Under The Autumn Canopy

Under The Autumn Canopy

Bau Hujan dan Sol Sepatu yang Aus

Udara bulan September di Oxfordshire selalu membawa aroma yang sama: tanah basah, daun maple yang membusuk secara perlahan, dan aroma jelaga tua yang menempel pada dinding-dinding batu bergaya Gotik.

Aurora Vance menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara dingin yang seketika membuat tenggorokannya sedikit gatal. Ia membetulkan pegangan pada gagang kopernya sebuah koper kain berwarna biru tua yang rodanya sudah agak seret dan mengeluarkan suara berderit menggeledak setiap kali melintasi batu jalanan (cobblestone).

"Empat tahun, Rory. Cuma empat tahun," bisiknya pada diri sendiri.

Di hadapannya, gerbang besi tempa menjulang tinggi, membingkai pemandangan St. Jude’s College. Bangunan itu tampak lebih mirip kastil abad pertengahan daripada sebuah tempat belajar. Orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya dengan pakaian yang terawat baik. Beberapa mahasiswa baru diturunkan dari mobil sedan hitam berkilat oleh sopir pribadi, sementara yang lain tertawa-tawa sambil membawa tas kain bermerek mahal.

Rory menunduk sebentar, melirik sepatu sneakers putihnya yang sudah agak memudar di bagian ujung. Ia tidak minder. Untuk apa? Sepatu ini masih utuh, fungsinya masih sama dengan sepatu seharga lima ratus poundsterling milik gadis berkulit pucat yang baru saja melewatinya. Lagipula, beasiswa penuh yang mengover biaya kuliah dan asramanya tidak didapatkan dari cara berpakaian, melainkan dari nilai ujian masuknya yang berada di peringkat teratas nasional.

Ia melangkah menuju area registrasi di pelataran tengah (Quadrangle). Suasana di sana sangat riuh. Ratusan mahasiswa baru bergerombol, memegang peta kampus dan lembaran jadwal Freshers'Week pekan orientasi yang konon di St. Jude’s terkenal sangat menguras fisik dan mental.

"Nama dan nomor registrasi?"

Suara itu tidak datang dari meja pendaftaran, melainkan dari seorang mahasiswa senior yang berdiri di dekat jalur masuk dengan papan jalan di tangannya. Lelaki itu mengenakan jas almamater berwarna biru gelap dengan pin perak bertuliskan Senior Committee di dada kirinya.

Rory mendongak. "Aurora Vance. Nomor registrasi SV-8890."

Lelaki senior itu menyapu pandangannya dari ujung kepala sampai ujung kaki Rory, lalu mencoret sesuatu di papannya tanpa tersenyum sedikit pun. "Asrama St. Margaret, lantai tiga. Jangan buang waktu berlama-lama di kamar. Pengarahan perdana dimulai tepat pukul dua siang di Hall Utama. Keterlambatan satu detik saja berarti poin pelanggaran pertama."

"Terima kasih," jawab Rory singkat. Tanpa mengulur waktu, ia menyambar kunci kamarnya dari meja panitia dan segera berjalan cepat menuju blok asrama.

Kamar asramanya kecil namun bersih. Sebuah ranjang tunggal dengan kasur yang lumayan empuk, meja belajar dari kayu ek tua yang menghadap ke jendela, dan lemari dua pintu. Di ranjang sebelah, seorang gadis rambut keriting mengembang sedang sibuk membongkar isi koper yang meluap dengan baju-baju berwarna cerah.

"Oh! Hai!" Gadis itu langsung melompat berdiri, hampir saja menabrak lampu meja. "Kamu teman kamarku? Aku Gemma! Gemma Foster. Jurusan Seni Murni."

"Aurora. Panggil saja Rory. Jurusan Sains Data dan Biokimia," jawab Rory sambil meletakkan kopernya di sisi ranjang yang kosong.

