Aroma kertas tua dan tembok batu coldwell

Hujan gerimis khas Oxfordshire yang tadinya hanya rintik halus kini berubah menjadi curahan air yang konsisten menimpa genteng-genteng batu St. Jude’s College. Bau tanah basah menguap, bercampur dengan aroma kertas tua yang menyeruak begitu Rory melangkah masuk ke dalam Perpustakaan Coldwell.

Perpustakaan itu lebih mirip katedral abad pertengahan daripada ruangan belajar. Rak-rak kayu ek berwarna cokelat gelap menjulang hingga ke langit-langit berukir, menampung ribuan jilid buku bertulang kulit yang tampak belum tersentuh selama berpuluh-puluh tahun.

"Buku panduan bilang kita harus cari peta denah tahun 1920 di Sayap Barat," bisik Gemma sambil merapatkan jaket rajutnya. Nafasnya mengembun tipis di udara dingin perpustakaan. "Rory, kamu yakin kita sanggup selesaikan tiga lembar analisis ini sebelum jam lima? Ini baru jam tiga lewat sedikit, dan tanganku rasanya mau mati rasa."

"Kurangi mengeluh, perbanyak jalan," balaskan Rory tenang. Matanya sibuk memindai abjad di papan penunjuk rak. "Kalau kita selesaikan tugas ini tepat waktu, kita punya waktu satu jam untuk mengeringkan pakaian sebelum pengarahan malam."

Gemma mendesah, tapi ia tetap menguntit di belakang Rory. "Tapi serius deh, Julian Radcliffe itu beneran manusia atau patung pualam sih? Mukanya ganteng banget, tapi omongannya pedas kayak cabai rawit. 'Latihlah jemarimu untuk menulis lebih cepat,' ceramahnya. Ugh, rasanya mau tak lempar pakai kamus Latin!"

Rory terkekeh tipis suara tawa langka yang membuat Gemma menoleh kaget.

"Dia cuma menjalankan tugasnya, Gem. Senior kedisiplinan memang dibayar atau dalam hal ini, diberi poin reputasi untuk kelihatan galak. Kalau dia tersenyum ramah, dua ratus mahasiswa baru tadi bakal menyepelekan dia."

"Tetap saja! Dia menyebalkan," gumam Gemma.

Langkah Rory terhenti di depan rak berlabel B-12: Arsitektur & Denah Bersejarah. Tangannya yang agak memerah karena udara dingin meraba jajaran buku tebal di rak setinggi dada. Posisinya yang dicari ada di rak paling atas, sedikit di luar jangkauan tingginya.

Rory berjinjit, mengulurkan jemarinya untuk menggapai sampul buku tebal bertuliskan St. Jude’s Architectural Expansion (1915 -1925). Ujung jarinya baru saja menyentuh sudut buku saat sebuah tangan lain berkulit bersih dengan jemari panjang yang ramping terulur dari belakang bahunya dan mengambil buku itu dengan sangat mudah.

Aroma lembut campuran kayu cendana dan sabun maskulin yang bersih langsung merayap ke indra penciuman Rory.

Rory berbalik dengan cepat.

Julian Radcliffe berdiri begitu dekat. Pria itu sudah melepas jas almamaternya, kini hanya mengenakan kemeja putih bersetrika rapi dengan lengan yang digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan bawah yang kokoh dan garis vena yang samar. Jam tangan antik berantai perak melingkar di pergelangan tangan kirinya.

"Mencari ini, Miss Vance?" suara Julian terdengar rendah, memantul samar di antara rak-rak buku yang sunyi.

Rory tidak mundur selangkah pun, meskipun jarak mereka hanya sekitar dua jengkal. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam mata hazel yang dalam itu.

"Ya. Terima kasih sudah mengambilkan," kata Rory datar, mengulurkan tangannya untuk meminta buku tersebut. "Saya akan menggunakannya untuk tugas kelompok kami."

