Hidup tenang Bayu sebagai karyawan sekaligus selebgram hancur seketika saat ia harus mengasuh enam keponakan perempuannya yang super aktif. Namun, kemunculan "Sistem Om Level Dewa" mengubah segalanya dengan menjanjikan kekayaan tak terbatas asalkan ia berhasil membuat para keponakannya bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Bayu melangkah dengan penuh percaya diri memimpin keenam keponakannya.
Mereka berjalan menuju restoran mewah bernama Le Gourmet yang terletak di tengah mall.
Restoran itu terlihat sangat elegan dengan lampu kristal besar menggantung di langit-langitnya.
Kania dan Bella sampai menganga melihat kemewahan tempat tersebut.
"Om Bayu, tempat ini terlihat sangat mahal sekali," bisik Sinta sambil menarik ujung baju Bayu.
"Apakah Om benar-benar yakin uangnya cukup untuk makan di sini?"
Bayu tersenyum santai dan mengusap kepala keponakan tertuanya itu.
"Tenang saja Sinta, Om punya uang yang sangat banyak hari ini."
"Kalian boleh memesan makanan apa saja sampai perut kalian meledak."
Kring.
Suara lonceng berbunyi pelan saat mereka mendorong pintu kaca restoran tersebut.
Seorang pelayan berpakaian rapi segera menyambut mereka dengan senyuman ramah.
"Selamat datang di Le Gourmet, untuk berapa orang Tuan?"
"Satu orang dewasa dan enam anak perempuan yang sedang sangat kelaparan," jawab Bayu dengan nada bercanda.
Pelayan itu segera mengantar mereka ke sebuah meja bundar besar di dekat jendela.
Keenam gadis kecil itu langsung duduk dengan wajah berbinar penuh semangat.
Bayu mengambil buku menu dan membagikannya kepada mereka semua.
Gluk.
Bayu menelan ludah saat melihat deretan angka di buku menu tersebut.
"Astaga, satu porsi steak daging wagyu harganya enam ratus ribu rupiah."
"Bahkan harga es teh manis di sini mencapai lima puluh ribu rupiah."
Bayu membatin dalam hati sambil mencoba mempertahankan senyuman di wajahnya.
Namun dia kembali mengingat saldo lima juta dari sistem dan langsung merasa tenang.
"Pesan saja semua yang kalian mau, Om yang akan traktir semuanya."
"Rara mau ayam goreng yang besar dan kentang goreng!" teriak Rara kegirangan.
"Cika mau spaghetti saus keju dan es krim cokelat Om," sahut Cika tidak mau kalah.
Luna dan Bella menunjuk gambar steak daging yang terlihat sangat menggiurkan.
"Kami mau daging panggang ini Om, kelihatannya enak sekali."
Sinta dan Kania hanya memesan nasi goreng seafood dan jus jeruk segar.
"Baiklah, tolong catat semua pesanan mereka dan berikan aku satu steak wagyu juga," ucap Bayu kepada pelayan.
"Tolong siapkan pesanan kami secepat mungkin ya Mas."
Pelayan itu mengangguk hormat dan segera bergegas menuju area dapur.
Di saat yang sama, pintu restoran kembali terbuka menampilkan dua sosok yang sangat Bayu kenal.
Vanya dan Kevin berjalan masuk sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Mata Vanya langsung tertuju pada meja Bayu yang berada di sudut restoran.
Wanita itu menarik lengan Kevin dan berbisik pelan ke telinga pria tersebut.
"Sayang, lihat itu si miskin Bayu benar-benar berani makan di sini."
"Dia pasti hanya pura-pura kaya di depan keponakannya untuk menjaga harga diri."
Kevin tersenyum meremehkan lalu mengajak Vanya duduk di meja yang tidak jauh dari Bayu.
"Kita lihat saja nanti saat tagihannya datang Sayang."
"Pria miskin itu pasti akan menangis memohon ampun sambil mencuci piring di dapur."
Mereka berdua sengaja berbicara dengan suara yang sedikit keras agar Bayu bisa mendengarnya.
Sinta yang mendengar sindiran itu kembali menatap Bayu dengan tatapan khawatir.
"Om, Tante jahat itu mengikuti kita ke sini."
Bayu menoleh sekilas ke arah meja Vanya lalu kembali menatap keponakannya.
"Abaikan saja mereka Sinta, anggap saja ada lalat yang sedang berdengung di sana."
"Hari ini adalah hari bahagia kita jadi jangan biarkan siapa pun merusaknya."
Tidak lama kemudian, pelayan datang membawa nampan besar berisi makanan pesanan mereka.
Aroma harum daging panggang dan bumbu rempah langsung memenuhi meja tersebut.
Wush.
