Batas Ketahanan dan Jas yang Beraroma Kayu Cendana

Pukul lima lewat empat puluh lima menit pagi. Langit Oxfordshire masih dibungkus warna biru tua yang pekat. Udara pagi terasa luar biasa menggigit, membawa embun tebal yang menempel di sepanjang rumput pelataran utama St. Jude’s College.

Dua ratus mahasiswa baru sudah berbaris rapi dalam formasi kelompok masing-masing. Napas mereka mengembun di udara dingin. Sebagian besar masih terkantuk-kantuk, merapatkan jaket tebal mereka sambil menggigil.

Di depan barisan, Julian Radcliffe berdiri tegap. Ia mengenakan mantel barca komite berwarna hitam pekat dengan potongan kemeja yang tetap rapi di bagian dalam. Di sampingnya, Leo Thorne membawa megan dan papan jalan.

"Pagi ini adalah simulasi pemetaan navigasi lapangan," suara Julian terdengar tegas, membelah kesunyian pagi tanpa perlu pengeras suara elektronik. "Setiap kelompok akan dibekali satu kompas analog dan satu peta buta kawasan hutan di belakang kampus. Tugas kalian adalah menemukan tiga patok penanda dan kembali ke pelataran ini sebelum pukul delapan tepat."

Keluhan halus langsung terdengar serempak dari barisan mahasiswa.

"Hutan belakang? Dalam kondisi dingin begini?" bisik Gemma yang berdiri di sebelah Rory, bibirnya sedikit gemetar karena kedinginan. "Aku melukis pakai cat air, Rory, bukan mau jadi anggota pramuka..."

"Tenang, Gem. Hutan belakang kampus itu luasnya tidak sampai lima hektar. Kalau kita ikuti pola garis kontur di peta, kita bisa selesai dalam satu jam," jawab Rory tenang.

Rory mengenakan windbreaker tipis berwarna biru tua yang sudah agak lusuh pemberian ayahnya dua tahun lalu dan celana training hitam. Pakaiannya jauh dari kata mewah, tapi sangat fungsional.

Julian melangkah menyusuri barisan untuk membagikan kompas. Saat tiba di depan Kelompok 12, langkahnya terhenti sejenak di hadapan Rory. Tatapan mata hazel-nya melirik windbreaker tipis yang dikenakan gadis itu.

"Kompasmu, Miss Vance," kata Julian dingin sambil mengulurkan alat tersebut.

"Diterima, Senior," jawab Rory singkat, mengambil kompas tersebut. Ujung jari mereka berpapasan sebentar, memercikkan kehangatan singkat di tengah udara pagi yang membeku.

Julian menatap mata Rory rapat-rapat. "Medan di hutan licin karena hujan semalam. Pastikan anggota kelompokmu tidak ada yang tertinggal atau cedera. Sebagai ketua kelompok, itu tanggung jawabmu."

"Saya mengerti," balas Rory tegas tanpa ragu.

Leo yang berdiri di belakang Julian tersenyum ramah pada Gemma sambil menyerahkan peta buta. "Semangat ya, Gemma. Kalau tersesat, panggil saja panitia di pos dua."

"T-terima kasih, Senior Leo," jawab Gemma agak tersipu, melupakan rasa dinginnya sejenak.

Satu jam kemudian, gerimis mulai turun kembali, mengubah tanah hutan menjadi lunak dan licin.

Rory memimpin Kelompok 12 di depan. Dengan kecerdasan spasialnya yang tajam, ia dengan mudah membaca peta dan memandu tiga rekannya menembus semak belukar yang basah. Gemma menguntit di belakangnya sambil memegang ujung jaket Rory, sementara dua anggota cowok lainnya mengurus petunjuk arah kompas.

"Patok kedua ada di dekat aliran sungai kecil ini," kata Rory sambil menunjukkan cerukan tanah di peta. "Kita tinggal butuh satu patok lagi di area lereng batu."

Namun, saat mereka mulai mendaki lereng kecil berselimut daun-daun maple basah, kejadian tak terduga terjadi.

Srettt!

"Aww!" Gemma menjerit pelan ketika kakinya tergelincir di atas batuan licin. Ia terjatuh terduduk, pergelangan kaki kanannya terantuk akar pohon yang cukup besar.

Rory langsung berbalik dan berlutut di samping Gemma. "Gem! Kamu tidak apa-apa?"

