Debat Kusir di Tengah Kepungan Pendekar

Suara desir angin malam di Hutan Bambu Kabut Putih mendadak terasa jauh lebih sunyi dari yang seharusnya. Di hadapanku, atmosfer dingin yang dipancarkan oleh Kang Hyu-Jin berbenturan hebat dengan aura santai namun berbahaya dari Lee Do-Yun.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Ya ampun, Tuhan... Ini suasananya kayak sidang skripsi tapi yang menguji dua psikopat berdarah dingin. Bisa nggak sih aku minta cuti dari novel ini? Tolong kembalikan aku ke kasur kos!”

Aku berdiri di antara mereka berdua, merapatkan jubah kain kasar Sekte Dewa Langit ke tubuhku untuk menahan sisa-sisa hawa es yang masih merayap. Otakku berputar seribu keliling, mencari celah untuk kabur sebelum salah satu dari mereka kehilangan kesabaran dan membuat kepalaku terpisah dari badan.

Namun, seolah penderitaan malam ini belum cukup lengkap untuk membuatku jantungan, sebuah suara bariton yang berat dan penuh wibawa tiba-tiba membelah kegelapan dari arah barat hutan bambu.

"Sudah cukup drama murahan di tengah hutan ini. Berhenti mempermalukan diri kalian sendiri, Hyu-Jin, Do-Yun."

Deg!

Suhu udara yang tadinya membeku mendadak kembali normal, berganti dengan tekanan Qi yang begitu berat hingga membuat lututku hampir lemas seketika.

Dari balik bayangan dahan pohon pinus tertinggi, sesosok pria berpostur tegap melangkah turun tanpa suara. Ia mengenakan jubah resmi berwarna hitam legam dengan sulaman benang emas di kerahnya—lambang kehormatan tertinggi dari Sekte Pedang Langit Biru. Wajahnya tampan, tegas, dan memancarkan aura seorang pemimpin mutlak yang tak kenal kompromi.

Choi Min-Hyuk. Kakak kandung dari Choi Seo-Yeon, sekaligus senior paling dihormati di sekte tersebut.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Wah, lengkap sudah! Ini arisan keluarga besar atau apa? Kenapa semua tokoh penting yang harusnya sibuk di markas utama malah nongkrong di sini malam-malam begini?!”

Min-Hyuk melangkah mendekat dengan tatapan tajam menghujam lurus ke arahku. Matanya menyipit, menilai penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki—terutama lencana Sekte Dewa Langit yang terpasang di dada jubahku.

"Han So-Bin," panggil Min-Hyuk dengan suara berat yang menggelegar di keheningan malam. "Apa yang merasukimu hingga berani menanggalkan lencana sekte kita dan kabur membawa diri ke sarang musuh? Kau tahu betul aturan perguruan melarang keras tindakan pembangkangan semacam ini."

Aku meneguk ludahku yang terasa kering. Menghadapi Kang Hyu-Jin saja sudah membuat nyawaku di ujung tanduk, sekarang ditambah Choi Min-Hyuk yang terkenal paling disiplin dan kejam dalam menegakkan hukum sekte. Tamatlah riwayatku!

"Senior Choi..." cicitku pelan, berusaha memasang wajah selugu dan seaman mungkin. "Aku hanya... um, berniat mencari pencerahan batin di luar? Udara di Sekte Pedang Langit Biru terlalu dingin untuk paru-paruku!"

(Batin Diah / Han So-Bin): “Alasan macam apa itu, Diah?! Mau bohong juga otakku nggak sanggup mikir yang elegan!”

Choi Min-Hyuk mendengus dingin. Ia melirik sekilas ke arah adiknya—meski sang adik tidak ada di tempat, nama Choi Seo-Yeon selalu membawa beban tersendiri bagi para pria di novel ini. Min-Hyuk tahu persis bahwa Hyu-Jin seharusnya fokus pada Seo-Yeon, bukan malah memburu figuran tidak penting sepertiku.

"Pencerahan batin katamu?" Min-Hyuk mengangkat sebelah alisnya, lalu menatap tajam ke arah Hyu-Jin dan Do-Yun secara bergantian. "Alasan yang konyol. Tapi lebih konyol lagi melihat Pendekar Es dan pewaris kedua Sekte Pedang Langit Biru mengejar seorang murid rendahan hingga melintasi perbatasan wilayah."

Kang Hyu-Jin tidak mengindahkan sindiran Min-Hyuk. Pria berambut hitam itu kembali melangkah mendekatiku, mengabaikan jarak aman. Tatapannya sama sekali tidak lepas dari mataku, seolah dunia di sekitar kami telah lenyap dan yang tersisa hanya aku dan dirinya.

