Guntur di Hutan Bambu dan Keputusan Mutlak

Suara bilah pedang yang bergesekan dengan sarungnya berderak nyaring, memecah kesunyian malam di Hutan Bambu Kabut Putih. Tekanan tenaga dalam dari tiga pendekar hebat itu menciptakan badai angin kecil yang membuat jubahku berkibar liar.

Aku, Diah yang terperangkap dalam raga Han So-Bin, sudah berada di ambang batas kewarasan. Di dunia nyata, masalah terbesar dalam hidupku paling-paling revisi skripsi atau deadline kerjaan kantor. Tapi di sini? Aku dikepung oleh tiga tokoh utama pria novel Murim yang siap saling bunuh hanya karena memperebutkan seorang figuran sialan yang bahkan tidak ingin ada di dekat mereka!

(Batin Diah / Han So-Bin): “Cukup sudah! Aku tidak mau mati sia-sia jadi korban drama cinta segitiga berdarah ini. Kalau aku terus diam, nyawaku bakal melayang sebelum sempat melihat matahari terbit besok pagi!”

Dengan sisa-sisa keberanian yang kumiliki, aku mengerahkan seluruh tenaga dalam dari tubuh asli ini, meronta dengan sekuat tenaga hingga cengkeraman tangan Kang Hyu-Jin di pergelangan tanganku terlepas. Aku melompat mundur beberapa langkah, mengambil jarak aman di antara mereka bertiga.

Napas tersengal, dadaku naik turun menahan amarah dan rasa frustrasi yang sudah mencapai ubun-ubun. Kupelototi mereka satu per satu—mulai dari Hyu-Jin yang menatapku dengan mata penuh obsesi dingin, Do-Yun yang menyipitkan mata dengan kipas terlipat, hingga Min-Hyuk yang berdiri tegak dengan wajah kaku penuh wibawa.

"Lebih baik batalkan pertunangan ini dan keluarkan aku dari Sekte Pedang Langit Biru. Aku tidak memilih siapa pun!"

Suaraku menggema di tengah rimbunnya pohon bambu, tajam dan penuh penegasan. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku, mutlak dan tanpa ragu.

Seketika, suasana di sekitar kami berubah menjadi sunyi senyap. Angin malam yang tadinya menderu kencang mendadak berhenti berhembus. Waktu rasanya berhenti selama beberapa detik. Ketiga pendekar terkuat di dataran tengah itu mematung, menatapku dengan ekspresi terkejut yang belum pernah mereka tunjukkan sebelumnya.

Di dalam novel aslinya, Han So-Bin digambarkan sebagai gadis bodoh yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan perhatian Kang Hyu-Jin, sekaligus patuh pada ikatan pertunangan dengan Lee Do-Yun demi ambisi keluarga. Dia tidak pernah membangkang, apalagi menolak keduanya secara terang-terangan di hadapan publik Gangho.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Biarin dikira lancang! Daripada aku harus terjebak dalam lingkaran setan yang ujung-ujungnya bikin kepalaku dipenggal, lebih baik aku jadi pengangguran bebas tanpa status sekte!”

Kang Hyu-Jin adalah orang pertama yang bereaksi. Alis tajamnya berkerut dalam, dan sepasang mata kelamnya menatapku lekat-lekat, seolah ia sedang mencoba mencari kebohongan di balik sorot mataku.

"Apa yang baru saja kau katakan, So-Bin?" Suara Hyu-Jin terdengar rendah, berbahaya, dan bergetar tipis menahan emosi yang siap meledak. "Membatalkan pertunangan? Keluar dari sekte? Kau pikir dunia persilatan ini tempat bermain yang bisa kau tinggalkan begitu saja sesukamu?"

"Kenapa tidak?!" tukasku sengit, menatap balik tanpa rasa takut. "Aku tidak peduli dengan status, tidak peduli dengan pertunangan kolot itu, dan aku seratus persen tidak punya niat untuk jadi bagian dari kisah kalian! Kalian mau saling bunuh? Silakan! Tapi jauhkan aku dari urusan kalian!"

Lee Do-Yun perlahan menurunkan kipas lipatnya. Senyum main-main di wajahnya lenyap sepenuhnya, digantikan oleh tatapan rumit yang sulit diartikan. Pria itu melangkah maju satu langkah, menatapku dengan sorot mata yang menyiratkan rasa tidak percaya.

"Han So-Bin..." Do-Yun bersuara, nadanya terdengar jauh lebih serius dari sebelumnya. "Kau sadar dengan konsekuensi ucapanmu? Begitu kau memutuskan keluar dari Sekte Pedang Langit Biru dan memutuskan pertunangan kita, kau tidak akan punya perlindungan apa pun di dunia Gangho. Aliran sesat dan para pemburu bayaran bisa memangsamu kapan saja."

