3 - NIKAHI AKU

Rangga menggembungkan dadanya sedikit, seolah ingin terlihat lebih dewasa di depan gadis yang baru saja dikenalnya itu. "Aku... aku sudah dewasa!" Ia mengerutkan kening, tampak tengah menghitung-hitung usianya sendiri dengan susah payah, lalu akhirnya berkata dengan wajah yang sangat serius, "Seharusnya, aku sudah berumur empat puluh tahun!"

Blukutuk! Kirana nyaris tersedak oleh tawanya yang tidak tertahankan, sampai-sampai ia harus menutup mulutnya dengan telapak tangan. Rangga tampak bingung mendengar suara tawa itu, tidak mengerti apa yang membuat gadis di depannya tertawa seperti itu. Alisnya berkerut, dan sepasang tanduk kecilnya ikut bergetar.

Dengan wajah semungil dan semenggemaskan itu, ia mengaku sudah berumur empat puluh tahun? Siapa yang akan percaya dengan perkataan polos seperti itu?

"Si kecil manis, kau sedang bercanda, kan?"

Segala kesedihan Kirana akibat kaburnya Danendra seolah tersapu bersih dalam sekejap, seperti debu yang terbawa angin dan tidak pernah ada. Ia hampir lupa bahwa beberapa jam lagi ia genap berusia dua puluh tahun, karena kehadiran pemuda ini berhasil mengalihkan seluruh perhatiannya.

Ia pun menggoda pemuda itu dengan senyuman. "Kalau begitu, keluarkan Gelang Lentera milikmu. Jika usiamu sudah genap dua puluh tahun, kau bisa membantu kakak menikah. Nanti, setelah semua masalah ini selesai, kalau kau mau pergi, kau boleh pergi sesukamu."

Meskipun perceraian di Kekaisaran Cakrawala tidak semudah yang dibayangkan orang kebanyakan, tetap saja jauh lebih baik daripada dijodohkan secara acak dengan pria yang tidak diketahui rupa maupun perangainya sama sekali.

Yang terpenting, Kirana termasuk orang yang sangat mementingkan wajah. Ia tidak tahan melihat suami yang jelek. Jika kelak ia menikah dengan pria yang buruk rupa, ia bisa kehilangan nafsu makan dan tidak bisa tidur setiap malam! Ia bahkan punya kebiasaan kecil: jika melihat wajah yang terlalu buruk, ia akan merasa mual seharian dan tidak bisa berkonsentrasi pada apa pun.

Dulu, ia bersedia menunjukkan kesetiaannya kepada Danendra dan menikah dengannya semata-mata karena wajah Danendra masih bisa ia toleransi.

Namun jika dibandingkan dengan Rangga yang berdiri di hadapannya ini, Danendra tidak lebih dari sekadar ubi di antara hidangan mewah!

Gelang Lentera? Rangga menunduk, menatap pergelangan tangannya sendiri, lalu menemukan Gelang Lentera yang melingkar erat di sana, seolah benda itu adalah bagian dari tubuhnya.

Namun tampaknya gelang itu sedang rusak. Ia mengutak-atiknya cukup lama sebelum akhirnya berhasil membuka tampilan pengajuan Sumpah Sejiwa di cermin gema. Meskipun ia tidak begitu memahami cara kerja gelang ini, nalurinya tetap menemukan pilihan yang tepat untuk dibuka.

"Kakak, yang ini, kan?"

Kirana mencondongkan tubuh untuk memeriksanya dari dekat. Gelang itu berwarna hitam pekat, dan ia tidak bisa menebak mereknya, tetapi teksturnya halus dan mengilap, pasti bukan barang yang murah.

Mungkin ada lapisan pengaman yang aktif, atau mungkin memang rusak, sehingga ia tidak bisa melihat hal lain. Tampilan informasi pribadi pemuda itu tampak agak kacau, tetapi untungnya kode gema untuk pengajuan sumpah masih terbaca dengan jelas. Kirana tidak terlalu memikirkan hal itu, yang terpenting kode itu utuh, karena hanya itulah yang bisa menyelamatkannya dari jodoh acak Arsip Agung.

Selama Kirana membuka catatan informasi pribadinya dan keduanya saling menautkan kode gema, itu sudah dianggap sebagai pengajuan Sumpah Sejiwa kepada Arsip Agung Kekaisaran Cakrawala.

