Sejak malam listrik padam itu, ritme hidup Raina berubah perlahan. Ardan bukan lagi sekadar pelanggan yang datang dan pergi; ia menjadi bagian dari hari-hari Raina—diam, tetapi selalu ada. Setiap kali pintu kafe berbunyi dan Ardan masuk, ada sesuatu yang menenangkan dalam cara ia melangkah, seakan Raina adalah tujuan sebenarnya.
Pagi-pagi, ketika Raina baru saja menyalakan mesin kopi, ia sering menemukan satu gelas minuman panas di meja bar. Tidak pernah ditinggalkan tanpa tanda, selalu ada catatan kecil yang ditulis cepat: “Biar kamu nggak kedinginan. —A”. Raina selalu tersenyum kecil sebelum membacanya, lalu menyimpannya di laci, seolah menambah satu alasan lagi untuk menghadapi hari-hari panjang.
Suatu sore, Raina sedang menghitung stok gula ketika pintu kafe terbuka. Ardan masuk tanpa hoodie kesayangannya—kaos hitam yang membingkai wajah tampannya lebih jelas. “Capek?” tanyanya sambil menghampiri, suara tenang yang seolah bisa masuk sampai ke sela-sela pikiran Raina. Sebelum Raina menjawab, Ardan sudah mengambil apron cadangan dan memakainya tanpa ragu.
“Kamu mau ngapain?” tanya Raina, setengah terkejut.
“Bantu sedikit,” jawab Ardan sambil merapikan gelas. “Kamu kelihatan kayak mau tumbang.”
Raina mendecak pelan, tapi pipinya memanas. “Nggak perlu.”
“Terlambat,” balas Ardan ringan. “Lagipula aku senang lihat kamu kerja.”
Kalimat itu membuat Raina hilang fokus selama beberapa detik. Ia melanjutkan pekerjaannya, tapi sudut matanya selalu menangkap Ardan yang bergerak lincah—meski jelas-jelas tidak terlalu paham cara kerja barista. Seolah kehadirannya saja sudah cukup membuat ruangan terasa lebih hangat.
Malam semakin sepi. Hujan turun pelan, menciptakan pola suara ritmis di atap kafe. Raina menyapu lantai, dan Ardan duduk sambil memegang segelas coklat panas yang barusan dibuatkan Raina. “Ardan,” panggil Raina akhirnya. “Kamu selalu ke sini. Kamu nggak… bosan?”
Ardan meletakkan gelasnya pelan, menatap Raina lama sebelum menjawab. “Kalau aku bilang… aku selalu nunggu lihat kamu setiap hari, Raina percaya?”
Raina menggigit bibirnya. “Kenapa harus nunggu aku?”
Ardan berdiri, melangkah mendekat. Tidak terburu-buru, tidak menekan, hanya memberi ruang supaya Raina bisa mundur. Namun Raina tetap di tempat, tidak bergerak sama sekali. Ketika Ardan berdiri tepat di depannya, dunia terasa menyempit menjadi hanya dua orang.
“Karena aku baru ngerasa tenang kalau lihat kamu,” ucap Ardan pelan.
Nama Raina jatuh begitu lembut dari bibirnya hingga membuat jantungnya berdetak lebih keras. Ardan menundukkan wajahnya sedikit, cukup dekat sehingga Raina bisa melihat gurat lembut di matanya, sesuatu yang selama ini tidak ia tunjukkan ke orang lain.
“Aku nggak minta jawaban sekarang,” bisik Ardan. “Tapi… boleh kan aku tetap datang? Tetap dekat kamu kayak gini?”
Raina menatapnya lama. Ada sesuatu dalam cara Ardan menunggu—bukan dengan cemas, tapi dengan kesabaran yang tulus. Perlahan, Raina mengangguk.
“Boleh.”
Satu kata pendek, tapi cukup membuat senyum Ardan muncul—senyum hangat yang tidak pernah ia berikan pada siapapun selain Raina. Di luar, hujan turun lebih deras. Namun di kafe kecil itu, keheningan tiba-tiba terasa nyaman.
Setelah malam itu, tidak ada lagi hari yang benar-benar sepi. Ardan datang dengan berbagai alasan sederhana, sedangkan Raina belajar menerima sesuatu yang ia pikir tidak akan datang dalam waktu dekat: seseorang yang hadir tanpa membuatnya merasa harus berubah menjadi orang lain.
Dan dari situ, hubungan mereka mulai tumbuh. Perlahan. Stabil. Tanpa perlu pengakuan, dan tanpa perlu terburu-buru.
***Download NovelToon to enjoy a better reading experience!***
Updated 12 Episodes
Comments