"Sakit banget, Rory..." ringis Gemma sambil memegangi pergelangan kakinya. Wajahnya meringis menahan sakit, matanya mulai berkaca-kaca. "Kayaknya keseleo"

Dua anggota cowok di kelompok mereka tampak panik. "Gimana nih? Waktu kita tinggal dua puluh menit lagi. Kalau kita tidak sampai di garis akhir sebelum jamnya, kelompok kita didiskualifikasi!"

Rory menatap jam di tangannya, lalu menatap Gemma yang kesakitan. Tanpa ragu sedikit pun, Rory mengambil keputusan cepat dan rasional.

"Kalian berdua, ambil patok ketiga di atas sana. Bawa peta ini," perintah Rory tegas pada dua cowok itu. "Selesaikan tugas kelompok dan lari ke garis akhir duluan."

"Tapi kalian berdua gimana?" tanya salah satu dari mereka.

"Aku bakal bantu Gemma jalan pelan-pelan. Yang penting laporan patok kita lengkap dulu. Cepat pergi!" tegas Rory.

Kedua cowok itu mengangguk dan segera berlari menaiki lereng. Rory kemudian berlutut memunggungi Gemma. "Naik ke punggungku, Gem. Aku papah atau gendong sampai ke pos panitia terdekat."

"Rory, badan kamu kecil, mana kuat gendong aku!" seru Gemma merasa bersalah.

"Jangan banyak protes, Gemma. Pilihannya cuma kamu naik ke punggungku atau kita berdua kena hukuman poin," potong Rory dingin tapi penuh kepedulian.

Gemma akhirnya merangkulkan tangannya di leher Rory. Dengan sekuat tenaga, Rory membopong Gemma, melangkah pelan-pelan menuruni jalur licin hutan di bawah guyuran gerimis yang makin deras. Kaki Rory gemetar menahan beban, sweater tipisnya mulai basah kuyup oleh air hujan, tapi ia menolak untuk menyerah atau melepaskan Gemma.

Di pos pantau dua, Julian berdiri di bawah tenda darurat bersama Leo. Matanya terus-menerus melirik jam tangannya. Sebagian besar kelompok sudah berhasil kembali ke pelataran, namun Kelompok 12 belum juga terlihat.

"Dua cowok dari Kelompok 12 baru saja melintasi pos satu," kata Leo sambil mengecek radio panggil. "Tapi mereka bilang Aurora dan Gemma tertinggal di area lereng karena ada yang tergelincir."

Mata Julian seketika menyempit. Tanpa berpikir panjang, ia menyambar payung dan jaket tebal cadangan dari atas meja.

"Julian? Mau ke mana?" tanya Leo kaget. "Ada tim medis yang"

"Aku yang periksa," potong Julian cepat dengan suara yang mendadak sangat tegang. Ia langsung menerobos hujan tanpa memedulikan celana kain dan sepatu kulit mewahnya yang mulai terciprat lumpur.

Hanya butuh waktu lima menit bagi Julian untuk menemukan sosok yang dicarinya.

Di belokan lorong hutan yang sepi, Rory tampak bersusah payah memapah Gemma. Pakaian Rory sudah setengah basah kuyup, rambut cokelatnya menempel di dahi, dan napasnya tersengal-sengal karena kelelahan. Namun, tatapan matanya tetap terlihat tajam dan pantang menyerah.

"Miss Vance!"

Suara berat Julian membelah suara gemericik hujan. Pria tinggi itu berlari kecil mendekati mereka, langsung memayungi tubuh Rory dan Gemma.

Rory mendongak dengan napas terengah-engah. "Senior Radcliffe..."

Julian menatap kondisi Rory wajahnya yang pucat karena dingin, bibirnya yang sedikit membiru, namun cengkeramannya pada tangan Gemma sama sekali tidak mengendur. Ada rasa hangat sekaligus jengkel yang aneh menghantam dada Julian melihat betapa keras kepalanya gadis di hadapannya ini.

"Apa yang kamu lakukan?" suara Julian terdengar menekan, berusaha menahan emosi yang bergejolak. "Kenapa tidak pakai sinyal darurat?"

"Sinyal darurat cuma untuk kondisi krisis medis berat. Gemma cuma keseleo ringan, saya masih sanggup memapahnya," jawab Rory dengan napas yang masih tersengal.

"Kamu hampir hipotermia, Aurora!" bentak Julian pelan untuk pertama kalinya ia menyebut nama depan gadis itu, bukan nama belakangnya.

Gemma yang ada di papahan Rory sampai terdiam takut melihat kilat marah di mata Julian.

Tanpa memberi kesempatan bagi Rory untuk membantah lagi, Julian menyerahkan payungnya pada Rory. Lalu, dengan gerakan yang sangat mudah dan cekatan, Julian mengambil alih Gemma dan menggendongnya secara bridal style.

