Terlantar di Pusat Perbelanjaan

Hujan lebat mengguyur kota sejak pukul tiga sore, mengubah jalanan aspal yang biasanya padat menjadi hamparan genangan air berwarna kelabu. Langit tampak begitu rendah, menumpahkan air tanpa henti diiringi gemuruh guntur yang sesekali membelah angkasa. Di dalam sebuah pusat perbelanjaan mewah di pusat kota, ribuan orang berlalu-lalang mencari perlindungan, berdiri berdesakan di dekat pintu masuk atau lobi utama sambil menunggu hujan reda.

Namun, di sudut terluar lobi area penurunan penumpang (*drop-off*), Kirana berdiri seorang diri.

Gadis itu mengenakan mantel musim dingin berbahan wol tipis berwarna merah muda lembut—salah satu pakaian kesukaannya yang dibawanya dari rumah orang tuanya. Tas tangan bermerek tersampir di bahunya, sementara jari-jemarinya yang dingin mencengkeram erat gagang ponsel pintar miliknya. Layar ponsel itu menyala, menampilkan riwayat panggilan keluar yang sudah ditekan berkali-kali ke satu nama yang sama: *Mas Arka*.

Sudah setengah jam Kirana berdiri di sana, berharap suaminya akan datang menjemput.

Tadi siang, Kirana terpaksa keluar rumah untuk membeli beberapa keperluan pribadi dan bahan dapur atas permintaan Bi Inah. Saat ia hendak pulang, badai mendadak datang menerjang tanpa peringatan. Tanpa membawa payung dan mengenakan sepatu hak tinggi yang tidak cocok untuk berjalan di tengah genangan air, Kirana merasa tidak berdaya. Kebiasaan lamanya—sifat manjanya yang selalu bergantung pada orang lain saat menghadapi situasi sulit—membuatnya secara refleks menghubungi Arka.

Bagi Kirana, memanggil suaminya di kala kesulitan adalah hal yang wajar. Di masa lalu, ayah atau sopirnya akan langsung datang dalam waktu sepuluh menit begitu ia menelepon sambil merengek manja. Karena itulah, ketika ia menelepon Arka tadi, terselip secercah harapan kekanak-kanakan bahwa pria itu akan melunak, datang dengan mobil mewahnya, dan melindunginya dari dinginnya terpaan hujan.

Panggilan pertama diangkat. Suara berat Arka terdengar di ujung sana, terdengar kaku dan dipenuhi suara bising kertas serta ketukan keyboard dari ruang kerjanya.

*"Ada apa, Kirana? Saya sedang sibuk rapat,"* suara Arka terdengar tanpa basa-basi.

*"Mas... di luar hujan deras banget. Aku terjebak di mal lantai bawah. Aku nggak bawa payung, kakiku juga sakit karena pakai heels... Kamu bisa jemput aku sebentar, ya? Please..."* suara Kirana memohon, nada manjanya terdengar jelas, terselip rasa cemas.

Di ujung sambungan sana, terdengar hela napas berat yang sarat akan kekesalan yang mendalam. Arka memijat pelipisnya. Bagi seorang CEO yang sedang memimpin negosiasi proyek bernilai miliaran rupiah, panggilan istrinya yang merengek minta dijemput karena hujan terasa seperti puncak dari kekonyolan dan ketidakdewasaan.

*"Kirana, dengar baik-baik,"* ucap Arka dingin, setiap kata diucapkannya dengan penekanan tajam. *"Saya bukan sopir pribadi kamu, dan mal itu bukan tempat antah berantah yang tidak punya fasilitas umum. Gunakan akal sehatmu. Cari taksi atau minta tolong layanan taksi daring. Jangan ganggu jam kerja saya hanya untuk urusan sepele seperti ini."*

*"Tapi Mas—"l*

*Tut... tut... tut...*

Sambungan telepon diputus begitu saja secara sepihak. Kirana tertegun. Ia mencoba menelepon kembali, menekan tombol panggil berulang-ulang dengan jari yang gemetar. Namun, yang ia dengar bukanlah nada sambung, melainkan suara operator wanita yang kaku: *“Nomor yang anda tuju sedang sibuk atau berada di luar jangkauan.”*

Arka telah mematikan ponselnya.

