Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?
Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.
Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Tubuh Lira
“Dani …”
Suara Lira menarikku kembali ke kenyataan, dia mundur perlahan, gerakan tangannya mengibas ketakutan, karena kami saling mengenali.
Matanya penuh ketakutan. “Kamu … kamu tidak seharusnya menemukan aku.”
Aku tidak menjawab, karena aku tidak bisa, sesuatu di dalam diriku sudah mengambil alih.
Rasa hangat menyebar dari dadaku ke seluruh tubuh kulit wajahku terasa berkilau, aku tahu ini tanda perburuan dimulai, seperti para penyihir yang mengikat ruh jahat, maka tubuh kami juga mengikat tanggung jawab yang otomatis menjadi ganas begitu melihat buruannya di hadapan, energi ruh para leluhur.
Di sekitarku, teman-teman terlihat biasa saja, tak ada yang benar-benar memperhatikan, terakhir kali syal itu jatuh, semua tertawa lalu sibuk dengan hal lainnya di ruang kelas ini. Sedang aku dan Lira, saling menatap dengan tajam, jarak kami hanya satu meja dan satu bangku kosong.
Teman-teman kami, Mereka tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka hanya melihat seorang gadis ketakutan … dan aku yang berdiri diam dengan ekspresi yang berubah, aku tersenyum padanya, menyeringai dan maju perlahan. Meski bingung, tapi mereka abai.
Lira berbalik, dia tidak ragu untuk berlari, larinya cepat, keturunan penyihir kecil itu ketakutan. Seperti domba yang tahu kelak akan dicabik-cabik berlari mencari perlindungan. Tak heran, karena kami dikenal sebagai pemburu.
Aku masih berdiri, belum juga mengejarnya meski melihat dia lari.
Aku hanya sedang menikmati, menghirup sisa aroma itu dengan puas, karena bau busuk ini tentu saja bagian dari langkah untuk kami akhirnya kelak bisa mati dengan tenang.
Taringku mulai muncul perlahan, ini bukan sesuatu yang kupelajari. Ini sesuatu yang angkhirnya bangun, aku tidak pernah repot menyembunyikannya, karena taring itu keluar hanya jika Dekekuoi terdeteksi, tidak mencolok tapi cukup tajam untuk merobek leher penyihir itu.
Aku melangkah, satu langkah lalu satu lagi, setiap langkah terasa ringan, seperti tubuhku tahu arah tanpa perlu berpikir.
Lira sudah keluar dari kelas, suara langkah kakinya menggema di lorong, tapi itu tidak penting.
Aku bisa merasakannya, kami para pemburu sudah terlatih sejak dini, untuk mengetahui pergerakan makhluk buruan kami, seperti benang tak terlihat yang menghubungkan kami, aku berhenti di ambang pintu menatap lorong kosong di depanku.
“Lari saja,” bisikku pelan. Karena aku tahu sesuatu yang dia juga tahu.
Dekekuoi mungkin bisa bersembunyi dari manusia, tapi tidak dari kami, tidak dari pemburu. Aku mengangkat tangan, menyentuh wajahku yang masih terasa hangat. Ini baru permulaan.
Perburuan pertama selalu yang paling manis dan di dalam diriku, suara lama itu kembali berbisik bukan dalam bahasa manusia, tapi dalam bahasa darah. Jalinan turun temurun ini membuat kami berhadapan sekarang.
Satu per satu, sampai tidak ada lagi yang tersisa.
Aku melangkah ke lorong, mengikuti jejak aroma yang semakin menjauh, dengan senyum yang semakin lebar.
Karena aku tahu, tidak peduli seberapa jauh dia lari, tidak peduli seberapa lama dia bersembunyi, aku akan menemukannya.
Seperti yang selalu dilakukan oleh ayah, ibu, kakek, nenek, hingga leluhur pertamaku yang selamat dan seperti yang akan terus kami lakukan, sampai garis Dekekuoi benar-benar hilang dari dunia ini.
Lira berlari menyusuri lorong kelas lalu tiba di bagian gedung belakang sekolah. Aku melesat dan sampai di belakangnya.
Buntu! Tentu saja Tuhan akan berada dipihak pemburu, karena Tuhan tak suka makhluk yang membunuh makhluk lemah lainnya, sedang kami, berburu para Dekekuoi.