"Aku tidak peduli pada aturan sekte, Min-Hyuk," ucap Hyu-Jin dingin, suaranya mengandung ancaman mutlak yang membuat udara di sekitar kami kembali bergemeretak. "Katakan apa yang harus kukorbankan agar kau membiarkanku membawa So-Bin kembali ke kediamanku."

Lee Do-Yun, yang sejak tadi berdiri santai dengan kipas lipatnya, langsung menutup kipas itu dengan suara klik yang cukup keras. Senyum main-main di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh tatapan serius yang jarang ia tunjukkan.

"Pelan-pelan, Hyu-Jin," suara Do-Yun berubah tegas, tidak lagi bernada mengejek. Ia melangkah maju, berdiri tepat di sampingku seolah menegaskan statusnya. "Jangan lupa posisimu. Dia adalah tunanganku secara sah di hadapan para tetua. Sekalipun kau pendekar terkuat di dataran tengah, kau tidak berhak merampas apa yang menjadi milikku."

Atmosfer di antara mereka bertiga langsung menegang seketika. Percikan-percikan tenaga dalam mulai beradu di udara, menciptakan tekanan tak kasat mata yang membuat dada sesak.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Ya ampun! Ini kenapa jadi perebutan hak asuh anak begini?! Aku ini manusia, bukan barang sitaan pasar gelap! Kenapa kalian malah bertengkar di atasku?!”

Aku menatap Min-Hyuk, berharap sang senior yang berwibawa itu bisa melerai kegilaan ini dan menyuruh mereka pulang. Namun, Min-Hyuk justru menghela napas panjang, memijat pelipisnya seolah-olah ia sedang menghadapi masalah administratif yang paling melelahkan sepanjang hidupnya.

"Kalian berdua benar-benar sudah kehilangan akal sehat," geram Min-Hyuk, menatap Hyu-Jin dan Do-Yun dengan pandangan jengkel. "Hyu-Jin memiliki tanggung jawab besar melindungi dunia persilatan dari ancaman Sekte Sesat, dan kau, Do-Yun, seharusnya mengurus urusan administrasi internal alih-alih mengejar wanita yang jelas-jelas berniat kabur dari kalian."

Min-Hyuk kemudian mengalihkan pandangannya tajam kepadaku. Sorot matanya membuatku merinding ketakutan.

"Dan kau, Han So-Bin," lanjut Min-Hyuk dengan suara dingin bernada mutlak. "Karena kau telah membuat kekacauan besar di kalangan murid utama dan melanggar sumpah perguruan, kau tidak bisa begitu saja memilih pergi ke Sekte Dewa Langit."

Jantungku berdegup kencang hingga rasanya mau loncat keluar dari dada.

"Lalu... lalu aku harus bagaimana, Senior Choi?" tanyaku gemetar, benar-benar pasrah jika detik ini juga aku ditebas jadi dua.

Min-Hyuk menyilangkan kedua tangannya di dada, menatapku lurus-lurus sebelum menjatuhkan vonis yang membuat seluruh darahku mendadak berhenti mengalir.

"Kau harus ikut kembali ke markas utama di bawah pengawasan ketat. Dan status pertunanganmu dengan Do-Yun... akan ditinjau ulang langsung oleh para tetua agung besok pagi."

(Batin Diah / Han So-Bin): “Tinjau ulang? Yang benar saja! Kalau aku balik ke sana, nasibku cuma tinggal nama doang di nisan! Lebih baik aku pura-pura pingsan sekarang!”

Sebelum aku sempat benar-benar merebahkan diri ke tanah dan pura-pura mati, Kang Hyu-Jin sudah lebih dulu bergerak cepat. Pria itu menyambar pergelangan tanganku, menarik tubuhku merapat ke dadanya dengan kekuatan mutlak yang tidak bisa dilawan. Suhu tubuhnya yang sedingin es langsung berpadu dengan kepanikanku yang luar biasa.

"Jangan harap ada yang bisa membawanya kembali ke markas utama selain aku," bisik Hyu-Jin tepat di dekat telingaku, suaranya begitu rendah, posesif, dan sukses membuat bulu kudukku berdiri serempak.

Do-Yun mendengus tajam, sementara Min-Hyuk mengangkat pedangnya setengah inch dari sarungnya, bersiap menghadapi apa pun kekacauan yang akan terjadi selanjutnya di bawah cahaya rembulan Gangho yang semakin temaram.

