PENAKLUK SEMESTA

PENAKLUK SEMESTA

bab 1 DI BUANG DAN TAK MATI

Angin dingin menderu kencang menyapu dinding tebing curam Lembah Kematian, tempat yang tak ada seekor burung pun berani terbang melintas. Kabut kelabu yang pekat menyelimuti lembah itu sepanjang waktu, menyembunyikan bahaya yang mengintai di balik setiap rimbunan semak belukar berduri, celah-celah bebatuan yang tajam bagaikan bilah pisau, serta bayangan gelap yang sesekali bergerak pelan di balik rimbunan pepohonan tua yang batangnya tampak keriput dan menyeramkan. Tanah di lembah itu berwarna merah kecokelatan seakan telah direndam darah selama ribuan tahun. Udara yang terhirup terasa dingin dan menyengat, membawa bau busuk dan bau logam yang tajam, seakan tempat itu telah menjadi kuburan besar bagi siapa pun yang berani melangkah masuk tanpa kekuatan yang cukup untuk melindungi nyawanya sendiri.

Di atas hamparan batu tajam yang berlumuran darah segar, terbaring seorang pemuda berpakaian lusuh penuh luka menganga yang terus meneteskan cairan merah perlahan ke tanah yang sudah berwarna kemerahan. Pemuda itu mengenakan jubah berwarna biru pudar yang dulunya adalah seragam kebanggaan sekte. Kainnya kini robek di sana-sini, penuh noda darah dan debu. Wajahnya yang tampan dan tenang kini pucat pasi, penuh luka goresan dan noda darah yang mengering di sudut bibirnya. Ia adalah Lin Mo. Dulu nama Lin Mo adalah kebanggaan sekte dan harapan besar keluarga, pemuda yang dipuja dan diprediksi akan mencapai puncak tertinggi dalam jalan kultivasi di masa mendatang. Banyak orang memujinya, banyak orang mematuhinya, dan banyak orang menaruh harapan besar padanya. Namun hari ini, nama itu telah menjadi sampah yang dibuang ke tempat paling berbahaya di dunia, seakan tak pernah memiliki arti apa pun bagi siapa pun. Seakan semua pujian dan penghormatan yang dulu diberikan kepadanya hanyalah kepalsuan yang runtuh seketika saat kekuatannya dirampas dan nyawanya dianggap tak lagi berharga.

Darah merah terus menetes dari luka dalam di dada Lin Mo, jatuh membasahi tanah yang tampak haus akan cairan kehidupan itu. Racun yang diberikan oleh orang yang paling ia percayai sedang menyebar dengan cepat ke seluruh pembuluh darahnya, membakar daging dan tulang bagaikan api panas yang tak kunjung padam. Setiap tarikan napas terasa menyakitkan seakan paru-parunya sedang diremas dan dibakar secara bersamaan. Pembuluh darah di seluruh tubuhnya tampak menonjol dan berwarna kehitaman, menandakan betapa berbahayanya racun yang merajalela di dalam sana. Napas Lin Mo terasa berat dan tersengal-sengal, seakan setiap helai napas yang diambilnya adalah sisa-sisa nyawa yang perlahan meninggalkan tubuhnya yang lemah dan penuh luka. Namun di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, sepasang matanya yang masih terbuka perlahan menatap ke atas, menembus kabut samar menuju puncak tebing tempat ia jatuh tak lama berselang. Di sana, berdiri dua sosok yang menatap ke bawah dengan wajah sedingin batu es, tanpa sedikit pun rasa iba atau penyesalan. Cahaya matahari yang menyinari kedua sosok itu seakan tak mampu menyentuh hati mereka yang telah membeku oleh keserakahan dan kejahatan.

