Indonesia
NovelToon NovelToon
The Moon Curse

The Moon Curse

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Kutukan
Popularitas:337
Nilai: 5
Nama Author: stella bluebell

wanita miskin yg biasa-biasa saja tiba tiba jadi putri bangsawan?
violenne lavienna arabelle wanita biasa berusia 29 tahun,yg bekerja di kota Nanterre,Paris.
Dia adalah wanita yg tidak mendapatkan peran keluarga,dan tidak tahu apa itu 'pulang' dia selalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya yaitu memiliki keluarga yg harmonis.

usahanya sedikit lagi akan membuahkan hasil tapi...takdir berkata lain.dia tiba tiba saja mati,bukan tertabrak,bukan tertembak,bukan juga tertusuk,lalu apa?

semuanya terjadi begitu cepat,tanpa ada yg menyadari,ia sendiri juga tidak tahu apa yg sedang terjadi pada dirinya,lalu apakah hidupnya akan berakhir begitu saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon stella bluebell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 01 - Kehidupan Baru

Hidupku harusnya berjalan seperti biasa hari itu. Sebagai pegawai sipil yang bekerja di Kota Nanterre, Paris, keseharianku dipenuhi tumpukan dokumen, rapat membosankan, dan perjalanan pulang yang melelahkan. Tidak ada sesuatu yang istimewa dalam hidupku. Aku hanyalah wanita biasa berusia dua puluh sembilan tahun, bernama Viollene Lavienna Arabelle—atau yang biasanya dipanggil Vio.

 Namun semuanya berubah hanya dalam sekejap. Aku bahkan tidak sempat memahami apa yang terjadi ketika tubuhku tiba-tiba kehilangan kesadaran. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada suara tabrakan. Semuanya berlangsung terlalu cepat.

Gelap.

Lalu... hening.

 Awalnya kupikir semua itu hanyalah mimpi aneh akibat terlalu lelah bekerja. Namun, ketika perlahan membuka mata, yang kulihat bukanlah langit-langit apartemen kecilku di Paris. Cahaya putih memenuhi ruangan luas yang terasa asing. Udara hangat berembus lembut menyentuh kulitku, sementara lantai marmer berkilau membentang sejauh mata memandang. Tepat di hadapanku berdiri dua perempuan cantik dengan aura yang sangat berbeda.

 Perempuan pertama memiliki rambut cokelat panjang bergelombang dan mata keemasan hangat yang memancarkan keceriaan. Senyumnya terlihat ramah, meski sedikit canggung. Sementara perempuan di sampingnya memiliki rambut pirang berkilau seperti cahaya matahari dengan mata biru pucat yang terasa tenang, namun dingin. Perempuan berambut cokelat itu melambaikan tangan pelan. "Ha-hai...?" Aku langsung bangkit panik. "Kalian siapa? Kenapa aku ada di sini? Dan ini tempat apa?!" tanyaku cepat.

 Perempuan berambut cokelat itu tersenyum gugup sebelum menjawab, "Kita berada di tempat suci, dan kami adalah cahaya terang... atau yang biasa disebut dewi di duniamu." Aku menatap mereka tidak percaya.

Dewi?

Jangan bercanda. (vio tidak percaya akan keberadaan dewi.)

"Oh, ya! Namaku Aurelith Moonveil!" ujarnya ceria. Perempuan pirang di sampingnya menundukkan kepala sebelum berbicara dengan suara pelan, "A-aku Silverine Caelith... tapi kau bisa memanggilku Veri."

 "Aku Vio," jawabku singkat. "Dan kenapa aku bisa ada di sini?" Kedua dewi itu saling berpandangan sesaat. Veri tampak gelisah, sedangkan Aurel hanya tersenyum kaku. Tak lama kemudian, akhirnya Veri membuka suara. "Maaf... kamu mati karena aku..." Aku terdiam.

"...Apa?"

Veri ikut terkejut "Eh?"

Aku langsung menatap mereka dengan mata membelalak. "APAA!?" (baru sadar dia.)

 "Maafin Veri, ya! Dia nggak sengaja kok!" sahut Aurel buru-buru sambil melambaikan tangan panik. "Nggak sengaja sampai bikin orang mati juga?!" protesku. Veri langsung menunduk merasa bersalah. Aku mengusap wajah frustrasi sebelum menghela napas panjang. "Oke... sekarang jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."

 Aurel dan Veri kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata saat aku pulang kerja, mereka sedang bermain-main di langit-langit Bumi. Namun salah satu kekuatan milik Veri tidak sengaja mengenai tepat ke arahku. Dan begitulah... aku mati karena ulah dua dewi yang sedang bermain-main.