"Senior!" panggil Rory kaget.

"Pegang payungnya dan ikuti saya. Jangan membantah," perintah Julian dingin namun tak tertahankan.

Julian berjalan cepat memapah Gemma menuju pos medis, sementara Rory berjalan di sampingnya sambil memegangi payung besar itu ke arah Julian dan Gemma, membiarkan sebagian bahunya sendiri terkena hujan.

Melihat hal itu, Julian berhenti melangkah sejenak. Dengan tangan luangnya, ia melepas mantel barca hitamnya yang tebal dan beraroma kayu cendana yang menenangkan, lalu melemparkannya ke atas bahu Rory.

"Pakai," kata Julian singkat tanpa menatap Rory, kembali berjalan cepat.

Mantel itu sangat besar di tubuh Rory, hangat, dan seketika mengusir rasa menggigil yang mulai menyerang tubuhnya. Bau khas Julian bersih, dingin, tapi menghangatkan melingkupi Rory sepenuhnya.

Rory merapatkan mantel tebal itu di tubuhnya, menatap punggung tegap Julian yang kini berjalan menembus gerimis hanya dengan kemeja tipis demi menolong sahabatnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang selalu penuh perhitungan logis, Aurora Vance merasakan dadanya berdesir hebat sebuah sensasi aneh yang tak bisa dijelaskan oleh rumus sains mana pun.

