SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

BAB 1 — MUSUH DI DEPAN KELAS

​Aroma minyak kayu putih dan gesekan sepatu kets di atas semen basah selalu menjadi aroma khas SMA Garuda Bangsa di pagi hari—terutama lima menit sebelum gerbang besi setinggi tiga meter itu digembok rapat oleh Pak Slamet.

​Naya Aurelia tidak berniat terlambat. Sungguh. Tapi ketika tali sepatunya putus tepat saat ia hendak melompati parit di samping pagar belakang sekolah, hukum alam seolah menyatakan perang padanya.

​"Anjir, kok malah lepas, sih!" gumam Naya setengah berbisik. Tangannya dengan sigap mengikat kasar sisa tali kets hitamnya yang menyedihkan.

​Ia menatap dinding pagar setinggi dua meter di hadapannya. Di atas sana, pecahan kaca yang biasa ditancapkan di semen sudah lama runtuh dihantam hujan, meninggalkan celah aman bagi siswa-siswi yang bernasib malang—atau malas—seperti dirinya. Dengan satu lompatan lincah dan tumpuan pada bekas batako yang menumpuk di balik dinding, Naya berhasil mendarat di area belakang laboratorium biologi.

​Ia membersihkan rok abu-abunya yang terkena debu dengan tepukan cepat, menarik napas lega. Aman.

​Atau begitulah pikirnya, sebelum sebuah suara dingin dan teratur terdengar dari balik pohon mangga.

​"Naya Aurelia. Kelas 12 IPS 2."

​Naya membeku. Suara itu. Suara yang frekuensinya cukup untuk membuat usus buntu siapa pun mendadak meradang.

​Ia memutar tubuhnya perlahan, menyunggingkan senyum paling tidak ikhlas yang bisa ia produksi pagi ini. "Pagi, Pak Ketua OSIS yang terhormat. Sedang berpatroli mencari mangsa?"

​Arka Pradipta berdiri di sana. Berdiri tegak dengan seragam putih yang terlipat rapi tanpa satu pun garis kusut, dasi terikat sempurna di pangkal leher, dan ban lengan kain biru bertuliskan KETUA OSIS yang terpasang presisi di lengan kirinya. Di tangannya, sebuah papan jalan kayu bertumpuk kertas presensi kedisiplinan siap memakan korban.

​Arka tidak tersenyum. Ia tidak pernah tersenyum pada Naya—atau mungkin pada siapa pun di sekolah ini jika sedang bertugas. Matanya yang tajam menatap celana dan kets Naya, lalu berpindah pada tumpukan batako di balik pagar.

​"Lompat pagar lagi. Hari Selasa, jam tujuh lewat delapan menit," ujar Arka tenang, sambil mencatat sesuatu di kertasnya dengan pulpen hitam. "Ini sudah ketiga kalinya dalam bulan ini, Naya."

​"Dua kali!" potong Naya cepat, memajukan langkahnya dengan wajah menantang. "Minggu lalu itu gue nggak lompat pagar. Gue cuma lewat pintu samping yang kebetulan nggak dikunci!"

​"Pintu samping itu area sterilisasi petugas kebersihan, bukan jalan masuk siswa yang bangun kesiangan," balas Arka tanpa mengangkat pandangannya dari papan jalan. "Dan perhatikan caramu berbicara. 'Gue-elu' bukan tata bahasa yang sopan untuk dipakai di lingkungan sekolah, apalagi saat berhadapan dengan pengurus OSIS."

​Naya menghela napas kasar, memutar matanya lebar-lebar. "Aduh, Arka Pradipta... ini masih jam tujuh lewat sepuluh. Otak gue belum siap menerima ceramah kewarganegaraan dari lo. Lagian, lo ngapain sih nongkrong di balik pohon begini? Kurang kerjaan banget. Enggak ada rapat OSIS yang harus lo pimpin atau dokumen penting yang harus lo tandatangani?"

​Arka akhirnya menghentikan coretan pulpennya. Ia menatap Naya datar. Ketinggian tubuhnya yang terpaut jauh membuat Naya harus sedikit mendongak, sebuah posisi yang selalu dibenci Naya karena membuatnya merasa kerdil.

