Badai Lima Elemen dan Kekacauan di Dataran Tengah

Pilar cahaya raksasa dengan lima warna menyala terang, membelah langit malam Hutan Bambu Kabut Putih dan menyapu bersih kabut darah ciptaan Aliran Sesat Darah Hitam dalam sekejap mata. Tekanan energi yang luar biasa besar membuat udara di sekitar kami bergetar hebat, menciptakan gelombang kejut yang merobohkan puluhan pohon bambu di sekeliling area pertarungan.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Sumpah demi apa pun... Ini rasanya kayak jadi karakter utama wanita overpower di manhwa aksi fantasi! Padahal niat awalku cuma mau hidup santai jadi figuran, tapi malah berubah jadi pertunjukan kembang api kolosal!”

Puluhan anggota Aliran Sesat Darah Hitam yang tadinya berdiri angkuh kini terhuyung-huyung mundur. Topeng iblis yang mereka kenakan retak satu per satu akibat hantaman tekanan Lima Elemen yang memancar dari tubuhku. Ketakutan yang nyata terpancar jelas dari mata merah menyala di balik topeng-topeng mengerikan itu.

Sang pemimpin aliran sesat yang sedari tadi memegang pedang berlumur darah kini gemetar hebat. Pedang di tangannya berderak nyaring, hampir lepas dari genggamannya yang basah oleh keringat dingin.

"Tidak mungkin..." teriak sang pemimpin aliran sesat dengan suara parau yang sarat akan keputusasaan. "Legenda tentang Pewaris Lima Elemen Sempurna... itu bukan sekadar mitos kuno?! Gadis ini... dia bukan sekadar umpan meriam rendahan!"

Aku mengepalkan tangan kananku erat-erat. Lima aliran energi—merah api, biru air, hijau angin, kuning tanah, dan putih logam—berputar selaras mengikuti detak jantungku. Di dalam dunia Murim, menguasai satu elemen saja sudah membuat seseorang dijuluki sebagai jenius tingkat dewa. Namun, menyatukan kelimanya dalam satu raga berarti memegang kunci mutlak atas keseimbangan seluruh energi alam di dataran tengah.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Oke, Diah, tenang. Jangan panik. Tarik napas, keluarkan jurus, dan pastikan para penjahat ecek-ecek ini kapok selamanya!”

Tanpa memberi mereka kesempatan untuk melarikan diri, aku melambaikan tangan kananku ke depan.

Wussshhh!

Kombinasi elemen angin dan api melesat dahsyat bagai naga raksasa yang menyemburkan lautan api badai. Dalam hitungan detik, gelombang panas membara itu melahap habis barisan depan pasukan bayangan hitam tanpa menyisakan debu sedikit pun. Jeritan kesakitan bergema singkat sebelum akhirnya lenyap ditelan deru angin malam.

Suasana di hutan bambu mendadak hening mencekam.

Sisa anggota aliran sesat yang melihat rekan-rekan mereka lenyap dalam sekejap langsung berhamburan lari tunggang langgang, meninggalkan pemimpin mereka yang kini terduduk lemas di atas tanah yang menghitam.

"Tunggu! Jangan bunuh aku!" teriak sang pemimpin iblis memohon belas kasihan, melempar pedangnya ke tanah.

Namun, sebelum aku sempat melangkah maju untuk menginterogasinya, sebuah kilatan cahaya es yang sangat dingin melesat cepat dan menembus dada sang pemimpin aliran sesat tanpa suara.

Crat!

Dalam sekejap, tubuh pria bertopeng itu membeku sempurna menjadi patung es, lalu hancur berkeping-keping menjadi butiran kristal putih yang menyatu dengan embun malam.

Aku menoleh kaku ke samping.

Kang Hyu-Jin berdiri tegak dengan bilah pedang es di tangan kanannya yang masih mengepulkan uap dingin. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, namun tatapan matanya saat menatapku menyiratkan gelombang emosi yang begitu kompleks—antara rasa terkejut, takjub, dan obsesi yang semakin mengakar kuat di dalam hatinya.

