Sindiran Keluarga Besar

Pintu aula utama resort keluarga Pratama di kawasan pegunungan Puncak terbuka lebar, memperlihatkan kemegahan pesta akhir pekan yang dihadiri oleh puluhan kerabat dari berbagai cabang keluarga besar. Lampu-lampu kristal berkilauan memantulkan cahaya ke atas lantai marmer yang bersih, sementara alunan musik instrumental klasik mengalun lembut di latar belakang, menciptakan atmosfer kehangatan keluarga yang tampak sempurna dari luar.

Namun, di salah satu sudut meja panjang yang dipenuhi hidangan prasmanan mewah, atmosfer itu terasa sangat kontras bagi Kirana.

Gadis itu berdiri mengenakan midi dress berwarna rose gold berpotongan elegan dengan detail mutiara di bagian kerah—salah satu pakaian berharga mahal yang sengaja disiapkan oleh mertuanya untuk acara kumpul keluarga ini. Rambut panjangnya ditata half-up do dengan hiasan jepit mutiara kecil, memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus. Dari segi penampilan, ia tampak seperti menantu bangsawan yang sempurna.

Tetapi di dalam dadanya, Kirana merasa seperti sedang berdiri di atas bara api.

Semenjak insiden malam badai di pusat perbelanjaan beberapa hari lalu, di mana ia pulang dalam keadaan basah kuyup dan demam tinggi tanpa sedikit pun perhatian dari suaminya, sesuatu di dalam diri Kirana telah berubah. Demam itu memang sudah sembuh, namun rasa dinginnya tertinggal di dalam tulang. Hari ini, ia datang ke acara keluarga besar bukan dengan antusiasme seorang pengantin baru, melainkan dengan topeng ketenangan yang dipasang setebal mungkin.

Beberapa langkah dari tempatnya berdiri, Arka tampak sedang dikelilingi oleh para paman dan sepupu laki-lakinya di dekat area bar mini. Suaminya itu mengenakan setelan jas abu-abu arang yang pas di badan, tampak sangat berwibawa, karismatik, dan menjadi pusat perhatian. Arka tertawa kecil menanggapi obrolan bisnis, meneguk wiski dari gelas kristalnya dengan sikap elegan yang selalu berhasil memukau siapa saja yang melihatnya.

Pria itu sama sekali tidak melirik ke arah Kirana. Sejak mereka tiba di resort dua jam lalu, Arka memperlakukan Kirana layaknya seorang kolega bisnis yang kebetulan duduk di meja yang sama—berjarak, dingin, dan tidak tersentuh.

"Wah, lihat pengantin baru kita. Serasi sekali, ya... tapi kelihatannya ada yang berbeda dari biasanya," sebuah suara wanita yang bernada manis namun menyindir meluncur tajam dari samping Kirana.

Kirana menoleh pelan. Di dekatnya, berdiri Clarissa—sepupu jauh Arka dari pihak bibi yang terkenal memiliki lidah paling tajam di keluarga besar Pratama. Clarissa mengenakan designer dress hijau zamrud yang mencolok, berdiri menyilangkan tangan di dada sambil menatap Kirana dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan senyum sinis yang tertahan di sudut bibirnya.

Beberapa kerabat wanita paruh baya yang berdiri di dekat mereka ikut menoleh, memusatkan perhatian ke arah Kirana.

"Berbeda bagaimana, Clarissa?" tanya seorang tante senior penasaran.

Clarissa terkekeh pelan, sengaja mengeraskan sedikit suaranya agar beberapa orang di sekitar mereka—termasuk beberapa pria di sudut ruangan—bisa mendengar dengan jelas.

"Ya ampun, Tante, semua orang juga tahu siapa Kirana sebelum dinikahi Arka," ujar Clarissa dengan nada mengejek yang dibungkus senyuman ramah palsu. "Anak tunggal kesayangan keluarga Hartono yang hidupnya dari kecil dibalut beludru. Kerjanya cuma mondar-mandir kebutik desainer internasional, nongkrong di kafe hipster tiap sore, dan menghabiskan ratusan juta kartu kredit dalam semalam tanpa pernah tahu bagaimana cara mencari uang sendiri."