Episodes
1 Bau Hujan dan Sol Sepatu yang Aus
2 Aroma kertas tua dan tembok batu coldwell
3 Gerimis di balik jendela Gotik
4 Batas Ketahanan dan Jas yang Beraroma Kayu Cendana
5 Gaun Pinjaman dan Dansa Tanpa Musik
6 Jas Laboratorium dan Uji Presisi
7 Garis Batas dan Telpon di Halaman Tengah
8 Di Bawah Pendar Lampu Meja Mahoni
9 Cat Air, Kopi Hangat, dan Lembar Musik Abad Ke-18
10 Aroma Kopi, Hujan Bulan Oktober, dan Sebuah Kejujuran
11 Ujian Tengah Semester dan Cemburu di Perpustakaan
12 Bintang di atas Atap Dan Pengakuan yang tertunda
13 Keheningan di Antara Pilihan dan Penolakan
14 Keputusan di Bawah Lampu Halaman Utama
15 Kamar Sewa Sederhana dan Kopi Hitam Murah
16 Jejak Pertama di Jalur Independen
17 Ujian di Balik Dinding Transparan
18 Ritme Kereta Pagi dan Bayang-Bayang senior
19 Terobosan di antara lelah dan Harapan
20 Panggung di Bawah lampu kristal
21 Pintu yang Terbuka Lebar
22 Pagi pertama dan Konfrontasi
23 Pembuktian di Ruang Sidang Senat
24 Diantara Selebrasi, Hujan Oxford, dan Bayang-bayang Baru
25 Pilihan di bawah bayang-bayang Keputusan
26 Dinding Kaca dan Draf Penukaran
27 Hujan di Atas Batu Granit dan Jarak Yang Terbentang
28 Strategi di Bawah Pendar Lampu Temaram
29 Di Bawah Pendar Gaun Malam dan Panggung yang di Siapkan
30 Diatas Puing-Puing Dinasti dan Langkah Pertama Menuju Kebebasan
31 Langit Baru Zurich dan Fondasi yang di Tancapkan
32 Fajar di Zurich dan Jejak yang di Tinggalkan
33 Gema Riset dan Langkah Pertama Zurich
34 Di Bawah Lonceng Kapel Hönggerberg dan Janji di Atas Bukit
35 Lembah Kehidupan dan Garis Horizon Baru
36 Tangisan Pertama di Hönggerberg dan Suara Masa Depan
37 Simfoni Langkah Kecil dan Surat dari Pastur St. Jude's
38 Warisan Kemanusiaan dan Horizon yang Meluas
39 Suara di Antara Gelombang dan sura dari Masa Depan
40 Puncak Pengabdian dan Cahaya yang Tak Pernah Padam
41 Generasi Penjaga Lentera dan Panggilan Terakhir
42 Pujangga di Balik Horizon dan Abjad yang Tak Usai
43 Lentera di Tepi Danau dan Abjad yang di Wariskan
44 Jejak Salju di Atas Janji dan Simfoni Tanpa Akhir
45 Mahakarya Jiwa dan Warisan yang Melampaui Waktu
46 Suara Air dan Epilog yang Bernapas
47 Gemerlap Lentera dan monumen yang bernapas
48 Pelita di Horizon Sunyi dan Abjad yang Tinggal Abadi
49 Mahakarya Terakhir dan Gerbang Menuju Keabadian
50 Epilog Cahaya dan Nyala Yang Tak Pernah Padam
51 Suara dari Oxford dan Benih Yang Kembali Pulang
52 Gema di Universitas Tua dan Jejak Langkah Pertama
53 Cahaya di Ujung Semesta dan Pelita Generasi Keempat
54 Benang Emas yang di Ujung Era dan Cahaya yang Mengakar
55 Mahakarya Nyala Abadi dan Puncak dari Segala Puncak
56 Bintang Pertama di Atas Hönggerberg dan Gerbang Peradaban Baru
57 Cakrawala Fajar dan Mahakarya Tanpa Batas
58 Fajar Baru di Cambridge dan Tunas Generasi Kelima
59 Peta Baru di Benua Selatan dan Jejak Kiral di Nairobi
60 Cahaya di Nusantara dan Pusaka Abadi Jiwa
61 Samudra Etika dan Ujian di Puncak Altay
62 Tahta Keheningan dan Simfoni Abadi di Hönggerberg
63 Gema Kiral di Lembah Ketenangan dan Nyanyian Bintang
64 Anomali di Kedalaman Mariana dan Sinyal Terdistorsi
65 Badai Saraf di PalungGelap dan Benteng Kesadaran
66 Inti Kuantum dan Runtuhnya Bayangan Hyperion
67 Resonansi di Cakrawala Sunyi dan Bayang-bayang Orbital
68 Fajar di Orbit Rendah dan Inisiasi Proyek Aetheris-Orbital
69 Sinyal Gelap dari Obsidian dan Bayang-Bayang Konsorsium Kelam
70 Menerjang Badai Es di Kubah Obsidian
71 Penantian di Ujung Penawar dan Keheningan Es Artika
72 Gema Fajar di Hönggerberg dan Fondasi Abadi
73 Pewaris Cahaya dan Fajar Baru di Hönggerberg
74 Jejak Pertama di Lembah Kina dam Bunga Abadi
75 Simfoni Lembah Kawi dan Cakrawala Baru
76 Jejak Perak di Pesisir Nusantara dan Garis Katulistiwa
77 Mahakarya di Lembah Bintang dan Jejak Generasi Keenam
78 Bintang Pertama diGurun Atacama dan Fajar Baru
79 Prasasti Katulistiwa dan Langkah Pertama Generasi Keenam
80 Lentera Zurich dan Pemulihan Benua Tua
81 Lembah Sahara dan Pemulihan Sabuk Hijau Dunia
82 Kepulangan Ke Lemah Jawa dan Rumah Penyembuhan
83 Pesta Panen Kina dan Harmony Katulistiwa
84 Lembaran Terakhir dan Malam Seribu Pelita
85 Fajar Abadi di Lembah Argopuro (Ending)
86 Kata-kata Bijak
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Bau Hujan dan Sol Sepatu yang Aus
