"Umur Ruby tuh udah 25 tahun, Masko. Kalau Ruby sampai gak dapet-dapet jodoh…” ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Miko, “masko aja deh yang jadi suami Ruby!” Miko yang sedang menyeruput iced americano langsung tersedak dan tanpa sengaja menyemburkannya ke wajah Ruby. “MASKOOO!!!” teriak Ruby murka seketika, lalu memukul-mukul tubuh Miko bertubi-tubi. Miko justru terbahak sambil berusaha menangkis pukulannya. “Sorry! Sorry! Sengaja!” Iya, Ruby tahu! Ruby bukan tipe masko!” sungut Ruby kesal. Miko hanya terkekeh, lalu meraih tisu dan mengelap wajah Ruby dengan santai, seolah tak terjadi apa-apa. Ruby tidak tahu saja kalau, Miko itu justru telah menyukai Ruby sejak mereka masih kecil. Ruby selalu ada, menjadi saksi paling setia atas keterpurukan Miko, terutama di masa-masa setelah ia mengetahui bahwa perempuan yang selama ini ia panggil Mama ternyata bukan ibu kandungnya. Sejak itu, Miko seperti kehilangan pijakan. Ada amarah di dalam dirinya, tapi ia tak tahu harus menujukannya ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenaya_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Miko tiba di rumah sakit sekitar pukul enam pagi. Dengan langkah pasti ia langsung berjalan melewati lobi menuju area ruang ICU. Saatdalam perjalanan tadi, Ruby mengabarkan kalau papinya kini berada di ruang ICU setelah di tangani IGD dini hari tadi.
Pintu penghubung ke area ICU kini tinggal berjarak beberapa langkah. Langkah Miko refleks melambat sesaat, sebelum akhirnya ia memaksakan diri melanjutkan. Dadanya mulai terasa berat, tapi kakinya terus bergerak.
Hingga akhirnya tubuh Miko mulai memberontak.
Dadanya semakin sesak. Napasnya pendek-pendek, seperti ada tangan tak kasatmata yang mencekik tenggorokannya. Langkahnya melambat, lalu goyah. Pandangannya berkunang-kunang. Kupingnya berdenging hebat. Suara sekitar menghilang, tergantikan dengung tajam yang menusuk kepala.
Pandangan Miko mengabur.
Lantai rumah sakit itu berubah. Bau antiseptik mendadak terasa terlalu familiar. Terlalu nyata.
“Kami sudah melakukan yang terbaik.”
Suara dokter itu muncul begitu saja di kepalanya. Datar. Profesional. Tanpa emosi.
Napas Miko tercekat.
“Mohon maaf...bu Mira dinyatakan henti jantung pukul 10.50.”
Tidak.
Bukan sekarang.
Bukan lagi.
Namun tubuhnya tidak mendengar penolakannya.
Suara lain menyusul lebih keras, lebih menghantam. Raungan ayahnya. Parau. Hancur. Seperti binatang terluka.
Gambar itu kemudian datang tanpa izin.
Tubuh Mamanya.
Terbaring kaku di ranjang ICU.
Kulitnya pucat. Dingin.
Selang-selang itu. Mesin monitor yang tak bernada, hanya bunyi satu garis lurus.
Dada Miko terasa seperti diremas dari dalam. Napasnya terputus-putus, pendek, panik. Tangannya gemetar hebat. Kakinya tak lagi sanggup menopang tubuh.
“Tidak… tidak… tidak…” gumamnya lirih, tapi suaranya tenggelam di antara ingatan yang menelan segalanya.
Ia terhuyung.
Dunia berputar.
Tangannya meraih apa saja, kosong, sampai akhirnya seseorang menangkap lengannya sebelum ia jatuh. Namun sentuhan itu justru membuat tubuhnya makin tegang.
“Mas? Mas, nggak apa-apa?” suara asing itu terdengar jauh, seolah berasal dari ujung lorong panjang.
Miko tak bisa menjawab.
Kupingnya masih berdenging. Napasnya tersendat. Air mata menggenang tanpa ia sadari.
