BAB 2 — AYAH MEMBAWA KABAR BURUK

Hukuman berdiri di bawah tiang bendera selama empat puluh lima menit sukses membuat dua tumit Naya terasa kebas. Ditambah lagi sengatan matahari pagi pukul delapan yang mulai terik, lengkap sudah penderitaannya. Namun, hal yang paling membakar dadanya bukanlah rasa pegal di kaki, melainkan tatapan mengejek dari beberapa anggota pengurus OSIS yang lalu lalang di koridor utama.

Terutama Arka. Laki-laki itu sempat lewat membawa setumpuk map Ordan tanpa meliriknya sedikit pun. Seolah-olah Naya hanyalah seonggok patung semen yang memang dipasang untuk menghiasi halaman sekolah.

"Gue sumpahin tuh cowok kakinya kesandung kerikil terus masuk got," gumam Naya sengit begitu bel istirahat pertama berbunyi dan ia akhirnya diperbolehkan kembali ke kelas.

"Lagian lo nyari penyakit banget sih, Nay," komentar Saskia saat mereka bertiga—bersama mangkuk bakso masing-masing—duduk di pojokan kantin. Saskia menjejali mulutnya dengan kerupuk kulit sebelum melanjutkan, "Udah tahu Arka Pradipta itu tipe cowok yang jalannya pakai penggaris. Lurus banget, kaku, nggak ada fleksibel-fleksibelnya. Kenapa lo malah nekat lompat pagar di area belakang lab biologi? Itu kan jalur patroli rutin dia."

"Ya mana gue tahu dia bakalan nongkrong di situ kayak wewe gombel!" Naya mendesis, mengaduk-aduk kuah baksonya dengan emosi berlebih hingga cipratannya hampir mengenai seragam Saskia. "Lagian dia itu dendam kesumat sama gue dari kelas sepuluh. Inget nggak waktu kita acara persami terus gue ketahuan bawa snack mie instan mentah? Siapa yang menyita dan malah makan mie itu di tenda pembina? Dia, Sas! Dia!"

"Tapi kan itu dua tahun lalu, Naya..." Saskia menghela napas, menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabatnya yang masih memelihara dendam purba. "Tapi jujur ya, tadi pagi pas Arka menyeret pergelangan tangan lo ke lapangan... anak-anak kelas dua belas pada heboh. Melisa aja langsung cemberut pas nyaksiin dari koridor lantai dua."

Naya menghentikan gerakan sendoknya. Alisnya bertaut. "Melisa? Cemberut kenapa?"

"Ya iyalah! Satu sekolah juga tahu Melisa itu naksir Arka dari zaman purba. Dia kan sekretaris OSIS, sering jalan bareng Arka buat urusan kegiatan sekolah. Dengar-dengar sih orang tua mereka juga saling kenal," terang Saskia penuh semangat gosip. "Jadi pas ngeliat Arka yang biasanya antikontak fisik sama cewek tiba-tiba megang tangan lo—walaupun bentuknya kayak polisi nangkep pencopet—jelas aja Melisa kepanasan."

Naya mencebikkan bibirnya, kembali menyantap baksonya dengan kasar. "Peduli setan sama Melisa. Kalau dia mau ambil tuh ketua OSIS kaku, ambil aja sana! Kasih pita pink sekalian di kepalanya biar makin lucu."

Meskipun mulutnya berkata begitu, dada Naya tetap terasa sesak oleh sisa-sisa amarah pagi tadi. Bagi Naya, Arka Pradipta adalah simbol dari segala hal yang paling ia benci dalam hidup: ketertiban yang berlebihan, kesempurnaan yang dipamerkan, dan sikap sok berkuasa yang dibungkus dengan nada bicara sopan.

