Semua gara-gara sahabatnya yang membual jika Rain dan Sunny mencoba bunuh diri karena kedua orang tua mereka sudah menjadi rival bisnis sejak lama mungkin tidak akan merestui hubungan mereka.
Sunny dan Rain terpaksa harus menikah karena perjodohan yang terjadi setelah mereka berdua melewati masa kritis setelah jatuh dari kapal akibat penyerangan tidak terduga.
Ancaman pembunuhan, menjadi salah satu alasan yang membuat Rain dan Sunny akhirnya menerima pernikahan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Menikah muda dengan orang yang berkali-kali membuat jantungnya nyaris meledak karena kesal, membuat Sunny tidak yakin jika pernikahannya dengan Rain akan berhasil.
Akankah cinta tumbuh diantara mereka atau justru pernikahan mereka adalah awal dari malapetaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resmi Menjadi Pengantin
Sebuah senyuman terukir dari bibir Richard, ia baru saja memeriksa CCTV yang di pasang oleh Hamid untuk mengawasi kedua anak mereka.
Awalnya, Richard terkejut karena melihat Rain dan Sunny terlihat bertengkar sebelumnya dan Sunny pergi meninggalkan ruangan namun tidak lama Rain juga menghilang dari ruangannya dan kemudian mereka kembali dengan Rain yang menggendong Sunny.
"Mereka sangat manis..." komentar Richard, senyumannya terus mengembang dan puncaknya ia tidak sanggup lagi melihat ketika Rain mencium bibir Sunny, wajahnya menjadi memerah karena tersipu malu melihat putra yang ia rawat sejak kecil kini telah tumbuh menjadi laki-laki dewasa.
"Putraku sudah besar," gumamnya lagi merasa bangga.
"Aku emang udah besar, Pa..."
Richard mengangkat kepalanya, putra sulungnya yang bernama Raihan tiba-tiba saja muncul di depan meja kerjanya.
"Kapan kamu dateng, kok papa gak denger kamu mengetuk pintu?" tanya Richard dengan hangat, ia beranjak bangun dan menghampiri Raihan.
"Aku udah ketuk pintu, tapi papa kayaknya gak dengar," jawab Raihan. "Ngomong-ngomong, kenapa wajah papa keliatan seneng banget gitu?" tanya Raihan penasaran.
"Oh ini karena ulah adikmu itu, dia terlihat manis dengan calon istrinya," jawab Richard sambil merangkul bahu Raihan dan membawanya keluar dari ruangannya.
"Calon istri?"
"Iya, besok Rain akan menikah!"
"Ngomong-ngomong kamu lembur lagi malam ini? Jangan bekerja terlalu keras, Nak," tanya Richard menasehati tapi Raihan tidak menjawab, ia tertegun sembari mencerna apa maksud dari ucapan ayahnya baru saja, menikah? Adiknya menikah?
Dia sengaja ingin melangkahiku?
"Ada apa, Raihan?" tanya Richard sekali lagi saat Raihan tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.
"Oh ya... Kenapa kamu gak ngejenguk adikmu? Datanglah besok pagi ke rumah sakit, adikmu akan menikah disana besok," pinta Richard, pria bermata hazel tersenyum hangat kepada Raihan yang masih tertegun tidak percaya.
"Pa, gimana Rain bisa menikah? Dia bahkan belum lulus kuliah. Masih terlalu muda baginya buat menikah. Apa ini perjodohan?" tanya Raihan, sebisa mungkin ia menekan rasa kesalnya yang menekan dadanya dan membuatnya merasa sesak dan mengeluarkan nada suara yang seolah perduli pada adik tirinya itu.
Jika Rain menikah mendahuluinya, maka kemungkinan Rain akan memiliki anak lebih dulu, itu semua sama sekali tidak bagus untuk posisinya. Walaupun Rain hanya seorang anak tiri, tapi Raihan dapat melihat kasih sayang yang ayahnya curahkan kepada Rain tidak berbeda dengan yang di berikan ayahnya padanya.
"Bukan perjodohan, tapi memang berjodoh," jelas Richard. Pria berusia diawal 50 tahunan itu menjawab dengan singkat tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara Rain dan Sunny karena tidak ingin memperpanjang perdebatan.
"Kamu sudah makan? Gimana kalau kita makan bersama?" tanya Richard yang melihat wajah Raihan yang berubah menggelap.
"Aku gak lapar!" jawab Raihan dengan dingin, tanpa sungkan ia menyingkirkan tangan ayahnya dari bahunya sebelum melangkah meninggalkannya.
Richard yang pengertian sama sekali tidak mengira jika Raihan sebenarnya sedang marah. Bahkan ketika Raihan telah berada sendiri di dalam kamarnya, tidak sungkan ia membanting fotonya yang duduk bersebelahan dengan Rain semasa mereka sekolah dulu.
"Belum puas lo ngerebut papa gue, sekarang lo mau ngerebut posisi gue juga! Bangsat!"
