Perpisahan membuat Zahwa mengerti akan sebuah rasa sakit, cintanya pergi meninggalkan luka menganga. Namun dia kembali setelah luka itu berusaha ia pulihkan.
Akankah Zahwa kembali dengan cintanya atau memilih lelaki lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tasbih Cinta
Panggilan seseorang membuat langkah Zahwa terhenti, ia menoleh ke asal seorang ternyata Dila. Teman yang tinggal satu asrama dengannya tapi beda kamar.
"Ya, Ada apa?" tanya Zahwa penasaran.
"Ada titipan untuk kamu," kata Dila memberikan sesuatu yang sudah di bungkus dengan pita ikut menghiasinya.
"Dari siapa?" tanya Zahwa lagi menatap ke arah bungkusan tadi.
"Saya tidak tahu, saya hanya di suruh memberikan ini pada kamu," kata Dila mengambil tangan Zahwa dan meletakkannya.
"Ya sudah, aku pergi dulu!" kata Dila hendak melangkahkan kakinya.
"Terimakasih ya," ucap Zahwa.
"Sama-sama,"
Usai menerima kado tersebut, Zahwa dan Rahel pergi ke dapur untuk makan, Zahwa hanya dia menatap bungkusan di tangannya sedangkan Rahel hanya diam tidak ingin menanyakan sesuatu padahal ia sudah penasaran dengan isinya.
"Kamu kenapa, Wa? kok diam," tanya Rahel.
"Gak papa, aku cuma heran yang kirimin kado ini siapa? kok gak ada namanya," Zahwa membalikkan kado tersebut memang tidak ada nama yang tercantum.
"Mungkin dia tidak mau kamu mengetahui namanya, mungkin saja ingin merahasiakan jati dirinya biar lebih romantis," kata Rahel tersenyum lebar membuat Zahwa mendelik ke arahnya.
"Sudah, ayo kita makan! nanti kita buka kado itu sama-sama tapi ingat, jangan sampai Lida dan Sisil tahu," kata Zahwa meletakkan kado tadi di atas kompornya.
Rahel makan dengan nikmat tapi tidak dengan Zahwa, ia begitu penasaran dengan isi dalam kotak kecil yang berada di depannya. Dia pun dengan cepat menghabiskan makannya agar ia bisa membuka kado tersebut.
Usai makan mereka kembali ke kamar dan menyembunyikan kota tadi di balik kerudung agar yang lain tidak tahu.
"Kok kalian makannya lama banget?" tanya Sisil.
"Ah iya, tadi makan sambil cerita-cerita makanya lama," ujar Rahel duduk di depan Sisil.
"Cerita apa?" tanya Lida penasaran.
"Mau tahu aja apa mau tahu banget," kata Rahel.
"Sudah-sudah, besok ujiannya kitab apa?" tanya Zahwa.
"Sebentar, aku lihat dulu! soalnya kemarin ustadz kasih rosternya," kata Sisil membuka lemarinya lalu mengambil buku bersampul coklat dan membukanya.
"I'anatul Thalibin besok," kata Sisil.
"Ya sudah, kita ngulang itu aja sama perbaiki makna yang ketinggalan," kata Zahwa bangun membuka lemari untuk mengambil kitab begitu juga dengan yang lainnya sekalian menyembunyikan kotak tadi.
****
Hujan turun saat semua para santri mulai terlelap dalam tidurnya tapi tidak dengan Zahwa, tiba-tiba saja ia terbangun dan teringat dengan kotak kecil tadi yang belum sempat ia buka.
Pelan-pelan Zahwa pun membuka lemari miliknya, mengambil kotak kecil tadi dan membukanya, ia menutup mulutnya tidak menyangka mendapat kado seperti itu.
Zahwa mengambil kotak bergambar mekkah, ia begitu takjub melihat kota Mekkah lalu membukanya, ia kembali terharu melihat tasbih dan Al-Qur'an kecil dalam kotak ka'bah. ia pun mengambilnya dengan tangan bergetar.
'Ya Allah, siapa yang mengirimkan tasbih seindah ini dan Al-Qur'an kecil ini, gumam Zahwa lirih.
Tak sengaja Zahwa melihat secarik kertas terselip di bawah Al-Qur'an lalu mengambilnya dan membacanya di dalam hati.
Assalamualaikum.....
Semoga tasbih yang ku berikan ini kamu terima, aku berharap tasbih ini bisa mengikat dua hati insan. Pakailah tasbih ini di setiap sujud mu, semoga Allah melancarkan niat ku untuk bisa meng-khitbah dirimu.
Salam
Pangeran.
Zahwa melipat kembali kertas tadi dan menyimpan di dalam kotak berbentuk ka'bah, ia kembali memasukkan tasbih dan dan Al-Qur'an kecil, ia begitu penasaran dengan nama pangeran soalnya selama seminggu ini tidak lagi menerima telepon darinya dan baru kali ini ia kembali memberikan kotak kecil.
Zahwa kembali tidur meski ia tidak bisa, ia tidak ingin mengganggu yang lainnya dan kembali memejamkan mata berharap ia akan tidur karena jam masih pukul 02 malam dan hujan pun sangat lebat di luar.
***
Hujan masih membasahi bumi, para santri tetap beraktivitas seperti biasanya. Mengikuti ujian semester kedua meski hujan masih turun membasahi bumi.
Zahwa sudah bersiap-siap, hari ini giliran Zahwa sama Lida membuat kopi dan kue untuk pengawas ujian. Sementara yang lain sudah masuk kelas dan mengulang kaji agar tidak gugup nanti ketika mengikuti ujian.
"Lida, kamu bawa kue biar aku bawa kopinya," kata Zahwa yang hanya mendapatkan anggukan dari Lida.
Di dalam kelas seseorang sudah datang, semua para santri hanya diam menatap ustad yang duduk sangat tampan di depan mereka, beralis mata tebal dengan bibir berwarna pink. Nampak sekali jika lelaki tersebut tidak merokok.
"Apa semuanya sudah masuk?" tanya lelaki tersebut.
"Belum ustad, masih ada dua orang lagi belum masuk," kata salah satu di antara mereka
"Eh, hari ini siapa pengawas kita?" tanya Rahel berbisik di telinga Sisil.
"Gak tahu, soalnya aku gak lihat pengawas kita siapa," ujar Sisil.
"Pikir kamu tahu," kata Rahel.
Zahwa yang tepat berada di depan pintu terdiam lalu berjalan ke arah lelaki yang sedang duduk untuk meletakkan kopi, mata mereka tak sengaja bertemu membuat hati Zahwa berdetak sangat kencang.
"Kopinya Ustad," kata Zahwa.
"Terimakasih..!" ucap lelaki tersebut dengan lirih, Zahwa pun mengangguk lalu duduk di belakang bersama Lida.