Sahabat yang care dan paling perhatian, menjadi musuh dalam selimut karna ke-kagumannya berubah menjadi obsesi untuk memiliki sesuatu yang tidak sepantasnya dia miliki.
sahabat penghianat, yang tega menghancurkan keluarga sahabatnya. Mempercerai berai rumah tangga orang tua sahabatnya sendiri karna keegosian dan keserakahan.
Kemablikan ayahku.... Aku pernah berbuat salah, dengan melepaskan laki-laki yang aku cintai demi dirimu. Tapi, tidak untuk ayahku. Kalau dulu, aku ikhlas kau hianati. Tapi tidak untuk ibuku. Aku akan melakukan apapun untuk ibuku, sekalipun aku bertarung nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nhia Maniezt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Dinda Mengaku Mencintai Riyan
Melani mengepalkan kedua tangannya, entah apa yang harus ia lakukan. Ia sama sekali tidak percaya kalau ia dihianati oleh sahabatnya sendiri, namun apa yang ia lihat sudah sangat jelas.
Melani yang niatnya ingin mengambil hp yang ketinggalan di mobil malah melihat adegan yang luar biasa, dengan tenang ia menghampiri Riyan dan Dinda, sambil menepukkan tangannya untuk aksi mereka itu, yang membuat mereka berdua tak punya kata menghadapi Melani. Melani berlalu pergi meninggalkan Riyan dan Dinda. Dan Riyan bergegas, menyusulnya.
"Yes, rencana gue berhasil" ucap Dinda dalam hati. "pasti Melani sudah gak mau menerima alasan. Gue, tau karakternya" lanjut Dinda. Berjalan sambil memainkan ujung rambutnya.
Tak lama kemudian, Riyan keluar menghampiri Dinda, ia memohon padanya untuk mengatakan yang sebenarnya ke Melani. Melihat Riyan seperti itu, membuat Dinda tidak tega. Hatinya langsung luluh, ia menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan Riyan. Sambil berkata dalam hati, "Ya Allah, gue harus ngomong apa ke Melani. Kalau gue bilang, gue sakit pasti dia akan menyuruh gue cek lengkap. Atau bisa jadi, dia memberitahu Ayah, ibu. Nanti, yang ada Ayah, Ibu jadi kepikiran. Aduhh gimana ini..?"
Tapi untungnya, Melani lagi tak ingin mendengar apa-apa. Dia hanya ingin menyendiri tanpa gangguan siapapun, termasuk Dinda sahabatnya.
Saat jam istirahat, Melani sama sekali tidak ingin keluar kelas. Mulutnya pun bungkam tanpa kata. Dinda mencoba bersuara namun ia malah membalikkan badannya.
Riyan datang tergesah-gesah menghampiri Melani di kelasnya, karna sedari tadi ia menunggu Melani di kantin tapi tak kunjung datang.
"Melani, please, dengarkan gue" kata Riyan memohon.
"Kak, tolong, gue cuman mau sendiri dulu" ungkap Melani melipat kedua tangan, seraya memohon. Ia benar-benar kecewa dengan semuanya, hal yang paling ia takutkan, efek dari mempunyai hubungan dengan satu sekolahnya akhirnya terjadi juga. Rasanya ingin sekali ia keluar dari kelas, namun tubuhnya terasa kaku. Kakinya, seakan tak mampu ia gerakkan. Ia lalu meminta Riyan untuk meninggalkan kelasnya dan saat Riyan melangkahkan kaki, Melani bersuara "kita akan bicarakan nanti setelah gue merasa enakan." dan Dinda sontak melihat Melani dari ujung mata kanannya.
***
Sudah tiga hari, Melani, Riyan dan Dinda tidak saling sapa. Semuanya hening tanpa kata. Riyan yang terus menerus meminta Dinda untuk menjelaskan yang sebenarnya ke Melani, namun belum kesampaian juga karna Melani belum membuka ruang untuk Dinda. Jangankan berbicara, melihat Dinda pun, Melani rasanya masih enggan. Ia rasanya tak mampu menatap wajah sahabatnya itu, karna saat melihatnya, seketika ia teringat kejadian di parkiran. Ia selalu terbayang adegan mesrah seorang sahabat bersama kekasihnya.
Tepat seminggu, Melani baru punya nyali untuk menghubungi Riyan. Dengan sangat senang dan antusias, Riyan menerima telpon dari Melani pagi itu.
