Shu memutuskan untuk menjadi hikikomori setelah mendapat pernyataan cinta dari sahabat masa kecil nya yang bernama Luca, dan hanya menghabiskan waktu menonton anime 'Beyond Starlight'
Suatu hari ketika Shu sedang dalam masalah ia mendengar suara dari anime 'Beyond Starlight' dan itu menjadi awal ia bertemu degan Alexis.
Setelah beberapa saat Shu mencoba menjadi sosok yang lebih terbuka dan melihat indahnya dunia dari perspektif berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuuki Haru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Antara Rasa Bersalah
Merasa bahwa itu adalah hal yang bodoh dan tidak masuk akal, Shu mengabaikan pesan tersebut dengan menekan tombol close. namun tidak di sangka ada seseorang dari belakang memeluknya, yang sontak membuat ia berbalik.
"Lau kan yang waktu itu." Shu mengelus keningnya. "siapa ya, namamu? aku lupa ..."
"Ini aku Alex, tapi jika kau mau. bisa memanggil nama asliku, yaitu ..." kata-katanya terhenti ketika menatap layar monitor Shu, seakan-akan melihat sesuatu yang familiar. membuat ia mundur beberapa langkah ke belakang. "tempat itu... tidak mungkin..."
"Ada apa? kau terlihat sangat ketakutan... apa ada masalah?" Shu menepuk pundak Alex.
Tiba-tiba pesan dari GM lagi kali ini berisi 'semua pemain telah bergabung dalam grup chat, saatnya memulai permainan yang asli.'
Membaca pesan itu membuat Shu menjadi kebingungan, ia masih mengira bahwa itu adalah semacam prank yang dikirim secara random oleh orang ga jelas.
"Apa maksud dari semua player?" Shu menggaruk kepalanya.
Namun itu semua berubah ketika sebuah cahaya putih mulai menyinari seluruh area tersebut.
Di sana Shu menemukan dirinya kembali ke saat ia berusia 7 tahun, sedang asyik duduk bermain ayunan dengan bahagia. hingga ada seorang anak seumuran dirinya lewat di depannya yang terlihat membutuhkan bantuan, karena di ajarkan oleh orang tuanya untuk melakukan kebaikan di manapun ia berada. akhirnya Shu memutuskan untuk membantu anak itu.
"Jadi apa yang kau ingin aku lakukan padamu?" Shu melompat dari arah ayunan, dan berjalan menemui anak itu. "Jangan takut, aku tidak akan memakanmu."
"Aku Ryan Sinclair, aku ingin kau membantu mencarikan orang tuaku." ucapnya dengan sambil gemetaran.
"Aku adalah Shu dan kehebatan yang aku miliki ialah cukup hebat dalam mencari sesuatu, jadi serahkan saja semua ini kepadaku." Shu tersenyum dengan wajah polos, lalu mengandeng tangan Ryan.
Dengan gawai canggih yang di miliki oleh Shu, ia langsung bisa mendapatkan informasi tentang rumah Ryan, namun ada satu hal yang mengganjal pikiran.
"Seingatku tidak ada adegan ini di kehidupanku, apakah mungkin Alexis mengubah alur cerita dalam game yang ia mainkan? tapi dalam peringatan dikatakan bahwa ini hanya sebuah permainan." batin Shu ketika melihat dirinya di taman tak dikenali.
Namun lamunannya terhenti saat ia menyadari sesuatu, yaitu sekujur tubuh Ryan seperti sedang terluka parah, dan tampaknya itu adalah luka yang baru saja ia dapatkan. beberapa saat kemudian datang orang-orang dan berdiri di depan Ryan.
"Hey, aku belum selesai denganmu. kenapa kau kabur? jangan bilang kau akan memberitahukan pada orang tuamu, jika kita baru saja..."
"Diam, kalian manusia rendahan. beraninya sama anak kecil saja," Shu berkata dengan raut wajah penuh emosi dan marah.
"Apa mungkin kau juga ingin ikut bermain dengan kita?" orang itu mengeluarkan cambuk dan juga rantai.
"Kalian pikir dengan menunjukkan itu, akan membuatku takut ketika berhadapan dengan kalian." Shu menghela nafas panjang, dan dengan tekad. ia melemparkan satu pukulan ke arah orang-orang itu.
Namun orang-orang itu hanya tertawa sambil mengejek Shu karena di nilai sangat lemah,
"Hey bocah, kau bukan siapa siapa. tapi sudah bisa melawan kita? apa kau bercanda? pergi ke rumah, karena target kami bukan kau." ucap ketua gang tersebut.