Julian tidak langsung menyerahkan buku itu. Ia memegang ujung buku dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi bertengger santai di dalam saku celana kain hitamnya. Tatapannya meneliti wajah Rory rambut cokelatnya yang sedikit lembap karena gerimis di luar, serta ekspresi wajahnya yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda terintimidasi.

"Biokimia dan Sains Data," kata Julian pelan, seolah mengingat catatan di papannya tadi siang. "Kenapa mengambil jurusan itu kalau kamu punya ketertarikan pada arsitektur bangunan tua?"

"Saya tidak tertarik pada arsitekturnya, Senior Radcliffe. Saya tertarik pada fakta bahwa jika saya tidak menyelesaikan analisis ini sebelum jam lima, Anda akan memotong poin asrama kami," jawab Rory tanpa jeda. "Jadi, boleh saya minta bukunya?"

Di belakang Rory, Gemma menahan nafasnya rapat-rapat. Gadis itu sudah siap-siap melarikan diri kalau-kalau Julian murka.

Namun, alih-alih marah, sudut bibir Julian justru terangkat sangat tipis. Sebuah senyum samar yang hampir tak terlihat, namun cukup untuk mengubah aura dingin di wajahnya menjadi sesuatu yang sangat berbahaya bagi kesehatan jantung siapapun yang melihatnya.

"Gunakan dengan hati-hati. Buku ini diterbitkan terbatas," ujar Julian. Ia mengulurkan buku itu, jari-jarinya sempat bersentuhan sebentar dengan jemari Rory saat penyerahan.

Sentuhan itu singkat, tidak sampai dua detik, tapi kulit jari Julian terasa hangat bertolak belakang dengan tangan Rory yang dingin. Rory merasakan sedikit sengatan aneh di dadanya, namun ia dengan cepat menepis perasaan itu.

"Terima kasih," ulang Rory lurus.

Julian mengangguk pelan. Sebelum ia berbalik pergi, matanya melirik ke arah kertas parchment yang dipegang Rory. "Pastikan tulisan tanganmu bisa dibaca. Saya yang akan memeriksa laporan kelompokmu nanti sore."

Julian melangkah pergi, langkah kakinya hampir tak bersuara di atas karpet tebal perpustakaan.

Begitu sosok Julian menghilang di balik deretan rak, Gemma langsung mencengkeram lengan sweater Rory dan memekik tanpa suara.

"Rory! Kamu gila, kamu gila, kamu gila!" bisik Gemma heboh dengan mata membelalak. "Kamu baru saja membalas omongan Julian Radcliffe tanpa berkedip! Dan... dan tadi itu apa?! Dia senyum! Aku bersumpah demi kuas lukisku, dia senyum tipis banget ke kamu!"

"Dia cuma bilang buku itu terbatas, Gem. Dan dia senyum karena menganggap kita sibuk mengejar tenggat waktu," balas Rory tenang, meski ia merapikan lembar kertasnya dengan sedikit lebih cepat dari biasanya. "Ayo. Jangan buang waktu. Kita punya analisis yang harus ditulis."

Dua jam berikutnya berlalu dalam kesibukan yang intens. Di sebuah meja kayu panjang dekat jendela besar yang diterpa bintik-bintik air hujan, Rory dan Gemma bekerja keras.

Rory terbukti sangat efisien. Jemarinya menari di atas kertas parchment dengan pena bulu bertinta hitam, mencatat koordinat bangunan, rasio ketahanan dinding batu, serta pembagian tata ruang Sayap Barat tanpa perlu membaca ulang buku berkali-kali. Otaknya menyerap informasi seperti spons.

Tepat pukul 16.50, sepuluh menit sebelum tenggat waktu, Rory menepuk kertasnya yang sudah kering dan rapi.

"Selesai," gumam Rory.

