Aturan Main Sang CEO

Pagi baru saja merayap naik, membawa bias cahaya matahari yang mencoba menembus tirai tebal berwarna abu-abu gelap di jendela kamar utama. Namun, cahaya pagi itu tidak membawa kehangatan apa pun ke dalam ruangan yang terasa hampa.

Kirana terbangun dalam posisi meringkuk di atas karpet tebal di samping ranjang pengantin. Semalaman ia tertidur di lantai dengan gaun pengantin mewah yang kini sudah kusut masai, berkerut di sana-sini, dan ternoda oleh air matanya sendiri. Tubuhnya terasa kaku, persendiannya ngilu akibat suhu pendingin ruangan yang disetel terlalu rendah, dan kepalanya terasa sangat berat bagai dihantam batu.

Dengan gerakan lambat dan gemetar, Kirana mendudukkan dirinya. Ia menatap sekeliling ruangan yang sunyi. Sisi ranjang di sebelahnya tampak rapi, dingin, dan sama sekali tidak tersentuh. Suaminya benar-benar menghabiskan malam pertama mereka di ruang kerja, meninggalkan istrinya menangis seorang diri hingga jatuh tertidur di lantai.

Kirana menarik napas panjang, mencoba menelan ludahnya yang terasa pahit. Rasa sakit di dadanya masih berdenyut nyeri, tetapi ada kesadaran dingin yang mulai merayap masuk ke dalam benaknya—bahwa dongeng tentang pernikahan bahagia yang ia bayangkan telah hancur berkeping-keping sebelum sempat dimulai.

Dengan sisa tenaganya, Kirana bangkit berdiri. Ia melepas tiara kecil dari sanggul rambutnya yang sudah berantakan, menaruhnya di atas nakas, lalu berjalan ke kamar mandi untuk membasuh muka dan merapikan diri. Ia tidak mengenakan gaun pengantin itu lagi; sebagai gantinya, ia memilih sebuah *dress* rumahan sederhana berwarna merah muda lembut—salah satu pakaian kesukaannya yang dibawanya dari rumah orang tuanya.

Kirana melangkah keluar kamar, menuruni anak tangga kayu berpelitur mengilap menuju lantai bawah. Suasana rumah begitu senyap, seolah dihuni oleh hantu-hantu tak kasat mata. Para pelayan rumah tangga tampak bergerak sibuk dalam diam, merapikan sudut-sudut ruangan dengan kepala tertunduk, menunjukkan betapa kaku dan disiplinnya atmosfer yang diciptakan oleh pemilik rumah ini.

Saat Kirana tiba di area meja makan, ia melihat sosok Arka sudah duduk di sana. Pria itu tampak sangat rapi mengenakan setelan jas kerja *tailored-fit* berwarna hitam pekat, kemeja putih licin tanpa sedikit pun kusut, dan dasi sutra abu-abu yang melingkar sempurna di lehernya. Di sebelah piring porselen tempat Arka menikmati secangkir hitam kopi pahit, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal berukuran besar.

Langkah kaki Kirana yang pelan membuat Arka mendongak.

Pria itu menatap Kirana dengan mata tajam nan dingin, tanpa ada secercah pun rasa bersalah atas apa yang terjadi semalam. Tatapan itu seolah menilai penampilan Kirana, lalu kembali fokus pada cangkir kopinya.

"Pagi, Mas..." cicit Kirana pelan, suaranya terdengar serak dan rapuh.

Arka tidak menjawab. Ia meneguk kopinya perlahan, meletakkannya kembali di atas piring kecil dengan bunyi dentingan yang berdenting tajam di tengah kesunyian ruang makan. Setelah itu, Arka menggeser amplop cokelat tebal yang ada di sampingnya ke arah kursi kosong di seberang meja.

"Duduklah," titah Arka. Suaranya bariton, datar, dan mutlak.

Kirana menurut. Ia menarik kursi dengan gerakan ragu-ragu, lalu duduk tepat di seberang suaminya. Jarak di antara mereka terasa begitu dekat secara fisik, namun bagaikan dipisahkan oleh jurang yang sangat dalam.

Arka mendorong amplop cokelat itu lebih dekat ke hadapan Kirana.

"Buka dan baca," kata Arka dingin. "Itu adalah aturan main selama kita hidup di bawah atap yang sama. Saya tidak suka basa-basi, Kirana. Jadi, pahami setiap poin yang tertulis di dalamnya agar kita tidak perlu membuang waktu untuk berdebat di kemudian hari."