"Hallo, Mel, apa kabar? Kangen banget gue" suara Riyan.
"Assalamualaikum" ucap Melani
"Waalaikumsalam, Mel" balas Riyan. "Gue jemput ke sekolah yah?" lanjut Riyan.
Riyan terlalu percaya diri, mengira Melani sudah memaafkannya dengan sangat santainya ia mengatakan ingin menjemput Melani. Padalah, Melani hanya ingin menyampaiakan ke Riyan untuk menemuinya di taman dekat sekolah pagi ini. Ia sudah siap mendengar penjelasan Riyan tentang dia dan Dinda, sampai adegan yang tak mengenakkan itu terjadi.
Dengan terbata-bata, Riyan menerima ajakan Melani. Dan berkata lima menit lagi ia jalan, sambil menutup telponnya. Sedang Melani, sudah siap untuk bergegas.
Seperti biasa, sarapan pagi sudah siap di atas meja makan dan Melani hanya mengambil satu buah roti yang sudah diisi selai kaya kesukaannya. Saat ingin beranjak, Mayang baru keluar dari dapur dengan membawa dua gelas di atas baki, yang satu isi susu buat Melani dan satunya isi teh hangat buat suaminya. Melihat Melani yang terburu-buru, Mayang lalu menghentikannya dengan menawarkan segelas susu yang sudah ia simpan di atas meja. Sehingga Melani terpaksa berbalik arah untuk meneguk susu yang sudah disediakan oleh ibunya itu.
"Buru-buru amat sih Mel, kamu tuh yah... Jangan biasakan berangkat sebelum sarapan. Emang ada kepentingan apa sih, sampai gak nunggu sarapan bareng dulu" ucap Mayang, yang berdiri tepat di hadapan Melani. Sambil mencium tangan ibunya, Melani berkata kalau ada urusan penting yang harus diselesaikan.
"Ada apa Bu? Kok suaranya sampai ke atas" tanya Indra yang baru saja turun dari tangga. Mayang hanya tersenyum dan bilang gak ada apa-apa. Lanjut Indra mencari Melani, yang tak nampak di meja makan. Mayang lalu menjelaskan, kalau Melani baru saja berangkat karna ada urusan penting yang mesti ia selesaikan. Sambil merapikan piring di atas meja makan.
Sementara Melani yang masih di perjalanan, Riyan sudah ada di sana. Duduk di atas kursi taman berwaran coklat, tepat di bawah pohoh yang tinggi, dengan daun yang lebat menutupi matahari, sehingga terasa sejuk menikmati pemandangan di pagi hari itu.
Beberap menit kemudian,, terlihat Melani berjalan dari arah kanan Riyan. Dengan tatapan yang tiada henti, Riyan sangat berharap dalam hatinya Melani mau menerima penjelasannya dan memaafkan dirinya.
"Duduk, Mel" kata Riyan.
"Makasih kak" balas Melani. "Ok, Kak Riyan sekarang bukan waktunya basa-basi. Gue hanya ingin mendengar penjelasan Kakak, ada apa sebenarnya antara Kak Riyan dan Dinda? Dan tolong jelaskan sejujur-jujurnya tanpa ada yang ditutupi lagi. Kenapa Kak Riyan, ada di rumah Dinda saat itu. Dan kenapa bisa terjadi adegan yang tidak mengenakkan itu. Coba Kak Riyan jelaskan. Sebenarnya ada apa?" lanjut Melani yang rasanya gregetan sampai gak bisa berhenti bicara.
"Ok, Ok, loe tenang dulu. Gue pasti ceritain yang sebenarnya" ucap Riyan mencoba menengkan Melani. Namun, saat Riyan ingin menggenggam tangannya, Melani dengan tegas menolak, dan meminta Riyan untuk tidak membuang-buang waktu. Mengingat jam masuk sekolah sudah dekat.
Sementara itu, di sekolah Dinda nampak bertanya-tanya dalam hati. Karna ia tak melihat mobil Riyan dan Melani di parkiran dan di dalam kelas pun, Melani juga tak nampak. Karna penasaran, ia lalu menghubungi Riyan, yang di mana Riyan baru saja ingin bercerita ke Melani.
