Gerimis di balik jendela Gotik

​Hujan malam di Oxfordshire membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Lampu-lampu minyak dan lentera bergaya Victorian di sepanjang lorong kampus St. Jude’s menyala, memancarkan pendar kuning temaram yang memantul di atas jalanan batu yang basah.

​Di dalam Hall Utama, suasana jauh dari kata hangat. Dua ratus mahasiswa baru duduk berjejer di atas bangku-bangku kayu panjang. Sesi malam ini ditutupi dengan evaluasi aturan kedisiplinan dan pembagian jadwal mentoring individu.

Rory duduk tegap dengan kedua tangan saling bertaut di atas paha. Ia mengenakan sweater rajut abu-abu milik ibunya yang sedikit kebesaran dan memiliki beberapa helai benang terlepas di bagian lengan serta celana jins gelap yang sudah mulai memudar warna di bagian lutut. Di sekelilingnya, mahasiswi-mahasiswi lain tampak sibuk memoles lipstik atau mengeluhkan mantel cashmere mereka yang terkena cipratan air hujan.

​"Kalian lihat sepatu cewek yang duduk di baris dua itu?" bisik seorang mahasiswi berambut pirang di barisan belakang Rory. Suaranya sengaja ditahan, tapi masih cukup jelas terdengar. "Sepatunya aus banget. Apa kampus ini sekarang menerima siapa saja tanpa seleksi latar belakang?"

Gemma, yang duduk di sebelah Rory, langsung menegang. Wajahnya memerah karena marah, dan ia hampir saja berbalik untuk menegur gadis itu.

​Namun, Rory menahan lengan Gemma dengan lembut. "Biarkan saja, Gem. Energi kamu terlalu berharga untuk dilayani."

​"Tapi dia keterlaluan, Rory!" bisik Gemma gemas. "Mereka cuma menang uang orang tua, sementara kamu ada di sini karena otakmu."

​Rory hanya tersenyum sangat tipis, menggeleng pelan. "Uang mereka yang bayar fasilitasku di sini. Secara tidak langsung, aku harus berterima kasih pada orang tua mereka."

Gemma melotot, tak percaya dengan respon Rory yang terlalu santai dan sangat logis itu, lalu mendesah pasrah. "Kamu benar-benar tak tersentuh, ya."

​Di depan panggung, Julian Radcliffe berdiri mendengarkan laporan dari beberapa panitia senior. Meskipun jaraknya lumayan jauh dari barisan Rory, mata hazel-nya yang tajam sempat menyapu ke arah dua mahasiswi yang berbisik-bisik tadi, lalu beralih ke ekspresi tenang Rory. Tidak ada luapan emosi di wajah Rory gadis itu benar-benar mengabaikan sindiran di sekitarnya dengan sangat alami.

​Julian menyilangkan tangan di dada. Tatapannya tertuju pada sweater abu-abu Rory yang sederhana. Bagi seseorang yang tumbuh di lingkungan kelas atas di mana setiap orang dinilai dari merek jam tangan atau garis keturunan melihat seseorang yang begitu percaya diri tanpa perlu memamerkan apa pun adalah hal yang sangat jarang terjadi.

​"Perhatian semuanya," suara Julian kembali menggelegar melalui pengeras suara, memotong semua bisik-bisik di ruangan. "Sesi evaluasi malam ini ditutup. Lembar jadwal mentoring individual untuk minggu depan telah ditempel di papan pengumuman lorong tengah. Kalian dibebaskan kembali ke asrama masing-masing."

​Ketegangan di ruangan seketika mencair. Suara gesekan bangku kayu dan helaan napas lega terdengar bersahut-sahutan.

​Saat mahasiswa mulai berhamburan keluar, Leo Thorne melangkah mendekati meja panitia sambil membawa tumpukan dokumen. "Julian, anak-anak mau kumpul sebentar di lounge senior untuk coffee break. Kamu ikut?"

​Julian melirik jam tangan peraknya. "Kalian duluan saja. Saya mau memeriksa kelengkapan kunci ruang arsip dulu."