"Tangan aku lumpuh," ratap Gemma, menyandarkan kepalanya di atas meja. "Tapi serius, Rory, tulisan tanganmu rapi banget kayak cetakan mesin. Kalau Senior Julian masih nyari kesalahan dari laporan ini, fix dia ada dendam pribadi sama kamu."

"Dia tidak kenal aku, bagaimana bisa dendam?" tanya Rory logis sambil membereskan alat tulisnya.

Mereka berdua berjalan menuju meja pengumpulan panitia di area lobi perpustakaan. Di sana, beberapa kelompok mahasiswa baru nampak panik karena laporan mereka belum selesai, sementara beberapa senior berdiri mengawasi dengan jam genggam di tangan.

Di antara para senior itu, berdiri Leo Thorne pria tinggi dengan rambut pirang ikal dan wajah yang jauh lebih ramah daripada Julian. Leo adalah wakil ketua panitia.

"Kelompok 12?" tanya Leo ramah saat Rory menyerahkan berkasnya.

"Ya. Aurora Vance dan Gemma Foster," jawab Rory.

Leo menerima kertas itu dan sekilas melirik isinya. Matanya membelalak kagum. "Wah... rapi sekali. Kalian bahkan menyertakan perhitungan proporsi sudut bangunan? Impresif."

"Terima kasih, Senior," ujar Gemma sambil tersenyum manis.

Leo membalas senyuman Gemma dengan tatapan hangat yang bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya. "Sama-sama. Nama kamu Gemma, kan? Dari jurusan Seni Murni?"

"Iya!" jawab Gemma agak tersipu.

Sebelum percakapan itu berlanjut, sebuah bayangan tinggi melangkah mendekati meja. Julian muncul dari ruang arsip di belakang Leo. Pria itu menyapu pandangannya ke arah berkas di tangan Leo, lalu menatap Rory.

"Sudah selesai, Miss Vance?" tanya Julian dingin.

"Tepat waktu, Senior Radcliffe," jawab Rory tegas.

Julian mengambil berkas dari tangan Leo, membaliknya perlahan, memindai setiap baris tulisan tangan Rory yang rapi dan terstruktur sempurna. Tidak ada coretan, tidak ada noda tinta, dan analisisnya sangat tajam.

"Lumayan," kata Julian singkat. Kata yang terkesan hemat, tapi keluar dari mulut Julian, itu adalah sebuah pujian tinggi. "Kalian boleh kembali ke asrama untuk persiapan sesi malam."

"Terima kasih," kata Rory. Ia memberi anggukan sopan, lalu menarik tangan Gemma yang masih bertatap mata dengan Leo. "Ayo, Gem."

Saat Rory berbalik dan melangkah keluar dari pintu kaca perpustakaan menuju pelataran yang basah, ia bisa merasakan sepasang mata hazel menyapu punggungnya hingga ia menghilang di balik belokan lorong.

Di meja panitia, Leo menyenggol lengan Julian sambil terkekeh. "Cewek yang bawa berkas tadi... cerdas banget. Dan temannya yang jurusan Seni Murni itu manis juga."

Julian tidak langsung menjawab. Matanya masih menatap pintu keluar yang kosong, sebelum ia memasukkan laporan Rory ke dalam map khusus.

"Dia bukan cuma cerdas, Leo," gumam Julian pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. "Dia tahu apa yang dia lakukan."