“Lepaskan aku, aku akan pergi jauh dan tidak akan pernah kembali, aku mohon, kita ini teman kan, Dan?” Lira menggunakan apa yang dia bisa lakukan untuk menghentikanku.
“Lira, kau tahu, saat kita begitu dekat, maksudku dalam jarak tentunya, bukan dalam perasaan, aku mencium bau busuk itu, samar! Aku terus mencoba untuk mengabaikannya karena aku takut kalau kecurigaanku benar, aku takkan mungkin melepasmu.”
“Dani, kau tahu kan, kami hanya ingin hidup, sudah itu saja. Kami tidak pernah lagi berburu tumbal untuk diserap jiwanya, kami hanya hidup seperti manusia biasa, aku mohon Dani, lepaskan aku.
Aku punya cita-cita sepertimu, seperti yang lain. Kau tahu kan Dani, aku sangat suka melukis, aku bahkan melukis kita semua untuk mengenang, untuk ….”
“Kau curi energinya, ya kan?” Lira pikir aku bodoh, dia pikir aku tidak tahu kalau dari zaman ke zaman penumbalan yang dilakukan Dekekuio berubah-ubah metodenya tapi tetap satu tujuan, menghabisi tumbalnya untuk diserap, dilahap atau istilah lain, yang pasti, jiwa itu makanan lezat untuk tubuh busuk mereka.
“A-aku tidak pernah melakukan itu, aku ingin menjadi manusia biasa Dani.”
“Lalu bagaimana dengan Saras yang kritis awal tahun lalu dan akhirnya meninggal? orang tuanya bingung karena dia tak sakit, tapi selalu lemah, tak ada satu pun pertolongan medis yang mampu membantunya.
Ya! Keluargaku sudah menyelidiki keturunan kalian, Dekekuoi yang kami buru itu ada di wilayah kami. Tapi harus aku akui kalian hebat, karena dengan syal itu bahkan kami tak curiga, negara setropis ini dan kau memakan syal sepanjang tahun, kami tidak curiga, karena ya! Kau cantik, lemah dan licik!”
“Dani, aku bersumpah, bukan aku yang menghabisi Saras.”
“Ya aku percaya sumpahmu, karena kau memang belum memakan korbanmu, garis itu belum bercabang, garis di lehermu memang belum bercabang, artinya belum ada korban yang kau tumbalkan untuk melahap jiwanya, tapi bukan berarti kau takkan melakukannya kan?”
“Kau tahu soal itu, berarti kau percaya kalau aku tidak seperti mereka, aku ....”
“Kau belum menjadi seperti mereka Lira, tapi percayalah, semakin tubuhmu dewasa, maka hasrat itu akan muncul semakin liar.”
“Aku akan mati-matian menahannya Dani, a-aku ....”
Aku melesat ke arah Lira, merobek lehernya dengan taring kecilku yang sangat tajam, keluar darah putih dari leher itu, tentu saja, karena dia adalah penyihir lemah, seharusnya darah itu hitam.
Tapi aku tak menyesal telah merobek leher itu, karena aku tahu, dia sudah berbohong.
Aku menyereti tubuhnya dan meloncati pagar gedung belakang yang selalu terbengkalai tanpa penjagaan, setelah melewati pagar itu, aku melewati lorong sempit antar gedung sekolah dan perumahan, aku menelpon pamanku, karena kau tak bisa membawa tubuh Lira sendirian di keramaian.
Pamanku datang dengan cepat, dia membawa kantung jenazah dan menarik Lira setelahnya.
“Anak hebat, aku bangga padamu.”
Pamanku Jabat namanya, dia yang paling kuat, dia yang melatihku dulu untuk memburu keturunan Dekekuoi, dia juga yang paling selalu bisa diandalkan.
“Kau akan bawa dia kemana?” Dani bertanya.
“Kita akan membakarnya, seperti para penyihir yang lain.”
“Apa aku boleh ikut?” Dani bertanya.
“Tidak Nak, jangan. Belum saatnya, nanti kelak, saat kau siap dan sudah waktunya, kau yang akan membawa api untuk tubuh mereka, saat ini, biarkan kami yang melakukannya terlebih dahulu ya, nak.”