"Biar saja!" potongku cepat. "Setidaknya aku mati sebagai diriku sendiri, bukan mati karena jadi tumbal cerita kalian!"

Choi Min-Hyuk, yang sejak tadi hanya menyimak dengan tangan bersilang di dada, akhirnya membuka suara. Wajahnya yang tegas tampak mengeras, memancarkan wibawa seorang pemimpin senior yang menjunjung tinggi aturan perguruan.

"Ucapanmu adalah bentuk pengkhianatan terhadap sumpah leluhur sekte, So-Bin," ucap Min-Hyuk dingin, suaranya menggelegar bagai guntur kecil di malam hari. "Sekte Pedang Langit Biru tidak pernah melepas begitu saja murid yang keluar dengan niat membangkang. Jika kau bersikeras, maka kau harus melewati hukuman disiplin berat terlebih dahulu."

(Batin Diah / Han So-Bin): “Hukuman disiplin? Yang benar saja! Bisa-bisa tulangku remuk sebelum sempat kabur ke Sekte Dewa Langit!”

Sebelum Min-Hyuk sempat mengangkat tangannya untuk memberi isyarat kepada para pengawal bayangan sekte, Kang Hyu-Jin bergerak dengan kecepatan kilat yang tidak bisa ditangkap oleh mata biasa.

Syuuung!

Dalam sepersekian detik, Hyu-Jin sudah berdiri tepat di hadapanku. Sebelum aku sempat melangkah mundur, tangan dinginnya mencengkeram kedua bahuku dengan lembut namun tegas—kunci pertahanan yang tidak memberiku celah untuk lari.

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke mana pun, So-Bin," bisik Hyu-Jin tepat di depan telingaku, suaranya begitu intens hingga membuat bulu kuduku merinding seketika. "Jika kau tidak mau kembali ke Sekte Pedang Langit Biru, dan jika kau menolak pertunangan dengan Do-Yun... maka aku akan membawamu ke tempat di mana tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menemukan kita."

Mendengar ancaman posesif itu, mata Lee Do-Yun melebar. Pria itu langsung menghunus pedangnya setengah inch, memancarkan aura permusuhan yang pekat.

"Jangan gila, Hyu-Jin!" seru Do-Yun tajam. "Kau tidak bisa membawanya pergi begitu saja! Dia masih tunanganku secara hukum adat!"

"Hentikan omong kosong kalian berdua!" Min-Hyuk ikut menghunus pedangnya, menatap kedua rekannya dengan amarah yang tertahan. "Kalian berdua benar-benar sudah mencoreng kehormatan Sekte Pedang Langit Biru malam ini!"

(Batin Diah / Han So-Bin): “Ya ampun... Ini bukan lagi drama romantis, tapi mau tawuran massal tingkat tinggi! Kenapa nasibku jadi se-epos ini sih?!”

Aku meronta di dalam cengkeraman Hyu-Jin, mencoba melepaskan diri dari situasi gila yang semakin tidak terkendali ini. Namun, di tengah kekacauan itu, sebuah getaran aneh tiba-tiba terasa bergemuruh dari dalam tanah.

Bukan lagi hawa es milik Hyu-Jin, melainkan getaran gelap dan pekat yang berbau darah serta kematian.

Suhu di sekitar hutan bambu mendadak berubah menjadi panas membara, lalu berubah dingin ekstrem dalam waktu bersamaan. Daun-daun bambu yang tadinya hijau segar, dalam hitungan detik berubah menjadi kehitaman dan membusuk seketika.

Hyu-Jin, Do-Yun, dan Min-Hyuk seketika menghentikan perdebatan mereka. Wajah ketiga pendekar hebat itu berubah drastis menjadi tegang, mata mereka tajam memandangi kegelapan malam di ujung barat hutan.

"Aura ini..." gumam Min-Hyuk pelan, wajahnya sepucat kertas. "Aliran Sesat Darah Hitam..."

(Batin Diah / Han So-Bin): “Hah? Aliran Sesat?! Tunggu dulu, di plot aslinya serangan ini harusnya baru muncul tiga bab lagi setelah insiden di kota! Kenapa sekarang mereka sudah muncul di sini?!”

Sebelum ada dari kami yang sempat menarik napas, puluhan bayangan hitam dengan topeng iblis bermunculan di atas dahan-dahan bambu, mengepung kami rapat-rapat dengan bilah pedang berlumur racun ungu yang mematikan.

Pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai.

