Namanya Gadis. Namun sifat dan tingkah lakunya yang bar-bar dan urakan sangat jauh berbeda dengan namanya yang jauh lebih menyerupai laki-laki. Hobinya berkelahi, balapan, main bola dan segala kegiatan yang biasa dilakukan oleh pria. Para pria pun takut berhadapan dengannya. Bahkan penjara adalah rumah keduanya.
Kelakuannya membuat orang tuanya pusing. Berbagai cara dilakukan oleh sang ayah agar sang putri kembali ke kodratnya sebagai gadis feminim dan anggun. Namun tidak ada satupun cara yang mempan.
Lalu bagaimanakah saat cinta hadir dalam hidupnya?
Akankah cinta itu mampu mengubah perilaku Gadis sesuai dengan keinginan orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11- Gadis Vs Genk Palak
HAPPY READING
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
"Lho pikir gue sama kayak mereka, yang bisa lho palakin seenaknya? Asal lho tau ya, gue udah enam tahun di sekolah ini nggak ada yang berani macam-macam. Lho genk baru aja belagu. Mau gue patahin tangan lho?!” Gadis memelintir tangan Jimy dengan lebih keras. Membuat pemuda itu menjerit lebih keras lagi.
“Lepasin nggak? Dasar cewek bar-bar!” teriak Jimy yang sepertinya sudah tidak tahan lagi. Namun, dia masih tetap memasang sikap angkuh dan sombongnya sekalipun sudah sangat kesakitan.
Gadis melepaskan dan mendorong pemuda itu hingga terhuyung. Ketiga temannya dengan sigap menangkapnya.
“Bro, ternyata ada juga yang bisa ngelawan kita. Gue pikir, semua anak disini cuma tikus-tikus yang nggak bisa apa-apa.” Ando mulai menatap Gadis dengan takut. Mulai menyadari bahwa gadis itu bukan curut yang bisa mereka remehkan seenaknya.
“Nggak usah banyak omong, sekarang juga balikin tuh duit ke orangnya masing-masing, sebelum gue patahin leher lho.” ancam Gadis.
“Lho ngancam kita? Lho pikir gue sama teman-teman gue takut? Baru punya kemampuan segitu aja udah berasa paling hebat,” ucap Jimy sinis dan marah, masih berusaha mempertahankan egonya agar tidak semakin malu didepan para siswa.
“Terus sekarang mau lho apa? Lho mau kita bertarung?” tantang Gadis.
“Emang lho berani, ngelawan gue dan ketiga teman gue ini?”
Pertanyaan Jimy membuat Gadis memalingkan wajah sambil tersenyum sinis.
“Lho pikir gue takut, ngadepin kecoak-kecoak macam lho pada?”
“Wah, Bro, benar-benar nantangin, nih.” Heri geleng-geleng kepala melihat gadis itu.
“Nih anak belum tau siapa gue,” ucap Jimy geram. Dia mengambil ancang-ancang untuk menyerang Gadis yang juga mulai bersiap-siap untuk menghadapi serangannya.
Namun, bel yang mengartikan jam pelajaran akan dimulai berbunyi.
“Pakek bel lagi,” sungut Gadis yang belum puas dengan perseteruan mereka.
Padahal, tangannya sudah sangat gatal ingin bertarung dengan keempat pemuda sok jagoan ini. Namun, bunyi bel sialan itu malah mengganggu kesenangannya!
“Selamat lho ya, kali ini.” Jimy menunjuk wajah Gadis. Dia mengira Gadis takut dan merasa terselamatkan karena bunyi bel.
Gadis kembali menyunggingkan senyum sinis mendengar ucapan pria itu.
“Nggak salah? Ada juga lho dan kecoak-kecoak lho ini yang selamat dari gue. Kalau nggak, udah gue jadiin rempeyek lho disini.” Gadis menunjuk wajah mereka satu persatu.
“Terus lho mau apa? Lho serius mau nantangin kita?”
“Emang muka gue ada tampang bercanda? Gini aja, pulang sekolah nanti kita kumpul dilapangan. Kalau lho sama geng lho ini kalah, kalian harus minta maaf sama mereka semua, dan balikin juga semua duit yang udah selama dua minggu ini lho palakin dari mereka.”
Jimy terdiam dan tampak sedang berpikir. Begitu juga dengan ketiga temannya yang saling beradu pandang. Mereka tampak ragu.
“Berani nggak lho?” seru Gadis melihat keempat pria resek itu yang tidak kunjung menjawab tantangannya.
“Oke, siapa takut? Tapi kalau lho yang kalah, lho harus jadi pelayan gue sama teman-teman gue selama sebulan. Dan, selama itu juga semua uang jajan lho harus jadi milik gue. Gimana?” tantang Jimy balik.
Gadis tersenyum puas. Tantangan pria itu semakin membangkitkan semangatnya.
