Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Malam Pengantin yang Sepi

Malam yang seharusnya menjadi puncak paling manis dalam hidup Kirana terasa runtuh menjadi puing-puing hampa.

Jam dinding kayu berukir klasik di atas perapian berdetik konstan, setiap bunyinya seperti jarum halus yang menusuk keheningan kamar utama yang megah itu. Jarum panjang baru saja melewati angka 12, menandakan hari telah berganti dini hari. Di tengah ruangan berukuran belasan meter persegi itu, Kirana duduk sendirian di tepi ranjang berukuran king-size.

Ranjang itu telah dihias sedemikian rupa—sprei sutra putih, tumpukan bantal empuk, dan taburan kelopak bunga mawar merah yang membentuk pola hati di bagian tengah. Bunga-bunga itu memancarkan aroma wangi yang lembut, namun bagi Kirana, wewangian itu justru terasa menyesakkan.

Ia masih mengenakan gaun pengantinnya. Gaun berwarna putih tulang rancangan desainer ternama, lengkap dengan sulaman renda rumit dan ribuan payet kristal yang berkilauan ditimpa cahaya lampu gantung kristal di langit-langit. Gaun itu indah, sangat indah, tetapi juga sangat berat. Bobot kain lapis demi lapis itu kini menekan pundaknya, seolah menegaskan betapa beratnya beban yang harus ia tanggung mulai malam ini.

Jari-jemari Kirana yang lentik dan terhias cat kuku merah muda meremas kain renda di bagian pangkuannya. Riasan wajahnya masih utuh—pipi bertabur blush-on lembut, bibir yang dipoles lipstik warna merah muda alami, dan mahkota tiara kecil yang masih tersemat anggun di atas sanggul rambutnya. Dari luar, ia tampak seperti putri raja yang siap menyambut pangerannya. Namun di dalam batinnya, Kirana hanyalah seorang gadis muda yang ketakutan, bingung, dan sangat kesepian.

Perjodohan ini terjadi begitu cepat. Hanya dalam kurun waktu tiga bulan sejak keputusan keluarga besar diambil, Kirana—anak gadis yang terbiasa dimanjakan dan dilingkupi kasih sayang hangat—tiba-tiba dilemparkan ke dalam kehidupan Arka Pratama. Pria itu adalah putra tunggal dari mitra bisnis almarhum ayahnya, seorang CEO muda berusia tiga puluh tahun yang dikenal dingin, tidak tersentuh, dan berotak dingin dalam mengendalikan konglomerasi usahanya.

Bagi Kirana yang polos, Arka adalah sosok pria idaman. Ketampanan Arka yang tajam dengan garis rahang tegas, postur tubuh tinggi tegap, serta aura kepemimpinan yang kuat berhasil mencuri hatinya sejak pertemuan pertama mereka di acara makan malam keluarga. Kirana membayangkan, meskipun pernikahan ini berawal dari kesepakatan keluarga, ia bisa meluluhkan hati Arka. Ia percaya bahwa keramahan, perhatian, dan rasa cintanya yang tulus kelak akan dibalas dengan kehangatan yang sama.

Namun, harapan itu mulai retak sejak prosesi ijab kabul pagi tadi.

Sepanjang resepsi pernikahan yang digelar mewah di ballroom hotel bintang lima, Arka hampir tidak pernah menatap matanya. Pria itu menyalami ribuan tamu undangan dengan senyum formal yang sangat tipis dan terstruktur—senyum yang jelas-jelas hanya dipasang demi menjaga citra di depan para media dan rekan bisnis. Tidak ada genggaman tangan yang hangat, tidak ada bisikan lembut saat berdiri bersisian, bahkan tidak ada satu pun lirikan penuh perhatian saat Kirana mengeluh kesakitan karena sepatu hak tingginya menekan kakinya sepanjang hari.

Dan kini, di kamar pengantin mereka yang berlokasi di lantai dua rumah mewah milik Arka, kebenaran itu terpampang makin nyata.

Suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar dari luar lorong. Kirana refleks menegakkan punggungnya. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul dadanya dengan ketukan panik sekaligus cemas. Ia dengan cepat mengusap peluh halus di dahi dan merapikan tatanan gaunnya yang sedikit terlipat.

Pintu kamar berukir tebal itu terdorong terbuka.

Arka melangkah masuk. Pria itu sudah melepas jas pengantin mewahnya, hanya menyisakan kemeja putih polos yang dua kancing teratasnya sudah terbuka, memperlihatkan sedikit kulit dadanya. Dasi hitamnya tergantung longgar di sekeliling kerah, dan lengan kemejanya disingkap hingga sebatas siku, memperlihatkan jam tangan mahal serta lengan bawahnya yang kokoh.

Wajah Arka tampak sangat lelah, tetapi lelah yang terpancar bukan sekadar kelelahan fisik setelah pesta seharian. Itu adalah kelelahan emosional—ekspresi seseorang yang baru saja menyelesaikan tugas berat yang tidak disenanginya.

Untuk beberapa detik, Kirana menahan napas. Ia menatap suaminya dengan binar harapan yang tersisa di matanya. Kirana mencoba mengingat semua nasihat ibunya sebelum berangkat ke rumah ini: “Jadilah istri yang lembut, Nak. Sambut suamimu dengan senyuman, cairkan hatinya yang keras dengan kasih sayangmu.”

Mengikuti bisikan hatinya, Kirana memberanikan diri berdiri dari tepi ranjang. Langkahnya agak tertahan karena beratnya gaun pengantin serta rasa pegal di kakinya, tetapi ia tetap memaksakan diri mendekat. Kirana mengukir senyum manis—senyum terbaik yang bisa ia berikan, meski senyum itu sedikit bergetar karena rasa gugup yang amat sangat.

"Mas Arka..." bisik Kirana halus. Suaranya terdengar manis, dengan nada manja alami yang biasa ia gunakan saat berbicara dengan orang-orang tercintanya. "Akhirnya selesai juga ya acaranya. Kamu... pasti capek banget. Mau aku ambilkan air minum? Atau mau aku siapkan air hangat untuk mandi?"

Kirana mengulurkan tangannya ragu-ragu, berniat membantu Arka melonggarkan dasinya lebih lanjut, sebuah gestur sederhana yang ia bayangkan sering dilakukan seorang istri.

Namun, belum sempat jemari Kirana menyentuh kain dasi itu, Arka mundur satu langkah secara mendadak.

Gerakan Arka begitu cepat dan tegas, seolah tangan Kirana adalah sesuatu yang akan menular atau mengotorinya. Tangannya melayang di udara beberapa saat sebelum akhirnya Kirana menariknya kembali dengan canggung, meremas jarinya sendiri di depan dada.

Arka tidak memandang wajah Kirana. Pandangannya menembus melewatinya, menatap lurus ke arah lemari pakaian besar berkayu jati di balik tubuh Kirana. Pria itu berjalan melangkahi Kirana begitu saja, tanpa sepatah kata pun. Ia membuka pintu lemari, mengambil sebuah bantal tambahan, selimut tebal bertumpuk, serta tas kerja kulitnya yang terletak di meja samping.

Sikap dingin itu begitu mutlak. Arka berprilaku seolah-olah Kirana tidak lebih dari sebuah patung pajangan di sudut ruangan—sebuah benda mati yang kebetulan diletakkan di sana dan bisa diabaikan kapan saja.

"Mas?" Kirana membalikkan badannya cepat. Kain gaunnya terseret keras di atas karpet tebal, menimbulkan suara gesekan yang memecah kesunyian. Matanya membelalak, memandang tumpukan Bantal dan selimut di pelukan suaminya. "Kamu... kamu mau ke mana, Mas? Kenapa bawa bantal sama selimut?"

Arka menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kamar. Ia memegang gagang pintu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menahan selimut dan bantal. Pria itu tidak menoleh sedikit pun untuk menatap Kirana.