Rntah kenapa tapi Shu terus memukul orang itu, walau ia tahu bahwa ia tidak akan bisa mengalahkan mereka. tapi itu tidak membuatnya berhenti, dan ketika ia berpikir untuk menyerah seketika teringat dengan pahlawan yang selalu ia idam-idamkan, yaitu 'Jeanne d'Arc'.
Semakin lama pandangan Shu menjadi kabur dan berbayang, ia juga melihat Ryan yang sedang bersama dengan orang-orang asing itu. dengan menggunakan sisa sisa kekuatannya Shu memegang tangan ketua gang tersebut,
"Jika aku jadi kau, lebih baik kau lepaskan tanganmu dari Ryan." Shu meremas tangan orang itu,
"Kau tidak memiliki hubungan khusus dengannya, kenapa begitu peduli? bocah menyingkir dariku." Orang itu melepaskan tangannya dari Ryan, lalu melemparkan Shu dengan mudah.
Lalu dengan angkuhnya ia tertawa, sambil memegang perutnya, dan orang itu juga memegang tangan Ryan dengan keras hingga berbunyi seperti tulang yang patah.
"Lau keterlaluan, apa kau tidak memiliki batas? bahkan iblis pun tak sejahat dirimu, teman-teman ayo kita pergi dari sini." orang-orang itu berbalik dan berniat pergi dari sana, namun ketua mereka sepertinya tidak mengizinkannya.
"Kalian memanggilku iblis seolah-olah kalian lebih baik dariku, bukankah ini ide yang kita dapatkan bersama? jangan bercanda." ia terlihat marah dengan perkataan dari teman-temannya.
Melihat bahwa orang-orang itu berkelahi satu sama lain, membuat Shu berpikir itu adalah kesempatan uang tepat untuk pergi dari sana. walaupun ia tidak dalam kondisi yang baik, namun ia tetap berusaha sambil melihat keadaan sebagai antisipasi terburuknya.
"Alex, ayo kita pergi dari sini. jika mau aku bisa langsung mengantarmu ke rumah, apa kau bisa berjalan?" Shu menatap dengan perasaan khawatir.
"Namaku Ryan, dan hanya tanganku yang terluka. jadi sepertinya aku bisa berjalan." Ryan mencoba menahan rasa sakit yang ia rasakan.
"Hanya tangan katanya, becandaannya garing. tapi dari yang aku lihat dia cukup ringan, apa aku bisa mengendongnya?" batin Shu.
Setelah berpikir panjang akhirnya Shu memutuskan untuk membantu hingga misinya selesai, ia lalu berdiri di samping Ryan dan berpikir cara apa yang akan ia lakukan.
"Aku minta maaf, aku tidak bisa banyak membantu, hanya ini saja." Shu mengendong Ryan dengan lembut.
Dan seperti dugaan Ryan itu sangat ringan seperti kapas bahkan dengan kondisi Shu yang terluka,
"Apa orang ini makan? atau dia makan angin saja? mungkin aku saja yang sering makan enak, tapi orang tuaku sering marah kalau aku sampai telat makan." batin Shu.
Dalam perjalanan panjang mereka akhirnya sampai juga ke tempat tujuan, di sana rumah itu terlihat sedikit lebih jelek. bahkan jika di bandingkan dengan rumah Alexis.
"Ini rumah, apa kandang ya? Mungkin lebih bagus kandang kali ya, bahkan kayunya seperti akan roboh kapanpun," Shu bergumam dalam hati. "tidak seperti di rumahku."
Seketika Shu terhenti, karena kata-kata yang ia lontarkan kepada Alexis sebelumnya membuat sakit hati. Saat ingin membuka pintu, tak disangka langsung hancur berkeping keping. dan itu membuat Shu merasa sangat bersalah.
"Alex, aku minta maaf soal pintu rumahmu." Shu menelan liurnya karena gugup. "jika ada waktu, aku akan..."
Tiba-tiba Shu seperti merasakan sensasi yang berbeda, ia lalu masuk ke dalam rumah itu. dan ketika berjalan bunyi kayunya menggema di seluruh area rumah tersebut.
"Melihat diriku dari jauh itu ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan, seperti sebuah mimpi." Shu melayang dan mendekati dirinya.
"Tidak semua itu menyenangkan, apa otakmu dipenuhi hal-hal yang baik." Alex menggelengkan kepalanya.
udah seperti polisi beneran.
soal kepercayaan, hanya hati yang dapat memilih.
🌹 untuk Shu agar semangat menjalani misi nya.
Selamat ya Shu. menjadi detektif Conan😁
semua orang pasti mau jadi anggota kepolisian Shu.