Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.
Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.
Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.
Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?
"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Ditemani deru sirine yang memecah keheningan malam, garis polisi berwarna kuning membentang kaku di depan sebuah vila megah di kawasan perbukitan yang sunyi. Lampu kilat kamera tim forensik menyala bergantian, memantulkan bayangan samar di atas genangan air hujan yang belum sepenuhnya mengering.
Di dalam ruang tengah vila, udara terasa kaku dan dingin. Bau amis darah yang menyengat bercampur dengan aroma parfum mahal yang samar. Di atas lantai marmer yang mengilap, seorang pria muda terbaring kaku dengan telentang. Matanya setengah terbuka, menyisakan tatapan kosong yang membeku.
Roy telah tewas.
Petugas medis bergegas menyiapkan kantong mayat, sementara para penyidik kepolisian menyisir setiap sudut ruangan dengan ketelitian tinggi. Suasana begitu tegang, setiap bisikan dan langkah kaki berbunyi menggema di dinding-dinding beton vila yang terasa seperti penjara raksasa.
"Penyebab kematian dugaannya adalah benturan keras di kepala, ditambah pendarahan hebat," ujar salah satu tim forensik kepada inspektur polisi yang memimpin olah TKP. "Waktu kematian diperkirakan antara dua hingga tiga jam yang lalu."
Di luar area steril, beberapa mobil mewah terparkir membisu. Namun, tak jauh dari pintu utama, seorang wanita muda berdiri mematung di bawah rintik hujan. Tubuhnya gemetar hebat, dadanya naik turun mengendalikan napas yang tersengal.
Itu adalah Andira.
Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak tak percaya menatap tandu yang mulai diusung keluar oleh petugas medis. Jemarinya yang dingin saling bertaut dengan begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih.
Dunia di sekitarnya seolah berputar tanpa arah, suara sirine, derap langkah polisi, dan gemericik air hujan menyatu menjadi sebuah mimpi buruk yang tidak bisa ia bangun darinya.
Bagaimana semua ini bisa terjadi?
...-Dua Jam Sebelumnya...-...
Sore itu, hujan deras mengguyur kota. Andira baru saja menyelesaikan pekerjaan kantornya saat ponsel di atas mejanya berdering nyaring. Layar ponsel menunjukkan nama adiknya, Elena.
"Andira! Tolong aku..." Suara Elena di seberang telepon terdengar panik dan terburu-buru, diselingi suara latar belakang yang riuh oleh deru angin.
Andira yang seketika cemas langsung menggenggam ponselnya erat-erat. "Elena? Ada apa? Kamu di mana?"
"Barang penting milikku... dokumen dan perhiasan peninggalan Ibu yang mau kupakai besok tertinggal di Vila Puncak!" panggil Elena dengan nada merajuk sekaligus panik. "Aku sekarang sedang ada acara mendadak dengan klien, tidak bisa putar balik. Bisakah kamu tolong ambilkan? Kuncinya ada di bawah pot bunga depan pintu utama. Tolonglah, Ra... cuma kamu yang bisa bantu aku."
Andira menghela napas panjang. Sifat Elena yang ceroboh bukanlah hal baru baginya. Meskipun hubungan mereka sebagai saudara tiri sering kali diwarnai kecemburuan dingin dari sisi Elena, Andira tidak pernah bisa menolak jika itu berkaitan dengan barang peninggalan almarhum ibu mereka.
"Baiklah," ucap Andira lembut. "Kirimkan alamat tepatnya. Aku akan ke sana sekarang."
Perjalanan menuju vila memakan waktu hampir satu setengah jam akibat jalanan licin dan kabut tebal. Ketika mobil Andira akhirnya membelah kegelapan dan berhenti di pelataran vila yang sepi, perasaannya mendadak tidak tenang. Vila itu gelap gulita, hanya ada satu lampu teras yang menyala redup.
Sesuai petunjuk Elena, Andira menemukan kunci di bawah pot bunga. Dengan jemari yang sedikit gemetar karena dingin, ia memutar kunci pintu utama.
Klek.
Pintu terbuka pelan, menyeret hembusan angin dingin dari luar.
"Elena?" panggil Andira pelan saat melangkah masuk. Ruangan itu sangat sunyi. "Elena, kamu di dalam?"
Tidak ada jawaban. Yang ada hanya kegelapan dan keheningan yang mencekam. Andira berjalan perlahan sambil meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu. Saat jemarinya menemukan saklar dan menekan tombolnya, ruangan seketika terang benderang.
Dan saat itulah, pandangan Andira jatuh pada tubuh pria yang terkapar di dekat sofa utama.