"Nah, kan, tuh, telpon dari Dinda. Gue makin penasaran. Sebenarnya ada apa sih antara kalian berdua?" lagi-lagi suara Melani ketus, melihat telpon masuk dari Dinda di hp Riyan. Riyan mengatakan, tidak ada apa-apa diantara mereka, ia lalu menjelaskan semuanya, mulai dari Dinda yang meminta tolong kepada Riyan untuk menemuinya di rumah sakit tanpa memberitahu Melani, sampai kejadian di parkiran yang membuat Melani salah paham.
Mendengar semuanya dari Riyan, Melani rasanya tak percaya kalau Dinda tega menyembunyikan sesuatu hal padanya. Apalagi kalau memang ia benar mengalami gangguan kesehatan yang memprihatikankan. Rasanya sangat ganjal dibenaknya, yang membuatnya ingin meminta penjelasan langsung dari Dinda.
Melani, bergegas ke sekolah. Ia meninggalkan Riyan tanpa pamit, dan Riyan yang mencoba menghentikan Melani, sambil mengejarnya. Namun, Melani tak berhenti sedikit pun. Ia terus melangkahkan kakinya menuju mobil dan berlalu pergi.
Setiba di sekolah, tanpa basi-basi pun, ia meminta Dinda ke samping mushollah. Dinda yang nampak bingung, berjalan ke arah mushollah dengan penuh tanya di hatinya. "apa sebenarnya yang ingin dibicarakan Melani, sampai memanggilku ke samping mushollah."
Dinda teriak memanggil Riyan yang baru saja turun dari mobilnya, ia pun memberitahu Riyan kalau Melani memanggilnya ke samping mushollah.
"Gue, minta maaf yah, Din. Tadi gue, habis ketemuan sama Melani dan gue menceritakan semuanya" kata Riyan, sambil memainkan kunci mobilnya. Mendengar itu, Dinda langsung menghelai nafas panjang, ia langsung menebak kalau Melani ingin penjelasan darinya. "ok, Mel. Saatnya loe tau semuanya" kata Dinda dalam hati, sambil menaikkan satu alisnya. "tapi,, gimana dengan Kak Riyan. Saat dia tau, apa reaksinya. Smoga Melani gak sampai memberitahu Kak Riyan" lanjutnya.
Di sana Melani sudah tidak sabar menunggu Dinda dan mendengar penjelasan langsung darinya. Dan mengejutkannya, Dinda datang dengan santainya berkata, "hai Mel, loe gak usah capak-capek bertanya. Gue udah tau apa maksud loe ngajak gue ketemuan di sini.
"Oohh,, masa? Baguslah, gue gak perlu buang energi untuk bertanya pada loe. Yah,, ok, silahkan. Silahkan jelaskan apa yang ingin loe jelaskan, atau jangan-jangan loe ingin mengelak? Upzz,, tunggu dulu, kata Kak Riyan, loe sakit. Sakit apa sih? Sakit beneran, apa cuman boongan hanya untuk mencari perhatian Kak Riyan? Hah!!? jawab..!" kata Melani, dengan ciri khas gaya tangannya.
Dinda lalu tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya, dan berkata. "gak salah sih Mel, loe emang pantas jadi nomor satu di sekolah ini. Emang lor pintar banget, saking pintarnya. Kata-kata loe barusan itu, emang benar"
Seketika Melani terdiam, sedih bercampur marah dengan keadaan ini. Mata indah yang tadinya berwarna putih, kini berubah menjadi kemerah-merahan. Dengan dada yang sesak, ia lalu mendorong bahu Dinda dengan tangan kanannya dan berkata, "kenapa, Din? Kenapa loe tega lakuin ini ke gue?" suara dengan nada yang naik satu tingkat.
"Gue gak tau kenapa, Mel. Gue gak pernah mengundang perasaan ini. Gue suka sama Kak Riyan, baru-baru ini. Perasaan itu datang dengan sendirinya Mel, saat loe lagi ke Turki. Di situ awal mula perasaan yang dulunya hanya sebatas kagum berubah jadi rasa suka. Kak Riyan baik banget ke gue, dia perhatian dan dia sangat penyayang. Awalnya gue mencoba melawan perasaan ini, karna gue tau, loe sudah mulai suka sama Kak Riyan. Tapi, makin ke sini. Perasaan itu makin menjadi, sehingga gue ingin memilikinya" jelas Dinda.
