BAB 4 — SATU SYARAT

Malam berganti pagi dengan begitu cepat, namun ketegangan dari kediaman keluarga Pradipta semalam masih tertinggal tebal di benak Naya. Hujan gerimis yang membasahi halaman SMA Garuda Bangsa membuat udara terasa lebih dingin dari biasanya, namun koridor sekolah tetap bising oleh hilir mudik siswa yang menghindari genangan air.

Naya berjalan lunglai menyusuri koridor lantai dua bersama Saskia. Matanya agak sembab karena kurang tidur—sebagian besar malamnya dihabiskan untuk menatap langit-langit kamar sambil membayangkan nasib tragisnya yang harus menikah di usia tujuh belas tahun.

"Nay, lo kenapa sih? Dari tadi diam aja, muka lo ditekuk kayak baju belum disetrika," tegur Saskia sambil mengunyah roti cokelatnya. "Masih kepikiran kejadian ditarik Arka kemarin pagi?"

"Bukan..." gumam Naya lemas. Kalau cuma ditarik Arka sih mending, Sas. Ini gue mau dikawinin sama tuh robot! batin Naya menjerit.

"Trus kenapa? Muka lo beneran kayak orang mau dihukum mati tahu nggak."

"Gue emang rasanya mau dihukum mati," bisik Naya pelan.

Belum sempat Saskia membalas, sebuah suara bariton yang teratur memotong percakapan mereka dari arah belakang.

"Naya Aurelia."

Naya membeku. Ia tidak perlu memutar tubuhnya untuk tahu siapa pemilik suara itu.

Arka berdiri di sana, beberapa langkah di belakang mereka. Ia mengenakan seragam putih-abu-abunya yang seperti biasa sangat rapi, memegang map dokumen tebal di tangan kirinya. Wajahnya yang tenang tak mengekspresikan apa pun, persis seperti Arka yang dilihat semua orang setiap hari. Tidak ada tanda-tanda bahwa cowok ini semalam baru saja menggebrak meja makan karena dijodohkan.

"Pak Danu minta kamu ke ruang OSIS sekarang," kata Arka datar, matanya sekilas menatap Naya sebelum berpindah ke Saskia. "Ada berkas dispensasi kegiatan yang harus diselesaikan."

"Hah? Berkas apaan? Gue nggak ada ikutan panitia apa-apa," jawab Naya penuh curiga.

"Selesai atau tidaknya urusan itu tergantung kamu cepat datang atau tidak," balas Arka dingin, lalu berbalik arah tanpa menunggu jawaban. "Sekarang."

Saskia menyenggol lengan Naya dengan siku, matanya berbinar kepo. "Wah, ada apa tuh? Tumben Pak Danu manggil lo lewat Arka langsung? Jangan-jangan lo mau dihukum lagi gara-gara insiden kemarin?"

"Nggak tahu ah. Gue samperin dulu," sahut Naya malas, melangkah menyusuri koridor mengikut jejak Arka dari jarak aman sekitar tiga meter.

Ruang OSIS SMA Garuda Bangsa berada di sudut bangunan lantai dasar, dekat dengan area perpustakaan yang relatif sepi. Ruangan itu beraroma kertas baru, pendingin udara, dan pembersih lantai bermerek pinus. Saat Naya melangkah masuk, ia mendapati ruangan itu kosong melompong. Tidak ada Pak Danu, tidak ada pengurus OSIS lain. Hanya ada Arka yang sedang mengunci pintu dari dalam.

Klek.

Suara kait kunci pintu yang beradu membuat Naya refleks mundur satu langkah, memegang tali tas punggungnya erat-erat.

"Lo ngapain ngunci pintu?!" seru Naya panik, suaranya naik satu oktav. "Jangan macem-macem ya, Arka! Gue bisa teriak sekarang juga!"

Arka memutar tubuhnya, menatap Naya dengan ekspresi penuh kekesalan yang selama ini selalu ia sembunyikan di depan umum. Ia menghembuskan napas kasar lewat hidung, lalu berjalan menuju meja kerjanya di sudut ruangan dan meletakkan map tebal itu dengan dentuman pelan.