Episodes
1 Bayang-Bayang Pedang Es di Bawah Rembulan Gangho
2 Debat Kusir di Tengah Kepungan Pendekar
3 Guntur di Hutan Bambu dan Keputusan Mutlak
4 Bangkitnya Lima Elemen yang Terpendam
5 Badai Lima Elemen dan Kekacauan di Dataran Tengah
6 Memilih Jalan Berbeda di Persimpangan Gangho
7 Fajar Baru di Gerbang Sekte dan Janji di Bawah Langit Pucat
8 Sesi Sidang Para Tetua dan Kepribadian Asli Sang Figuran
9 Kemunculan Sang Pendekar Es di Tengah Sidang Dewan Tetua
10 Suara Mutlak Sang Figuran
11 Kemunculan Sang Pemeran Utama Wanita dan Pertemuan Tak Terduga
12 Langkah Keluar Menuju Dunia Luar
13 Candaan Terakhir Sebelum Perpisahan
14 Denyut Asing di Balik Jubah Hitam
15 Keputusan Dua Pendekar dan Awal Pengejaran
16 Pertanyaan di Bawah Temaram Senja
17 Bayangan di Balik Malam dan Janji yang Diuji
18 Pengakuan di Bawah Cahaya Bara Api
19 Proyeksi Konyol di Tengah Hutan
20 Batasan Tegas di Tengah Hutan
21 Godaan sang Pendekar Es di Pagi Buta
22 Perjalanan Lintas Provinsi dan Gangguan di Kedai Kecil
23 Abu Es dan Teh yang Nyaris Dingin
24 Pertanyaan di Bawah Naungan Pohon Pinus
25 Bayangan Choi Seo-Yeon yang Terlupakan
26 Lingkar Hangat di Sekitar Bara Api
27 Pengakuan di Balik Bara Api
28 Tiga Calon Menantu di Hadapan Ayah
29 Salah Alamat di Ujung Peta
30 Jejak Masa Lalu di Kota Batu Putih
31 Sesi Latihan Darurat di Tepi Jurang
32 Sumpah di Atas Jurang Batu Putih
33 Ujian Tersembunyi di Tengah Hutan Berkabut
34 Bilah Kristal di Bawah Kanopi Hutan
35 Candaan Ringan di Tengah Embun Beku
36 Kejujuran di Bawah Langit Senja
37 Impian di Atas Debu Kota Batu Putih
38 Bayangan di Balik Tembok Batu Putih
39 Bayangan di Balik Lorong Sempit
40 Darah di Atas Salju Kristal
41 Pertemuan di Balik Pintu Besi
42 Debat Sengit di Ruang Bawah Tanah
43 Badai di Gerbang Timur
44 Fajar Baru di Atas Reruntuhan
45 Di Bawah Langit Pegunungan Awan Biru
46 Harga Sebuah Kesetiaan
47 Di Bawah Rembulan yang Berbisik
48 Cahaya di Balik Pintu Gerbang Langit
49 Labirin Bayangan dan Kejujuran Hati
50 Protes Manis di Ambang Kemenangan
51 Di Bawah Langit yang Menjanjikan
52 Dilema Usia dan Rencana yang Terpangkas
53 Bayangan Masa Lalu dan Badai di Ambang Pintu
54 Ketegangan di Balik Bayang-Bayang
55 Strategi Terbalik di Bawah Sinar Rembulan
56 Kejaran di Bawah Cahaya Bulan
57 Simpul Janji di Ujung Es
58 Keputusan di Meja Bundar
59 Debat Hanbok dan Sentuhan Modern Sang Transmigran
60 Kejutan di Hari Resepsi dan Reaksi Tiga Suami
61 Badai Kelembutan di Balik Pintu Tertutup
62 Pagi yang Kacau dan Protes Sang Istri
63 Puisi, Anggur, dan Kunci Rahasia Hati
64 Pelukan Sunyi dan Fajar Ketiga di Sisi Min-Hyuk
65 Rahasia Masa Lalu dan Pengakuan di Balik Dinding Bambu
66 Pikiran Panik di Tengah Hari yang Tenang
67 Pertanyaan di Bawah Pohon Persik dan Keputusan Tak Terelakkan
68 Badai Pagi dan Kenyataan yang Tak Terelakkan
69 Senyum Manis di Balik Racun Mematikan
70 Langit Runtuh di Kediaman Han
71 Pertemuan Dua Jiwa di Ambang Batas Kematian
72 Kembalinya Sang Pemilik Asli dan Keajaiban di Ujung Maut
73 Bau Rumah Sakit dan Tiga Pemuda Misterius
74 Pertemuan di Dunia Nyata dan Tiga Wajah yang Dirindukan
75 Babak Baru di Dua Dunia yang Berbeda
76 Quotes karakter