Gemma membelalakkan mata. "Biokimia? Whoa, otak encer. Beda banget sama aku yang cuma bisa melukis. Btw, kamu udah lihat para panitia di luar? Gila, ya. Mereka kelihatan kayak model majalah tapi mukanya seperti algojo. Terutama cowok yang berdiri di dekat air mancur itu siapa namanya... Julian? Julian Radcliffe!"

Rory membuka kopernya dan mulai menyusun pakaiannya yang tidak seberapa ke dalam lemari. "Aku tidak terlalu memperhatikan. Yang jelas, mereka bilang kita harus ada di Hall Utama jam dua tepat."

"Kamu dingin banget, Rory," tawa Gemma meledak. "Tapi serius, suasana di sini agak menakutkan. Katanya senior di St. Jude’s itu disiplinnya sangat keras. Kalau kita bikin masalah sedikit saja, nilai poin asrama kita bisa dipotong."

Rory hanya tersenyum tipis. "Selama kita ikuti aturannya, harusnya aman-aman saja."

Namun, perkataan Rory terbukti terlalu optimis.

Pukul 13.55, Hall Utama sudah dipadati oleh ratusan mahasiswa baru. Ruangan berarsitektur megah dengan langit-langit tinggi dan jendela kaca patri itu terasa sangat dingin. Di panggung depan, lima orang mahasiswa senior berdiri sejajar dengan postur tubuh tegap dan wajah tanpa ekspresi.

Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria tinggi tegap yang seketika menyedot perhatian seluruh ruangan tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.

Julian Edward Radcliffe.

Pria itu mengenakan kemeja putih yang digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan rompi almamater gelap. Rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan rambut cokelat gelapnya tertata rapi namun terkesan alami. Ada keanggunan yang sangat alami dari cara berdirinya jenis keanggunan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang tumbuh di dalam istana atau rumah megah berhektar-hektar.

Namun, yang paling menonjol dari Julian adalah matanya. Tatapan hazel-nya dingin, seolah ia bisa membaca semua pikiran konyol para mahasiswa baru di hadapannya.

"Waktu menunjukkan pukul dua tepat," suara Julian menggelegar di dalam Hall. Suaranya berat, tenang, namun memiliki wibawa yang membuat seluruh bisik-bisik di ruangan itu langsung terhenti seketika. "Pintu utama telah dikunci. Bagi siapa pun yang berada di luar pintu saat ini, mereka telah gagal memenuhi standar kedisiplinan pertama St. Jude’s."

Beberapa mahasiswa baru saling berpandangan dengan cemas.

"Nama saya Julian Radcliffe, Ketua Panitia Pengawasan dan Kedisiplinan Pekan Orientasi," lanjutnya, melangkah pelan di sepanjang panggung. "Selama satu minggu ke depan, kami tidak peduli dari mana kalian berasal. Kami tidak peduli seberapa kaya orang tua kalian, atau berapa banyak gedung yang disumbangkan keluarga kalian untuk kampus ini. Di tempat ini, kalian semua sama: mahasiswa baru yang harus membuktikan bahwa kalian pantas menyandang almamater ini."

Julian berhenti melangkah. Matanya menyapu barisan depan, lalu perlahan bergeser ke arah tengah tepat di mana Rory berdiri.

Rory tidak menunduk seperti mahasiswa lain yang ketakutan. Ia menatap lurus ke panggung, memperhatikan cara senior itu membawakan dirinya. Bagi Rory, gertakan seperti ini sudah biasa. Di lingkungan tempat tinggalnya dulu, ia sudah kenyang melihat orang-orang yang berusaha mendominasi lewat nada suara.

Mata Julian menyipit sedikit ketika menyadari ada satu pasang mata yang menatapnya tanpa ada rasa gentar sedikit pun. Gadis itu dengan rambut cokelat tua terikat asal dan sweater abu-abu yang agak kebesaran menatapnya dengan raut wajah yang sangat datar. Bukan tatapan menantang yang childish, melainkan tatapan yang seolah berkata: Cepat selesaikan bicaramu, aku punya hal lain yang lebih penting untuk dikerjakan.

