BAB 4 GUNCANGAN DI GERBANG SEKTE

Lin Mo melangkah lurus menuju gerbang utama Sekte Cahaya yang menjulang tinggi dan megah di kejauhan. Pintu gerbang yang dibangun dari batu putih berukir indah itu tampak bersinar diterpa sinar matahari pagi, melambangkan kemuliaan dan kesucian yang selalu dipuja oleh seluruh murid sekte. Namun di mata Lin Mo, kemegahan itu kini tampak begitu palsu dan menjijikkan. Di balik kemilaunya, tersembunyi keserakahan, pengkhianatan, dan kebusukan yang tak kalah pekatnya dengan kegelapan di dasar Lembah Kematian. Lin Mo melangkah dengan tenang namun setiap langkah kakinya seakan membawa tekanan berat yang tak terlihat, membuat udara di sekelilingnya terasa semakin berat dan menyesakkan bagi siapa pun yang melihatnya melintas.

Sesampainya di gerbang utama, dua belas orang murid penjaga yang sedang berjaga langsung menyadari kehadirannya. Mereka semua saling berpandangan dengan mata terbelalak tak percaya. Berita tentang kematian Lin Mo telah disebarkan luas oleh Lin Tian sendiri kemarin sore. Seluruh murid sekte telah diberitahu bahwa Lin Mo telah tewas jatuh ke jurang karena kecerobohannya sendiri saat berlatih di puncak tebing. Tak ada satu pun orang yang menyangka bahwa pemuda yang seharusnya sudah hancur berantakan di dasar lembah itu kini berjalan santai melintasi gerbang utama seakan tak terjadi apa-apa. Keheningan mendadak menyelimuti seluruh area gerbang. Hanya suara langkah kaki Lin Mo yang terdengar jelas dan berirama mantap di atas tanah batu yang bersih.

Salah seorang kepala penjaga yang bernama Wu Qiang akhirnya melangkah maju dengan wajah merah padam bercampur takut dan marah. Ia adalah orang yang cukup dikenal karena kesetiaannya kepada Lin Tian dan kekuatannya yang berada di tingkat menengah. Wu Qiang mengangkat tangannya menghadang jalan Lin Mo sambil menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh ancaman.

"Berhenti di tempatmu! Siapa yang mengizinkanmu melangkah masuk ke gerbang ini?!" bentak Wu Qiang dengan suara lantang berusaha menutupi rasa takut yang mulai merambat di hatinya. "Menurut kabar yang kami terima, Lin Mo sudah tewas kemarin! Kau yang muncul tiba-tiba ini pasti penipu atau hantu yang menyamar! Segera akui siapa kau sebenarnya dan pergilah sebelum kami melumpuhkanmu dan menyeretmu untuk dihukum berat karena berani berpura-pura menjadi orang yang telah tiada!"

Lin Mo berhenti melangkah. Ia menatap Wu Qiang dengan pandangan yang tenang dan datar, seakan orang yang berdiri menghadangnya itu hanyalah sebutir debu yang tak berarti. Tatapan itu begitu tenang namun mengandung kedalaman yang tak terukur, membuat Wu Qiang secara tak sadar mundur selangkah karena merasa seakan sedang ditatap oleh gunung yang menjulang tinggi.

"Aku tidak menyamar menjadi siapa pun," ucap Lin Mo pelan namun suaranya terdengar jelas hingga ke telinga dua belas orang penjaga yang berdiri berbaris di sana. "Aku adalah Lin Mo yang kalian katakan telah tewas. Aku kembali bukan untuk meminta pengakuan atau simpati. Aku kembali untuk menuntut apa yang menjadi hakku. Minggirlah dari hadapanku. Jangan menghalangi jalan yang seharusnya menjadi milikku."

Suara itu begitu tenang namun mengandung wibawa yang menekan dada setiap orang yang mendengarnya. Wu Qiang menelan ludah dengan susah payah. Namun rasa takut akan kemarahan Lin Tian ternyata jauh lebih besar daripada rasa hormat atau takut yang baru saja muncul di hatinya. Ia mengeratkan gigi dan melambaikan tangannya memberi isyarat kepada sebelas orang murid lainnya untuk maju bersama-sama.

