Perpisahan, ketakutan, kesakitan, latihan keras, peperangan---KEMBALI!
Reiga menjejaki satu demi satu pijakan yang berjejer.
Dimensi berlainan dimasukinya untuk penempaan diri tanpa disadari. Orang-orang aneh dan tak dikenali bermunculan menjadi guru dan pendorong tanpa diminta.
Dia mengikuti rangkaian rencana yang sudah ditentukan alam, hingga waktu bergonggong tanda kesudahan--sampai pada batasnya--KEKUATAN---KEMENANGAN!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghilang - Berburu
Obat yang dibawa Atlas entah dari mana, sedikit berhasil membuat penyakit aneh yang diderita Adara tak terlalu menyiksa bagi wanita itu. Setidaknya menghilangkan sedikit sakit. Walau secara wujud akan sulit disempurnakan, mengingat betapa buruk tampilan penyakit itu.
Adara bersyukur, keadaannya berangsur baik kian hari. Meski kecantikan tak lagi merajai, meski buruk rupa mendominasi kelebihannya, ia tak boleh mengeluh. Jika yang dikatakan Atlas adalah benar, bahwa penyakit itu adalah perbuatan nakal seseorang, maka ia harus membalas, dengan tahap bertahan terlebih dulu. Setidaknya sampai ia kuat.
Bersama Reiga, kini Adara mulai disibukkan dengan kegiatan berlatih, yang mana Atlas jelas sebagai guru bagi mereka berdua.
Reiga tak pernah bertanya apa pun lagi tentang siapa dan apa jati diri seorang Atlas. Yang ia lihat, yang ia dapat, itulah Atlas--guru segala bagi dirinya. Dan kini bertambah Adara di antaranya sebagai teman--sama-sama murid si pria misterius.
Kehadiran Adara cukup menguntungkan, baik bagi Reiga maupun Atlas. Keduanya tidak harus berkecimpung seorang diri dengan denting beradu peralatan masak. Tangan dingin Adara membuat perut mereka termanjakan setiap saat dan kapan pun mereka mau.
...*****...
KERAJAAN ANTARES
Hari terus berganti, bergeser minggu, kemudian merangkak menggapai bulan.
Dua bulan berlalu.
Keadaan di istana tak banyak berubah. Kepergian Adara sepertinya bukan hal serius hingga tak harus ditangisi sepanjang waktu, bagi hampir seluruh penghuni, kecuali Ratu Odessa juga Atalla.
Wanita nomor satu Antares itu sering didapati dalam lamunan, atau bermanja dengan deraian air mata saat sendiri. Dan Atalla menangkap itu acapkali.
Pencarian sudah dilakukan Atalla dalam beberapa waktu. Namun seolah tertelan, Adara tak ditemukan di mana pun. Penyisiran hanya membuahkan kekecewaan bagi Atalla. Pujaan hatinya hilang membawa separuh hatinya yang semakin dalam dilanda rindu.
“Aku yakin dia akan baik-baik saja, Bibi.” Atalla sudah berdiri di belakang Ratu Odessa yang tengah merenung di bingkai jendela kamarnya, di ketinggian lantai dua istana Antares.
“Aku harap begitu, Pangeran,” sahut gamang Ratu Odessa tanpa menoleh. Kalimat itu semakin terasa bosan didengarnya. Ia tetap saja cemas akan putrinya yang tak ada hilal keberadaannya.
“Aku berjanji akan terus mencari dan menjemputnya untuk kembali.” Entah itu sekedar menyenangkan bibinya, atau sebuah tekad. Pemandangan ratusan prajurit yang tengah berlatih di alun-alun istana ditatapnya. Ia baru saja berlalu dari tempat itu.
“Akan kutunggu saat itu, Pangeran,” kata Ratu Odessa, tersenyum secepat daun terjatuh. Pandangnya lalu menyorot titik yang sama di bawah sana. “Meskipun Adara tak lahir dari rahimku, rasa sayangku padanya tetap dalam takaran yang sama. Tak ada beda dengan Kinneta dan juga Freya. Adara tetap putriku.” Sebulir air mata yang menitik disapunya segera saja.
“Aku tahu itu, Bibi.” Atalla ikut merasakan. “Aku pasti akan membawanya kembali. Tak peduli seberapa pun Paman Niscala menentangnya. Adara harus kembali.”
Sorot teguh mata pria muda itu ditatap Odessa dengan pandangan bangga. “Hanya kau yang mengerti, bagaimana seharusnya sebuah kehadiran itu dihargai. Sekali pun itu membawa dampak yang buruk.” Pipi dengan rahang tegas milik Atalla dibelainya lembut. “Bibi tahu betul perasaanmu terhadap Adara. Bibi mendukungmu, Sayang.”
Atalla tersenyum menyikapi itu. “Terima kasih, Bibi.”
...****...