"Jangan kegeeran. Saya nggak bermaksud apa-apa," cetus Arka pendek. "Saya ngunci pintu supaya nggak ada anggota OSIS lain atau guru yang masuk tiba-tiba. Pak Danu nggak ada. Itu cuma alasan supaya kamu mau ke sini."

Naya mengelus dadanya yang berdegup kencang, lalu melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan menantang. "Ooh... jadi ketua OSIS panutan semua guru ini baru aja bohong? Catat ya, Arka Pradipta melanggar kode etik sekolah demi menemui cewek yang paling dia benci."

"Ini urusan darurat," potong Arka cepat, mengabaikan sarkasme Naya. Ia menyandarkan pinggulnya di tepi meja, menatap Naya lurus-lurus dengan tatapan teramat serius. "Soal pembicaraan orang tua kita semalam."

Atmosfer di ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat canggung. Senyum mengejek di wajah Naya perlahan luntur, berganti dengan guratan kegelisahan yang nyata.

"Papa dan Ayah kamu tadi pagi makin serius bahas tanggal," lanjut Arka. "Pernikahan itu... sepertinya beneran bakal dilaksanakan Sabtu ini. Tertutup, cuma diijab di rumah kamu, lalu akad dicatat secara hukum."

Naya merasa seluruh sendi di kakinya mendadak lemas. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu kayu di belakangnya. "Gila... ini beneran gila. Kenapa sih orang tua kita maksain banget? Kenapa lo nggak nolak lebih keras semalam?"

"Kamu pikir saya nggak berusaha?" suara Arka meninggi sedikit, menunjukkan retakan pada pertahanannya. "Saya udah debat sama Papa sampai jam satu malam! Tapi Papa bilang ini terkait janji almarhum Kakek dan ada urusan perlindungan hukum keluarga yang nggak bisa ditunda. Kalau saya nolak, Papa ancam bakal cabut semua fasilitas saya dan batalin rekomendasi beasiswa universitas saya tahun depan."

Naya tertegun. Ia baru tahu kalau Arka yang kelihatan seperti anak emas keluarga juga mendapat tekanan sebesar itu dari orang tuanya.

"Jadi..." Naya menelan ludah yang terasa pahit. "Kita beneran harus nikah?"

"Nggak ada pilihan lain," Arka memalingkan wajahnya sejenak, memegang pelipisnya yang tampak pening. "Tapi seperti yang saya bilang semalam. Saya punya syarat. Dan saya butuh kamu menyetujui perjanjian ini secara tertulis."

Arka mengambil selembar kertas HVS putih dari atas mejanya yang sudah terisi beberapa baris tulisan tangan yang sangat rapi dan simetris—tipikal tulisan Arka. Ia menyodorkan kertas itu bersama sebuah pulpen hitam ke arah Naya.

Naya mendekat dengan ragu, menyambar kertas itu lalu membacanya cepat.

SURAT PERJANJIAN RAHASIA

Pernikahan ini adalah rahasia mutlak. Tidak boleh ada satu pun warga SMA Garuda Bangsa yang tahu.

Di sekolah, status kita adalah Ketua OSIS dan Siswi. Tidak ada interaksi khusus, tidak ada sapaan tidak penting, dan tidak ada perlakuan istimewa.

Di rumah, kita membagi area pribadi secara adil. Dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing tanpa izin.

Dilarang saling mencampuri urusan pertemanan atau lawan jenis di sekolah.

Poin Paling Penting: DILARANG JATUH CINTA SATU SAMA LAIN.

Naya menaikkan alisnya tinggi-tinggi saat membaca poin kelima. Ia menatap Arka dengan pandangan tak percaya, lalu tertawa renyah yang dibuat-buat.

"Poin nomor lima ini bercanda ya?" ejek Naya sambil mengacungkan kertas itu. "Jatuh cinta sama lo?! Halo... Arka Pradipta? Gue lebih memilih jatuh cinta sama tiang bendera di lapangan daripada sama cowok kaku, cerewet, dan membosankan kayak lo!"

"Saya cuma memastikan," balas Arka dingin, walau ada sedikit rona merah tipis di ujung telinganya yang entah karena kesal atau malu. "Situasi tinggal satu rumah bisa memicu hal-hal yang nggak diinginkan. Saya nggak mau kamu tiba-tiba kegeeran atau baper cuma gara-gara kita tinggal bersaudara—maksud saya, berpasangan."