Andira menjerit tertahan, tangannya membekap mulutnya sendiri. Langkah kakinya mundur secara refleks hingga punggungnya menabrak pintu. Di depannya, darah menyebar lambat di atas karpet bulu berwarna krem. Pria itu, yang kemudian ia ketahui bernama Roy, sudah tidak bergerak sama sekali.
Dalam rasa syok yang luar biasa, Andira mencoba mendekat dengan tubuh gemetar. "Pak? Pak, Anda tidak apa-apa ?!"
Ia berlutut di samping tubuh pria itu, mencoba memeriksa denyut nadinya di leher. Kulit pria itu terasa dingin. Rasa takut yang murni dan melumpuhkan menyergap seluruh kesadaran Andira. Jarinya bergetar hebat saat ia menyadari pria di depannya sudah tak bernyawa.
Sebelum Andira sempat mengambil ponselnya untuk memanggil bantuan, suara derung mobil meraung keras di luar vila, disusul sorot lampu terang yang menembus kaca jendela. Dalam hitungan detik, beberapa orang menerobos masuk, termasuk polisi dan... Elena.
"Astaga! Roy!"
Jeritan histeris Elena memecah keheningan malam di vila itu. Elena berlari masuk, memegang dadanya dengan wajah yang dibasahi air mata.
Namun, alih-alih mendekati jasad Roy, pandangan Elena justru tertuju pada Andira yang masih berlutut di lantai dengan tangan ternoda bercak darah tipis akibat menyentuh leher korban.
"Andira... apa yang kamu lakukan?!" teriak Elena dengan nada penuh kecaman dan kepanikan yang teramat sengaja. "Kamu... kamu tega melakukan ini pada Roy?!"
Andira terperanjat, matanya menatap Elena dengan bingung dan panik. "Elena! Bukan... bukan aku! Aku baru saja sampai di sini! Kamu yang menyuruhku mengambil barang..."
"Aku menyuruhmu mengambil barang?!" potong Elena histeris, berbalik menatap dua petugas polisi yang berdiri di belakangnya. "Pak Polisi, tolong! Dia bohong! Aku datang ke sini karena merasa khawatir setelah Roy menelponku dan bilang bahwa Kakak tiriku ini terus mengejar dan mengancamnya!"
"Apa?!" Kepala Andira terasa berputar. Kata-kata Elena seperti sembilu yang menusuk dadanya tanpa ampun. "Elena, bicara apa kamu?! Kamu yang menelponku sejam yang lalu!"
"Bohong!" Elena menangis sesenggukan, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, namun matanya mengintip dingin di balik sela jemarinya. "Ponselku hilang sejak tadi siang! Aku tidak pernah menelponmu! Kamu pasti mencuri ponselku atau memanfaatkannya!"
Seorang penyidik utama, Inspektur Hendra, melangkah maju dengan wajah kaku. "Harap tenang semuanya. Kami akan memeriksa lokasi kejadian."
Penyidikan kilat langsung dilakukan. Inspektur Hendra berlutut di dekat jasad Roy, menggunakan sarung tangan latex untuk menyisir area di sekitar kepala korban. Matanya yang tajam menangkap kilatan sesuatu di bawah lipatan karpet, persis beberapa sentimeter dari jemari Roy yang membeku.
Dengan penjepit khusus, ia mengangkat objek tersebut.
Sebuah syal rajut berwarna biru tua dengan pudar di ujungnya, serta sebuah cincin perak berukir inisial nama - A.R.
"Syal dan cincin ini..." Inspektur Hendra berdiri, menatap tajam ke arah Andira. "Siapa pemilik barang ini?"
Jantung Andira serasa berhenti berdetak saat melihat benda yang dipegang polisi. Syal itu... adalah syal yang sering ia kenakan, dan cincin itu adalah peninggalan ibunya yang selalu berada di tas kerja Andira.
Bagaimana bisa barang-barang itu ada di sana? Di bawah jasad Roy?
"Itu... itu milikku," bisik Andira dengan suara yang nyaris tak terdengar. Air mata ketakutan akhirnya menetes membasahi pipinya. "Tapi aku tidak tahu kenapa barang itu ada di sana! Tas kerja saya... tas saya ada di mobil!"
"Pak Inspektur," sela Elena dengan nada memprovokasi yang amat halus, berpura-pura menahan kesedihan yang mendalam. "Andira memang sangat terobsesi dengan Roy sejak lama... Tapi Roy selalu menolaknya karena Roy sudah punya kekasih. Andira pernah mengancam akan membuat Roy menyesal jika terus menolaknya..."
"Elena, cukup! Kenapa kamu memfitnahku seperti ini?!" Andira berteriak, suaranya pecah oleh keputusasaan. Ia mencoba bangkit dan mendekati Elena, tetapi dua orang petugas polisi dengan cepat menahan kedua lengannya.
