Cheon-Ji-In: Terjebak Di Dunia Murim

Cheon-Ji-In: Terjebak Di Dunia Murim

Bayang-Bayang Pedang Es di Bawah Rembulan Gangho

Suara tetesan air menggema di dalam gua, memecah keheningan malam.

Aku membuka mata dengan perlahan. Bukan langit-langit kamar kos yang akrab, melainkan atap kayu tua beraroma dupa pekat dan jerami basah yang pengap. Di tubuhku melekat jubah kain kasar berwarna biru pudar—pakaian para murid rendahan dari sebuah perguruan persilatan di dataran tengah.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Sumpah demi apa pun... Aku cuma keselek es teh pas lagi marathon baca novel Cheon-Ji-In semalam, kenapa sekarang malah terdampar di dunia persilatan begini?! Rasanya tidak masuk akal!”

Seketika, kepingan ingatan asing berdesakan masuk ke dalam benakku, mendesak kesadaran asliku sebagai Diah.

Aku kini merasuki raga Han So-Bin, seorang figuran rendahan di dunia Gangho yang ditakdirkan mati tragis sebelum cerita mencapai pertengahan.

Takdirnya sungguh sialan dan tidak adil. Berdasarkan adat istiadat leluhur dunia persilatan, aku adalah tunangan resmi dari Lee Do-Yun, pemuda terpandang sekaligus pewaris sah dari Sekte Pedang Langit Biru. Hubungan keluarga kami terjalin erat lewat perjanjian darah. Namun, tubuh asli ini justru kehilangan akal sehat karena terobsesi mengejar sang Pendekar Es, Kang Hyu-Jin, hingga berujung pada kematianku sendiri di tangan pria itu akibat fitnah keji aliran sesat.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Dih, ogah banget mati muda cuma karena bucin sama psikopat es! Mau jadi tumbal buat naikin porsi adegan mereka? Silakan saja, tapi catat: aku nggak ikutan!”

Malam ini juga, kutanggalkan lencana kehormatan Sekte Pedang Langit Biru dari jubahku. Aku mengerahkan sisa-sisa Naegong (tenaga dalam) di jalur meridian tubuh ini untuk memperkuat langkah kaki, lalu melarikan diri menembus pekatnya kegelapan hutan. Tujuanku jelas: Sekte Dewa Langit, perguruan di pegunungan utara yang terkenal keras mendidik muridnya secara mandiri dan disiplin mutlak, jauh dari jangkauan si Male Lead sialan itu.

Namun, hukum alam di dunia Murim tidak semudah itu membiarkan buruannya lolos. Baru tiga hari aku menikmati udara pelarian di luar wilayah kekuasaan sekte asal, angin malam tiba-tiba berhenti berhembus secara misterius.

Hawa dingin yang pekat, menusuk hingga ke sumsum tulang belakang, merayap naik dari tanah. Suasana hutan bambu berubah mencekam dalam sekejap mata.

Kriet...

Suara ranting patah yang begitu halus terdengar di belakangku.

Aku menahan napas seketika, memutar tubuhku perlahan dengan tangan gemetar yang mencengkeram hulu pedang kayu murahan di pinggangku.

Di hadapanku, di bawah naungan cahaya rembulan yang pucat, berdiri sesosok pria berbalut jubah putih bersih bersulam benang perak. Rambut hitam kelamnya tergerai diterpa angin malam, dan sepasang matanya memancarkan ketajaman mutlak yang mampu membekukan jiwa siapa pun yang berani menatapnya.

Kang Hyu-Jin. Sang Pendekar Es dari Sekte Pedang Langit Biru.

Suaranya meluncur rendah, dingin, membelah keheningan hutan bambu bagai bilah pedang tajam yang baru dihunus dari sarungnya:

"Han So-Bin..."

Pria itu melangkah maju tanpa suara. Di setiap jejak kakinya, tanah dan dedaunan kering langsung berubah menjadi kristal es putih yang berkilau memantulkan cahaya bulan.

"Kau pikir, sejauh apa kau bisa melarikan diri dari pandanganku?"

(Batin Diah / Han So-Bin): “Ya ampun, Gusti... Ini orang pakai cheat apa gimana sih?! Kenapa bisa melacakku sampai ke ujung dunia begini?! Padahal aku sudah ambil jalur memutar lewat lembah tersembunyi!”

Aku meneguk ludahku yang terasa kering, mencoba menenangkan debar jantungku yang berlomba dengan ketakutan. Meski raga ini milik Han So-Bin, jiwa di dalamnya adalah Diah yang tahu persis seberapa mematikannya pria di hadapannya ini. Kang Hyu-Jin bukan sekadar pendekar biasa; dia adalah lambang kematian bagi siapa saja yang menghalangi jalannya.

