Indonesia
NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Gemuruh suara hujan deras di keheningan malam seolah menulikan dunia. Namun, di tengah jalanan yang basah dan sepi itu,

 samar-samar terdengar suara tangisan pilu seorang pemuda.

"Kenapa? Kenapa, Tuhan? Kenapa hidup gue selalu enggak pernah ada keadilan dan cinta buat gue?" ratap pemuda itu di tengah guyuran hujan. Air matanya luruh bersama rintik air yang membasahi bumi. "Orang yang gue cinta malah menikah sama saudari gue sendiri! Kenapa?!"

Tap. Tap. Tap.

Langkah kaki terdengar mendekat. Seorang pemuda yang memegang payung hitam kini berdiri tegak tepat di samping pemuda yang sedang hancur itu.

"Untuk apa lo menangis seperti ini? Mereka juga enggak akan dengar, apalagi peduli sama lo," ucap pemuda berpayung itu, suaranya terdengar datar namun dingin.

Pemuda yang menangis itu perlahan mengangkat kepalanya yang basah kuyup. "Siapa lo?"

"Gue orang yang punya nasib sama kayak lo. Dikhianati pacar dan enggak dianggap ada oleh keluarga sendiri," jawabnya tenang. Dia mengulurkan tangan bebasnya. "Kenalin, gue Elvian."

"Gue... Revangga," sahut pemuda yang terduduk itu dengan suara serak.

"Mau ikut gue?" ajak Elvian.

"Kemana?"

"Ke tempat yang seharusnya lo tempati." Walau tidak sepenuhnya mengerti maksud ucapan Elvian, Revangga tetap mengangguk. Dia menerima uluran tangan itu dan bangkit berdiri.

Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil. Elvian langsung menginjak pedal gas, menerobos lebatnya hujan malam itu.

Sekitar tiga puluh menit perjalanan, mobil mereka berhenti di depan sebuah mansion yang sangat megah.

"Ayo masuk. Enggak usah sungkan," ujar Elvian sambil membukakan pintu.

Dengan langkah gugup, Revangga melangkah masuk ke dalam bangunan mewah tersebut. Tempat ini terasa jauh lebih luas dan megah daripada tempat tinggalnya saat dia berada di luar negeri dulu.

"Lo tunggu di sini sebentar. Gue mau ambil handuk dulu," kata Elvian yang langsung diangguki oleh Revangga.

Saat Revangga sedang berdiri canggung, seorang pemuda lain keluar dari arah dapur. Pemuda itu menatap Revangga dari atas ke bawah dengan pandangan menilai.

"Bertambah satu orang lagi," gumam pemuda itu. Dia kemudian berjalan santai dan duduk di sofa, tepat di samping Revangga yang hanya bisa menunduk dalam-dalam.

Tak lama, Elvian kembali membawa selembar kain tebal. "Nih, handuk dan pakaian ganti buat lo. Mandi sana, pakai air hangat biar lo enggak demam."

"Hem, makasih." Revangga menerima pakaian itu dan segera berjalan ke arah kamar mandi yang ditunjuk oleh Elvian.

Sepeninggal Revangga, pemuda yang duduk di sofa tadi langsung bertanya, "Siapa dia, El?"

"Namanya Revangga. Gue enggak sengaja ketemu dia lagi menangis di pinggir jalan pas hujan deras tadi," jawab Elvian sambil mengembuskan napas pendek.

"Sepertinya dia juga sama kayak kita," sahut Brian, pemuda itu, sambil bersandar."Gue belum tahu pasti masalah dia apa," balas Elvian singkat.

Beberapa saat kemudian, Revangga keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah kering dan tubuh yang lebih hangat.

"Makasih buat bajunya."Elvian mengangguk santai. "Oh iya, ini Brian, sahabat gue."

"Gue Brian. Lo?" tanya Brian, memperkenalkan diri secara kasual.

"Gue Revangga."Elvian duduk di seberang Revangga dan menatapnya lurus. "Lo ada masalah apa, sampai menangis di jalanan dan hujan-hujanan kayak tadi?

"Revangga menghela napas berat, dadanya kembali terasa sesak. "Pacar gue... dia bertunangan sama kakak perempuan gue sendiri. Tanpa sepengetahuan gue"

Flashback

Hari itu, suasana di dalam mansion keluarga Revangga tampak begitu ramai dan dipenuhi dekorasi mewah. Orang-orang berkerumun, menyaksikan sebuah acara pengikat janji.

"Ayo, Sayang, pasang cincinnya di jari Herlin," ucap seorang wanita paruh baya dengan senyum merekah—dia adalah ibu dari pemuda yang berjas rapi itu.

Pemuda bernama Reza itu tersenyum, lalu perlahan memasangkan cincin pertunangan ke jari manis seorang wanita cantik bernama Herlin.

Herlin menerima sematan cincin itu dengan wajah merona dan senyum malu-malu.

"Kamu juga, Herlin, pasang cincinnya ke Reza," sahut ibu Herlin menimpali.Herlin pun melakukan hal yang sama, menyematkan lingkaran emas itu di jari Reza.