"Saya tidur di ruang kerja," ujar Arka.

Suaranya datar, tanpa nada, tanpa nada kebencian yang meledak-ledak, tetapi justru karena kedatarannya itulah suara Arka terasa sepuluh kali lebih menusuk. Ringan, dingin, dan benar-benar hampa dari perasaan.

Dada Kirana berdenyut nyeri. Ia melangkah maju dua ketuk, mengabaikan rasa perih di ujung jari kakinya. "Tidur di ruang kerja? Tapi... tapi ini kan malam pertama kita, Mas? Tadi Mama sama Ibu bilang, kita—"

"Kirana," potong Arka tegas.

Kali ini, Arka akhirnya memutar kepalanya sedikit. Tatapannya menatap Kirana dari samping. Matanya yang tajam dan tajam memancarkan kilatan ketidaksabaran yang dingin. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di dalam netra hitam itu.

"Pernikahan ini terjadi karena keinginan orang tua kita," ucap Arka kata demi kata, jelas dan penuh penekanan yang tidak bisa diganggu gugat. "Bukan keinginan saya. Saya menyetujuinya hanya untuk menyelesaikan kewajiban saya kepada keluarga, begitu juga kamu. Jadi jangan pernah berharap lebih dari itu."

Kirana merasa seolah-olah pasokan udara di dalam kamar itu mendadak disedot keluar. Paru-parunya menegang. "Tapi Mas... kita sudah sah jadi suami istri. Apa salahnya kalau kita mencoba? Aku bisa belajar jadi istri yang baik buat kamu. Aku..."

"Saya tidak butuh anak manja yang hanya tahu bermain rumah-rumahan," potong Arka lagi, suaranya kini meninggi setengah nada, dipenuhi rasa muak yang tak lagi ditutup-tutupi. Tatapannya menyapu gaun pengantin Kirana yang terlalu mewah, riasan wajahnya, dan ekspresi memelas di wajah gadis itu. Bagi Arka, Kirana tidak lebih dari seorang gadis manja kaya raya yang tidak tahu apa-apa tentang dunia nyata—seorang beban yang dipaksakan masuk ke dalam hidupnya yang tertata rapi.

"Di atas meja kerja di bawah, ada amplop cokelat berisi dokumen aturan rumah tangga kita," lanjut Arka tanpa empati. "Baca besok pagi. Dan ingat baik-baik aturan paling mendasar dalam rumah ini: jangan pernah mencampuri urusan pribadi saya, jangan mencampuri pekerjaan saya, dan jangan pernah mengganggu saya saat saya sedang bekerja."

"Mas Arka, tolong... jangan seperti ini..." suara Kirana mulai pecah. Air mata hangat mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat pemandangannya membayang. "Malam ini saja... setidaknya bicara sama aku..."

"Jangan cengeng, Kirana. Saya tidak punya waktu untuk melayani rengekan kamu," jawab Arka dingin.

Tanpa menunggu balasan lagi, Arka melangkah keluar dari kamar.

Brak!

Pintu kayu yang tebal itu ditutup dari luar. Suara benturan pintu itu bergema hebat di dalam kamar yang luas, disusul suara cetrekan kunci yang mengunci rapat rapat dari luar, atau mungkin sekadar ketukan langkah Arka yang kian menjauh menyusuri lorong menuju ruang kerjanya di ujung rumah.

Hening kembali merayap. Namun kali ini, keheningan itu terasa begitu menghancurkan.

Lutut Kirana mendadak tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Gadis itu meluruh, jatuh terduduk di atas karpet tebal di samping ranjang pengantin mereka. Gaun mewahnya yang mekarnya kini terhampar acak di lantai, menutupi sebagian besar karpet, membungkus tubuhnya yang gemetar hebat.

"Mas Arka..." bisiknya lemah di tengah kegelapan yang seolah membelitnya.

