Kisah pilu dari seorang gadis yang mengalami korban pelecehan seksual dari pamannya sendiri. Laila ayyatul Husna 16 tahun kelas 1 SMA yang harus berhenti sekolah karena kejadian memilukan tersebut, dia di siksa agar di sebuah saung di tengah-tengah kebun oleh pamannya sendiri, berhubungan dia bisa selamat dan kesucian nya masih selamat berkat seorang pria yaitu Yusuf Nur Syaikh 34 tahun yang sudah memiliki istri yaitu Siti Maryam
Akankah Laila bisa keluar dari rasa trauma dan syok atas kejadian tersebut, atau malah dia melakukan hal nekad karena malu. Yuk simak ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Umi Laila menjauh
Laila melangkah dan menyapa semuanya termasuk Maryam.
” Kami juga membawa catatan santriwati lain yang menitip keperluan sama kami Bu" kata Husna dan Maryam menatapnya.
” Ibu lihat” Maryam meminta untuk benar-benar percaya kepada santriwati yang akan keluar. Husna memberikan catatan santriwati lain dan Maryam memeriksanya.
” Ada apa?" Laila berbisik, bertanya kepada Asila dan Asila menggeleng kepala.
” Baiklah, kalian bisa pergi dan kembali sebelum jam 8. Ibu akan menutup pintu gerbang dan kalian jangan sampai telat, hanya ke pasar malam dan membeli kebutuhan santri yang lain." Tegas Maryam dan semuanya mengangguk.
" Ayo umi” Wawat merangkul tangan Laila dan Laila bingung.
” Ibu Maryam apa benar aku bisa pergi?" tanya Laila dan Maryam mengangguk." Kalau begitu apa ibu bisa mengirimkan pesan kepada Abi kalau aku keluar rumah malam ini bersama santriwati?” pinta Laila dan Maryam kembali mengangguk. Laila meminta izin ya paling teman-temannya tidak akan lama.
” Assalamualaikum Bu" seru semuanya dan Laila juga.
” Waalaikumsalam” jawab Maryam.
Laila terus di tarik Wawat dan Husna. Maryam memperhatikan kepergian mereka dengan seksama lalu dia kembali melangkah menuju ke rumahnya.
” Aku mau dibawa kemana sebenarnya?" Laila tidak mau melangkah dan semuanya diam.
” Kami teh mau ngajakin umi ke pasar malam, ibu Maryam sudah ngasih izin kan" kata Husna.
” Ih enggak, aku mah mau di rumah aja” Laila menolak.” Abi juga gak ada, aku gak enak perginya” Laila berubah pikiran dan ingin kembali pulang.
” Kan sudah dapet izin dari ibu Maryam, ayo takutnya keburu malem.” Ajak Asila.
Ada benarnya juga, Yusuf dan Maryam tidak ada bedanya untuk Laila. Laila akhirnya setuju dan dia tidak membawa uang, Husna mengatakan bahwa Husna akan memberi pinjam uangnya untuk Laila dan Laila bisa menggantinya setelah pulang. Laila pun setuju dan bersemangat untuk pergi bersama teman-temannya.
****
Keesokan paginya, Yusuf pulang. Laila sedang memasak untuk suaminya dan Yusuf datang ke rumahnya.
” Assalamualaikum”
" Waalaikumsalam” jawab Laila dan keluar dari dapur, lekas dia salami tangan suaminya itu dan Yusuf mengecup ubun-ubun kepala nya sekilas. Laila tersenyum lebar di balik cadarnya.
” Umi Laila masak?” tanya Yusuf, dia sudah makan di rumah Maryam.
” Iya, aku mau makan bareng sama Abi” pinta Laila dan Yusuf mengangguk, dia tidak bisa menolak Laila yang sudah berharap untuk makan bersamanya.
Laila meletakkan semua makanan dan Yusuf memperhatikannya, Laila duduk dan menyiapkan piring untuk suaminya. Laila di tahan saat akan menyiapkan makanan untuknya sendiri.
” Biar Abi suapi" kata Yusuf.
” Kenapa?” Laila bingung.
” Bismillah..” Yusuf menyuapi Laila dengan tangannya sendiri, Laila terus menatap suaminya dan mengunyah makanannya lembut.