Clarissa melirik Kirana sekilas, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin memancing perhatian. "Makanya aku sempat heran waktu Arka mau dijodohkan dengannya. Arka kan tipe pria mandiri yang gila kerja, perfeksionis, dan membangun perusahaannya setengah mati. Dapat istri yang manja, cengeng, nggak bisa masak, dan kerjanya cuma tahu menghabiskan uang suami... wah, kasihan sekali Arka. Rumah tangga mereka pasti cuma jadi beban buat Arka."

Beberapa kerabat yang mendengar sindiran itu tertawa kecil. Ada yang menatap Kirana dengan pandangan geli, ada pula yang melayangkan tatapan merendahkan, seolah membenarkan ucapan Clarissa. Di dalam lingkaran sosial kelas atas seperti mereka, wanita yang tidak memiliki kontribusi finansial atau karier mandiri sering kali dipandang sebelah mata sebagai parasit yang elegan.

Dada Kirana berdenyut nyeri. Tenggorokannya terasa tercekat, dan telinganya berdenging hebat.

Dulu, saat pertama kali ia mendengar sindiran semacam itu, Kirana mungkin akan langsung menangis, merajuk, atau membela diri dengan suara tinggi sambil memanggil suaminya. Ia adalah nona manja yang tidak tahan dihakimi. Namun hari ini, di bawah tatapan tajam dan cibiran terselubung dari para kerabat suaminya, Kirana tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Ia menarik napas pelan-pelan, menelan rasa panas yang membakar tenggorokannya. Kirana menegakkan punggungnya, merapikan letak tas kecil di tangannya, lalu menatap lurus mata Clarissa tanpa gentar. Tidak ada lagi binar ketakutan di matanya; yang ada hanyalah tatapan kosong yang begitu tenang, begitu dingin, hingga membuat Clarissa sedikit salah tingkah.

"Terima kasih atas perhatiannya mengenai gaya hidup saya di masa lalu, Clarissa," jawab Kirana dengan suara tenang, lembut, namun terdengar sangat jelas di tengah keheningan meja tersebut. "Keluarga saya memang mendidik saya dengan limpahan materi yang cukup untuk menikmati hidup. Tapi setidaknya, saya tidak pernah menggunakan waktu luang saya untuk bergosip atau mengurusi urusan rumah tangga orang lain."

Skakmat. Kalimat itu meluncur tanpa nada tinggi, namun ketajamannya berhasil membuat senyum di bibir Clarissa membeku seketika. Beberapa kerabat yang tadi tersenyum sinis langsung mengalihkan pandangan, merasa canggung.

Clarissa mendengus kesal, wajahnya memerah karena merasa dipermalukan di depan umum oleh wanita yang selama ini dianggapnya lemah. "Wah, berani juga ya sekarang ngomongnya. Coba kita lihat sampai kapan kamu bisa mempertahankan gaya sombong itu kalau suatu hari Arka bosen sama kamu dan menendangmu keluar dari rumahnya."

Sebelum Clarissa sempat melanjutkan kalimatnya, sebuah suara deheman tegas terdengar dari arah belakang mereka.

"Ada apa ini? Kenapa berkumpul di sini beramai-ramai?"

Suara berat yang sangat berwibawa itu milik Arka. Pria itu baru saja melangkah mendekat, meninggalkan kelompok diskusinya setelah melihat kerumunan kecil terbentuk di dekat meja Kirana. Wajah Arka tampak kaku, garis rahangnya mengeras, dan tatapan matanya menyapu orang-orang di sekitar dengan aura intimidasi yang kuat.

Clarissa langsung mengubah ekspresinya menjadi manis, memasang wajah seolah-olah ia adalah korban yang dizalimi. "Arka! Syukurlah kamu datang. Tadi aku cuma ngobrol biasa sama Kirana, ngingetin dia soal pentingnya belajar mandiri buat bantu kamu di perusahaan. Tapi Kirana malah jawab ketus banget..."