"Jangan percaya padanya! Ini pasti sihir atau tipu muslihat! Lin Mo yang asli sudah lemah tak berdaya dan pasti sudah mati! Tangkap dia! Lumpuhkan kakinya dan bawa dia menghadap Tuan Muda Lin Tian! Biarkan dia yang memutuskan nasib penipu lancang ini!" seru Wu Qiang berusaha membakar semangat anak buahnya agar berani melangkah maju.

Sebelas orang murid itu pun segera melangkah maju mengelilingi Lin Mo. Mereka memancarkan energi kekuatan yang berwarna-warni, bersiap menyerang secara bersamaan. Di mata mereka, Lin Mo hanyalah orang yang sudah kehilangan kekuatannya dan tak mungkin mampu melawan satu orang pun, apalagi melawan mereka yang berjumlah dua belas orang. Namun mereka sama sekali tidak menyadari bahwa orang yang berdiri di tengah-tengah lingkaran mereka itu kini telah mewarisi kekuatan Naga Abadi, kekuatan yang jauh melampaui imajinasi siapa pun di sekte ini.

Lin Mo menatap mereka yang mengelilinginya dengan tatapan yang masih tetap tenang. Ia tidak menarik napas dalam-dalam. Ia tidak pula bersiap melancarkan serangan. Lin Mo hanya berdiri tegak di tempatnya, lalu perlahan memancarkan sebagian kecil dari aura kekuatan yang tersembunyi di dalam tubuhnya.

Seketika itu juga, udara di seluruh area gerbang seakan berhenti berhembus. Tekanan berat yang luar biasa melanda seluruh tubuh dua belas orang murid penjaga itu seketika. Mereka merasa seakan ada gunung raksasa yang tiba-tiba menindih punggung mereka. Lutut mereka terasa lemas seketika. Bunyi dentuman halus terdengar dari tubuh mereka saat mereka terpaksa berlutut ke tanah satu per satu tanpa mampu menahannya. Mereka menatap Lin Mo dengan mata terbelalak penuh ketakutan yang luar biasa. Mulut mereka terbuka namun tak ada suara yang mampu keluar dari tenggorokan mereka. Seluruh tubuh mereka kaku dan gemetar hebat, tak mampu mengangkat kepala sedikit pun untuk menatap wajah pemuda yang berdiri tenang di hadapan mereka.

Lin Mo melangkah melewati barisan mereka yang berlutut tak berdaya di tanah. Saat melintas di samping Wu Qiang yang menatapnya dengan mata terbelalak penuh ketakutan, Lin Mo berhenti sejenak dan menatapnya dengan pandangan yang dingin namun tetap tenang.

"Aku tidak membunuh kalian karena kalian hanyalah pelaksana perintah yang buta," ucap Lin Mo pelan namun setiap kata terdengar jelas dan menekan ke dalam hati Wu Qiang. "Namun ingatlah hari ini. Ingatlah saat kalian berlutut tak berdaya di hadapan orang yang kalian anggap sampah dan telah tiada. Sampaikanlah kepada Lin Tian dan Xu Yao bahwa aku telah datang. Katakan bahwa aku sedang menunggu mereka di aula utama sekte. Katakan pula... bahwa utang yang mereka timbun dengan pengkhianatan itu... harus dibayar kembali hari ini juga."

Lin Mo melangkah pergi meninggalkan gerbang utama yang kini sepi senyap. Dua belas orang murid penjaga itu masih berlutut di tanah hingga lama setelah sosoknya menghilang dari pandangan. Napas mereka tersengal-sengal hebat, keringat dingin membasahi pakaian mereka sepenuhnya. Wu Qiang menatap punggung Lin Mo yang menjauh dengan pandangan yang penuh ketakutan dan kebingungan yang tak mampu ia gambarkan dengan kata-kata. Ia menyadari satu hal yang sangat jelas hari ini — pemuda yang kembali itu bukan lagi Lin Mo yang lemah dan sabar seperti dulu. Ia telah berubah menjadi seseorang yang jauh lebih kuat, jauh lebih mengerikan, dan jauh lebih berwibawa daripada siapa pun yang pernah ia temui seumur hidupnya.