Setelah mendengar penjelasan itu, aku hanya bisa diam cukup lama. "Jadi... apa yang akan terjadi padaku sekarang?" tanyaku akhirnya. "Sebagai permintaan maaf, kami bisa mengabulkan keinginanmu!" jawab Aurel cepat. Jika aku sudah mati, permintaan fisik sangat tidak dibutuhkan... batinku bingung. Aku mengernyit. "Bukankah tugas dewi itu menjaga dunia?"

 "Tentu!" jawab Aurel bangga. "Namun penjaga Bumi adalah dewa Atherion, aku menjaga dunia bernama Moonvalle, sedangkan Veri menjaga dunia Caelith." Aku menundukkan kepala sejenak sebelum menatap Veri. "Kalau begitu... bisakah aku terlahir kembali di duniamu, Veri?"

"Hah? Kenapa harus di duniaku?" Veri langsung panik. Aku menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil menatapnya datar. "Karena kamulah yang membunuhku, kan?" Veri langsung terdiam. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah. "Itu... memang benar. Tapi apa hanya itu permintaanmu?" tanyanya hati-hati. Senyum tipis menghiasi wajahku. "Tentu saja tidak."

 Veri dan Aurel saling berpandangan. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya aku memutuskan untuk bereinkarnasi di dunia milik Veri. Sebagai bentuk tanggung jawab atas kesalahannya, Veri memberiku lima permintaan yang dapat kugunakan untuk menjalani kehidupan baruku. "Kenapa lima? Bukankah biasanya cuma tiga?" tanyaku penasaran. "Tiga permintaan itu untuk dewi biasa," jawab Veri dengan bangga. "Sedangkan aku berbeda." Aku menatapnya datar. "Percaya diri sekali."

 Aku menghela napas pelan sebelum mulai menyebutkan satu per satu keinginanku. "Pertama, aku ingin langsung menguasai seluruh bahasa yang ada di dunia itu. Kedua, aku ingin memiliki kekuatan yang cukup agar bisa melindungi diriku sendiri. Ketiga, aku ingin memiliki pengetahuan dasar mengenai dunia tempat aku akan dilahirkan. Keempat, aku ingin seluruh ingatan dari kehidupan lamaku tetap utuh."

 Aku berhenti sejenak, lalu menatap kedua dewi di hadapanku. "Dan yang terakhir..." Aku menarik napas pelan. "Aku ingin kita berteman." Veri tampak sedikit terkejut, sementara Aurel membelalakkan matanya dengan ekspresi tidak percaya. Mungkin mereka mengira aku akan meminta harta, kekuasaan, atau kehidupan yang serba mudah. Namun, tidak satu pun dari semua itu yang kuinginkan.

 "Kamu benar-benar manusia yang aneh," gumam Veri pelan. Meski begitu, senyum kecil mulai terukir di wajahnya. "Baiklah. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu."

 Perlahan, cahaya hangat mulai menyelimuti seluruh tubuhku. "Kau akan terlahir kembali sebagai putri keluarga Celesthior, sebuah keluarga bangsawan bergelar Viscount yang menetap di Kota Celestara," ucap Veri dengan lembut. "Di sana, kau akan menjalani kehidupan yang jauh lebih bebas... dan jauh lebih bahagia."

 "Sampai jumpa, Vio!" seru Aurel sambil melambaikan kedua tangannya dengan riang. "Karena sekarang kita sudah berteman, jangan pernah melupakan kami, ya!" Aku tersenyum kecil. "Tentu saja."

 Sesaat kemudian, tubuhku perlahan memudar, ditelan cahaya putih. Untuk kedua kalinya... kesadaranku kembali menghilang. Dan tanpa kusadari, kehidupan baruku pun dimulai.

 Saat kembali membuka mata, pemandangan yang terbentang di hadapanku telah berubah sepenuhnya. Seperti yang dijanjikan Veri, aku benar-benar terlahir kembali di dunia yang berbeda. Kini aku menjadi bagian dari keluarga Celesthior, sebuah keluarga bangsawan bergelar Viscount yang menetap di Kota Celestara, salah satu kota paling makmur di Kerajaan Silveth.

 Ibuku bernama Velisarah Stralith Celesthior, seorang wanita berambut pirang terang dengan mata hazel yang selalu memancarkan kelembutan. Senyum hangatnya seakan mampu menenangkan siapa pun yang memandangnya. Sementara itu, ayahku adalah Nytherion Steris Celesthior, seorang Viscount yang disegani sekaligus pemilik tambang permata terbesar di wilayah kekuasaannya. Di balik wibawanya sebagai seorang bangsawan, beliau merupakan sosok ayah yang bijaksana dan sangat menyayangi keluarganya.

