BAB 5 — PERNIKAHAN YANG TERLALU CEPAT

Sabtu pagi itu terasa sangat abu-abu. Udara dingin sisa hujan semalaman masih menempel ketat di kaca jendela ruang tamu kediaman keluarga Aurelia. Tidak ada dekorasi megah, tidak ada dentang musik pesta, juga tidak ada karangan bunga papan berpita warna-warni yang biasanya menghiasi halaman rumah pengantin baru.

Hanya ada sebuah meja kayu persegi panjang yang dialasi kain putih bersih di tengah ruang keluarga. Di atasnya, dua buah buku nikah berukuran kecil—satu berwarna merah tua dan satu lagi hijau tua—tergeletak berdampingan di dekat sebuah penandatanganan berkas resmi dari KUA.

Naya menatap bayangannya di cermin rias kamar. Kebaya putih simpel berhias payet sederhana melekat di tubuhnya, dipadukan dengan kain batik cokelat keemasan. Rambutnya disanggul modern dengan riasan wajah tipis yang dibuat se-natural mungkin oleh sepupu ibunya. Bagi gadis berusia tujuh belas tahun, penampilan ini terasa sangat asing. Rasanya seperti sedang mengenakan kostum drama teater sekolah—bedanya, kali ini tidak ada naskah dialog lucu atau jalan cerita yang bisa diubah sesuai keinginan.

"Naya... acara mau dimulai, Sayang," panggil Maya pelan dari balik pintu kamar. Ibunya masuk dengan langkah perlahan, menatap putrinya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

"Ibu..." suara Naya tercekat di tenggorokan. Ia berbalik, menatap ibunya dengan pandangan penuh permohonan. "Ini beneran nggak bisa dibatalkan? Naya rasanya mau pingsan aja."

Maya mendekat, merapikan anak rambut di pelipis Naya lalu memeluk putrinya erat-erat. "Maafkan Ayah dan Ibu ya, Nak. Tapi percayalah, Arka itu anak yang baik. Dia bisa menjaga kamu."

Menjaga? Dia itu lebih mirip sipir penjara daripada pelindung! batin Naya menjerit, walau ia tidak menyuarakan kalimat itu demi menjaga perasaan ibunya.

Dengan langkah yang terasa seberat bongkahan timah, Naya menuruni tangga kayu menuju ruang keluarga. Suasana di bawah teramat hening. Di sana hanya ada Ayah, Om Adrian, Tante Elena, penghulu dari KUA setempat, serta dua orang saksi dari keluarga terdekat. Dan tentu saja... Arka.

Laki-laki itu berdiri di samping meja akad. Arka mengenakan jas beskap putih elegan dengan peci hitam yang terpasang presisi di kepalanya. Harus diakui secara obyektif—dan sangat terpaksa—Arka terlihat luar biasa tampan pagi ini. Postur tubuhnya yang tegap dan garis rahangnya yang tegas membuat setelan tradisional itu melekat sempurna padanya.

Namun, ekspresi wajah Arka sama kaku dan dinginya seperti balok es di kulkas. Saat mata mereka beradu sekilas, Arka hanya memberikan tatapan datar tanpa emosi, seolah sedang menghadiri upacara bendera hari Senin yang membosankan.

Naya mengambil tempat duduk di samping Arka. Jarak mereka hanya terpaut beberapa puluh sentimeter, cukup dekat hingga Naya bisa menangkap samar aroma parfum maskulin beraroma kayu dan citrus khas Arka yang bercampur dengan wangi bunga melati dari ronce di pakaian mereka.

Prosesi ijab kabul berlangsung sangat cepat. Saat Raka mengulurkan tangannya dan Arka menjabatnya dengan genggaman yang kuat serta mantap, jantung Naya berdegup liar bagaikan ditabuh genderang perang.

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Naya Aurelia binti Raka Aurelia dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."

Suara Arka terdengar begitu tegas, jelas, dan tanpa keraguan sedikit pun dalam satu tarikan napas.

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"Sah!"