Di sisi lain, Lee Do-Yun menjatuhkan rahangnya, menatapku dengan mata melotot lebar sembari memegang dadanya sendiri seolah ia baru saja melihat hantu paling nyata di dunia.

"Dewa Persilatan..." gumam Do-Yun pelan, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya. "Selama ini... gadis yang kuajak bicara santai, yang menjadi tunanganku, adalah pemilik kekuatan mutlak Lima Elemen yang dicari-cari oleh seluruh sekte besar di Gangho?"

Sementara itu, Choi Min-Hyuk perlahan menurunkan pedangnya. Senior terhormat Sekte Pedang Langit Biru itu menatapku dengan napas tersengal, rahangnya mengeras, dan sorot matanya menunjukkan kesadaran penuh akan badai besar yang akan segera melanda dunia persilatan setelah malam ini.

"Berita ini tidak boleh sampai bocor ke telinga para tetua agung sekte lain," suara Min-Hyuk terdengar berat dan serius, memecah keheningan di antara kami. Ia melangkah maju perlahan, menjaga jarak hormat namun waspada. "Jika faksi lain tahu bahwa Han So-Bin memiliki kekuatan Lima Elemen Sempurna, seluruh dataran tengah akan segera berperang demi memperebutkan dirimu."

Aku menghela napas panjang, meredakan aliran Naegong di dalam tubuhku hingga pilar cahaya lima warna itu perlahan memudar dan lenyap ke dalam pori-pori kulitku. Tubuhku mendadak terasa lemas, efek samping dari menggunakan kekuatan masif yang belum sepenuhnya kukuasai.

Bruk!

Kaki ku terasa kehilangan tenaga. Sebelum tubuhku sempat membentur tanah yang dingin, sepasang lengan yang kokoh dan beraroma wangi pinus bercampur hawa dingin menepis jarak di antara kami.

Kang Hyu-Jin dengan sigap menangkap tubuhku, mendekapku erat-erat ke dadanya sebelum aku terjatuh. Suhu tubuhnya yang dingin terasa kontras dengan kelelahan hebat yang mendera fisikku saat ini.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Duh... Ini lagi-lagi adegan trope novel romantis. Kenapa si psikopat es ini hobi banget menangkapku pas mau jatuh sih?!”

"Bodoh," bisik Hyu-Jin rendah tepat di dekat telingaku. Suaranya terdengar lembut namun penuh teguran, sarat akan kekhawatiran yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng dinginnya. "Kenapa kau harus mengerahkan seluruh kekuatan itu sendirian? Kau bisa menghancurkan meridian tubuhmu sendiri."

Aku mendongak, menatap wajah tampan pria itu dari jarak yang sangat dekat. Sebelum aku sempat membalas ucapannya dengan omelan pedas, Lee Do-Yun sudah melangkah cepat mendekati kami, wajahnya tampak panik sekaligus kesal.

"Lepaskan dia, Hyu-Jin!" protes Do-Yun, mencoba menarik lenganku dari dekapan Hyu-Jin. "Jangan memanfaatkan situasi saat dia sedang lemah! Ingat, status pertunangan resminya masih terikat denganku!"

"Kubilang tutup mulutmu, Do-Yun," balas Hyu-Jin tajam, mempererat dekapannya seolah tidak akan pernah melepaskanku sedetik pun di dunia ini. "Setelah apa yang terjadi malam ini, pertunangan konyol itu sudah tidak ada artinya lagi. Aku akan membawanya pergi dari Sekte Pedang Langit Biru ke tempat yang aman."

"Ke mana?!" sergah Choi Min-Hyuk dengan nada memerintah seorang senior. "Kalian berdua tidak bisa membuat keputusan gegabah! Keberadaan So-Bin kini menjadi ancaman sekaligus aset terbesar bagi keselamatan seluruh sekte. Kita harus kembali ke markas utama dan merundingkan hal ini bersama para tetua."