Tidak puas membanting foto, bahkan Raihan tidak sungkan merobek-robek foto itu. Nafasnya terengah-engah karena merasa sangat kesal.
****
Hari yang tidak pernah dinantikan ini akhirnya tiba.
Ruang kamar rawat yang sebelumnya kaku kini telah disulap dengan hiasan bunga bernuansa putih dan biru menghiasi setiap sudut ruangan.
Lipstik telah ditorehkan diatas permukaan bibir Sunny yang tertutup rapat sejak tadi.
"Senyum dong, Sunny. Ini kan hari bersejarah dalam hidup lo yang membahagiakan," pinta Rosa menyemangati sahabatnya itu setelah selesai merias wajah Sunny.
Sunny menghela nafas berat, diturunkannya cermin yang dipegangi oleh Rosa dengan tidak bersemangat.
Dengan mengedarkan pandangannya, Sunny melihat ruangan rumah sakit yang sudah disulap indah bagai taman bunga di negeri dongeng, tapi walau seindah apapun, ini tetaplah ruangan rumah sakit. Bau obat yang menyengat masih tercium kuat.
Di atas sofa terlihat ayahnya sedang berbincang ringan dengan ayah Rain, ibunya juga tengah berbincang dengan ibu Rain, mereka terlihat dekat bahkan tertawa bersama.
Rosa saat ini meninggalkannya dan duduk bersama dengan adik laki-lakinya, Surya yang masih duduk di bangku SMA dan berusia tujuh belas tahun, yang saat ini terlihat malas berada ditempat ini.
Mereka semua terlihat akrab dan menyambut pernikahan ini dengan kebahagian, tapi tidak dengan Sunny.
"Kamu tegang?"
Sunny menoleh, Rain menatap lurus kearahnya. Sungguh aneh bahkan mereka masih memakai baju pasien, mungkinkah mereka akan benar-benar menikah seperti ini? Sunny sungguh gerah dengan takdir yang menjebak ini.
Apa ada pernikahan seperti ini? Tanpa gaun, tanpa kue pernikahan, tanpa pesta lajang... Ia merasa sedang ditimpa kesialan sekarang.
"Kamu cantik hari ini..." pujian itu terlontar dari bibir Rain yang masih memasang wajah datar namun tetap menatapnya dalam.
"Mereka bahkan gak menunggu kita benar-benar pulih," ucap Sunny sedih, ia menundukkan kepalanya menutupi kekecewaannya pada takdir hidupnya, "gue maunya menikah dengan gaun rancangan gue sendiri." gumam Sunny pelan dengan kecewa, "tapi sekarang udah pupus."
"Aku penasaran, mungkin kamu akan secantik bidadari kalau memakai gaun indah buatanmu..."
Sunny mengangkat kepalanya kembali, ia menatap Rain yang kini bergerak kearahnya. Mengapa Rain mendadak berkata sangat lembut dan manis yang membuat jantungnya berdebar kencang seperti ini?
Rain telah berdiri dihadapan Sunny yang masih duduk diatas ranjangnya, perlahan tangannya bergerak merapihkan rambut Sunny dan mengikatnya dengan gelang yang sebelumnya melingkar dipergelangan tangan Rain.
Sunny menahan nafasnya, dadanya sesak merasakan Rain sedekat ini dengannya. Perasaan hangat seperti sebuah tunas tumbuh dihatinya.
Semua keluarganya tersenyum malu dengan perlakuan lembut Rain yang tengah menata rambut Sunny.
"Bahasa loe kenapa mendadak berubah?" tanya Sunny tanpa berani menatap.
"Karena kita akan jadi suami istri, aku mau memperlakukan kamu sebaik mungkin."
Oh sial, jawabannya menggetarkan hati gue!
"Sepertinya Sunny dan Rain menganggap kita semua ini cuma nyamuk," bisik Richard pada Hamid disambut dengan gelak tawa pelan.
"Walau gak memakai gaun indah, kamu tetap terlihat seperti bidadari di mataku," ucap Rain lembut. Senyuman tipis terukir di bibirnya menyalurkan semangat yang kembali menyingkirkan sedikit kerisauan di dalam hati Sunny.
Sunny sungguh tidak dapat menatap wajah Rain yang begitu dekat dengannya, bahkan ketika jemari tangan Rain menyentuh poninya dan merapikannya tiba-tiba saja tubuhnya seakan membeku.
Ketika Rain menyisipkan bunga mawar putih disela rambut Sunny, rasanya Sunny akan melayang jauh ke angkasa jika ia tidak berpegangan dengan kantung baju Rain saat ini.
"Udah selesai...," ucap Rain pelan. Ia telah menurunkan kedua tangannya dari rambut Sunny.
"Apa?"
"lepasin baju aku! Kamu udah gak sabar malam pertama sama aku ya sampai aku terus di pegangin begini?"
Sunny segera tersadar jika ia baru saja terbuai dan bahkan berpegangan pada Rain, dengan sekali dorongan, Sunny mendorong tubuh Rain agar sedikit menjauh darinya.