"Lepaskan saya! Saya tidak membunuhnya! Saya bahkan tidak mengenalnya!" jerit Andira, meronta-ronta di dalam cengkeraman petugas yang kokoh.
"Nona Andira," ujar Inspektur Hendra dingin, sama sekali tidak terpengaruh oleh jeritan ketakutan wanita muda itu. "Bukti fisik berada di lokasi, sidik jari Anda ada di area tubuh korban, dan kesaksian saksi menyudutkan posisi Anda. Anda adalah orang terakhir yang berada di TKP bersama korban."
Di luar vila, hujan semakin deras menghantam atap kendaraan. Sorot lampu mobil polisi memantulkan warna merah dan biru yang menari-nari menakutkan di wajah Andira yang pucat.
Dunia seolah runtuh menimpa pundaknya. Dalam hitungan jam, hidupnya yang tenang dan sederhana hancur berkeping-keping.
Rasa takut menyelimuti seluruh rongga dadanya hingga ia sulit bernapas. Setiap kali ia menatap mata Elena, ia tidak lagi menemukan sosok adik tiri yang ia kenal, melainkan sesosok monster yang tersenyum tipis di balik selubung air mata palsunya.
"Kenapa Elena melakukan ini? Kenapa harus aku ?" pertanyaan itu berulang-ulang bergema di dalam kepala Andira tanpa jawaban.
"Bawa tersangka ke markas untuk pemeriksaan lebih lanjut," perintah Inspektur Hendra tegas.
"Tidak! Pak, tolong dengarkan saya dulu! Cek riwayat panggilan di ponsel saya!" jerit Andira saat petugas mulai memiting lengannya dan memutar tubuhnya menuju pintu keluar. "Elena yang menelpon saya! Tolong periksa ponselnya!"
"Ponsel saya hilang, Pak..." potong Elena dengan suara lirih yang dibuat-buat, sambil melangkah mundur dan bersandar pada dinding seolah hendak pingsan. "Saya sama sekali tidak tahu apa-apa..."
Andira diseret keluar menembus dinginnya malam. Langkah kakinya terseret gontai di atas tanah basah. Setiap tetes air hujan yang mengenai wajahnya terasa seperti jarum-jarum es yang menembus kulit.
Sebelum dipaksa masuk ke dalam bagian belakang mobil polisi, Andira sempat menoleh ke belakang.
Di bawah lampu teras vila, Elena berdiri memandangnya. Air mata palsu di wajah adik tirinya itu sudah menyapu bersih.
Di tengah kegelapan malam dan kebingungan yang melanda, Andira bisa melihat dengan sangat jelas, sebuah ukiran senyum puas dan dingin terpatri di bibir Elena. Sebuah senyuman kemenangan dari seorang dalang yang berhasil mengurung mangsanya dalam perangkap maut.
Brak.
Pintu mobil polisi ditutup rapat dari luar, mengunci Andira dalam kegelapan yang menyiksa. Sirine kembali meraung nyaring, membawa Andira pergi meninggalkan vila tempat tragedi itu terjadi.
Di dalam mobil yang melaju membelah malam, Andira terduduk lemas. Tangannya yang gemetar dipasangi borgol besi yang dingin. Ia memeluk lututnya sendiri, menangis tanpa suara di tengah keputusasaan yang begitu pekat.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Ia tidak tahu bagaimana caranya membuktikan kesucian hatinya saat seluruh dunia telah diatur untuk percaya bahwa dialah sang pembunuh.
Dan yang tidak Andira ketahui malam itu... di tempat lain, seorang pria berhati dingin sedang mendengarkan kabar kematian adiknya dengan dendam membara yang siap membakar siapa saja yang dianggap bertanggung jawab.
...----------------...
To Be Continue ....
**Satu jebakan menghancurkan hidupnya. Satu pernikahan mengunci takdirnya**.
**Ketika seluruh dunia menyudutkan Andira sebagai penjahat, Alvan datang bukan sebagai penyelamat, melainkan sebagai algojo. Namun, apa yang terjadi jika pria yang paling membencinya justru menjadi satu-satunya pelindung saat nyawanya terancam**?
**Selamat datang di kisah penderitaan, dendam, dan ikatan tersembunyi yang menguras emosi**.
**Jangan Lupa** **Like, Komentar untuk mendukung Andira menemukan keadilan**!
**Ikuti perjuangan Andira membuktikan kesucian hatinya di hadapan Alvan, suami dingin yang mengurungnya atas nama dendam! Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan penasaran di setiap babnya**! **Dukungan kalian adalah semangat terbesarku untuk terus lanjut ber-episode**!