Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sore itu, langit mulai berubah menjadi jingga keunguan, membawa udara sejuk yang menyapa wajah Miska. Ia berjalan santai menuju toko kelontong langkahnya ringan dan tenang. Di tangannya ada tas kecil sederhana, berisi uang hasil keringatnya sendiri untuk membeli bahan makanan untuk makan sehari-hari. Tidak ada lagi rasa cemas atau takut saat berbelanja — dulu, setiap kali ia hendak membeli sesuatu, ia selalu harus memikirkan berapa yang akan dikeluarkan, apakah uang belanjaan cukup, apakah Askar atau Bu Surya akan mengeluh. Sekarang, semuanya berbeda. Ia bisa menentukan sendiri apa yang ia butuhkan, tanpa harus meminta izin pada siapa pun.
Sesampainya di tokoh, miska mulai memilih dan membeli apa saja yang dia butuh,setelah merasa cukup miska membayar lalu kembali pulang namun saat hendak melangkah keluar Miska menunduk sebentar untuk merapikan tali tas yang sedikit terurai. Tiba-tiba, ia menabrak seseorang yang baru saja hendak masuk dari toko itu. Tubuhnya terhuyung ke belakang, dan barang-barang yang baru saja ia beli sebungkus beras kecil, telur, sayuran, dan beberapa bungkus bumbu — jatuh berhamburan ke aspal.
"Ah, maaf! Saya nggak sengaja!" seru Miska kaget, wajahnya memerah karena malu. Ia segera berjongkok dan mulai memungut barang-barangnya satu per satu.
Pria yang ditabraknya itu berhenti, tidak langsung pergi. Ia menatap Miska yang sedang sibuk memungut barang, lalu suaranya terdengar lembut namun tegas. "Miska?"
Miska berhenti bergerak sejenak, lalu mendongak perlahan. Matanya membelalak sedikit saat menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. "Pak Arfan?"
Keduanya terdiam sesaat, saling mengenali wajah satu sama lain. Arfan — pria yang merupakan pemilik perusahaan tempat Askar bekerja, orang yang paling berpengaruh di sana, dan sosok yang dulu pernah ia temui secara tidak sengaja di lobi kantor Askar. Dan sekarang, mereka bertemu lagi di tempat yang sama sekali tidak terduga.
Tanpa banyak bicara, Arfan ikut berjongkok di samping Miska, membantu memungut barang-barang yang tergelincir jauh. Ia mengambil sebungkus telur, lalu menyerahkannya kepada Miska dengan hati-hati.
"Kamu sendirian ?" tanya Arfan pelan, matanya menatap Miska dengan tatapan yang tulus dan penuh perhatian, tanpa ada sedikit pun rasa kasihan atau merendahkan.
"Iya, Pak. Terima kasih" jawab Miska sambil menerima barang itu, tangannya sedikit gemetar karena terkejut. "Saya lagi belanja sedikit untuk makan sendiri. Maaf ya tadi, saya kurang memperhatikan jalan. Saya benar-benar minta maaf."
"Tidak apa-apa. Tidak perlu merasa bersalah," ucap Arfan lembut, lalu mengambil sisa barang yang masih ada di tanah dan menyatukannya dengan barang-barang milik Miska. "Kamu tinggal di sekitar sini?"
"Ya, tidak jauh dari sini, Pak," jawab Miska sambil mengumpulkan semua barangnya kembali ke dalam tas. Ia merasa sedikit canggung, namun di saat yang sama ada rasa tenang saat berbicara dengan pria ini. Arfan tidak pernah membuatnya merasa kecil atau tidak berharga, berbeda jauh dengan perlakuan yang dulu ia terima di rumah Askar.
Setelah semua barang terkumpul dan tersimpan rapi di dalam tas, Miska berdiri dan tersenyum tipis — senyum yang tulus, yang sudah lama tidak pernah ia tunjukkan di depan siapa pun sejak ia pergi dari rumah itu.
"Kalau begitu, saya pamit dulu ya, Pak. Terima kasih sudah membantu saya," ucapnya dengan sopan, kepalanya sedikit menunduk sebagai tanda hormat. "Bapak juga hati-hati ya."
Arfan mengangguk pelan, matanya masih menatap Miska sekilas. "Hati-hati juga, Miska. Jaga dirimu baik-baik."
Miska berbalik dan melangkah pergi, senyum tipis itu masih tersungging di wajahnya. Ia tidak tahu, bahwa dari kejauhan, ada sepasang mata yang memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan penuh kemarahan dan kecemburuan yang meluap-luap.
Di dalam mobil yang sedang melaju pelan tidak jauh dari sana, Askar sedang menyetir sambil sesekali melirik ke arah jendela. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sosok Miska yang berdiri di depan toko kelontong itu. Hatinya langsung berdebar kencang, bukan karena rindu, melainkan karena amarah yang seketika membakar dadanya. Ia melihat Miska tersenyum lebar kepada seorang pria yang membelakanginya — ia tidak tahu siapa pria itu, karena Arfan berdiri membelakangi jalan sehingga punggungnya menghadap ke arah mobil Askar. Yang Askar lihat hanyalah istrinya, wanita yang dulu selalu ia anggap lemah dan tidak berharga, kini berdiri tersenyum begitu manis dan hangat kepada laki-laki lain. Dan hal itu membuat harga dirinya terinjak-injak seketika.
Tanpa berpikir panjang, Askar langsung menghentikan mobilnya dengan kasar di pinggir jalan, bunyi rem yang tajam terdengar memecah kesunyian sore itu. Ia turun dari mobil dengan langkah lebar dan cepat, berjalan mendekati Miska yang baru saja hendak melangkah pergi.
"Miska!" bentaknya keras, suaranya terdengar penuh kemarahan.