Sosok pertama adalah wanita yang wajahnya cantik dan lembut, namun tatapan matanya kini tampak datar dan dingin, seakan orang yang terbaring sekarat di bawah sana hanyalah sebutir debu yang tak berarti baginya. Wanita itu adalah Xu Yao, tunangan Lin Mo yang telah dijagokan sejak kecil, wanita yang pernah berjanji akan mendampingi Lin Mo hingga ke ujung dunia, wanita yang pernah berkata bahwa tak ada harta maupun kekuatan yang mampu memisahkan mereka. Namun janji itu ternyata hanyalah kepulan asap yang hilang tertiup angin begitu saja saat kekuatan dan kekuasaan tampak lebih menarik untuk diraih.

Di samping Xu Yao berdiri sosok kedua, seorang pemuda berwajah tampan namun matanya menyimpan kesombongan dan kebusukan yang tak tersembunyikan. Ia adalah Lin Tian, kakak angkat Lin Mo yang selama ini tampak ramah dan penuh perhatian, namun sebenarnya telah menyimpan rasa iri dan kebencian yang mendalam sejak lama. Lin Tian selalu merasa hidup dalam bayang-bayang Lin Mo. Ia selalu merasa lebih rendah dan dipandang sebelah mata dibandingkan Lin Mo. Rasa iri itu perlahan tumbuh menjadi kebencian yang pekat, dan kesempatan yang dinantikannya akhirnya tiba saat ia berhasil bekerja sama dengan Xu Yao untuk meracuni Lin Mo secara diam-diam selama berbulan-bulan lamanya. Mereka berdua itulah yang diam-diam mencuri hak waris dan kekuatan darah Lin Mo, dan akhirnya melemparnya ke jurang maut agar tak ada satu pun saksi yang tersisa untuk mengungkap kejahatan keji mereka.

"Lin Mo... maafkanlah aku... sesungguhnya aku tak berniat berbuat sekejam ini padamu..." suara Xu Yao terdengar samar tertiup angin yang menderu, nada bicaranya terdengar lemah dan penuh kepalsuan yang menyakitkan hati jauh lebih tajam daripada luka di tubuhnya. "Kekuatan darahmu itu seharusnya milik Lin Tian... dan aku... aku membutuhkan kekuatan itu agar bisa berdiri sejajar dengannya... Jadi pergilah dengan tenang... Jangan menungguku lagi... Mulai hari ini, tak ada lagi Xu Yao yang mengenal Lin Mo..."

Lin Tian yang berdiri di samping Xu Yao tersenyum bangga, lalu tertawa dingin seakan mendengar hal yang paling lucu di dunia. Suara tawanya terdengar tajam dan penuh penghinaan yang menusuk hingga ke tulang sumsum.

"Adikku yang bodoh dan naif! Kau memang terlalu lemah hatinya dan terlalu polos pikirannya untuk menguasai kekuatan besar yang mengalir di dalam tubuhmu. Kau percaya kepada semua orang yang tersenyum di hadapanmu tanpa pernah menyadari apa yang tersembunyi di balik senyuman palsu itu. Dunia ini bukan tempat untuk orang sepertimu. Dunia ini milik orang yang kuat dan tak berhati lembut. Kebaikan hatimu justru menjadi alasan yang tepat untuk membuangmu. Matalah kau di bawah sana dan lupakanlah semua yang pernah kau miliki. Mulai saat ini, nama Lin Mo sudah mati dan dikubur bersama tubuh busukmu. Yang hidup dan bersinar terang di langit sekte mulai hari ini hanyalah namaku! Dan Xu Yao... wanita yang pernah kau cintai dengan segenap hatimu itu... akan menjadi milikku sepenuhnya!"

Xu Yao berdiri di samping Lin Tian tanpa menolak sedikit pun. Ia bahkan tersenyum tipis dan merangkul lengan Lin Tian dengan penuh keakrapan, seakan tak pernah ada janji yang diucapkannya kepada Lin Mo di bawah sinar rembulan yang dulu menjadi saksi kesetiaan mereka. Pemandangan itu menyakiti hati Lin Mo jauh lebih dalam daripada luka-luka yang menganga di sekujur tubuhnya. Pengkhianatan dari dua orang yang paling dipercaya dan dicintai seumur hidup ternyata jauh lebih menyakitkan daripada racun yang sedang mematikan tubuhnya perlahan-lahan.