"Enak aja... Jangan mesum!" elak Sunny, walaupun sedikit terlambat, tapi setidaknya ia sudah menjelaskan jika ia sama sekali tidak memikirkan malam pertama yang akan mereka lalui.
"Sebentar dia lembut sebentar dia dingin... Nyebelin. Apa mungkin dia punya kepribadian ganda? Oh, Tuhan... Mengapa engkau berikan hamba mu yang Soleha ini jodoh pria hujan yang aneh macam dia?" Sunny hanya dapat mengeluh dalam hati. Ia kemudian melepaskan kantung baju Rain dan sedikit mendorongnya menjauh.
Rain menyeringai, ia melangkah mundur dan berjalan kearah ayahnya yang memanggilnya karena penghulu telah datang.
Kini tangan, kaki, tidak... seluruh tubuh Sunny seolah membeku saat ibunya menuntunnya untuk duduk disebelah Rain.
"Kamu udah hafal, Nak?" tanya Richard memastikan pada Rain.
Rain yang semula tenang kini mendadak menjadi tegang. Bahkan keringat meluncur bebas di keningnya.
Sunny melihatnya, Rain yang sangat tegang hingga mengabaikan pertanyaan Richard. Sunny kemudian menyenggol siku Rain untuk menyadarkannya.
"Kenapa? Kamu mau mempercepat akadnya sekarang?" tanya Rain pada Sunny, ia salah mengira maksud Sunny menyenggol sikunya. "Udah gak sabar jadi istri aku ya?" bisiknya menggoda.
"Jangan gila!" Sahut Sunny, tapi di dalam hati karena Sunny tidak mungkin mengumpat didepan kedua orang tuanya dan juga calon mertuanya.
"Bukan, papa kan nanya lo, gue cuma ngingetin lo aja," jawab Sunny tertatih. Sungguh pria sialan! Dia selalu saja berbicara seenaknya dan membuat Sunny merasa malu kini.
Rain tersenyum, "Ok, kalau gitu kenapa kita gak mulai sekarang akad nikahnya? Aku udah gak sabar manggil kamu istriku soalnya kamu udah manggil ayahku dengan panggilan papa," ucap Rain, tentu saja ucapannya membuat Sunny dua kali merasa malu dan sebaiknya ia tidak perlu berbicara lagi karena Rain pasti selalu saja dapat membalikan ucapannya dan membuatnya berada di posisi menjengkelkan seperti ini.
Penghulu telah berada dihadapan Rain dan Sunny, Ayah Rain dan Ayah Sunny telah berada di kedua sisi dan bersiap menjadi wali.
Bismilah terucap, sebagai awal dari ijab kabul yang diucapkan oleh penghulu lalu di jawab oleh Rain dengan pasti.
"Saya terima nikahnya, Sunny Maharani Hamid binti Hamid Setiawan..."
Rain melafalkan ijab kabul hanya dengan sekali tarikan nafas dan sangat lancar dan begitu Rain selesai kalimat "sah" langsung terucap bersambut oleh saksi pernikahan yang datang bersama dengan penghulu.
Kini Sunny dan Rain telah resmi menjadi sepasang suami istri.
Cincin telah disematkan di kedua jari masing-masing mempelai dan kepala Sunny tertunduk pelan untuk mencium tangan Rain untuk pertama kalinya.
Air mata Sunny menetes mengenai punggung tangan Rain yang dapat Rain rasakan dengan jelas jika punggung tangannya menjadi basah. Karena penasaran, Rain akhirnya menunduk, ia mengintip dibalik punggung tangannya yang menutupi wajah Sunny.
"Kenapa nangis? Kamu lagi ngebayangin malam pertama kita? Tenang saja, aku akan pelan-pelan ngelakuinnya," bisik Rain menggoda tentu saja Rain hanya bergurau. Karena sejujurnya ia gugup setengah mati sekarang.
Tapi Sunny menanggapinya dengan serius, dengan menarik air matanya seolah ia menyesal karena telah terharu dan tanpa ragu menggigit punggung tangan Rain dengan kuat hingga Rain berteriak kesakitan dan membuat terkejut seluruh orang yang berada didalam ruangan.
"Kenapa Rain?" tanya Rini yang heran dengan teriakan putranya itu.
"Gak kenapa-kenapa ko, Ma... Rain cuma terlalu senang aja... Kamu juga kan, sayang?" jawab Sunny setelah melepaskan tangan Rain dan menunjukan senyuman kemenangan karena telah berhasil membuat Rain kesakitan.
"Simpan tenaga kamu buat nanti malam!" Goda Rini, wajah Rain langsung berubah, sebuah senyuman lebar terukir diwajahnya, tapi tidak dengan Sunny yang langsung menegang.
"Tenang aja mah, tenaga aku gak akan habis dalam 'semalam'." Sahut Rain yang sukses membuat Sunny merasa menelan batu kerikil yang membuat tenggorokannya sakit dan tidak dapat berkata lagi.
....
mampir juga yuk😃