Clarissa sengaja memutarbalikkan fakta, berharap Arka—yang selama ini dikenal sangat membenci sikap manja Kirana—akan langsung menegur atau memarahi istrinya di depan semua keluarga besar. Itu akan menjadi pemandangan yang sangat memuaskan bagi Clarissa untuk menjatuhkan harga diri Kirana hingga ke titik nadir.

Semua mata di sekitar meja kini tertuju kepada Arka. Para kerabat menunggu reaksi sang CEO. Mereka tahu persis bagaimana dinginnya Arka terhadap istrinya selama acara berlangsung.

Kirana perlahan mengalihkan pandangannya menatap Arka. Di dalam hatinya, sebuah harapan kecil yang sangat rapuh tiba-tiba berbisik. Meskipun mereka hidup dalam aturan yang dingin, meskipun Arka tidak mencintainya, bukankah setidaknya di hadapan keluarga besar, seorang suami memiliki kewajiban moral untuk menjaga kehormatan istrinya dari serangan orang lain? Bukankah Arka akan melangkah maju, membela harga diri wanita yang menyandang nama belakangnya?

Kirana menatap mata hitam Arka lekat-lekat, menunggu.

Namun, detik demi detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan.

Arka tidak membelanya.

Pria itu hanya berdiri tegak dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana bahan mewahnya. Wajah Arka tetap datar, tanpa ada sedikit pun perubahan emosi yang menunjukkan keberpihakan. Tatapan mata Arka beralih dari Clarissa ke arah Kirana, lalu kembali menatap lantai sesaat, seolah-olah pertengkaran kecil di antara para wanita itu adalah hal yang tidak penting dan membuang-buang waktunya.

Bagi Arka, menegur Clarissa di depan umum berarti menarik perhatian publik pada urusan rumah tangga mereka yang rapuh—sesuatu yang sangat dibencinya. Dan lagi, jauh di lubuk hatinya yang tertutup tembok es, Arka merasa bahwa apa yang dikatakan Clarissa ada benarnya: Kirana memang seorang wanita manja yang tidak tahu apa-apa tentang dunia luar. Membela Kirana di hadapan keluarga besar terasa seperti tindakan yang melelahkan dan tidak esensial.

"Kalian tidak punya pekerjaan lain selain berdebat di acara keluarga seperti ini?" suara Arka akhirnya memecah keheningan. Nadanya dingin, datar, dan tidak memihak siapa pun. "Clarissa, urusi urusanmu sendiri. Dan Kirana, jangan buat keributan yang tidak perlu."

Deg.

Hantaman itu jauh lebih menyakitkan daripada sindiran Clarissa barusan.

Kirana merasakan sekujur tubuhnya mendadak membeku. Kalimat itu—yang diucapkan suaminya tanpa sedikit pun rasa perlindungan—bukan sekadar teguran netral. Itu adalah bentuk pengabaian mutlak. Arka baru saja memilih untuk berdiri di garis tengah, membiarkan istrinya diserang, dan menganggap Kirana sebagai sumber keributan.

Clarissa tersenyum penuh kemenangan, melirik Kirana dengan ekor matanya seolah berkata, “Tuh kan, suamimu sendiri saja tidak peduli padamu.”

Para kerabat yang menyaksikan kejadian itu mulai berbisik-bisik pelan, menyimpulkan bahwa rumor mengenai keretakan dan ketidakharmonisan rumah tangga sang CEO Pratama memang benar adanya.

Kirana menarik napas dalam-dalam. Rasa sakit yang menghujam dadanya begitu hebat, namun di saat yang bersamaan, rasa sakit itu membakar habis sisa-sisa ketergantungan emosional terakhir yang masih ia miliki terhadap suaminya. Air mata yang sempat mendesak di pelupuk matanya langsung dipaksa surut oleh gelombang ketenangan yang dingin.

Tidak ada lagi harapan. Tidak ada lagi sisa-sisa cinta kekanak-kanakan yang menuntut pengakuan.