Rasa kesal itu masih terbawa sampai Naya menginjakkan kaki di pelataran rumahnya sore hari. Rumah keluarga Aurelia bernuansa hangat dengan halaman depan yang dipenuhi tanaman hias milik ibunya. Biasanya, aroma masakan Ibu sudah menyambut Naya begitu ia membuka pintu depan. Namun sore ini, suasana rumah terasa berbeda. Sunyi.

Naya melepas sepatu ketsnya—yang tali kirinya masih terikat bundut asal-asalan—dan melangkah masuk.

"Ibu? Naya pulang..." panggilnya seraya meletakkan tas sekolah di atas sofa ruang tamu.

Tidak ada jawaban dari dapur. Sebaliknya, pintu ruang kerja Ayah di ujung koridor terbuka. Raka Aurelia keluar dari sana. Pria paruh baya bertubuh tegap itu masih mengenakan kemeja kerjanya, tapi lengan kemejanya sudah digulung sampai siku. Wajahnya yang biasa ramah dan penuh canda sore ini terlihat sangat serius. Ada garis kelelahan yang tebal di bawah matanya.

"Naya? Sudah pulang?" suara Ayah terdengar berat.

"Iya, Yah. Ibu mana?" Naya mendekat, bermaksud menyalami tangan ayahnya.

"Ibumu lagi ke supermarket sebentar, beli bahan makanan buat makan malam." Raka menatap putrinya lama, membuat Naya mendadak merasa jengah. Tatapan itu bukan tatapan marah seperti saat Naya ketahuan mendapat nilai merah di mata pelajaran Matematika. Ini tatapan yang jauh lebih rumit. Datar, cemas, dan sarat akan beban berat.

"Ada apa, Yah? Kok liatin Naya gitu banget? Naya nggak bikin masalah kok di sekolah hari ini," dusta Naya cepat-cepat. Keterlambatan pagi tadi jelas tidak boleh sampai ke telinga ayahnya.

Raka tidak tertawa mendengar gurauan defensif putrinya. Ia hanya mengibaskan tangan pelan. "Masuk ke ruang kerja Ayah sebentar. Ada hal penting yang harus Ayah bicarakan sama kamu."

Firasat Naya langsung tidak enak. Langkah kakinya terasa berat saat mengekor di belakang ayahnya masuk ke ruang kerja berpintu kayu jati tersebut. Ruangan itu beraroma kertas tua, kayu, dan aroma kopi hitam yang sudah dingin. Raka duduk di balik meja kerjanya yang penuh dengan berkas dokumen, lalu mengisyaratkan Naya untuk duduk di kursi kayu berseberangan dengannya.

Naya duduk canggung. "Kenapa, Yah? Soal pendaftaran universitas? Kan Naya udah bilang, Naya mau mencoba jalur mandiri di—"

"Bukan soal kuliah, Naya," potong Raka pelan. Ia menyatukan kedua jemarinya di atas meja, menatap Naya lurus-lurus. "Ini soal masa depan kamu. Dan keluarga kita."

Naya mengerutkan kening. "Masa depan? Maksudnya gimana?"

Raka menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar sangat melelahkan. "Ayah sudah berpikir panjang soal ini. Sudah membicarakannya juga dengan Ibumu sejak bulan lalu. Dan keputusan Ayah sudah bulat."

"Keputusan apa, Yah?" Naya mulai merasa tidak nyaman dengan atmosfer yang semakin menegang ini.

"Kamu harus segera menikah."

Dua kata itu meluncur dari mulut Raka dengan begitu tenang, namun dampaknya bagaikan hantaman petir di siang bolong tepat di atas kepala Naya.

Naya membeku. Selama beberapa detik, otaknya menolak mencerna susunan kata yang baru saja ia dengar. Ia bahkan sempat mendengus geli, mengira ayahnya sedang melancarkan lelucon bapak-bapak yang gagal.

