BAB 3 — CALON SUAMIKU ADALAH...

Seharian kemarin, Naya melakukan aksi mogok makan dan mengurung diri di kamar. Ia berharap sikap keras kepalanya akan membuat Ayah luluh, atau setidaknya mau mempertimbangkan kembali keputusan gila yang tercetus kemarin sore. Namun, pertahanan Naya hancur berantakan saat Ibu masuk ke kamarnya membawa gaun terusan warna krem polos yang anggun, lengkap dengan wajah memelas yang tidak bisa Naya tolak.

"Tolong, Naya... sekali ini aja turuti kata Ayah," bisik Maya lembut sembari mengelus rambut putrinya. "Ini bukan cuma soal janji. Keadaan keluarga kita dan keluarga Om Adrian sedang... rumit. Kamu akan mengerti nanti. Untuk malam ini, kita makan malam bersama dulu, ya?"

Dan di sinilah Naya sekarang.

Duduk canggung di ruang makan kediaman keluarga Pradipta yang megah, berjarak sekitar dua puluh menit dari rumahnya. Meja makan dari kayu mahoni berukir itu dihiasi berbagai hidangan mewah yang aroma harumnya biasanya sanggup membuat perut Naya berbunyi nyaring. Namun detik ini, tenggorokannya terasa begitu sempit hingga menelan ludah pun rasanya sakit.

Naya menunduk dalam-dalam, pura-pura sangat tertarik pada motif serbet kain di pangkuannya. Di sebelahnya, Ayah dan Ibu sedang mengobrol ramah dengan Om Adrian Pradipta—seorang pria paruh baya berwibawa dengan kacamata berbingkai tipis—serta Tante Elena, istrinya yang tampil sangat anggun dengan senyum hangat yang tak pernah pudar.

"Naya sudah makin besar ya, Raka. Cantik sekali, persis Maya waktu muda dulu," puji Tante Elena, membuat Naya menyunggingkan senyum paksa yang teramat kaku.

"Iya, Elena. Tapi sifat keras kepalanya murni diturunkan dari Raka," sahut Maya terkekeh pelan, berusaha mencairkan suasana yang Naya buat begitu tegang.

"Anak laki-laki kami juga sama keras kepalanya," Om Adrian menyela sambil menatap tangga melingkar di sudut ruang makan. "Arka mana, Ma? Kok belum turun? Padahal tadi katanya cuma mau ganti baju sebentar."

"Sebentar ya, Pa. Tante panggilkan dulu—"

"Tidak perlu, Ma. Arka sudah turun."

Suara bariton yang teratur, tenang, dan teramat familier itu membuat tubuh Naya menegang seketika.

Naya refleks mendongak. Dari arah tangga, seorang laki-laki berjalan santai menghampiri meja makan. Arka sudah melepaskan serbagam sekolahnya. Kini ia mengenakan kemeja kasual berwarna biru gelap dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana kain hitam. Rambutnya yang biasa disisir rapi agak sedikit berantakan secara alami, memberikannya kesan yang jauh lebih santai dibanding penampilannya di sekolah.

Namun bagi Naya, Arka tetaplah Arka: si manusia kaku yang menyebalkan.

Arka membungkuk sopan menyalami Raka dan Maya. "Maaf, Om, Tante... Arka terlambat turun. Tadi baru selesaikan beberapa berkas OSIS untuk besok."

"Tidak apa-apa, Arka. Kamu memang selalu rajin," puji Raka penuh kebanggaan yang membuat Naya di dalam hati ingin muntah.

Saat Arka memutar tubuhnya untuk duduk di kursi yang berseberangan tepat dengan Naya, pandangan mata kedua remaja itu akhirnya bertemu.

Clang!

Naya yang sedang memegang gelas tangkai berisi air putih secara tidak sengaja menyenggol tepi piring, menciptakan suara berdenting yang cukup nyaring. Jarinya gemetar hebat. Matanya membelalak lebar, memancarkan rasa terkejut dan kebencian yang berkobar-kobar.

Di sisi lain, Arka yang tadinya hendak menarik kursinya mendadak membeku. Ekspresi wajanya yang biasanya selalu tenang bagaikan permukaan danau tanpa angin, runtuh seketika. Ujung alisnya bertaut tajam. Pipinya menegang. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Naya melihat Arka Pradipta melotot tak percaya.

"K-kamu...?" bisik Arka pelan, hampir tak terdengar.