Aku memijat pelipisku yang mendadak berdenyut semakin nyeri. Mendengar kata "kembali ke markas utama" membuat bulu kudukku meroket tajam.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Balik ke markas utama? Ogah banget! Kalau aku balik ke sana, aku bukan cuma jadi umpan meriam lagi, tapi bakal dijadiin kelinci percobaan laboratorium alkimia sekte! Lebih baik aku kabur sekarang juga!”

"Dengar ya, kalian bertiga!" kataku dengan suara serak, berusaha melepaskan diri dari dekapan Hyu-Jin. Aku berdiri dengan susah payah, menatap mereka satu per satu dengan tatapan setegas mungkin di tengah sisa-sisa tenaga yang kumiliki. "Aku tidak mau ikut siapa pun ke markas utama! Aku tidak peduli dengan pertunangan, tidak peduli dengan status sekte, dan seratus persen tidak mau jadi pahlawan dunia persilatan!"

Ketiga pendekar terkuat itu terdiam seketika, menatapku dengan ekspresi terpukul yang luar biasa.

"Aku mau pergi ke Sekte Dewa Langit sesuai rencana awalku," lanjutku mantap, membalikkan badan dan mulai melangkah pincang meninggalkan mereka. "Dan tolong... anggap saja malam ini kalian tidak pernah melihatku!"

Namun, sebelum aku sempat melangkah tiga langkah ke depan, sebuah tarikan lembut namun tidak bisa dibantah kembali merengkuh pergelangan tanganku.

Kang Hyu-Jin berdiri tepat di sampingku, menatapku dengan senyum tipis yang jarang sekali ia tunjukkan—senyum yang justru membuat nyaliku ciut seketika karena menyiratkan tekad mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

"Baiklah," ucap Hyu-Jin tenang, suaranya menghanyutkan namun mematikan. "Jika kau ingin pergi ke Sekte Dewa Langit... maka aku akan ikut bersamamu, meninggalkan sekte, dan menjadi pengawal setiamu ke ujung dunia mana pun yang kau inginkan."

Lee Do-Yun menganga lebar, sementara Choi Min-Hyuk memijat pelipisnya frustrasi.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Ya ampun, Gusti... Rencana awalku mau kabur dari si pemeran utama pria kenapa malah berujung dia ikut mangkir dari sekte dan jadi pengikutku?! Tamatlah sudah riwayat kedamaian hidupku di dunia Murim ini!”