” Selama Abi pergi umi ngapain aja?” Yusuf ingin tahu kegiatan Laila selama dia pergi.
” Memanah, mengaji, pergi ke kebun, apalagi ya? banyak pokoknya” Laila begitu semangat berbicara dengan suaminya.
" Umi sibuk sekali, lalu kenapa umi tidak berkuda?” Yusuf menahan senyumannya.
” Abi mengejek? sudah tahu aku tidak bisa naik kuda kalau bukan Abi yang mengangkat tubuh kecil dan pendek ini. Apa Abi secara langsung mengizinkan santri laki-laki lain untuk menyentuh ku agar aku bisa naik ke atas kuda?” goda Laila dan ekspresi wajah Yusuf langsung berubah, Yusuf cemburu dengan ucapan Laila.
” Jadi umi mau disentuh siapa? Abi introgasi orangnya sekarang juga. Apalagi kalau mereka berani menyentuh umi Laila” ucap Yusuf dan Laila terkekeh-kekeh, ternyata suaminya terpancing dengan ucapannya tadi. Tawa kecil dari Laila membuat Yusuf sadar Laila sedang menggoda.
” Lalu, apa lagi yang umi lakukan?”
” Tidak beda jauh dari yang aku katakan tadi”
” Malam harinya, apa umi Laila melakukan sesuatu? pergi keluar dari pesantren misalnya?" Yusuf memancing Laila untuk jujur padanya, karena tak kunjung mengatakan Laila yang pergi ke pasar malam dan Yusuf tahu dari Imron.
Laila mengernyit keheranan, apa Maryam tidak mengatakan apa-apa? padahal sudah satu jam setelah kepulangan Yusuf. Dan Yusuf pulang langsung ke rumah Maryam.
Kenapa ibu Maryam begini?
” Emmmm” Laila bingung harus menjawab apa, di takut suaminya marah.
” Seorang istri yang meninggalkan rumah tanpa izin dari suaminya haram hukumnya umi” kata Yusuf dan Laila mengangguk.
” Aku minta maaf” lirih Laila dan Yusuf tersenyum, Laila menolak saat Yusuf hendak menyuapinya kembali." Abi aja yang makan" kata Laila lalu pergi dan masuk ke kamarnya.
” Umi Laila, kemari” panggil Yusuf dan meminta Laila kembali tapi Laila tidak mau, dia menangis di kamar. Meringkuk di bawah selimut. Yusuf mencuci tangannya dan pergi untuk melihat Laila.
Yusuf berdiri di bibir pintu dan memperhatikan Laila di bawah selimut terisak-isak pelan, Yusuf tetap berdiri menunggu Laila berhenti menangis. Laila berhenti karena dia tertidur saking lelahnya menangis, Yusuf yang sudah tidak mendengar tangisan Laila mendekat. Dia tarik selimut perlahan-lahan dan melihat Laila sudah tidur. Yusuf menarik selimut dan memeluknya, dia letakkan selimut di sisi kiri dan Laila tertidur pulas. Yusuf tidak mengerti kenapa Laila tiba-tiba menangis. Dan dia akan menunggu sampai Laila mau berbicara.
Satu jam berlalu, Laila bangun dari tidurnya saat mendengar adzan Dzuhur berkumandang. Laila menggesekkan wajahnya di bantal yang terasa begitu hangat itu. Laila membuka matanya perlahan-lahan dan melihat wajah seorang pria samar-samar di hadapannya. Laila mengucek matanya pelan dan dia terkejut melihat Yusuf di sebelahnya. Laila menatap kakinya yang tertindih kaki suaminya. Pantas saja berat, Laila menarik selimut.
” Abi bangun, Abi ngapain?” Laila menggoyangkan bahu suaminya itu dan Yusuf bangun. Yusuf terkejut mendengar suara adzan, dia sangat lelah dan tidak tidur semalaman. Dia yang biasanya datang sebelum adzan masih di rumah saat ini.
” Abi ngapain Laila?” Laila takut.
” Apanya yang di apain? Abi mau mandi dulu terus ke masjid" kata Yusuf dan Laila menarik tangannya.