Tangannya naik menutup wajahnya sendiri. Tangisan yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah dalam keheningan malam. Kirana terisak-isak, bahunya naik turun menahan guncangan emosi yang teramat sangat. Air matanya mengalir deras, membasahi jemarinya dan merusak riasan bedak serta eyeliner yang dipasang memikat sejak pagi tadi.

Ia memandangi ranjang pengantin di depannya. Kelopak-kelopak mawar merah yang tersusun rapi itu kini terasa seperti sebuah ejekan tajam atas kepolosannya. Ia membayangkan betapa bahagianya sepupu-sepupunya yang menikah, membayangkan kehangatan malam pertama yang selalu diceritakan dalam buku-buku roman atau nasihat keluarga. Namun yang ia dapatkan hanyalah dinginnya penolakan dan pandangan muak dari pria yang statusnya kini adalah suaminya.

Kenapa? Apa salahnya? Apakah hanya karena ia bertingkah manja? Apakah karena ia sangat menyukai pria itu dan berusaha bersikap hangat?

Di dalam kamar yang luas, dingin, dan asing itu, Kirana menangis dalam diam sampai napasnya tersedak-sedak. Jam dinding terus berdetik, mengiringi derai air mata sang nona manja yang baru saja menyadari bahwa pernikahan impiannya telah berubah menjadi penjara emas yang tak bertepi. Dan di sanalah, di atas karpet dingin berbalut gaun pengantin yang tak sempat dilepasnya, Kirana menghabiskan malam pertamanya seorang diri.