"Cih! Jangan balik balik kata ya! Lo yang takut baper sama gue kan?" Naya membusungkan dadanya menantang. "Muka gue ini di atas rata-rata ya kalau lo mau tahu. Banyak anak cowok kelas dua belas yang ngantre mau ajak gue jalan!"

"Dan semuanya mundur begitu tahu nilai Matematika kamu selalu di bawah KKM," sahut Arka tenang, telak menghantam ulu hati Naya.

"Arka Pradipta!" jerit Naya tertahan.

"Tanda tangan sekarang, Naya. Bel masuk kurang lima menit lagi," potong Arka datar, menyodorkan pulpen lebih dekat ke wajah Naya.

Naya menggeretukkan giginya. Ia menyambar pulpen dari tangan Arka dengan kasar. Sebelum membubuhkan tanda tangannya di bawah kertas itu, Naya menatap Arka dengan pandangan menusuk.

"Gue tanda tangan ini bukan karena takut sama lo," tegas Naya. "Gue tanda tangan karena gue juga nggak sudi kehidupan SMA gue hancur gara-gara orang-orang tahu gue suaminya ketua OSIS yang paling menyebalkan se-kabupaten."

Sret! Sret!

Naya menandatangani kertas itu dengan coretan besar yang emosional, lalu melempar pulpen itu kembali ke atas meja Arka.

"Poin nomor lima itu syarat paling gampang yang pernah ada dalam hidup gue," tambah Naya tajam. "Gue nggak bakal pernah jatuh cinta sama lo, Arka. Sampai kapan pun."

Arka mengambil kertas itu, menatap tanda tangan Naya sejenak, lalu melipatnya rapi dan memasukkannya ke dalam saku dalam jas OSIS-nya. Laki-laki itu mendongak, menatap mata Naya dengan keheningan yang cukup lama.

"Bagus kalau begitu," kata Arka pelan, nadanya teramat datar hingga sulit ditebak apa yang sedang melintas di pikirannya. "Semoga kamu ingat kata-katamu sendiri."

Arka berjalan melewatinya, membuka kunci pintu ruang OSIS, dan membukanya lebar-lebar. "Silakan keluar duluan. Jangan sampai ada yang lihat kita keluar barengan."

Naya menghentakkan kakinya kesal, melangkah keluar ruang OSIS tanpa menoleh lagi. Dadanya bergemuruh oleh campuran kekesalan dan ketakutan yang samar.

Perjanjian itu sudah ditandatangani. Perang rahasia mereka resmi dimulai. Dan Naya sangat yakin, tidak akan ada satu pun dari mereka yang akan melanggar aturan nomor lima. Sama sekali tidak akan pernah.