Kesadaran itu menghantam dada Kirana bagaikan hantaman palu besi. Harapan terakhirnya musnah seketika. Ia berdiri terpaku di tengah kerumunan orang yang sibuk, merasa begitu terasing, kerdil, dan bodoh.

Hujan di luar semakin lebat, angin kencang menerpa cipratan air hingga membasahi ujung mantel wol merah muda Kirana. Suhu udara di sekitar lobi mal yang ber-AC bercampur udara dingin malam membuat tubuhnya mulai meremang. Giginya bergemeletuk kecil. Rasa perih dan sesak kembali membuncah di tenggorokannya, namun kali ini tidak ada air mata yang keluar. Rasa sakit itu berubah menjadi rasa hambar yang menusuk tulang.

"Dasar wanita manja..." bisik Kirana pada dirinya sendiri, mengulangi kalimat hinaan yang sering dilontarkan Arka kepadanya.

Kini, Kirana akhirnya mengerti. Sifat manjanya yang dulu dianggap wajar dan disayangi oleh keluarganya, di mata Arka adalah sebuah dosa besar—sebuah kelemahan memalukan yang tidak layak mendapatkan toleransi sedikit pun.

Menyadarkan dirinya bahwa berdiri di sana tidak akan mengubah apa pun, Kirana menegakkan dagunya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang tersisa. Ia tidak boleh terus berdiam diri menjadi pengemis kasih sayang di tempat umum seperti ini.

Dengan langkah kaku dan tertatih-tatih akibat rasa nyeri di tumit kakinya yang lelah, Kirana melangkah keluar dari teras lobi, menerobos gerimis angin dingin menuju area tunggu taksi konvensional di pinggir jalan raya.

Antrean taksi tampak mengular panjang, dipenuhi oleh orang-orang yang juga ingin segera pulang menghindari badai. Kirana ikut berdiri di dalam barisan antrean itu. Tanpa payung melindunginya, gerimis kasar dengan cepat membasahi rambut panjangnya yang tertata rapi. Helai-helai rambut itu menempel di pipinya yang pucat. Mantel wol merah mudanya yang indah kini basah kuyup di bagian bahu, menyerap air hujan dan membuatnya terasa berkali-kali lipat lebih berat.

Tubuhnya mulai menggigil hebat. Rasa dingin menjalar dari ujung jari kaki hingga ke tulang belakangnya. Di sekelilingnya, beberapa orang melirik ke arahnya dengan pandangan heran—melihat seorang wanita berpenampilan rapi dengan mantel mahal berdiri kedinginan tanpa pelindung di tengah antrean basah.

Setengah jam berlalu dalam penantian yang menyiksa sebelum akhirnya sebuah taksi berlogo perusahaan lama berhenti di hadapannya.

Kirana segera membuka pintu taksi dan masuk ke dalam kursi penumpang belakang yang beraroma khas jok kulit sintetis dan minyak kayu putih. Ia menyebutkan alamat rumah mewahnya kepada sang sopir dengan suara yang sedikit tercekat karena dingin.

Di dalam kabin taksi yang remang-remang, diiringi suara deru mesin mobil yang tua dan sapuan *wiper* kaca depan yang berderit konstan, Kirana memeluk tubuhnya sendiri. Ia meringkuk di sudut jok mobil, mencoba meredam getaran hebat di seluruh tubuhnya.

Sepanjang perjalanan malam itu, pemandangan di luar jendela kaca yang basah oleh air hujan tampak buram oleh bias lampu-lampu jalanan kota. Namun, bayangan wajah Arka yang dingin, tatapan mata yang memuakkan, serta bentakan lewat telepon berputar terus-menerus di kepala Kirana.

Setibanya di depan gerbang rumah besar keluarga Pratama, Kirana membayar tarif taksi dengan lembaran uang kertas dari dompetnya yang sedikit lembap. Ia turun dari mobil, melangkah gontai melewati halaman rumah yang basah kuyup oleh hujan lebat, lalu menekan bel pintu utama.

Bi Inah membukakan pintu dengan wajah terkejut bukan kepalang melihat kondisi nyonya mudanya yang basah kuyup, pucat pasi, dan menggigil hebat.

"Ya Allah, Nyonya! Kenapa basah kuyup begini? Di mana Tuan Arka? Kenapa tidak dijemput?" seru Bi Inah panik sambil segera mengambil handuk kering tebal dari lemari dekat pintu dan membungkus tubuh Kirana yang bergetar.