Kirana mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Ia menatap Arka tepat di dalam manik mata pria itu—tatapan yang begitu tenang, begitu kosong, dan tidak menyisakan secercah pun kehangatan yang dulu selalu terpancar setiap kali ia melihat suaminya.

"Maafkan saya, Tuan Pratama," ucap Kirana dengan suara yang sangat tenang, terdengar sangat formal dan berjarak, sengaja memanggil suaminya dengan sebutan asing di hadapan keluarga besar. "Saya tidak bermaksud membuat keributan. Saya rasa udara di dalam ruangan ini terlalu panas. Saya izin keluar sebentar untuk mencari udara segar."

Tanpa menunggu persetujuan Arka, tanpa memedulikan tatapan heran dari para kerabat, dan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Clarissa, Kirana berbalik badan. Ia melangkah anggun dengan sepatu hak tingginya, meninggalkan aula pesta yang megah itu menuju taman resort yang sepi di bagian luar.

Arka terpaku di tempatnya berdiri.

Ada sesuatu yang terasa salah—sebuah sengatan aneh yang mendadak menusuk dadanya saat mendengar Kirana memanggilnya dengan sebutan "Tuan Pratama" di depan banyak orang. Pria itu melihat punggung istrinya yang menjauh perlahan di balik pintu kaca, mengenakan dress rose gold yang berkilauan di bawah temaram lampu taman.

Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka dimulai, Arka merasakan bayangan ketakutan yang asing merayap di dalam hatinya—ketakutan bahwa ia baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga yang tidak akan pernah bisa ia rebut kembali.