“Dengan senang hati. Nggak sia-sia hari ini gue masuk sekolah. Daripada bosan tawuran dan balapan lagi nggak musim. Gue tunggu ya. Awas kalau sampai lho berempat nggak datang.”
🌻🌻🌻🌻🌻
Sesuai dengan kesepakatan, mereka semua berkumpul di lapangan basket belakang sekolah begitu sekolah bubar dan para guru pulang. Ratusan murid berkumpul disana, saling bertepuk tangan dan bersorak menyemangati Gadis yang bertarung melawan Jimy dan genknya yang berjumlah empat orang.
Setelah beberapa saat saling baku hantam, Jimy berhasil meninju wajah Gadis hingga jatuh tersungkur keatas lapangan.
“Cuma segitu doang, kemampuan lho?” Jimy tersenyum mengejek.
“Kayaknya nih cewek bakalan jadi perkedel, Bro ditangan kita,” timpal Nathan.
“Makanya, jangan sok jagoan jadi cewek,” ejek Jimy yang berpikir Gadis sudah kalah ditangan mereka. Padahal, serangannya belum apa-apa bagi Gadis yang sudah terbiasa menghadapi pertarungan yang lebih keras lagi.
Dengan jari jempolnya, Gadis mengusap darah yang keluar dari sela bibirnya sambil menyunggingkan senyum miring. Pukulan dan luka itu semakin membangkitkan semangatnya.
Sedangkan para murid yang menjadi penonton mulai merasa cemas, takut Gadis akan kalah dan mereka harus tetap menghadapi perundungan dari genk itu.
Jimy yang berpikir telah menenangkan pertarungan itu dengan sombongnya mengangkat kakinya untuk menendang Gadis. Namun, Gadis menangkap dan mengangkat kaki pemuda itu, lalu mendorongnya hingga Jimy terjungkal diatas lantai lapangan.
Jimy merintih kesakitan akibat punggungnya yang menghantam lantai. Ketiga temannya berusaha membantunya untuk bangkit.
Dengan penuh kemarahan, mereka kembali menyerang Gadis yang bangkit dan melanjutkan pertarungan. Dia menyerang keempat pemuda itu dengan membabi buta, hingga akhirnya mereka semua terjungkal kebelakang dengan wajah babak belur.
PROK PROK PROK
“Yeayy! Hidup Gadis!”
Semua siswa kembali bertepuk tangan dan bersorak gembira karena kemenangan Gadis, adalah kemerdekaan bagi mereka.
“Sekarang, cepatan lho berempat balikin duit mereka semua! Cepatan!” titah Gadis dengan suara lantang sambil berkacak pinggang.
“Tapi—” Jimy tampak ragu untuk menjawab. Dia dan ketiga temannya tampak meringis menahan sakit.
“Tapi apa? Lho jangan coba-coba bodohin gue ya. Sesuai kesepakatan, lho berempat udah kalah. Jadi, kalian harus nurutin semua kemauan gue. Mau lho gue hajar lagi?” Gadis mengancam dengan mengarahkan tinjunya kewajah mereka.
“Uangnya udah habis kita pakai buat foya-foya,” jawab Timo mewakili ketiga temannya sambil memalingkan wajahnya karena takut melihat kepalan tangan Gadis.
“Gila lho ya. Duit orang lho pakek buat senang-senang. Kalau mau duit, kerja, atau nggak minta sama sama mak bapak lho. Pokoknya gue nggak mau tau, lho harus balikin duit mereka semua dalam waktu satu minggu. Atau nggak, siap-siap aja lho gue laporin ke kepala sekolah tentang kelakuan genk lho selama ini.”
“Jangan dong. Kalau orang tua kita tau, bisa habis kita diomelin,” pinta Jimy dengan wajah memelas. Wajah sangar yang selama ini berhasil membuat para siswa SMA itu tunduk dan tidak berdaya, kini sudah tidak ada lagi, berganti dengan wajah memelas dan ketakutan.
“Makanya, kalau nggak mau diomelin jangan banyak tingkah!” bentak Gadis.
“Oke, kita janji akan kembaliin semua uang itu. Tapi please, jangan sampai kepsek atau orang tua kita tau,” tawar Jimy.
“Oke, gue setuju. Ingat ya, satu minggu. Awas kalau lho bohong.” Gadis yang masih memasang wajah garangnya, mengacungkan jari telunjuknya kedepan mereka satu persatu.
Mereka semua mengangguk dengan ekspresi yang masih ketakutan.
Gadis beralih menatap teman-temannya yang selama ini menjadi korban bullyan genk yang telah kao ditangannya.
“Sekarang, kalian bikin list. Catat berapa banyak uang kalian yang udah habis sama mereka,” titahnya yang melirik keempat pemuda itu diakhir kalimatnya.
“Oke, Dis, thanks.”
BERSAMBUNG