"Lo...?!" balas Naya dengan nada yang ditahan di tenggorokan, giginya menggeretuk sengit.

"Lho, kalian sudah saling kenal?" tanya Tante Elena sumringah, matanya berbinar melihat reaksi kedua remaja di hadapannya.

"Tentu saja kenal, Ma," jawab Om Adrian sambil terkekeh. "Mereka kan satu sekolah. Satu angkatan lagi. Pasti sering ketemu."

"Bukan cuma sering ketemu, Om," potong Naya cepat, tidak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya. Ia menegakkan punggungnya, menatap Raka dan Om Adrian secara bergantian. "Kita berdua itu musuh di sekolah! Dia ketua OSIS yang tiap hari nulis nama Naya di buku pelanggaran, dan Naya adalah orang yang paling benci sama aturan-aturan konyol dia!"

"Naya! Jaga bicaramu!" tegur Raka dengan suara menekan.

"Tapi ini beneran, Yah!" seru Naya meluapkan kekesalannya. Ia menunjuk Arka dengan jari telunjuknya. "Ayah minta Naya nikah sama dia? Sama cowok kaku yang nggak punya perasaan ini?! Mending Naya nggak usah nikah seumur hidup!"

Arka yang tadinya sempat syok, kini kembali menguasai dirinya. Ia menghela napas panjang, lalu memalingkan wajahnya menatap ayahnya sendiri dengan raut dingin.

"Papa tidak bercanda, kan?" suara Arka terdengar sangat datar, namun ada nada penolakan yang sangat kuat di sana. "Perjodohan yang Papa maksud sejak minggu lalu... adalah dengan dia?"

"Arka, dengarkan Papa dulu—"

"Pa, ini gila," potong Arka tegas. Ia melipat kedua tangannya di dada, membalas tatapan tajam Naya tanpa rasa takut sedikit pun. "Naya ini siswi paling bermasalah di angkatan kami. Dia kekanak-kanakan, emosional, tidak disiplin, dan sama sekali tidak bisa diajak bicara baik-baik. Bagaimana bisa Papa berpikiran untuk menjodohkan Arka dengan cewek seperti dia?"

"Apa lo bilang?!" Naya berdiri dari kursinya, mengebrak meja makan pelan. "Gue bermasalah?! Lo yang robot! Lo yang nggak punya empati! Lo pikir gue sudi dijodohin sama cowok kaku yang hidupnya cuma berdasarkan buku tata tertib sekolah?! Muka lo emang ganteng, tapi kelakuan lo bikin enek!"

"Naya Aurelia! Duduk!" bentak Raka, suaranya menggelegar di ruang makan.

"Arka, jaga katakatamu pada calon istrimu!" Om Adrian menimpali dengan nada tak kalah tegas.

Suasana ruang makan yang tadinya hangat langsung berubah menjadi medan perang. Maya hanya bisa memegang pelipisnya sambil mengelus dada, sementara Tante Elena justru menutup mulutnya, menahan tawa kecil yang anehnya muncul melihat dinamika heboh di depannya.

"Naya, duduk," ulang Raka dengan tatapan mata yang tidak menerima bantahan.

Naya menghentakkan kakinya kesal, lalu membanting tubuhnya kembali ke kursi. Dadanya naik turun, membusungkan amarah yang meluap-luap. Di depannya, Arka menyandarkan punggungnya di kursi, memalingkan wajah ke arah lain sambil mengurut pangkal hidungnya. Tampak jelas bahwa cowok itu juga sedang dilanda stres berat.

Om Adrian terbatuk pelan untuk meredakan ketegangan. "Ehem... Arka, Naya. Papa tahu ini mengejutkan buat kalian berdua. Apalagi kalian sudah punya pandangan tersendiri tentang satu sama lain di sekolah. Tapi keputusan ini bukan dibuat tanpa alasan."

"Alasan apa, Om?" tanya Naya tajam. "Kalau soal perusahaan atau bisnis, kenapa harus tumbalin kita berdua?"

"Ini bukan soal bisnis, Naya," sahut Raka tenang namun dalam. "Ini soal rasa tanggung jawab dan perlindungan. Kakek kalian berdua dulu punya perjanjian besar. Dan situasi keluarga saat ini menuntut janji itu harus ditepati sekarang. Kami tidak meminta kalian untuk langsung saling mencintai malam ini."

