Sarapan yang Terbuang

Mentari pagi baru saja menyembulkan bias jingganya di balik cakrawala kota, memantulkan cahaya lembut ke kaca-kaca jendela lantai dua rumah besar milik keluarga Pratama. Di dalam kamar tamu—yang kini telah resmi menjadi kamarnya sendiri sejak malam pertama pernikahan mereka yang dingin—Kirana membuka matanya. Tidak ada lagi sisa-sisa air mata seperti beberapa hari belakangan. Yang ada hanyalah tekad yang mulai mengeras di balik sorot matanya yang lelah.

Meskipun Arka telah menegaskan aturan-aturan kaku lewat dokumen hitam putih beberapa hari lalu, dan meski pria itu melarangnya ikut campur, Kirana masih memegang sisa-sisa nurani seorang istri yang ingin mencoba. Pagi ini, ia bertekad melangkah keluar dari zona nyamannya sebagai nona manja yang terbiasa dilayani.

Kirana beranjak dari tempat tidur, mengenakan *apron* katun sederhana berwarna krem di atas pakaian rumahannya, lalu melangkah pelan menuruni anak tangga menuju dapur besar di lantai bawah.

Suasana dapur sangat lengang. Kepala pelayan, Bi Inah, tampak terkejut begitu melihat nyonya mudanya sudah berdiri di depan konter dapur pada pukul lima pagi. Wajah tua wanita paruh baya itu menyiratkan keheranan sekaligus rasa iba.

"Nyonya muda? Kenapa bangun pagi sekali? Biar saya saja yang siapkan sarapan untuk Tuan Arka," ujar Bi Inah cemas sambil melangkah mendekat.

Kirana menggeleng pelan, menyunggingkan senyuman tipis yang tidak mencapai matanya. "Tidak apa-apa, Bi. Biarkan saya yang buat hari ini. Saya ingin mencoba menyiapkan sarapan sendiri untuk suami saya."

Dengan gerakan yang sesekali tampak kaku—karena ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia benar-benar memegang spatula dan kompor untuk memasak dalam porsi nyata—Kirana mulai bekerja. Ia merebus air, memecahkan telur dengan hati-hati ke atas wajan anti-lengket, mengiris roti tawar gandum, dan meracik secangkir kopi hitam dengan takaran gula yang pas sesuai catatan kecil yang pernah ia dengar dari obrolan pelayan lain tentang kesukaan Arka.

Tangannya sempat terkena cipratan minyak panas kecil, membuat jari telunjuknya memerah dan berdenyut perih. Kirana hanya meringis kecil, mengusap jarinya sekilas ke *apron*, lalu kembali fokus. Hatinya diselimuti setitik harapan hangat. Ia membayangkan, mungkin kali ini, aroma masakan rumahan yang dibuat dengan ketulusan tangan seorang istri bisa mencairkan sedikit saja dinding es di dada suaminya.

Pukul enam lewat lima belas menit. Langkah kaki tegap yang sangat dikenal dan ditakuti penghuni rumah ini mulai terdengar menuruni tangga.

Arka muncul di area ruang makan dengan setelan jas kerja *tailored-fit* berwarna *navy* gelap, dasi sutra abu-abu tua yang tergantung rapi, serta rambut tertata klimis khas eksekutif muda yang disiplin. Pria itu baru saja turun untuk bersiap berangkat ke kantor.

Melihat kehadiran suaminya, jantung Kirana berdegup kencang. Dengan cekatan namun anggun, Kirana mengangkat mangkuk berisi *pancake* pisang hangat buatan tangannya sendiri serta sepiring telur mata sapi berdampingan dengan roti panggang ke atas meja makan. Napasnya sedikit memburu, bukan karena kelelahan, melainkan karena rasa gugup yang luar biasa.

"Mas Arka..." panggil Kirana pelan. Suaranya terdengar lembut, sarat akan ketulusan yang murni. "Kamu sudah mau berangkat? Aku... aku sudah siapkan sarapan pagi buat kamu. Ada roti panggang, telur, dan kopi hitam kesukaan kamu. Silakan dicoba, Mas."