"Ayah becandanya nggak lucu ah," kekeh Naya garing, sambil membetulkan letak duduknya. "Menikah? Naya masih kelas dua belas, Yah. Umur Naya baru tujuh belas tahun. Ujian nasional aja belum, pendaftaran PTN belum buka. Masa tiba-tiba bahas nikah? Ayah keseringan nonton sinetron sore-sore ya sama Ibu?"

Raka tidak ikut tertawa. Tidak ada sedikit pun lekukan senyum di wajah tegasnya.

"Ayah tidak sedang bercanda, Naya Aurelia," tegas Raka dengan nada suara yang membuat tawa garing Naya langsung terhenti seketika. "Ayah sangat serius. Kamu akan menikah. Segera setelah persiapan dari pihak keluarga laki-laki selesai."

Jantung Naya berdegup kencang, kali ini oleh rasa panik yang nyata. Udara di ruang kerja itu mendadak terasa begitu tipis hingga ia kesulitan bernapas. "Yah! Ini gila! Naya masih sekolah! Kenapa Naya harus nikah?! Memangnya ada masalah apa sama keluarga kita? Ayah kebelit utang? Atau perusahaan Ayah bangkrut?!"

"Jaga bicaramu, Naya!" tegur Raka tajam, walau matanya menyiratkan kepedihan yang berusaha ia sembunyikan. "Ini bukan soal utang atau bangkrut. Ini soal janji. Janji antara Ayah dan sahabat lama Ayah yang sudah seperti saudara sendiri. Ada alasan besar di balik semua ini, alasan yang belum bisa Ayah jelaskan sekarang ke kamu. Tapi percayalah, Ayah melakukan ini demi kebaikan dan perlindungan kamu juga."

"Kebaikan apa?!" suara Naya naik satu oktav. Matanya mulai berkaca-kaca oleh campuran rasa takut, bingung, dan amarah yang meletup-letup. "Menikahkan anak umur tujuh belas tahun sama orang asing itu kebaikan kata Ayah?! Siapa cowok itu, Yah? Bapak-bapak umur empat puluh tahun rekan bisnis Ayah? Atau anak juragan tanah yang mana?!"

Raka memejamkan mata sejenak, mengurut pangkal hidungnya sebelum kembali menatap putri tunggalnya itu.

"Dia bukan orang asing. Dan dia bukan bapak-bapak," kata Raka pelan. "Dia anak dari Adrian Pradipta. Sahabat terbaik Ayah."

Naya terpaku. Nama Pradipta berdenging di telinganya bagaikan sirene bahaya.

"P-Pradipta?" bisik Naya, berharap telinganya salah mendengar. "Maksud Ayah... Om Adrian Pradipta?"

"Iya. Om Adrian," Raka mengangguk. "Dan calon suami kamu adalah anak sulungnya."

Dunia Naya rasanya runtuh seketika saat itu juga. Nama itu—nama yang paling ia benci di seluruh muka bumi, nama yang baru saja merusak harinya beberapa jam yang lalu—kini tergantung di udara sebagai takdir barunya.

Anak sulung Adrian Pradipta.

Arka Pradipta.

"Nggak..." Naya menggelengkan kepala secara refleks, berdiri dari kursinya hingga kursi kayu itu terdorong ke belakang dan menimbulkan suara berderit nyaring. "Nggak mau! Ayah! Naya nggak mau! Siapa aja boleh, Yah! Siapa aja! Tapi jangan Arka!"

"Naya, duduk dan dengarkan Ayah dulu!"

"Nggak mau dengar!" teriak Naya, air matanya kini benar-benar menetes membasahi pipinya. "Ayah tahu nggak siapa Arka?! Dia itu ketua OSIS di sekolah Naya! Dia cowok paling menyebalkan, paling kaku, paling sok suci yang pernah Naya kenal! Naya berantem sama dia tiap hari di sekolah! Dan Ayah mau nikahin Naya sama musuh Naya sendiri?!"

