Cassitovia itu dijuluki sebagai Dunia Terbalik. Di mana perempuan begitu diagungkan, tanpa menginjak laki-laki.
Sejak berdiri, Cassitovia dipimpin oleh seorang Ratu. Tapi bukan itu poin penting dari julukan 'Dunia Terbalik'.
Di Cassitovia, Ratu bisa memiliki banyak suami. Gila atau menakjubkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OrangAsing27_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Pakan Hewan Buas?
Sepertinya, jiwa pemberani Aland benar-benar tertinggal di Zavandria, karena sejak ke Cassitovia, dirinya sering kali merasa takut, gugup dan gelisah hanya karena seorang gadis bermata abu-abu bernama Tarissa Mey Naveen. Bahkan, mendengar namanya saja jantung Aland berdetak dengan kencang; bukan jatuh cinta, tapi takut tiba-tiba kepalanya dipenggal.
Kemarin Aland merasa cukup lega, karena tidak ada Mey di sekitarnya. Seharian Aland hanya berdiam diri di kamar. Lebih tepatnya dikurung di kamar. Ia sama sekali tidak keluar, karena prajurit terus saja menghadangnya, masih dengan alasan yang sama; "Tuan Putri Mey tidak mengijinkan Anda keluar dari kamar."
Namun, pagi ini seorang prajurit justru memintanya keluar kamar tanpa menyebutkan alasannya. Aland jadi gelisah dibuatnya, takut tiba-tiba dihukum mati oleh sang Ratu Cassitovia.
Setelah tiba di aula istana yang berbeda gedung dengan kamarnya, Aland semakin takut melihat keberadaan Mey di tengah-tengah aula tengah tersenyum menatapnya. Senyuman yang entah kenapa membuat Aland terpesona dan takut di saat yang bersamaan. "Apa aku akan mati sekarang?"
Tatkala sampai di dekat Mey, Aland mendapati seorang pemuda dengan rambut dan mata berwarna serupa; ungu, tengah berdiri di samping gadis yang sudah berstatus menjadi istrinya itu.
"Dia membawa suami baru?"
Pertanyaan itu muncul dengan sendirinya di pikiran Aland dan entah kenapa sudut hatinya seolah berdenyut sakit.
"Kau tampak senang melihatku lagi, Pangeran." Mey berucap disertai kerlingan menggoda. "Sayang sekali kita tidak bersenang-senang di malam pertama," katanya. "Tapi tenang saja, kita akan bersenang-senang malam ini."
Aland merasa telinganya panas mendengar penuturan terakhir Mey. Pikirannya tidak bisa diam memikirkan kemungkinan yang akan terjadi nanti malam.
"Oh iya, aku lupa mengenalkanmu pada pemuda ini," ujar Mey. "Namanya Hans. Kalian bisa berteman untuk melakukan pemberontakan kepadaku."
Aland mengernyit. Tak mengerti dengan jalan berpikir Mey. Gadis itu benar-benar di luar nalar Aland. Perilaku dan perkataannya membuat Aland bingung sendiri.
"Yang Mulia, Anda melantur?" Hans bertanya sembari menatap Mey dengan sorot bingung.
Mey mengedikkan bahu. "Tidak juga," jawabnya. "Aku memiliki firasat bahwa kalian akan memberontak padaku. Jadi, lakukan saja. Tidak seru jika saat aku menjadi Ratu nanti, tidak ada satu pun kasus yang harus aku selesaikan."
Aland sedikit terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa ada seorang calon Ratu berpikir seperti itu? Biasanya, Raja atau Ratu pasti ingin rakyatnya sejahtera, tanpa melakukan pemberontakan. "Calon Ratu yang satu ini ... kenapa sedikit lain?" batin Aland.
"Natha, kau jelaskan saja semuanya pada Ratu. Aku akan pergi sebentar," celetuk Mey. Neonatha yang berdiri tak jauh darinya hanya mengangguk patuh. "Kau," Ia menatap Aland, "ikut aku."
Meski enggan, Aland akhirnya tetap mengikuti Mey keluar dari aula. Meninggalkan Hans, Neonatha dan Niccolas juga beberapa prajurit.
"Ayo masuk!" Mey mengajak Aland memasuki kamar pribadinya. "Kau duduk saja. Aku akan membersihkan diri terlebih dulu."
Sepeninggal Mey yang memasuki pintu lain di sana; sepertinya kamar mandi, Aland mengedarkan pandangannya ke sekitar. Kamar ini dua atau tiga kali lipat lebih mewah dari kamarnya. Mungkin karena Mey adalah Putri Mahkota dan sebentar lagi akan menjadi Ratu, jadi kamarnya dirancang lebih mewah dari ruangan lain.
Aland menghampiri sebuah rak di sudut ruangan. Bukan buku yang tertata rapi di sana, melainkan beberapa pedang dengan ukiran yang berbeda-beda di gagang dan sarungnya. Ia terpukau melihat semua itu. Di Zavandria, ia hanya memiliki sekitar 3 pedang, itu pun tidak memiliki ukiran di sudut mana pun; benar-benar polos. Ayahnya juga hanya memiliki 1 pedang, itu pula jarang digunakan, karena dia tidak mengikuti perang apa pun dan di mana pun.
"Hhh ... hidupku terlalu banyak berubah," gumam Aland, kemudian memilih duduk di tepi ranjang. "Jiwaku terguncang dengan semua hal yang terjadi."
Aland menoleh ke arah Mey yang sudah mengenakan gaun berwarna merah muda. Terlihat sangat anggun dan cocok dengannya. Aland sampai tidak bisa berpaling karena terpesona. "Cantik," pujinya dengan suara pelan.
Mey mendekat. "Ayo keluar!" ajaknya. "Aku tidak sempat sarapan di Serovin karena ingin segera pulang."
Aland mengikuti Mey di belakang tanpa mengucapkan apa pun. Pikirannya tertuju pada keanggunan Mey di saat tidak membawa pedang. Gadis itu seperti memiliki kepribadian ganda.
Tiba-tiba gadis itu berhenti berjalan dan berbalik menghadap Aland. Ekspresi datarnya membuat Aland sedikit mundur. Beberapa saat lalu, gadis itu terlihat biasa saja, tapi sekarang seperti monster yang siap menerkam kapan pun.
"Berjalan di sampingku," ucap Mey penuh penekanan. "Jangan berjalan di belakangku tanpa izin dariku."
Aland mengangguk kaku. Ia segera berpindah ke samping kiri Mey dan ekspresi Mey perlahan berubah; gadis itu tersenyum, lalu menggandeng tangan Aland. "Dia ... benar-benar aneh."
"Kau harus makan banyak sebelum menghabiskan waktu denganku nanti malam." Mey berucap seperti itu tatkala tiba di ruang makan dan duduk di salah satu kursinya. "Makanlah!"
Aland melirik Mey yang duduk di samping kanannya sekilas, lalu mulai memakan sarapan yang telah disediakan oleh pelayan. Pikirannya melayang, memikirkan hal apa yang sebenarnya akan dilakukan Mey hingga ia harus makan dengan banyak. "Apa aku akan dijadikan pakan hewan buas?"
Mey menoleh, lalu mengangguk singkat. "Kau sudah tau rupanya."
Seketika napas Aland tercekat. Ekspresi yang ditampilkan Mey terlihat sangat meyakinkan. Hingga Aland rasanya ingin kabur saja.
"Sebelum dia membunuhku, haruskah aku membunuhnya terlebih dulu?" tanya Aland dalam hati.
***