Jika kedua pihak memenuhi segala syarat pernikahan, Arsip Agung akan mengesahkannya tanpa banyak bertanya. Prosesnya singkat, tetapi hasilnya mengikat, dan tidak seorang pun bisa membatalkannya sesuka hati.

Dan pada saat itulah, terdengar suara langkah kaki yang datang dari belakang mereka.

Kirana menoleh dan melihat dua orang perempuan tengah berjalan mendekat ke arahnya.

Yang satu lebih tua, mengenakan kebaya ungu yang anggun dan mewah, dengan perawakan yang sangat berwibawa dan sikap yang terkesan mahal.

Yang satu lagi terlihat lebih muda dan berjalan di samping perempuan berbaju ungu itu, dengan langkah yang ringan namun penuh arti, sesekali menoleh ke arah Kirana dengan sorot mata yang tidak bersahabat.

Ternyata, ibu dan kakak perempuan Danendra yang datang mencarinya.

"Kirana, kakakku belum juga datang. Nah, bagaimana dengan pernikahan ini?" Daniati mengerutkan bibirnya dengan senyum yang tampak puas dan sedikit mengejek di ujung-ujungnya. Ia memang dikenal suka mencari masalah, dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meremehkan Kirana di depan umum, terlebih di hari yang paling penting seperti ini.

Daniati memang selalu tidak menyukai Kirana yang dianggapnya anak sakit-sakitan. Dalam pandangannya, Kirana hanya terus menempel pada kakaknya dengan sikap yang sombong.

Yang lebih penting lagi, ia dan Sekar adalah sahabat karib yang sudah saling mengenal selama tujuh tahun lamanya.

Ibu Danendra sebenarnya tidak keberatan dengan pernikahan ini, lagipula hubungan kedua keluarga memang sudah dekat sejak bertahun-tahun.

Terlebih lagi, di mata Ibu Danendra, Sekar hanyalah anak angkat keluarga Wijaya, bukan darah daging sungguhan.

Bagaimana mungkin ia bisa menandingi Kirana, seorang gadis bangsawan yang pantas dan terhormat?

Ia berkata dengan nada yang sungguh-sungguh, "Rara, jika kau menunggu Danendra, ia pasti akan kembali untuk menikahimu."

Kirana menunduk dan melihat waktu yang tertera di Gelang Lentera miliknya. Saat itu sudah lewat pukul sembilan malam. Ia menatap angka di cermin gema itu lama-lama, seolah menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang.

Tinggal kurang dari tiga jam menuju tengah malam, dan waktu terus berjalan tanpa ampun.

Jika Danendra benar-benar ingin kembali, seharusnya ia sudah berada di Provinsi Seruni sejak sekarang.

Namun ia tidak datang.

Kirana tersenyum dan berkata, "Bibi, pernikahan ini tetap akan dilangsungkan seperti biasa. Bibi sebaiknya kembali ke balai jamuan saja, agar para tamu tidak bertanya-tanya." Ia memilih untuk tetap tersenyum karena tidak ada gunanya bertengkar di depan orang-orang yang sedang menonton; ia jauh lebih tenang daripada yang mereka kira.

Ibu Danendra mengangguk puas. Meskipun Kirana ini kurang sehat, latar belakang keluarganya baik, perawatannya rapi, dan ia terlihat patuh serta cerdas.

Daniati menyangga ibunya, menoleh ke belakang sambil mencibir, "Kasihan sekali, aku sudah tidak tega melihat wajahmu nanti!"

Keduanya pun pergi tanpa menyadari bahwa Rangga berada di sudut koridor itu sejak tadi hingga akhir. Mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri sehingga melewatkan sosok di sudut yang paling penting.

Kirana mengerutkan mata, lalu berbalik. Ia mendapati Rangga masih duduk di tempatnya semula. Tadi ia menyembunyikan ekornya karena takut terlihat, dan sekarang ekor itu kembali muncul dengan gemas.

Rangga sedang dengan cermat mencoba mengaitkan ekornya ke pergelangan kaki Kirana lagi, seperti anak kecil yang sedang bermain. Ekornya bergoyang pelan, dan matanya yang besar menatap Kirana penuh harap, seolah Meminta persetujuan.