Ada jeda dua detik sebelum Julian mengalihkan pandangannya kembali ke seluruh ruangan.

"Tugas pertama kalian telah dibagikan di meja masing-masing," sambung Julian, suaranya kembali dingin. "Setiap kelompok harus menyelesaikan pemetaan perpustakaan tua dan mengumpulkan analisis struktur bangunan sebelum pukul lima sore. Jika ada satu anggota kelompok yang terlambat atau mengumpulkan analisis yang asal-asalan, seluruh kelompok akan mendapat pengurangan nilai."

Suara desah kekecewaan dan keluhan langsung merayap di antara para mahasiswa baru. Tugas itu sangat berat untuk hari pertama.

"Ada pertanyaan?" tanya Julian.

Rory mengangkat tangannya tanpa ragu.

Seluruh pandangan di Hall Utama mendadak tertuju padanya. Gemma yang berdiri di samping Rory meremas lengan jaket Rory dengan panik, berbisik, "Rory, kamu gila ya?"

Julian menatap gadis itu. "Ya. Yang di tengah. Sebutkan nama dan jurusanmu."

"Aurora Vance. Biokimia," suara Rory terdengar jernih dan berartikulasi jelas, memantul di dinding-dinding batu Hall. "Saya mau konfirmasi mengenai format analisis. Apakah laporan harus ditulis tangan sesuai format standar kampus tahun 1920 seperti yang tertera di panduan, atau diperbolehkan menggunakan format digital untuk menghemat waktu pengolahan data?"

Beberapa senior di panggung menaikkan alis mereka. Pertanyaan itu sangat teknis untuk seorang mahasiswa baru yang baru tiba dua jam lalu.

Julian menatap Rory dengan cermat. Ada kilat ketertarikan yang sangat tipis di balik mata hazel-nya, namun wajahnya tetap tidak tersenyum.

"Panduan diciptakan bukan untuk dipertanyakan, Miss Vance," jawab Julian datar. "Tulis tangan. Tiga lembar kertas parchment. Jika kamu merasa menghemat waktu itu penting, maka latihlah jemarimu untuk menulis lebih cepat. Bukan mencari jalan pintas."

Rory tidak menunjukkan raut wajah kesal. Ia hanya mengangguk pelan. "Diterima. Terima kasih atas penjelasannya, Senior Radcliffe."

Rory kembali berdiri tegap, langsung mengeluarkan pulpen dari saku celananya dan mencatat instruksi tersebut di buku kecilnya. Sama sekali tidak ada aura tersinggung atau baper dari sikapnya.

Di atas panggung, Julian memperhatikan gerakan tangan gadis itu saat mencatat. Untuk pertama kalinya sepanjang hari itu, sudut bibir Julian terangkat sangat tipis hampir tak terlihat sebelum ia kembali menetralkan ekspresinya.

Gadis yang menarik, batin Julian. Dan sangat realistis.

Hari pertama baru saja dimulai, dan roda takdir di antara dua dunia yang bertolak belakang itu resmi berputar.

