Setelah malam itu, ada sesuatu yang berubah dalam cara Ardan memandang Raina. Bukan perubahan besar yang mencolok, tetapi perubahan kecil yang terasa setiap kali tatapan mereka bertemu. Raina merasakannya saat Ardan datang ke kafe keesokan harinya—tanpa banyak kata, tapi dengan kehadiran yang terasa lebih dekat dibanding sebelumnya.
Ardan duduk di kursi biasa, namun kali ini ia tidak langsung menunduk menatap ponsel seperti biasanya. Ia menatap Raina lebih lama, seolah sedang memastikan bahwa momen semalam memang nyata, bukan hanya ilusi yang ditinggalkan gelap dan hujan.
“Kopi biasa?” tanya Raina sambil menatapnya.
Ardan tersenyum kecil, senyum yang jarang ia tunjukkan. “Kalau yang buat kamu… iya.”
Jawaban itu sederhana, tapi suara lembutnya membuat Raina menunduk cepat, menahan senyum yang muncul tanpa ia sadari. Tangannya sedikit gemetar saat menuangkan kopi, dan Ardan memperhatikannya diam-diam—cara Raina bekerja, cara rambutnya jatuh ke pipi, cara bibirnya menekan senyum ketika ia merasa diperhatikan.
Saat Raina menyerahkan gelas itu, jari mereka bersentuhan sekilas. Tidak disengaja, tetapi cukup untuk membuat keduanya saling menahan napas. Raina cepat-cepat menarik tangannya, tapi Ardan menangkap ekspresi gugup itu—dan ia menyukainya.
Sore itu, kafe lebih sepi dari biasanya. Hujan masih menggantung di udara, meninggalkan aroma tanah basah yang masuk lewat pintu kaca. Ardan tidak langsung pulang. Ia duduk, memutar gelas kopi pelan, seolah sedang berjuang mencari keberanian untuk sesuatu.
“Raina,” panggilnya akhirnya.
Raina menghentikan gerakan mengelap meja. “Ada apa?”
Ardan menatapnya lama, seperti sedang menyusun kata-kata yang tepat agar tidak salah langkah.
“Kemarin… waktu listrik padam,” ia berhenti sebentar, napasnya terdengar pelan. “Kamu nggak keberatan waktu aku pegang tangan kamu, kan?”
Pipi Raina memanas. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab. “Kalau aku keberatan, aku pasti narik tangan aku.”
Ardan menunduk sedikit, senyum tipis muncul di sudut bibirnya—senyum lega yang hanya muncul ketika ia benar-benar tersentuh. Ia berdiri dan berjalan mendekat. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk Raina merasakan kehadirannya.
“Aku nggak mau salah paham,” ucap Ardan pelan. “Tapi boleh kan… aku terus dekat sama kamu? Kayak kemarin.”
Raina mengangkat wajahnya. Tatapan Ardan bukan tatapan pria yang terburu-buru atau asal bicara. Itu tatapan seseorang yang sudah memikirkan hal ini sejak semalam, mungkin jauh sebelumnya.
“Ardan,” bisik Raina, suaranya hampir tenggelam oleh mesin kopi. “Kamu sudah dekat.”
Ardan terdiam. Untuk pertama kalinya, ia terlihat kehabisan kata-kata. Ia menatap Raina seolah mendengar sesuatu yang ia tunggu lama.
“Kalau begitu…” suaranya merendah, hampir bergetar. “Aku bakal tetap di sini. Selama kamu nggak nyuruh aku pergi.”
Raina menahan senyum yang sulit ditahan. “Aku nggak akan nyuruh kamu pergi.”
Ardan mengangguk pelan, seolah menerima izin yang lebih besar daripada yang ia harapkan. Ia kembali duduk, tapi kali ini posisinya bukan lagi pelanggan yang menjaga jarak—ia duduk sedikit lebih dekat dengan meja bar, dekat dengan tempat Raina bekerja.
Malam itu, sebelum pulang, Ardan berhenti di pintu kafe. Ia menoleh dan memandang Raina sejenak, tatapan hangat yang bertahan lebih lama.
“Raina.”
“Hmm?”
“Terima kasih sudah nggak lepasin tangan aku,” ucapnya lembut.
Raina hanya bisa membalas dengan senyum kecil, tapi hatinya menghangat lebih cepat daripada kopi yang baru diseduh.
Ardan pergi, tapi rasa hadirnya tetap tersisa—di udara, di meja tempat ia duduk, dan terutama… di hati Raina.
Hubungan mereka tidak perlu pengakuan besar. Karena terkadang, sesuatu yang tumbuh perlahan justru paling sulit dilepaskan.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 12 Episodes
Comments