Dua sosok itu akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan tebing tanpa menoleh sekali pun, seakan apa yang baru saja mereka lakukan hanyalah membuang sebutir debu yang tak berharga dari ujung jubah mereka. Langkah kaki mereka menjauh perlahan hingga bayangan mereka hilang tertutup kabut dan dinding tebing yang menjulang tinggi. Tinggallah Lin Mo sendirian di dasar lembah yang sunyi dan mengerikan, terbaring di atas batu tajam yang terus menekan luka di punggungnya.

Lin Mo tidak menangis. Ia tidak mengerang kesakitan. Air matanya tak menetes satu pun. Yang keluar dari bibirnya yang berdarah hanyalah suara lemah namun penuh tekad yang tak akan pernah patah seumur hidupnya. Suara itu terdengar pelan namun tegas di tengah deru angin yang menderu kencang seakan ikut menyaksikan janji sucinya.

"Aku tidak akan mati... Aku Lin Mo tidak akan mati di sini..." ucap Lin Mo perlahan, setiap kata terucap dengan teguh dan tak tergoyahkan meskipun rasa sakit terus menyergap kesadarannya. "Kalian semua yang telah mengkhianati, meracuni, dan mencampakkanku seperti sampah yang tak berharga... tunggulah saat aku kembali mendaki puncak tebing tempat kalian berdiri dengan angkuhnya hari ini. Saat itu tiba... aku akan kembali dengan kekuatan yang tak mampu kalian bayangkan... Aku akan membuat kalian berlutut di hadapanku dan menyesali perbuatan kalian dengan air mata darah. Dan penyesalan itu akan menjadi hukuman yang kalian tanggung seumur hidup, tak akan pernah terhapus hingga nyawa kalian tercabut dari tubuh yang hina itu!"

Seketika setelah janji itu terucap, secercah cahaya keemasan samar-samar muncul dari luka menganga di dada Lin Mo. Cahaya itu bukan milik racun yang sedang menyebar. Cahaya itu berasal dari dalam tubuhnya sendiri — sesuatu yang tersembunyi sejak kelahirannya, terkunci rapat dan tak pernah terbangun sebelumnya, dan baru kini menyala perlahan saat nyawanya berada di ambang pintu kematian. Cahaya itu perlahan menyelimuti seluruh tubuh Lin Mo, mengalir lembut namun luar biasa kuat menyusuri setiap pembuluh darah dan celah tulang, menetralkan racun yang merajalela, menyembuhkan luka yang menganga, dan membakar segala kelemahan yang membelenggunya selama ini. Rasa sakit yang luar biasa perlahan digantikan oleh rasa hangat yang nyaman dan kekuatan yang terus mengalir deras bagaikan sungai yang tak pernah kering. Cahaya keemasan itu semakin terang dan pekat, membentuk siluet samar sosok naga raksasa yang melayang di belakang tubuh Lin Mo sejenak sebelum menyatu kembali ke dalam darah dan dagingnya.

Di dalam sanubari dan kesadaran Lin Mo, tiba-tiba terdengar suara berat dan bergema bagaikan guntur yang membelah langit luas, suara kuno yang seakan telah tertidur ribuan tahun dan kini kembali menyapa dunia dengan wibawa yang tak tertandingi.

"Roh yang teguh... darah yang tak tunduk... Kau telah membangkitkan aku dari tidur panjang ribuan tahun... Anak manusia yang bernama Lin Mo... Darah kuno yang mengalir di tubuhmu ternyata belum mati... Terimalah warisanku... terimalah kekuatan Naga Abadi... dan bangkitlah untuk menuntut apa yang telah dirampas darimu... Biarlah langit dan bumi menyaksikan... bahwa keturunan Darah Naga tak akan pernah tunduk kepada siapa pun..."