Jari-jemari Kirana yang gemetar meraba permukaan amplop cokelat tersebut. Ia menarik keluar beberapa lembar kertas HVS putih bersih yang dijilid rapi dengan *stapler* di sudutnya. Judul di halaman paling atas tercetak tebal dengan huruf kapital: **ATURAN TERTIB DAN KEBIJAKAN RUMAH TANGGA KELUARGA PRATAMA.**

Kirana mulai membaca lembar demi lembar isi dokumen itu. Semakin jauh matanya menatap deretan teks di atas kertas, semakin sesak pula napas yang ia hirup. Aturan itu bukan sekadar panduan hidup bersama; itu adalah kontrak pembatasan diri—sebuah daftar larangan ketat yang mereduksi statusnya sebagai seorang istri menjadi sekadar seseorang yang menumpang hidup di rumah ini.

Ia mendongakkan kepalanya, menatap Arka dengan mata yang kembali berkaca-kaca. "Mas... ini... apa maksudnya semua ini? Kita ini suami istri. Kenapa harus ada aturan seketat ini?"

Arka menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh. Wajahnya mengeras, memperlihatkan benteng pertahanan emosional yang tidak bisa ditembus.

"Suami istri?" Arka mengulangi kata itu dengan nada mengejek yang sangat tipis. "Jangan salah paham, Kirana. Pernikahan ini terjadi di mata hukum dan agama semata-mata untuk memenuhi permintaan terakhir orang tua kita dan menjaga stabilitas relasi bisnis keluarga besar kita. Di luar itu, status kita tidak lebih dari dua orang asing yang kebetulan tinggal di satu bangunan yang sama."

Pernyataan itu menghujam jantung Kirana seperti belati tajam. Ia mencengkeram kertas di tangannya hingga ujung-ujungnya menjadi kusut.

"Tapi... tapi di poin kedua tertulis kalau aku dilarang keras mencampuri urusan pribadiku... urusan pribadi kamu..." suara Kirana tercekat. "Bahkan di poin keempat... aku dilarang datang ke kantor kamu dengan alasan apa pun. Kenapa, Mas? Apa salahnya kalau seorang istri membawakan makan siang untuk suaminya ke kantor?"

"Karena saya benci ketidakpastian dan kekacauan," potong Arka tajam, matanya menatap lurus menembus manik mata Kirana tanpa ampun. "Kantor saya adalah tempat kerja profesional, bukan tempat bermain bagi seorang wanita manja yang tidak punya pekerjaan tetap. Kamu pikir saya tidak tahu kebiasaanmu di rumah orang tuamu? Bangun siang, menghabiskan waktu berjam-jam di salon, merengek minta dibelikan ini-itu, dan hidup tanpa arah tujuan yang jelas."

Arka memajukan sedikit tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke arah meja agar setiap kata yang ia ucapkan terdengar jelas dan menyayat hati.

"Saya tidak punya waktu untuk menghadapi drama, rengekan, atau sikap manja ala anak orang kaya yang tidak mandiri. Aturan itu dibuat demi kebaikan kita berdua. Selama kamu tinggal di sini, jalankan peranmu sebagai nyonya rumah secara administratif, urus keperluan dasar rumah ini lewat pelayan, dan jangan pernah sekali-kali mencoba masuk ke dalam ranah privat atau pekerjaan saya."

Kirana tertegun. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah, menetes membasahi pipinya yang mulus. Ia tidak menyangka bahwa suaminya memiliki pandangan sekaku dan sekejam itu terhadap dirinya. Arka melihat air matanya bukan sebagai bentuk kesedihan yang harus dihibur, melainkan sebagai bukti nyata dari kelemahan dan kecengengan yang selama ini sangat dibencinya.

"Kamu menangis?" Arka mendengus pelan, suaranya terdengar begitu sinis. "Baru ditegur seperti ini saja sudah menangis. Bagaimana nanti kalau kamu dihadapkan pada dunia luar yang sebenarnya? Ingat, Kirana, air mata tidak akan mempan di hadapan saya. Saya tidak akan luluh."

Kirana merapatkan bibirnya yang bergetar. Rasa sakit yang luar biasa bercampur dengan rasa marah dan harga diri yang diinjak-injak mulai membakar hatinya. Selama hidupnya, tidak ada seorang pun—bahkan kedua orang tuanya yang sangat memanjakannya—yang pernah berbicara secuek dan sekasar itu kepadanya. Ia dinilai rendah tanpa diberi kesempatan sedikit pun untuk membuktikan kemampuannya.