"Tuan Muda Kang," ucapku berusaha menjaga agar suara daruratku tidak bergetar hebat. Aku mengangkat dagu, mencoba menampilkan wibawa palsu. "Kita tidak memiliki urusan apa pun lagi. Aku sudah resmi melepaskan statusku sebagai murid di Sekte Pedang Langit Biru. Pergilah cari Choi Seo-Yeon, wanita yang seharusnya ada di sisi-mu!"

Mendengar nama itu, langkah Hyu-Jin justru berhenti. Alisnya yang sempurna berkerut tajam, dan suhu udara di sekitar kami mendadak semakin turun hingga napas kami mengepulkan uap putih di udara.

"Choi Seo-Yeon?" Suara Hyu-Jin terdengar bagai geraman rendah dari binatang buas yang terluka. "Apa peduliku pada wanita itu? Hubunganku dengan Sekte Pedang Langit Biru atau urusan dunia persilatan tidak ada artinya dibandingkan keberadaanmu di hadapanku saat ini, So-Bin."

Aku tertegun sesaat, merasa ada yang ganjil dari alur cerita yang kukenal. Di dalam novel aslinya, Kang Hyu-Jin seharusnya tergila-gila pada Choi Seo-Yeon, sang pemeran utama wanita yang lembut dan berbakat. Kenapa sekarang dialognya jadi melenceng jauh begini?

Sebelum aku sempat memikirkan kejanggalan itu lebih jauh, sesosok bayangan putih lain melesat turun dari puncak pohon bambu tinggi dengan gerakan ringan sehelai bulu.

Plak! Plak! Plak!

Suara tepukan tangan yang santai memecah ketegangan di antara kami.

Seorang pria dengan jubah brokat mewah berwarna biru safir dan putih mendarat dengan anggun di antara aku dan Hyu-Jin. Di tangan kanannya, sebuah kipas lipat bertuliskan aksara kuno dikibaskan perlahan untuk mengusir hawa dingin yang diciptakan oleh Hyu-Jin. Wajahnya tampan dengan senyum miring yang menyebalkan, memancarkan pesona seorang ningrat persilatan yang angkuh.

Lee Do-Yun. Sahabat karib Kang Hyu-Jin sekaligus... tunangan sah Han So-Bin.

"Luar biasa," puji Do-Yun dengan nada mengejek yang kental. Ia melirik sekilas ke arahku, lalu menatap tajam ke arah Hyu-Jin. "Aku mengikutimu jauh-jauh dari markas utama bukan untuk menonton pertunjukan tatap-tatapan yang memuakkan ini, Pendekar Es. Kau hampir membekukan paru-paru tunanganku dengan kekuatan esmu yang berlebihan itu."

(Batin Diah / Han So-Bin): “Duh, komplit sudah penderitaan hari ini! Kenapa tokoh-tokoh penting di novel ini malah berkumpul jadi satu di hutan terpencil begini?! Tamatlah sudah riwayat pelarianku!”

Hyu-Jin melirik Do-Yun dengan tatapan membunuh yang bisa merubuhkan gunung. Aura Qi kebiruan mulai berkumpul di sekitar jemari Hyu-Jin, membentuk bilah-bilah es tipis yang berdengung nyaring di udara.

"Tutup mulutmu, Do-Yun," geram Hyu-Jin, suaranya nyaris berbisik namun penuh ancaman kematian. "Status tunangan itu tidak pernah sah di mataku. Han So-Bin adalah milikku, dan siapa pun yang berani menghalangi jalanku untuk membawanya pulang, akan merasakan kemarahan Sekte Pedang Langit Biru yang sebenarnya."

Aku memijat pelipisku yang mendadak berdenyut nyeri. Terjebak di dunia Murim ternyata jauh lebih melelahkan daripada lembur tugas kantor di dunia asal. Di tengah kepungan dua pria paling berbahaya di dataran tengah ini, aku harus memutar otak agar bisa bertahan hidup tanpa harus menjadi tumbal romansa mereka.