Terpopuler

Comments

Kartika Candrabuwana

Kartika Candrabuwana

yah itu wajar lah cari yang ganteng

2026-08-20

4

Miu.Nuha

Miu.Nuha

sikecil sikecil, emang dia sikecil 😒
penasaran sama wujud asliny, kalo beneran kecil ya mana pantas jadi pasangan...

2026-08-20

1

Myz Pena

Myz Pena

Dia tertawa karena tidak yakin dengan Rangga atau karena tidak percaya dengan umurnya rangga ?

2026-08-20

1

lihat semua
Episodes
1 1 - PERNIKAHAN TETAP BERLANGSUNG
2 2 - RASANYA INGIN KUUSAP
3 3 - NIKAHI AKU
4 4 - SEOLAH KITA PERNAH BERTEMU
5 5 - PANGLIMA KABUT YANG MENGHILANG
6 6 - KRISIS API DARAH
7 7 - RAMU SEJIWA
8 8 - EKOR YANG MELILIT
9 9 - BAGINDA ADALAH KEPONAKANMU
10 10 - SUMPAH YANG TELAH TERIKAT
11 11 - APA NYONYA INI MALU?
12 12 - BAGINDA YANG MELULUSKAN PENGAJUAN PERNIKAHAN
13 13 - KALAU DIA BERANI, PASANG ZIRAHMU
14 14 - KEK, KELUARGA KITA TAK MAMPU MENGHIDUPINYA
15 15 - SIAPA NAMA PRIA ITU SEBENARNYA?
16 16 - TERIMA KASIH TELAH MEMBAWAKU PADA CINTA SEJATI
17 17 - MIMPI DICEKIK EKOR
18 18 - KALAU BAGUS, TIDAK AKAN KULEPASKAN
19 19 - APAKAH KAU KENAL PANGLIMA RANGGA?
20 20 - PANGLIMA RANGGA BERBOHONG PADA ISTRINYA?
21 21 - LEBIH TEH DARI TEH HIJAU
22 22 - SIAPA KINANTI ITU?
23 23 - HASRAT HIDUP MACAN PUTIH
24 24 - PANGLIMA YANG MENDADAK TANPA TOPENG
25 25 - SUAMIMU TAMPAKNYA PANGLIMA PERTAMA
26 26 - YANG DISAYANG SELALU PERCAYA DIRI
27 27 - IDOLA MENDADAK JADI IPAR
28 28 - CUEK NAMUN SENSITIF
29 29 - KAU AKAN MENYURAT CERAI AKU?
30 30 - TUAN TIDAK GEGABAH, ARSIP AGUNG YANG GEGABAH
31 31 - RAMU SEJIWA YANG TAK MEMPAN LAGI
32 32 - BERMALAM DI SARANG NAGA
33 33 - SIAPA YANG MENGGALI TEMBOK SIAPA
34 34 - PANGLIMA YANG BERPURA-PURA TIDAK ADA
35 35 - RESEP MEMBUJUK SEORANG ISTRI
36 36 - MERAH MENYALA MELAWAN MERAH MUDA
37 37 - JAMUAN MALAM UNTUK KELUARGA BESAR
38 38 - DAPUR PANGLIMA YANG BELUM PERNAH MENYALA
39 39 - KARENA KAULAH YANG MEMILIH AKU
40 40 - DINGIN DI LUAR, SAYANG DI DALAM
41 41 - TAMU BESAR DAN SEORANG TEMAN
42 42 - KIDUNG YANG TAK BOLEH TERDENGAR
43 43 - KETIKA KINANTI BERSUARA
44 44 - PERJAMUAN AGUNG DARI ALAM KUNA
45 45 - MANTEL DINGIN DI PELATARAN
46 46 - LECET YANG DIOBATI
47 47 - DUA NAMA, SATU ISTRI
48 48 - PERKATAAN SANG PEWARIS
49 49 - TERLELAP DALAM PELUK EKOR NAGA
50 50 - BUBUR TENGAH MALAM
51 51 - KABUT YANG MENYELIMUTI LESTARI
52 52 - SI MANIS DAN SI DINGIN
53 53 - UNDANGAN LAGA DI LEMBAH PADASARI
54 54 - MERAK YANG AKHIRNYA TERBANG
55 55 - KETIKA PANGLIMA TURUN KE DAPUR
56 56 - RUANG BERSANTAI DI JANTUNG KAPAL
57 57 - AIR MATA DI UJUNG GEMA
58 58 - TERLALU MUDAH MENGANTUK
59 59 - BEBAN SERATUS KATI
Episodes