” Laila, di apain Abi tadi?” Laila masih belum mendapatkan jawaban dan menahan Yusuf.
” Seingat umi, Abi ngapain?" malah balik bertanya dan Laila cemberut, Yusuf pergi setelah Laila melepaskan tangannya.
” Abi pegang-pegang gak ya tadi?" Laila berbicara sendiri.
” Mana hangat, jadi pengen lagi” kata Laila dan pipinya merah merona, begitu nyaman tidur beralaskan dada suaminya. Laila membereskan selimut, dia lipat kembali seperti semula lalu dia bersiap untuk sholat Dzuhur.
***
Malam harinya, setelah sholat isya. Laila memutuskan untuk pergi ke rumah Maryam, dia ingin menanyakan kenapa Maryam tidak berbicara apapun kepada suaminya.
” Assalamualaikum” salam Laila dan Salamah yang membukakan pintu.
” Waalaikumsalam” jawab Salamah.
” Apa ibu Maryam ada?” Laila bertanya, dan Maryam sedang berada di belakang bersama Yusuf. Maryam keluar dan Laila meliriknya.
” Ada sesuatu yang kamu butuhkan Laila?" Maryam bertanya.
” Kenapa ibu melakukan ini padaku? kenapa ibu tidak mengirimkan pesan kepada Abi untuk memberitahunya bahwa aku pergi” kata Laila, dia marah dan tidak terima. Maryam terlihat melirik ke pintu menuju dapur dengan ekor matanya.
” Laila tetap salah, Laila meminta izin padaku bukan sama Abi Yusuf” kata Maryam dan Laila mengepalkan tangannya.
” Apa ibu Maryam berniat menciptakan kesalahpahaman antara aku dan Abi Yusuf?” Laila kesal.
” Umi Laila tidak pantas berbicara seperti itu” Salamah menegur.
” Kenapa? apa karena aku masih kecil jadi orang dewasa bisa seenaknya? apa karena aku anak kecil kalian orang dewasa mengira bahwa aku baik-baik saja ketika di sakiti? apa karena aku anak kecil aku tidak boleh marah?" Laila benar-benar tidak suka dan kecewa atas perilaku Maryam padanya.” Dimana hak ku sebagai istri abi Yusuf, saat seharusnya dengan ku ibu Maryam selalu meminta Abi Yusuf kembali kemari?” suara Laila berat dan serak, dia menangis dan ibu Nurjanah yang mendengar ikut menangis mendengar keluh kesah Laila.
” Pulang, tidak pantas kamu berbicara seperti itu kepada Ibu Maryam" tegas Badrun yang datang setelah mendengar suara keributan, Laila menoleh dan menatapnya. Yusuf keluar dari belakang dan mendekati Laila.
” Kenapa orang dewasa selalu seenaknya? jika begini, kenapa Abi Yusuf tidak mencari yang dewasa saja?" kata Laila menatap Yusuf dan Maryam bergantian, Badrun menarik satu sapu lidi untuk memberikan pelajaran kepada Laila dan Yusuf menarik Laila ke belakang punggungnya.
” Laila tanggung jawab ku" kata Yusuf dan mencoba melindungi Laila dari Badrun yang memang tidak bisa melihat Maryam di permalukan apalagi oleh Laila, sebelum Yusuf. Badrun yang terlebih dahulu akan melamar Maryam. Badrun memang sangat tegas dan tidak segan menjewer untuk menertibkan para santri. Yusuf berbalik dan menatap Laila.
” Minta maaf kepada ibu Maryam dan kepada semua orang disini Laila" titah Yusuf dan Laila menatapnya dalam. Laila melirik Badrun yang sudah gemas seperti ingin menelan Laila hidup-hidup.
” Jika aku harus minta maaf, ibu Maryam juga harus minta maaf padaku karena sudah membuatku melakukan hal ini” tegas Laila dan Yusuf memegang bahunya, memberi kode agar Laila menurut padanya. Maryam dan Laila saling menatap kesal, Laila yang merasa tidak ada yang membelanya memilih pergi dengan langkah cepat menuju ke rumahnya.
” Ustadz Yusuf lihat istrimu” kata Badrun dan Yusuf menoleh.