Episodes
1 BAB 1 — MUSUH DI DEPAN KELAS
2 BAB 2 — AYAH MEMBAWA KABAR BURUK
3 BAB 3 — CALON SUAMIKU ADALAH...
4 BAB 4 — SATU SYARAT
5 BAB 5 — PERNIKAHAN YANG TERLALU CEPAT
6 BAB 6 — KITA TINGGAL BERSAMA?
7 BAB 7 — JANGAN SAMPAI KETAHUAN!
8 BAB 8 — KETUA OSIS YANG MENYEBALKAN
9 BAB 9 — RENO DATANG
10 BAB 10 — PERASAAN YANG ANEH
11 BAB 11 — SATU PAYUNG, DUA ORANG
12 BAB 12 — SARAPAN BERUJUNG PERANG
13 BAB 13 — FOTO YANG HAMPIR MEMBONGKAR RAHASIA
14 BAB 14 — HUKUMAN UNTUK NAYA
15 BAB 15 — MELISA MULAI MENDEKAT
16 BAB 16 — RENO MEMBUAT ARKA GELISAH
17 BAB 17 — MALAM YANG MEMALUKAN
18 BAB 18 — ULANG TAHUN YANG TERLUPAKAN
19 BAB 19 — RAHASIA HAMPIR TERBONGKAR
20 BAB 20 — AKU TIDAK SUKA MELIHATMU MENANGIS
21 BAB 21 — KENAPA AKU HARUS PEDULI?
22 BAB 22 — FESTIVAL SEKOLAH
23 BAB 23 — PARTNER YANG SALAH
24 BAB 24 — CEMBURU PERTAMA
25 BAB 25 — PERANG DINGIN
26 BAB 26 — TERPAKSA BEKERJA BERSAMA
27 BAB 27 — HARI FESTIVAL
28 BAB 28 — KESALAHPAHAMAN
29 BAB 29 — PERJANJIAN YANG MULAI BERUBAH
30 BAB 30 — AKU TIDAK MAU KEHILANGANMU
31 BAB 31 — SETELAH KALIMAT ITU
32 BAB 32 — JANGAN PANGGIL AKU ISTRI
33 BAB 33 — SASKIA MULAI CURIGA
34 BAB 34 — PERTENGKARAN DI DEPAN SEKOLAH
35 BAB 35 — DEMAM
36 BAB 36 — PESAN DI TENGAH MALAM
37 BAB 37 — MELISA MENANYAKAN SESUATU
38 BAB 38 — RAHASIA DI DALAM LOKER
39 BAB 39 — AKU PERCAYA KAMU
40 BAB 40 — JANGAN PERGI
41 BAB 41 — SESEORANG DARI MASA LALU
42 BAB 42 — KENAPA AKU JADI CEMBURU?
43 BAB 43 — PERDEBATAN KONYOL
44 BAB 44 — HAMPIR TERDENGAR
45 BAB 45 — RENO MENYATAKAN PERASAANNYA
46 BAB 46 — AKU TIDAK BISA MENJAWAB
47 BAB 47 — MALAM YANG PENUH PENGAKUAN
48 BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
49 BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
50 BAB 50 — RAHASIA YANG TIDAK BISA SELAMANYA DISEMBUNYIKAN
51 BAB 51 — DOKUMEN DI TANGAN SASKIA
52 BAB 52 — AKU BISA MENJELASKAN
53 BAB 53 — SAHABAT YANG KECEWA
54 BAB 54 — ARKA MENGETAHUI SEMUANYA
55 BAB 55 — SEKARANG KAMI PUNYA SEKUTU
56 BAB 56 — KECEMBURUAN KEISHA
57 BAB 57 — AKU MEMILIH KAMU
58 BAB 58 — HARI YANG BERANTAKAN
59 BAB 59 — AKU SUKA KAMU
60 BAB 60 — RAHASIA KEDUA
61 BAB 61 — SIAPA YANG MENGAWASI KAMI?
62 BAB 62 — FOTO DARI MASA LALU
63 BAB 63 — ALASAN DI BALIK PERNIKAHAN
64 BAB 64 — ARKA MENYEMBUNYIKAN SESUATU
65 BAB 65 — PERTENGKARAN TERBESAR
66 BAB 66 — KETIKA NAYA MENGHILANG
67 BAB 67 — PENGAKUAN DITO
68 BAB 68 — AKU AKAN CERITA
69 BAB 69 — PENGIRIM SURAT
70 BAB 70 — ORANG YANG TIDAK TERDUGA
71 BAB 71 — PESAN BERIKUTNYA
72 BAB 72 — RUMAH LAMA
73 BAB 73 — SURAT DARI MASA LALU
74 BAB 74 — JAWABAN AYAH
75 BAB 75 — ARKA MEMBELA NAYA
76 BAB 76 — PILIHAN NAYA
77 BAB 77 — JANGAN PERGI DULU
78 BAB 78 — RIAN KEMBALI
79 BAB 79 — BUKAN SEKADAR PERNIKAHAN
80 BAB 80 — AKU MEMILIH KAMU
81 BAB 81 — BERITA YANG MENGGUNCANG SEKOLAH
82 BAB 82 — KAMU MENIKAH DENGAN NAYA?
83 BAB 83 — PERTANYAAN DARI TEMAN-TEMAN
84 BAB 84 — RAPAT DARURAT OSIS
85 BAB 85 — NAYA MERASA BERSALAH
86 BAB 86 — PILIHAN YANG SAMA
87 BAB 87 — SASKIA MEMBELA NAYA
88 BAB 88 — FESTIVAL KEDUA
89 BAB 89 — AKU TETAP DI SINI
90 BAB 90 — SATU RAHASIA TERAKHIR
91 BAB 91 — NAMA YANG SEHARUSNYA SUDAH HILANG
92 BAB 92 — ARSIP LAMA KELUARGA PRADIPTA
93 BAB 93 — ORANG YANG SELALU ADA DI BELAKANG
94 BAB 94 — SASKIA DAN MISI PENYELIDIKAN
95 BAB 95 — JEJAK DI PERPUSTAKAAN
96 BAB 96 — NAYA BERTENGKAR DENGAN AYAHNYA
97 BAB 97 — DI BANGKU TAMAN
98 BAB 98 — HADIAH KECIL
99 BAB 99 — FOTO TERBARU
100 BAB 100 — KEBENARAN YANG BELUM SESELESAI
101 BAB 101 — CINCIN YANG TIDAK BIASA
102 BAB 102 — TUKANG PERHIASAN TUA
103 BAB 103 — PERNIKAHAN YANG SUDAH DIRANCANG?
104 BAB 104 — FOTO KELUARGA LAMA
105 BAB 105 — SASKIA SALAH PAHAM
106 BAB 106 — ARKA MENEMUKAN SURAT KEDUA
107 BAB 107 — ORANG TERPERCAYA
108 BAB 108 — REKAMAN LAMA
109 BAB 109 — KETIKA ARKA TAKUT
110 BAB 110 — PEMILIK CINCIN SEBENARNYA
Episodes

