Gaun Pinjaman dan Dansa Tanpa Musik

Ruang Pos Medis St. Jude’s terasa jauh lebih hangat dibanding pelataran kampus yang disiram gerimis. Bau antiseptik bercampur aroma teh chamomile melayang di udara.

Gemma duduk di atas bed pemeriksaan dengan pergelangan kaki kanan yang sudah terbebat perban elastis. Di sampingnya, Leo Thorne tampak sibuk menyesuaikan posisi bantal agar kaki Gemma terasa lebih nyaman.

"Masih sakit?" tanya Leo lembut, nadanya penuh perhatian yang tidak berusaha disembunyikan.

"Sedikit," jawab Gemma pelan, pipinya memerah halus bukan hanya karena hawa dingin, tapi karena jarak wajah Leo yang begitu dekat. "Terima kasih banyak ya, Senior Leo. Maaf sudah bikin repot."

"Sama sekali tidak repot. Lagipula, panggil aku Leo saja kalau tidak ada senior lain," ujar Leo sambil tersenyum manis, memamerkan lesung pipi tipis yang membuat Gemma makin salah tingkah.

Sementara itu, di sudut ruangan dekat jendela kaca bertirai tebal, Rory berdiri dengan mantel barca hitam milik Julian yang masih membungkus tubuhnya. Mantel yang terlalu besar itu menutupi hingga ke lututnya, menebarkan aroma kayu cendana yang entah bagaimana membuat fokus Rory sedikit terganggu.

Di hadapannya, Julian Radcliffe berdiri menyandarkan bahunya ke dinding kayu. Pria itu sudah mengeringkan rambutnya yang basah, meninggalkan beberapa helai cokelat tua yang jatuh secara acak di dahinya membuat penampilannya terlihat sedikit lebih santai dibanding biasanya.

"Kakimu benar-benar tidak apa-apa?" tanya Julian, menatap lurus ke mata Rory. Suaranya rendah dan dalam.

"Tidak ada yang terkilir, Senior. Cuma sedikit pegal," jawab Rory jujur. Ia mulai membuka kancing mantel barca tersebut untuk mengembalikannya. "Ini mantel Anda. Terima kasih, sangat membantu mengusir dingin."

Julian tidak langsung menerima mantel itu. Ia melipat tangan di dada, memperhatikan gerakan Rory. "Simpan saja dulu sampai pakaianmu benar-benar kering. Saya tidak mau ada mahasiswa baru yang pingsan karena flu saat acara penutupan nanti malam."

Rory menghentikan jemarinya di kancing ketiga. Ia menatap Julian dengan kening sedikit berkerut. "Acara penutupan?"

"Malam ini ada Freshers' Gala di Aula Utama," jelas Julian datar, walau matanya memperhatikan setiap detail perubahan ekspresi di wajah Rory. "Tradisi tahunan St. Jude’s untuk menyambut mahasiswa baru. Semua wajib hadir dengan pakaian formal."

Rory menghela napas tipis sebuah reaksi refleks yang sangat realistis. Bagi gadis yang datang hanya membawa satu koper berisi pakaian sehari-hari dan beberapa kemeja rapi, kata 'pakaian formal' di kampus elit seperti St. Jude’s terasa seperti beban logistik tambahan.

Julian menangkap perubahan raut wajah itu dalam sekejap. Tanpa perlu Rory mengucapkan sepatah kata pun, Julian tahu apa yang ada di pikiran gadis itu.

"Tidak ada kode busana berlebihan untuk mahasiswa baru," sambung Julian pelan, seolah ingin menenangkan pikiran Rory sebelum gadis itu sempat berspekulasi. "Kemeja rapi dan rok standar sudah cukup. Yang dinilai adalah kehadiran dan kedisiplinan, bukan harga gaunmu."

Rory menatap Julian, agak terkejut dengan kepekaan pria itu. "Diterima, Senior. Terima kasih atas informasinya."