​"Tugas saya menjaga ketertiban. Dan kamu," Arka menunjuk Naya dengan ujung pulpennya, "adalah sumber utama kekacauan di sekolah ini."

​"Sok suci banget sih lo!" cibir Naya, melipat kedua tangannya di dada. "Cuma terlambat lima menit karena tali sepatu putus! Bukan berarti gue mau ngerampok ruang kepala sekolah!"

​"Peraturan tidak memandang alasan tali sepatu atau ban bocor, Naya. Kalau kamu tahu tali sepatumu rapuh, harusnya kamu ganti dari kemarin. Itu namanya antisipasi. Sesuatu yang tampaknya tidak pernah ada di dalam kamus hidup kamu."

​Kata-kata Arka diucapkan dengan nada yang sangat tenang, tanpa emosi, tanpa bentakan. Namun justru ketenangan itulah yang selalu berhasil membakar emosi Naya sampai ke ubun-ubun. Sejak kelas 10, Arka selalu menjadi sosok yang paling ia hindari. Laki-laki itu seperti robot yang diprogram tanpa rasa humor, selalu berlindung di balik buku tata tertib, dan selalu memandang orang lain dari atas hidungnya yang mancung itu.

​"Ikut saya ke lapangan," kata Arka balik kanan tanpa menunggu jawaban Naya. "Pak Danu sudah menunggu anak-anak yang terlambat di depan tiang bendera."

​"Gue nggak mau!" Naya berdiri diam di tempatnya.

​Arka menghentikan langkahnya, memalingkan kepala sedikit. "Kamu mau poin pelanggaranmu ditambah karena melawan pengurus OSIS?"

​"Biarin! Tambah aja sampai lima ratus! Kurang sekalian!" pekik Naya kesal.

​Beberapa siswa yang sedang berjalan di koridor lantai dua mulai menengok ke bawah, tertarik dengan suara nyaring Naya. Di sekolah ini, tidak ada yang berani membentak Arka Pradipta. Arka bukan cuma ketua OSIS; dia juara umum paralel, kapten tim basket, dan kesayangan para guru. Melawan Arka sama saja seperti mendaftarkan diri untuk dimusuhi satu sekolah.

​Namun Naya tidak peduli. Bagi Naya, Arka hanyalah cowok sok berkuasa yang kebetulan punya wajah lumayan—oke, sangat tampan jika harus jujur, tapi kepribadiannya sebusuk sampah di kantin belakang.

​Arka menghela napas panjang. Ia memutar tubuhnya kembali menghadap Naya, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa dua jengkal. Naya refleks mundur setengah langkah, namun menahan diri agar tidak terlihat takut.

​"Naya," suara Arka merendah, kini hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Saya nggak punya waktu buat berdebat sama kamu pagi-pagi gini. Jangan bikin masalah makin panjang. Cukup jalan ke lapangan, berdiri sepuluh menit, hormat bendera, selesai. Susah?"

​"Susah!" jawab Naya cepat, menatap langsung ke dalam manik mata hitam Arka. "Karena yang nangkap gue itu lo. Kalau yang nangkap gue Dito atau anak OSIS lain, gue pasti cuma dikasih teguran biasa. Lo sengaja kan nyari-nyari kesalahan gue?"

​Ujung alis Arka terangkat sedikit. "Nyari kesalahan? Kamu yang melompati pagar sekolah tepat di depan mata saya. Kamu pikir saya bertapa di balik pohon ini cuma buat nungguin kamu jatuh dari pagar?"

​"Bisa jadi! Siapa tahu lo emang obsessed banget mau menghukum gue!"

​Arka menatapnya diam selama beberapa detik. Untuk sejurus kecil, Naya melihat kilatan kekesalan di mata Arka—sebuah retakan tipis pada topeng kesempurnaan cowok itu. Tapi dengan cepat, Arka menguasai diri kembali.