Kirana berdiri di sisi meja makan, kedua tangannya bertumpu di depan *apron*-nya dengan jemari yang saling meremas gugup. Ia menatap wajah Arka lekat-lekat, menunggu sebuah senyuman kecil, atau sekadar anggukan kepala menghargai usaha pertamanya.

Namun, yang ia dapatkan justru sebuah keheningan yang menghujam.

Arka menghentikan langkahnya tepat di hadapan meja makan. Pandangan matanya yang tajam dan dingin menyapu hidangan yang tersaji di atas piring porselen putih itu sekilas, lalu beralih menatap *apron* kotor bertepung dan bekas noda minyak di tangan Kirana. Tidak ada binar keterkejutan yang menyenangkan di wajah Arka; yang ada hanyalah kerutan di dahi, menyiratkan kejengkelan yang mendalam.

Bagi Arka, pemandangan ini bukan wujud kasih sayang seorang istri. Di mata seorang CEO korporasi besar yang terbiasa dengan efisiensi tinggi, tindakan Kirana memasak sendiri di dapur adalah lambang kekonyolan—sebuah bentuk kekanak-kanakan dari seseorang yang tidak tahu bagaimana cara memanfaatkan waktu secara produktif.

"Apa yang sedang kamu lakukan, Kirana?" suara Arka terdengar rendah, datar, dan menusuk tajam tanpa ampun.

Kirana mengerjap, senyum di bibirnya perlahan memudar. "Aku... aku masak sarapan buat kamu, Mas. Biar kamu bisa sarapan makanan hangat sebelum ke kantor. Aku bikin sendiri..."

"Rumah ini punya kepala pelayan dan staf dapur yang digaji cukup mahal untuk melakukan tugas-tugas seperti itu," potong Arka dingin, memotong kalimat Kirana tanpa memberi ruang sedikit pun untuk membela diri. "Waktu kamu sangat berharga untuk dihabiskan hanya demi bermain peran sebagai ibu rumah tangga di dapur."

"Ini bukan main-main, Mas," suara Kirana mulai bergetar, pertahanan rapuhnya mulai goyah. "Aku ikhlas bikin ini buat kamu. Aku cuma mau jadi istri yang—"

"Cukup, Kirana," potong Arka lagi, nada suaranya kini meninggi setengah tingkat, menunjukkan rasa muak yang kentara. "Jangan mempermalukan diri kamu sendiri dengan drama murahan seperti ini. Saya tidak punya waktu untuk meladeni permainan rumah-rumahan ala anak kecil. Jika kamu bosan, carilah kesibukan lain di kamar atau belanjakan uang di kartu kredit, tapi jangan pernah mengacaukan rutinitas pagi saya dengan hal-hal tidak penting."

Arka sama sekali tidak menyentuh piring tersebut. Pria itu bahkan tidak sudi duduk di kursinya. Dengan tatapan penuh ketidakpedulian, Arka melangkah melewati sisi Kirana begitu saja, tanpa menoleh sedikit pun ke arah wanita yang berdiri mematung di samping meja.

*Tok, tok, tok.*

Suara pantulan sepatu pantofel Arka berderap cepat meninggalkan ruang makan. Tak lama kemudian, suara pintu utama terbuka dan tertutup dengan bunyi debaman berat, menandakan sang CEO telah benar-benar pergi meninggalkan rumah tanpa membawa apa pun dari apa yang telah disiapkannya dengan susah payah.

Di dalam ruang makan yang mendadak terasa begitu luas dan dingin itu, Kirana berdiri terpaku.

Kepedihan yang amat sangat merayap naik dari dadanya, mencengkeram tenggorokannya hingga terasa sesak. Matanya menatap nanar ke arah piring porselen di hadapannya. Uap hangat masih mengepul tipis dari tumpukan *pancake* dan telur mata sapi buatan tangannya. Makanan itu sempurna, lezat, dan dibuat dengan tetesan keringat serta ketulusan hatinya yang paling dalam.