Kirana menggeleng pelan. Senyum tipis yang amat rapuh tersungging di bibirnya yang membiru. Suaranya terdengar sangat tenang, begitu kontras dengan kondisi fisiknya yang sekarat karena dingin.

"Tidak apa-apa, Bi... Tuan besar sedang sibuk rapat. Aku pulang naik taksi," bisik Kirana lirih.

Ia menolak bantuan Bi Inah untuk memapahnya terlalu lama. Dengan langkah berat yang terseret, Kirana menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai bawah. Sesampainya di dalam kamar, ia langsung melepas mantel wol merah mudanya yang basah kuyup, menjatuhkannya begitu saja di atas lantai kamar mandi, lalu membiarkan air hangat dari *shower* mengguyur tubuhnya yang membeku selama berjam-jam lamanya.

Di saat yang bersamaan, di ruang kerja pribadinya di lantai atas, Arka Pratama baru saja menyelesaikan rentetan rapat panjangnya yang melelahkan. Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi kerjanya, memijat batang hidungnya yang tegang. Ponselnya yang tergeletak di atas meja kini kembali dinyalakan.

Deretan notifikasi panggilan tak terjawab dari nama *Kirana* langsung berderet memenuhi layar ponsel.

Arka mendengus pelan, merasa terganggu. Ia bergumam dalam hati, *“Pasti anak itu merengek lagi karena hujan.”*

Tanpa merasa bersalah sedikit pun, Arka meletakkan kembali ponselnya di atas meja, sama sekali tidak berniat mengirim pesan atau mengecek apakah istrinya sudah sampai rumah dengan selamat. Baginya, ketidaknyamanan kecil seperti kehujanan adalah pelajaran yang bagus agar Kirana belajar mandiri dan berhenti mengandalkannya.

Namun, Arka tidak pernah tahu—dan malam itu ia sama sekali tidak peduli—bahwa di dalam kamar di lantai bawah, tangis Kirana telah berhenti sepenuhnya, digantikan oleh demam tinggi yang membakar tubuhnya dan tekad dingin yang kian mengakar kuat di dalam jiwanya. Malam itu, di bawah selimut tebal yang gagal menghangatkan tubuhnya yang menggigil, nona manja itu resmi mati, meninggalkan cangkang kosong yang siap berubah menjadi wanita paling tangguh di masa depan.