"Bahkan sampai kiamat pun nggak bakal terjadi, Yah," gumam Naya sinis.

"Arka," Om Adrian menatap putra sulungnya serius. "Sebagai laki-laki dan ketua OSIS yang selalu kamu banggakan itu, Papa harap kamu bisa dewasa menghadapi ini. Ini bukan sekadar tugas sekolah yang bisa kamu tolak kalau kamu tidak suka. Ini keputusan keluarga."

Arka memejamkan matanya rapat-rapat selama beberapa detik. Ketika ia membuka matanya kembali, pandangannya terkunci pada Naya. Ada rasa frustrasi yang sangat dalam di manik mata hitam itu, namun juga ada kepasrahan terselubung yang perlahan muncul. Arka tahu betul tabiat papanya; jika Adrian Pradipta sudah mengambil keputusan bersama Raka, tidak ada benteng argumen apa pun yang bisa meruntuhkannya.

"Kalau memang tidak bisa dibatalkan..." Arka bersuara, nadanya begitu dingin hingga membuat bulu kuduk Naya meremang. "...Arka punya syarat."

Naya menaikkan sebelah alisnya. "Gue juga punya syarat! Jangan pikir cuma lo yang punya hak buat nawar!"

Tante Elena tersenyum tipis, bertopang dagu menatap kedua anak remaja itu. "Wah, lihat Pa... baru ketemu sebentar saja mereka sudah punya kesepakatan bersama."

"Bukan kesepakatan, Tante! Ini gencatan senjata!" selak Naya cepat.

Arka tidak memedulikan pancingan Naya. Ia menatap ayahnya lurus-lurus. "Pernikahan ini harus dirahasiakan dari siapa pun. Tidak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu. Baik guru, teman-teman, maupun anggota OSIS."

Naya menahan napasnya. Untuk pertama kalinya dalam malam yang mengerikan ini, ia setuju seratus persen dengan ide Arka.

"Kalau sampai ada yang tahu..." Arka melirik Naya dengan tatapan mengancam, "...hidup kita berdua di sekolah bakal hancur. Dan saya tidak mau reputasi saya rusak cuma karena berstatus sebagai suami dari cewek pembuat masalah ini."

"Heh! Muka lo yang bakal hancur kalau orang-orang tahu ketua OSIS idaman mereka ternyata nikah sama cewek yang paling dia benci!" sembur Naya tak mau kalah.

Raka dan Adrian saling berpandangan, lalu tersenyum tipis. Sebuah kesepakatan implisit telah tercapai di antara para orang tua.

"Baik," kata Om Adrian. "Pernikahan akan digelar secara tertutup akhir minggu ini. Hanya keluarga inti yang hadir. Tapi ingat, begitu kalian resmi menikah, kalian harus tinggal di rumah ini bersama."

"WHAT?!" Naya dan Arka berteriak serentak, suara mereka bergema memenuhi seluruh ruangan.

Naya menatap Arka dengan pandangan horor, sementara Arka hanya bisa menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, menghembuskan napas berat seolah-olah seluruh beban dunia baru saja dijatuhkan di atas pundaknya.

Malam itu, Naya tahu... masa-masa SMA-nya yang damai resmi berakhir.