Episodes
1 Bayang-Bayang Pedang Es di Bawah Rembulan Gangho
2 Debat Kusir di Tengah Kepungan Pendekar
3 Guntur di Hutan Bambu dan Keputusan Mutlak
4 Bangkitnya Lima Elemen yang Terpendam
5 Badai Lima Elemen dan Kekacauan di Dataran Tengah
6 Memilih Jalan Berbeda di Persimpangan Gangho
7 Fajar Baru di Gerbang Sekte dan Janji di Bawah Langit Pucat
8 Sesi Sidang Para Tetua dan Kepribadian Asli Sang Figuran
9 Kemunculan Sang Pendekar Es di Tengah Sidang Dewan Tetua
10 Suara Mutlak Sang Figuran
11 Kemunculan Sang Pemeran Utama Wanita dan Pertemuan Tak Terduga
12 Langkah Keluar Menuju Dunia Luar
13 Candaan Terakhir Sebelum Perpisahan
14 Denyut Asing di Balik Jubah Hitam
15 Keputusan Dua Pendekar dan Awal Pengejaran
16 Pertanyaan di Bawah Temaram Senja
17 Bayangan di Balik Malam dan Janji yang Diuji
18 Pengakuan di Bawah Cahaya Bara Api
19 Proyeksi Konyol di Tengah Hutan
20 Batasan Tegas di Tengah Hutan
21 Godaan sang Pendekar Es di Pagi Buta
22 Perjalanan Lintas Provinsi dan Gangguan di Kedai Kecil
23 Abu Es dan Teh yang Nyaris Dingin
24 Pertanyaan di Bawah Naungan Pohon Pinus
25 Bayangan Choi Seo-Yeon yang Terlupakan
26 Lingkar Hangat di Sekitar Bara Api
27 Pengakuan di Balik Bara Api
28 Tiga Calon Menantu di Hadapan Ayah
29 Salah Alamat di Ujung Peta
30 Jejak Masa Lalu di Kota Batu Putih
31 Sesi Latihan Darurat di Tepi Jurang
32 Sumpah di Atas Jurang Batu Putih
33 Ujian Tersembunyi di Tengah Hutan Berkabut
34 Bilah Kristal di Bawah Kanopi Hutan
35 Candaan Ringan di Tengah Embun Beku
36 Kejujuran di Bawah Langit Senja
37 Impian di Atas Debu Kota Batu Putih
38 Bayangan di Balik Tembok Batu Putih
39 Bayangan di Balik Lorong Sempit
40 Darah di Atas Salju Kristal
41 Pertemuan di Balik Pintu Besi
42 Debat Sengit di Ruang Bawah Tanah
43 Badai di Gerbang Timur
44 Fajar Baru di Atas Reruntuhan
45 Di Bawah Langit Pegunungan Awan Biru
46 Harga Sebuah Kesetiaan
47 Di Bawah Rembulan yang Berbisik
48 Cahaya di Balik Pintu Gerbang Langit
49 Labirin Bayangan dan Kejujuran Hati
50 Protes Manis di Ambang Kemenangan
51 Di Bawah Langit yang Menjanjikan
52 Dilema Usia dan Rencana yang Terpangkas
53 Bayangan Masa Lalu dan Badai di Ambang Pintu
54 Ketegangan di Balik Bayang-Bayang
55 Strategi Terbalik di Bawah Sinar Rembulan
56 Kejaran di Bawah Cahaya Bulan
57 Simpul Janji di Ujung Es
58 Keputusan di Meja Bundar
59 Debat Hanbok dan Sentuhan Modern Sang Transmigran
60 Kejutan di Hari Resepsi dan Reaksi Tiga Suami
61 Badai Kelembutan di Balik Pintu Tertutup
62 Pagi yang Kacau dan Protes Sang Istri
63 Puisi, Anggur, dan Kunci Rahasia Hati
64 Pelukan Sunyi dan Fajar Ketiga di Sisi Min-Hyuk
65 Rahasia Masa Lalu dan Pengakuan di Balik Dinding Bambu
66 Pikiran Panik di Tengah Hari yang Tenang
67 Pertanyaan di Bawah Pohon Persik dan Keputusan Tak Terelakkan
68 Badai Pagi dan Kenyataan yang Tak Terelakkan
69 Senyum Manis di Balik Racun Mematikan
70 Langit Runtuh di Kediaman Han
71 Pertemuan Dua Jiwa di Ambang Batas Kematian
72 Kembalinya Sang Pemilik Asli dan Keajaiban di Ujung Maut
73 Bau Rumah Sakit dan Tiga Pemuda Misterius
74 Pertemuan di Dunia Nyata dan Tiga Wajah yang Dirindukan
75 Babak Baru di Dua Dunia yang Berbeda
76 Quotes karakter