"Baiklah, Mas..." bisik Kirana lirih, suaranya bergetar hebat namun perlahan-lahan mulai mengeras di ujung kalimatnya. Ia menatap wajah tampan namun dingin itu dengan pandangan yang menyiratkan luka yang sangat dalam. "Aku paham sekarang."

Kirana merapikan lembaran kertas aturan itu, melipatnya dengan rapi, lalu meletakkannya kembali di atas meja tepat di hadapan Arka. Ia tidak menyentuh makanan apa pun yang tersaji di meja makan.

"Kalau aturan itu yang kamu mau, aku akan mematuhinya," lanjut Kirana dengan nada datar yang berusaha ia tegarkan. "Aku tidak akan pernah mencampuri urusan pribadimu. Aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di kantor kamu. Dan aku tidak akan pernah mengganggumu."

Arka sedikit tertegun melihat perubahan respons Kirana yang tidak meledak-ledak atau merengek seperti bayangannya semula. Ada kilatan keheranan yang melintas sesaat di mata hitam pria itu, namun dengan cepat ia menepisnya kembali ke balik topeng kedinginannya. Bagi Arka, kepatuhan itu adalah hal yang wajar dan memang sudah seharusnya terjadi.

"Bagus kalau kamu mengerti," ujar Arka dingin sambil berdiri dari kursinya. Ia merapikan jas kerjanya, menyambar tas kerja kulit di sisi kursi, dan mengenakan kembali jam tangannya dengan gerakan tegas. "Saya berangkat ke kantor. Jangan tunggu saya pulang untuk makan malam, saya ada rapat panjang dengan dewan direksi."

Tanpa menoleh lagi, tanpa sepatah kata perpisahan, dan tanpa meninggalkan satu sentuhan pun, Arka melangkah meninggalkan ruang makan. Suara pantulan sepatu pantofelnya menggema di lantai marmer, menjauh perlahan hingga suara pintu utama tertutup rapat dari luar, menandakan kepergian sang CEO ke dunianya yang sibuk dan tak tersentuh.

Kirana tetap duduk sendirian di meja makan yang luas itu. Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela besar kini terasa begitu menyilaukan dan hampa.

Ia menatap kosong ke arah kursi yang baru saja ditinggalkan Arka. Di dalam dadanya, sesuatu yang rapuh telah resmi patah, namun di saat yang bersamaan, sebuah perisai tak kasat mata mulai terbentuk melingkupi hatinya. Nona manja yang selama ini selalu bergantung pada orang lain perlahan-lahan mulai menyadari bahwa di rumah mewah ini, ia harus belajar bertahan hidup seorang diri—tanpa cinta, tanpa pelukan, dan tanpa belas kasihan dari suaminya sendiri.