Updated 59 Episodes

1
1 - PERNIKAHAN TETAP BERLANGSUNG
2
2 - RASANYA INGIN KUUSAP
3
3 - NIKAHI AKU
4
4 - SEOLAH KITA PERNAH BERTEMU
5
5 - PANGLIMA KABUT YANG MENGHILANG
6
6 - KRISIS API DARAH
7
7 - RAMU SEJIWA
8
8 - EKOR YANG MELILIT
9
9 - BAGINDA ADALAH KEPONAKANMU
10
10 - SUMPAH YANG TELAH TERIKAT
11
11 - APA NYONYA INI MALU?
12
12 - BAGINDA YANG MELULUSKAN PENGAJUAN PERNIKAHAN
13
13 - KALAU DIA BERANI, PASANG ZIRAHMU
14
14 - KEK, KELUARGA KITA TAK MAMPU MENGHIDUPINYA
15
15 - SIAPA NAMA PRIA ITU SEBENARNYA?
16
16 - TERIMA KASIH TELAH MEMBAWAKU PADA CINTA SEJATI
17
17 - MIMPI DICEKIK EKOR
18
18 - KALAU BAGUS, TIDAK AKAN KULEPASKAN
19
19 - APAKAH KAU KENAL PANGLIMA RANGGA?
20
20 - PANGLIMA RANGGA BERBOHONG PADA ISTRINYA?
21
21 - LEBIH TEH DARI TEH HIJAU
22
22 - SIAPA KINANTI ITU?
23
23 - HASRAT HIDUP MACAN PUTIH
24
24 - PANGLIMA YANG MENDADAK TANPA TOPENG
25
25 - SUAMIMU TAMPAKNYA PANGLIMA PERTAMA
26
26 - YANG DISAYANG SELALU PERCAYA DIRI
27
27 - IDOLA MENDADAK JADI IPAR
28
28 - CUEK NAMUN SENSITIF
29
29 - KAU AKAN MENYURAT CERAI AKU?
30
30 - TUAN TIDAK GEGABAH, ARSIP AGUNG YANG GEGABAH
31
31 - RAMU SEJIWA YANG TAK MEMPAN LAGI
32
32 - BERMALAM DI SARANG NAGA
33
33 - SIAPA YANG MENGGALI TEMBOK SIAPA
34
34 - PANGLIMA YANG BERPURA-PURA TIDAK ADA
35
35 - RESEP MEMBUJUK SEORANG ISTRI
36
36 - MERAH MENYALA MELAWAN MERAH MUDA
37
37 - JAMUAN MALAM UNTUK KELUARGA BESAR
38
38 - DAPUR PANGLIMA YANG BELUM PERNAH MENYALA
39
39 - KARENA KAULAH YANG MEMILIH AKU
40
40 - DINGIN DI LUAR, SAYANG DI DALAM
41
41 - TAMU BESAR DAN SEORANG TEMAN
42
42 - KIDUNG YANG TAK BOLEH TERDENGAR
43
43 - KETIKA KINANTI BERSUARA
44
44 - PERJAMUAN AGUNG DARI ALAM KUNA
45
45 - MANTEL DINGIN DI PELATARAN
46
46 - LECET YANG DIOBATI
47
47 - DUA NAMA, SATU ISTRI
48
48 - PERKATAAN SANG PEWARIS
49
49 - TERLELAP DALAM PELUK EKOR NAGA
50
50 - BUBUR TENGAH MALAM
51
51 - KABUT YANG MENYELIMUTI LESTARI
52
52 - SI MANIS DAN SI DINGIN
53
53 - UNDANGAN LAGA DI LEMBAH PADASARI
54
54 - MERAK YANG AKHIRNYA TERBANG
55
55 - KETIKA PANGLIMA TURUN KE DAPUR
56
56 - RUANG BERSANTAI DI JANTUNG KAPAL
57
57 - AIR MATA DI UJUNG GEMA
58
58 - TERLALU MUDAH MENGANTUK
59
59 - BEBAN SERATUS KATI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!