Pukul sepuluh malam. Aula Utama St. Jude’s College telah disulap menjadi ruang pesta yang sangat megah. Lampu gantung kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan, memantul pada lantai marmer yang mengkilap. Musik klasik dari kuartet biola bergaung lembut di latar belakang.

Ratusan mahasiswa baru memadati ruangan dengan gaun-gaun malam berbahan sutra dan jas-jas mahal bermerek ternama. Gelak tawa dan denting gelas kaca terdengar di mana-mana.

Di dekat meja jamuan minum, Gemma berdiri anggun mengenakan gaun merah muda simpel milik ibunya yang dipadukan dengan kruk kayu untuk menopang kakinya. Di sebelahnya, Rory tampil sangat sederhana namun bersih: kemeja putih berlengan panjang yang dikancing rapi sampai leher, dipadukan dengan rok lipit hitam sebatas lutut dan sepatu pantofel hitam polos.

Rambut cokelatnya yang biasa diikat asal kini digelung rapi ke belakang, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan wajahnya yang polos tanpa polesan make-up tebal.

"Kamu cantik banget, Rory," puji Gemma tulus, meminum jus jeruknya. "Simpel, tapi auranya kayak mahasiswi berkelas dari era 90-an."

"Ini cuma pakaian paling rapi yang aku punya di koper, Gem," jawab Rory santai sambil mengambil segelas air mineral. "Dan lagipula, kita di sini cuma perlu bertahan satu jam, mengambil poin kehadiran, lalu kembali ke kamar untuk belajar."

"Kamu ini bener-bener enggak ada romantis-romantisnya ya," tawa Gemma meledak.

Sebelum Rory sempat membalas, rombongan panitia senior melangkah masuk ke Aula. Leo Thorne nampak sangat tampan dengan tuksedo hitam, sementara di sebelahnya... Julian Radcliffe menjadi pusat gravitasi seluruh ruangan.

Julian mengenakan setelan jas tiga lapis (three-piece suit) berwarna biru gelap yang terpotong sempurna mengikuti lekuk tubuhnya yang tegap. Lembar kemeja putih di dalamnya terpasang rapi dengan dasi sutra berwarna senada. Ketampanannya yang sempurna dan aura aristokratnya yang kuat membuat beberapa mahasiswi di sekitar Rory berbisik-bisik heboh sambil menahan napas.

"Gila... Senior Julian beneran seperti pangeran kerajaan Inggris," bisik seorang gadis di dekat mereka.

Namun, mata hazel Julian tidak mempedulikan tatapan kagum di sekelilingnya. Begitu menginjakkan kaki di dalam Aula, pandangannya langsung menyapu kerumunan mencari satu sosok spesifik.

Dan begitu matanya menemukan Rory yang berdiri di dekat meja jamuan, langkah Julian sempat terhenti sejenak.

Tatapan mereka bertemu di udara.

Julian menatap Rory dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tidak ada mantel tebal yang membungkusnya lagi, tidak ada helai rambut basah karena hujan. Hanya ada gadis bersahaja dengan kemeja putih sederhana yang menatapnya balik dengan mata cokelat yang sangat jernih dan tenang. Bagi Julian, di tengah rias busana mewah dan kemewahan yang berlebihan di ruangan itu, kesederhanaan Rory justru nampak paling mencolok.

Leo yang menyadari arah pandang sahabatnya menyenggol siku Julian sambil tersenyum jahat. "Mau ke sana?"

"Aku perlu memastikan kelengkapan komite," jawab Julian dingin, mencoba beralasan.

"Alasan klasik, Radcliffe," goda Leo sebelum ia sendiri berbelok melangkah mantap mendekati Gemma. "Hai, Gemma. Kaki kamu gimana?"

"Leo! Eh... Senior Leo," panggil Gemma kaget sekaligus senang, langsung terlibat obrolan hangat dengan Leo.

Sementara Leo sibuk mengobrol dengan Gemma, Julian melangkah mendekati Rory. Suasana di sekitar meja jamuan mendadak terasa sedikit hening saat senior paling disegani itu berhenti tepat di hadapan mahasiswi beasiswa tersebut.