Kata sah yang bergema serentak di ruangan itu rasanya menghantam dada Naya hingga sesak. Dalam hitungan detik, hidupnya resmi berubah. Detik itu juga, Naya Aurelia bukan lagi sekadar siswi kelas 12 IPS 2 yang sering dihukum karena melompati pagar. Dia sekarang adalah seorang istri. Dan suaminya adalah ketua OSIS yang paling ia benci di seluruh muka bumi.

Setelah penandatanganan buku nikah dan doa bersama selesai, prosesi dilanjutkan dengan hal yang paling canggung sepanjang sejarah hidup Naya: mencium tangan suami.

Naya meraih jemari kanan Arka dengan gerakan kaku seperti robot yang kekurangan oli. Tangannya gemetar tipis saat menempelkan punggung tangan Arka ke dahinya. Kulit tangan Arka terasa hangat dan sedikit kasar. Sebaliknya, Arka membalasnya dengan meletakkan telapak tangan kirinya di atas puncak kepala Naya selama beberapa detik—sebuah instruksi wajib dari penghulu yang membuat seluruh bulu kuduk Naya meremang hebat.

Ketika sesi foto keluarga yang singkat itu akhirnya usai, para orang tua berpindah ke meja makan untuk menikmati hidangan syukuran sederhana. Naya dan Arka dibiarkan berdiri berdua di sudut ruang tamu, bernapas dalam canggung yang luar biasa tebal.

Naya mencopot ronce melati kecil yang tersangkut di kain kebayanya dengan kasar, membuangnya ke telapak tangannya sendiri seraya menatap Arka dengan lirikan tajam.

"Puas lo sekarang?" bisik Naya sengit, memastikan suaranya tidak terdengar oleh orang tua mereka di meja makan. "Selamat ya, Pak Ketua OSIS. Kehidupan impian lo yang dipenuhi penderitaan gue resmi dimulai hari ini."

Arka membetulkan letak peci hitamnya yang sebenarnya sudah sangat lurus. Ia menghembuskan napas pelan lewat hidung, melirik Naya dari sudut matanya.

"Kamu pikir saya bahagia?" balas Arka dengan nada suara teratur namun tajam. "Sabtu pagi saya yang harusnya dipakai buat istirahat dan mempersiapkan materi rapat OSIS minggu depan, malah habis buat berdiri di sini mengenakan pakaian panas ini."

"Wah, parah banget lo!" Naya menepuk dadanya sendiri, pura-pura terkejut. "Gue yang dikorbankan di sini, Arka! Cita-cita gue punya masa SMA yang normal hancur berkeping-keping gara-gara menikah sama robot kaku kayak lo!"

"Saya nggak pernah minta kamu buat nikah sama saya, Naya," potong Arka tenang. Ia melangkah satu jengkal lebih dekat, menundukkan kepalanya sedikit agar posisinya sejajar dengan Naya. "Dan tolong, jaga volume suara kamu. Kalau Ayah atau Papa dengar kamu teriak-teriak gini, acara makan siang mereka bisa berantakan."

"Biarin! Biar mereka tahu kalau kita itu lebih cocok saling bunuh daripada nikah!"

Arka menatap wajah Naya yang memerah menahan kesal. Ada hiasan mikropoin bercahaya di sudut mata cewek itu, membuat ketegangan di wajah Naya terlihat sedikit lucu di mata Arka.

"Dengar," kata Arka pelan, suaranya berubah sedikit lebih rendah dari biasanya. "Kita sudah menandatangani perjanjian itu kemarin. Pernikahan ini cuma status di atas kertas demi orang tua kita. Begitu kita lulus sekolah dan masuk kuliah, kita bisa bicarakan ini lagi baik-baik sama mereka. Sampai hari itu tiba, kita harus belajar bekerja sama."

Naya mendengus sinis, membuang mukanya ke samping. "Bekerja sama? Sama lo? Sori ya, gue lebih memilih bekerja sama sama kecoa atau tikus got daripada harus bekerja sama sama manusia menyebalkan kayak lo."