” Saya meminta maaf kepada semua orang yang ada disini, dan biarkan saya menyusul Laila” lirih Yusuf lalu menutup matanya sekilas.
” Aku bantu” kata Salamah saat melihat Maryam lemas dan Yusuf melirik Maryam.
” Aku tidak mengerti kenapa kamu memilih Laila, perempuan masih banyak" kata Badrun dan Yusuf hanya tersenyum.
Yusuf pergi setelah Badrun pergi, sesampainya di depan rumah Laila Yusuf mengetuk pintu tapi Laila tidak membuka pintu.
” Assalamualaikum umi”
Laila tidak menjawab.
*****
Keesokan paginya, Laila sedang mencuci pakaian di sungai bersama santri-santri yang lain. Laila tidak banyak bicara dan banyak yang berbisik-bisik membicarakannya.
” Istri pertama di manja, istri kedua tersiksa” kata Ainun cukup lantang dan Laila berhenti.
” Cinta Aa cuma buat ibu Maryam” timpal yang lain.
” Astaghfirullah hal adzim, ya Allah ampunilah dosa para santriwati Nurul Huda yang terus membicarakan ku!!" teriak Laila dan Ainun tersentak kaget begitu juga dengan santriwati yang lain. Asila dan Wawat membereskan pakaian mereka ke dalam keranjang dan pergi mendekati Laila.
” Umi Laila kenapa? apa berdoa harus sekeras itu?" tanya Wawat.
” Biarin” kata Laila kesal dan kembali membereskan cuciannya.
” Jika Abi Yusuf tidak mencintaiku, bagaimana bisa aku mencuci baju Koko nya yang wangi ini!” teriak Laila kembali dan Ainun semakin terpojokkan. Wawat dan Asila terkekeh-kekeh melihat dan mendengar Laila.
” Aduh teh Ainun gimana rasanya di sindir umi Laila?” tanya Anisa yang mengenal Laila dan dia melihat selama ini Laila gadis baik-baik.
” Diam kamu Anisa" Ainun kesal dan memilih pergi membawa pakaiannya untuk pindah ke hulu sungai lain.
Laila kembali mencuci pakaian dan pakaian Yusuf bersebelahan dengan Wawat dan Asila. Setelah keduanya selesai Laila menoleh.
” Umi, kami duluan ya kami harus bersiap segera ke sekolah” kata Asila dan Laila mengangguk.
” Assalamualaikum”
” Waalaikumsalam” jawab Laila dan santriwati yang mendengar. Laila membuang nafas kasar dan menatap kepergian Asila dan Wawat, andai kejadian itu tidak terjadi mungkin dia masih bersekolah dan tidak menjadi istri kedua yang selalu di caci, di maki dan di permalukan.
” Sabar Laila, terima takdir yang sudah Allah berikan" kata Laila menyemangati dirinya sendiri.
****
Seharian ini Laila terus menghindari Yusuf, diam dan tidak mau bicara. Yusuf sedang duduk di kursi di teras rumah Maryam dan memperhatikan Laila yang sedang duduk bersama santriwati lain.
” Apa ada sesuatu yang terjadi hari ini, teh?" Yusuf bertanya kepada Salamah yang meletakkan kopi di atas meja untuknya.” Hatur nuhun” katanya kembali lalu meraih segelas kopi dan matanya tidak beralih dari istri kecilnya yang sedang marah padanya.
” Ada sesuatu yang dilakukan umi Laila sampai membuat santriwati yang lain iri" kata Salamah sambil tersenyum, dia mendengar apa yang diributkan para santriwati karena guyonan Laila.
” Apa yang diucapkan Laila sampai membuat santriwati iri?" Yusuf penasaran. Salamah tersenyum dan menceritakan apa yang dikatakan Laila di sungai tadi pagi, dengan bangganya Laila mengatakan bahwa bukti cinta Yusuf padanya adalah ketika dia mencuci baju suaminya itu. Yusuf tertawa mendengar cerita Salamah dan Salamah juga tertawa, Laila mengerucutkan bibirnya kesal melihat suaminya tertawa bersama Salamah.