Namun, makanan itu kini berubah menjadi simbol kepedihan yang paling nyata—sebuah sarapan yang terbuang sia-sia, persis seperti ketulusan cintanya yang diinjak-injak begitu saja oleh pria yang berstatus sebagai suaminya.

Bi Inah yang sedari tadi mengawasi dari balik dinding pantri melangkah pelan mendekat dengan tatapan penuh iba. Wanita tua itu mengusap bahu Kirana yang gemetar halus.

"Nyonya... yang sabar ya..." bisik Bi Inah lirih.

Kirana tidak menangis. Kali ini, air matanya menolak keluar. Ada sesuatu di dalam rongga dadanya yang mendadak membeku, berubah menjadi batu yang keras. Ia menatap piring sarapan itu sekali lagi, lalu mengangkat dagunya perlahan.

"Tidak apa-apa, Bi," ucap Kirana dengan suara datar yang hampir tidak bergeming. "Kalau Tuan besar tidak mau memakannya, buang saja semuanya ke tempat sampah."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Kirana melepas *apron*-nya dengan gerakan tenang, meletakkannya di atas meja makan di sebelah piring yang tak tersentuh, lalu berbalik melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Hari ini, untuk pertama kalinya, Kirana bersumpah di dalam hati: ia tidak akan pernah lagi membuang waktu, tenaga, dan perasaannya untuk mengharapkan pengakuan dari pria bernama Arka Pratama.