Episodes
1 BAB 1 — MUSUH DI DEPAN KELAS
2 BAB 2 — AYAH MEMBAWA KABAR BURUK
3 BAB 3 — CALON SUAMIKU ADALAH...
4 BAB 4 — SATU SYARAT
5 BAB 5 — PERNIKAHAN YANG TERLALU CEPAT
6 BAB 6 — KITA TINGGAL BERSAMA?
7 BAB 7 — JANGAN SAMPAI KETAHUAN!
8 BAB 8 — KETUA OSIS YANG MENYEBALKAN
9 BAB 9 — RENO DATANG
10 BAB 10 — PERASAAN YANG ANEH
11 BAB 11 — SATU PAYUNG, DUA ORANG
12 BAB 12 — SARAPAN BERUJUNG PERANG
13 BAB 13 — FOTO YANG HAMPIR MEMBONGKAR RAHASIA
14 BAB 14 — HUKUMAN UNTUK NAYA
15 BAB 15 — MELISA MULAI MENDEKAT
16 BAB 16 — RENO MEMBUAT ARKA GELISAH
17 BAB 17 — MALAM YANG MEMALUKAN
18 BAB 18 — ULANG TAHUN YANG TERLUPAKAN
19 BAB 19 — RAHASIA HAMPIR TERBONGKAR
20 BAB 20 — AKU TIDAK SUKA MELIHATMU MENANGIS
21 BAB 21 — KENAPA AKU HARUS PEDULI?
22 BAB 22 — FESTIVAL SEKOLAH
23 BAB 23 — PARTNER YANG SALAH
24 BAB 24 — CEMBURU PERTAMA
25 BAB 25 — PERANG DINGIN
26 BAB 26 — TERPAKSA BEKERJA BERSAMA
27 BAB 27 — HARI FESTIVAL
28 BAB 28 — KESALAHPAHAMAN
29 BAB 29 — PERJANJIAN YANG MULAI BERUBAH
30 BAB 30 — AKU TIDAK MAU KEHILANGANMU
31 BAB 31 — SETELAH KALIMAT ITU
32 BAB 32 — JANGAN PANGGIL AKU ISTRI
33 BAB 33 — SASKIA MULAI CURIGA
34 BAB 34 — PERTENGKARAN DI DEPAN SEKOLAH
35 BAB 35 — DEMAM
36 BAB 36 — PESAN DI TENGAH MALAM
37 BAB 37 — MELISA MENANYAKAN SESUATU
38 BAB 38 — RAHASIA DI DALAM LOKER
39 BAB 39 — AKU PERCAYA KAMU
40 BAB 40 — JANGAN PERGI
41 BAB 41 — SESEORANG DARI MASA LALU
42 BAB 42 — KENAPA AKU JADI CEMBURU?
43 BAB 43 — PERDEBATAN KONYOL
44 BAB 44 — HAMPIR TERDENGAR
45 BAB 45 — RENO MENYATAKAN PERASAANNYA
46 BAB 46 — AKU TIDAK BISA MENJAWAB
47 BAB 47 — MALAM YANG PENUH PENGAKUAN
48 BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
49 BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
50 BAB 50 — RAHASIA YANG TIDAK BISA SELAMANYA DISEMBUNYIKAN
51 BAB 51 — DOKUMEN DI TANGAN SASKIA
52 BAB 52 — AKU BISA MENJELASKAN
53 BAB 53 — SAHABAT YANG KECEWA
54 BAB 54 — ARKA MENGETAHUI SEMUANYA
55 BAB 55 — SEKARANG KAMI PUNYA SEKUTU
56 BAB 56 — KECEMBURUAN KEISHA
57 BAB 57 — AKU MEMILIH KAMU
58 BAB 58 — HARI YANG BERANTAKAN
59 BAB 59 — AKU SUKA KAMU
60 BAB 60 — RAHASIA KEDUA
61 BAB 61 — SIAPA YANG MENGAWASI KAMI?
62 BAB 62 — FOTO DARI MASA LALU
63 BAB 63 — ALASAN DI BALIK PERNIKAHAN
64 BAB 64 — ARKA MENYEMBUNYIKAN SESUATU
65 BAB 65 — PERTENGKARAN TERBESAR
66 BAB 66 — KETIKA NAYA MENGHILANG
67 BAB 67 — PENGAKUAN DITO
68 BAB 68 — AKU AKAN CERITA
69 BAB 69 — PENGIRIM SURAT
70 BAB 70 — ORANG YANG TIDAK TERDUGA
71 BAB 71 — PESAN BERIKUTNYA
72 BAB 72 — RUMAH LAMA
73 BAB 73 — SURAT DARI MASA LALU
74 BAB 74 — JAWABAN AYAH
75 BAB 75 — ARKA MEMBELA NAYA
76 BAB 76 — PILIHAN NAYA
77 BAB 77 — JANGAN PERGI DULU
78 BAB 78 — RIAN KEMBALI
79 BAB 79 — BUKAN SEKADAR PERNIKAHAN
80 BAB 80 — AKU MEMILIH KAMU
81 BAB 81 — BERITA YANG MENGGUNCANG SEKOLAH
82 BAB 82 — KAMU MENIKAH DENGAN NAYA?
83 BAB 83 — PERTANYAAN DARI TEMAN-TEMAN
84 BAB 84 — RAPAT DARURAT OSIS
85 BAB 85 — NAYA MERASA BERSALAH
86 BAB 86 — PILIHAN YANG SAMA
87 BAB 87 — SASKIA MEMBELA NAYA
88 BAB 88 — FESTIVAL KEDUA
89 BAB 89 — AKU TETAP DI SINI
90 BAB 90 — SATU RAHASIA TERAKHIR
91 BAB 91 — NAMA YANG SEHARUSNYA SUDAH HILANG
92 BAB 92 — ARSIP LAMA KELUARGA PRADIPTA
93 BAB 93 — ORANG YANG SELALU ADA DI BELAKANG
94 BAB 94 — SASKIA DAN MISI PENYELIDIKAN
95 BAB 95 — JEJAK DI PERPUSTAKAAN
96 BAB 96 — NAYA BERTENGKAR DENGAN AYAHNYA
97 BAB 97 — DI BANGKU TAMAN
98 BAB 98 — HADIAH KECIL
99 BAB 99 — FOTO TERBARU
100 BAB 100 — KEBENARAN YANG BELUM SESELESAI
101 BAB 101 — CINCIN YANG TIDAK BIASA
102 BAB 102 — TUKANG PERHIASAN TUA
103 BAB 103 — PERNIKAHAN YANG SUDAH DIRANCANG?
104 BAB 104 — FOTO KELUARGA LAMA
105 BAB 105 — SASKIA SALAH PAHAM
106 BAB 106 — ARKA MENEMUKAN SURAT KEDUA
107 BAB 107 — ORANG TERPERCAYA
108 BAB 108 — REKAMAN LAMA
109 BAB 109 — KETIKA ARKA TAKUT
110 BAB 110 — PEMILIK CINCIN SEBENARNYA
Episodes