Episodes
1 Malam Pengantin yang Sepi
2 Aturan Main Sang CEO
3 Sarapan yang Terbuang
4 Terlantar di Pusat Perbelanjaan
5 Sindiran Keluarga Besar
6 Hadiah yang Dicampakkan
7 BAB 7 : Air Mata di Balik Pintu
8 BAB 8 : Pertemuan dengan Masa Lalu
9 BAB 9 : Gejala Pertama & Rahasia Kecil
10 BAB 10 : Harapan Baru dalam Perut
11 BAB 11 : Belajar Memotong Sayur
12 Bab 12 Pertengkaran Hebat
13 Bab 13 : Menu Spesial Hari Jadi
14 Bab 14 : Keputusan Menuju Kantor
15 Bab 15 : Panggilan yang Berdering dalam Hening
16 Bab 16 : Dentuman di Persimpangan
17 Bab 17 : Firasat yang Terlambat
18 Bab 18 : Lorong IGD yang Mencekam
19 Bab 19 : Vonis yang Menghancurkan Jiwa
20 Bab 20 : Terbangun dalam Kekosongan
21 Bab 21 : Kalimat Pertama yang Dingin
22 Bab 22 : Penolakan Sentuhan
23 Bab 23 : Pulang sebagai Orang Asing
24 Bab 24 : Pindah Kamar (Bagian Kedua)
25 Bab 25 : Pembersihan Massal
26 Bab 26 : Keheningan di Meja Makan
27 Bab 27 : Penolakan Nafkah
28 Bab 28 : Menjual Perhiasan Lama
29 Bab 29 : Mengurung Diri dalam Belajar
30 Bab 30 : Langkah Pertama Keluar Rumah
31 Bab 31 : Aroma dari Dapur Belakang
32 Bab 32 : Ketika Arka Merindukan Rengekan
33 Bab 33 : Pesanan Besar Pertama
34 Bab 34 : Menemukan Buku yang Terluka
35 Bab 35 : Ego Sang CEO yang Runtuh
36 Bab 36 : Makan Malam yang Hambar
37 Bab 37 : Penolakan Fasilitas
38 Bab 38 : Kilas Balik di Persimpangan Jalan
39 Bab 39 : Senyum untuk Orang Lain
40 Bab 40 : Investor Muda
41 Bab 41 : Sakit yang Menolak Dirawat
42 Bab 42 : Kontrak Ruko Baru
43 Bab 43 : Malam di Restoran Kosong
44 Bab 44 : Pengakuan yang Sia-sia
45 Bab 45 : Gugatan dalam Map Cokelat
46 Bab 46 : Robekan Surat Cerai
47 Bab 47 : Perjanjian Kamar Terpisah
48 Bab 48 : Buruh Subuh Berjas Mewah
49 Bab 49 : Menghalau Gangguan Bisnis
50 Bab 50 : Makan Siang yang Berbalik
51 Bab 51 : Badai Gosip Media
52 Bab 52 : Batas Tegas Arka
53 Bab 53 : Grand Opening yang Ramai
54 Bab 54 : Kelelahan Fisik Kirana
55 Bab 55 : Penjagaan 24 Jam
56 Bab 56 : Hati yang Mulai Goyah Sedikit
57 Bab 57 : Hadiah Sepatu Tanpa Hak
58 Bab 58 : Ajakan Adrian
59 Bab 59 : Dansa yang Terpaksa
60 Bab 60 : Malam Pengakuan Mabuk
61 Bab 61 : Pagi Setelah Tangisan
62 Bab 62 : Ziarah Kecil yang Menguras Air Mata
63 Bab 63 : Tangisan yang Pecah Setelah Sekian Lama
64 Bab 64 : Awal dari Kehangatan yang Tipis
65 Bab 65 : Sabotase Bisnis
66 Bab 66 : Arka Pasang Badan
67 Bab 67 : Ucapan Terima Kasih yang Tulus
68 Bab 68 : Masa Lalu yang Benar-benar Pergi
69 Bab 69 : Kebakaran di Ruko Depan
70 Bab 70 : Nekat Demi Kenangan
71 Bab 71 : Menerobos Kobaran Api
72 Bab 72 : Detik-detik Menegangkan
73 Bab 73 : Ketakutan Kehilangan yang Sesungguhnya
74 Bab 74 : Penyesalan yang Menguap
75 Bab 75 : Merubuhkan Dinding Batu
76 Bab 76 : Kembali ke Kamar Utama
77 Bab 77 : Kolaborasi Dua Pemimpin
78 Bab 78 : Garis Dua yang Sesungguhnya
79 Bab 79 : Penjagaan Suami Siaga
80 Bab 80 : Kehidupan yang Utuh
81 Pengumuman
82 Bab 81 Pagi Hari di Kediaman Pratama
83 Bab 82 : Ekspansi Kirana’s Elite Catering
84 Bab 83 : Bayangan Masa Lalu
85 Bab 84 : Pertemuan yang Tak Terduga
86 Bab 85 : Keraguan di Antara Kepercayaan
87 Bab 86 : Kejujuran di Meja Makan
88 Bab 87 : Penyelidikan dimulai
89 Bab 88 : Ancaman Halus
90 Bab 89 : Perlindungan Ekstra
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Malam Pengantin yang Sepi