Terpopuler

Comments

Maya Elvin

Maya Elvin

siap kk👍👍

2026-08-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bau Hujan dan Sol Sepatu yang Aus
2 Aroma kertas tua dan tembok batu coldwell
3 Gerimis di balik jendela Gotik
4 Batas Ketahanan dan Jas yang Beraroma Kayu Cendana
5 Gaun Pinjaman dan Dansa Tanpa Musik
6 Jas Laboratorium dan Uji Presisi
7 Garis Batas dan Telpon di Halaman Tengah
8 Di Bawah Pendar Lampu Meja Mahoni
9 Cat Air, Kopi Hangat, dan Lembar Musik Abad Ke-18
10 Aroma Kopi, Hujan Bulan Oktober, dan Sebuah Kejujuran
11 Ujian Tengah Semester dan Cemburu di Perpustakaan
12 Bintang di atas Atap Dan Pengakuan yang tertunda
13 Keheningan di Antara Pilihan dan Penolakan
14 Keputusan di Bawah Lampu Halaman Utama
15 Kamar Sewa Sederhana dan Kopi Hitam Murah
16 Jejak Pertama di Jalur Independen
17 Ujian di Balik Dinding Transparan
18 Ritme Kereta Pagi dan Bayang-Bayang senior
19 Terobosan di antara lelah dan Harapan
20 Panggung di Bawah lampu kristal
21 Pintu yang Terbuka Lebar
22 Pagi pertama dan Konfrontasi
23 Pembuktian di Ruang Sidang Senat
24 Diantara Selebrasi, Hujan Oxford, dan Bayang-bayang Baru
25 Pilihan di bawah bayang-bayang Keputusan
26 Dinding Kaca dan Draf Penukaran
27 Hujan di Atas Batu Granit dan Jarak Yang Terbentang
28 Strategi di Bawah Pendar Lampu Temaram
29 Di Bawah Pendar Gaun Malam dan Panggung yang di Siapkan
30 Diatas Puing-Puing Dinasti dan Langkah Pertama Menuju Kebebasan
31 Langit Baru Zurich dan Fondasi yang di Tancapkan
32 Fajar di Zurich dan Jejak yang di Tinggalkan
33 Gema Riset dan Langkah Pertama Zurich
34 Di Bawah Lonceng Kapel Hönggerberg dan Janji di Atas Bukit
35 Lembah Kehidupan dan Garis Horizon Baru
36 Tangisan Pertama di Hönggerberg dan Suara Masa Depan
37 Simfoni Langkah Kecil dan Surat dari Pastur St. Jude's
38 Warisan Kemanusiaan dan Horizon yang Meluas
39 Suara di Antara Gelombang dan sura dari Masa Depan
40 Puncak Pengabdian dan Cahaya yang Tak Pernah Padam
41 Generasi Penjaga Lentera dan Panggilan Terakhir
42 Pujangga di Balik Horizon dan Abjad yang Tak Usai
43 Lentera di Tepi Danau dan Abjad yang di Wariskan
44 Jejak Salju di Atas Janji dan Simfoni Tanpa Akhir
45 Mahakarya Jiwa dan Warisan yang Melampaui Waktu
46 Suara Air dan Epilog yang Bernapas
47 Gemerlap Lentera dan monumen yang bernapas
48 Pelita di Horizon Sunyi dan Abjad yang Tinggal Abadi
49 Mahakarya Terakhir dan Gerbang Menuju Keabadian
50 Epilog Cahaya dan Nyala Yang Tak Pernah Padam
51 Suara dari Oxford dan Benih Yang Kembali Pulang
52 Gema di Universitas Tua dan Jejak Langkah Pertama
53 Cahaya di Ujung Semesta dan Pelita Generasi Keempat
54 Benang Emas yang di Ujung Era dan Cahaya yang Mengakar
55 Mahakarya Nyala Abadi dan Puncak dari Segala Puncak
56 Bintang Pertama di Atas Hönggerberg dan Gerbang Peradaban Baru
57 Cakrawala Fajar dan Mahakarya Tanpa Batas