Berita tentang kedatangan Lin Mo menyebar bagaikan api yang membakar hutan kering ke seluruh penjuru Sekte Cahaya. Dari gerbang utama hingga ke halaman dalam, berita itu berpindah dari mulut ke mulut dengan kecepatan luar biasa. Seluruh murid sekte yang mendengarnya terkejut tak terkira. Mereka semua berlarian menuju aula utama untuk melihat sendiri kebenaran berita itu. Beberapa orang merasa takut, sebagian besar merasa penasaran, dan tak sedikit pula yang datang dengan niat menghina dan menertawakan pemuda yang mereka yakini tak mungkin masih hidup.

Lin Mo berjalan lurus menuju aula utama sekte yang merupakan tempat paling suci dan paling dihormati di seluruh wilayah sekte. Di sana, para tetua sekte berkumpul untuk memutuskan segala urusan penting, dan di sanalah Lin Tian saat ini sedang duduk dengan bangganya di kursi yang dulu merupakan milik Lin Mo — kursi pewaris sah Sekte Cahaya. Lin Mo melangkah masuk ke dalam aula utama yang luas dan megah itu diiringi pandangan mata yang beragam dari ratusan murid yang telah memenuhi ruangan itu hingga penuh sesak. Suara bisik-bisik terdengar di mana-mana, namun tak ada satu pun orang yang berani melontarkan makian kasar seperti biasanya. Karena begitu mereka menatap wajah Lin Mo yang tenang namun memancarkan wibawa yang menindih, kata-kata penghinaan itu mati sendiri di kerongkongan mereka.

Di atas panggung utama aula, duduk beberapa orang tetua sekte dengan wajah terkejut dan bingung. Dan di tengah-tengah mereka, duduklah Lin Tian dengan jubah mewah berwarna emas putih, wajahnya tampak pucat pasi namun tetap berusaha mempertahankan penampilan yang tenang dan berwibawa. Di sampingnya berdiri Xu Yao dengan wajah cantik namun kini tampak kaku dan penuh ketakutan yang berusaha disembunyikan. Mereka berdua menatap Lin Mo yang berjalan mendekat dengan langkah tenang dan mantap, seakan setiap langkah yang diambilnya sedang menghantam hati mereka berdua berkali-kali lipat.

Lin Mo berhenti tepat di tengah aula, di hadapan panggung utama tempat para tetua dan dua orang pengkhianat itu duduk. Ia menatap lurus ke arah Lin Tian dan Xu Yao dengan pandangan yang jernih dan tenang. Tidak ada amarah yang meledak-ledak. Tidak pula ada air mata atau kesedihan yang ditunjukkan. Lin Mo hanya berdiri di sana dengan tenang, menatap mereka berdua yang kini duduk di atas kursi yang seharusnya menjadi miliknya. Keheningan mendadak menyelimuti seluruh aula yang tadinya riuh itu. Semua orang menahan napas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Lin Mo akhirnya membuka bibirnya perlahan. Suaranya terdengar lembut namun bergema di seluruh penjuru aula, terdengar jelas dan tegas di telinga setiap orang yang hadir di sana.

"Lin Tian... Xu Yao... Aku telah kembali..." ucap Lin Mo pelan namun setiap kata menembus langsung ke dada mereka berdua. "Kalian kira aku sudah mati di dasar lembah itu. Kalian kira dengan demikian kalian bisa menikmati apa yang kalian rampas dariku dengan tenang. Namun kalian keliru. Aku tidak mati. Aku kembali hidup-hidup untuk menuntut kembali apa yang menjadi hakku. Dan hari ini... di hadapan seluruh murid sekte dan para tetua... aku ingin bertanya kepada kalian berdua. Apakah kalian siap menerima pembalasan atas segala pengkhianatan dan kejahatan yang telah kalian lakukan?"