Episodes
1 Malam Pengantin yang Sepi
2 Aturan Main Sang CEO
3 Sarapan yang Terbuang
4 Terlantar di Pusat Perbelanjaan
5 Sindiran Keluarga Besar
6 Hadiah yang Dicampakkan
7 BAB 7 : Air Mata di Balik Pintu
8 BAB 8 : Pertemuan dengan Masa Lalu
9 BAB 9 : Gejala Pertama & Rahasia Kecil
10 BAB 10 : Harapan Baru dalam Perut
11 BAB 11 : Belajar Memotong Sayur
12 Bab 12 Pertengkaran Hebat
13 Bab 13 : Menu Spesial Hari Jadi
14 Bab 14 : Keputusan Menuju Kantor
15 Bab 15 : Panggilan yang Berdering dalam Hening
16 Bab 16 : Dentuman di Persimpangan
17 Bab 17 : Firasat yang Terlambat
18 Bab 18 : Lorong IGD yang Mencekam
19 Bab 19 : Vonis yang Menghancurkan Jiwa
20 Bab 20 : Terbangun dalam Kekosongan
21 Bab 21 : Kalimat Pertama yang Dingin
22 Bab 22 : Penolakan Sentuhan
23 Bab 23 : Pulang sebagai Orang Asing
24 Bab 24 : Pindah Kamar (Bagian Kedua)
25 Bab 25 : Pembersihan Massal
26 Bab 26 : Keheningan di Meja Makan
27 Bab 27 : Penolakan Nafkah
28 Bab 28 : Menjual Perhiasan Lama
29 Bab 29 : Mengurung Diri dalam Belajar
30 Bab 30 : Langkah Pertama Keluar Rumah
31 Bab 31 : Aroma dari Dapur Belakang
32 Bab 32 : Ketika Arka Merindukan Rengekan
33 Bab 33 : Pesanan Besar Pertama
34 Bab 34 : Menemukan Buku yang Terluka
35 Bab 35 : Ego Sang CEO yang Runtuh
36 Bab 36 : Makan Malam yang Hambar
37 Bab 37 : Penolakan Fasilitas
38 Bab 38 : Kilas Balik di Persimpangan Jalan
39 Bab 39 : Senyum untuk Orang Lain
40 Bab 40 : Investor Muda
41 Bab 41 : Sakit yang Menolak Dirawat
42 Bab 42 : Kontrak Ruko Baru
43 Bab 43 : Malam di Restoran Kosong
44 Bab 44 : Pengakuan yang Sia-sia
45 Bab 45 : Gugatan dalam Map Cokelat
46 Bab 46 : Robekan Surat Cerai
47 Bab 47 : Perjanjian Kamar Terpisah
48 Bab 48 : Buruh Subuh Berjas Mewah
49 Bab 49 : Menghalau Gangguan Bisnis
50 Bab 50 : Makan Siang yang Berbalik
51 Bab 51 : Badai Gosip Media
52 Bab 52 : Batas Tegas Arka
53 Bab 53 : Grand Opening yang Ramai
54 Bab 54 : Kelelahan Fisik Kirana
55 Bab 55 : Penjagaan 24 Jam
56 Bab 56 : Hati yang Mulai Goyah Sedikit
57 Bab 57 : Hadiah Sepatu Tanpa Hak
58 Bab 58 : Ajakan Adrian
59 Bab 59 : Dansa yang Terpaksa
60 Bab 60 : Malam Pengakuan Mabuk
61 Bab 61 : Pagi Setelah Tangisan
62 Bab 62 : Ziarah Kecil yang Menguras Air Mata
63 Bab 63 : Tangisan yang Pecah Setelah Sekian Lama
64 Bab 64 : Awal dari Kehangatan yang Tipis
65 Bab 65 : Sabotase Bisnis
66 Bab 66 : Arka Pasang Badan
67 Bab 67 : Ucapan Terima Kasih yang Tulus
68 Bab 68 : Masa Lalu yang Benar-benar Pergi
69 Bab 69 : Kebakaran di Ruko Depan
70 Bab 70 : Nekat Demi Kenangan
71 Bab 71 : Menerobos Kobaran Api
72 Bab 72 : Detik-detik Menegangkan
73 Bab 73 : Ketakutan Kehilangan yang Sesungguhnya
74 Bab 74 : Penyesalan yang Menguap
75 Bab 75 : Merubuhkan Dinding Batu
76 Bab 76 : Kembali ke Kamar Utama
77 Bab 77 : Kolaborasi Dua Pemimpin
78 Bab 78 : Garis Dua yang Sesungguhnya
79 Bab 79 : Penjagaan Suami Siaga
80 Bab 80 : Kehidupan yang Utuh
81 Pengumuman
82 Bab 81 Pagi Hari di Kediaman Pratama
83 Bab 82 : Ekspansi Kirana’s Elite Catering
84 Bab 83 : Bayangan Masa Lalu
85 Bab 84 : Pertemuan yang Tak Terduga
86 Bab 85 : Keraguan di Antara Kepercayaan
87 Bab 86 : Kejujuran di Meja Makan
88 Bab 87 : Penyelidikan dimulai
89 Bab 88 : Ancaman Halus
90 Bab 89 : Perlindungan Ekstra
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Malam Pengantin yang Sepi