Untuk sejurus kecil, keheningan merayap di antara mereka. Naya menyilangkan kedua tangannya di dada, menunggu balasan tajam atau teguran kaku yang biasanya dilontarkan Arka saat argumennya dipatahkan.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Bibir Arka yang biasanya terkunci rapat dalam garis lurus mendadak terangkat. Mula-mula hanya berupa sunggingan tipis di sudut kirinya, lalu perlahan berkembang menjadi sebuah tawa kecil yang lolos dari tenggorokannya. Suara tawanya renyah, halus, dan terdengar sangat lepas—sesuatu yang sama sekali belum pernah Naya dengar selama dua setengah tahun mengenalnya di SMA Garuda Bangsa.

Naya membeku seketika. Matanya membelalak menatap Arka yang sedang terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala.

"Kecoa?" gumam Arka tipis, masih dengan sisa lengkungan senyum di wajahnya. "Analogi kamu makin hari makin dangkal, Naya."

Naya lupa bagaimana cara bernapas selama beberapa detik. Ada desiran aneh dan asing yang mendadak berdesir di dadanya—sebuah perasaan canggung yang membuat jantungnya melompat abnormal. Senyum Arka saat ini sama sekali tidak terlihat kaku atau menyebalkan. Laki-laki itu justru terlihat... sangat manusiawi. Dan berbahaya bagi pertahanan dirinya.

"Lo... lo ngapain ketawa?!" sembur Naya cepat-cepat untuk menutupi kecanggungannya yang membumbung tinggi. Pipinya terasa panas mendadak. "Enggak ada yang lucu ya!"

Arka dengan cepat menguasai dirinya kembali. Senyum itu surut, berganti dengan raut tenangnya yang biasa, walau binar di matanya belum sepenuhnya hilang.

"Saya cuma heran," sahut Arka datar, memalingkan pandangannya ke arah ruang makan. "Bagaimana bisa seseorang se-cerewet kamu harus berbagi rumah sama saya mulai nanti malam."

Arka memutar tubuhnya dan melangkah menghampiri keluarga mereka di meja makan, meninggalkan Naya yang masih berdiri terpaku di sudut ruangan.

Naya menyentuh pipinya sendiri yang terasa hangat, lalu meremas kain kebayanya dengan erat.

"Sialan lo, Arka Pradipta..." bisiknya pada udara kosong, berusaha menepis perasaan aneh yang baru saja menyusup masuk tanpa izin.