"Arka anak yang bertanggung jawab, pintar, dan sopan—"

"Itu di depan Ayah! Di sekolah dia itu monster!" potong Naya histeris. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, dadanya naik turun oleh isolasi emosi yang tidak tertampung lagi. "Naya nggak bakal mau nikah sama Arka! Lebih baik Naya dikirim ke pesantren di luar pulau daripada harus nikah sama dia!"

Tanpa menunggu balasan dari ayahnya lagi, Naya memutar tubuhnya dan berlari keluar dari ruang kerja. Suara panggil keras ayahnya menghantam punggungnya, namun Naya terus berlari menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.

Brak!

Naya membanting pintu kamar keras-keras, memutar kuncinya, lalu melempar tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia membenamkan wajahnya di atas bantal, meluapkan tangisnya yang pecah.

Bayangan wajah Arka yang datar, suara dinginnya saat mencatat keterlambatan Naya pagi tadi, dan senyum tipis mengejeknya kini berputar-putar di otak Naya bagaikan mimpi buruk terburuk. Bagaimana mungkin laki-laki yang menjadi sumber penderitaannya di sekolah, besok-besok akan menjadi orang yang harus berbagi hidup dengannya?

Naya mengepalkan jemarinya di sprei kamar. "Gue nggak bakal biarin ini terjadi. Nggak akan pernah."