Updated 110 Episodes

1
BAB 1 — MUSUH DI DEPAN KELAS
2
BAB 2 — AYAH MEMBAWA KABAR BURUK
3
BAB 3 — CALON SUAMIKU ADALAH...
4
BAB 4 — SATU SYARAT
5
BAB 5 — PERNIKAHAN YANG TERLALU CEPAT
6
BAB 6 — KITA TINGGAL BERSAMA?
7
BAB 7 — JANGAN SAMPAI KETAHUAN!
8
BAB 8 — KETUA OSIS YANG MENYEBALKAN
9
BAB 9 — RENO DATANG
10
BAB 10 — PERASAAN YANG ANEH
11
BAB 11 — SATU PAYUNG, DUA ORANG
12
BAB 12 — SARAPAN BERUJUNG PERANG
13
BAB 13 — FOTO YANG HAMPIR MEMBONGKAR RAHASIA
14
BAB 14 — HUKUMAN UNTUK NAYA
15
BAB 15 — MELISA MULAI MENDEKAT
16
BAB 16 — RENO MEMBUAT ARKA GELISAH
17
BAB 17 — MALAM YANG MEMALUKAN
18
BAB 18 — ULANG TAHUN YANG TERLUPAKAN
19
BAB 19 — RAHASIA HAMPIR TERBONGKAR
20
BAB 20 — AKU TIDAK SUKA MELIHATMU MENANGIS
21
BAB 21 — KENAPA AKU HARUS PEDULI?
22
BAB 22 — FESTIVAL SEKOLAH
23
BAB 23 — PARTNER YANG SALAH
24
BAB 24 — CEMBURU PERTAMA
25
BAB 25 — PERANG DINGIN
26
BAB 26 — TERPAKSA BEKERJA BERSAMA
27
BAB 27 — HARI FESTIVAL
28
BAB 28 — KESALAHPAHAMAN
29
BAB 29 — PERJANJIAN YANG MULAI BERUBAH
30
BAB 30 — AKU TIDAK MAU KEHILANGANMU
31
BAB 31 — SETELAH KALIMAT ITU
32
BAB 32 — JANGAN PANGGIL AKU ISTRI
33
BAB 33 — SASKIA MULAI CURIGA
34
BAB 34 — PERTENGKARAN DI DEPAN SEKOLAH
35
BAB 35 — DEMAM
36
BAB 36 — PESAN DI TENGAH MALAM
37
BAB 37 — MELISA MENANYAKAN SESUATU
38
BAB 38 — RAHASIA DI DALAM LOKER
39
BAB 39 — AKU PERCAYA KAMU
40
BAB 40 — JANGAN PERGI
41
BAB 41 — SESEORANG DARI MASA LALU
42
BAB 42 — KENAPA AKU JADI CEMBURU?
43
BAB 43 — PERDEBATAN KONYOL
44
BAB 44 — HAMPIR TERDENGAR
45
BAB 45 — RENO MENYATAKAN PERASAANNYA
46
BAB 46 — AKU TIDAK BISA MENJAWAB
47
BAB 47 — MALAM YANG PENUH PENGAKUAN
48
BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
49
BAB 49 — PERTANYAAN YANG MENAKUTKAN
50
BAB 50 — RAHASIA YANG TIDAK BISA SELAMANYA DISEMBUNYIKAN
51
BAB 51 — DOKUMEN DI TANGAN SASKIA
52
BAB 52 — AKU BISA MENJELASKAN
53
BAB 53 — SAHABAT YANG KECEWA
54
BAB 54 — ARKA MENGETAHUI SEMUANYA
55