Episodes
1 BAB 1 — MUSUH DI DEPAN KELAS
2 BAB 2 — AYAH MEMBAWA KABAR BURUK
3 BAB 3 — CALON SUAMIKU ADALAH...
4 BAB 4 — SATU SYARAT
5 BAB 5 — PERNIKAHAN YANG TERLALU CEPAT
6 BAB 6 — KITA TINGGAL BERSAMA?
7 BAB 7 — JANGAN SAMPAI KETAHUAN!
8 BAB 8 — KETUA OSIS YANG MENYEBALKAN
9 BAB 9 — RENO DATANG
10 BAB 10 — PERASAAN YANG ANEH
11 BAB 11 — SATU PAYUNG, DUA ORANG
12 BAB 12 — SARAPAN BERUJUNG PERANG
13 BAB 13 — FOTO YANG HAMPIR MEMBONGKAR RAHASIA
14 BAB 14 — HUKUMAN UNTUK NAYA
15 BAB 15 — MELISA MULAI MENDEKAT
16 BAB 16 — RENO MEMBUAT ARKA GELISAH
17 BAB 17 — MALAM YANG MEMALUKAN
18 BAB 18 — ULANG TAHUN YANG TERLUPAKAN
19 BAB 19 — RAHASIA HAMPIR TERBONGKAR
20 BAB 20 — AKU TIDAK SUKA MELIHATMU MENANGIS
21 BAB 21 — KENAPA AKU HARUS PEDULI?
22 BAB 22 — FESTIVAL SEKOLAH
23 BAB 23 — PARTNER YANG SALAH
24 BAB 24 — CEMBURU PERTAMA
25 BAB 25 — PERANG DINGIN
26 BAB 26 — TERPAKSA BEKERJA BERSAMA
27 BAB 27 — HARI FESTIVAL
28 BAB 28 — KESALAHPAHAMAN
29 BAB 29 — PERJANJIAN YANG MULAI BERUBAH
30 BAB 30 — AKU TIDAK MAU KEHILANGANMU
31 BAB 31 — SETELAH KALIMAT ITU
32 BAB 32 — JANGAN PANGGIL AKU ISTRI
33 BAB 33 — SASKIA MULAI CURIGA
34 BAB 34 — PERTENGKARAN DI DEPAN SEKOLAH
35 BAB 35 — DEMAM
36 BAB 36 — PESAN DI TENGAH MALAM
37 BAB 37 — MELISA MENANYAKAN SESUATU
38 BAB 38 — RAHASIA DI DALAM LOKER
39 BAB 39 — AKU PERCAYA KAMU
40 BAB 40 — JANGAN PERGI
41 BAB 41 — SESEORANG DARI MASA LALU
42 BAB 42 — KENAPA AKU JADI CEMBURU?
43 BAB 43 — PERDEBATAN KONYOL
44 BAB 44 — HAMPIR TERDENGAR
45 BAB 45 — RENO MENYATAKAN PERASAANNYA
46 BAB 46 — AKU TIDAK BISA MENJAWAB
47 BAB 47 — MALAM YANG PENUH PENGAKUAN
48 BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
49 BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
50 BAB 50 — RAHASIA YANG TIDAK BISA SELAMANYA DISEMBUNYIKAN
51 BAB 51 — DOKUMEN DI TANGAN SASKIA
52 BAB 52 — AKU BISA MENJELASKAN
53 BAB 53 — SAHABAT YANG KECEWA
54 BAB 54 — ARKA MENGETAHUI SEMUANYA
55 BAB 55 — SEKARANG KAMI PUNYA SEKUTU
56 BAB 56 — KECEMBURUAN KEISHA
57 BAB 57 — AKU MEMILIH KAMU
58 BAB 58 — HARI YANG BERANTAKAN
59 BAB 59 — AKU SUKA KAMU
60 BAB 60 — RAHASIA KEDUA
61 BAB 61 — SIAPA YANG MENGAWASI KAMI?
62 BAB 62 — FOTO DARI MASA LALU
63 BAB 63 — ALASAN DI BALIK PERNIKAHAN
64 BAB 64 — ARKA MENYEMBUNYIKAN SESUATU
65 BAB 65 — PERTENGKARAN TERBESAR
66 BAB 66 — KETIKA NAYA MENGHILANG
67 BAB 67 — PENGAKUAN DITO
68 BAB 68 — AKU AKAN CERITA
69 BAB 69 — PENGIRIM SURAT
70 BAB 70 — ORANG YANG TIDAK TERDUGA
71 BAB 71 — PESAN BERIKUTNYA
72 BAB 72 — RUMAH LAMA
73 BAB 73 — SURAT DARI MASA LALU
74 BAB 74 — JAWABAN AYAH
75 BAB 75 — ARKA MEMBELA NAYA
76 BAB 76 — PILIHAN NAYA
77 BAB 77 — JANGAN PERGI DULU
78 BAB 78 — RIAN KEMBALI
79 BAB 79 — BUKAN SEKADAR PERNIKAHAN
80 BAB 80 — AKU MEMILIH KAMU
81 BAB 81 — BERITA YANG MENGGUNCANG SEKOLAH
82 BAB 82 — KAMU MENIKAH DENGAN NAYA?
83 BAB 83 — PERTANYAAN DARI TEMAN-TEMAN
84 BAB 84 — RAPAT DARURAT OSIS
85 BAB 85 — NAYA MERASA BERSALAH
86 BAB 86 — PILIHAN YANG SAMA
87 BAB 87 — SASKIA MEMBELA NAYA
88 BAB 88 — FESTIVAL KEDUA
89 BAB 89 — AKU TETAP DI SINI
90 BAB 90 — SATU RAHASIA TERAKHIR
91 BAB 91 — NAMA YANG SEHARUSNYA SUDAH HILANG
92 BAB 92 — ARSIP LAMA KELUARGA PRADIPTA
93 BAB 93 — ORANG YANG SELALU ADA DI BELAKANG
94 BAB 94 — SASKIA DAN MISI PENYELIDIKAN
95 BAB 95 — JEJAK DI PERPUSTAKAAN
96 BAB 96 — NAYA BERTENGKAR DENGAN AYAHNYA
97 BAB 97 — DI BANGKU TAMAN
98 BAB 98 — HADIAH KECIL
99 BAB 99 — FOTO TERBARU
100 BAB 100 — KEBENARAN YANG BELUM SESELESAI
101 BAB 101 — CINCIN YANG TIDAK BIASA
102 BAB 102 — TUKANG PERHIASAN TUA
103 BAB 103 — PERNIKAHAN YANG SUDAH DIRANCANG?
104 BAB 104 — FOTO KELUARGA LAMA
105 BAB 105 — SASKIA SALAH PAHAM
106 BAB 106 — ARKA MENEMUKAN SURAT KEDUA
107 BAB 107 — ORANG TERPERCAYA
108 BAB 108 — REKAMAN LAMA
109 BAB 109 — KETIKA ARKA TAKUT
110 BAB 110 — PEMILIK CINCIN SEBENARNYA
Episodes