” Iya terus aja, sok we. Aku mah enggak apa-apa, terus bikin istri Abi ini cemburu” berbisik Laila dan memalingkan wajahnya lalu berpamitan kepada santriwati dan dia pergi ke rumahnya. Yusuf tersenyum dan memperhatikan bayangan Laila sekilas di dalam rumah.
****
Keesokan paginya, Laila mendapatkan secarik kertas dari Zaenab. Entah dari siapa dan Zaenab bermain kembali setelah memberikan kertas tersebut kepada Laila. Laila duduk di tepi ranjang lalu membuka surat di kertas binder berwarna pink dengan karakter Barbie.
” Wahai umi Laila, kenapa engkau mau menikah dengan si tua Yusuf dan tidak pernah melirikku yang mencintaimu dengan tulus.....”
” Astaghfirullah hal adzim”, Laila terkejut dan meremas kertas tersebut yang belum dia baca sepenuhnya.
” Assalamualaikum umi Laila” suara Yusuf terdengar, Laila memasukkan surat ke bawah ranjang dan tidak mau Yusuf melihat surat itu.
Laila bangkit dan hendak keluar tapi dia malah menubruk tubuh suaminya.
” Waalaikumsalam Abi" Laila menjawab lalu menundukkan wajahnya.
” Abi punya sesuatu untuk umi Laila” kata Yusuf dan Laila mendongak.
” Abi aku harus pergi ke kebun untuk bantuin bi Ipah” Laila melangkah tapi Yusuf menahan dengan merentangkan kedua tangannya di pintu. Laila masuk kembali ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang. Yusuf juga duduk di sebelahnya.
” Ini untuk umi Laila” Yusuf memberikan kantung plastik berisi ponsel masih dalam dus. Laila melirik dan menggeleng kepala, dia menolak. Mungkin suaminya membelikannya ponsel karena dia protes kepada Maryam yang memiliki ponsel tapi tidak memberikan kabar kepada Yusuf atas kepergiannya.
” Aku tidak perlu ponsel Abi” Laila benar-benar menolak dan Yusuf terlihat kecewa.
” Abi membeli ini tidak mudah, umi menolak? umi mau tahu perasaan suami umi ini seperti apa sekarang?” tegas Yusuf.
” Memangnya siapa yang meminta Abi membeli ponsel? jual saja lagi dan Abi lebih baik membeli barang yang lebih berguna”
” Supaya umi bisa menghubungi bapak dan ibu dan juga teman-teman umi” kata Yusuf seraya meletakkan ponsel di pangkuan Laila tapi Laila memindahkannya ke atas kasur.
” Ada ponsel a Rizky dan ustadzah Yanti” kata Laila tetap tidak mau menerima. ” Aku harus pergi, Abi istirahat saja” Laila bangkit dan Yusuf menarik lengannya.
” Temani aku tidur” pinta Yusuf dan Laila terkejut.
” Apa?” Laila bingung.
” Umi Laila tidak bisa pergi, dan aku meminta umi Laila untuk tetap disini dan menemaniku tidur siang” pinta Yusuf kembali agar Laila tidak memiliki alasan untuk meninggalkannya.
” Abi tidak pernah tidur siang, kenapa tiba-tiba?”
” Kata siapa? waktu itu umi dan Abi bukannya tidur siang sama-sama?" Yusuf tersenyum dan menarik tangan Laila.
” Saat itu Abi lelah, tapi sekarang kan tidak,Abi pasti sibuk. Biar aku ketemu bi Ipah” Laila melangkah cepat dengan lengan masih di genggam Yusuf, Yusuf menarik tangan Laila agar tidak pergi dan...
Blek... Laila terjatuh kasar menimpa tubuh Yusuf yang juga terdorong olehnya sampai berbaring. Laila dan Yusuf saling menatap lekat sampai Laila bangkit dan Yusuf juga duduk kembali dengan pikiran tidak karuan.
” Abi aku pergi assalamualaikum”
” Waalaikumsalam”
Laila berlari dan Yusuf menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dia tersenyum penuh dengan rasa malu, Laila juga tersenyum malu atas apa yang terjadi.
***
Sore hari di kebun, Laila dan teman-temannya sedang memetik cabai rawit. Laila sedang datang bulan dan baru muncul tadi siang.