​"Siap. Jangan kemalaman, kawan. Hari pertama ini lumayan menguras tenaga," kata Leo sambil menepuk bahu Julian, lalu matanya melirik ke arah Gemma yang sedang berjalan menuju pintu keluar. Leo tersenyum tipis sebelum akhirnya menyusul rombongan senior lain.

​Rory berjalan di lorong penghubung menuju arah asrama. Namun, langkahnya terhenti saat menyadari tas kain tempatnya menyimpan buku catatan kecilnya terasa jauh lebih ringan. Ia meraba bagian dalam tasnya dengan panik.

​"Astaga, bukuku..." gumam Rory.

​Buku catatan kecil bersampul cokelat itu adalah hal paling berharga yang dibawanya dari rumah. Di dalamnya terdapat coretan rumus biokimia, jadwal pengeluaran mingguan yang sangat ketat, serta nomor kontak darurat adiknya, Ethan.

​"Gem, kamu balik ke kamar duluan saja," ujar Rory pada Gemma. "Bukuku ketinggalan di area perpustakaan tua tadi."

​"Mau aku antarkan?" tanya Gemma khawatir.

​"Tidak usah, lorong asrama sudah mau dikunci jam sembilan. Kamu masuk duluan, aku cuma sebentar," jawab Rory cepat, lalu berbalik dan berjalan cepat memotong lorong yang mulai sepi.

​Suasana perpustakaan tua di malam hari terasa jauh lebih remang. Hanya ada beberapa lampu dinding bertiang besi yang menyala. Rory menyusuri jalur yang ia lewati tadi sore, memindai meja-meja kayu tempat ia dan Gemma mengerjakan laporan.

​Di sana, di meja paling ujung dekat jendela besar yang diterpa gerimis, buku catatan cokelatnya tergeletak rapi.

​Rory menghela napas lega. Ia melangkah mendekat dan menyambar buku itu. Namun, saat ia berbalik hendak pergi, sebuah sosok tinggi muncul dari balik pilar batu.

​Julian Radcliffe.

​Julian memegang sebuah lentera kecil di tangan kirinya, membiarkan cahaya kekuningan menerangi separuh wajahnya yang tegas. Ia tampak sedikit terkejut melihat Rory masih berada di sana.

​"Miss Vance? Kenapa belum kembali ke asrama St. Margaret?" tanya Julian, nada suaranya kembali ke mode senior kedisiplinan yang tegas. "Ini sudah pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Jam malam mahasiswa baru dimulai sepuluh menit lagi."

​Rory menunjukkan buku catatan cokelatnya. "Buku saya tertinggal, Senior Radcliffe. Saya langsung kembali sekarang."

​Julian menatap buku di tangan Rory, lalu menatap wajah gadis itu. Udara di lorong itu sangat dingin, membuat napas mereka berdua membentuk uap halus setiap kali berbicara.

​"Satu pelanggaran jam malam akan berdampak pada poin kelompokmu," kata Julian pelan. Ia tidak membentak, tapi nada bicaranya memiliki bobot ketegasan yang tak bisa dibantah.

​Rory merapatkan sweater abu-abunya. "Saya tahu peraturannya. Dan saya masih punya waktu sembilan menit untuk berjalan menuju asrama. Itu lebih dari cukup kalau saya berjalan cepat."

​Julian menaikkan satu alisnya. "Jalan setapak menuju asrama St. Margaret tergenang air karena drainase yang tersumbat di area taman. Kalau kamu lewat jalur biasa, kamu akan terlambat atau sepatu ausmu itu akan makin basah kuyup."

​Rory sedikit tersentak ketika Julian menyebut 'sepatu aus'. Ia melirik sepatunya sebentar, lalu kembali menatap Julian dengan mata jernih tanpa rasa malu sedikit pun.

​"Sepatu ini masih sangat layak pakai, Senior. Dan sedikit air hujan tidak akan membuat saya runtuh," balaskan Rory tenang. "Tapi kalau ada jalur alternatif yang lebih cepat, saya akan sangat berterima kasih jika Anda mau memberitahukannya."

​Julian diam selama beberapa detik. Ada keheningan yang cukup panjang di antara mereka, hanya diisi oleh suara rinai hujan yang mengetuk kaca jendela tua di samping mereka.

