengah Pusaran dan Sang Dewa Gravitasi
51
Bab 51: Gaung Kehampaan dan Tuan Baru di Atas Awan
52
Bab 52: Suara Lonceng Emas dan Bayangan di Balik Daun
53
Bab 53: Bentrokan Petir dan Kilau Cermin Suci
54
Bab 54: Melodi dari Masa Lalu dan Cetak Biru Dewa
55
Bab 55: Seniman Keabadian dan Guncangan di Keadilan Absolut
56
Bab 56: Bayangan Sang Singa Emas dan Panggung Kehancuran
57
Bab 57: Musim Dingin di Atas Langit dan Runtuhnya Era Keemasan
58
Bab 58: Ilusi Sempurna dan Tirai Kaca Realitas
59
Bab 59: Cermin Retak di Atas Awan
60
Bab 60: Gelombang di Bawah Cakrawala dan Bayangan Rambut Merah
61
Bab 61: Benturan di Atas Permukaan Laut dan Senyuman Sang Kaisar
62
Bab 62: Tarian Benang Merah di Bawah Langit Senja
63
Bab 63: Ruang Bedah Kematian dan Kedinginan Bintang Kutub
64
Bab 64: Metropolis Air dan Ujian Sang Revolusioner
65
Bab 65: Jarum di Bawah Air dan Bayangan Agen Pembunuh
66
Bab 66: Jejak Kacamata Bulat di Kota Air
67
Bab 67: Pisau Bedah Chakra dan Panggung yang Disiapkan
68
Bab 68: Bayangan Jatuh di Pulau Tanpa Malam dan Lahirnya Baja Kematian
69
Bab 69: Mendidihnya Lautan Keadilan dan Runtuhnya Langit Pengadilan
70
Bab 70: Tiga Kutub Keadilan dan Runtuhnya Gerbang Neraka
71
Bab 71: Kabut Segitiga Kematian dan Bangkitnya Sistem Tahap Dua
72
Bab 72: Bayangan Suci di Atas Kabut Hitam
73
Bab 73: Ilusi Sang Ksatria dan Tirai Dimensi yang Terkoyak
74
Bab 74: Takhta Bayangan yang Runtuh dan Bergemanya Nama Sang Musuh Dunia
75
Bab 75: Tolakan Absolut dan Terbukanya Gerbang Kamui
76
Bab 76: Labirin Ruang di Atas Lautan Beku dan Fondasi Pohon Dunia
77
Bab 77: Hujan Energi di Atas Kayu Lapuk dan Tawa Sang Penguasa Kegelapan
78
Bab 78: Kilau Emas di Balik Kabut dan Senyuman Sang Pembuat Ilusi
79
Bab 79: Pertemuan Dua Jenius dan Meriam Kiamat yang Terbangun
80
Bab 80: Kiamat Plasma dan Turunnya Raja Segala Pahlawan
81
Bab 81: Simfoni Emas di Kepulauan Mangrove
82
Bab 82: Kesombongan Raja dan Langit Sabaody yang Runtuh
83
Bab 83: Penjara Bawah Laut dan Terompet Pasukan Raja Penakluk
84
Bab 84: Benturan Kiamat Tiga Arah dan Bangkitnya Sang Penguasa Bayangan
85
Bab 85: Kiamat yang Menggema dan Matahari Siang yang Membakar Lautan Es
86
Bab 86: Neraka yang Terbagi dan Kebangkitan Sang Penguasa Mutlak
87
Bab 87: Hantu dari Era Lampau dan Lonceng Kematian di Tepi Senja
88
Bab 88: Siang Paling Terang dan Pencuri di Dalam Gelap
89
Bab 89: Senyum Sang Penakluk dan Lautan yang Membatu
90
Bab 90: Senyum Sang Matahari dan Detak Jantung Kiamat di Bawah Es
91
Bab 91: Sang Naga Kiamat dan Mahakarya Pasir Merah
92
Bab 92: Kehancuran Mental dan Sang Penguasa Kematian Absolut
93
Bab 93: Cahaya Surgawi di Palung Kelam dan Kebangkitan Sang Dewa Perang
94
Bab 94: Dua Meteor di Atas Badai Petir dan Ratapan Para Komandan Kaisar
95
Bab 95: Benteng Petir Abadi dan Kebangkitan Sang Senjata Kiamat
96
Bab 96: Tarian Para Dewa dan Kehancuran Aliansi Dua Kaisar
97
Bab 97: Takhta Kosmik dan Kiamat Dua Kaisar
98
Bab 98: Kebangkitan Sang Senjata Kiamat dan Mata Takdir yang Melihat Masa Depan
99
Bab 99: Pembangkangan Terhadap Hukum Waktu dan Dua Penguasa Ketiadaan
100
Bab 100: Fajar Terakhir di Ujung Lautan dan Kunci Takhta Kosmik
101
Bab 101: Benturan Konsep Kosmik dan Awal Mula Realitas Baru
102
Bab 102: Reboot Sistem dan Sistem Puppet Tingkat Dewa!