58 Fajar Baru di Cambridge dan Tunas Generasi Kelima
59 Peta Baru di Benua Selatan dan Jejak Kiral di Nairobi
60 Cahaya di Nusantara dan Pusaka Abadi Jiwa
61 Samudra Etika dan Ujian di Puncak Altay
62 Tahta Keheningan dan Simfoni Abadi di Hönggerberg
63 Gema Kiral di Lembah Ketenangan dan Nyanyian Bintang
64 Anomali di Kedalaman Mariana dan Sinyal Terdistorsi
65 Badai Saraf di PalungGelap dan Benteng Kesadaran
66 Inti Kuantum dan Runtuhnya Bayangan Hyperion
67 Resonansi di Cakrawala Sunyi dan Bayang-bayang Orbital
68 Fajar di Orbit Rendah dan Inisiasi Proyek Aetheris-Orbital
69 Sinyal Gelap dari Obsidian dan Bayang-Bayang Konsorsium Kelam
70 Menerjang Badai Es di Kubah Obsidian
71 Penantian di Ujung Penawar dan Keheningan Es Artika
72 Gema Fajar di Hönggerberg dan Fondasi Abadi
73 Pewaris Cahaya dan Fajar Baru di Hönggerberg
74 Jejak Pertama di Lembah Kina dam Bunga Abadi
75 Simfoni Lembah Kawi dan Cakrawala Baru
76 Jejak Perak di Pesisir Nusantara dan Garis Katulistiwa
77 Mahakarya di Lembah Bintang dan Jejak Generasi Keenam
78 Bintang Pertama diGurun Atacama dan Fajar Baru
79 Prasasti Katulistiwa dan Langkah Pertama Generasi Keenam
80 Lentera Zurich dan Pemulihan Benua Tua
81 Lembah Sahara dan Pemulihan Sabuk Hijau Dunia
82 Kepulangan Ke Lemah Jawa dan Rumah Penyembuhan
83 Pesta Panen Kina dan Harmony Katulistiwa
84 Lembaran Terakhir dan Malam Seribu Pelita
85 Fajar Abadi di Lembah Argopuro (Ending)
86 Kata-kata Bijak
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bau Hujan dan Sol Sepatu yang Aus
2
Aroma kertas tua dan tembok batu coldwell
3
Gerimis di balik jendela Gotik
4
Batas Ketahanan dan Jas yang Beraroma Kayu Cendana
5
Gaun Pinjaman dan Dansa Tanpa Musik
6
Jas Laboratorium dan Uji Presisi
7
Garis Batas dan Telpon di Halaman Tengah
8
Di Bawah Pendar Lampu Meja Mahoni
9
Cat Air, Kopi Hangat, dan Lembar Musik Abad Ke-18
10
Aroma Kopi, Hujan Bulan Oktober, dan Sebuah Kejujuran
11
Ujian Tengah Semester dan Cemburu di Perpustakaan
12
Bintang di atas Atap Dan Pengakuan yang tertunda
13
Keheningan di Antara Pilihan dan Penolakan
14
Keputusan di Bawah Lampu Halaman Utama
15
Kamar Sewa Sederhana dan Kopi Hitam Murah
16
Jejak Pertama di Jalur Independen
17
Ujian di Balik Dinding Transparan
18
Ritme Kereta Pagi dan Bayang-Bayang senior
19
Terobosan di antara lelah dan Harapan
20
Panggung di Bawah lampu kristal
21
Pintu yang Terbuka Lebar
22
Pagi pertama dan Konfrontasi
23
Pembuktian di Ruang Sidang Senat
24
Diantara Selebrasi, Hujan Oxford, dan Bayang-bayang Baru
25
Pilihan di bawah bayang-bayang Keputusan
26
Dinding Kaca dan Draf Penukaran
27
Hujan di Atas Batu Granit dan Jarak Yang Terbentang
28
Strategi di Bawah Pendar Lampu Temaram
29
Di Bawah Pendar Gaun Malam dan Panggung yang di Siapkan
30
Diatas Puing-Puing Dinasti dan Langkah Pertama Menuju Kebebasan
31
Langit Baru Zurich dan Fondasi yang di Tancapkan
