Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Karena Terpaksa

Menikah Karena Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bluemoonlight

— Amira dan Arjuna terpaksa harus menikah lantaran permintaan perjanjian masa lampau dari orang tuanya.

Mereka pun menyetujui menikah namun tanpa orang tua mereka tau, ternyata mereka membuat kesepakan bersama.

Apa sebenarnya kesepakatan itu?

Lalu bagaimanakah kehidupan mereka setelah menikah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bluemoonlight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Mata Juna memanas melihat istrinya di lecehkan oleh David. Juna langsung melayangkan tinjunya ke pipi David hingga David tersungkur ke lantai. Saking emosinya, Juna terus saja memukuli wajah David hingga babak belur.

"Ini akibatnya kalau lo macam-macam sama istri gue."

Clara berlari ke ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut. Sedangkan Amira terduduk lemas dan menangis.

Juna segera berjalan ke arah Amira dan mengaitkan bra Amira yang hampir terlepas. Ia segera membantu Amira untuk memakai baju dan juga rok nya lalu menuntun Amira keluar dari kamar.

Juna membantu Amira yang terlihat sangat lemas memasuki mobilnya. Ia pun melajukan mobilnya menuju pulang ke rumah.

"Lhoh kalian kok sudah pulang? Amira kenapa Jun?" tanya Salma yang melihat Juna menuntun Amira yang terlihat sangat berantakan.

"Nanti saja Juna cerita ma, sekarang Juna mau bawa Amira ke kamar dulu."

Juna dengan telaten menuntun Amira menuju kamar.

"Sini, kamu istirahat aja ya." ucap Juna lembut dan merebahkan Amira ke atas ranjang lalu menyelimutinya. Amira pun berusaha memejamkan matanya.

Amira tidak menyangka jika selama ini ia berhubungan dengan lelaki brengsek. Bahkan sahabatnya sendiri berani menghianatinya. Amira terus merenungkan di mana letak salahnya hingga pacar dan sahabatnya kompak untuk mempermainkannya.

"Ada apa Jun? Apa yang terjadi?" tanya Salma saat melihat Juna menuruni anak tangga.

Juna harus bilang apa ke mamanya? Amira mergokin pacarnya? Kan gak mungkin.

"Amira hampir di perkosa sama mantan pacarnya ma." ucap Juna sedikit berbohong ke mamanya.

Salma seketika menutup mulutnya karena kaget.

"Kok bisa? Dasar lelaki bejat. Berani-beraninya dia macam-macam sama istri orang. Dia gak terima Amira nikah apa gimana Jun?"

Juna mengangkat bahunya tanda tidak tau.

"Kalau Amira bangun, jangan bahas yang macam-macam ya ma. Jangan banyak tanya juga, sepertinya dia sangat shock atas kejadian tadi."

"Iya mama ngerti. Tapi kamu mau kemana?"

"Juna ada urusan sebentar. Titip Amira ya ma."

Juna pun pergi meninggalkan rumahnya.

"Kumpul di cafe biasa, sekarang."

Pesan teks yang Juna kirimkan untuk anggota geng nya melalui grup chat.

Tak butuh waktu lama akhirnya mereka pun berkumpul di cafe langganan mereka.

"Ada apa Jun?"

"Cari orang yang namanya David, dia kuliah jurusan akuntan di kampus Amira. Bawa dia ke markas menghadap gue. Hari ini terakhir gue liat dia di penginapan mawar."

"Oke, kita bisa aja nemuin si David itu. Tapi ini masalah apa?"

"Dia hampir merkosa istri gue hari ini. Gue gak bisa ngasih pelajaran lebih karna harus nganter Amira pulang."

"Wah brengsek juga tu cowok. Oke tenang aja, kita akan cari David itu."

Juna mengangguk. Teman satu geng nya ini memang selalu bisa di andalkan. Juna hanya tinggal menunggu di markas tempat penyimpanan motor balapan mereka.

...***...

Amira terbangun dari tidurnya. Dia berjalan perlahan di cermin. Melihat pantulan dirinya yang baru saja di lecehkan oleh pacarnya sendiri. Tak terasa air matanya keluar. Amira yang tangguh kini menjadi Amira yang lemah dan cengeng.

"Amira buka pintunya nak, ini mama. Ayo kita makan dulu nak." teriak Salma mengetuk pintu kamar Amira karena sedikit khawatir karena menantunya tak juga turun untuk makan.

"Maaf ma, tapi Amira gak laper. Mama makan sendiri aja ya." teriak Amira dari dalam kamar.

Salma khawatir karena pintu terkunci dari dalam. Salma mencoba menghubungi Juna juga tidak di angkat sedari tadi.