​Julian mendesah pelan sebuah desahan halus yang hampir tidak terdengar. Ia memindahkan lentera ke tangan kanannya.

​"Ikut saya," kata Julian singkat.

​Tanpa menunggu jawaban Rory, Julian berbalik dan melangkah menuju lorong samping yang biasanya hanya diakses oleh para staf dan pengurus kampus. Rory sempat ragu sejenak, namun keputusannya untuk bertindak logis menang. Ia mengikuti langkah tegap Julian dari belakang.

​Jalur pintas itu melewati koridor dalam bergaya Gotik yang terhindar dari terpaan hujan. Di sepanjang jalan, tidak ada percakapan di antara mereka. Hanya ada suara langkah sepatu kulit Julian yang mantap dan ketukan pelan sepatu kets Rory.

​Namun, di tengah kesunyian itu, rasa canggung yang aneh mulai menyelinap.

​Julian sengaja memelankan ritme langkah kakinya agar Rory yang memiliki kaki lebih pendek dengannya tidak perlu setengah berlari untuk menyamai kecepatannya. Rory menyadari hal itu. Pria di depannya ini mungkin bersikap dingin dan kaku di depan publik, tapi tindakan kecilnya menunjukkan perhatian pada detail yang sangat tajam.

​"Kenapa Biokimia?" tiba-tiba Julian membuka suara, tanpa menoleh ke belakang.

​Rory agak terkejut dengan pertanyaan itu. "Pilihan yang paling rasional untuk prospek kerja di industri farmasi atau riset medis."

​"Bukan karena passion?"

​"Passion tidak membayarkan tagihan listrik atau obat-obatan keluarga, Senior Radcliffe," jawab Rory jujur, polos, dan tanpa hiasan kata-kata puitis. "Realitas butuh kepastian, bukan cuma ketertarikan."

​Langkah Julian sempat tertahan sejenak sebelum ia kembali berjalan. Jawaban Rory menghantamnya dengan cara yang tak terduga. Di dunianya, semua orang bicara tentang 'panggilan jiwa', 'warisan keluarga', atau 'reputasi'.

Jarang sekali ia mendengar seseorang berbicara tentang bertahan hidup dengan kejujuran semurni itu.

​"Keluargamu bergantung padamu?" tanya Julian lagi, suaranya melunak sedikit.

​"Saya bergantung pada diri saya sendiri," perjelas Rory. "Dan saya tidak berniat mengecewakan siapapun yang sudah membantu saya sampai di sini."

​Mereka sampai di ujung koridor. Di hadapan mereka adalah pintu samping yang langsung mengarah ke halaman dalam asrama St. Margaret kering, terlindung dari hujan, dan hanya berjarak beberapa meter dari pintu masuk utama.

​Julian membukakan pintu kayu berat itu untuk Rory.

​Jam di menara kampus berdentang tepat delapan kali, menandakan pukul delapan lewat lima puluh lima menit. Masih ada sisa lima menit sebelum jam malam.

​Rory berdiri di ambang pintu, menatap Julian. "Terima kasih, Senior Radcliffe. Bantuan Anda sangat efisien."

​Julian menatap Rory dengan cermat di bawah pendar redup lampu dinding. Ada kilat kehangatan yang asing menelusuri dadanya, namun ia menahannya rapat-rapat.

​"Kembalilah ke kamarmu, Miss Vance," kata Julian dingin, namun matanya menatap lembut. "Dan besok pagi, pastikan kamu tidak terlambat untuk apel jam enam."

​"Tentu," jawab Rory.

​Ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam gedung asrama. Saat pintu kayu itu perlahan tertutup, Rory sempat menoleh sebentar dan mendapati Julian masih berdiri di sana, memegang lenteranya di tengah kegelapan lorong, memastikan gadis itu masuk dengan aman.

​Di dalam kamar asrama yang hangat, Rory meletakkan buku catatannya di atas meja.

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya bukan karena takut ditilang poin kedisiplinan, melainkan karena tatapan mata hazel yang terasa terngiang-ngiang di benaknya.