Episodes
1 BAB 1 — MUSUH DI DEPAN KELAS
2 BAB 2 — AYAH MEMBAWA KABAR BURUK
3 BAB 3 — CALON SUAMIKU ADALAH...
4 BAB 4 — SATU SYARAT
5 BAB 5 — PERNIKAHAN YANG TERLALU CEPAT
6 BAB 6 — KITA TINGGAL BERSAMA?
7 BAB 7 — JANGAN SAMPAI KETAHUAN!
8 BAB 8 — KETUA OSIS YANG MENYEBALKAN
9 BAB 9 — RENO DATANG
10 BAB 10 — PERASAAN YANG ANEH
11 BAB 11 — SATU PAYUNG, DUA ORANG
12 BAB 12 — SARAPAN BERUJUNG PERANG
13 BAB 13 — FOTO YANG HAMPIR MEMBONGKAR RAHASIA
14 BAB 14 — HUKUMAN UNTUK NAYA
15 BAB 15 — MELISA MULAI MENDEKAT
16 BAB 16 — RENO MEMBUAT ARKA GELISAH
17 BAB 17 — MALAM YANG MEMALUKAN
18 BAB 18 — ULANG TAHUN YANG TERLUPAKAN
19 BAB 19 — RAHASIA HAMPIR TERBONGKAR
20 BAB 20 — AKU TIDAK SUKA MELIHATMU MENANGIS
21 BAB 21 — KENAPA AKU HARUS PEDULI?
22 BAB 22 — FESTIVAL SEKOLAH
23 BAB 23 — PARTNER YANG SALAH
24 BAB 24 — CEMBURU PERTAMA
25 BAB 25 — PERANG DINGIN
26 BAB 26 — TERPAKSA BEKERJA BERSAMA
27 BAB 27 — HARI FESTIVAL
28 BAB 28 — KESALAHPAHAMAN
29 BAB 29 — PERJANJIAN YANG MULAI BERUBAH
30 BAB 30 — AKU TIDAK MAU KEHILANGANMU
31 BAB 31 — SETELAH KALIMAT ITU
32 BAB 32 — JANGAN PANGGIL AKU ISTRI
33 BAB 33 — SASKIA MULAI CURIGA
34 BAB 34 — PERTENGKARAN DI DEPAN SEKOLAH
35 BAB 35 — DEMAM
36 BAB 36 — PESAN DI TENGAH MALAM
37 BAB 37 — MELISA MENANYAKAN SESUATU
38 BAB 38 — RAHASIA DI DALAM LOKER
39 BAB 39 — AKU PERCAYA KAMU
40 BAB 40 — JANGAN PERGI
41 BAB 41 — SESEORANG DARI MASA LALU
42 BAB 42 — KENAPA AKU JADI CEMBURU?
43 BAB 43 — PERDEBATAN KONYOL
44 BAB 44 — HAMPIR TERDENGAR
45 BAB 45 — RENO MENYATAKAN PERASAANNYA
46 BAB 46 — AKU TIDAK BISA MENJAWAB
47 BAB 47 — MALAM YANG PENUH PENGAKUAN
48 BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
49 BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
50 BAB 50 — RAHASIA YANG TIDAK BISA SELAMANYA DISEMBUNYIKAN
51 BAB 51 — DOKUMEN DI TANGAN SASKIA
52 BAB 52 — AKU BISA MENJELASKAN
53 BAB 53 — SAHABAT YANG KECEWA
54 BAB 54 — ARKA MENGETAHUI SEMUANYA
55 BAB 55 — SEKARANG KAMI PUNYA SEKUTU
56 BAB 56 — KECEMBURUAN KEISHA
57 BAB 57 — AKU MEMILIH KAMU
58 BAB 58 — HARI YANG BERANTAKAN
59 BAB 59 — AKU SUKA KAMU
60 BAB 60 — RAHASIA KEDUA
61 BAB 61 — SIAPA YANG MENGAWASI KAMI?
62 BAB 62 — FOTO DARI MASA LALU
63 BAB 63 — ALASAN DI BALIK PERNIKAHAN
64 BAB 64 — ARKA MENYEMBUNYIKAN SESUATU
65 BAB 65 — PERTENGKARAN TERBESAR
66 BAB 66 — KETIKA NAYA MENGHILANG
67 BAB 67 — PENGAKUAN DITO
68 BAB 68 — AKU AKAN CERITA
69 BAB 69 — PENGIRIM SURAT
70 BAB 70 — ORANG YANG TIDAK TERDUGA
71 BAB 71 — PESAN BERIKUTNYA
72 BAB 72 — RUMAH LAMA
73 BAB 73 — SURAT DARI MASA LALU
74 BAB 74 — JAWABAN AYAH
75 BAB 75 — ARKA MEMBELA NAYA
76 BAB 76 — PILIHAN NAYA
77 BAB 77 — JANGAN PERGI DULU
78 BAB 78 — RIAN KEMBALI
79 BAB 79 — BUKAN SEKADAR PERNIKAHAN
80 BAB 80 — AKU MEMILIH KAMU
81 BAB 81 — BERITA YANG MENGGUNCANG SEKOLAH
82 BAB 82 — KAMU MENIKAH DENGAN NAYA?
83 BAB 83 — PERTANYAAN DARI TEMAN-TEMAN
84 BAB 84 — RAPAT DARURAT OSIS
85 BAB 85 — NAYA MERASA BERSALAH
86 BAB 86 — PILIHAN YANG SAMA
87 BAB 87 — SASKIA MEMBELA NAYA
88 BAB 88 — FESTIVAL KEDUA
89 BAB 89 — AKU TETAP DI SINI
90 BAB 90 — SATU RAHASIA TERAKHIR
91 BAB 91 — NAMA YANG SEHARUSNYA SUDAH HILANG
92 BAB 92 — ARSIP LAMA KELUARGA PRADIPTA
93 BAB 93 — ORANG YANG SELALU ADA DI BELAKANG
94 BAB 94 — SASKIA DAN MISI PENYELIDIKAN
95 BAB 95 — JEJAK DI PERPUSTAKAAN
96 BAB 96 — NAYA BERTENGKAR DENGAN AYAHNYA
97 BAB 97 — DI BANGKU TAMAN
98 BAB 98 — HADIAH KECIL
99 BAB 99 — FOTO TERBARU
100 BAB 100 — KEBENARAN YANG BELUM SESELESAI
101 BAB 101 — CINCIN YANG TIDAK BIASA
102 BAB 102 — TUKANG PERHIASAN TUA
103 BAB 103 — PERNIKAHAN YANG SUDAH DIRANCANG?
104 BAB 104 — FOTO KELUARGA LAMA
105 BAB 105 — SASKIA SALAH PAHAM
106 BAB 106 — ARKA MENEMUKAN SURAT KEDUA
107 BAB 107 — ORANG TERPERCAYA
108 BAB 108 — REKAMAN LAMA
109 BAB 109 — KETIKA ARKA TAKUT
110 BAB 110 — PEMILIK CINCIN SEBENARNYA
Episodes