Lin Mo merasakan sesuatu yang luar biasa terjadi di dalam dirinya. Sejak saat itu, ada sesuatu yang berubah secara mendasar. Pembuluh darah yang rusak pulih kembali menjadi jauh lebih kuat dan kokoh. Tulang-tulangnya yang rapuh karena racun kini tampak bercahaya dan sekeras logam tertinggi. Energi yang mengalir di dalam tubuhnya kini bukan lagi energi biasa yang dipelajari di sekte. Itu adalah energi murni kuno yang berasal dari masa-masa awal penciptaan dunia, energi yang tak dimiliki oleh siapa pun di zaman ini. Cahaya keemasan itu semakin terang benderang hingga menyelimuti seluruh lembah yang gelap dan suram, mengusir kabut kelabu yang selama ini menutupinya, membuat lembah maut itu seketika tampak bersinar keemasan bagaikan surga yang tersembunyi.

Dan di saat itu juga, di dalam tubuh Lin Mo yang hampir binasa, ada sesuatu yang baru saja lahir kembali dari kematian dengan wibawa yang cukup untuk menggetarkan seluruh dunia. Lin Mo perlahan menutup matanya. Namun kali ini bukan untuk selamanya. Ia menutup matanya untuk menyatukan jiwa dan kekuatan yang baru saja bangkit dari tidur panjangnya. Napasnya yang tersengal-sengal perlahan menjadi tenang, dalam, dan kuat. Cahaya keemasan di tubuhnya perlahan meredup kembali menyembunyi di dalam aliran darahnya, menyatu dengan setiap jengkal daging dan darahnya, menunggu saat yang tepat untuk memancarkan sinarnya kembali ke langit luas.

Lin Mo tetap terbaring di sana untuk waktu yang lama. Namun tubuhnya kini tak lagi tampak sekarat. Luka-lukanya perlahan menutup sempurna tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Wajahnya yang pucat kini kembali bercahaya dan tampak semakin tegas dan berwibawa. Saat ia akhirnya membuka kedua matanya perlahan, sepasang mata itu kini memancarkan cahaya keemasan yang samar namun tajam dan dalam, seakan mampu menembus segala kegelapan dan melihat jauh ke masa depan. Lin Mo berdiri perlahan, kakinya yang semula lemah kini menapak kokoh di atas batu tajam yang tak lagi melukainya. Ia menatap ke arah puncak tebing tempat ia jatuh, menatap ke arah tempat di mana dua orang pengkhianat itu berdiri menatapnya dengan penghinaan tak lama berselang.

"Aku kembali..." ucap Lin Mo pelan namun tegas, suaranya bergema lembut namun penuh kekuatan yang tak terlihat. "Tunggulah aku... Lin Tian... Xu Yao... dan semua orang yang pernah menghinaku... Saat aku kembali mendaki tebing itu kelak... dunia yang kalian kenal akan berubah. Dan saat itu tiba... jangan pernah memohon belas kasihan kepadaku... Karena belas kasihan itu telah kalian kubur sendiri di dasar lembah ini bersama nyawaku yang kalian kira telah binasa."

Lin Mo melangkah perlahan menembus kabut tebal yang kini tak lagi menghalangi pandangannya. Di hadapannya terbentang jalan panjang yang penuh bahaya dan tantangan. Namun Lin Mo tak lagi takut. Di dalam dadanya kini mengalir darah Naga Abadi. Di dalam jiwanya kini bersemayam kekuatan kuno yang tak tertandingi. Dan di pundaknya kini terbebani janji yang harus ditepati secepat mungkin. Pengkhianatan itu baru permulaan. Perjalanan pembalasan dendam yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan tak ada satu pun makhluk di langit maupun di bumi yang mampu menghentikan langkah kaki Lin Mo yang telah bangkit dari kematian dengan kekuatan dewa purba yang terbangun kembali.