​Julian Radcliffe, batin Rory sambil menatap bayangan dirinya di kaca jendela yang basah. Pria itu tidak sedingin yang diperlihatkannya.

Episodes
1 Bau Hujan dan Sol Sepatu yang Aus
2 Aroma kertas tua dan tembok batu coldwell
3 Gerimis di balik jendela Gotik
4 Batas Ketahanan dan Jas yang Beraroma Kayu Cendana
5 Gaun Pinjaman dan Dansa Tanpa Musik
6 Jas Laboratorium dan Uji Presisi
7 Garis Batas dan Telpon di Halaman Tengah
8 Di Bawah Pendar Lampu Meja Mahoni
9 Cat Air, Kopi Hangat, dan Lembar Musik Abad Ke-18
10 Aroma Kopi, Hujan Bulan Oktober, dan Sebuah Kejujuran
11 Ujian Tengah Semester dan Cemburu di Perpustakaan
12 Bintang di atas Atap Dan Pengakuan yang tertunda
13 Keheningan di Antara Pilihan dan Penolakan
14 Keputusan di Bawah Lampu Halaman Utama
15 Kamar Sewa Sederhana dan Kopi Hitam Murah
16 Jejak Pertama di Jalur Independen
17 Ujian di Balik Dinding Transparan
18 Ritme Kereta Pagi dan Bayang-Bayang senior
19 Terobosan di antara lelah dan Harapan
20 Panggung di Bawah lampu kristal
21 Pintu yang Terbuka Lebar
22 Pagi pertama dan Konfrontasi
23 Pembuktian di Ruang Sidang Senat
24 Diantara Selebrasi, Hujan Oxford, dan Bayang-bayang Baru
25 Pilihan di bawah bayang-bayang Keputusan
26 Dinding Kaca dan Draf Penukaran
27 Hujan di Atas Batu Granit dan Jarak Yang Terbentang
28 Strategi di Bawah Pendar Lampu Temaram
29 Di Bawah Pendar Gaun Malam dan Panggung yang di Siapkan
30 Diatas Puing-Puing Dinasti dan Langkah Pertama Menuju Kebebasan
31 Langit Baru Zurich dan Fondasi yang di Tancapkan
32 Fajar di Zurich dan Jejak yang di Tinggalkan
33 Gema Riset dan Langkah Pertama Zurich
34 Di Bawah Lonceng Kapel Hönggerberg dan Janji di Atas Bukit
35 Lembah Kehidupan dan Garis Horizon Baru
36 Tangisan Pertama di Hönggerberg dan Suara Masa Depan
37 Simfoni Langkah Kecil dan Surat dari Pastur St. Jude's
38 Warisan Kemanusiaan dan Horizon yang Meluas
39 Suara di Antara Gelombang dan sura dari Masa Depan
40 Puncak Pengabdian dan Cahaya yang Tak Pernah Padam
41 Generasi Penjaga Lentera dan Panggilan Terakhir
42 Pujangga di Balik Horizon dan Abjad yang Tak Usai
43 Lentera di Tepi Danau dan Abjad yang di Wariskan
44 Jejak Salju di Atas Janji dan Simfoni Tanpa Akhir
45 Mahakarya Jiwa dan Warisan yang Melampaui Waktu
46 Suara Air dan Epilog yang Bernapas
47 Gemerlap Lentera dan monumen yang bernapas
48 Pelita di Horizon Sunyi dan Abjad yang Tinggal Abadi
49 Mahakarya Terakhir dan Gerbang Menuju Keabadian
50 Epilog Cahaya dan Nyala Yang Tak Pernah Padam
51 Suara dari Oxford dan Benih Yang Kembali Pulang
52 Gema di Universitas Tua dan Jejak Langkah Pertama
53 Cahaya di Ujung Semesta dan Pelita Generasi Keempat
54 Benang Emas yang di Ujung Era dan Cahaya yang Mengakar
55 Mahakarya Nyala Abadi dan Puncak dari Segala Puncak
56 Bintang Pertama di Atas Hönggerberg dan Gerbang Peradaban Baru
57 Cakrawala Fajar dan Mahakarya Tanpa Batas