​"Terserah apa anggapan kamu," kata Arka dingin. Tangannya meraih pergelangan tangan Naya yang terbalut jaket, memegangnya dengan pegangan yang cukup kuat agar Naya tidak bisa kabur, namun tidak sampai menyakitkan. "Sekarang, jalan."

​"Eh! Lepas! Jangan pegang-pegang!" seru Naya kaget, berusaha menarik tangannya. Namun Arka terus melangkah menyeretnya menuju lapangan utama, menghiraukan tatapan puluhan pasang mata yang kini resmi tertuju pada mereka.

​Di koridor, Saskia—sahabat Naya—terbelalak melihat pemandangan itu dari balik jendela kelas. Sementara di sudut lain, Dito yang sedang memegang pengeras suara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil terkekeh pelan.

​"Gila ya lo, Arka! Lepasin nggak?!" Naya terus mengomel sepanjang jalan. "Awas ya lo! Demi apa pun, suatu hari nanti gue bakal bikin lo kehilangan muka di depan umum! Gue bakal bikin sifat asli lo yang menyebalkan ini terbongkar!"

​Arka tidak membalas. Ia hanya terus berjalan dengan wajah datar menuju tiang bendera, melepaskan cengkeramannya begitu mereka sampai di depan barisan siswa terlambat lainnya.

​"Berdiri di sini sampai bel jam pertama selesai," ujar Arka singkat tanpa menatap Naya lagi, lalu berjalan meninggalkan area lapangan menuju ruang OSIS.

​Naya menyilangkan tangan di dada, napasnya naik turun menahan gumpalan amarah yang rasanya ingin meledak saat itu juga. Ia menatap punggung tegap Arka yang perlahan menjauh.

​"Lihat aja nanti, Arka Pradipta," bisik Naya penuh dendam. "Gue sumpahin hidup lo nggak bakal pernah tenang!"

​Naya sama sekali tidak menyadari bahwa sumpah serapahnya pagi itu akan dikabulkan oleh semesta—dengan cara yang paling tragis, gila, dan tak terbayangkan dalam hidupnya.