Updated 110 Episodes

1
BAB 1 — MUSUH DI DEPAN KELAS
2
BAB 2 — AYAH MEMBAWA KABAR BURUK
3
BAB 3 — CALON SUAMIKU ADALAH...
4
BAB 4 — SATU SYARAT
5
BAB 5 — PERNIKAHAN YANG TERLALU CEPAT
6
BAB 6 — KITA TINGGAL BERSAMA?
7
BAB 7 — JANGAN SAMPAI KETAHUAN!
8
BAB 8 — KETUA OSIS YANG MENYEBALKAN
9
BAB 9 — RENO DATANG
10
BAB 10 — PERASAAN YANG ANEH
11
BAB 11 — SATU PAYUNG, DUA ORANG
12
BAB 12 — SARAPAN BERUJUNG PERANG
13
BAB 13 — FOTO YANG HAMPIR MEMBONGKAR RAHASIA
14
BAB 14 — HUKUMAN UNTUK NAYA
15
BAB 15 — MELISA MULAI MENDEKAT
16
BAB 16 — RENO MEMBUAT ARKA GELISAH
17
BAB 17 — MALAM YANG MEMALUKAN
18
BAB 18 — ULANG TAHUN YANG TERLUPAKAN
19
BAB 19 — RAHASIA HAMPIR TERBONGKAR
20
BAB 20 — AKU TIDAK SUKA MELIHATMU MENANGIS
21
BAB 21 — KENAPA AKU HARUS PEDULI?
22
BAB 22 — FESTIVAL SEKOLAH
23
BAB 23 — PARTNER YANG SALAH
24
BAB 24 — CEMBURU PERTAMA
25
BAB 25 — PERANG DINGIN
26
BAB 26 — TERPAKSA BEKERJA BERSAMA
27
BAB 27 — HARI FESTIVAL
28
BAB 28 — KESALAHPAHAMAN
29
BAB 29 — PERJANJIAN YANG MULAI BERUBAH
30
BAB 30 — AKU TIDAK MAU KEHILANGANMU
31
BAB 31 — SETELAH KALIMAT ITU
32
BAB 32 — JANGAN PANGGIL AKU ISTRI
33
BAB 33 — SASKIA MULAI CURIGA
34
BAB 34 — PERTENGKARAN DI DEPAN SEKOLAH
35
BAB 35 — DEMAM
36
BAB 36 — PESAN DI TENGAH MALAM
37
BAB 37 — MELISA MENANYAKAN SESUATU
38
BAB 38 — RAHASIA DI DALAM LOKER
39
BAB 39 — AKU PERCAYA KAMU
40
BAB 40 — JANGAN PERGI
41
BAB 41 — SESEORANG DARI MASA LALU
42
BAB 42 — KENAPA AKU JADI CEMBURU?
43
BAB 43 — PERDEBATAN KONYOL
44
BAB 44 — HAMPIR TERDENGAR
45
BAB 45 — RENO MENYATAKAN PERASAANNYA
46
BAB 46 — AKU TIDAK BISA MENJAWAB
47
BAB 47 — MALAM YANG PENUH PENGAKUAN
48
BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
49
BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
50
BAB 50 — RAHASIA YANG TIDAK BISA SELAMANYA DISEMBUNYIKAN
51
BAB 51 — DOKUMEN DI TANGAN SASKIA
52
BAB 52 — AKU BISA MENJELASKAN
53
BAB 53 — SAHABAT YANG KECEWA
54
BAB 54 — ARKA MENGETAHUI SEMUANYA
55