Episodes
1 Bayang-Bayang Pedang Es di Bawah Rembulan Gangho
2 Debat Kusir di Tengah Kepungan Pendekar
3 Guntur di Hutan Bambu dan Keputusan Mutlak
4 Bangkitnya Lima Elemen yang Terpendam
5 Badai Lima Elemen dan Kekacauan di Dataran Tengah
6 Memilih Jalan Berbeda di Persimpangan Gangho
7 Fajar Baru di Gerbang Sekte dan Janji di Bawah Langit Pucat
8 Sesi Sidang Para Tetua dan Kepribadian Asli Sang Figuran
9 Kemunculan Sang Pendekar Es di Tengah Sidang Dewan Tetua
10 Suara Mutlak Sang Figuran
11 Kemunculan Sang Pemeran Utama Wanita dan Pertemuan Tak Terduga
12 Langkah Keluar Menuju Dunia Luar
13 Candaan Terakhir Sebelum Perpisahan
14 Denyut Asing di Balik Jubah Hitam
15 Keputusan Dua Pendekar dan Awal Pengejaran
16 Pertanyaan di Bawah Temaram Senja
17 Bayangan di Balik Malam dan Janji yang Diuji
18 Pengakuan di Bawah Cahaya Bara Api
19 Proyeksi Konyol di Tengah Hutan
20 Batasan Tegas di Tengah Hutan
21 Godaan sang Pendekar Es di Pagi Buta
22 Perjalanan Lintas Provinsi dan Gangguan di Kedai Kecil
23 Abu Es dan Teh yang Nyaris Dingin
24 Pertanyaan di Bawah Naungan Pohon Pinus
25 Bayangan Choi Seo-Yeon yang Terlupakan
26 Lingkar Hangat di Sekitar Bara Api
27 Pengakuan di Balik Bara Api
28 Tiga Calon Menantu di Hadapan Ayah
29 Salah Alamat di Ujung Peta
30 Jejak Masa Lalu di Kota Batu Putih
31 Sesi Latihan Darurat di Tepi Jurang
32 Sumpah di Atas Jurang Batu Putih
33 Ujian Tersembunyi di Tengah Hutan Berkabut
34 Bilah Kristal di Bawah Kanopi Hutan
35 Candaan Ringan di Tengah Embun Beku
36 Kejujuran di Bawah Langit Senja
37 Impian di Atas Debu Kota Batu Putih
38 Bayangan di Balik Tembok Batu Putih
39 Bayangan di Balik Lorong Sempit
40 Darah di Atas Salju Kristal
41 Pertemuan di Balik Pintu Besi
42 Debat Sengit di Ruang Bawah Tanah
43 Badai di Gerbang Timur
44 Fajar Baru di Atas Reruntuhan
45 Di Bawah Langit Pegunungan Awan Biru
46 Harga Sebuah Kesetiaan
47 Di Bawah Rembulan yang Berbisik
48 Cahaya di Balik Pintu Gerbang Langit
49 Labirin Bayangan dan Kejujuran Hati
50 Protes Manis di Ambang Kemenangan
51 Di Bawah Langit yang Menjanjikan
52 Dilema Usia dan Rencana yang Terpangkas
53 Bayangan Masa Lalu dan Badai di Ambang Pintu
54 Ketegangan di Balik Bayang-Bayang
55 Strategi Terbalik di Bawah Sinar Rembulan
56 Kejaran di Bawah Cahaya Bulan
57 Simpul Janji di Ujung Es
58 Keputusan di Meja Bundar
59 Debat Hanbok dan Sentuhan Modern Sang Transmigran
60 Kejutan di Hari Resepsi dan Reaksi Tiga Suami
61 Badai Kelembutan di Balik Pintu Tertutup
62 Pagi yang Kacau dan Protes Sang Istri
63 Puisi, Anggur, dan Kunci Rahasia Hati
64 Pelukan Sunyi dan Fajar Ketiga di Sisi Min-Hyuk
65 Rahasia Masa Lalu dan Pengakuan di Balik Dinding Bambu
66 Pikiran Panik di Tengah Hari yang Tenang
67 Pertanyaan di Bawah Pohon Persik dan Keputusan Tak Terelakkan
68 Badai Pagi dan Kenyataan yang Tak Terelakkan
69 Senyum Manis di Balik Racun Mematikan
70 Langit Runtuh di Kediaman Han
71 Pertemuan Dua Jiwa di Ambang Batas Kematian
72 Kembalinya Sang Pemilik Asli dan Keajaiban di Ujung Maut
73 Bau Rumah Sakit dan Tiga Pemuda Misterius
74 Pertemuan di Dunia Nyata dan Tiga Wajah yang Dirindukan
75 Babak Baru di Dua Dunia yang Berbeda
76 Quotes karakter