Episodes
1 Malam Pengantin yang Sepi
2 Aturan Main Sang CEO
3 Sarapan yang Terbuang
4 Terlantar di Pusat Perbelanjaan
5 Sindiran Keluarga Besar
6 Hadiah yang Dicampakkan
7 BAB 7 : Air Mata di Balik Pintu
8 BAB 8 : Pertemuan dengan Masa Lalu
9 BAB 9 : Gejala Pertama & Rahasia Kecil
10 BAB 10 : Harapan Baru dalam Perut
11 BAB 11 : Belajar Memotong Sayur
12 Bab 12 Pertengkaran Hebat
13 Bab 13 : Menu Spesial Hari Jadi
14 Bab 14 : Keputusan Menuju Kantor
15 Bab 15 : Panggilan yang Berdering dalam Hening
16 Bab 16 : Dentuman di Persimpangan
17 Bab 17 : Firasat yang Terlambat
18 Bab 18 : Lorong IGD yang Mencekam
19 Bab 19 : Vonis yang Menghancurkan Jiwa
20 Bab 20 : Terbangun dalam Kekosongan
21 Bab 21 : Kalimat Pertama yang Dingin
22 Bab 22 : Penolakan Sentuhan
23 Bab 23 : Pulang sebagai Orang Asing
24 Bab 24 : Pindah Kamar (Bagian Kedua)
25 Bab 25 : Pembersihan Massal
26 Bab 26 : Keheningan di Meja Makan
27 Bab 27 : Penolakan Nafkah
28 Bab 28 : Menjual Perhiasan Lama
29 Bab 29 : Mengurung Diri dalam Belajar
30 Bab 30 : Langkah Pertama Keluar Rumah
31 Bab 31 : Aroma dari Dapur Belakang
32 Bab 32 : Ketika Arka Merindukan Rengekan
33 Bab 33 : Pesanan Besar Pertama
34 Bab 34 : Menemukan Buku yang Terluka
35 Bab 35 : Ego Sang CEO yang Runtuh
36 Bab 36 : Makan Malam yang Hambar
37 Bab 37 : Penolakan Fasilitas
38 Bab 38 : Kilas Balik di Persimpangan Jalan
39 Bab 39 : Senyum untuk Orang Lain
40 Bab 40 : Investor Muda
41 Bab 41 : Sakit yang Menolak Dirawat
42 Bab 42 : Kontrak Ruko Baru
43 Bab 43 : Malam di Restoran Kosong
44 Bab 44 : Pengakuan yang Sia-sia
45 Bab 45 : Gugatan dalam Map Cokelat
46 Bab 46 : Robekan Surat Cerai
47 Bab 47 : Perjanjian Kamar Terpisah
48 Bab 48 : Buruh Subuh Berjas Mewah
49 Bab 49 : Menghalau Gangguan Bisnis
50 Bab 50 : Makan Siang yang Berbalik
51 Bab 51 : Badai Gosip Media
52 Bab 52 : Batas Tegas Arka
53 Bab 53 : Grand Opening yang Ramai
54 Bab 54 : Kelelahan Fisik Kirana
55 Bab 55 : Penjagaan 24 Jam
56 Bab 56 : Hati yang Mulai Goyah Sedikit
57 Bab 57 : Hadiah Sepatu Tanpa Hak
58 Bab 58 : Ajakan Adrian
59 Bab 59 : Dansa yang Terpaksa
60 Bab 60 : Malam Pengakuan Mabuk
61 Bab 61 : Pagi Setelah Tangisan
62 Bab 62 : Ziarah Kecil yang Menguras Air Mata
63 Bab 63 : Tangisan yang Pecah Setelah Sekian Lama
64 Bab 64 : Awal dari Kehangatan yang Tipis
65 Bab 65 : Sabotase Bisnis
66 Bab 66 : Arka Pasang Badan
67 Bab 67 : Ucapan Terima Kasih yang Tulus
68 Bab 68 : Masa Lalu yang Benar-benar Pergi
69 Bab 69 : Kebakaran di Ruko Depan
70 Bab 70 : Nekat Demi Kenangan
71 Bab 71 : Menerobos Kobaran Api
72 Bab 72 : Detik-detik Menegangkan
73 Bab 73 : Ketakutan Kehilangan yang Sesungguhnya
74 Bab 74 : Penyesalan yang Menguap
75 Bab 75 : Merubuhkan Dinding Batu
76 Bab 76 : Kembali ke Kamar Utama
77 Bab 77 : Kolaborasi Dua Pemimpin
78 Bab 78 : Garis Dua yang Sesungguhnya
79 Bab 79 : Penjagaan Suami Siaga
80 Bab 80 : Kehidupan yang Utuh
81 Pengumuman
82 Bab 81 Pagi Hari di Kediaman Pratama
83 Bab 82 : Ekspansi Kirana’s Elite Catering
84 Bab 83 : Bayangan Masa Lalu
85 Bab 84 : Pertemuan yang Tak Terduga
86 Bab 85 : Keraguan di Antara Kepercayaan
87 Bab 86 : Kejujuran di Meja Makan
88 Bab 87 : Penyelidikan dimulai
89 Bab 88 : Ancaman Halus
90 Bab 89 : Perlindungan Ekstra
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Malam Pengantin yang Sepi