Suara itu baru saja selesai terucap, namun seluruh aula seakan gemetar hebat. Cahaya keemasan samar tiba-tiba memancar dari tubuh Lin Mo, menerangi seluruh ruangan aula yang luas itu dengan cahaya yang hangat namun penuh wibawa yang tak tertahankan. Di saat itu juga, setiap orang yang hadir di sana menyadari satu hal yang tak terbantahkan — badai besar baru saja tiba. Dan badai itu dipimpin oleh pemuda yang mereka semua pernah hina dan buang.

Terpopuler

Comments

Predi Siswanto

Predi Siswanto

tambah letoy

2026-08-20

0

lihat semua
Episodes
1 bab 1 DI BUANG DAN TAK MATI
2 BAB 2 KEKUATAN YANG BARU TERBANGUN
3 BAB 3 KEMBALI DENGAN WIBAWAA
4 BAB 4 GUNCANGAN DI GERBANG SEKTE
5 BAB 5 KEBENARAN DAN TANTANGAN
6 BAB 6 KEMENANGAN YANG TAK TERDUGA
7 BAB 7 WARISAN YANG LEBIH BESAR
8 BAB 8 PERTEMUAN DI PERBATASAN
9 BAB 9 KEKUATAN YANG TAK TERKALAHKAN
10 BAB 10 JEJAK MENUJU LEMBAH TERLARANG
11 BAB 11 DARAH YANG MENDIDIH DAN LAUTAN QI YANG TERBANGUN
12 BAB 12 MATA YANG MULAI TERBUKA
13 BAB 13 GUBUK TUA DAN WARISAN LELUHUR
14 BAB 14 KETENANGAN YANG MEMPERKUAT
15 BAB 15 KEBERANGKATAN YANG DIPUTUSKAN
16 BAB 16 KOTA QINGYUAN DAN PINTU GERBANG YANG RAMAI
17 BAB 17 HARI-HARI YANG TENANG DAN PERUBAHAN HALUS
18 BAB 18 TANDA-TANDA YANG MULAI MUNCUL
19 BAB 19 PINTU MASUK SEKTE DAN UJIAN YANG TAK TERDUGA
20 BAB 20 KEHIDUPAN BARU DAN PANDANGAN YANG BERBEDA
21 BAB 21 DARAH YANG TERBANGKIT DAN KEKUATAN YANG TERSEMBUNYI
22 BAB 22 JEJAK LAMA DAN MUSUH YANG MENGINTAI
23 BAB 23 JALAN MENJAUH DAN PERTEMUAN TAK TERDUGA
24 BAB 24 KEKUATAN YANG MENGGETARKAN HATI DAN PERSAUDARAAN YANG BARU
25 BAB 25 PERJALANAN BERSAMA DAN UJIAN DI HUTAN KELABUAN
26 BAB 26 PERBATASAN DAN DARAH YANG TAK DAPAT DISANGKAL
27 BAB 27 MENEMBUS GERBANG DAN BADAI DI IBU KOTA
28 BAB 28 PERSIAPAN DAN RAHASIA ISTANA TERLARANG
29 BAB 29 PERTEMUAN DI DALAM GELAP DAN KEBANGKITAN KAISAR
30 BAB 30 CAHAYA DI ATAS ISTANA DAN TAKHTA YANG KEMBALI SUCI
31 BAB 31 GEJALA ANEH DARI SELATAN DAN PERINTAH BARU
32 BAB 32 LEMBAH AWAN GELAP DAN BADAI YANG MENGGUNCANG BUMI
33 BAB 33 BAYANGAN DARI MASA LALU DAN PERANG YANG TAK DIUNDANG
34 BAB 34 PERSIAPAN PERANG BESAR DAN LATIHAN DI PUNCAK AWAN
35 BAB 35 KEDATANGAN PASUKAN HITAM DAN PERTEMPURAN DI GERBANG IBU KOTA
36 BAB 36 PENYATUAN KEKUATAN DAN PERTANDA BAHAYA YANG SEMAKIN DEKAT
37 BAB 37 BADAI TERAKHIR DAN CAHAYA YANG TAK KALAH
38 BAB 38 CAHAYA ABADI DAN LEGENDA YANG TAK PERNAH PUDAR