BAB 55 — SEKARANG KAMI PUNYA SEKUTU
56
BAB 56 — KECEMBURUAN KEISHA
57
BAB 57 — AKU MEMILIH KAMU
58
BAB 58 — HARI YANG BERANTAKAN
59
BAB 59 — AKU SUKA KAMU
60
BAB 60 — RAHASIA KEDUA
61
BAB 61 — SIAPA YANG MENGAWASI KAMI?
62
BAB 62 — FOTO DARI MASA LALU
63
BAB 63 — ALASAN DI BALIK PERNIKAHAN
64
BAB 64 — ARKA MENYEMBUNYIKAN SESUATU
65
BAB 65 — PERTENGKARAN TERBESAR
66
BAB 66 — KETIKA NAYA MENGHILANG
67
BAB 67 — PENGAKUAN DITO
68
BAB 68 — AKU AKAN CERITA
69
BAB 69 — PENGIRIM SURAT
70
BAB 70 — ORANG YANG TIDAK TERDUGA
71
BAB 71 — PESAN BERIKUTNYA
72
BAB 72 — RUMAH LAMA
73
BAB 73 — SURAT DARI MASA LALU
74
BAB 74 — JAWABAN AYAH
75
BAB 75 — ARKA MEMBELA NAYA
76
BAB 76 — PILIHAN NAYA
77
BAB 77 — JANGAN PERGI DULU
78
BAB 78 — RIAN KEMBALI
79
BAB 79 — BUKAN SEKADAR PERNIKAHAN
80
BAB 80 — AKU MEMILIH KAMU
81
BAB 81 — BERITA YANG MENGGUNCANG SEKOLAH
82
BAB 82 — KAMU MENIKAH DENGAN NAYA?
83
BAB 83 — PERTANYAAN DARI TEMAN-TEMAN
84
BAB 84 — RAPAT DARURAT OSIS
85
BAB 85 — NAYA MERASA BERSALAH
86
BAB 86 — PILIHAN YANG SAMA
87
BAB 87 — SASKIA MEMBELA NAYA
88
BAB 88 — FESTIVAL KEDUA
89
BAB 89 — AKU TETAP DI SINI
90
BAB 90 — SATU RAHASIA TERAKHIR
91
BAB 91 — NAMA YANG SEHARUSNYA SUDAH HILANG
92
BAB 92 — ARSIP LAMA KELUARGA PRADIPTA
93
BAB 93 — ORANG YANG SELALU ADA DI BELAKANG
94
BAB 94 — SASKIA DAN MISI PENYELIDIKAN
95
BAB 95 — JEJAK DI PERPUSTAKAAN
96
BAB 96 — NAYA BERTENGKAR DENGAN AYAHNYA
97
BAB 97 — DI BANGKU TAMAN
98
BAB 98 — HADIAH KECIL
99
BAB 99 — FOTO TERBARU
100
BAB 100 — KEBENARAN YANG BELUM SESELESAI
101
BAB 101 — CINCIN YANG TIDAK BIASA
102
BAB 102 — TUKANG PERHIASAN TUA
103
BAB 103 — PERNIKAHAN YANG SUDAH DIRANCANG?
104
BAB 104 — FOTO KELUARGA LAMA
105
BAB 105 — SASKIA SALAH PAHAM
106
BAB 106 — ARKA MENEMUKAN SURAT KEDUA
107
BAB 107 — ORANG TERPERCAYA
108
BAB 108 — REKAMAN LAMA
109
BAB 109 — KETIKA ARKA TAKUT
110
BAB 110 — PEMILIK CINCIN SEBENARNYA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!