Terpopuler

Comments

Alia Chans

Alia Chans

ceritanya keren thor/Smile/

2026-08-19

1

lihat semua
Episodes
1 bab 1 DI BUANG DAN TAK MATI
2 BAB 2 KEKUATAN YANG BARU TERBANGUN
3 BAB 3 KEMBALI DENGAN WIBAWAA
4 BAB 4 GUNCANGAN DI GERBANG SEKTE
5 BAB 5 KEBENARAN DAN TANTANGAN
6 BAB 6 KEMENANGAN YANG TAK TERDUGA
7 BAB 7 WARISAN YANG LEBIH BESAR
8 BAB 8 PERTEMUAN DI PERBATASAN
9 BAB 9 KEKUATAN YANG TAK TERKALAHKAN
10 BAB 10 JEJAK MENUJU LEMBAH TERLARANG
11 BAB 11 DARAH YANG MENDIDIH DAN LAUTAN QI YANG TERBANGUN
12 BAB 12 MATA YANG MULAI TERBUKA
13 BAB 13 GUBUK TUA DAN WARISAN LELUHUR
14 BAB 14 KETENANGAN YANG MEMPERKUAT
15 BAB 15 KEBERANGKATAN YANG DIPUTUSKAN
16 BAB 16 KOTA QINGYUAN DAN PINTU GERBANG YANG RAMAI
17 BAB 17 HARI-HARI YANG TENANG DAN PERUBAHAN HALUS
18 BAB 18 TANDA-TANDA YANG MULAI MUNCUL
19 BAB 19 PINTU MASUK SEKTE DAN UJIAN YANG TAK TERDUGA
20 BAB 20 KEHIDUPAN BARU DAN PANDANGAN YANG BERBEDA
21 BAB 21 DARAH YANG TERBANGKIT DAN KEKUATAN YANG TERSEMBUNYI
22 BAB 22 JEJAK LAMA DAN MUSUH YANG MENGINTAI
23 BAB 23 JALAN MENJAUH DAN PERTEMUAN TAK TERDUGA
24 BAB 24 KEKUATAN YANG MENGGETARKAN HATI DAN PERSAUDARAAN YANG BARU
25 BAB 25 PERJALANAN BERSAMA DAN UJIAN DI HUTAN KELABUAN
26 BAB 26 PERBATASAN DAN DARAH YANG TAK DAPAT DISANGKAL
27 BAB 27 MENEMBUS GERBANG DAN BADAI DI IBU KOTA
28 BAB 28 PERSIAPAN DAN RAHASIA ISTANA TERLARANG
29 BAB 29 PERTEMUAN DI DALAM GELAP DAN KEBANGKITAN KAISAR
30 BAB 30 CAHAYA DI ATAS ISTANA DAN TAKHTA YANG KEMBALI SUCI
31 BAB 31 GEJALA ANEH DARI SELATAN DAN PERINTAH BARU
32 BAB 32 LEMBAH AWAN GELAP DAN BADAI YANG MENGGUNCANG BUMI
33 BAB 33 BAYANGAN DARI MASA LALU DAN PERANG YANG TAK DIUNDANG
34 BAB 34 PERSIAPAN PERANG BESAR DAN LATIHAN DI PUNCAK AWAN
35 BAB 35 KEDATANGAN PASUKAN HITAM DAN PERTEMPURAN DI GERBANG IBU KOTA
36 BAB 36 PENYATUAN KEKUATAN DAN PERTANDA BAHAYA YANG SEMAKIN DEKAT
37 BAB 37 BADAI TERAKHIR DAN CAHAYA YANG TAK KALAH
38 BAB 38 CAHAYA ABADI DAN LEGENDA YANG TAK PERNAH PUDAR
39 BAB 39 KEMBALINYA KEGELAPAN ABADI DAN PERTARUNGAN TERAKHIR YANG MEMBELAH LANGIT
40 BAB 40 KEBANGKITAN RAJA NAGA GELAP DAN CAHAYA YANG MENEMBUS LANGIT
41 BAB 41 DEWA KEGELAPAN ABADI DAN CAHAYA YANG MENYENTUH LANGIT KETUJUH