Episodes
1 Bau Hujan dan Sol Sepatu yang Aus
2 Aroma kertas tua dan tembok batu coldwell
3 Gerimis di balik jendela Gotik
4 Batas Ketahanan dan Jas yang Beraroma Kayu Cendana
5 Gaun Pinjaman dan Dansa Tanpa Musik
6 Jas Laboratorium dan Uji Presisi
7 Garis Batas dan Telpon di Halaman Tengah
8 Di Bawah Pendar Lampu Meja Mahoni
9 Cat Air, Kopi Hangat, dan Lembar Musik Abad Ke-18
10 Aroma Kopi, Hujan Bulan Oktober, dan Sebuah Kejujuran
11 Ujian Tengah Semester dan Cemburu di Perpustakaan
12 Bintang di atas Atap Dan Pengakuan yang tertunda
13 Keheningan di Antara Pilihan dan Penolakan
14 Keputusan di Bawah Lampu Halaman Utama
15 Kamar Sewa Sederhana dan Kopi Hitam Murah
16 Jejak Pertama di Jalur Independen
17 Ujian di Balik Dinding Transparan
18 Ritme Kereta Pagi dan Bayang-Bayang senior
19 Terobosan di antara lelah dan Harapan
20 Panggung di Bawah lampu kristal
21 Pintu yang Terbuka Lebar
22 Pagi pertama dan Konfrontasi
23 Pembuktian di Ruang Sidang Senat
24 Diantara Selebrasi, Hujan Oxford, dan Bayang-bayang Baru
25 Pilihan di bawah bayang-bayang Keputusan
26 Dinding Kaca dan Draf Penukaran
27 Hujan di Atas Batu Granit dan Jarak Yang Terbentang
28 Strategi di Bawah Pendar Lampu Temaram
29 Di Bawah Pendar Gaun Malam dan Panggung yang di Siapkan
30 Diatas Puing-Puing Dinasti dan Langkah Pertama Menuju Kebebasan
31 Langit Baru Zurich dan Fondasi yang di Tancapkan
32 Fajar di Zurich dan Jejak yang di Tinggalkan
33 Gema Riset dan Langkah Pertama Zurich
34 Di Bawah Lonceng Kapel Hönggerberg dan Janji di Atas Bukit
35 Lembah Kehidupan dan Garis Horizon Baru
36 Tangisan Pertama di Hönggerberg dan Suara Masa Depan
37 Simfoni Langkah Kecil dan Surat dari Pastur St. Jude's
38 Warisan Kemanusiaan dan Horizon yang Meluas
39 Suara di Antara Gelombang dan sura dari Masa Depan
40 Puncak Pengabdian dan Cahaya yang Tak Pernah Padam
41 Generasi Penjaga Lentera dan Panggilan Terakhir
42 Pujangga di Balik Horizon dan Abjad yang Tak Usai
43 Lentera di Tepi Danau dan Abjad yang di Wariskan
44 Jejak Salju di Atas Janji dan Simfoni Tanpa Akhir
45 Mahakarya Jiwa dan Warisan yang Melampaui Waktu
46 Suara Air dan Epilog yang Bernapas
47 Gemerlap Lentera dan monumen yang bernapas
48 Pelita di Horizon Sunyi dan Abjad yang Tinggal Abadi
49 Mahakarya Terakhir dan Gerbang Menuju Keabadian
50 Epilog Cahaya dan Nyala Yang Tak Pernah Padam
51 Suara dari Oxford dan Benih Yang Kembali Pulang
52 Gema di Universitas Tua dan Jejak Langkah Pertama
53 Cahaya di Ujung Semesta dan Pelita Generasi Keempat
54 Benang Emas yang di Ujung Era dan Cahaya yang Mengakar
55 Mahakarya Nyala Abadi dan Puncak dari Segala Puncak
56 Bintang Pertama di Atas Hönggerberg dan Gerbang Peradaban Baru
57 Cakrawala Fajar dan Mahakarya Tanpa Batas
58 Fajar Baru di Cambridge dan Tunas Generasi Kelima
59 Peta Baru di Benua Selatan dan Jejak Kiral di Nairobi