Rory mendongak, memegang gelas airnya dengan tenang. "Selamat malam, Senior Radcliffe."

"Selamat malam, Miss Vance," jawab Julian. Suaranya halus namun mantap. Tatapannya menetap di wajah Rory. "Pakaian yang cukup rapi."

"Terima kasih. Sesuai dengan instruksi Anda tadi siang," balas Rory, tidak kehilangan ketenangannya sedikit pun.

Julian terkekeh tipis sebuah tawa halus yang sangat jarang terdengar, membuat beberapa mahasiswa di sekitar mereka melonjak kaget.

"Kamu selalu punya jawaban untuk setiap perkataan saya, ya?" gumam Julian, melangkah setengah jengkal lebih dekat. Aroma kayu cendana yang familiar itu kembali menyapa indra penciuman Rory.

"Saya hanya menyampaikan fakta, Senior."

Julian menatap kemeja putih Rory, lalu matanya bergeser ke arah tangan Rory yang memegang gelas. "PKKMB resmi berakhir malam ini. Mulai besok, perkuliahan reguler dimulai. Tugas-tugas Biokimia dari Profesor Evans tidak akan semudah tugas navigasi hutan."

Rory menaikkan sebelah alisnya, ada kilat percaya diri yang sangat menarik di matanya. "Saya menantikan tantangan itu. Saya datang ke St. Jude’s untuk belajar, bukan untuk bersantai."

Julian menatap mata jernih itu cukup lama. Ada rasa kagum yang makin dalam mengakar di dadanya. Gadis di depannya ini tidak mencari perhatiannya, tidak berpura-pura menjadi orang lain, dan memiliki keteguhan hati yang luar biasa.

"Bagus," kata Julian pelan. Ia menyilangkan tangannya di belakang punggung, menundukkan kepalanya sedikit agar suaranya hanya terdengar oleh Rory. "Karena mulai besok, saya bukan lagi panitia kedisiplinanmu, Aurora. Saya adalah senior jurusanmu di laboratorium."

Rory sedikit tersentak. "Anda... di laboratorium Biokimia?"

"Asisten dosen utama Profesor Evans," senyum tipis Julian mengembang sempurna kali ini sangat tampan hingga membuat jantung Rory tanpa diundang berdetak melebihi ritme normalnya. "Jadi, persiapkan dirimu. Saya tidak pernah memberi nilai tinggi untuk laporan yang setengah-setengah."

Sebelum Rory sempat memproses kejutan itu atau membalas omongannya, Julian sudah berbalik dan berjalan anggun menuju para dosen di panggung utama, meninggalkan Rory yang terpaku di tempatnya.

Gemma yang menyimak dari samping langsung membelalakkan mata dan meremas lengan baju Rory. "Rory! Demi Tuhan! Senior Julian bakal jadi asdos kamu?! Dan... dan tadi dia senyum manis banget ke kamu?!"

Rory menatap punggung tegap Julian yang menjauh di antara kerumunan. Ia memegang dadanya sendiri yang masih berdegup sedikit lebih cepat.

"Dia sengaja mau memprovokasi aku," gumam Rory realistis, mencoba menetralkan degupan jantungnya.

"Tapi mukamu merah banget, Rory!" goda Gemma heboh.

"Ini karena hawa ruangan yang panas, Gemma. Bukan karena apa-apa," elak Rory cepat sambil meneguk air mineralnya hingga kandas.

Pekan orientasi telah usai, namun babak baru di kehidupan kampus St. Jude’s dengan segala kerumitan tugas laboratorium, dinamika akademis, dan percikan perasaan yang makin sulit diabaikan baru saja dimulai.