2
Aroma kertas tua dan tembok batu coldwell
3
Gerimis di balik jendela Gotik
4
Batas Ketahanan dan Jas yang Beraroma Kayu Cendana
5
Gaun Pinjaman dan Dansa Tanpa Musik
6
Jas Laboratorium dan Uji Presisi
7
Garis Batas dan Telpon di Halaman Tengah
8
Di Bawah Pendar Lampu Meja Mahoni
9
Cat Air, Kopi Hangat, dan Lembar Musik Abad Ke-18
10
Aroma Kopi, Hujan Bulan Oktober, dan Sebuah Kejujuran
11
Ujian Tengah Semester dan Cemburu di Perpustakaan
12
Bintang di atas Atap Dan Pengakuan yang tertunda
13
Keheningan di Antara Pilihan dan Penolakan
14
Keputusan di Bawah Lampu Halaman Utama
15
Kamar Sewa Sederhana dan Kopi Hitam Murah
16
Jejak Pertama di Jalur Independen
17
Ujian di Balik Dinding Transparan
18
Ritme Kereta Pagi dan Bayang-Bayang senior
19
Terobosan di antara lelah dan Harapan
20
Panggung di Bawah lampu kristal
21
Pintu yang Terbuka Lebar
22
Pagi pertama dan Konfrontasi
23
Pembuktian di Ruang Sidang Senat
24
Diantara Selebrasi, Hujan Oxford, dan Bayang-bayang Baru
25
Pilihan di bawah bayang-bayang Keputusan
26
Dinding Kaca dan Draf Penukaran
27
Hujan di Atas Batu Granit dan Jarak Yang Terbentang
28
Strategi di Bawah Pendar Lampu Temaram
29
Di Bawah Pendar Gaun Malam dan Panggung yang di Siapkan
30
Diatas Puing-Puing Dinasti dan Langkah Pertama Menuju Kebebasan
31
Langit Baru Zurich dan Fondasi yang di Tancapkan
32
Fajar di Zurich dan Jejak yang di Tinggalkan
33
Gema Riset dan Langkah Pertama Zurich
34
Di Bawah Lonceng Kapel Hönggerberg dan Janji di Atas Bukit
35
Lembah Kehidupan dan Garis Horizon Baru
36
Tangisan Pertama di Hönggerberg dan Suara Masa Depan
37
Simfoni Langkah Kecil dan Surat dari Pastur St. Jude's
38
Warisan Kemanusiaan dan Horizon yang Meluas
39
Suara di Antara Gelombang dan sura dari Masa Depan
40
Puncak Pengabdian dan Cahaya yang Tak Pernah Padam
41
Generasi Penjaga Lentera dan Panggilan Terakhir
42
Pujangga di Balik Horizon dan Abjad yang Tak Usai
43
Lentera di Tepi Danau dan Abjad yang di Wariskan
44
Jejak Salju di Atas Janji dan Simfoni Tanpa Akhir
45
Mahakarya Jiwa dan Warisan yang Melampaui Waktu
46
Suara Air dan Epilog yang Bernapas
47
Gemerlap Lentera dan monumen yang bernapas
48
Pelita di Horizon Sunyi dan Abjad yang Tinggal Abadi
49
Mahakarya Terakhir dan Gerbang Menuju Keabadian
50
Epilog Cahaya dan Nyala Yang Tak Pernah Padam
51
Suara dari Oxford dan Benih Yang Kembali Pulang
52
Gema di Universitas Tua dan Jejak Langkah Pertama
53
Cahaya di Ujung Semesta dan Pelita Generasi Keempat
54
Benang Emas yang di Ujung Era dan Cahaya yang Mengakar
55
Mahakarya Nyala Abadi dan Puncak dari Segala Puncak
56
Bintang Pertama di Atas Hönggerberg dan Gerbang Peradaban Baru
57
Cakrawala Fajar dan Mahakarya Tanpa Batas
58
Fajar Baru di Cambridge dan Tunas Generasi Kelima
59
Peta Baru di Benua Selatan dan Jejak Kiral di Nairobi
60
Cahaya di Nusantara dan Pusaka Abadi Jiwa
61
Samudra Etika dan Ujian di Puncak Altay
62
Tahta Keheningan dan Simfoni Abadi di Hönggerberg
63
Gema Kiral di Lembah Ketenangan dan Nyanyian Bintang
64
Anomali di Kedalaman Mariana dan Sinyal Terdistorsi
65
Badai Saraf di PalungGelap dan Benteng Kesadaran
66
Inti Kuantum dan Runtuhnya Bayangan Hyperion
67
Resonansi di Cakrawala Sunyi dan Bayang-bayang Orbital
68
Fajar di Orbit Rendah dan Inisiasi Proyek Aetheris-Orbital
69
Sinyal Gelap dari Obsidian dan Bayang-Bayang Konsorsium Kelam
70
Menerjang Badai Es di Kubah Obsidian
71
Penantian di Ujung Penawar dan Keheningan Es Artika
72
Gema Fajar di Hönggerberg dan Fondasi Abadi
73
Pewaris Cahaya dan Fajar Baru di Hönggerberg
74
Jejak Pertama di Lembah Kina dam Bunga Abadi
75
Simfoni Lembah Kawi dan Cakrawala Baru
76
Jejak Perak di Pesisir Nusantara dan Garis Katulistiwa
77
Mahakarya di Lembah Bintang dan Jejak Generasi Keenam
78
Bintang Pertama diGurun Atacama dan Fajar Baru
79
Prasasti Katulistiwa dan Langkah Pertama Generasi Keenam
80
Lentera Zurich dan Pemulihan Benua Tua
81
Lembah Sahara dan Pemulihan Sabuk Hijau Dunia
82
Kepulangan Ke Lemah Jawa dan Rumah Penyembuhan
83
Pesta Panen Kina dan Harmony Katulistiwa
84
Lembaran Terakhir dan Malam Seribu Pelita
85
Fajar Abadi di Lembah Argopuro (Ending)
86
Kata-kata Bijak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!