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Bayang-Bayang Pedang Es di Bawah Rembulan Gangho
2
Debat Kusir di Tengah Kepungan Pendekar
3
Guntur di Hutan Bambu dan Keputusan Mutlak
4
Bangkitnya Lima Elemen yang Terpendam
5
Badai Lima Elemen dan Kekacauan di Dataran Tengah
6
Memilih Jalan Berbeda di Persimpangan Gangho
7
Fajar Baru di Gerbang Sekte dan Janji di Bawah Langit Pucat
8
Sesi Sidang Para Tetua dan Kepribadian Asli Sang Figuran
9
Kemunculan Sang Pendekar Es di Tengah Sidang Dewan Tetua
10
Suara Mutlak Sang Figuran
11
Kemunculan Sang Pemeran Utama Wanita dan Pertemuan Tak Terduga
12
Langkah Keluar Menuju Dunia Luar
13
Candaan Terakhir Sebelum Perpisahan
14
Denyut Asing di Balik Jubah Hitam
15
Keputusan Dua Pendekar dan Awal Pengejaran
16
Pertanyaan di Bawah Temaram Senja
17
Bayangan di Balik Malam dan Janji yang Diuji
18
Pengakuan di Bawah Cahaya Bara Api
19
Proyeksi Konyol di Tengah Hutan
20
Batasan Tegas di Tengah Hutan
21
Godaan sang Pendekar Es di Pagi Buta
22
Perjalanan Lintas Provinsi dan Gangguan di Kedai Kecil
23
Abu Es dan Teh yang Nyaris Dingin
24
Pertanyaan di Bawah Naungan Pohon Pinus
25
Bayangan Choi Seo-Yeon yang Terlupakan
26
Lingkar Hangat di Sekitar Bara Api
27
Pengakuan di Balik Bara Api
28
Tiga Calon Menantu di Hadapan Ayah
29
Salah Alamat di Ujung Peta
30
Jejak Masa Lalu di Kota Batu Putih
31
Sesi Latihan Darurat di Tepi Jurang
32
Sumpah di Atas Jurang Batu Putih
33
Ujian Tersembunyi di Tengah Hutan Berkabut
34
Bilah Kristal di Bawah Kanopi Hutan
35
Candaan Ringan di Tengah Embun Beku
36
Kejujuran di Bawah Langit Senja
37
Impian di Atas Debu Kota Batu Putih
38
Bayangan di Balik Tembok Batu Putih
39
Bayangan di Balik Lorong Sempit
40
Darah di Atas Salju Kristal
41
Pertemuan di Balik Pintu Besi
42
Debat Sengit di Ruang Bawah Tanah
43
Badai di Gerbang Timur
44
Fajar Baru di Atas Reruntuhan
45
Di Bawah Langit Pegunungan Awan Biru
46
Harga Sebuah Kesetiaan
47
Di Bawah Rembulan yang Berbisik
48
Cahaya di Balik Pintu Gerbang Langit
49
Labirin Bayangan dan Kejujuran Hati
50
Protes Manis di Ambang Kemenangan
51
Di Bawah Langit yang Menjanjikan
52
Dilema Usia dan Rencana yang Terpangkas
53
Bayangan Masa Lalu dan Badai di Ambang Pintu
54
Ketegangan di Balik Bayang-Bayang
55
Strategi Terbalik di Bawah Sinar Rembulan
56
Kejaran di Bawah Cahaya Bulan
57
Simpul Janji di Ujung Es
58
Keputusan di Meja Bundar
59
Debat Hanbok dan Sentuhan Modern Sang Transmigran
60
Kejutan di Hari Resepsi dan Reaksi Tiga Suami
61
Badai Kelembutan di Balik Pintu Tertutup
62
Pagi yang Kacau dan Protes Sang Istri
63
Puisi, Anggur, dan Kunci Rahasia Hati
64
Pelukan Sunyi dan Fajar Ketiga di Sisi Min-Hyuk
65
Rahasia Masa Lalu dan Pengakuan di Balik Dinding Bambu
66
Pikiran Panik di Tengah Hari yang Tenang
67
Pertanyaan di Bawah Pohon Persik dan Keputusan Tak Terelakkan
68
Badai Pagi dan Kenyataan yang Tak Terelakkan
69
Senyum Manis di Balik Racun Mematikan
70
Langit Runtuh di Kediaman Han
71
Pertemuan Dua Jiwa di Ambang Batas Kematian
72
Kembalinya Sang Pemilik Asli dan Keajaiban di Ujung Maut
73
Bau Rumah Sakit dan Tiga Pemuda Misterius
74
Pertemuan di Dunia Nyata dan Tiga Wajah yang Dirindukan
75
Babak Baru di Dua Dunia yang Berbeda
76
Quotes karakter

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!