42 BAB 42 PENGUASA RUANG DAN WAKTU SERTA CAHAYA YANG TAK TERKALUNG
43 BAB 43 ASAL MULA SEGALA KEGELAPAN DAN CAHAYA YANG MENJADI SATU DENGAN ALAM SEMES
44 BAB 44 WARISAN CAHAYA DAN KETURUNAN LIN MO
45 BAB 45 CAHAYA DI UJUNG DUNIA DAN GERBANG ANTARA DUA ALAM
46 BAB 46 CAHAYA YANG TAK PERNAH HILANG DAN JANJI YANG DIUCAPKAN DI ANTARA BINTANG
47 BAB 47 CAHAYA DI DASAR HATI DAN JANJI YANG TAK PERNAH DILUPAKAN
48 BAB 48 CAHAYA YANG MENEMBUS WAKTU DAN JANJI YANG TAK PERNAH DIINGKARI
49 BAB 49 CAHAYA TANPA NAMA DAN JANJI YANG DIUCAPKAN KEPADA ALAM SEMESTA
50 BAB 50 CAHAYA YANG MENJADI SATU DAN LEGENDA YANG TAK AKAN PERNAH PUDAR
51 BAB 51 SISA JIWA NAGA DAN JANJI YANG DIULANG KEMBALI
52 BAB 52 JALAN PULANG DAN BADAI YANG AKAN DATANG
53 BAB 53 HUTAN KABUT ABADI DAN WARISAN LELUHUR YANG TERLUPAKAN
54 BAB 54 GUNUNG PUNCAK PERAK DAN UJIAN PETIR SURGAWI
55 BAB 55 KERAJAAN BAYANGAN DAN SAUDARA YANG TERPERANGKAP DALAM GELAP
56 Bab 56 — Cahaya di Ujung Badai
57 Bab 57 — Tebasan yang Membelah Awan
58 Bab 58 — Puncak Kabut Abadi
59 Bab 59 — Pertarungan di Lembah Badai
60 Bab 60 — Pedang yang Menembus Langit
61 Bab 61 — Samudra Qi yang Mengguntur
62 Bab 62 — Langit yang Terbelah Petir
63 Bab 63 — Lembah yang Menangis
64 Bab 64 — Menara Langit yang Menjulang
65 Bab 65 — Samudra Bintang di Ujung Dunia
66 Bab 66 — Pintu Gerbang Dunia Lama
67 Bab 67 — Dunia di Balik Gerbang
68 Bab 68 — Dewan Tetua Cahaya Abadi
69 Bab 69 — Bayangan di Balik Cahaya
70 Bab 70 — Hutan Kabut dan Kebenaran Tersembunyi
71 Bab 71 — Melawan Takdir Langit
72 Bab 72 — Cahaya di Ujung Jalan Berdarah
73 Bab 73 — Jejak Kuno di Hutan Terlarang
74 Bab 74 — Menara yang Menembus Kabut Langit
75 Bab 75 — Di Puncak Menara yang Runtuh
76 Bab 76: Badai Roh, Hati yang Tak Tergoyahkan
77 Bab 77: Bayangan Kelima, Senyap yang Membunuh
78 Bab 78: Hutan Lupa, Kenangan yang Tak Boleh Hilang
79 Bab 79: Gerbang Kegelapan, Langkah Terakhir
80 Bab 80: Fajar Baru, Jalan yang Tak Berakhir
81 Bab 81: Lautan Qi, Badai di Padang Pasir Berduri
82 Bab 82: Jalan Batu Ungu, Bayangan di Lembah Terlarang
83 Bab 83: Cobaan Pertama — Cermin Hati
84 Bab 84: Cobaan Kedua — Labirin Jiwa
85 Bab 85: Cermin Kebenaran, Asal-Usul yang Terungkap
Episodes