2
Aturan Main Sang CEO
3
Sarapan yang Terbuang
4
Terlantar di Pusat Perbelanjaan
5
Sindiran Keluarga Besar
6
Hadiah yang Dicampakkan
7
BAB 7 : Air Mata di Balik Pintu
8
BAB 8 : Pertemuan dengan Masa Lalu
9
BAB 9 : Gejala Pertama & Rahasia Kecil
10
BAB 10 : Harapan Baru dalam Perut
11
BAB 11 : Belajar Memotong Sayur
12
Bab 12 Pertengkaran Hebat
13
Bab 13 : Menu Spesial Hari Jadi
14
Bab 14 : Keputusan Menuju Kantor
15
Bab 15 : Panggilan yang Berdering dalam Hening
16
Bab 16 : Dentuman di Persimpangan
17
Bab 17 : Firasat yang Terlambat
18
Bab 18 : Lorong IGD yang Mencekam
19
Bab 19 : Vonis yang Menghancurkan Jiwa
20
Bab 20 : Terbangun dalam Kekosongan
21
Bab 21 : Kalimat Pertama yang Dingin
22
Bab 22 : Penolakan Sentuhan
23
Bab 23 : Pulang sebagai Orang Asing
24
Bab 24 : Pindah Kamar (Bagian Kedua)
25
Bab 25 : Pembersihan Massal
26
Bab 26 : Keheningan di Meja Makan
27
Bab 27 : Penolakan Nafkah
28
Bab 28 : Menjual Perhiasan Lama
29
Bab 29 : Mengurung Diri dalam Belajar
30
Bab 30 : Langkah Pertama Keluar Rumah
31
Bab 31 : Aroma dari Dapur Belakang
32
Bab 32 : Ketika Arka Merindukan Rengekan
33
Bab 33 : Pesanan Besar Pertama
34
Bab 34 : Menemukan Buku yang Terluka
35
Bab 35 : Ego Sang CEO yang Runtuh
36
Bab 36 : Makan Malam yang Hambar
37
Bab 37 : Penolakan Fasilitas
38
Bab 38 : Kilas Balik di Persimpangan Jalan
39
Bab 39 : Senyum untuk Orang Lain
40
Bab 40 : Investor Muda
41
Bab 41 : Sakit yang Menolak Dirawat
42
Bab 42 : Kontrak Ruko Baru
43
Bab 43 : Malam di Restoran Kosong
44
Bab 44 : Pengakuan yang Sia-sia
45
Bab 45 : Gugatan dalam Map Cokelat
46
Bab 46 : Robekan Surat Cerai
47
Bab 47 : Perjanjian Kamar Terpisah
48
Bab 48 : Buruh Subuh Berjas Mewah
49
Bab 49 : Menghalau Gangguan Bisnis
50
Bab 50 : Makan Siang yang Berbalik
51
Bab 51 : Badai Gosip Media
52
Bab 52 : Batas Tegas Arka
53
Bab 53 : Grand Opening yang Ramai
54
Bab 54 : Kelelahan Fisik Kirana
55
Bab 55 : Penjagaan 24 Jam
56
Bab 56 : Hati yang Mulai Goyah Sedikit
57
Bab 57 : Hadiah Sepatu Tanpa Hak
58
Bab 58 : Ajakan Adrian
59
Bab 59 : Dansa yang Terpaksa
60
Bab 60 : Malam Pengakuan Mabuk
61
Bab 61 : Pagi Setelah Tangisan
62
Bab 62 : Ziarah Kecil yang Menguras Air Mata
63
Bab 63 : Tangisan yang Pecah Setelah Sekian Lama
64
Bab 64 : Awal dari Kehangatan yang Tipis
65
Bab 65 : Sabotase Bisnis
66
Bab 66 : Arka Pasang Badan
67
Bab 67 : Ucapan Terima Kasih yang Tulus
68
Bab 68 : Masa Lalu yang Benar-benar Pergi
69
Bab 69 : Kebakaran di Ruko Depan
70
Bab 70 : Nekat Demi Kenangan
71
Bab 71 : Menerobos Kobaran Api
72
Bab 72 : Detik-detik Menegangkan
73
Bab 73 : Ketakutan Kehilangan yang Sesungguhnya
74
Bab 74 : Penyesalan yang Menguap
75
Bab 75 : Merubuhkan Dinding Batu
76
Bab 76 : Kembali ke Kamar Utama
77
Bab 77 : Kolaborasi Dua Pemimpin
78
Bab 78 : Garis Dua yang Sesungguhnya
79
Bab 79 : Penjagaan Suami Siaga
80
Bab 80 : Kehidupan yang Utuh
81
Pengumuman
82
Bab 81 Pagi Hari di Kediaman Pratama
83
Bab 82 : Ekspansi Kirana’s Elite Catering
84
Bab 83 : Bayangan Masa Lalu
85
Bab 84 : Pertemuan yang Tak Terduga
86
Bab 85 : Keraguan di Antara Kepercayaan
87
Bab 86 : Kejujuran di Meja Makan
88
Bab 87 : Penyelidikan dimulai
89
Bab 88 : Ancaman Halus
90
Bab 89 : Perlindungan Ekstra

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!