39 BAB 39 KEMBALINYA KEGELAPAN ABADI DAN PERTARUNGAN TERAKHIR YANG MEMBELAH LANGIT
40 BAB 40 KEBANGKITAN RAJA NAGA GELAP DAN CAHAYA YANG MENEMBUS LANGIT
41 BAB 41 DEWA KEGELAPAN ABADI DAN CAHAYA YANG MENYENTUH LANGIT KETUJUH
42 BAB 42 PENGUASA RUANG DAN WAKTU SERTA CAHAYA YANG TAK TERKALUNG
43 BAB 43 ASAL MULA SEGALA KEGELAPAN DAN CAHAYA YANG MENJADI SATU DENGAN ALAM SEMES
44 BAB 44 WARISAN CAHAYA DAN KETURUNAN LIN MO
45 BAB 45 CAHAYA DI UJUNG DUNIA DAN GERBANG ANTARA DUA ALAM
46 BAB 46 CAHAYA YANG TAK PERNAH HILANG DAN JANJI YANG DIUCAPKAN DI ANTARA BINTANG
47 BAB 47 CAHAYA DI DASAR HATI DAN JANJI YANG TAK PERNAH DILUPAKAN
48 BAB 48 CAHAYA YANG MENEMBUS WAKTU DAN JANJI YANG TAK PERNAH DIINGKARI
49 BAB 49 CAHAYA TANPA NAMA DAN JANJI YANG DIUCAPKAN KEPADA ALAM SEMESTA
50 BAB 50 CAHAYA YANG MENJADI SATU DAN LEGENDA YANG TAK AKAN PERNAH PUDAR
51 BAB 51 SISA JIWA NAGA DAN JANJI YANG DIULANG KEMBALI
52 BAB 52 JALAN PULANG DAN BADAI YANG AKAN DATANG
53 BAB 53 HUTAN KABUT ABADI DAN WARISAN LELUHUR YANG TERLUPAKAN
54 BAB 54 GUNUNG PUNCAK PERAK DAN UJIAN PETIR SURGAWI
55 BAB 55 KERAJAAN BAYANGAN DAN SAUDARA YANG TERPERANGKAP DALAM GELAP
56 Bab 56 — Cahaya di Ujung Badai
57 Bab 57 — Tebasan yang Membelah Awan
58 Bab 58 — Puncak Kabut Abadi
59 Bab 59 — Pertarungan di Lembah Badai
60 Bab 60 — Pedang yang Menembus Langit
61 Bab 61 — Samudra Qi yang Mengguntur
62 Bab 62 — Langit yang Terbelah Petir
63 Bab 63 — Lembah yang Menangis
64 Bab 64 — Menara Langit yang Menjulang
65 Bab 65 — Samudra Bintang di Ujung Dunia
66 Bab 66 — Pintu Gerbang Dunia Lama
67 Bab 67 — Dunia di Balik Gerbang
68 Bab 68 — Dewan Tetua Cahaya Abadi
69 Bab 69 — Bayangan di Balik Cahaya
70 Bab 70 — Hutan Kabut dan Kebenaran Tersembunyi
71 Bab 71 — Melawan Takdir Langit
72 Bab 72 — Cahaya di Ujung Jalan Berdarah
73 Bab 73 — Jejak Kuno di Hutan Terlarang
74 Bab 74 — Menara yang Menembus Kabut Langit
75 Bab 75 — Di Puncak Menara yang Runtuh
76 Bab 76: Badai Roh, Hati yang Tak Tergoyahkan
77 Bab 77: Bayangan Kelima, Senyap yang Membunuh
78 Bab 78: Hutan Lupa, Kenangan yang Tak Boleh Hilang
79 Bab 79: Gerbang Kegelapan, Langkah Terakhir
80 Bab 80: Fajar Baru, Jalan yang Tak Berakhir
81 Bab 81: Lautan Qi, Badai di Padang Pasir Berduri
82 Bab 82: Jalan Batu Ungu, Bayangan di Lembah Terlarang
83 Bab 83: Cobaan Pertama — Cermin Hati
84 Bab 84: Cobaan Kedua — Labirin Jiwa
85 Bab 85: Cermin Kebenaran, Asal-Usul yang Terungkap
Episodes