Episodes
1 Bau Hujan dan Sol Sepatu yang Aus
2 Aroma kertas tua dan tembok batu coldwell
3 Gerimis di balik jendela Gotik
4 Batas Ketahanan dan Jas yang Beraroma Kayu Cendana
5 Gaun Pinjaman dan Dansa Tanpa Musik
6 Jas Laboratorium dan Uji Presisi
7 Garis Batas dan Telpon di Halaman Tengah
8 Di Bawah Pendar Lampu Meja Mahoni
9 Cat Air, Kopi Hangat, dan Lembar Musik Abad Ke-18
10 Aroma Kopi, Hujan Bulan Oktober, dan Sebuah Kejujuran
11 Ujian Tengah Semester dan Cemburu di Perpustakaan
12 Bintang di atas Atap Dan Pengakuan yang tertunda
13 Keheningan di Antara Pilihan dan Penolakan
14 Keputusan di Bawah Lampu Halaman Utama
15 Kamar Sewa Sederhana dan Kopi Hitam Murah
16 Jejak Pertama di Jalur Independen
17 Ujian di Balik Dinding Transparan
18 Ritme Kereta Pagi dan Bayang-Bayang senior
19 Terobosan di antara lelah dan Harapan
20 Panggung di Bawah lampu kristal
21 Pintu yang Terbuka Lebar
22 Pagi pertama dan Konfrontasi
23 Pembuktian di Ruang Sidang Senat
24 Diantara Selebrasi, Hujan Oxford, dan Bayang-bayang Baru
25 Pilihan di bawah bayang-bayang Keputusan
26 Dinding Kaca dan Draf Penukaran
27 Hujan di Atas Batu Granit dan Jarak Yang Terbentang
28 Strategi di Bawah Pendar Lampu Temaram
29 Di Bawah Pendar Gaun Malam dan Panggung yang di Siapkan
30 Diatas Puing-Puing Dinasti dan Langkah Pertama Menuju Kebebasan
31 Langit Baru Zurich dan Fondasi yang di Tancapkan
32 Fajar di Zurich dan Jejak yang di Tinggalkan
33 Gema Riset dan Langkah Pertama Zurich
34 Di Bawah Lonceng Kapel Hönggerberg dan Janji di Atas Bukit
35 Lembah Kehidupan dan Garis Horizon Baru
36 Tangisan Pertama di Hönggerberg dan Suara Masa Depan
37 Simfoni Langkah Kecil dan Surat dari Pastur St. Jude's
38 Warisan Kemanusiaan dan Horizon yang Meluas
39 Suara di Antara Gelombang dan sura dari Masa Depan
40 Puncak Pengabdian dan Cahaya yang Tak Pernah Padam
41 Generasi Penjaga Lentera dan Panggilan Terakhir
42 Pujangga di Balik Horizon dan Abjad yang Tak Usai
43 Lentera di Tepi Danau dan Abjad yang di Wariskan
44 Jejak Salju di Atas Janji dan Simfoni Tanpa Akhir
45 Mahakarya Jiwa dan Warisan yang Melampaui Waktu
46 Suara Air dan Epilog yang Bernapas
47 Gemerlap Lentera dan monumen yang bernapas
48 Pelita di Horizon Sunyi dan Abjad yang Tinggal Abadi
49 Mahakarya Terakhir dan Gerbang Menuju Keabadian
50 Epilog Cahaya dan Nyala Yang Tak Pernah Padam
51 Suara dari Oxford dan Benih Yang Kembali Pulang
52 Gema di Universitas Tua dan Jejak Langkah Pertama
53 Cahaya di Ujung Semesta dan Pelita Generasi Keempat
54 Benang Emas yang di Ujung Era dan Cahaya yang Mengakar
55 Mahakarya Nyala Abadi dan Puncak dari Segala Puncak
56 Bintang Pertama di Atas Hönggerberg dan Gerbang Peradaban Baru
57 Cakrawala Fajar dan Mahakarya Tanpa Batas
58 Fajar Baru di Cambridge dan Tunas Generasi Kelima
59 Peta Baru di Benua Selatan dan Jejak Kiral di Nairobi