Episodes
1 Malam Pengantin yang Sepi
2 Aturan Main Sang CEO
3 Sarapan yang Terbuang
4 Terlantar di Pusat Perbelanjaan
5 Sindiran Keluarga Besar
6 Hadiah yang Dicampakkan
7 BAB 7 : Air Mata di Balik Pintu
8 BAB 8 : Pertemuan dengan Masa Lalu
9 BAB 9 : Gejala Pertama & Rahasia Kecil
10 BAB 10 : Harapan Baru dalam Perut
11 BAB 11 : Belajar Memotong Sayur
12 Bab 12 Pertengkaran Hebat
13 Bab 13 : Menu Spesial Hari Jadi
14 Bab 14 : Keputusan Menuju Kantor
15 Bab 15 : Panggilan yang Berdering dalam Hening
16 Bab 16 : Dentuman di Persimpangan
17 Bab 17 : Firasat yang Terlambat
18 Bab 18 : Lorong IGD yang Mencekam
19 Bab 19 : Vonis yang Menghancurkan Jiwa
20 Bab 20 : Terbangun dalam Kekosongan
21 Bab 21 : Kalimat Pertama yang Dingin
22 Bab 22 : Penolakan Sentuhan
23 Bab 23 : Pulang sebagai Orang Asing
24 Bab 24 : Pindah Kamar (Bagian Kedua)
25 Bab 25 : Pembersihan Massal
26 Bab 26 : Keheningan di Meja Makan
27 Bab 27 : Penolakan Nafkah
28 Bab 28 : Menjual Perhiasan Lama
29 Bab 29 : Mengurung Diri dalam Belajar
30 Bab 30 : Langkah Pertama Keluar Rumah
31 Bab 31 : Aroma dari Dapur Belakang
32 Bab 32 : Ketika Arka Merindukan Rengekan
33 Bab 33 : Pesanan Besar Pertama
34 Bab 34 : Menemukan Buku yang Terluka
35 Bab 35 : Ego Sang CEO yang Runtuh
36 Bab 36 : Makan Malam yang Hambar
37 Bab 37 : Penolakan Fasilitas
38 Bab 38 : Kilas Balik di Persimpangan Jalan
39 Bab 39 : Senyum untuk Orang Lain
40 Bab 40 : Investor Muda
41 Bab 41 : Sakit yang Menolak Dirawat
42 Bab 42 : Kontrak Ruko Baru
43 Bab 43 : Malam di Restoran Kosong
44 Bab 44 : Pengakuan yang Sia-sia
45 Bab 45 : Gugatan dalam Map Cokelat
46 Bab 46 : Robekan Surat Cerai
47 Bab 47 : Perjanjian Kamar Terpisah
48 Bab 48 : Buruh Subuh Berjas Mewah
49 Bab 49 : Menghalau Gangguan Bisnis
50 Bab 50 : Makan Siang yang Berbalik
51 Bab 51 : Badai Gosip Media
52 Bab 52 : Batas Tegas Arka
53 Bab 53 : Grand Opening yang Ramai
54 Bab 54 : Kelelahan Fisik Kirana
55 Bab 55 : Penjagaan 24 Jam
56 Bab 56 : Hati yang Mulai Goyah Sedikit
57 Bab 57 : Hadiah Sepatu Tanpa Hak
58 Bab 58 : Ajakan Adrian
59 Bab 59 : Dansa yang Terpaksa
60 Bab 60 : Malam Pengakuan Mabuk
61 Bab 61 : Pagi Setelah Tangisan
62 Bab 62 : Ziarah Kecil yang Menguras Air Mata
63 Bab 63 : Tangisan yang Pecah Setelah Sekian Lama
64 Bab 64 : Awal dari Kehangatan yang Tipis
65 Bab 65 : Sabotase Bisnis
66 Bab 66 : Arka Pasang Badan
67 Bab 67 : Ucapan Terima Kasih yang Tulus
68 Bab 68 : Masa Lalu yang Benar-benar Pergi
69 Bab 69 : Kebakaran di Ruko Depan
70 Bab 70 : Nekat Demi Kenangan
71 Bab 71 : Menerobos Kobaran Api
72 Bab 72 : Detik-detik Menegangkan
73 Bab 73 : Ketakutan Kehilangan yang Sesungguhnya
74 Bab 74 : Penyesalan yang Menguap
75 Bab 75 : Merubuhkan Dinding Batu
76 Bab 76 : Kembali ke Kamar Utama
77 Bab 77 : Kolaborasi Dua Pemimpin
78 Bab 78 : Garis Dua yang Sesungguhnya
79 Bab 79 : Penjagaan Suami Siaga
80 Bab 80 : Kehidupan yang Utuh
81 Pengumuman
82 Bab 81 Pagi Hari di Kediaman Pratama
83 Bab 82 : Ekspansi Kirana’s Elite Catering
84 Bab 83 : Bayangan Masa Lalu
85 Bab 84 : Pertemuan yang Tak Terduga
86 Bab 85 : Keraguan di Antara Kepercayaan
87 Bab 86 : Kejujuran di Meja Makan
88 Bab 87 : Penyelidikan dimulai
89 Bab 88 : Ancaman Halus
90 Bab 89 : Perlindungan Ekstra
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Malam Pengantin yang Sepi