 Aku merupakan anak ketujuh keluarga Celesthior sekaligus anak ketiga yang lahir dari ibuku,yg merupakan istri kedua. Empat tahun sebelum aku dilahirkan, keluargaku kehilangan stella istri pertama ayahku saat wilayah perbatasan diserang kawanan monster. Peristiwa itu meninggalkan luka yang mendalam bagi seluruh keluarga, meski perlahan mereka kembali bangkit menjalani kehidupan.

 Dan ya... dunia ini benar-benar dipenuhi monster. Bukan hanya monster, dunia ini juga menjadi tempat hidup berbagai ras, para petualang, roh, naga, iblis, peri, hingga sihir yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Semua hal yang dahulu hanya bisa kubaca dalam novel fantasi kini benar-benar ada di hadapanku.

 Keluarga Celesthior sendiri dikenal luas sebagai keluarga bangsawan yang memiliki bakat sihir luar biasa. Hampir setiap anggota keluarga mewarisi kemampuan sihir dengan potensi yang tinggi.

 Anak pertama keluarga adalah Nicholas Astrerarius Celesthior, pewaris utama keluarga sekaligus pengguna sihir angin bintang empat. Dengan pembawaan tenang, kecerdasan, serta kemampuan memimpin yang luar biasa, tidak mengherankan jika ia telah dipersiapkan menjadi kepala keluarga berikutnya. Saat ini, ia juga telah bertunangan dengan putri kedua Baron Lumithor.

 Anak kedua adalah Astralia Vivianne Celesthior, kakak perempuan berambut merah muda pastel yang terlahir tanpa kemampuan sihir. Meski begitu, ia memiliki bakat luar biasa dalam dunia bisnis. Berkat kerja kerasnya, ia berhasil mendirikan toko perhiasan ternama di ibu kota dan namanya mulai dikenal di kalangan bangsawan.

 Anak ketiga adalah Noctavian Frostmare Celesthior, kakak laki-laki kandungku. Ia merupakan pengguna sihir air bintang empat sekaligus kesatria muda berbakat yang berhasil menjadi kanselir kerajaan pada usia yang sangat muda. Rambut putih kebiruannya menyerupai salju yang diterpa cahaya rembulan, sedangkan tatapan mata birunya selalu memancarkan aura dingin yang membuat banyak orang segan mendekatinya.

 Anak keempat adalah Aleric Stellaris Celesthior, pengguna sihir tanah bintang dua. Berbeda dengan saudara-saudaranya, Eric lebih menyukai pekerjaan di lapangan daripada menghadiri pesta kaum bangsawan. Kini ia membantu ayah mengelola tambang permata milik keluarga.

 Anak kelima adalah Valestrill Flamsryss Celesthior, pengguna sihir api bintang lima yang dikenal memiliki semangat membara. Ketika menginjak usia dua belas tahun, ia memilih mengikuti pelatihan kesatria dibanding melanjutkan pendidikan di akademi sihir. Baginya, menghunus pedang di garis depan jauh lebih menarik daripada menghabiskan waktu di ruang kelas.

 Anak keenam adalah Seraphine Astralune Celesthior, kakak perempuan yang lahir hanya berselang dua bulan dari Vale. Ia merupakan pengguna sihir cahaya yang tergolong langka, meski potensinya hanya mencapai bintang dua. Berbeda dengan kakaknya, Seraphine memilih menempuh pendidikan di akademi sihir dan bercita-cita menjadi seorang penyihir hebat.

 Kemudian... akulah anak ketujuh keluarga ini. Namaku kini adalah Celestia Lunastella Celesthior. Menurut para pelayan, ibuku sendirilah yang memilih nama itu. Beliau berharap kehadiranku dapat menjadi cahaya baru yang menerangi keluarga Celesthior setelah kehilangan yang mereka alami.

 Untungnya... harapan itu perlahan mulai menjadi kenyataan. Kehidupan baruku jauh lebih hangat dibanding kehidupanku di Bumi. Aku tidak lagi harus bekerja tanpa henti. Tidak ada lagi perjalanan pulang yang melelahkan. Tidak ada lagi hari-hari yang kujalani seorang diri. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh sebuah keluarga.

 Meski begitu, masih ada satu hal yang terus mengusik pikiranku.

 Sihir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!