Updated 85 Episodes

1
bab 1 DI BUANG DAN TAK MATI
2
BAB 2 KEKUATAN YANG BARU TERBANGUN
3
BAB 3 KEMBALI DENGAN WIBAWAA
4
BAB 4 GUNCANGAN DI GERBANG SEKTE
5
BAB 5 KEBENARAN DAN TANTANGAN
6
BAB 6 KEMENANGAN YANG TAK TERDUGA
7
BAB 7 WARISAN YANG LEBIH BESAR
8
BAB 8 PERTEMUAN DI PERBATASAN
9
BAB 9 KEKUATAN YANG TAK TERKALAHKAN
10
BAB 10 JEJAK MENUJU LEMBAH TERLARANG
11
BAB 11 DARAH YANG MENDIDIH DAN LAUTAN QI YANG TERBANGUN
12
BAB 12 MATA YANG MULAI TERBUKA
13
BAB 13 GUBUK TUA DAN WARISAN LELUHUR
14
BAB 14 KETENANGAN YANG MEMPERKUAT
15
BAB 15 KEBERANGKATAN YANG DIPUTUSKAN
16
BAB 16 KOTA QINGYUAN DAN PINTU GERBANG YANG RAMAI
17
BAB 17 HARI-HARI YANG TENANG DAN PERUBAHAN HALUS
18
BAB 18 TANDA-TANDA YANG MULAI MUNCUL
19
BAB 19 PINTU MASUK SEKTE DAN UJIAN YANG TAK TERDUGA
20
BAB 20 KEHIDUPAN BARU DAN PANDANGAN YANG BERBEDA
21
BAB 21 DARAH YANG TERBANGKIT DAN KEKUATAN YANG TERSEMBUNYI
22
BAB 22 JEJAK LAMA DAN MUSUH YANG MENGINTAI
23
BAB 23 JALAN MENJAUH DAN PERTEMUAN TAK TERDUGA
24
BAB 24 KEKUATAN YANG MENGGETARKAN HATI DAN PERSAUDARAAN YANG BARU
25
BAB 25 PERJALANAN BERSAMA DAN UJIAN DI HUTAN KELABUAN
26
BAB 26 PERBATASAN DAN DARAH YANG TAK DAPAT DISANGKAL
27
BAB 27 MENEMBUS GERBANG DAN BADAI DI IBU KOTA
28
BAB 28 PERSIAPAN DAN RAHASIA ISTANA TERLARANG
29
BAB 29 PERTEMUAN DI DALAM GELAP DAN KEBANGKITAN KAISAR
30
BAB 30 CAHAYA DI ATAS ISTANA DAN TAKHTA YANG KEMBALI SUCI
31
BAB 31 GEJALA ANEH DARI SELATAN DAN PERINTAH BARU
32
BAB 32 LEMBAH AWAN GELAP DAN BADAI YANG MENGGUNCANG BUMI
33
BAB 33 BAYANGAN DARI MASA LALU DAN PERANG YANG TAK DIUNDANG
34
BAB 34 PERSIAPAN PERANG BESAR DAN LATIHAN DI PUNCAK AWAN
35
BAB 35 KEDATANGAN PASUKAN HITAM DAN PERTEMPURAN DI GERBANG IBU KOTA
36
BAB 36 PENYATUAN KEKUATAN DAN PERTANDA BAHAYA YANG SEMAKIN DEKAT
37
BAB 37 BADAI TERAKHIR DAN CAHAYA YANG TAK KALAH
38
BAB 38 CAHAYA ABADI DAN LEGENDA YANG TAK PERNAH PUDAR
39
BAB 39 KEMBALINYA KEGELAPAN ABADI DAN PERTARUNGAN TERAKHIR YANG MEMBELAH LANGIT
40
BAB 40 KEBANGKITAN RAJA NAGA GELAP DAN CAHAYA YANG MENEMBUS LANGIT
41
BAB 41 DEWA KEGELAPAN ABADI DAN CAHAYA YANG MENYENTUH LANGIT KETUJUH
42
BAB 42 PENGUASA RUANG DAN WAKTU SERTA CAHAYA YANG TAK TERKALUNG
43