Terpopuler

Comments

Anggraini Raini

Anggraini Raini

mampir ya thor...🤭

2026-08-16

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 — MUSUH DI DEPAN KELAS
2 BAB 2 — AYAH MEMBAWA KABAR BURUK
3 BAB 3 — CALON SUAMIKU ADALAH...
4 BAB 4 — SATU SYARAT
5 BAB 5 — PERNIKAHAN YANG TERLALU CEPAT
6 BAB 6 — KITA TINGGAL BERSAMA?
7 BAB 7 — JANGAN SAMPAI KETAHUAN!
8 BAB 8 — KETUA OSIS YANG MENYEBALKAN
9 BAB 9 — RENO DATANG
10 BAB 10 — PERASAAN YANG ANEH
11 BAB 11 — SATU PAYUNG, DUA ORANG
12 BAB 12 — SARAPAN BERUJUNG PERANG
13 BAB 13 — FOTO YANG HAMPIR MEMBONGKAR RAHASIA
14 BAB 14 — HUKUMAN UNTUK NAYA
15 BAB 15 — MELISA MULAI MENDEKAT
16 BAB 16 — RENO MEMBUAT ARKA GELISAH
17 BAB 17 — MALAM YANG MEMALUKAN
18 BAB 18 — ULANG TAHUN YANG TERLUPAKAN
19 BAB 19 — RAHASIA HAMPIR TERBONGKAR
20 BAB 20 — AKU TIDAK SUKA MELIHATMU MENANGIS
21 BAB 21 — KENAPA AKU HARUS PEDULI?
22 BAB 22 — FESTIVAL SEKOLAH
23 BAB 23 — PARTNER YANG SALAH
24 BAB 24 — CEMBURU PERTAMA
25 BAB 25 — PERANG DINGIN
26 BAB 26 — TERPAKSA BEKERJA BERSAMA
27 BAB 27 — HARI FESTIVAL
28 BAB 28 — KESALAHPAHAMAN
29 BAB 29 — PERJANJIAN YANG MULAI BERUBAH
30 BAB 30 — AKU TIDAK MAU KEHILANGANMU
31 BAB 31 — SETELAH KALIMAT ITU
32 BAB 32 — JANGAN PANGGIL AKU ISTRI
33 BAB 33 — SASKIA MULAI CURIGA
34 BAB 34 — PERTENGKARAN DI DEPAN SEKOLAH
35 BAB 35 — DEMAM
36 BAB 36 — PESAN DI TENGAH MALAM
37 BAB 37 — MELISA MENANYAKAN SESUATU
38 BAB 38 — RAHASIA DI DALAM LOKER
39 BAB 39 — AKU PERCAYA KAMU
40 BAB 40 — JANGAN PERGI
41 BAB 41 — SESEORANG DARI MASA LALU
42 BAB 42 — KENAPA AKU JADI CEMBURU?
43 BAB 43 — PERDEBATAN KONYOL
44 BAB 44 — HAMPIR TERDENGAR
45 BAB 45 — RENO MENYATAKAN PERASAANNYA
46 BAB 46 — AKU TIDAK BISA MENJAWAB
47 BAB 47 — MALAM YANG PENUH PENGAKUAN
48 BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
49 BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
50 BAB 50 — RAHASIA YANG TIDAK BISA SELAMANYA DISEMBUNYIKAN
51 BAB 51 — DOKUMEN DI TANGAN SASKIA
52 BAB 52 — AKU BISA MENJELASKAN