60 Cahaya di Nusantara dan Pusaka Abadi Jiwa
61 Samudra Etika dan Ujian di Puncak Altay
62 Tahta Keheningan dan Simfoni Abadi di Hönggerberg
63 Gema Kiral di Lembah Ketenangan dan Nyanyian Bintang
64 Anomali di Kedalaman Mariana dan Sinyal Terdistorsi
65 Badai Saraf di PalungGelap dan Benteng Kesadaran
66 Inti Kuantum dan Runtuhnya Bayangan Hyperion
67 Resonansi di Cakrawala Sunyi dan Bayang-bayang Orbital
68 Fajar di Orbit Rendah dan Inisiasi Proyek Aetheris-Orbital
69 Sinyal Gelap dari Obsidian dan Bayang-Bayang Konsorsium Kelam
70 Menerjang Badai Es di Kubah Obsidian
71 Penantian di Ujung Penawar dan Keheningan Es Artika
72 Gema Fajar di Hönggerberg dan Fondasi Abadi
73 Pewaris Cahaya dan Fajar Baru di Hönggerberg
74 Jejak Pertama di Lembah Kina dam Bunga Abadi
75 Simfoni Lembah Kawi dan Cakrawala Baru
76 Jejak Perak di Pesisir Nusantara dan Garis Katulistiwa
77 Mahakarya di Lembah Bintang dan Jejak Generasi Keenam
78 Bintang Pertama diGurun Atacama dan Fajar Baru
79 Prasasti Katulistiwa dan Langkah Pertama Generasi Keenam
80 Lentera Zurich dan Pemulihan Benua Tua
81 Lembah Sahara dan Pemulihan Sabuk Hijau Dunia
82 Kepulangan Ke Lemah Jawa dan Rumah Penyembuhan
83 Pesta Panen Kina dan Harmony Katulistiwa
84 Lembaran Terakhir dan Malam Seribu Pelita
85 Fajar Abadi di Lembah Argopuro (Ending)
86 Kata-kata Bijak
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bau Hujan dan Sol Sepatu yang Aus
2
Aroma kertas tua dan tembok batu coldwell
3
Gerimis di balik jendela Gotik
4
Batas Ketahanan dan Jas yang Beraroma Kayu Cendana
5
Gaun Pinjaman dan Dansa Tanpa Musik
6
Jas Laboratorium dan Uji Presisi
7
Garis Batas dan Telpon di Halaman Tengah
8
Di Bawah Pendar Lampu Meja Mahoni
9
Cat Air, Kopi Hangat, dan Lembar Musik Abad Ke-18
10
Aroma Kopi, Hujan Bulan Oktober, dan Sebuah Kejujuran
11
Ujian Tengah Semester dan Cemburu di Perpustakaan
12
Bintang di atas Atap Dan Pengakuan yang tertunda
13
Keheningan di Antara Pilihan dan Penolakan
14
Keputusan di Bawah Lampu Halaman Utama
15
Kamar Sewa Sederhana dan Kopi Hitam Murah
16
Jejak Pertama di Jalur Independen
17
Ujian di Balik Dinding Transparan
18
Ritme Kereta Pagi dan Bayang-Bayang senior
19
Terobosan di antara lelah dan Harapan
20
Panggung di Bawah lampu kristal
21
Pintu yang Terbuka Lebar
22
Pagi pertama dan Konfrontasi
23
Pembuktian di Ruang Sidang Senat
24
Diantara Selebrasi, Hujan Oxford, dan Bayang-bayang Baru
25
Pilihan di bawah bayang-bayang Keputusan
26
Dinding Kaca dan Draf Penukaran
27
Hujan di Atas Batu Granit dan Jarak Yang Terbentang
28
Strategi di Bawah Pendar Lampu Temaram
29
Di Bawah Pendar Gaun Malam dan Panggung yang di Siapkan
30
Diatas Puing-Puing Dinasti dan Langkah Pertama Menuju Kebebasan
31
Langit Baru Zurich dan Fondasi yang di Tancapkan
32
Fajar di Zurich dan Jejak yang di Tinggalkan