BAB 43 ASAL MULA SEGALA KEGELAPAN DAN CAHAYA YANG MENJADI SATU DENGAN ALAM SEMES
44
BAB 44 WARISAN CAHAYA DAN KETURUNAN LIN MO
45
BAB 45 CAHAYA DI UJUNG DUNIA DAN GERBANG ANTARA DUA ALAM
46
BAB 46 CAHAYA YANG TAK PERNAH HILANG DAN JANJI YANG DIUCAPKAN DI ANTARA BINTANG
47
BAB 47 CAHAYA DI DASAR HATI DAN JANJI YANG TAK PERNAH DILUPAKAN
48
BAB 48 CAHAYA YANG MENEMBUS WAKTU DAN JANJI YANG TAK PERNAH DIINGKARI
49
BAB 49 CAHAYA TANPA NAMA DAN JANJI YANG DIUCAPKAN KEPADA ALAM SEMESTA
50
BAB 50 CAHAYA YANG MENJADI SATU DAN LEGENDA YANG TAK AKAN PERNAH PUDAR
51
BAB 51 SISA JIWA NAGA DAN JANJI YANG DIULANG KEMBALI
52
BAB 52 JALAN PULANG DAN BADAI YANG AKAN DATANG
53
BAB 53 HUTAN KABUT ABADI DAN WARISAN LELUHUR YANG TERLUPAKAN
54
BAB 54 GUNUNG PUNCAK PERAK DAN UJIAN PETIR SURGAWI
55
BAB 55 KERAJAAN BAYANGAN DAN SAUDARA YANG TERPERANGKAP DALAM GELAP
56
Bab 56 — Cahaya di Ujung Badai
57
Bab 57 — Tebasan yang Membelah Awan
58
Bab 58 — Puncak Kabut Abadi
59
Bab 59 — Pertarungan di Lembah Badai
60
Bab 60 — Pedang yang Menembus Langit
61
Bab 61 — Samudra Qi yang Mengguntur
62
Bab 62 — Langit yang Terbelah Petir
63
Bab 63 — Lembah yang Menangis
64
Bab 64 — Menara Langit yang Menjulang
65
Bab 65 — Samudra Bintang di Ujung Dunia
66
Bab 66 — Pintu Gerbang Dunia Lama
67
Bab 67 — Dunia di Balik Gerbang
68
Bab 68 — Dewan Tetua Cahaya Abadi
69
Bab 69 — Bayangan di Balik Cahaya
70
Bab 70 — Hutan Kabut dan Kebenaran Tersembunyi
71
Bab 71 — Melawan Takdir Langit
72
Bab 72 — Cahaya di Ujung Jalan Berdarah
73
Bab 73 — Jejak Kuno di Hutan Terlarang
74
Bab 74 — Menara yang Menembus Kabut Langit
75
Bab 75 — Di Puncak Menara yang Runtuh
76
Bab 76: Badai Roh, Hati yang Tak Tergoyahkan
77
Bab 77: Bayangan Kelima, Senyap yang Membunuh
78
Bab 78: Hutan Lupa, Kenangan yang Tak Boleh Hilang
79
Bab 79: Gerbang Kegelapan, Langkah Terakhir
80
Bab 80: Fajar Baru, Jalan yang Tak Berakhir
81
Bab 81: Lautan Qi, Badai di Padang Pasir Berduri
82
Bab 82: Jalan Batu Ungu, Bayangan di Lembah Terlarang
83
Bab 83: Cobaan Pertama — Cermin Hati
84
Bab 84: Cobaan Kedua — Labirin Jiwa
85
Bab 85: Cermin Kebenaran, Asal-Usul yang Terungkap

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!