” Umi Laila baik-baik saja?" tanya Aam
” Iya, aku. baik-baik saja am” Laila tersenyum.
” Umi kalau Ainun bicara aneh-aneh biarin aja, dia emang begitu” Husna tersenyum.
” Dia suka cari masalah" timpal Wawat menambahkan.
” Sudah cukup nih, pulang yuk” ajak Asila.
” Hayu” semuanya mengiyakan dan pergi meninggalkan kebun.
Di pesantren beberapa santri laki-laki sedang berlatih bela diri, semuanya diam apalagi Laila yang terpaku pada permainan Iqbal yang sedang melawan kakaknya sendiri. Yusuf dan Maryam yang sedang berjalan-jalan bersama berhenti, Yusuf melihat tatapan Laila tidak beralih sedikitpun dari Iqbal.
” Yah kang Rizky kalah” kata Husna
” Dia siapa? jago banget bela dirinya” kata Laila dan Yusuf yang mendengar meradang.
” Dia santri belum lama sih” Wawat menjawab.
” Ya sudah ayo kita pergi" ajak Asila dan semuanya kembali melangkah menuju dapur pesantren.
” Bi Ipah ini cabe rawit nya" seru Laila sambil memberikan keranjang.
” Terima kasih neng Laila, maaf ngerepotin ya neng”
" Saya gak sendiri bi, yang lain juga membantu” Laila menunjuk teman-temannya.
” Eh iya terima kasih semuanya” seru bi lpah.
” Sama-sama Bi ipah, kami pergi ya bi. Assalamualaikum” semuanya berpamitan.
” Waalaikumsalam” seru bi Ipah.
” Umi Laila aku pamit ya" seru Asila.
” Iya” Laila tersenyum.
” Kami juga pamit umi, sampai ketemu nanti assalamualaikum”
” Waalaikumsalam” Laila merasa senang dan semua teman-temannya sudah kembali, Laila melangkah sendirian menuju dapur.
” Ustadz Yusuf dan Iqbal mau bertarung" seru para santri laki-laki dan Laila menoleh.
” Abi sama kang Iqbal?" Laila berbisik dan dia berlari sambil mengangkat ujung gamisnya sedikit untuk melihat suaminya mau melawan Iqbal. Sangat jarang Yusuf melawan santri di siang bolong, karena dia selalu memilih di waktu malam tapi kali ini Yusuf ingin menunjukkan kepada Laila bahwa dia juga mampu. Laila berdiri di antara santriwati lain dan melihat suaminya.
” Yang benar saja dia mau melawan aku" gumam Iqbal.
Laila menjerit kecil ketika melihat Iqbal yang sepertinya tidak main-main hendak memukul suaminya, dan Iqbal memang sengaja ingin melawan suaminya itu. Laila khawatir dan dia menoleh dan Maryam memperhatikannya. Laila kembali melihat suaminya, tidak terlalu memperdulikan. Dan Maryam pergi.
” Iqbal sudah pasti akan kalah” seru santri laki-laki.
” Iqbal tidak akan mungkin menang” sahut yang lain.
Laila terus memperhatikan suaminya sampai akhirnya Iqbal kalah dan sedang di cekal oleh Yusuf.
” Berhenti menganggu umi Laila, atau aku harus memulangkan mu” Yusuf berbisik dan Iqbal terkejut, ayah Iqbal adalah teman sekaligus santri dulu di Nurul Huda. Iqbal menjadi tanggung jawab Yusuf dan mendapatkan perhatian ketat dari para ustadz dan santri senior, kabar dirinya yang menyukai Laila sudah tersebar diantara para santri.
Yusuf melepaskan Iqbal sampai terjatuh kasar ke atas rumput, Laila mundur menjauh dan pergi tidak bersorak gembira seperti santri dan santriwati yang lain. Yusuf yang tadi melihat Laila di sana, kini sudah tidak tahu Laila pergi kemana dan dia lekas mencari istrinya itu. Laila sudah berada di belakang pesantren untuk pergi belajar memanah.
” Umi” Yusuf memanggil seraya meraih tangan Laila. Laila terkejut dan menatap suaminya itu.
” Abi ngapain?”