58 Fajar Baru di Cambridge dan Tunas Generasi Kelima
59 Peta Baru di Benua Selatan dan Jejak Kiral di Nairobi
60 Cahaya di Nusantara dan Pusaka Abadi Jiwa
61 Samudra Etika dan Ujian di Puncak Altay
62 Tahta Keheningan dan Simfoni Abadi di Hönggerberg
63 Gema Kiral di Lembah Ketenangan dan Nyanyian Bintang
64 Anomali di Kedalaman Mariana dan Sinyal Terdistorsi
65 Badai Saraf di PalungGelap dan Benteng Kesadaran
66 Inti Kuantum dan Runtuhnya Bayangan Hyperion
67 Resonansi di Cakrawala Sunyi dan Bayang-bayang Orbital
68 Fajar di Orbit Rendah dan Inisiasi Proyek Aetheris-Orbital
69 Sinyal Gelap dari Obsidian dan Bayang-Bayang Konsorsium Kelam
70 Menerjang Badai Es di Kubah Obsidian
71 Penantian di Ujung Penawar dan Keheningan Es Artika
72 Gema Fajar di Hönggerberg dan Fondasi Abadi
73 Pewaris Cahaya dan Fajar Baru di Hönggerberg
74 Jejak Pertama di Lembah Kina dam Bunga Abadi
75 Simfoni Lembah Kawi dan Cakrawala Baru
76 Jejak Perak di Pesisir Nusantara dan Garis Katulistiwa
77 Mahakarya di Lembah Bintang dan Jejak Generasi Keenam
78 Bintang Pertama diGurun Atacama dan Fajar Baru
79 Prasasti Katulistiwa dan Langkah Pertama Generasi Keenam
80 Lentera Zurich dan Pemulihan Benua Tua
81 Lembah Sahara dan Pemulihan Sabuk Hijau Dunia
82 Kepulangan Ke Lemah Jawa dan Rumah Penyembuhan
83 Pesta Panen Kina dan Harmony Katulistiwa
84 Lembaran Terakhir dan Malam Seribu Pelita
85 Fajar Abadi di Lembah Argopuro (Ending)
86 Kata-kata Bijak
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bau Hujan dan Sol Sepatu yang Aus
2
Aroma kertas tua dan tembok batu coldwell
3
Gerimis di balik jendela Gotik
4
Batas Ketahanan dan Jas yang Beraroma Kayu Cendana
5
Gaun Pinjaman dan Dansa Tanpa Musik
6
Jas Laboratorium dan Uji Presisi
7
Garis Batas dan Telpon di Halaman Tengah
8
Di Bawah Pendar Lampu Meja Mahoni
9
Cat Air, Kopi Hangat, dan Lembar Musik Abad Ke-18
10
Aroma Kopi, Hujan Bulan Oktober, dan Sebuah Kejujuran
11
Ujian Tengah Semester dan Cemburu di Perpustakaan
12
Bintang di atas Atap Dan Pengakuan yang tertunda
13
Keheningan di Antara Pilihan dan Penolakan
14
Keputusan di Bawah Lampu Halaman Utama
15
Kamar Sewa Sederhana dan Kopi Hitam Murah
16
Jejak Pertama di Jalur Independen
17
Ujian di Balik Dinding Transparan
18
Ritme Kereta Pagi dan Bayang-Bayang senior
19
Terobosan di antara lelah dan Harapan
20
Panggung di Bawah lampu kristal
21
Pintu yang Terbuka Lebar
22
Pagi pertama dan Konfrontasi
23
Pembuktian di Ruang Sidang Senat
24
Diantara Selebrasi, Hujan Oxford, dan Bayang-bayang Baru
25
Pilihan di bawah bayang-bayang Keputusan
26
Dinding Kaca dan Draf Penukaran
27
Hujan di Atas Batu Granit dan Jarak Yang Terbentang
28
Strategi di Bawah Pendar Lampu Temaram
29
Di Bawah Pendar Gaun Malam dan Panggung yang di Siapkan
30
Diatas Puing-Puing Dinasti dan Langkah Pertama Menuju Kebebasan
31
Langit Baru Zurich dan Fondasi yang di Tancapkan