Updated 110 Episodes

1
BAB 1 — MUSUH DI DEPAN KELAS
2
BAB 2 — AYAH MEMBAWA KABAR BURUK
3
BAB 3 — CALON SUAMIKU ADALAH...
4
BAB 4 — SATU SYARAT
5
BAB 5 — PERNIKAHAN YANG TERLALU CEPAT
6
BAB 6 — KITA TINGGAL BERSAMA?
7
BAB 7 — JANGAN SAMPAI KETAHUAN!
8
BAB 8 — KETUA OSIS YANG MENYEBALKAN
9
BAB 9 — RENO DATANG
10
BAB 10 — PERASAAN YANG ANEH
11
BAB 11 — SATU PAYUNG, DUA ORANG
12
BAB 12 — SARAPAN BERUJUNG PERANG
13
BAB 13 — FOTO YANG HAMPIR MEMBONGKAR RAHASIA
14
BAB 14 — HUKUMAN UNTUK NAYA
15
BAB 15 — MELISA MULAI MENDEKAT
16
BAB 16 — RENO MEMBUAT ARKA GELISAH
17
BAB 17 — MALAM YANG MEMALUKAN
18
BAB 18 — ULANG TAHUN YANG TERLUPAKAN
19
BAB 19 — RAHASIA HAMPIR TERBONGKAR
20
BAB 20 — AKU TIDAK SUKA MELIHATMU MENANGIS
21
BAB 21 — KENAPA AKU HARUS PEDULI?
22
BAB 22 — FESTIVAL SEKOLAH
23
BAB 23 — PARTNER YANG SALAH
24
BAB 24 — CEMBURU PERTAMA
25
BAB 25 — PERANG DINGIN
26
BAB 26 — TERPAKSA BEKERJA BERSAMA
27
BAB 27 — HARI FESTIVAL
28
BAB 28 — KESALAHPAHAMAN
29
BAB 29 — PERJANJIAN YANG MULAI BERUBAH
30
BAB 30 — AKU TIDAK MAU KEHILANGANMU
31
BAB 31 — SETELAH KALIMAT ITU
32
BAB 32 — JANGAN PANGGIL AKU ISTRI
33
BAB 33 — SASKIA MULAI CURIGA
34
BAB 34 — PERTENGKARAN DI DEPAN SEKOLAH
35
BAB 35 — DEMAM
36
BAB 36 — PESAN DI TENGAH MALAM
37
BAB 37 — MELISA MENANYAKAN SESUATU
38
BAB 38 — RAHASIA DI DALAM LOKER
39
BAB 39 — AKU PERCAYA KAMU
40
BAB 40 — JANGAN PERGI
41
BAB 41 — SESEORANG DARI MASA LALU
42
BAB 42 — KENAPA AKU JADI CEMBURU?
43
BAB 43 — PERDEBATAN KONYOL
44
BAB 44 — HAMPIR TERDENGAR
45
BAB 45 — RENO MENYATAKAN PERASAANNYA
46
BAB 46 — AKU TIDAK BISA MENJAWAB
47
BAB 47 — MALAM YANG PENUH PENGAKUAN
48
BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
49
BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
50
BAB 50 — RAHASIA YANG TIDAK BISA SELAMANYA DISEMBUNYIKAN
51
BAB 51 — DOKUMEN DI TANGAN SASKIA
52
BAB 52 — AKU BISA MENJELASKAN
53
BAB 53 — SAHABAT YANG KECEWA
54
BAB 54 — ARKA MENGETAHUI SEMUANYA
55