Seketika, suara tepuk tangan riuh menggema di seluruh ruangan, menambah kesan bahagia dan hangat di pesta pertunangan tersebut.

Brak!

Suara koper yang terjatuh keras di depan pintu masuk mansion seketika memotong keriuhan itu. Seluruh tamu undangan, termasuk pasangan yang baru saja bertunangan, mendadak terdiam dan menoleh ke arah sumber suara.

Deg.

Jantung mereka seolah berhenti berdetak saat melihat Revangga berdiri di sana. Pemuda itu menatap lurus ke arah panggung mini dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Ibu Revangga yang menyadari kehadiran putranya segera berjalan menghampiri dengan wajah panik. "Nak... kapan kamu pulang dari Jerman?"

Bukannya menjawab, Revangga justru bertanya dengan suara bergetar, "Apa... apa maksud semua ini, Ma?"

"Ini... ini, Sayang..." Ibu Revangga mendadak gagap, tidak mampu merangkai kata.

"Tega ya kalian semua sama aku! Tega kalian mengadakan pertunangan di saat aku baru saja pulang!" Revangga berjalan cepat, mendekati Reza dan Herlin yang berdiri mematung.

"Kak, kenapa Kakak tega melakukan ini sama aku? Aku ini adik kandung Kakak!" Revangga menatap Herlin dengan pandangan hancur, lalu beralih pada pemuda di samping kakaknya.

"Dan kamu, Za... kenapa kamu tega tunangan sama Kakak aku? Kita sudah tiga tahun pacaran! Kenapa kamu tega?!"Revangga mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

Menatap satu per satu anggota keluarganya dengan tatapan terluka yang amat dalam.

"Ma, kenapa Mama enggak bilang sama aku kalau Kak Herlin dan Reza mau tunangan? Jawab aku, Ma! JAWAB!" teriak Revangga histeris.

"Jangan berteriak di depan orang tua, Revan!" tegur sang kakek dengan suara menggelegar dari sudut ruangan.

Air mata Revangga luruh semakin deras. "Kalian semua tega... Apa salah aku sama kalian? Kenapa kalian jahat banget sama aku?!"

"Revan, kita pulang dulu, ya? Nanti kita bicarakan semuanya baik-baik di rumah," bujuk sang papa dengan nada melembut, mencoba menenangkan.

Reza mencoba melangkah maju untuk mendekati Revangga. "Revan, tunggu. Dengar penjelasan aku dulu—

"Namun, Revangga langsung mundur teratur. Dia menggeleng kuat-kuat, lalu berbalik arah dan berlari sekencang mungkin keluar dari mansion itu.

Dia meninggalkan kopernya begitu saja. Revangga terus berlari tanpa arah di bawah langit malam yang mulai menumpahkan badai, hingga akhirnya dia terduduk lemas di tengah jalan.

"Kalian jahat! Semuanya jahat! Aku benci kalian! AKU BENCI KALIAN!" Jeritan pilu itu menyatu dengan suara petir yang menggelegar.

Flashback End

"Ternyata lo emang sama kayak kita. Dikhianati sama pacar dan keluarga sendiri," ucap Brian memecah keheningan setelah mendengar cerita Revangga.

"Kalian... juga mengalami hal yang sama?" tanya Revangga pelan.

"Hm. Bahkan mungkin kisah kami jauh lebih dramatis daripada lo," sahut Elvian tenang.

"Mau dengar cerita kami?" tawar Elvian lagi.

"Nanti sajalah, gue lagi malas cerita," potong Brian cepat yang langsung mendapat dengusan pelan dari Revangga. Atmosfer tegang di antara mereka sedikit mencair.

Elvian bangkit berdiri lalu menyodorkan sepiring makanan ke depan Revangga. "Nih, lo makan dulu. Gue tahu lo belum makan dari siang, kan?"

"Iya, gue belum makan," aku Revangga, baru menyadari perutnya memang terasa perih. "Makasih banyak ya, udah mau tolong gue."

"Santai aja," balas Elvian santai. Dia kemudian melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

"Gue cabut dulu, mau keluar.""Kemana?" tanya Revangga ingin tahu.

"Ke arena balap motor."Mendengar kata balapan, mata Revangga sedikit berbinar. "Gue... boleh ikut?"

"Ayolah!" seru Elvian bersemangat. "Ayo kita pergi.

"Brian yang sudah berdiri lebih dulu di dekat pintu menoleh. "El, si Revan beneran mau ikut?"

"Terserah," jawab Brian acuh, lalu berjalan keluar mansion lebih dulu.

Elvian mengambil sebuah jaket tebal dari lemari dekat ruang tamu dan melemparkannya ke arah Revangga.

"Nih, pakai jaketnya biar enggak masuk angin."

"Makasih."

Revangga segera memakai jaket itu dan berjalan mengekor di belakang Elvian.

Malam itu, Revangga pergi membonceng motor Elvian, meninggalkan seluruh rasa sakit hatinya di belakang demi lembaran cerita yang baru.

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!