32
Fajar di Zurich dan Jejak yang di Tinggalkan
33
Gema Riset dan Langkah Pertama Zurich
34
Di Bawah Lonceng Kapel Hönggerberg dan Janji di Atas Bukit
35
Lembah Kehidupan dan Garis Horizon Baru
36
Tangisan Pertama di Hönggerberg dan Suara Masa Depan
37
Simfoni Langkah Kecil dan Surat dari Pastur St. Jude's
38
Warisan Kemanusiaan dan Horizon yang Meluas
39
Suara di Antara Gelombang dan sura dari Masa Depan
40
Puncak Pengabdian dan Cahaya yang Tak Pernah Padam
41
Generasi Penjaga Lentera dan Panggilan Terakhir
42
Pujangga di Balik Horizon dan Abjad yang Tak Usai
43
Lentera di Tepi Danau dan Abjad yang di Wariskan
44
Jejak Salju di Atas Janji dan Simfoni Tanpa Akhir
45
Mahakarya Jiwa dan Warisan yang Melampaui Waktu
46
Suara Air dan Epilog yang Bernapas
47
Gemerlap Lentera dan monumen yang bernapas
48
Pelita di Horizon Sunyi dan Abjad yang Tinggal Abadi
49
Mahakarya Terakhir dan Gerbang Menuju Keabadian
50
Epilog Cahaya dan Nyala Yang Tak Pernah Padam
51
Suara dari Oxford dan Benih Yang Kembali Pulang
52
Gema di Universitas Tua dan Jejak Langkah Pertama
53
Cahaya di Ujung Semesta dan Pelita Generasi Keempat
54
Benang Emas yang di Ujung Era dan Cahaya yang Mengakar
55
Mahakarya Nyala Abadi dan Puncak dari Segala Puncak
56
Bintang Pertama di Atas Hönggerberg dan Gerbang Peradaban Baru
57
Cakrawala Fajar dan Mahakarya Tanpa Batas
58
Fajar Baru di Cambridge dan Tunas Generasi Kelima
59
Peta Baru di Benua Selatan dan Jejak Kiral di Nairobi
60
Cahaya di Nusantara dan Pusaka Abadi Jiwa
61
Samudra Etika dan Ujian di Puncak Altay
62
Tahta Keheningan dan Simfoni Abadi di Hönggerberg
63
Gema Kiral di Lembah Ketenangan dan Nyanyian Bintang
64
Anomali di Kedalaman Mariana dan Sinyal Terdistorsi
65
Badai Saraf di PalungGelap dan Benteng Kesadaran
66
Inti Kuantum dan Runtuhnya Bayangan Hyperion
67
Resonansi di Cakrawala Sunyi dan Bayang-bayang Orbital
68
Fajar di Orbit Rendah dan Inisiasi Proyek Aetheris-Orbital
69
Sinyal Gelap dari Obsidian dan Bayang-Bayang Konsorsium Kelam
70
Menerjang Badai Es di Kubah Obsidian
71
Penantian di Ujung Penawar dan Keheningan Es Artika
72
Gema Fajar di Hönggerberg dan Fondasi Abadi
73
Pewaris Cahaya dan Fajar Baru di Hönggerberg
74
Jejak Pertama di Lembah Kina dam Bunga Abadi
75
Simfoni Lembah Kawi dan Cakrawala Baru
76
Jejak Perak di Pesisir Nusantara dan Garis Katulistiwa
77
Mahakarya di Lembah Bintang dan Jejak Generasi Keenam
78
Bintang Pertama diGurun Atacama dan Fajar Baru
79
Prasasti Katulistiwa dan Langkah Pertama Generasi Keenam
80
Lentera Zurich dan Pemulihan Benua Tua
81
Lembah Sahara dan Pemulihan Sabuk Hijau Dunia
82
Kepulangan Ke Lemah Jawa dan Rumah Penyembuhan
83
Pesta Panen Kina dan Harmony Katulistiwa
84
Lembaran Terakhir dan Malam Seribu Pelita
85
Fajar Abadi di Lembah Argopuro (Ending)
86
Kata-kata Bijak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!