Hari yang Tidak Seharusnya Aku Khawatir

Keesokan harinya, Raina datang lebih pagi dari biasanya. Entah sejak kapan, langkahnya menuju kafe selalu membawa satu harapan yang sama: Ardan akan datang, duduk di kursi itu, dan memberikan senyum kecil yang selalu ia simpan rapat-rapat.

Pagi itu udara masih lembap bekas hujan semalam. Raina membuka pintu kafe dan menyalakan lampu satu per satu. Ia berusaha bekerja seperti biasa, tapi pikirannya tetap kembali pada lebam di wajah Ardan. Lebam yang tidak ia dapatkan tanpa alasan.

Dan kata-kata Ardan terngiang di kepalanya.

“Masalah keluarga. Nggak apa-apa.”

Itu kalimat yang terdengar ringan tapi menyimpan banyak luka. Kalimat yang biasanya hanya diucapkan seseorang yang sudah terbiasa menyembunyikan rasa sakit dari siapapun.

Pintu kafe berbunyi ketika jarum jam mendekati pukul delapan. Raina refleks menoleh—dan dadanya menghangat.

Ardan masuk dengan langkah pelan, hoodie gelap yang sedikit basah di bagian ujung, dan rambut yang jatuh berantakan ke dahinya. Lebam di bawah matanya masih ada, tapi lebih samar.

“Pagi,” ucap Ardan, suaranya rendah tapi lembut.

Raina membalasnya dengan senyum hangat. “Pagi. Kamu kehujanan?”

“Sedikit,” jawab Ardan sambil menyapu rambutnya ke belakang. “Tapi… aku nyampe.”

Ada sesuatu pada cara Ardan mengucapkan itu, seolah ia sedang bilang dia datang untuk Raina, bukan untuk kopi atau ketenangan kafe.

Raina menyiapkan kopi tanpa menunggu Ardan memesan. Ardan menatapnya, alisnya naik sedikit—kagum.

“Kamu hafal,” katanya pelan.

“Aku hafal sejak lama,” jawab Raina.

Tatapan Ardan melembut, dan sejenak, Raina merasa dunia di luar berhenti berputar.

Hari itu berjalan lebih lambat, namun hangat. Ardan duduk di kursinya, tetapi kali ini ia tidak memainkan ponsel, tidak berpura-pura sibuk. Ia hanya duduk—dan sering memperhatikan Raina.

Ketika kafe sepi, Raina akhirnya memberanikan diri bertanya.

“Ardan,” ucapnya lirih. “Lebam di wajah kamu… serius nggak?”

Ardan terdiam. Ia memutar gelas kopi dengan jarinya, menghindari tatapan Raina beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.

“Nggak apa-apa,” katanya, lagi-lagi dengan nada yang sama. “Aku cuma salah waktu. Pulang telat, dan… ya, begitulah.”

Raina tidak puas. “Ardan, itu bukan jawaban.”

Ardan mengangkat wajahnya. Tatapannya teduh, tetapi ada bayangan lelah di baliknya.

“Kamu khawatir?” tanyanya.

Raina menghela napas. “Jelas.”

Ardan menunduk, lalu tertawa sangat pelan, bukan karena lucu—melainkan karena heran. “Aku belum pernah ada yang khawatir sejauh itu.”

Kalimat itu menusuk.

Raina mendekat. “Ardan… kalau ada sesuatu, kamu boleh cerita sama aku. Nggak harus sekarang.”

Ardan menatapnya lama, serius.

“Aku takut kalau aku cerita… kamu pergi.”

“Aku nggak akan pergi,” jawab Raina tanpa ragu.

Dan untuk pertama kalinya, Ardan mempercayainya.

Sore itu hujan turun tanpa peringatan. Kafe mulai sepi, dan suara hujan kecil menenangkan ruangan. Raina berdiri di dekat jendela, memperhatikan jalan yang basah.

Ardan berdiri di belakangnya.

“Kamu nggak bawa payung ya?” tanyanya.

Raina menggeleng. “Lupa.”

Ardan menatap hujan sebentar, lalu kembali menatap Raina.

“Aku antar,” ucapnya singkat.

Raina menoleh cepat. “Apa? Nggak usah, nanti kamu—”

“Tapi aku mau,” potong Ardan. “Kamu pikir aku tinggalin kamu hujan-hujanan?”

Nada suaranya berbeda. Bukan marah, tapi seperti seseorang yang secara alami ingin melindungi.

Raina terdiam. Ada sesuatu di hati yang menegang, tapi hangat.

Ardan mengambil payung dari rak di dekat pintu. “Ayo. Hujannya belum deras.”

Ketika mereka keluar, Ardan membuka payung dan berdiri sedikit lebih dekat dari yang seharusnya. Tubuhnya tinggi dan hangat, dan hujan yang jatuh di sekitar mereka terasa jauh.

“Raina,” panggil Ardan pelan.

“Ya?”

“Aku sungguh senang kamu nggak marah karena aku nggak datang kemarin.”

Raina tersenyum kecil. “Aku cuma… takut kamu kenapa-napa.”

Ardan menunduk sedikit, wajahnya hampir sejajar dengan Raina.

“Kalau kamu bilang gitu,” ucapnya lirih, “aku jadi makin susah buat pergi dari kamu.”

Raina menahan napas. Kata-katanya tidak keras, tapi terasa seperti sesuatu yang tidak mudah ia ucapkan kepada siapapun.

Mereka berjalan dalam diam, tetapi itu bukan diam yang canggung. Itu diam yang nyaman—diam yang hanya ada ketika dua orang mulai memiliki makna satu sama lain.

Dan malam itu, saat mereka tiba di depan rumah Raina, Ardan berhenti.

“Raina,” ucapnya dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. “Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Untuk bikin aku merasa… ada tempat buat aku.”

Raina terdiam.

Ardan menatapnya dengan mata yang lebih lembut dari sebelumnya.

“Besok,” bisiknya, “boleh aku datang lagi?”

Raina tersenyum, hangat. “Datang aja. Kursi kamu nggak ada yang ambil.”

Ardan tersenyum—untuk pertama kalinya benar-benar tersenyum, bukan tipis, bukan ragu.

“Selamat malam, Raina.”

“Selamat malam, Ardan.”

Ardan berjalan mundur beberapa langkah, masih menatapnya, sebelum akhirnya berbalik.

Dan saat punggung Ardan menjauh, Raina tahu satu hal:

Hubungan ini tidak terburu-buru. Tidak meledak.

Tapi tumbuh… dan tumbuh… dan tumbuh.

Tanpa ia sadari, Ardan mulai tinggal di hatinya.

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play