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Bayang-Bayang Pedang Es di Bawah Rembulan Gangho
2
Debat Kusir di Tengah Kepungan Pendekar
3
Guntur di Hutan Bambu dan Keputusan Mutlak
4
Bangkitnya Lima Elemen yang Terpendam
5
Badai Lima Elemen dan Kekacauan di Dataran Tengah
6
Memilih Jalan Berbeda di Persimpangan Gangho
7
Fajar Baru di Gerbang Sekte dan Janji di Bawah Langit Pucat
8
Sesi Sidang Para Tetua dan Kepribadian Asli Sang Figuran
9
Kemunculan Sang Pendekar Es di Tengah Sidang Dewan Tetua
10
Suara Mutlak Sang Figuran
11
Kemunculan Sang Pemeran Utama Wanita dan Pertemuan Tak Terduga
12
Langkah Keluar Menuju Dunia Luar
13
Candaan Terakhir Sebelum Perpisahan
14
Denyut Asing di Balik Jubah Hitam
15
Keputusan Dua Pendekar dan Awal Pengejaran
16
Pertanyaan di Bawah Temaram Senja
17
Bayangan di Balik Malam dan Janji yang Diuji
18
Pengakuan di Bawah Cahaya Bara Api
19
Proyeksi Konyol di Tengah Hutan
20
Batasan Tegas di Tengah Hutan
21
Godaan sang Pendekar Es di Pagi Buta
22
Perjalanan Lintas Provinsi dan Gangguan di Kedai Kecil
23
Abu Es dan Teh yang Nyaris Dingin
24
Pertanyaan di Bawah Naungan Pohon Pinus
25
Bayangan Choi Seo-Yeon yang Terlupakan
26
Lingkar Hangat di Sekitar Bara Api
27
Pengakuan di Balik Bara Api
28
Tiga Calon Menantu di Hadapan Ayah
29
Salah Alamat di Ujung Peta
30
Jejak Masa Lalu di Kota Batu Putih
31
Sesi Latihan Darurat di Tepi Jurang
32
Sumpah di Atas Jurang Batu Putih
33
Ujian Tersembunyi di Tengah Hutan Berkabut
34
Bilah Kristal di Bawah Kanopi Hutan
35
Candaan Ringan di Tengah Embun Beku
36
Kejujuran di Bawah Langit Senja
37
Impian di Atas Debu Kota Batu Putih
38
Bayangan di Balik Tembok Batu Putih
39
Bayangan di Balik Lorong Sempit
40
Darah di Atas Salju Kristal
41
Pertemuan di Balik Pintu Besi
42
Debat Sengit di Ruang Bawah Tanah
43
Badai di Gerbang Timur
44
Fajar Baru di Atas Reruntuhan
45
Di Bawah Langit Pegunungan Awan Biru
46
Harga Sebuah Kesetiaan
47
Di Bawah Rembulan yang Berbisik
48
Cahaya di Balik Pintu Gerbang Langit
49
Labirin Bayangan dan Kejujuran Hati
50
Protes Manis di Ambang Kemenangan
51
Di Bawah Langit yang Menjanjikan
52
Dilema Usia dan Rencana yang Terpangkas
53
Bayangan Masa Lalu dan Badai di Ambang Pintu
54
Ketegangan di Balik Bayang-Bayang
55
Strategi Terbalik di Bawah Sinar Rembulan
56
Kejaran di Bawah Cahaya Bulan
57
Simpul Janji di Ujung Es
58
Keputusan di Meja Bundar
59
Debat Hanbok dan Sentuhan Modern Sang Transmigran
60
Kejutan di Hari Resepsi dan Reaksi Tiga Suami
61
Badai Kelembutan di Balik Pintu Tertutup
62
Pagi yang Kacau dan Protes Sang Istri
63
Puisi, Anggur, dan Kunci Rahasia Hati
64
Pelukan Sunyi dan Fajar Ketiga di Sisi Min-Hyuk
65
Rahasia Masa Lalu dan Pengakuan di Balik Dinding Bambu
66
Pikiran Panik di Tengah Hari yang Tenang
67
Pertanyaan di Bawah Pohon Persik dan Keputusan Tak Terelakkan
68
Badai Pagi dan Kenyataan yang Tak Terelakkan
69
Senyum Manis di Balik Racun Mematikan
70
Langit Runtuh di Kediaman Han
71
Pertemuan Dua Jiwa di Ambang Batas Kematian
72
Kembalinya Sang Pemilik Asli dan Keajaiban di Ujung Maut
73
Bau Rumah Sakit dan Tiga Pemuda Misterius
74
Pertemuan di Dunia Nyata dan Tiga Wajah yang Dirindukan
75
Babak Baru di Dua Dunia yang Berbeda
76
Quotes karakter

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!