Asap tipis mengepul dari piring steak wagyu yang baru saja dihidangkan.
Mata keenam anak perempuan itu langsung berbinar menatap makanan lezat di depan mereka.
"Wah kelihatannya enak sekali, selamat makan Om Bayu!" seru mereka serempak.
Nyam nyam nyam.
Suara kunyahan dan celoteh riang anak-anak itu membuat hati Bayu terasa sangat hangat.
"Pelan-pelan makannya Rara, nanti kamu bisa tersedak," ucap Bayu sambil mengelap mulut Rara dengan tisu.
"Dagingnya sangat empuk Om, aku belum pernah makan daging seenak ini," kata Luna dengan mulut penuh.
Bayu tersenyum lebar melihat keenam keponakannya makan dengan sangat lahap.
Dia menyadari bahwa kebahagiaan mereka ternyata bisa membuatnya merasa ikut bahagia.
"Ternyata menjadi seorang paman itu tidak terlalu buruk juga."
Setelah hampir satu jam, seluruh makanan di atas meja akhirnya habis tidak bersisa.
Rara bersandar di kursinya sambil mengelus perutnya yang kini terlihat buncit.
"Kenyang sekali, Rara mau tidur sekarang."
Bayu tertawa pelan lalu mengangkat tangannya memanggil pelayan.
"Mas, tolong bawakan tagihannya ke meja ini ya."
Pelayan itu datang membawa sebuah buku kulit hitam kecil dan meletakkannya di depan Bayu.
Bayu membuka buku itu dan melihat total tagihan yang tertera di sana.
"Total semuanya jadi empat juta dua ratus ribu rupiah Tuan," ucap pelayan itu sopan.
Bayu mengangguk pelan lalu mengeluarkan ponselnya untuk bersiap melakukan pembayaran.
Tiba-tiba suara langkah kaki sepatu hak tinggi terdengar mendekat ke mejanya.
Tuk tuk tuk.
Vanya berdiri di samping meja Bayu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Kevin berdiri tepat di belakang wanita itu dengan senyuman mengejek yang sangat kentara.
"Empat juta dua ratus ribu? Kau pasti sedang jantungan sekarang kan Bayu?" ejek Vanya.
"Mau pinjam uang padaku? Tapi sayangnya aku tidak mau meminjamkan sepeser pun padamu."
Kevin tertawa keras mendengar ucapan kekasihnya itu.
"Jangan kejam begitu Sayang, mungkin dia akan menggadaikan ginjalnya setelah ini."
"Atau dia akan menyuruh enam anak gembel ini untuk mengemis di depan mall."
Mendengar hinaan itu, kesabaran Bayu akhirnya mencapai batas maksimalnya.
Namun dia tidak marah, melainkan hanya tersenyum tipis menatap Kevin.
"Apakah kalian berdua ini pengangguran yang tidak punya kerjaan lain selain menggangguku?" tanya Bayu santai.
"Tutup mulutmu Bayu, kami hanya ingin menonton pertunjukan memalukanmu di sini," balas Vanya sinis.
Bayu mengabaikan mereka dan menyerahkan ponselnya kepada pelayan untuk memindai kode pembayaran.
Tit.
Suara mesin kasir berbunyi menandakan pembayaran telah berhasil dilakukan.
"Terima kasih Tuan, pembayarannya sudah berhasil masuk," ucap pelayan itu sambil tersenyum ramah.
Mata Vanya dan Kevin langsung terbelalak kaget mendengar ucapan pelayan tersebut.
"Apa? Bagaimana mungkin kau punya uang sebanyak itu Bayu?" teriak Vanya tidak percaya.
"Kau pasti menggunakan aplikasi pinjaman online palsu kan?"
Bayu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya dengan gerakan santai.
[Ding!]
[Misi Utama Pertama Berhasil Diselesaikan dengan Sempurna!]
[Keenam keponakan Tuan merasa sangat kenyang dan bahagia hari ini.]
[Bonus Misi: Tuan berhasil mempertahankan harga diri di depan mantan kekasih.]
[Mendistribusikan Hadiah Misi Sekarang Juga...]
Suara mekanis itu kembali bergema di dalam kepala Bayu.
Tubuh Bayu sedikit menegang saat merasakan sesuatu yang aneh terjadi di dalam saku jasnya.
[Uang tunai sebesar empat puluh dua juta rupiah telah ditransfer ke rekening Tuan.]
[Satu unit Mobil Sport Lamborghini Aventador hitam telah diparkir di lobi VIP mall.]
[Kartu Blackcard Eksklusif telah dimasukkan ke dalam saku jas inang.]
Bayu merogoh saku jas bagian dalamnya dan merasakan sebuah kartu berbahan logam yang dingin.