"Wow, keren" ucap Melani sambil bertepuk tangan. "besar juga nyali loe, untuk menyakiti sahabat loe sendiri. Tega loe yah..!! oowww... Gue, baru nyadar. Ternyata feeling gue saat pertandingan cerdas cermat itu benar, loe kan, dengan sengaja memberi udang di makanan yang loe berikan ke gue waktu itu? Hah..!! ayo jawab? Ah, gak usah. Loe gak jawab juga gue udah tau kok. Yang gue gak habis pikir, loe tega sampai nyelakain gue segitunya. Padahal, loe tau, loh...! Kalau alergi gue itu bisa berakibat fatal pada pernafasan gue. Segitunya loe yah, hanya karna seorang laki-laki, loe tega nyerang gue. Kenapa sih, loe gak jujur aja ke gue? Kan gue bisa kasi Kak Riyan cuma-cuma ke loe. Gak perlu nyakitin gue segitunya. Dan skandal drama romantis di parkiran waktu itu, jangan-jangan hanya akal-akalanmu saja.
"Stop Mel, Stop" suara Dinda, mencoba menghentikan Melani.
"Stop kata loe? setelah apa yang loe perbuat ke gue, sekarang loe bilang stop. Gak waras loe yah Din" kata Melani, tersenyum tipis. "atau... loe mau, gue panggilin Kak Riyan ke sini. Biar kita selesaikan semuanya sekarang juga" lanjut Melani, sambil mengetik hpnya. Dan Dinda mencoba menahan Melani untuk menghubungi Riyan. Namun, Melani tetap tegas. Ia ingin menyelesaikan semuanya, kalau Dinda berani mengakui perasaannya kepadanya. Ia juga harus berani mengakui perasaannya itu langsung di depan Riyan.
"Hallo, Kak Riyan. Tolong ke samping mushollah dong. Gue dan Dinda ada di sini" pinta Melani dari balik telepon. Dan Riyan bergegas menghampirinya.
Riyan nampak khawatir melihat mata Melani memerah, "loe kenapa Mel? Habis nangis?" tanya Riyan, sambil memegang pipi Melani. Dan Melani lalu tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya. "oh iya, ada apa sih Mel?" tanya Riyan, menatap Melani, lalu ke Dinda. "ada apa sih? Din? Ada apa?" lanjut Riyan, yang masih kebingungan melihat Melani dan Dinda hanya bungkam.
Melani lalu bersuara, meminta Dinda mengakui ke Riyan tentang apa yang ia jelaskan kepadanya tadi.
"Apaan sih? Dari tadi, gue di sini kayak orang bingung. Apa sih, Mel. Din?" ucap Riyan, sambil meraih tangan Melani. Membuat Melani berkata dalam hati. "pegang aja sepuas hati loe Kak Riyan. Karna setelah ini, loe gak akan bisa megang gue lagi." sambil menatap Riyan penuh cinta.
Karna melihat Dinda yang tak berani berterus terang, akhirnya Melani yang memberitahu Riyan, tentang perasaan Dinda kepadanya. Dinda mencoba menghentikan Melani, ia takut kalau Melani memberitahu Riyan semuanya, tentang kebohongannya dan tentang kejahatannya ke Melani saat cerdas cermat waktu itu. Namun, Melani tak sejahat Dinda. Ia bahkan tak memberitahu Riyan satupun tentang itu, ia cukup memberitahunya tentang perasaan Dinda kepadanya.
Riyan yang syok mendengarnya, menatap Dinda penuh kekecewaan. Ia sama sekali tidak menyangka bawah kebaikannya selama ini kepada Dinda, membuatnya jadi salah mengartikan.
Dinda mencoba menjelaskan kepada Riyan, kalau sebenarnya dari awal dia tidak bermaksud untuk menyukainya. Tapi keadaan yang memaksanya. "keadaan apa maksud loe Din? Keadaan yang bagaimana yang loe maksud? Hah..!! Ayo jelaskan ke gue" tanya Riyan.
"Kak Riyan, maafin gue" pinta Dinda.
"Gak Usah minta maaf, Din. Akui aja semuanya, biar kelar" kata Melani. Memotong cerita Dinda.
"Mel, maafin, stop deh..!!" tegas Dinda.
"Lucu yah, sebelumnya nekat amat, sampai..."
"Mel, cukup. Cukup..." teriak Dinda. Menghentikan Melani.
"Sampai apa, Mel?" tanya Riyan.
"Gak ada apa-apa Kak" halau Dinda. Dan Melani hanya tersenyum melihat tingkah Dinda yang ketakutan.
Bersambung....