Ia menekan dadanya kuat-kuat, seperti mencoba memastikan jantungnya masih berdetak. Seperti mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini sekarang, bukan saat itu. Bukan Mama. Bukan kehilangan itu lagi.
Akhirnya, dengan sisa tenaga, ia menggeleng lemah.
“Duduk…” bisiknya serak. “Tolong… saya cuma perlu duduk.”
Ia didudukkan di kursi. Tubuhnya gemetar hebat, seperti baru saja lolos dari kecelakaan.
Perlahan, dengan sangat perlahan dengung di telinganya mereda. Ingatan itu surut, meninggalkan sisa perih yang familiar.
Miko menunduk, menarik napas panjang yang terasa menyakitkan di paru-parunya.
*
Entah sudah berapa lama Miko duduk di bangku itu, berusaha menenangkan diri. Napasnya masih belum sepenuhnya teratur, dadanya terasa berat, pikirannya berkabut.
Hingga sebuah suara memanggilnya.
“Miko?”
Ia menoleh pelan.
Di hadapannya berdiri Pandu—sepupunya. Anak dari Bimo, sepupu Bagas, ayahnya. Wajah yang seharusnya familiar, tapi terasa asing di kepalanya yang sedang tak sepenuhnya hadir.
Pandu langsung menghampiri.
“Lo ngapain duduk di sini? Kok nggak langsung masuk?” tanyanya heran.
Miko hanya menatapnya datar. Kata-kata terasa terlalu berat untuk dirangkai. Kepalanya masih pening, dunia seolah bergerak terlalu cepat. Ia sendiri tak menyangka serangan panik itu datang sedahsyat ini.
Pandu mengamati raut wajah Miko beberapa detik lebih lama. Kebingungan jelas tergambar, lalu berganti dengan kekhawatiran yang ia coba sembunyikan.
“Ya udah,” katanya akhirnya, menurunkan nada suara. “Masuk bareng gue aja.”
Miko mengangguk lemah. Ia berdiri dengan bantuan kecil dari tekad, bukan tenaga. Pandangannya masih tidak fokus, langkahnya goyah.
Baru satu langkah—
Bruk.
Tubuh Miko ambruk ke lantai.
“Miko!” teriak Pandu panik.
Miko tidak sepenuhnya pingsan. Ia masih bisa menangkap potongan suara, bayangan Pandu yang berlutut di sampingnya, dan kepanikan yang mengeras di udara. Namun semuanya terdengar jauh, seperti terbungkus dinding tebal.
Dengung kembali memenuhi telinganya, menusuk dan menelan segalanya.
Lalu gelap.
*
“Miko…”
Suara itu lembut, mengayun pelan di telinganya.
Suara Mamanya.
“Miko…”
Suara itu terdengar lagi, membuat kelopak matanya bergerak pelan. Ia mengerjap beberapa kali, seolah berat sekali untuk kembali ke dunia nyata.
“Mama…” gumamnya lemah.
Namun ketika matanya akhirnya terbuka sepenuhnya, sosok yang ia lihat bukanlah Mamanya—melainkan Ruby.
“Masko…? Mas…?” suara Ruby terdengar cemas, nyaris berbisik.
Tanpa menunggu respons, Ruby segera menekan bel pemanggil perawat.
Tak lama kemudian, seorang perawat masuk, memeriksa tanda-tanda vital Miko, lalu berkata bahwa ia akan segera mengabari dokter untuk melakukan visit.
“By…” suara Miko serak. Ia menoleh ke kiri dan kanan, lalu matanya berhenti pada cairan infus yang menancap di tangannya. Napasnya tertahan.
“Ini di mana? Aku di mana?” suaranya bergetar. “Mama mana? Tadi aku dengar suara Mama. Mama sudah sadar, By?”
Ruby yang duduk di sisi ranjang segera meraih tangan Miko dan menggenggamnya erat. Tatapannya penuh iba.
“Mas…” suaranya pelan, hati-hati. “Masko tadi pingsan di dekat pintu masuk area ICU. Nggak ada Mama, Mas.”