” Umi mau kemana?”
” Mau latihan”
” Jadi pendapat umi bagaimana?"
” Bagaimana apanya?" Laila bingung.
” Bagaimana pendapat umi setelah Abi mengalahkan santri itu?" tanya Yusuf sambil senyum-senyum jahil dan kedua mata Laila terlihat gelisah mendengar Yusuf yang meminta pendapat atau pujian darinya. Apalagi senyuman Yusuf seperti itu.
” Biasa saja" jawab Laila dan Yusuf melongo.
” Hanya itu? apa tidak ada yang lain?"
” Ya, seharusnya Abi sadar Abi tidak muda lagi. Melawan santri yang masih muda sangat beresiko, kalau Abi kenapa-kenapa aku akan sangat sedih dan Abi jangan pernah melakukan ini. Jangan berkelahi” kata Laila dan membuat Yusuf tertawa kecil.
” Apa benar-benar tidak ada komentar lain?"
" Tidak ada” Laila melangkah dan Yusuf tetap menahan tangannya.
” Umi mau kemana sekarang?"
” Mau latihan memanah”
" Apa mau latihan berkuda bersamaku?"
Laila menggeleng kepala walaupun ingin.
” Abi pergi saja" Laila melepaskan tangannya dan berlari tapi Yusuf juga berlari menyusulnya, Yusuf yang sudah berumur kepala tiga seperti anak remaja yang sedang kasmaran. Dan harus bisa mengimbangi Laila.
” Abi pergi saja”
" Tidak mau"
Laila mengerucutkan bibirnya karena Yusuf tidak mau meninggalkan nya. Yusuf berjalan ke arah lain menuju tempat pacuan kuda dan Laila yang sekarang mengejarnya, menolak tapi dia tetap mau ikut naik kuda bersama suaminya. Sesampainya di sana Laila menolak saat Yusuf akan membantunya naik.
” Aku bisa sendiri" ketus Laila.
” Apa benar istriku yang masih marah ini bisa sendiri?" goda Yusuf dan mundur menjauh membiarkan Laila mencoba sendiri.
” Abi... Auw" Laila meringis saat terjatuh dan Yusuf panik lalu segera membantunya berdiri. Dan menepuk-nepuk baju istrinya yang kotor.
Laila diam dan memegang bahu suaminya saat Yusuf mengangkatnya, dan tidak lama dia juga naik. Laila bergeser maju dan Yusuf tersenyum.
" Kalau umi mau jatuh, silahkan" Yusuf menarik tali kuda dan Laila mundur sampai merapat ke tubuh suaminya saat kuda melangkah cepat.
” Abi pelan-pelan aku takut jatuh aaa,,," Laila menjerit-jerit kecil dan memegang tangan Yusuf kuat, Yusuf malah sengaja." Abi sengaja, aku mau turun. Berhenti” Laila kesal.
Dan kuda mulai melangkah perlahan, Yusuf menjatuhkan dagunya ke bahu Laila dan Laila menoleh. Bisa di bayangkan wajah keduanya sedekat apa sekarang, yang perempuan masih kesal kepada suaminya karena merasa suaminya lebih perduli kepada istri pertama. Yang laki-laki berusaha mendekat supaya istri kecilnya tidak marah lagi.
” Aa seperti anak SMA” kata Badrun kepada Imron dan tidak tahu Laila dan Yusuf ada di sana membuat keduanya melihat pemandangan tersebut dan keduanya melangkah pergi. Takut iri, Badrun tidak terlalu masalah tapi Imron yang masih lajang membuat perasaannya ingin segera menikah saja.
” Aa tidak pernah tertawa seperti itu, as hanya tertawa ketika mendengar apa yang umi Laila lakukan dari para santri dan di hadapan umi Laila langsung. Aku bahagia, aku bahagia karena melihat aa bahagia” lirih Badrun.
” Iya ustadz benar, Aa tidak pernah seperti itu sebelumnya dan hanya dengan umi Laila Aa seperti itu” Imron mengiyakan apa yang dikatakan Badrun.
tp y di novel ini memang yg salah si karakter Maryam ini
padahal bacanya dah berkali-kali masih ajha 😘😘😘😘