60 Cahaya di Nusantara dan Pusaka Abadi Jiwa
61 Samudra Etika dan Ujian di Puncak Altay
62 Tahta Keheningan dan Simfoni Abadi di Hönggerberg
63 Gema Kiral di Lembah Ketenangan dan Nyanyian Bintang
64 Anomali di Kedalaman Mariana dan Sinyal Terdistorsi
65 Badai Saraf di PalungGelap dan Benteng Kesadaran
66 Inti Kuantum dan Runtuhnya Bayangan Hyperion
67 Resonansi di Cakrawala Sunyi dan Bayang-bayang Orbital
68 Fajar di Orbit Rendah dan Inisiasi Proyek Aetheris-Orbital
69 Sinyal Gelap dari Obsidian dan Bayang-Bayang Konsorsium Kelam
70 Menerjang Badai Es di Kubah Obsidian
71 Penantian di Ujung Penawar dan Keheningan Es Artika
72 Gema Fajar di Hönggerberg dan Fondasi Abadi
73 Pewaris Cahaya dan Fajar Baru di Hönggerberg
74 Jejak Pertama di Lembah Kina dam Bunga Abadi
75 Simfoni Lembah Kawi dan Cakrawala Baru
76 Jejak Perak di Pesisir Nusantara dan Garis Katulistiwa
77 Mahakarya di Lembah Bintang dan Jejak Generasi Keenam
78 Bintang Pertama diGurun Atacama dan Fajar Baru
79 Prasasti Katulistiwa dan Langkah Pertama Generasi Keenam
80 Lentera Zurich dan Pemulihan Benua Tua
81 Lembah Sahara dan Pemulihan Sabuk Hijau Dunia
82 Kepulangan Ke Lemah Jawa dan Rumah Penyembuhan
83 Pesta Panen Kina dan Harmony Katulistiwa
84 Lembaran Terakhir dan Malam Seribu Pelita
85 Fajar Abadi di Lembah Argopuro (Ending)
86 Kata-kata Bijak
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bau Hujan dan Sol Sepatu yang Aus
2
Aroma kertas tua dan tembok batu coldwell
3
Gerimis di balik jendela Gotik
4
Batas Ketahanan dan Jas yang Beraroma Kayu Cendana
5
Gaun Pinjaman dan Dansa Tanpa Musik
6
Jas Laboratorium dan Uji Presisi
7
Garis Batas dan Telpon di Halaman Tengah
8
Di Bawah Pendar Lampu Meja Mahoni
9
Cat Air, Kopi Hangat, dan Lembar Musik Abad Ke-18
10
Aroma Kopi, Hujan Bulan Oktober, dan Sebuah Kejujuran
11
Ujian Tengah Semester dan Cemburu di Perpustakaan
12
Bintang di atas Atap Dan Pengakuan yang tertunda
13
Keheningan di Antara Pilihan dan Penolakan
14
Keputusan di Bawah Lampu Halaman Utama
15
Kamar Sewa Sederhana dan Kopi Hitam Murah
16
Jejak Pertama di Jalur Independen
17
Ujian di Balik Dinding Transparan
18
Ritme Kereta Pagi dan Bayang-Bayang senior
19
Terobosan di antara lelah dan Harapan
20
Panggung di Bawah lampu kristal
21
Pintu yang Terbuka Lebar
22
Pagi pertama dan Konfrontasi
23
Pembuktian di Ruang Sidang Senat
24
Diantara Selebrasi, Hujan Oxford, dan Bayang-bayang Baru
25
Pilihan di bawah bayang-bayang Keputusan
26
Dinding Kaca dan Draf Penukaran
27
Hujan di Atas Batu Granit dan Jarak Yang Terbentang
28
Strategi di Bawah Pendar Lampu Temaram
29
Di Bawah Pendar Gaun Malam dan Panggung yang di Siapkan
30
Diatas Puing-Puing Dinasti dan Langkah Pertama Menuju Kebebasan
31
Langit Baru Zurich dan Fondasi yang di Tancapkan
32
Fajar di Zurich dan Jejak yang di Tinggalkan
