Satu Hari Tanpa Ardan

Keesokan harinya, kafe membuka seperti biasa. Raina menata meja, menggantung apron, menyalakan lampu gantung satu per satu. Semua terasa biasa… kecuali satu hal.

Ardan tidak datang.

Bukan hal besar seharusnya. Tidak ada janji, tidak ada aturan yang mengharuskan Ardan muncul setiap hari. Tapi Raina mulai terbiasa dengan suara langkahnya, tatapan singkatnya sebelum memesan, senyum kecil yang muncul hanya untuknya.

Dan hari itu, semua itu tidak ada.

Satu jam berlalu. Dua jam. Kursi favorit Ardan tetap kosong.

Raina mencoba fokus pada pekerjaan, tapi setiap kali pintu kafe berbunyi, hatinya sempat melompat—hanya untuk turun lagi ketika yang datang bukan Ardan.

Menjelang sore, ketika langit mendung dan hujan mulai turun pelan, Raina menyerah. Ia menatap kursi itu lagi. Entah sejak kapan ia merindukan seseorang yang tidak pernah mengucapkan kalimat cinta apa pun.

“Dia cuma nggak datang sehari,” gumamnya pada diri sendiri.

Tapi dadanya terasa… aneh.

Ketika kafe hampir tutup, suara pintu terbuka. Raina segera menoleh—hanya untuk melihat seorang pelanggan baru, bukan Ardan. Ia mencoba tersenyum ramah, tapi rasanya dipaksakan.

Dan malam itu, Raina pulang dengan perasaan yang tidak ia mengerti.

Keesokan paginya, Raina datang lebih awal dari biasanya. Entah kenapa, kafe terasa lebih kosong, lebih sepi. Ia membersihkan meja, menata bunga, berharap—walaupun ia tidak mau mengakuinya—bahwa pintu akan terbuka dan Ardan masuk seperti biasa.

Tetapi pintu tetap diam.

Hingga hampir pukul sepuluh, saat Raina sedang menata gelas, pintu akhirnya berbunyi. Raina menoleh cepat, refleks.

Ardan berdiri di sana.

Berbeda dari biasanya. Rambutnya sedikit berantakan, hoodie-nya basah oleh hujan, dan di bawah mata kirinya ada sedikit lebam yang belum sepenuhnya hilang.

“Maaf,” ucap Ardan pelan.

Raina membeku. “Kamu… kenapa nggak datang kemarin?”

Ardan tidak langsung menjawab. Ia mendekat ke meja bar, suaranya rendah, seperti takut didengar dinding.

“Aku harus urus sesuatu,” katanya singkat. “Dan aku nggak bisa datang.”

Raina menatap lebam tipis di wajahnya. “Ardan… itu kenapa?”

Ardan terdiam. Tatapannya turun ke gelas kosong di depannya.

“Masalah keluarga,” jawabnya pelan. “Nggak apa-apa.”

Jawaban itu terdengar seperti seseorang yang sudah terbiasa menutupi rasa sakit.

Raina mendekat sedikit. “Kenapa kamu nggak bilang?”

Ardan tertawa kecil, tanpa bahagia. “Aku takut kamu bakal mikir aku—bermasalah.”

“Aku nggak peduli kamu punya masalah atau nggak,” ucap Raina cepat. “Aku cuma… khawatir.”

Ardan mengangkat wajahnya. Tatapannya berubah—ada rasa heran yang tulus, seolah ia tidak percaya Raina berkata begitu.

“Raina…” suaranya melembut. “Kamu beneran khawatir?”

“Tentu,” jawab Raina, pelan tapi mantap. “Kamu pikir aku nggak sadar kalau kamu nggak ada?”

Ardan terdiam beberapa detik, lalu menarik napas panjang seolah kalimat itu menyentuh bagian hatinya yang paling terlindungi.

“Aku senang,” ucapnya jujur. “Senang kamu merhatiin aku.”

Ardan menunduk sebentar, lalu menatap Raina lagi. Tatapannya dalam, seperti ingin mengingat wajah Raina baik-baik.

“Boleh nggak…” suaranya rendah dan hati-hati,

“kalau hari ini… aku tetap di sini? Dekat kamu.”

Raina tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengambil gelas, menyiapkan kopi Ardan, dan meletakkannya di depannya.

“Di sini,” ucap Raina lembut. “Tempat kamu.”

Ardan tersenyum kecil—senyum yang tidak muncul kemarin.

Dan untuk pertama kalinya, Raina melihat sesuatu di mata Ardan:

bukan hanya rasa suka, tapi rasa butuh.

Hari itu, Ardan tidak hanya duduk di kafe. Ia menemani Raina bekerja sepanjang sore, membantu hal-hal kecil tanpa diminta—menurunkan kotak gula, memindahkan kursi, menutup tirai ketika hujan mulai deras.

Dan saat Raina berdiri di pintu kafe untuk mengunci—Ardan berhenti di sampingnya.

“Raina,” panggilnya pelan.

“Ya?”

Ardan menatap langit hujan, lalu kembali menatap wajah Raina.

“Kalau aku bilang aku… senang banget lihat kamu hari ini… kamu marah nggak?”

Raina tersenyum kecil, hatinya memanas.

“Nggak lah, Ardan.”

Ardan menunduk sedikit, suaranya menurun seperti rahasia.

“Soalnya… aku kangen.”

Raina terpaku.

Ardan tidak menunggu jawaban. Ia berjalan keluar ke bawah hujan kecil, menunduk sedikit, dan melambaikan tangan sebelum pergi.

Raina berdiri lama di ambang pintu, menatap punggung Ardan menjauh.

Untuk pertama kalinya, ia sadar…

Ardan bukan lagi sekadar pelanggan.

Dan mungkin… Raina bukan lagi sekadar barista baginya.

Download

Like this story? Download the app to keep your reading history.
Download

Bonus

New users downloading the APP can read 10 episodes for free

Receive
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play