2
Aturan Main Sang CEO
3
Sarapan yang Terbuang
4
Terlantar di Pusat Perbelanjaan
5
Sindiran Keluarga Besar
6
Hadiah yang Dicampakkan
7
BAB 7 : Air Mata di Balik Pintu
8
BAB 8 : Pertemuan dengan Masa Lalu
9
BAB 9 : Gejala Pertama & Rahasia Kecil
10
BAB 10 : Harapan Baru dalam Perut
11
BAB 11 : Belajar Memotong Sayur
12
Bab 12 Pertengkaran Hebat
13
Bab 13 : Menu Spesial Hari Jadi
14
Bab 14 : Keputusan Menuju Kantor
15
Bab 15 : Panggilan yang Berdering dalam Hening
16
Bab 16 : Dentuman di Persimpangan
17
Bab 17 : Firasat yang Terlambat
18
Bab 18 : Lorong IGD yang Mencekam
19
Bab 19 : Vonis yang Menghancurkan Jiwa
20
Bab 20 : Terbangun dalam Kekosongan
21
Bab 21 : Kalimat Pertama yang Dingin
22
Bab 22 : Penolakan Sentuhan
23
Bab 23 : Pulang sebagai Orang Asing
24
Bab 24 : Pindah Kamar (Bagian Kedua)
25
Bab 25 : Pembersihan Massal
26
Bab 26 : Keheningan di Meja Makan
27
Bab 27 : Penolakan Nafkah
28
Bab 28 : Menjual Perhiasan Lama
29
Bab 29 : Mengurung Diri dalam Belajar
30
Bab 30 : Langkah Pertama Keluar Rumah
31
Bab 31 : Aroma dari Dapur Belakang
32
Bab 32 : Ketika Arka Merindukan Rengekan
33
Bab 33 : Pesanan Besar Pertama
34
Bab 34 : Menemukan Buku yang Terluka
35
Bab 35 : Ego Sang CEO yang Runtuh
36
Bab 36 : Makan Malam yang Hambar
37
Bab 37 : Penolakan Fasilitas
38
Bab 38 : Kilas Balik di Persimpangan Jalan
39
Bab 39 : Senyum untuk Orang Lain
40
Bab 40 : Investor Muda
41
Bab 41 : Sakit yang Menolak Dirawat
42
Bab 42 : Kontrak Ruko Baru
43
Bab 43 : Malam di Restoran Kosong
44
Bab 44 : Pengakuan yang Sia-sia
45
Bab 45 : Gugatan dalam Map Cokelat
46
Bab 46 : Robekan Surat Cerai
47
Bab 47 : Perjanjian Kamar Terpisah
48
Bab 48 : Buruh Subuh Berjas Mewah
49
Bab 49 : Menghalau Gangguan Bisnis
50
Bab 50 : Makan Siang yang Berbalik
51
Bab 51 : Badai Gosip Media
52
Bab 52 : Batas Tegas Arka
53
Bab 53 : Grand Opening yang Ramai
54
Bab 54 : Kelelahan Fisik Kirana
55
Bab 55 : Penjagaan 24 Jam
56
Bab 56 : Hati yang Mulai Goyah Sedikit
57
Bab 57 : Hadiah Sepatu Tanpa Hak
58
Bab 58 : Ajakan Adrian
59
Bab 59 : Dansa yang Terpaksa
60
Bab 60 : Malam Pengakuan Mabuk
61
Bab 61 : Pagi Setelah Tangisan
62
Bab 62 : Ziarah Kecil yang Menguras Air Mata
63
Bab 63 : Tangisan yang Pecah Setelah Sekian Lama
64
Bab 64 : Awal dari Kehangatan yang Tipis
65
Bab 65 : Sabotase Bisnis
66
Bab 66 : Arka Pasang Badan
67
Bab 67 : Ucapan Terima Kasih yang Tulus
68
Bab 68 : Masa Lalu yang Benar-benar Pergi
69
Bab 69 : Kebakaran di Ruko Depan
70
Bab 70 : Nekat Demi Kenangan
71
Bab 71 : Menerobos Kobaran Api
72
Bab 72 : Detik-detik Menegangkan
73
Bab 73 : Ketakutan Kehilangan yang Sesungguhnya
74
Bab 74 : Penyesalan yang Menguap
75
Bab 75 : Merubuhkan Dinding Batu
76
Bab 76 : Kembali ke Kamar Utama
77
Bab 77 : Kolaborasi Dua Pemimpin
78
Bab 78 : Garis Dua yang Sesungguhnya
79
Bab 79 : Penjagaan Suami Siaga
80
Bab 80 : Kehidupan yang Utuh
81
Pengumuman
82
Bab 81 Pagi Hari di Kediaman Pratama
83
Bab 82 : Ekspansi Kirana’s Elite Catering
84
Bab 83 : Bayangan Masa Lalu
85
Bab 84 : Pertemuan yang Tak Terduga
86
Bab 85 : Keraguan di Antara Kepercayaan
87
Bab 86 : Kejujuran di Meja Makan
88
Bab 87 : Penyelidikan dimulai
89
Bab 88 : Ancaman Halus
90
Bab 89 : Perlindungan Ekstra

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!