Episodes
1 Malam Pengantin yang Sepi
2 Aturan Main Sang CEO
3 Sarapan yang Terbuang
4 Terlantar di Pusat Perbelanjaan
5 Sindiran Keluarga Besar
6 Hadiah yang Dicampakkan
7 BAB 7 : Air Mata di Balik Pintu
8 BAB 8 : Pertemuan dengan Masa Lalu
9 BAB 9 : Gejala Pertama & Rahasia Kecil
10 BAB 10 : Harapan Baru dalam Perut
11 BAB 11 : Belajar Memotong Sayur
12 Bab 12 Pertengkaran Hebat
13 Bab 13 : Menu Spesial Hari Jadi
14 Bab 14 : Keputusan Menuju Kantor
15 Bab 15 : Panggilan yang Berdering dalam Hening
16 Bab 16 : Dentuman di Persimpangan
17 Bab 17 : Firasat yang Terlambat
18 Bab 18 : Lorong IGD yang Mencekam
19 Bab 19 : Vonis yang Menghancurkan Jiwa
20 Bab 20 : Terbangun dalam Kekosongan
21 Bab 21 : Kalimat Pertama yang Dingin
22 Bab 22 : Penolakan Sentuhan
23 Bab 23 : Pulang sebagai Orang Asing
24 Bab 24 : Pindah Kamar (Bagian Kedua)
25 Bab 25 : Pembersihan Massal
26 Bab 26 : Keheningan di Meja Makan
27 Bab 27 : Penolakan Nafkah
28 Bab 28 : Menjual Perhiasan Lama
29 Bab 29 : Mengurung Diri dalam Belajar
30 Bab 30 : Langkah Pertama Keluar Rumah
31 Bab 31 : Aroma dari Dapur Belakang
32 Bab 32 : Ketika Arka Merindukan Rengekan
33 Bab 33 : Pesanan Besar Pertama
34 Bab 34 : Menemukan Buku yang Terluka
35 Bab 35 : Ego Sang CEO yang Runtuh
36 Bab 36 : Makan Malam yang Hambar
37 Bab 37 : Penolakan Fasilitas
38 Bab 38 : Kilas Balik di Persimpangan Jalan
39 Bab 39 : Senyum untuk Orang Lain
40 Bab 40 : Investor Muda
41 Bab 41 : Sakit yang Menolak Dirawat
42 Bab 42 : Kontrak Ruko Baru
43 Bab 43 : Malam di Restoran Kosong
44 Bab 44 : Pengakuan yang Sia-sia
45 Bab 45 : Gugatan dalam Map Cokelat
46 Bab 46 : Robekan Surat Cerai
47 Bab 47 : Perjanjian Kamar Terpisah
48 Bab 48 : Buruh Subuh Berjas Mewah
49 Bab 49 : Menghalau Gangguan Bisnis
50 Bab 50 : Makan Siang yang Berbalik
51 Bab 51 : Badai Gosip Media
52 Bab 52 : Batas Tegas Arka
53 Bab 53 : Grand Opening yang Ramai
54 Bab 54 : Kelelahan Fisik Kirana
55 Bab 55 : Penjagaan 24 Jam
56 Bab 56 : Hati yang Mulai Goyah Sedikit
57 Bab 57 : Hadiah Sepatu Tanpa Hak
58 Bab 58 : Ajakan Adrian
59 Bab 59 : Dansa yang Terpaksa
60 Bab 60 : Malam Pengakuan Mabuk
61 Bab 61 : Pagi Setelah Tangisan
62 Bab 62 : Ziarah Kecil yang Menguras Air Mata
63 Bab 63 : Tangisan yang Pecah Setelah Sekian Lama
64 Bab 64 : Awal dari Kehangatan yang Tipis
65 Bab 65 : Sabotase Bisnis
66 Bab 66 : Arka Pasang Badan
67 Bab 67 : Ucapan Terima Kasih yang Tulus
68 Bab 68 : Masa Lalu yang Benar-benar Pergi
69 Bab 69 : Kebakaran di Ruko Depan
70 Bab 70 : Nekat Demi Kenangan
71 Bab 71 : Menerobos Kobaran Api
72 Bab 72 : Detik-detik Menegangkan
73 Bab 73 : Ketakutan Kehilangan yang Sesungguhnya
74 Bab 74 : Penyesalan yang Menguap
75 Bab 75 : Merubuhkan Dinding Batu
76 Bab 76 : Kembali ke Kamar Utama
77 Bab 77 : Kolaborasi Dua Pemimpin
78 Bab 78 : Garis Dua yang Sesungguhnya
79 Bab 79 : Penjagaan Suami Siaga
80 Bab 80 : Kehidupan yang Utuh
81 Pengumuman
82 Bab 81 Pagi Hari di Kediaman Pratama
83 Bab 82 : Ekspansi Kirana’s Elite Catering
84 Bab 83 : Bayangan Masa Lalu
85 Bab 84 : Pertemuan yang Tak Terduga
86 Bab 85 : Keraguan di Antara Kepercayaan
87 Bab 86 : Kejujuran di Meja Makan
88 Bab 87 : Penyelidikan dimulai
89 Bab 88 : Ancaman Halus
90 Bab 89 : Perlindungan Ekstra
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Malam Pengantin yang Sepi