53 BAB 53 — SAHABAT YANG KECEWA
54 BAB 54 — ARKA MENGETAHUI SEMUANYA
55 BAB 55 — SEKARANG KAMI PUNYA SEKUTU
56 BAB 56 — KECEMBURUAN KEISHA
57 BAB 57 — AKU MEMILIH KAMU
58 BAB 58 — HARI YANG BERANTAKAN
59 BAB 59 — AKU SUKA KAMU
60 BAB 60 — RAHASIA KEDUA
61 BAB 61 — SIAPA YANG MENGAWASI KAMI?
62 BAB 62 — FOTO DARI MASA LALU
63 BAB 63 — ALASAN DI BALIK PERNIKAHAN
64 BAB 64 — ARKA MENYEMBUNYIKAN SESUATU
65 BAB 65 — PERTENGKARAN TERBESAR
66 BAB 66 — KETIKA NAYA MENGHILANG
67 BAB 67 — PENGAKUAN DITO
68 BAB 68 — AKU AKAN CERITA
69 BAB 69 — PENGIRIM SURAT
70 BAB 70 — ORANG YANG TIDAK TERDUGA
71 BAB 71 — PESAN BERIKUTNYA
72 BAB 72 — RUMAH LAMA
73 BAB 73 — SURAT DARI MASA LALU
74 BAB 74 — JAWABAN AYAH
75 BAB 75 — ARKA MEMBELA NAYA
76 BAB 76 — PILIHAN NAYA
77 BAB 77 — JANGAN PERGI DULU
78 BAB 78 — RIAN KEMBALI
79 BAB 79 — BUKAN SEKADAR PERNIKAHAN
80 BAB 80 — AKU MEMILIH KAMU
81 BAB 81 — BERITA YANG MENGGUNCANG SEKOLAH
82 BAB 82 — KAMU MENIKAH DENGAN NAYA?
83 BAB 83 — PERTANYAAN DARI TEMAN-TEMAN
84 BAB 84 — RAPAT DARURAT OSIS
85 BAB 85 — NAYA MERASA BERSALAH
86 BAB 86 — PILIHAN YANG SAMA
87 BAB 87 — SASKIA MEMBELA NAYA
88 BAB 88 — FESTIVAL KEDUA
89 BAB 89 — AKU TETAP DI SINI
90 BAB 90 — SATU RAHASIA TERAKHIR
91 BAB 91 — NAMA YANG SEHARUSNYA SUDAH HILANG
92 BAB 92 — ARSIP LAMA KELUARGA PRADIPTA
93 BAB 93 — ORANG YANG SELALU ADA DI BELAKANG
94 BAB 94 — SASKIA DAN MISI PENYELIDIKAN
95 BAB 95 — JEJAK DI PERPUSTAKAAN
96 BAB 96 — NAYA BERTENGKAR DENGAN AYAHNYA
97 BAB 97 — DI BANGKU TAMAN
98 BAB 98 — HADIAH KECIL
99 BAB 99 — FOTO TERBARU
100 BAB 100 — KEBENARAN YANG BELUM SESELESAI
101 BAB 101 — CINCIN YANG TIDAK BIASA
102 BAB 102 — TUKANG PERHIASAN TUA
103 BAB 103 — PERNIKAHAN YANG SUDAH DIRANCANG?
104 BAB 104 — FOTO KELUARGA LAMA
105 BAB 105 — SASKIA SALAH PAHAM
106 BAB 106 — ARKA MENEMUKAN SURAT KEDUA
107 BAB 107 — ORANG TERPERCAYA
108 BAB 108 — REKAMAN LAMA
109 BAB 109 — KETIKA ARKA TAKUT
110 BAB 110 — PEMILIK CINCIN SEBENARNYA
Episodes