Episodes
1 Bayang-Bayang Pedang Es di Bawah Rembulan Gangho
2 Debat Kusir di Tengah Kepungan Pendekar
3 Guntur di Hutan Bambu dan Keputusan Mutlak
4 Bangkitnya Lima Elemen yang Terpendam
5 Badai Lima Elemen dan Kekacauan di Dataran Tengah
6 Memilih Jalan Berbeda di Persimpangan Gangho
7 Fajar Baru di Gerbang Sekte dan Janji di Bawah Langit Pucat
8 Sesi Sidang Para Tetua dan Kepribadian Asli Sang Figuran
9 Kemunculan Sang Pendekar Es di Tengah Sidang Dewan Tetua
10 Suara Mutlak Sang Figuran
11 Kemunculan Sang Pemeran Utama Wanita dan Pertemuan Tak Terduga
12 Langkah Keluar Menuju Dunia Luar
13 Candaan Terakhir Sebelum Perpisahan
14 Denyut Asing di Balik Jubah Hitam
15 Keputusan Dua Pendekar dan Awal Pengejaran
16 Pertanyaan di Bawah Temaram Senja
17 Bayangan di Balik Malam dan Janji yang Diuji
18 Pengakuan di Bawah Cahaya Bara Api
19 Proyeksi Konyol di Tengah Hutan
20 Batasan Tegas di Tengah Hutan
21 Godaan sang Pendekar Es di Pagi Buta
22 Perjalanan Lintas Provinsi dan Gangguan di Kedai Kecil
23 Abu Es dan Teh yang Nyaris Dingin
24 Pertanyaan di Bawah Naungan Pohon Pinus
25 Bayangan Choi Seo-Yeon yang Terlupakan
26 Lingkar Hangat di Sekitar Bara Api
27 Pengakuan di Balik Bara Api
28 Tiga Calon Menantu di Hadapan Ayah
29 Salah Alamat di Ujung Peta
30 Jejak Masa Lalu di Kota Batu Putih
31 Sesi Latihan Darurat di Tepi Jurang
32 Sumpah di Atas Jurang Batu Putih
33 Ujian Tersembunyi di Tengah Hutan Berkabut
34 Bilah Kristal di Bawah Kanopi Hutan
35 Candaan Ringan di Tengah Embun Beku
36 Kejujuran di Bawah Langit Senja
37 Impian di Atas Debu Kota Batu Putih
38 Bayangan di Balik Tembok Batu Putih
39 Bayangan di Balik Lorong Sempit
40 Darah di Atas Salju Kristal
41 Pertemuan di Balik Pintu Besi
42 Debat Sengit di Ruang Bawah Tanah
43 Badai di Gerbang Timur
44 Fajar Baru di Atas Reruntuhan
45 Di Bawah Langit Pegunungan Awan Biru
46 Harga Sebuah Kesetiaan
47 Di Bawah Rembulan yang Berbisik
48 Cahaya di Balik Pintu Gerbang Langit
49 Labirin Bayangan dan Kejujuran Hati
50 Protes Manis di Ambang Kemenangan
51 Di Bawah Langit yang Menjanjikan
52 Dilema Usia dan Rencana yang Terpangkas
53 Bayangan Masa Lalu dan Badai di Ambang Pintu
54 Ketegangan di Balik Bayang-Bayang
55 Strategi Terbalik di Bawah Sinar Rembulan
56 Kejaran di Bawah Cahaya Bulan
57 Simpul Janji di Ujung Es
58 Keputusan di Meja Bundar
59 Debat Hanbok dan Sentuhan Modern Sang Transmigran
60 Kejutan di Hari Resepsi dan Reaksi Tiga Suami
61 Badai Kelembutan di Balik Pintu Tertutup
62 Pagi yang Kacau dan Protes Sang Istri
63 Puisi, Anggur, dan Kunci Rahasia Hati
64 Pelukan Sunyi dan Fajar Ketiga di Sisi Min-Hyuk
65 Rahasia Masa Lalu dan Pengakuan di Balik Dinding Bambu
66 Pikiran Panik di Tengah Hari yang Tenang
67 Pertanyaan di Bawah Pohon Persik dan Keputusan Tak Terelakkan
68 Badai Pagi dan Kenyataan yang Tak Terelakkan
69 Senyum Manis di Balik Racun Mematikan
70 Langit Runtuh di Kediaman Han
71 Pertemuan Dua Jiwa di Ambang Batas Kematian
72 Kembalinya Sang Pemilik Asli dan Keajaiban di Ujung Maut
73 Bau Rumah Sakit dan Tiga Pemuda Misterius
74 Pertemuan di Dunia Nyata dan Tiga Wajah yang Dirindukan
75 Babak Baru di Dua Dunia yang Berbeda
76 Quotes karakter