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Bayang-Bayang Pedang Es di Bawah Rembulan Gangho
2
Debat Kusir di Tengah Kepungan Pendekar
3
Guntur di Hutan Bambu dan Keputusan Mutlak
4
Bangkitnya Lima Elemen yang Terpendam
5
Badai Lima Elemen dan Kekacauan di Dataran Tengah
6
Memilih Jalan Berbeda di Persimpangan Gangho
7
Fajar Baru di Gerbang Sekte dan Janji di Bawah Langit Pucat
8
Sesi Sidang Para Tetua dan Kepribadian Asli Sang Figuran
9
Kemunculan Sang Pendekar Es di Tengah Sidang Dewan Tetua
10
Suara Mutlak Sang Figuran
11
Kemunculan Sang Pemeran Utama Wanita dan Pertemuan Tak Terduga
12
Langkah Keluar Menuju Dunia Luar
13
Candaan Terakhir Sebelum Perpisahan
14
Denyut Asing di Balik Jubah Hitam
15
Keputusan Dua Pendekar dan Awal Pengejaran
16
Pertanyaan di Bawah Temaram Senja
17
Bayangan di Balik Malam dan Janji yang Diuji
18
Pengakuan di Bawah Cahaya Bara Api
19
Proyeksi Konyol di Tengah Hutan
20
Batasan Tegas di Tengah Hutan
21
Godaan sang Pendekar Es di Pagi Buta
22
Perjalanan Lintas Provinsi dan Gangguan di Kedai Kecil
23
Abu Es dan Teh yang Nyaris Dingin
24
Pertanyaan di Bawah Naungan Pohon Pinus
25
Bayangan Choi Seo-Yeon yang Terlupakan
26
Lingkar Hangat di Sekitar Bara Api
27
Pengakuan di Balik Bara Api
28
Tiga Calon Menantu di Hadapan Ayah
29
Salah Alamat di Ujung Peta
30
Jejak Masa Lalu di Kota Batu Putih
31
Sesi Latihan Darurat di Tepi Jurang
32
Sumpah di Atas Jurang Batu Putih
33
Ujian Tersembunyi di Tengah Hutan Berkabut
34
Bilah Kristal di Bawah Kanopi Hutan
35
Candaan Ringan di Tengah Embun Beku
36
Kejujuran di Bawah Langit Senja
37
Impian di Atas Debu Kota Batu Putih
38
Bayangan di Balik Tembok Batu Putih
39
Bayangan di Balik Lorong Sempit
40
Darah di Atas Salju Kristal
41
Pertemuan di Balik Pintu Besi
42
Debat Sengit di Ruang Bawah Tanah
43
Badai di Gerbang Timur
44
Fajar Baru di Atas Reruntuhan
45
Di Bawah Langit Pegunungan Awan Biru
46
Harga Sebuah Kesetiaan
47
Di Bawah Rembulan yang Berbisik
48
Cahaya di Balik Pintu Gerbang Langit
49
Labirin Bayangan dan Kejujuran Hati
50
Protes Manis di Ambang Kemenangan
51
Di Bawah Langit yang Menjanjikan
52
Dilema Usia dan Rencana yang Terpangkas
53
Bayangan Masa Lalu dan Badai di Ambang Pintu
54
Ketegangan di Balik Bayang-Bayang
55
Strategi Terbalik di Bawah Sinar Rembulan
56
Kejaran di Bawah Cahaya Bulan
57
Simpul Janji di Ujung Es
58
Keputusan di Meja Bundar
59
Debat Hanbok dan Sentuhan Modern Sang Transmigran
60
Kejutan di Hari Resepsi dan Reaksi Tiga Suami
61
Badai Kelembutan di Balik Pintu Tertutup
62
Pagi yang Kacau dan Protes Sang Istri
63
Puisi, Anggur, dan Kunci Rahasia Hati
64
Pelukan Sunyi dan Fajar Ketiga di Sisi Min-Hyuk
65
Rahasia Masa Lalu dan Pengakuan di Balik Dinding Bambu
66
Pikiran Panik di Tengah Hari yang Tenang
67
Pertanyaan di Bawah Pohon Persik dan Keputusan Tak Terelakkan
68
Badai Pagi dan Kenyataan yang Tak Terelakkan
69
Senyum Manis di Balik Racun Mematikan
70
Langit Runtuh di Kediaman Han
71
Pertemuan Dua Jiwa di Ambang Batas Kematian
72
Kembalinya Sang Pemilik Asli dan Keajaiban di Ujung Maut
73
Bau Rumah Sakit dan Tiga Pemuda Misterius
74
Pertemuan di Dunia Nyata dan Tiga Wajah yang Dirindukan
75
Babak Baru di Dua Dunia yang Berbeda
76
Quotes karakter

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!