Suatu siang, saat matahari baru melewati pusat teriknya, alun-alun istana diramaikan dengan sebuah keadaan.
Raja Niscala ditemani belasan prajuritnya, akan pergi berburu ke hutan bagian selatan Antares saat ini juga. Hal yang sudah direncakan pria itu dalam beberapa hari terakhir.
Semua sudah siap dengan kuda masing-masing. Termasuk Niscala yang telah lebih dulu menghentak hewan yang ditungganginya.
Atalla menatap punggung pamannya yang mulai menjauh dan mengecil dilahap jarak. Ada sebersit perasaan yang entah apa artinya menyergap sang hati kecil. Sebentuk rasa cemas, atau mungkin lainnya.
Selang beberapa waktu.
Bau resah kedalaman hutan sudah menyambut Niscala dan para punggawanya. Sinar matahari masih mengintip tajam dari ketinggian, menusuk celah-celah rimbunnya dedaunan di pohon yang menjulang membentur tanah, di mana semua daun kering jatuh berserakan saling menindih.
Niscalla mulai turun diikuti semua prajurit yang terlibat. Busur disiagakan siap melesatkan anak panahnya, barangkali ada hewan yang melintas di dekat mereka.
Dalam keasyikan berburu, Niscala mulai lupa waktu. Beberapa hewan--di antaranya dua ekor rusa remaja dan tiga ekor kelinci hutan, tergolek tak bernyawa setelah tajamnya anak-anak panah menghujam mereka tanpa belas kasih. Di hadapan dua orang prajurit yang berjaga di dekat kumpulan kuda yang diikat di pepohonan, hasil buruan itu terkumpul untuk dibawa pulang.
Sementara Niscala semakin jauh dalam kesendirian. Orang-orang yang mengikutinya tiba-tiba hilang satu demi satu tanpa disadarinya.
Suara dedaunan terinjak di belakangnya membuat perhatian Niscala yang tengah serius mengintai seekor kijang betina, tiba-tiba teralihkan. “Apa kau tidak bisa diam?!” bentaknya yang mengira suara itu ditimbulkan oleh pengikutnya.
Ngg?
Matanya mengedar ke segala arah. Tak ada apa dan siapa pun di sana. “Kemana mereka?” tanyanya pada diri sendiri. “Apa kalian sedang mempermainkanku?!” Ia berseru lagi.
Hingga tiba-tiba ....
SYUUUUTTT
JLEBBB
Sebuah serangan anak panah refleks dihindari Niscala dengan memiringkan sedikit tubuh. Ia tentu terkejut. Ditatapnya sesaat sebatang busur yang menancap di sebuah pohon perdu, kemudian mulai mengedar dengan gestur mengantisipasi.
“Siapa kau?! Jika berani tunjukkan wujudmu!” tantangnya berteriak, seraya berkeliling di pijak yang sama.
Sebatang anak panah kembali melesat dan lagi berhasil dihindarinya dengan melambungkan tubuhnya membentuk salto. Namun ....
“Awassss!”
BRUGGG!
Niscala yang tersungkur karena didorong keras seseorang, mendongak ke arah di mana sesosok pemuda kini berdiri menggantikan di tempatnya yang tadi. Semakin terbelalak, ketika melihat pemuda itu melesat ringan dengan kecepatan tak biasa ke balik sebuah pohon besar tak jauh dari sana.
BUGGG!
BRUKKK!
Pria berseragam hitam dengan penutup kepala menyerupai ninja, terpelanting tepat di depan Niscala. Masker yang semula menutup wajah, tersingkap paksa setelah satu tonjokan diterimanya dari si pemuda. Busur panah yang tadi ia gunakan terlempar kacau ke sembarang arah.
“Siapa kau?” tanya Niscala pada pria berbaju hitam.
Sesaat menyeka sudut bibirnya yang terdapat setitik darah, pria itu tersenyum sinis lalu menuntun tubuhnya untuk berdiri. “Kau cukup beruntung kali ini,” katanya, lalu menoleh pada pemuda yang masih berdiri santai di bawah pohon di belakangnya. “Dan kau, aku akan mengingat wajahmu!” Setelah menutup kalimatnya, ia langsung melanting berlari dengan langkah seringan angin.
Niscala tak sempat menahannya karena kecepatan lari yang tak bisa ia tandingi. Pandangannya kini mengarah pada pemuda yang menyelamatkannya dari ujung tajam anak panah yang nyaris membunuhnya sesaat lalu.
“Aku Reiga.” Mulut Niscala yang hendak berkata terjegal cepat. Pemuda itu lebih dulu mengakui siapa dirinya.
“Hari sudah mulai gelap. Sebaiknya Paman singgah saja dulu di kediamanku. Tak jauh dari sini.
Paling tampan, pasti paling sombong, tapi cuma dia yang gak punya harga diri 😌