32
Fajar di Zurich dan Jejak yang di Tinggalkan
33
Gema Riset dan Langkah Pertama Zurich
34
Di Bawah Lonceng Kapel Hönggerberg dan Janji di Atas Bukit
35
Lembah Kehidupan dan Garis Horizon Baru
36
Tangisan Pertama di Hönggerberg dan Suara Masa Depan
37
Simfoni Langkah Kecil dan Surat dari Pastur St. Jude's
38
Warisan Kemanusiaan dan Horizon yang Meluas
39
Suara di Antara Gelombang dan sura dari Masa Depan
40
Puncak Pengabdian dan Cahaya yang Tak Pernah Padam
41
Generasi Penjaga Lentera dan Panggilan Terakhir
42
Pujangga di Balik Horizon dan Abjad yang Tak Usai
43
Lentera di Tepi Danau dan Abjad yang di Wariskan
44
Jejak Salju di Atas Janji dan Simfoni Tanpa Akhir
45
Mahakarya Jiwa dan Warisan yang Melampaui Waktu
46
Suara Air dan Epilog yang Bernapas
47
Gemerlap Lentera dan monumen yang bernapas
48
Pelita di Horizon Sunyi dan Abjad yang Tinggal Abadi
49
Mahakarya Terakhir dan Gerbang Menuju Keabadian
50
Epilog Cahaya dan Nyala Yang Tak Pernah Padam
51
Suara dari Oxford dan Benih Yang Kembali Pulang
52
Gema di Universitas Tua dan Jejak Langkah Pertama
53
Cahaya di Ujung Semesta dan Pelita Generasi Keempat
54
Benang Emas yang di Ujung Era dan Cahaya yang Mengakar
55
Mahakarya Nyala Abadi dan Puncak dari Segala Puncak
56
Bintang Pertama di Atas Hönggerberg dan Gerbang Peradaban Baru
57
Cakrawala Fajar dan Mahakarya Tanpa Batas
58
Fajar Baru di Cambridge dan Tunas Generasi Kelima
59
Peta Baru di Benua Selatan dan Jejak Kiral di Nairobi
60
Cahaya di Nusantara dan Pusaka Abadi Jiwa
61
Samudra Etika dan Ujian di Puncak Altay
62
Tahta Keheningan dan Simfoni Abadi di Hönggerberg
63
Gema Kiral di Lembah Ketenangan dan Nyanyian Bintang
64
Anomali di Kedalaman Mariana dan Sinyal Terdistorsi
65
Badai Saraf di PalungGelap dan Benteng Kesadaran
66
Inti Kuantum dan Runtuhnya Bayangan Hyperion
67
Resonansi di Cakrawala Sunyi dan Bayang-bayang Orbital
68
Fajar di Orbit Rendah dan Inisiasi Proyek Aetheris-Orbital
69
Sinyal Gelap dari Obsidian dan Bayang-Bayang Konsorsium Kelam
70
Menerjang Badai Es di Kubah Obsidian
71
Penantian di Ujung Penawar dan Keheningan Es Artika
72
Gema Fajar di Hönggerberg dan Fondasi Abadi
73
Pewaris Cahaya dan Fajar Baru di Hönggerberg
74
Jejak Pertama di Lembah Kina dam Bunga Abadi
75
Simfoni Lembah Kawi dan Cakrawala Baru
76
Jejak Perak di Pesisir Nusantara dan Garis Katulistiwa
77
Mahakarya di Lembah Bintang dan Jejak Generasi Keenam
78
Bintang Pertama diGurun Atacama dan Fajar Baru
79
Prasasti Katulistiwa dan Langkah Pertama Generasi Keenam
80
Lentera Zurich dan Pemulihan Benua Tua
81
Lembah Sahara dan Pemulihan Sabuk Hijau Dunia
82
Kepulangan Ke Lemah Jawa dan Rumah Penyembuhan
83
Pesta Panen Kina dan Harmony Katulistiwa
84
Lembaran Terakhir dan Malam Seribu Pelita
85
Fajar Abadi di Lembah Argopuro (Ending)
86
Kata-kata Bijak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!