Updated 85 Episodes

1
bab 1 DI BUANG DAN TAK MATI
2
BAB 2 KEKUATAN YANG BARU TERBANGUN
3
BAB 3 KEMBALI DENGAN WIBAWAA
4
BAB 4 GUNCANGAN DI GERBANG SEKTE
5
BAB 5 KEBENARAN DAN TANTANGAN
6
BAB 6 KEMENANGAN YANG TAK TERDUGA
7
BAB 7 WARISAN YANG LEBIH BESAR
8
BAB 8 PERTEMUAN DI PERBATASAN
9
BAB 9 KEKUATAN YANG TAK TERKALAHKAN
10
BAB 10 JEJAK MENUJU LEMBAH TERLARANG
11
BAB 11 DARAH YANG MENDIDIH DAN LAUTAN QI YANG TERBANGUN
12
BAB 12 MATA YANG MULAI TERBUKA
13
BAB 13 GUBUK TUA DAN WARISAN LELUHUR
14
BAB 14 KETENANGAN YANG MEMPERKUAT
15
BAB 15 KEBERANGKATAN YANG DIPUTUSKAN
16
BAB 16 KOTA QINGYUAN DAN PINTU GERBANG YANG RAMAI
17
BAB 17 HARI-HARI YANG TENANG DAN PERUBAHAN HALUS
18
BAB 18 TANDA-TANDA YANG MULAI MUNCUL
19
BAB 19 PINTU MASUK SEKTE DAN UJIAN YANG TAK TERDUGA
20
BAB 20 KEHIDUPAN BARU DAN PANDANGAN YANG BERBEDA
21
BAB 21 DARAH YANG TERBANGKIT DAN KEKUATAN YANG TERSEMBUNYI
22
BAB 22 JEJAK LAMA DAN MUSUH YANG MENGINTAI
23
BAB 23 JALAN MENJAUH DAN PERTEMUAN TAK TERDUGA
24
BAB 24 KEKUATAN YANG MENGGETARKAN HATI DAN PERSAUDARAAN YANG BARU
25
BAB 25 PERJALANAN BERSAMA DAN UJIAN DI HUTAN KELABUAN
26
BAB 26 PERBATASAN DAN DARAH YANG TAK DAPAT DISANGKAL
27
BAB 27 MENEMBUS GERBANG DAN BADAI DI IBU KOTA
28
BAB 28 PERSIAPAN DAN RAHASIA ISTANA TERLARANG
29
BAB 29 PERTEMUAN DI DALAM GELAP DAN KEBANGKITAN KAISAR
30
BAB 30 CAHAYA DI ATAS ISTANA DAN TAKHTA YANG KEMBALI SUCI
31
BAB 31 GEJALA ANEH DARI SELATAN DAN PERINTAH BARU
32
BAB 32 LEMBAH AWAN GELAP DAN BADAI YANG MENGGUNCANG BUMI
33
BAB 33 BAYANGAN DARI MASA LALU DAN PERANG YANG TAK DIUNDANG
34
BAB 34 PERSIAPAN PERANG BESAR DAN LATIHAN DI PUNCAK AWAN
35
BAB 35 KEDATANGAN PASUKAN HITAM DAN PERTEMPURAN DI GERBANG IBU KOTA
36
BAB 36 PENYATUAN KEKUATAN DAN PERTANDA BAHAYA YANG SEMAKIN DEKAT
37
BAB 37 BADAI TERAKHIR DAN CAHAYA YANG TAK KALAH
38
BAB 38 CAHAYA ABADI DAN LEGENDA YANG TAK PERNAH PUDAR
39
BAB 39 KEMBALINYA KEGELAPAN ABADI DAN PERTARUNGAN TERAKHIR YANG MEMBELAH LANGIT
40
BAB 40 KEBANGKITAN RAJA NAGA GELAP DAN CAHAYA YANG MENEMBUS LANGIT
41
BAB 41 DEWA KEGELAPAN ABADI DAN CAHAYA YANG MENYENTUH LANGIT KETUJUH
42
BAB 42 PENGUASA RUANG DAN WAKTU SERTA CAHAYA YANG TAK TERKALUNG
43
