Dia Datang Setiap Pagi
Aku kerja di kafe kecil. Hidupku datar-datar aja. Sampai ada satu cowok dateng tiap pagi, duduk di pojok, pesan kopi yang sama. Orangnya pendiam, tapi matanya sering nyangkut ke aku.
Awalnya aku kira kebetulan. Ternyata dia datang terus. Hampir tiap hari.
Namanya Ardan.
Dia jarang ngomong, tapi kalau ngomong suaranya rendah dan tenang.
Suatu hari aku lihat tangannya memar, aku tanya, “Kamu kenapa?” Dia cuma jawab, “Nggak apa, cuma capek.”
Dari situ kami mulai ngobrol sedikit-sedikit. Bukan obrolan besar, cuma hal kecil kayak cuaca, kopi, musik. Tapi justru itu bikin nyaman. Perlahan aku sadar, kalo dia nggak datang, kafe berasa kosong.
Sampai suatu sore, kafe mau tutup, hujan deras. Dia masih di dalam.
Dia nunggu aku selesai bersih-bersih. Terus dia bilang, “Aku nggak tahu ya… tapi kamu bikin hari aku lebih ringan.”
Jantungku langsung aneh.
Dia lanjut lagi, “Awalnya aku cuma cari tempat tenang. Tapi sekarang… aku datang karena kamu.”
Aku diem sebentar. Deg-degan banget.
Terus aku bilang, “Aku juga suka kalau kamu datang.”
Dia ketawa kecil. Hujan di luar pelan-pelan reda.
Dan aku sadar: tanpa drama, tanpa ribut, tanpa paksaan… kami saling suka.
Stabil, pelan, tapi nyata.
Sejak hari hujan itu, sesuatu berubah di antara mereka—bukan perubahan besar yang terlihat jelas, tetapi perubahan kecil yang terasa di hati. Raina menyadarinya setiap kali pintu kafe terbuka dan Ardan masuk dengan langkah pelan, seolah dunia di luar baru bisa ia tinggalkan setelah melihat wajah Raina.
Ardan tidak lagi selalu datang pagi. Kadang muncul siang dengan alasan sederhana, “Tadi lewat.”
Kadang sore, dengan suara yang lebih pelan, “Kepikiran kamu capek kerja.”
Raina tidak pernah bertanya lebih jauh, tetapi kehadirannya selalu membuat suasana kafe terasa lebih hangat.
Obrolan mereka berkembang perlahan. Raina mulai hafal kebiasaan Ardan—cara dia merapikan lengan hoodie, tatapannya yang selalu mencari Raina terlebih dahulu sebelum melihat menu, dan senyum kecil yang muncul saat Raina mulai berbicara lebih dulu.
Suatu malam, kafe hampir tutup ketika Ardan datang dengan napas sedikit terburu.
“Aku kira kamu udah pulang,” katanya.
Raina mengangkat alis. “Memangnya kenapa kalau aku pulang?”
Ardan terdiam sejenak. Tatapannya turun ke meja, lalu kembali naik ke mata Raina.
“Berarti… aku nggak lihat kamu hari ini.”
Jawaban itu sederhana. Tapi bagi Raina, itu cukup untuk membuat dadanya menghangat.
Malam berikutnya, Ardan datang membawa roti kecil dalam plastik. “Buat kamu,” katanya singkat.
“Aku sudah makan,” jawab Raina.
Ardan hanya tersenyum tipis. “Kalau begitu, anggap saja ini cadangan.”
Raina tahu itu hanya cara lain untuk menunjukkan perhatian.
Hari-hari berikut berjalan tenang. Mereka tidak pernah terburu-buru mendefinisikan hubungan mereka, tetapi jarak di antara mereka semakin pendek. Kata-kata jadi lebih lembut, tatapan lebih lama, dan kehadiran satu sama lain menjadi hal yang ditunggu setiap hari.
Hingga suatu malam ketika hujan turun lagi dan listrik kafe tiba-tiba mati selama beberapa detik.
Gelap. Sunyi.
Raina merasakan degup jantungnya sendiri.
“Raina?” suara Ardan terdengar tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Aku di sini,” jawab Raina cepat.
Ardan melangkah mendekat. Dalam gelap, ia meraba pelan hingga akhirnya menemukan tangan Raina. Jari mereka bersentuhan, lalu Ardan menggenggamnya perlahan—seolah menunggu apakah Raina keberatan.
Raina tidak menarik tangannya.
Lampu menyala kembali. Ardan tetap tidak melepaskan genggaman itu.
Raina menatapnya, dan Ardan membalas tatapannya dengan mata yang lebih tenang dari biasanya.
“Kalau kamu takut,” ucapnya pelan, “kamu boleh bilang. Aku ada.”
Raina tersenyum kecil. “Aku nggak takut.”
Ardan merendahkan suaranya. “Tapi kamu nggak lepasin tanganku.”
Raina terdiam, tetapi tidak bergerak.
Ardan menghela napas ringan, seolah lega.
“Kalau begitu…” ia menatap Raina lebih dalam.
“Boleh, ya? Aku lebih dekat sama kamu.”
Tidak ada jawaban panjang. Hanya anggukan kecil dari Raina—cukup untuk membuat Ardan tahu bahwa perasaannya tidak lagi bergerak sendirian.
Hubungan mereka tidak meledak, tidak terburu-buru.
Ia tumbuh seperti hujan yang reda perlahan—tenang, stabil, tapi meninggalkan bekas hangat di hati.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 12 Episodes
Comments