Di sisi lain Juna sedang memberi pelajaran kepada David yang saat ini tengah duduk di kursi dengan sebuah tali melilit di tubuhnya.

Dengan membawa sebongkah kayu, Juna ingin menakut-nakuti bajingan yang berani melecehkan istrinya.

"Lepasin gue." teriak David yang tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa teriak-teriak tanpa bisa berontak sedikitpun karena tali yang mengikatnya begitu kuat.

"Jaminan nya apa kalau gue lepasin lo? Apa gue bisa tenang kalau lo masih bisa berkeliaran di sekitar sini dengan tidak ,melakukan hal yang lebih ke istri gue." ujar Juna yang masih terlihat santai menanggapi David.

"Ck, istri? kalian berdua aja nikah karna perjodohan. Bahkan Amira sendiri yang ngomong sama gue kalau lo nyebelin." seru David sembari tertawa dengan keras seakan meledek Juna yang bersikap layaknya suami sungguhan.

Benar kata David, mereka bersatu karena sebuah perjodohan, bahkan Amira sendiri seperti membencinya. Tapi entah mengapa mendengar jika Amira begitu membencinya dari mulut orang lain terasa menyakitkan untuk Juna.

"Perjodohan pun tetap ini adalah pernikahan sah. Dia resmi jadi keluarga gue. Siapapun yang berani macam-macam dengan keluarga gue, gua akan pernah tinggal diam."

"Keluarga? Mana ada keluarga tanpa rasa cinta." seru David yang terus meledek Juna.

Bukannya marah, Juna malah terdiam memikirkan ucapan David yang sedikit ada benarnya.

"Tubuh Amira sangat bagus, sayang banget kan dia masih perawan walaupun udah bersuami." Lagi-lagi David meledek Juna yang masih terdiam.

Mendengar David menyebut tubuh Amira membuat Juna naik pitam. Juna dengan amarahnya melayangkan bogem nya ke arah pipi David. Juna menarik kerah baju David dan ingin memukulnya lagi namun Bagas memasuki ruangan hingga membuat Juna mengurungkan niatnya.

"Jun nyokap lo telepon dari tadi?" ucap Bagas menyerahkan hp Juna yang sedari tadi memang ia tinggal di sebuah meja di luar ruangan penyekapan.

"Juna kamu dimana? Cepet pulang. Mama khawatir sama Amira."

Tertulis pesan teks dari sang mama untuk Juna. Membaca teks tersebut membuat Juna juga ikut khawatir dengan keadaan Amira.

"Beri dia pelajaran, jangan di kasih ampun, buat dia ngerasain sakit, jangan sampe dia mati." pesan Juna kepada Bagas sebelum ia pergi meninggalkan markas.

*

"Ma, gimana Amira? Apa dia udah bangun?" tanya Juna saat memasuki rumah dan di sambut sang mama.

"Amira gak mau bukain pintu kamarnya Jun, dia belum makan dari tadi." ucap sang mama yang terlihat begitu mengkhawatirkan menantunya itu.

"Ma, tolong siapin makan buat Amira ya, biar Juna bawa ke kamar."

Salma menganggukkan kepalanya dan menyiapkan sejumlah makanan dan buah untuk Amira, Juna pun segera membawanya ke kamar.

Juna mengetuk pintu kamar karena memang kamar terkunci dari dalam.

"Ini aku, buka pintunya." ucap Juna setelah mengetuk pintu kamar.

Tak lama setelah itu, Amira membuka pintu kamar tanpa ekspresi. Setelah membuka pintu dia kembali ke ranjangnya dan menutup dirinya menggunakan selimut.

"Makan dulu. Aku mau mandi, setelah aku mandi, makanan harus udah habis." ucap Juna meletakkan nampan berisikan makanan di meja dekat ranjang.

Juna berjalan ke arah kamar mandi, membuka pintu dan menutupnya seolah dia sudah masuk ke kamar mandi. Dia menghela nafasnya saat tak ada pergerakan dari Amira.

"Keras kepala banget sih, sini ayo makan. Aku suapin." ucap Juna membuka selimut yang menutupi tubuh Amira.

Namun bukannya bangun, Amira malah menangis, menenggelamkan wajahnya di bantal.

"Bangun aku bilang, jangan bikin aku marah." seru Juna menaikkan nada bicaranya. Namun teriakan Juna membuat Amira takut dan menangis lebih keras.

Juna lagi-lagi menghela nafasnya. Ia menarik tangan Amira dan membawa wanita itu ke pelukannya.

1
Adhienk DHilaislamiah Dibodhibo Ayum
terlalu lemah kamu amira
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!