Updated 110 Episodes

1
BAB 1 — MUSUH DI DEPAN KELAS
2
BAB 2 — AYAH MEMBAWA KABAR BURUK
3
BAB 3 — CALON SUAMIKU ADALAH...
4
BAB 4 — SATU SYARAT
5
BAB 5 — PERNIKAHAN YANG TERLALU CEPAT
6
BAB 6 — KITA TINGGAL BERSAMA?
7
BAB 7 — JANGAN SAMPAI KETAHUAN!
8
BAB 8 — KETUA OSIS YANG MENYEBALKAN
9
BAB 9 — RENO DATANG
10
BAB 10 — PERASAAN YANG ANEH
11
BAB 11 — SATU PAYUNG, DUA ORANG
12
BAB 12 — SARAPAN BERUJUNG PERANG
13
BAB 13 — FOTO YANG HAMPIR MEMBONGKAR RAHASIA
14
BAB 14 — HUKUMAN UNTUK NAYA
15
BAB 15 — MELISA MULAI MENDEKAT
16
BAB 16 — RENO MEMBUAT ARKA GELISAH
17
BAB 17 — MALAM YANG MEMALUKAN
18
BAB 18 — ULANG TAHUN YANG TERLUPAKAN
19
BAB 19 — RAHASIA HAMPIR TERBONGKAR
20
BAB 20 — AKU TIDAK SUKA MELIHATMU MENANGIS
21
BAB 21 — KENAPA AKU HARUS PEDULI?
22
BAB 22 — FESTIVAL SEKOLAH
23
BAB 23 — PARTNER YANG SALAH
24
BAB 24 — CEMBURU PERTAMA
25
BAB 25 — PERANG DINGIN
26
BAB 26 — TERPAKSA BEKERJA BERSAMA
27
BAB 27 — HARI FESTIVAL
28
BAB 28 — KESALAHPAHAMAN
29
BAB 29 — PERJANJIAN YANG MULAI BERUBAH
30
BAB 30 — AKU TIDAK MAU KEHILANGANMU
31
BAB 31 — SETELAH KALIMAT ITU
32
BAB 32 — JANGAN PANGGIL AKU ISTRI
33
BAB 33 — SASKIA MULAI CURIGA
34
BAB 34 — PERTENGKARAN DI DEPAN SEKOLAH
35
BAB 35 — DEMAM
36
BAB 36 — PESAN DI TENGAH MALAM
37
BAB 37 — MELISA MENANYAKAN SESUATU
38
BAB 38 — RAHASIA DI DALAM LOKER
39
BAB 39 — AKU PERCAYA KAMU
40
BAB 40 — JANGAN PERGI
41
BAB 41 — SESEORANG DARI MASA LALU
42
BAB 42 — KENAPA AKU JADI CEMBURU?
43
BAB 43 — PERDEBATAN KONYOL
44
BAB 44 — HAMPIR TERDENGAR
45
BAB 45 — RENO MENYATAKAN PERASAANNYA
46
BAB 46 — AKU TIDAK BISA MENJAWAB
47
BAB 47 — MALAM YANG PENUH PENGAKUAN
48
BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
49
BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
50
BAB 50 — RAHASIA YANG TIDAK BISA SELAMANYA DISEMBUNYIKAN
51
BAB 51 — DOKUMEN DI TANGAN SASKIA
52
BAB 52 — AKU BISA MENJELASKAN
53
BAB 53 — SAHABAT YANG KECEWA
54
BAB 54 — ARKA MENGETAHUI SEMUANYA
55