2
Aturan Main Sang CEO
3
Sarapan yang Terbuang
4
Terlantar di Pusat Perbelanjaan
5
Sindiran Keluarga Besar
6
Hadiah yang Dicampakkan
7
BAB 7 : Air Mata di Balik Pintu
8
BAB 8 : Pertemuan dengan Masa Lalu
9
BAB 9 : Gejala Pertama & Rahasia Kecil
10
BAB 10 : Harapan Baru dalam Perut
11
BAB 11 : Belajar Memotong Sayur
12
Bab 12 Pertengkaran Hebat
13
Bab 13 : Menu Spesial Hari Jadi
14
Bab 14 : Keputusan Menuju Kantor
15
Bab 15 : Panggilan yang Berdering dalam Hening
16
Bab 16 : Dentuman di Persimpangan
17
Bab 17 : Firasat yang Terlambat
18
Bab 18 : Lorong IGD yang Mencekam
19
Bab 19 : Vonis yang Menghancurkan Jiwa
20
Bab 20 : Terbangun dalam Kekosongan
21
Bab 21 : Kalimat Pertama yang Dingin
22
Bab 22 : Penolakan Sentuhan
23
Bab 23 : Pulang sebagai Orang Asing
24
Bab 24 : Pindah Kamar (Bagian Kedua)
25
Bab 25 : Pembersihan Massal
26
Bab 26 : Keheningan di Meja Makan
27
Bab 27 : Penolakan Nafkah
28
Bab 28 : Menjual Perhiasan Lama
29
Bab 29 : Mengurung Diri dalam Belajar
30
Bab 30 : Langkah Pertama Keluar Rumah
31
Bab 31 : Aroma dari Dapur Belakang
32
Bab 32 : Ketika Arka Merindukan Rengekan
33
Bab 33 : Pesanan Besar Pertama
34
Bab 34 : Menemukan Buku yang Terluka
35
Bab 35 : Ego Sang CEO yang Runtuh
36
Bab 36 : Makan Malam yang Hambar
37
Bab 37 : Penolakan Fasilitas
38
Bab 38 : Kilas Balik di Persimpangan Jalan
39
Bab 39 : Senyum untuk Orang Lain
40
Bab 40 : Investor Muda
41
Bab 41 : Sakit yang Menolak Dirawat
42
Bab 42 : Kontrak Ruko Baru
43
Bab 43 : Malam di Restoran Kosong
44
Bab 44 : Pengakuan yang Sia-sia
45
Bab 45 : Gugatan dalam Map Cokelat
46
Bab 46 : Robekan Surat Cerai
47
Bab 47 : Perjanjian Kamar Terpisah
48
Bab 48 : Buruh Subuh Berjas Mewah
49
Bab 49 : Menghalau Gangguan Bisnis
50
Bab 50 : Makan Siang yang Berbalik
51
Bab 51 : Badai Gosip Media
52
Bab 52 : Batas Tegas Arka
53
Bab 53 : Grand Opening yang Ramai
54
Bab 54 : Kelelahan Fisik Kirana
55
Bab 55 : Penjagaan 24 Jam
56
Bab 56 : Hati yang Mulai Goyah Sedikit
57
Bab 57 : Hadiah Sepatu Tanpa Hak
58
Bab 58 : Ajakan Adrian
59
Bab 59 : Dansa yang Terpaksa
60
Bab 60 : Malam Pengakuan Mabuk
61
Bab 61 : Pagi Setelah Tangisan
62
Bab 62 : Ziarah Kecil yang Menguras Air Mata
63
Bab 63 : Tangisan yang Pecah Setelah Sekian Lama
64
Bab 64 : Awal dari Kehangatan yang Tipis
65
Bab 65 : Sabotase Bisnis
66
Bab 66 : Arka Pasang Badan
67
Bab 67 : Ucapan Terima Kasih yang Tulus
68
Bab 68 : Masa Lalu yang Benar-benar Pergi
69
Bab 69 : Kebakaran di Ruko Depan
70
Bab 70 : Nekat Demi Kenangan
71
Bab 71 : Menerobos Kobaran Api
72
Bab 72 : Detik-detik Menegangkan
73
Bab 73 : Ketakutan Kehilangan yang Sesungguhnya
74
Bab 74 : Penyesalan yang Menguap
75
Bab 75 : Merubuhkan Dinding Batu
76
Bab 76 : Kembali ke Kamar Utama
77
Bab 77 : Kolaborasi Dua Pemimpin
78
Bab 78 : Garis Dua yang Sesungguhnya
79
Bab 79 : Penjagaan Suami Siaga
80
Bab 80 : Kehidupan yang Utuh
81
Pengumuman
82
Bab 81 Pagi Hari di Kediaman Pratama
83
Bab 82 : Ekspansi Kirana’s Elite Catering
84
Bab 83 : Bayangan Masa Lalu
85
Bab 84 : Pertemuan yang Tak Terduga
86
Bab 85 : Keraguan di Antara Kepercayaan
87
Bab 86 : Kejujuran di Meja Makan
88
Bab 87 : Penyelidikan dimulai
89
Bab 88 : Ancaman Halus
90
Bab 89 : Perlindungan Ekstra

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!