33
Gema Riset dan Langkah Pertama Zurich
34
Di Bawah Lonceng Kapel Hönggerberg dan Janji di Atas Bukit
35
Lembah Kehidupan dan Garis Horizon Baru
36
Tangisan Pertama di Hönggerberg dan Suara Masa Depan
37
Simfoni Langkah Kecil dan Surat dari Pastur St. Jude's
38
Warisan Kemanusiaan dan Horizon yang Meluas
39
Suara di Antara Gelombang dan sura dari Masa Depan
40
Puncak Pengabdian dan Cahaya yang Tak Pernah Padam
41
Generasi Penjaga Lentera dan Panggilan Terakhir
42
Pujangga di Balik Horizon dan Abjad yang Tak Usai
43
Lentera di Tepi Danau dan Abjad yang di Wariskan
44
Jejak Salju di Atas Janji dan Simfoni Tanpa Akhir
45
Mahakarya Jiwa dan Warisan yang Melampaui Waktu
46
Suara Air dan Epilog yang Bernapas
47
Gemerlap Lentera dan monumen yang bernapas
48
Pelita di Horizon Sunyi dan Abjad yang Tinggal Abadi
49
Mahakarya Terakhir dan Gerbang Menuju Keabadian
50
Epilog Cahaya dan Nyala Yang Tak Pernah Padam
51
Suara dari Oxford dan Benih Yang Kembali Pulang
52
Gema di Universitas Tua dan Jejak Langkah Pertama
53
Cahaya di Ujung Semesta dan Pelita Generasi Keempat
54
Benang Emas yang di Ujung Era dan Cahaya yang Mengakar
55
Mahakarya Nyala Abadi dan Puncak dari Segala Puncak
56
Bintang Pertama di Atas Hönggerberg dan Gerbang Peradaban Baru
57
Cakrawala Fajar dan Mahakarya Tanpa Batas
58
Fajar Baru di Cambridge dan Tunas Generasi Kelima
59
Peta Baru di Benua Selatan dan Jejak Kiral di Nairobi
60
Cahaya di Nusantara dan Pusaka Abadi Jiwa
61
Samudra Etika dan Ujian di Puncak Altay
62
Tahta Keheningan dan Simfoni Abadi di Hönggerberg
63
Gema Kiral di Lembah Ketenangan dan Nyanyian Bintang
64
Anomali di Kedalaman Mariana dan Sinyal Terdistorsi
65
Badai Saraf di PalungGelap dan Benteng Kesadaran
66
Inti Kuantum dan Runtuhnya Bayangan Hyperion
67
Resonansi di Cakrawala Sunyi dan Bayang-bayang Orbital
68
Fajar di Orbit Rendah dan Inisiasi Proyek Aetheris-Orbital
69
Sinyal Gelap dari Obsidian dan Bayang-Bayang Konsorsium Kelam
70
Menerjang Badai Es di Kubah Obsidian
71
Penantian di Ujung Penawar dan Keheningan Es Artika
72
Gema Fajar di Hönggerberg dan Fondasi Abadi
73
Pewaris Cahaya dan Fajar Baru di Hönggerberg
74
Jejak Pertama di Lembah Kina dam Bunga Abadi
75
Simfoni Lembah Kawi dan Cakrawala Baru
76
Jejak Perak di Pesisir Nusantara dan Garis Katulistiwa
77
Mahakarya di Lembah Bintang dan Jejak Generasi Keenam
78
Bintang Pertama diGurun Atacama dan Fajar Baru
79
Prasasti Katulistiwa dan Langkah Pertama Generasi Keenam
80
Lentera Zurich dan Pemulihan Benua Tua
81
Lembah Sahara dan Pemulihan Sabuk Hijau Dunia
82
Kepulangan Ke Lemah Jawa dan Rumah Penyembuhan
83
Pesta Panen Kina dan Harmony Katulistiwa
84
Lembaran Terakhir dan Malam Seribu Pelita
85
Fajar Abadi di Lembah Argopuro (Ending)
86
Kata-kata Bijak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!