BAB 55 — SEKARANG KAMI PUNYA SEKUTU
56
BAB 56 — KECEMBURUAN KEISHA
57
BAB 57 — AKU MEMILIH KAMU
58
BAB 58 — HARI YANG BERANTAKAN
59
BAB 59 — AKU SUKA KAMU
60
BAB 60 — RAHASIA KEDUA
61
BAB 61 — SIAPA YANG MENGAWASI KAMI?
62
BAB 62 — FOTO DARI MASA LALU
63
BAB 63 — ALASAN DI BALIK PERNIKAHAN
64
BAB 64 — ARKA MENYEMBUNYIKAN SESUATU
65
BAB 65 — PERTENGKARAN TERBESAR
66
BAB 66 — KETIKA NAYA MENGHILANG
67
BAB 67 — PENGAKUAN DITO
68
BAB 68 — AKU AKAN CERITA
69
BAB 69 — PENGIRIM SURAT
70
BAB 70 — ORANG YANG TIDAK TERDUGA
71
BAB 71 — PESAN BERIKUTNYA
72
BAB 72 — RUMAH LAMA
73
BAB 73 — SURAT DARI MASA LALU
74
BAB 74 — JAWABAN AYAH
75
BAB 75 — ARKA MEMBELA NAYA
76
BAB 76 — PILIHAN NAYA
77
BAB 77 — JANGAN PERGI DULU
78
BAB 78 — RIAN KEMBALI
79
BAB 79 — BUKAN SEKADAR PERNIKAHAN
80
BAB 80 — AKU MEMILIH KAMU
81
BAB 81 — BERITA YANG MENGGUNCANG SEKOLAH
82
BAB 82 — KAMU MENIKAH DENGAN NAYA?
83
BAB 83 — PERTANYAAN DARI TEMAN-TEMAN
84
BAB 84 — RAPAT DARURAT OSIS
85
BAB 85 — NAYA MERASA BERSALAH
86
BAB 86 — PILIHAN YANG SAMA
87
BAB 87 — SASKIA MEMBELA NAYA
88
BAB 88 — FESTIVAL KEDUA
89
BAB 89 — AKU TETAP DI SINI
90
BAB 90 — SATU RAHASIA TERAKHIR
91
BAB 91 — NAMA YANG SEHARUSNYA SUDAH HILANG
92
BAB 92 — ARSIP LAMA KELUARGA PRADIPTA
93
BAB 93 — ORANG YANG SELALU ADA DI BELAKANG
94
BAB 94 — SASKIA DAN MISI PENYELIDIKAN
95
BAB 95 — JEJAK DI PERPUSTAKAAN
96
BAB 96 — NAYA BERTENGKAR DENGAN AYAHNYA
97
BAB 97 — DI BANGKU TAMAN
98
BAB 98 — HADIAH KECIL
99
BAB 99 — FOTO TERBARU
100
BAB 100 — KEBENARAN YANG BELUM SESELESAI
101
BAB 101 — CINCIN YANG TIDAK BIASA
102
BAB 102 — TUKANG PERHIASAN TUA
103
BAB 103 — PERNIKAHAN YANG SUDAH DIRANCANG?
104
BAB 104 — FOTO KELUARGA LAMA
105
BAB 105 — SASKIA SALAH PAHAM
106
BAB 106 — ARKA MENEMUKAN SURAT KEDUA
107
BAB 107 — ORANG TERPERCAYA
108
BAB 108 — REKAMAN LAMA
109
BAB 109 — KETIKA ARKA TAKUT
110
BAB 110 — PEMILIK CINCIN SEBENARNYA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!