Ia menarik napas sebelum melanjutkan, lebih lirih.
“Sekarang sudah lima tahun sejak kepergian Mama Mira. Kenapa? Datang ke ICU, bikin Masko inget Mama Mira, ya?”
Miko memejamkan mata.
Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan dadanya yang kembali diserbu badai duka. Bibirnya bergetar, menahan tangis yang tiba-tiba datang tanpa permisi.
Beberapa detik berlalu dalam sunyi.
Lalu kesadaran lain muncul perlahan. Ia ke rumah sakit ini kan untuk menemani Ruby karena Papinya masuk ICU akibat seragan jantung.
Miko membuka mata lagi.
“Om Tony gimana?” tanyanya pelan.
“Masih belum ada kemajuan,” jawab Ruby jujur. “Masih di ICU. Ada Mami sama Mas Pandu di sana.”
Miko mengangguk pelan.
“Iya… Mas inget sekarang,” gumamnya. “Tadi Mas ketemu Mas Pandu. Kita mau masuk ke area ICU…”
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan lirih,
“terus tiba-tiba semuanya gelap.”
Ruby hanya tersenyum kecil, mencoba menenangkan.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Seorang dokter masuk.
“Selamat malam, Pak. Bu.”
“Malam, Dok,” sahut Ruby.
“Malam?” Miko menoleh ke Ruby. “Ini sudah malam?”
Ruby mengangguk. “Iya, Mas. Mas pingsan cukup lama.”
Dokter mendekat, mulai memeriksa detak jantung Miko.
“Bagaimana kondisinya sekarang, Pak Miko? Masih terasa sesak atau pusing?”
“Sesak sudah enggak, Dok. Pusing masih sedikit,” jawab Miko jujur. “Saya kenapa, ya, Dok?”
Dokter tersenyum tipis, lalu memeriksa refleks mata Miko dengan senter kecil. Setelah selesai, ia menyimpan kembali alat itu dan menghela napas ringan.
“Secara fisik, kondisi Pak Miko sudah membaik. Hasil lab juga semuanya normal,” jelasnya. “Boleh saya tahu, apa yang Anda rasakan sebelum pingsan?”
Miko terdiam.
Bukan karena lupa, ia ingat dengan sangat jelas. Napas yang tiba-tiba sesak, kepala yang berdenyut, suara-suara masa lalu yang menyerbu tanpa ampun. Namun ia tidak ingin menceritakan itu. Tidak sekarang. Bahkan pada dirinya sendiri, ia belum sepenuhnya mengerti.
“Saya cuma merasa sesak dan pusing saja, Dok,” akhirnya ia berkata. “Mungkin karena kurang tidur dan kecapekan. Saya jalan dari Bandung sekitar jam dua pagi.”
Dokter mengangguk pelan.
“Baik. Bisa jadi karena faktor kelelahan.”
Miko tersenyum tipis.
“Kita observasi sampai malam ini, ya, Pak Miko. Kalau stabil, besok pagi sudah bisa pulang.”
“Baik, Dok,” jawab Miko.
“Kalau begitu saya pamit,” ujar dokter sambil menoleh ke Ruby.
“Terima kasih, Dok,” kata Ruby.
“Sama-sama.”
Dokter pun keluar.
Ruby menghela napas panjang, lalu duduk kembali di sisi ranjang. Ia menatap Miko dengan senyum lembut, merapikan rambut Miko yang menutupi dahinya gerakan kecil yang terasa sangat menenangkan.
Miko membalas senyum itu.
Namun jauh di dalam dadanya, masih tersisa riak-riak gelisah. Potongan ingatan menyakitkan dari pagi tadi belum sepenuhnya reda. Ia tahu, meski tubuhnya sudah terbaring aman di ranjang rumah sakit, pikirannya masih terjebak di lorong-lorong masa lalu yang belum selesai.
hhhh🫠🫠
kebayang sakit nya Ruby jika itu terjadi.. mencintai dlm diam..😢