BAB 55 — SEKARANG KAMI PUNYA SEKUTU
56
BAB 56 — KECEMBURUAN KEISHA
57
BAB 57 — AKU MEMILIH KAMU
58
BAB 58 — HARI YANG BERANTAKAN
59
BAB 59 — AKU SUKA KAMU
60
BAB 60 — RAHASIA KEDUA
61
BAB 61 — SIAPA YANG MENGAWASI KAMI?
62
BAB 62 — FOTO DARI MASA LALU
63
BAB 63 — ALASAN DI BALIK PERNIKAHAN
64
BAB 64 — ARKA MENYEMBUNYIKAN SESUATU
65
BAB 65 — PERTENGKARAN TERBESAR
66
BAB 66 — KETIKA NAYA MENGHILANG
67
BAB 67 — PENGAKUAN DITO
68
BAB 68 — AKU AKAN CERITA
69
BAB 69 — PENGIRIM SURAT
70
BAB 70 — ORANG YANG TIDAK TERDUGA
71
BAB 71 — PESAN BERIKUTNYA
72
BAB 72 — RUMAH LAMA
73
BAB 73 — SURAT DARI MASA LALU
74
BAB 74 — JAWABAN AYAH
75
BAB 75 — ARKA MEMBELA NAYA
76
BAB 76 — PILIHAN NAYA
77
BAB 77 — JANGAN PERGI DULU
78
BAB 78 — RIAN KEMBALI
79
BAB 79 — BUKAN SEKADAR PERNIKAHAN
80
BAB 80 — AKU MEMILIH KAMU
81
BAB 81 — BERITA YANG MENGGUNCANG SEKOLAH
82
BAB 82 — KAMU MENIKAH DENGAN NAYA?
83
BAB 83 — PERTANYAAN DARI TEMAN-TEMAN
84
BAB 84 — RAPAT DARURAT OSIS
85
BAB 85 — NAYA MERASA BERSALAH
86
BAB 86 — PILIHAN YANG SAMA
87
BAB 87 — SASKIA MEMBELA NAYA
88
BAB 88 — FESTIVAL KEDUA
89
BAB 89 — AKU TETAP DI SINI
90
BAB 90 — SATU RAHASIA TERAKHIR
91
BAB 91 — NAMA YANG SEHARUSNYA SUDAH HILANG
92
BAB 92 — ARSIP LAMA KELUARGA PRADIPTA
93
BAB 93 — ORANG YANG SELALU ADA DI BELAKANG
94
BAB 94 — SASKIA DAN MISI PENYELIDIKAN
95
BAB 95 — JEJAK DI PERPUSTAKAAN
96
BAB 96 — NAYA BERTENGKAR DENGAN AYAHNYA
97
BAB 97 — DI BANGKU TAMAN
98
BAB 98 — HADIAH KECIL
99
BAB 99 — FOTO TERBARU
100
BAB 100 — KEBENARAN YANG BELUM SESELESAI
101
BAB 101 — CINCIN YANG TIDAK BIASA
102
BAB 102 — TUKANG PERHIASAN TUA
103
BAB 103 — PERNIKAHAN YANG SUDAH DIRANCANG?
104
BAB 104 — FOTO KELUARGA LAMA
105
BAB 105 — SASKIA SALAH PAHAM
106
BAB 106 — ARKA MENEMUKAN SURAT KEDUA
107
BAB 107 — ORANG TERPERCAYA
108
BAB 108 — REKAMAN LAMA
109
BAB 109 — KETIKA ARKA TAKUT
110
BAB 110 — PEMILIK CINCIN SEBENARNYA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!