2
Aturan Main Sang CEO
3
Sarapan yang Terbuang
4
Terlantar di Pusat Perbelanjaan
5
Sindiran Keluarga Besar
6
Hadiah yang Dicampakkan
7
BAB 7 : Air Mata di Balik Pintu
8
BAB 8 : Pertemuan dengan Masa Lalu
9
BAB 9 : Gejala Pertama & Rahasia Kecil
10
BAB 10 : Harapan Baru dalam Perut
11
BAB 11 : Belajar Memotong Sayur
12
Bab 12 Pertengkaran Hebat
13
Bab 13 : Menu Spesial Hari Jadi
14
Bab 14 : Keputusan Menuju Kantor
15
Bab 15 : Panggilan yang Berdering dalam Hening
16
Bab 16 : Dentuman di Persimpangan
17
Bab 17 : Firasat yang Terlambat
18
Bab 18 : Lorong IGD yang Mencekam
19
Bab 19 : Vonis yang Menghancurkan Jiwa
20
Bab 20 : Terbangun dalam Kekosongan
21
Bab 21 : Kalimat Pertama yang Dingin
22
Bab 22 : Penolakan Sentuhan
23
Bab 23 : Pulang sebagai Orang Asing
24
Bab 24 : Pindah Kamar (Bagian Kedua)
25
Bab 25 : Pembersihan Massal
26
Bab 26 : Keheningan di Meja Makan
27
Bab 27 : Penolakan Nafkah
28
Bab 28 : Menjual Perhiasan Lama
29
Bab 29 : Mengurung Diri dalam Belajar
30
Bab 30 : Langkah Pertama Keluar Rumah
31
Bab 31 : Aroma dari Dapur Belakang
32
Bab 32 : Ketika Arka Merindukan Rengekan
33
Bab 33 : Pesanan Besar Pertama
34
Bab 34 : Menemukan Buku yang Terluka
35
Bab 35 : Ego Sang CEO yang Runtuh
36
Bab 36 : Makan Malam yang Hambar
37
Bab 37 : Penolakan Fasilitas
38
Bab 38 : Kilas Balik di Persimpangan Jalan
39
Bab 39 : Senyum untuk Orang Lain
40
Bab 40 : Investor Muda
41
Bab 41 : Sakit yang Menolak Dirawat
42
Bab 42 : Kontrak Ruko Baru
43
Bab 43 : Malam di Restoran Kosong
44
Bab 44 : Pengakuan yang Sia-sia
45
Bab 45 : Gugatan dalam Map Cokelat
46
Bab 46 : Robekan Surat Cerai
47
Bab 47 : Perjanjian Kamar Terpisah
48
Bab 48 : Buruh Subuh Berjas Mewah
49
Bab 49 : Menghalau Gangguan Bisnis
50
Bab 50 : Makan Siang yang Berbalik
51
Bab 51 : Badai Gosip Media
52
Bab 52 : Batas Tegas Arka
53
Bab 53 : Grand Opening yang Ramai
54
Bab 54 : Kelelahan Fisik Kirana
55
Bab 55 : Penjagaan 24 Jam
56
Bab 56 : Hati yang Mulai Goyah Sedikit
57
Bab 57 : Hadiah Sepatu Tanpa Hak
58
Bab 58 : Ajakan Adrian
59
Bab 59 : Dansa yang Terpaksa
60
Bab 60 : Malam Pengakuan Mabuk
61
Bab 61 : Pagi Setelah Tangisan
62
Bab 62 : Ziarah Kecil yang Menguras Air Mata
63
Bab 63 : Tangisan yang Pecah Setelah Sekian Lama
64
Bab 64 : Awal dari Kehangatan yang Tipis
65
Bab 65 : Sabotase Bisnis
66
Bab 66 : Arka Pasang Badan
67
Bab 67 : Ucapan Terima Kasih yang Tulus
68
Bab 68 : Masa Lalu yang Benar-benar Pergi
69
Bab 69 : Kebakaran di Ruko Depan
70
Bab 70 : Nekat Demi Kenangan
71
Bab 71 : Menerobos Kobaran Api
72
Bab 72 : Detik-detik Menegangkan
73
Bab 73 : Ketakutan Kehilangan yang Sesungguhnya
74
Bab 74 : Penyesalan yang Menguap
75
Bab 75 : Merubuhkan Dinding Batu
76
Bab 76 : Kembali ke Kamar Utama
77
Bab 77 : Kolaborasi Dua Pemimpin
78
Bab 78 : Garis Dua yang Sesungguhnya
79
Bab 79 : Penjagaan Suami Siaga
80
Bab 80 : Kehidupan yang Utuh
81
Pengumuman
82
Bab 81 Pagi Hari di Kediaman Pratama
83
Bab 82 : Ekspansi Kirana’s Elite Catering
84
Bab 83 : Bayangan Masa Lalu
85
Bab 84 : Pertemuan yang Tak Terduga
86
Bab 85 : Keraguan di Antara Kepercayaan
87
Bab 86 : Kejujuran di Meja Makan
88
Bab 87 : Penyelidikan dimulai
89
Bab 88 : Ancaman Halus
90
Bab 89 : Perlindungan Ekstra

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!