Miska berhenti melangkah, tubuhnya sedikit menegang saat mendengar suara itu. Ia perlahan berbalik, dan melihat Askar berdiri tidak jauh darinya dengan wajah merah padam, mata melotot penuh amarah. Belum sempat Miska membuka mulut untuk menyapa atau bertanya apa yang terjadi, Askar sudah berada di depannya dan dengan kasar menarik pergelangan tangan kirinya hingga Miska hampir jatuh.
"Lepaskan, Askar! Kau menyakiti tanganku" seru Miska, berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman pria itu. Pergelangan tangannya terasa sakit karena dicengkeram terlalu kuat.
"Kamu ngapain di sini ! Tersenyum-senyum dengan pria lain, ngapain hah?!" tanyanya dengan nada tinggi, wajahnya semakin mendekat hingga Miska bisa mencium bau kemarahan yang memancar dari dirinya. "Siapa dia? Pria yang tadi itu? Sejak kapan kamu begitu akrab dengan laki-laki lain di belakang ku?!"
"Kamu ini bicara apa sih?! Itu kebetulan! Saya tidak berselingkuh!" Miska mulai meninggikan suaranya, menatap lurus ke mata Askar tanpa rasa takut sedikit pun. Dulu ia mungkin akan menunduk dan menangis saat dimarahi seperti ini, tapi sekarang — tidak lagi. Ia sudah bukan wanita yang sama.
"Kamu pikir aku bodoh?! Aku melihatnya sendiri dari mobil! Kamu tersenyum padanya begitu manis, begitu hangat! Padahal padaku, kamu selalu saja pelit senyum! Selalu saja wajahmu murung dan tidak bersemangat! Jadi itu sebabnya kamu pergi dari rumahku ya? Supaya bebas berkeliaran dan berselingkuh dengan siapa saja?!" makinya terus mengalir tanpa henti, setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh dengan tuduhan dan penghinaan yang tidak berdasar.
"Kamu tidak tahu apa-apa! Jangan menuduh sembarangan hanya karena kamu melihat sepotong kejadian! Itu hanya kebetulan! Saya menabraknya, barang saya jatuh, dia membantu memungutnya! Itu saja! Tidak ada yang lain!" Miska menjelaskan dengan tenang namun tegas, berusaha membuat pria itu mengerti, namun Askar terlalu buta oleh cemburu dan egonya sendiri untuk mendengarkan kebenaran.
"Kamu pasti berbohong! Wanita murahan seperti kamu memang begitu! Tidak bisa hidup tanpa laki-laki di sisimu!" kata-kata kasar itu keluar begitu saja dari mulut Askar, tanpa memikirkan betapa sakitnya kata-kata itu didengar.
Perdebatan itu berlangsung beberapa menit di pinggir jalan yang mulai sepi itu. Askar terus memaki, menuduh, dan menghina Miska, sementara Miska tetap berdiri tegak membela dirinya, tidak sekali pun ia menunduk atau menangis seperti dulu. Tangan Askar masih mencengkeram pergelangan tangan Miska dengan kuat, meninggalkan bekas merah yang jelas di kulitnya.
Tiba-tiba, sebuah mobil berwarna hitam yang mewah berhenti perlahan di samping mereka. Jendela sisi pengemudi terbuka perlahan, dan wajah Arfan muncul dari dalamnya. Ia menatap Askar dengan tatapan yang tajam namun tenang, tanpa sedikit pun terlihat terganggu atau takut.
"Askar," panggil Arfan, suaranya tidak terlalu keras namun terdengar berwibawa dan memerintah, membuat Askar seketika diam dan melepaskan tangan Miska secara refleks. "Ada rapat dadakan sekarang di kantor. Segera ke sana. Semua manajer sudah berkumpul. Jangan terlambat."
Askar tertegun, wajahnya seketika berubah pucat. Ia melupakan kemarahannya sesaat saat melihat siapa yang berbicara kepadanya. "Pak Arfan..." gumamnya pelan, penuh rasa hormat dan segan yang mendalam.
"Sekarang. Langsung ke kantor dan ke ruang rapat," ucap Arfan sekali lagi, tegas dan tidak bisa dibantah. Lalu, ia mengalihkan pandangannya ke arah Miska, menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan sebagai tanda salam.
Askar menatap Miska sekali lagi, tatapannya masih penuh dengan kecemburuan dan amarah yang belum tuntas, namun ia tidak berani menolak perintah Arfan. "Kita belum selesai. Aku akan mencari tahu kebenarannya, dan kalau kamu benar-benar berselingkuh, jangan harap aku akan membiarkanmu," desisnya pelan, lalu bergegas kembali ke mobilnya dan melaju pergi dengan kecepatan tinggi.
Miska berdiri sendirian di tepi jalan, memegang pergelangan tangannya yang memerah dan terasa sakit. Ia menatap mobil Arfan yang masih berhenti di situ, dan Arfan juga menatapnya sebentar melalui jendela mobil sebelum perlahan mengangguk dan melaju pergi meninggalkannya.
Hening kembali menyelimuti jalanan itu. Miska berdiri sendiri, napasnya sedikit terengah karena emosi yang baru saja ia tahan, namun hatinya tetap tenang. Ia tidak merasa bersalah. Ia tahu kebenarannya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak lagi takut pada kemarahan Askar. Karena ia sadar — kemarahan itu bukan karena cinta, melainkan karena ego yang terluka. Dan ego seperti itu, tidak pantas untuk ditakuti lagi.
Miska merapikan tasnya, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah pulang dengan kepala tegak. Sore itu, ia belajar satu hal baru — bahwa ia tidak perlu membuktikan kebenarannya pada orang yang hanya ingin melihat apa yang ia yakini sendiri.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