Updated 110 Episodes

1
BAB 1 — MUSUH DI DEPAN KELAS
2
BAB 2 — AYAH MEMBAWA KABAR BURUK
3
BAB 3 — CALON SUAMIKU ADALAH...
4
BAB 4 — SATU SYARAT
5
BAB 5 — PERNIKAHAN YANG TERLALU CEPAT
6
BAB 6 — KITA TINGGAL BERSAMA?
7
BAB 7 — JANGAN SAMPAI KETAHUAN!
8
BAB 8 — KETUA OSIS YANG MENYEBALKAN
9
BAB 9 — RENO DATANG
10
BAB 10 — PERASAAN YANG ANEH
11
BAB 11 — SATU PAYUNG, DUA ORANG
12
BAB 12 — SARAPAN BERUJUNG PERANG
13
BAB 13 — FOTO YANG HAMPIR MEMBONGKAR RAHASIA
14
BAB 14 — HUKUMAN UNTUK NAYA
15
BAB 15 — MELISA MULAI MENDEKAT
16
BAB 16 — RENO MEMBUAT ARKA GELISAH
17
BAB 17 — MALAM YANG MEMALUKAN
18
BAB 18 — ULANG TAHUN YANG TERLUPAKAN
19
BAB 19 — RAHASIA HAMPIR TERBONGKAR
20
BAB 20 — AKU TIDAK SUKA MELIHATMU MENANGIS
21
BAB 21 — KENAPA AKU HARUS PEDULI?
22
BAB 22 — FESTIVAL SEKOLAH
23
BAB 23 — PARTNER YANG SALAH
24
BAB 24 — CEMBURU PERTAMA
25
BAB 25 — PERANG DINGIN
26
BAB 26 — TERPAKSA BEKERJA BERSAMA
27
BAB 27 — HARI FESTIVAL
28
BAB 28 — KESALAHPAHAMAN
29
BAB 29 — PERJANJIAN YANG MULAI BERUBAH
30
BAB 30 — AKU TIDAK MAU KEHILANGANMU
31
BAB 31 — SETELAH KALIMAT ITU
32
BAB 32 — JANGAN PANGGIL AKU ISTRI
33
BAB 33 — SASKIA MULAI CURIGA
34
BAB 34 — PERTENGKARAN DI DEPAN SEKOLAH
35
BAB 35 — DEMAM
36
BAB 36 — PESAN DI TENGAH MALAM
37
BAB 37 — MELISA MENANYAKAN SESUATU
38
BAB 38 — RAHASIA DI DALAM LOKER
39
BAB 39 — AKU PERCAYA KAMU
40
BAB 40 — JANGAN PERGI
41
BAB 41 — SESEORANG DARI MASA LALU
42
BAB 42 — KENAPA AKU JADI CEMBURU?
43
BAB 43 — PERDEBATAN KONYOL
44
BAB 44 — HAMPIR TERDENGAR
45
BAB 45 — RENO MENYATAKAN PERASAANNYA
46
BAB 46 — AKU TIDAK BISA MENJAWAB
47
BAB 47 — MALAM YANG PENUH PENGAKUAN
48
BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
49
BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
50
BAB 50 — RAHASIA YANG TIDAK BISA SELAMANYA DISEMBUNYIKAN
51
BAB 51 — DOKUMEN DI TANGAN SASKIA
52
BAB 52 — AKU BISA MENJELASKAN
53
BAB 53 — SAHABAT YANG KECEWA
54
BAB 54 — ARKA MENGETAHUI SEMUANYA
55
BAB 55 — SEKARANG KAMI PUNYA SEKUTU
56
BAB 56 — KECEMBURUAN KEISHA
57
BAB 57 — AKU MEMILIH KAMU
58
BAB 58 — HARI YANG BERANTAKAN
59
BAB 59 — AKU SUKA KAMU
60
BAB 60 — RAHASIA KEDUA
61
BAB 61 — SIAPA YANG MENGAWASI KAMI?
62
BAB 62 — FOTO DARI MASA LALU
63
BAB 63 — ALASAN DI BALIK PERNIKAHAN
64
BAB 64 — ARKA MENYEMBUNYIKAN SESUATU
65
BAB 65 — PERTENGKARAN TERBESAR
66
BAB 66 — KETIKA NAYA MENGHILANG
67
BAB 67 — PENGAKUAN DITO
68
BAB 68 — AKU AKAN CERITA
69
BAB 69 — PENGIRIM SURAT
70
BAB 70 — ORANG YANG TIDAK TERDUGA
71
BAB 71 — PESAN BERIKUTNYA
72
BAB 72 — RUMAH LAMA
73
BAB 73 — SURAT DARI MASA LALU
74
BAB 74 — JAWABAN AYAH
75
BAB 75 — ARKA MEMBELA NAYA
76
BAB 76 — PILIHAN NAYA
77
BAB 77 — JANGAN PERGI DULU
78
BAB 78 — RIAN KEMBALI
79
BAB 79 — BUKAN SEKADAR PERNIKAHAN
80
BAB 80 — AKU MEMILIH KAMU
81
BAB 81 — BERITA YANG MENGGUNCANG SEKOLAH
82
BAB 82 — KAMU MENIKAH DENGAN NAYA?
83
BAB 83 — PERTANYAAN DARI TEMAN-TEMAN
84
BAB 84 — RAPAT DARURAT OSIS
85
BAB 85 — NAYA MERASA BERSALAH
86
BAB 86 — PILIHAN YANG SAMA
87
BAB 87 — SASKIA MEMBELA NAYA
88
BAB 88 — FESTIVAL KEDUA
89
BAB 89 — AKU TETAP DI SINI
90
BAB 90 — SATU RAHASIA TERAKHIR
91
BAB 91 — NAMA YANG SEHARUSNYA SUDAH HILANG
92
BAB 92 — ARSIP LAMA KELUARGA PRADIPTA
93
BAB 93 — ORANG YANG SELALU ADA DI BELAKANG
94
BAB 94 — SASKIA DAN MISI PENYELIDIKAN
95
BAB 95 — JEJAK DI PERPUSTAKAAN
96
BAB 96 — NAYA BERTENGKAR DENGAN AYAHNYA
97
BAB 97 — DI BANGKU TAMAN
98
BAB 98 — HADIAH KECIL
99
BAB 99 — FOTO TERBARU
100
BAB 100 — KEBENARAN YANG BELUM SESELESAI
101
BAB 101 — CINCIN YANG TIDAK BIASA
102
BAB 102 — TUKANG PERHIASAN TUA
103
BAB 103 — PERNIKAHAN YANG SUDAH DIRANCANG?
104
BAB 104 — FOTO KELUARGA LAMA
105
BAB 105 — SASKIA SALAH PAHAM
106
BAB 106 — ARKA MENEMUKAN SURAT KEDUA
107
BAB 107 — ORANG TERPERCAYA
108
BAB 108 — REKAMAN LAMA
109
BAB 109 — KETIKA ARKA TAKUT
110
BAB 110 — PEMILIK CINCIN SEBENARNYA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!