BAB 43 ASAL MULA SEGALA KEGELAPAN DAN CAHAYA YANG MENJADI SATU DENGAN ALAM SEMES
44
BAB 44 WARISAN CAHAYA DAN KETURUNAN LIN MO
45
BAB 45 CAHAYA DI UJUNG DUNIA DAN GERBANG ANTARA DUA ALAM
46
BAB 46 CAHAYA YANG TAK PERNAH HILANG DAN JANJI YANG DIUCAPKAN DI ANTARA BINTANG
47
BAB 47 CAHAYA DI DASAR HATI DAN JANJI YANG TAK PERNAH DILUPAKAN
48
BAB 48 CAHAYA YANG MENEMBUS WAKTU DAN JANJI YANG TAK PERNAH DIINGKARI
49
BAB 49 CAHAYA TANPA NAMA DAN JANJI YANG DIUCAPKAN KEPADA ALAM SEMESTA
50
BAB 50 CAHAYA YANG MENJADI SATU DAN LEGENDA YANG TAK AKAN PERNAH PUDAR
51
BAB 51 SISA JIWA NAGA DAN JANJI YANG DIULANG KEMBALI
52
BAB 52 JALAN PULANG DAN BADAI YANG AKAN DATANG
53
BAB 53 HUTAN KABUT ABADI DAN WARISAN LELUHUR YANG TERLUPAKAN
54
BAB 54 GUNUNG PUNCAK PERAK DAN UJIAN PETIR SURGAWI
55
BAB 55 KERAJAAN BAYANGAN DAN SAUDARA YANG TERPERANGKAP DALAM GELAP
56
Bab 56 — Cahaya di Ujung Badai
57
Bab 57 — Tebasan yang Membelah Awan
58
Bab 58 — Puncak Kabut Abadi
59
Bab 59 — Pertarungan di Lembah Badai
60
Bab 60 — Pedang yang Menembus Langit
61
Bab 61 — Samudra Qi yang Mengguntur
62
Bab 62 — Langit yang Terbelah Petir
63
Bab 63 — Lembah yang Menangis
64
Bab 64 — Menara Langit yang Menjulang
65
Bab 65 — Samudra Bintang di Ujung Dunia
66
Bab 66 — Pintu Gerbang Dunia Lama
67
Bab 67 — Dunia di Balik Gerbang
68
Bab 68 — Dewan Tetua Cahaya Abadi
69
Bab 69 — Bayangan di Balik Cahaya
70
Bab 70 — Hutan Kabut dan Kebenaran Tersembunyi
71
Bab 71 — Melawan Takdir Langit
72
Bab 72 — Cahaya di Ujung Jalan Berdarah
73
Bab 73 — Jejak Kuno di Hutan Terlarang
74
Bab 74 — Menara yang Menembus Kabut Langit
75
Bab 75 — Di Puncak Menara yang Runtuh
76
Bab 76: Badai Roh, Hati yang Tak Tergoyahkan
77
Bab 77: Bayangan Kelima, Senyap yang Membunuh
78
Bab 78: Hutan Lupa, Kenangan yang Tak Boleh Hilang
79
Bab 79: Gerbang Kegelapan, Langkah Terakhir
80
Bab 80: Fajar Baru, Jalan yang Tak Berakhir
81
Bab 81: Lautan Qi, Badai di Padang Pasir Berduri
82
Bab 82: Jalan Batu Ungu, Bayangan di Lembah Terlarang
83
Bab 83: Cobaan Pertama — Cermin Hati
84
Bab 84: Cobaan Kedua — Labirin Jiwa
85
Bab 85: Cermin Kebenaran, Asal-Usul yang Terungkap

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!