BAB 55 — SEKARANG KAMI PUNYA SEKUTU
56
BAB 56 — KECEMBURUAN KEISHA
57
BAB 57 — AKU MEMILIH KAMU
58
BAB 58 — HARI YANG BERANTAKAN
59
BAB 59 — AKU SUKA KAMU
60
BAB 60 — RAHASIA KEDUA
61
BAB 61 — SIAPA YANG MENGAWASI KAMI?
62
BAB 62 — FOTO DARI MASA LALU
63
BAB 63 — ALASAN DI BALIK PERNIKAHAN
64
BAB 64 — ARKA MENYEMBUNYIKAN SESUATU
65
BAB 65 — PERTENGKARAN TERBESAR
66
BAB 66 — KETIKA NAYA MENGHILANG
67
BAB 67 — PENGAKUAN DITO
68
BAB 68 — AKU AKAN CERITA
69
BAB 69 — PENGIRIM SURAT
70
BAB 70 — ORANG YANG TIDAK TERDUGA
71
BAB 71 — PESAN BERIKUTNYA
72
BAB 72 — RUMAH LAMA
73
BAB 73 — SURAT DARI MASA LALU
74
BAB 74 — JAWABAN AYAH
75
BAB 75 — ARKA MEMBELA NAYA
76
BAB 76 — PILIHAN NAYA
77
BAB 77 — JANGAN PERGI DULU
78
BAB 78 — RIAN KEMBALI
79
BAB 79 — BUKAN SEKADAR PERNIKAHAN
80
BAB 80 — AKU MEMILIH KAMU
81
BAB 81 — BERITA YANG MENGGUNCANG SEKOLAH
82
BAB 82 — KAMU MENIKAH DENGAN NAYA?
83
BAB 83 — PERTANYAAN DARI TEMAN-TEMAN
84
BAB 84 — RAPAT DARURAT OSIS
85
BAB 85 — NAYA MERASA BERSALAH
86
BAB 86 — PILIHAN YANG SAMA
87
BAB 87 — SASKIA MEMBELA NAYA
88
BAB 88 — FESTIVAL KEDUA
89
BAB 89 — AKU TETAP DI SINI
90
BAB 90 — SATU RAHASIA TERAKHIR
91
BAB 91 — NAMA YANG SEHARUSNYA SUDAH HILANG
92
BAB 92 — ARSIP LAMA KELUARGA PRADIPTA
93
BAB 93 — ORANG YANG SELALU ADA DI BELAKANG
94
BAB 94 — SASKIA DAN MISI PENYELIDIKAN
95
BAB 95 — JEJAK DI PERPUSTAKAAN
96
BAB 96 — NAYA BERTENGKAR DENGAN AYAHNYA
97
BAB 97 — DI BANGKU TAMAN
98
BAB 98 — HADIAH KECIL
99
BAB 99 — FOTO TERBARU
100
BAB 100 — KEBENARAN YANG BELUM SESELESAI
101
BAB 101 — CINCIN YANG TIDAK BIASA
102
BAB 102 — TUKANG PERHIASAN TUA
103
BAB 103 — PERNIKAHAN YANG SUDAH DIRANCANG?
104
BAB 104 — FOTO KELUARGA LAMA
105
BAB 105 — SASKIA SALAH PAHAM
106
BAB 106 — ARKA MENEMUKAN SURAT KEDUA
107
BAB 107 — ORANG TERPERCAYA
108
BAB 108 — REKAMAN LAMA
109
BAB 109 — KETIKA ARKA TAKUT
110
BAB 110 — PEMILIK CINCIN SEBENARNYA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!