2
Aturan Main Sang CEO
3
Sarapan yang Terbuang
4
Terlantar di Pusat Perbelanjaan
5
Sindiran Keluarga Besar
6
Hadiah yang Dicampakkan
7
BAB 7 : Air Mata di Balik Pintu
8
BAB 8 : Pertemuan dengan Masa Lalu
9
BAB 9 : Gejala Pertama & Rahasia Kecil
10
BAB 10 : Harapan Baru dalam Perut
11
BAB 11 : Belajar Memotong Sayur
12
Bab 12 Pertengkaran Hebat
13
Bab 13 : Menu Spesial Hari Jadi
14
Bab 14 : Keputusan Menuju Kantor
15
Bab 15 : Panggilan yang Berdering dalam Hening
16
Bab 16 : Dentuman di Persimpangan
17
Bab 17 : Firasat yang Terlambat
18
Bab 18 : Lorong IGD yang Mencekam
19
Bab 19 : Vonis yang Menghancurkan Jiwa
20
Bab 20 : Terbangun dalam Kekosongan
21
Bab 21 : Kalimat Pertama yang Dingin
22
Bab 22 : Penolakan Sentuhan
23
Bab 23 : Pulang sebagai Orang Asing
24
Bab 24 : Pindah Kamar (Bagian Kedua)
25
Bab 25 : Pembersihan Massal
26
Bab 26 : Keheningan di Meja Makan
27
Bab 27 : Penolakan Nafkah
28
Bab 28 : Menjual Perhiasan Lama
29
Bab 29 : Mengurung Diri dalam Belajar
30
Bab 30 : Langkah Pertama Keluar Rumah
31
Bab 31 : Aroma dari Dapur Belakang
32
Bab 32 : Ketika Arka Merindukan Rengekan
33
Bab 33 : Pesanan Besar Pertama
34
Bab 34 : Menemukan Buku yang Terluka
35
Bab 35 : Ego Sang CEO yang Runtuh
36
Bab 36 : Makan Malam yang Hambar
37
Bab 37 : Penolakan Fasilitas
38
Bab 38 : Kilas Balik di Persimpangan Jalan
39
Bab 39 : Senyum untuk Orang Lain
40
Bab 40 : Investor Muda
41
Bab 41 : Sakit yang Menolak Dirawat
42
Bab 42 : Kontrak Ruko Baru
43
Bab 43 : Malam di Restoran Kosong
44
Bab 44 : Pengakuan yang Sia-sia
45
Bab 45 : Gugatan dalam Map Cokelat
46
Bab 46 : Robekan Surat Cerai
47
Bab 47 : Perjanjian Kamar Terpisah
48
Bab 48 : Buruh Subuh Berjas Mewah
49
Bab 49 : Menghalau Gangguan Bisnis
50
Bab 50 : Makan Siang yang Berbalik
51
Bab 51 : Badai Gosip Media
52
Bab 52 : Batas Tegas Arka
53
Bab 53 : Grand Opening yang Ramai
54
Bab 54 : Kelelahan Fisik Kirana
55
Bab 55 : Penjagaan 24 Jam
56
Bab 56 : Hati yang Mulai Goyah Sedikit
57
Bab 57 : Hadiah Sepatu Tanpa Hak
58
Bab 58 : Ajakan Adrian
59
Bab 59 : Dansa yang Terpaksa
60
Bab 60 : Malam Pengakuan Mabuk
61
Bab 61 : Pagi Setelah Tangisan
62
Bab 62 : Ziarah Kecil yang Menguras Air Mata
63
Bab 63 : Tangisan yang Pecah Setelah Sekian Lama
64
Bab 64 : Awal dari Kehangatan yang Tipis
65
Bab 65 : Sabotase Bisnis
66
Bab 66 : Arka Pasang Badan
67
Bab 67 : Ucapan Terima Kasih yang Tulus
68
Bab 68 : Masa Lalu yang Benar-benar Pergi
69
Bab 69 : Kebakaran di Ruko Depan
70
Bab 70 : Nekat Demi Kenangan
71
Bab 71 : Menerobos Kobaran Api
72
Bab 72 : Detik-detik Menegangkan
73
Bab 73 : Ketakutan Kehilangan yang Sesungguhnya
74
Bab 74 : Penyesalan yang Menguap
75
Bab 75 : Merubuhkan Dinding Batu
76
Bab 76 : Kembali ke Kamar Utama
77
Bab 77 : Kolaborasi Dua Pemimpin
78
Bab 78 : Garis Dua yang Sesungguhnya
79
Bab 79 : Penjagaan Suami Siaga
80
Bab 80 : Kehidupan yang Utuh
81
Pengumuman
82
Bab 81 Pagi Hari di Kediaman Pratama
83
Bab 82 : Ekspansi Kirana’s Elite Catering
84
Bab 83 : Bayangan Masa Lalu
85
Bab 84 : Pertemuan yang Tak Terduga
86
Bab 85 : Keraguan di Antara Kepercayaan
87
Bab 86 : Kejujuran di Meja Makan
88
Bab 87 : Penyelidikan dimulai
89
Bab 88 : Ancaman Halus
90
Bab 89 : Perlindungan Ekstra

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!