103
Bab 103: Puppet Kapten Byakuya Kuchiki! Awal Pesta Berdarah di Kotak Pasir Shino
104
Bab 104: Satu Orang Melawan Sepuluh Ribu Pasukan!
105
Bab 105: Berhamburan, Senbonzakura!
106
Bab 105: Reaksi Iwagakure dan Panen Poin Pertama!
107
Bab 107: Puppet Kelas S, Enel!
108
Bab 108: Menambal Cacat Boneka dan Target Baru, Desa Kusagakure!
109
Bab 109: Shichibukai, Enel!
110
Bab 110: Menghancurkan Ambisi dan Kehendak Sang Dewa Petir!
111
Bab 111: Satu Pukulan, Satu Desa Hancur!
112
Bab 112: Puppet Ketiga, Sang Iblis Bulan Atas Kokushibo!
113
Bab 113: Pencapaian Spesial, Asal Usul Iblis Sempurna!
114
Bab 114: Agatsuma Zenitsu dan Item SSS-Rank!
115
Bab 115: Kedatangan Namikaze Minato!
116
Bab 116: Petualangan Aneh Namikaze Minato!
117
Bab 117: Kokushibo vs Namikaze Minato!
118
Bab 118: Membuka Gerbang Dunia Baru!
119
Bab 119: Namikaze Minato: Di Mana Seireitei? Di Mana Grand Line?
120
Bab 120: Diskusi Petinggi Konoha!
121
Bab 121: Perang Dunia Shinobi Ketiga Meletus!
122
Bab 122: Iblis Bulan Bawah dan Target Ichibi!
123
Bab 123: Penggerebekan Kuil Diming dan Iblis Bulan Bawah Ketiga!
124
Bab 124: Kartu As yang Ditinggalkan Kazekage Kedua!
125
Bab 125: Enel vs Boneka Kazekage!
126
Bab 126: Ichibi Shukaku, Aku Ambil Ini!
127
Bab 127: Puppet Baru, Crocodile dan Zaraki Kenpachi!
128
Bab 128: Zaraki Kenpachi dan Reaktor Energi Abadi!
129
Bab 129: Tiga Desa Ninja Berunding Damai?!
130
Bab 130: Skenario yang Terdistorsi!
131
Bab 131: Kekacauan Tiga Desa Ninja Besar, Uchiha Madara!
132
Bab 132: Shichibukai, Sir Crocodile!
133
Bab 133: Akulah Uchiha Madara!
134
Bab 134: Uchiha Madara: Aku Telah Melihat Segala Strategimu!
135
Bab 135: Izanagi Uchiha Madara dan Kedatangan Tiga Kage!
136
Bab 136: Skenario yang Terdistorsi! Tiga Bayangan Hadir, Madara Menanti
137
Bab 137: Reaksi Para Kage dan Bentrokan Dua Faksi!
138
Bab 138: Reaksi Para Kage dan Tabrakan Dua Faksi Besar!
139
Bab 139: Tabrakan Dua Faksi Utama dan Pengepungan Tiga Kage!
140
Bab 140: Mode Chakra Gaya Petir!
141
Bab 141: Pelepasan Reiatsu, Raikage yang Tertindas!
142
Bab 142: Penguasa Seireitei? Reio (Raja Roh)!
143
Bab 143: Beban Informasi Terlalu Masif, Ketiga Kage Terguncang!
144
Bab 144: Seluruh Dunia Ninja Harus Bersatu!
145
Bab 145: Tubuh Asura?
146
Bab 146: Fisik Senju Hashirama? Aku Sama Sekali Tidak Puas!
147
Bab 147: Boneka Tingkat SS, Empat Kaisar Kaido!
148
Bab 148: Negeri Hujan, Organisasi Akatsuki!
149
Bab 149: Hanzo, Kau Salah Paham, Aku Tidak Tertarik Padamu!
150
Bab 150: Empat Kaisar, Kaido si Binatang Buas!
151
Bab 151: Kaido vs Hanzo!
152
Bab 152: Bunuh Hanzo
153
Bab 153: Kaido Berdiri di Bulan!
154
Bab 154: Target Utama, Tenseigan Raksasa!
155
Bab 155: Kebangkitan Otsutsuki Hamura!
156
Bab 156: Benturan Puncak! Kehancuran di Permukaan Bulan!
157
Bab 157: Daya Hancur Mengerikan dari Kebangkitan Buah Iblis!
158
Bab 158: Musuh Berasal Dari Dunia Shinobi!?
159
Bab 159: Penguatan Abadi, Tenseigan!
160
DraBab 160: Kekuatan Mengerikan dari Mata Tenseigan!
161
Bab 161: Fitur Baru Sistem! Toko Poin!
162
Bab 162: Domain Boneka, Gunung Natagumo!
163
Bab 163: Teman Namikaze Minato!
164
Bab 164: Rengoku Kyojuro! Sarang Iblis?
165
Bab 165: Penemuan, Gunung Natagumo!
166
Bab 166: Keputusan Sarutobi!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!