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Bayang-Bayang Pedang Es di Bawah Rembulan Gangho
2
Debat Kusir di Tengah Kepungan Pendekar
3
Guntur di Hutan Bambu dan Keputusan Mutlak
4
Bangkitnya Lima Elemen yang Terpendam
5
Badai Lima Elemen dan Kekacauan di Dataran Tengah
6
Memilih Jalan Berbeda di Persimpangan Gangho
7
Fajar Baru di Gerbang Sekte dan Janji di Bawah Langit Pucat
8
Sesi Sidang Para Tetua dan Kepribadian Asli Sang Figuran
9
Kemunculan Sang Pendekar Es di Tengah Sidang Dewan Tetua
10
Suara Mutlak Sang Figuran
11
Kemunculan Sang Pemeran Utama Wanita dan Pertemuan Tak Terduga
12
Langkah Keluar Menuju Dunia Luar
13
Candaan Terakhir Sebelum Perpisahan
14
Denyut Asing di Balik Jubah Hitam
15
Keputusan Dua Pendekar dan Awal Pengejaran
16
Pertanyaan di Bawah Temaram Senja
17
Bayangan di Balik Malam dan Janji yang Diuji
18
Pengakuan di Bawah Cahaya Bara Api
19
Proyeksi Konyol di Tengah Hutan
20
Batasan Tegas di Tengah Hutan
21
Godaan sang Pendekar Es di Pagi Buta
22
Perjalanan Lintas Provinsi dan Gangguan di Kedai Kecil
23
Abu Es dan Teh yang Nyaris Dingin
24
Pertanyaan di Bawah Naungan Pohon Pinus
25
Bayangan Choi Seo-Yeon yang Terlupakan
26
Lingkar Hangat di Sekitar Bara Api
27
Pengakuan di Balik Bara Api
28
Tiga Calon Menantu di Hadapan Ayah
29
Salah Alamat di Ujung Peta
30
Jejak Masa Lalu di Kota Batu Putih
31
Sesi Latihan Darurat di Tepi Jurang
32
Sumpah di Atas Jurang Batu Putih
33
Ujian Tersembunyi di Tengah Hutan Berkabut
34
Bilah Kristal di Bawah Kanopi Hutan
35
Candaan Ringan di Tengah Embun Beku
36
Kejujuran di Bawah Langit Senja
37
Impian di Atas Debu Kota Batu Putih
38
Bayangan di Balik Tembok Batu Putih
39
Bayangan di Balik Lorong Sempit
40
Darah di Atas Salju Kristal
41
Pertemuan di Balik Pintu Besi
42
Debat Sengit di Ruang Bawah Tanah
43
Badai di Gerbang Timur
44
Fajar Baru di Atas Reruntuhan
45
Di Bawah Langit Pegunungan Awan Biru
46
Harga Sebuah Kesetiaan
47
Di Bawah Rembulan yang Berbisik
48
Cahaya di Balik Pintu Gerbang Langit
49
Labirin Bayangan dan Kejujuran Hati
50
Protes Manis di Ambang Kemenangan
51
Di Bawah Langit yang Menjanjikan
52
Dilema Usia dan Rencana yang Terpangkas
53
Bayangan Masa Lalu dan Badai di Ambang Pintu
54
Ketegangan di Balik Bayang-Bayang
55
Strategi Terbalik di Bawah Sinar Rembulan
56
Kejaran di Bawah Cahaya Bulan
57
Simpul Janji di Ujung Es
58
Keputusan di Meja Bundar
59
Debat Hanbok dan Sentuhan Modern Sang Transmigran
60
Kejutan di Hari Resepsi dan Reaksi Tiga Suami
61
Badai Kelembutan di Balik Pintu Tertutup
62
Pagi yang Kacau dan Protes Sang Istri
63
Puisi, Anggur, dan Kunci Rahasia Hati
64
Pelukan Sunyi dan Fajar Ketiga di Sisi Min-Hyuk
65
Rahasia Masa Lalu dan Pengakuan di Balik Dinding Bambu
66
Pikiran Panik di Tengah Hari yang Tenang
67
Pertanyaan di Bawah Pohon Persik dan Keputusan Tak Terelakkan
68
Badai Pagi dan Kenyataan yang Tak Terelakkan
69
Senyum Manis di Balik Racun Mematikan
70
Langit Runtuh di Kediaman Han
71
Pertemuan Dua Jiwa di Ambang Batas Kematian
72
Kembalinya Sang Pemilik Asli dan Keajaiban di Ujung Maut
73
Bau Rumah Sakit dan Tiga Pemuda Misterius
74
Pertemuan di Dunia Nyata dan Tiga Wajah yang Dirindukan
75
Babak Baru di Dua Dunia yang Berbeda
76
Quotes karakter

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!