33
Gema Riset dan Langkah Pertama Zurich
34
Di Bawah Lonceng Kapel Hönggerberg dan Janji di Atas Bukit
35
Lembah Kehidupan dan Garis Horizon Baru
36
Tangisan Pertama di Hönggerberg dan Suara Masa Depan
37
Simfoni Langkah Kecil dan Surat dari Pastur St. Jude's
38
Warisan Kemanusiaan dan Horizon yang Meluas
39
Suara di Antara Gelombang dan sura dari Masa Depan
40
Puncak Pengabdian dan Cahaya yang Tak Pernah Padam
41
Generasi Penjaga Lentera dan Panggilan Terakhir
42
Pujangga di Balik Horizon dan Abjad yang Tak Usai
43
Lentera di Tepi Danau dan Abjad yang di Wariskan
44
Jejak Salju di Atas Janji dan Simfoni Tanpa Akhir
45
Mahakarya Jiwa dan Warisan yang Melampaui Waktu
46
Suara Air dan Epilog yang Bernapas
47
Gemerlap Lentera dan monumen yang bernapas
48
Pelita di Horizon Sunyi dan Abjad yang Tinggal Abadi
49
Mahakarya Terakhir dan Gerbang Menuju Keabadian
50
Epilog Cahaya dan Nyala Yang Tak Pernah Padam
51
Suara dari Oxford dan Benih Yang Kembali Pulang
52
Gema di Universitas Tua dan Jejak Langkah Pertama
53
Cahaya di Ujung Semesta dan Pelita Generasi Keempat
54
Benang Emas yang di Ujung Era dan Cahaya yang Mengakar
55
Mahakarya Nyala Abadi dan Puncak dari Segala Puncak
56
Bintang Pertama di Atas Hönggerberg dan Gerbang Peradaban Baru
57
Cakrawala Fajar dan Mahakarya Tanpa Batas
58
Fajar Baru di Cambridge dan Tunas Generasi Kelima
59
Peta Baru di Benua Selatan dan Jejak Kiral di Nairobi
60
Cahaya di Nusantara dan Pusaka Abadi Jiwa
61
Samudra Etika dan Ujian di Puncak Altay
62
Tahta Keheningan dan Simfoni Abadi di Hönggerberg
63
Gema Kiral di Lembah Ketenangan dan Nyanyian Bintang
64
Anomali di Kedalaman Mariana dan Sinyal Terdistorsi
65
Badai Saraf di PalungGelap dan Benteng Kesadaran
66
Inti Kuantum dan Runtuhnya Bayangan Hyperion
67
Resonansi di Cakrawala Sunyi dan Bayang-bayang Orbital
68
Fajar di Orbit Rendah dan Inisiasi Proyek Aetheris-Orbital
69
Sinyal Gelap dari Obsidian dan Bayang-Bayang Konsorsium Kelam
70
Menerjang Badai Es di Kubah Obsidian
71
Penantian di Ujung Penawar dan Keheningan Es Artika
72
Gema Fajar di Hönggerberg dan Fondasi Abadi
73
Pewaris Cahaya dan Fajar Baru di Hönggerberg
74
Jejak Pertama di Lembah Kina dam Bunga Abadi
75
Simfoni Lembah Kawi dan Cakrawala Baru
76
Jejak Perak di Pesisir Nusantara dan Garis Katulistiwa
77
Mahakarya di Lembah Bintang dan Jejak Generasi Keenam
78
Bintang Pertama diGurun Atacama dan Fajar Baru
79
Prasasti Katulistiwa dan Langkah Pertama Generasi Keenam
80
Lentera Zurich dan Pemulihan Benua Tua
81
Lembah Sahara dan Pemulihan Sabuk Hijau Dunia
82
Kepulangan Ke Lemah Jawa dan Rumah Penyembuhan
83
Pesta Panen Kina dan Harmony Katulistiwa
84
Lembaran Terakhir dan Malam Seribu Pelita
85
Fajar Abadi di Lembah Argopuro (Ending)
86
Kata-kata Bijak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!