Merantau selama enam tahun di Kalimantan sebagai operator buldoser besar dan ekskavator pengeruk nikel—itulah profesi tangguh seorang Tara Pratiwi. Selama itu pula, ia bekerja keras menjadi "pesuruh" andalan bagi bos-bos asing bermata sipit di area pertambangan.
Tara pikir, saat ia pulang kampung nanti, semuanya akan tetap sama seperti saat ia tinggalkan dulu. Oh, tentu saja dugaan itu salah besar! Rupa-rupanya, kompleks perumahan tempat tinggal kedua orang tuanya kini sudah sangat padat, berimpitan dengan tetangga-tetangga baru di sisi kanan dan kiri rumah.
Hingga akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Cakrawala—seorang duda cerai mati dengan satu anak laki-laki super bandel yang siap mengusili hari-hari tenang Tara.
Tara mengacak rambutnya frustrasi. "Haduh, pusing, pusing! Alamat aku pergi nunggang ekskavator lagi ini mah kalau begini caranya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Sama-sama Dewasa
"Kayanya aku ndak jadi ikut." Tutur Tara pelan. Wanita itu menunduk, menatap roda motornya yang kempes.
Cakra melihat pada Tara dengan raut wajah penuh perhatian. "Kenapa?" Tanyanya, rendah dan lembut.
"Motorku ndak bisa di pake." Ucap Tara pasrah.
"Terus! Mbak mau gimana?" Tanya Cakra mencoba menggali keinginan wanita di depannya.
Tara mendongak menatap wajah tampan Cakra yang berada begitu dekat darinya. "Di rumah saja lah." Jawabnya singkat.
Cakra memandang wajah cantik itu, mencoba meyakinkannya. "Kalau gitu pergi bareng saya saja." Ajak Cakra.
Tara kembali mendongak, menatap Cakra dengan ragu.
"Sudah ganti baju, sudah dandan cantik, sudah wangi... kalau ndak jadi jalan pasti kurang nyaman. Nanti Moodnya Turun." Ucap Cakra, seolah tau isi hati Tara yang sebenarnya sudah bersiap rapi.
Tara terdiam... wanita itu melangkah pelan menuju kursi panjang tak jauh dari situ. Tara mendudukkan dirinya untuk menetralkan rasa kecewanya. Cakra pun menyusul. Pria itu ikut duduk di sampingnya.
"Perasaan bannya baru ganti, kok bisa Bocor ya?" Tanya Tara heran, memandangi motornya dari kejauhan.
Cakra ikut memperhatikan motor Tara. Pria itu melipat bibirnya bingung juga harus ngomong apa untuk menenangkan.
"Mas kalau mau kepasar malam pergi saja! Tapi kasitau ibukku aku ndak jadi pergi... motorku bannya bocor." Ucap Tara menoleh, menumpu kepalanya melihat ke arah Cakra dengan tatapan melas.
Cakra melirik pada Tara, pria itu tak tahan untuk tidak memandang Wajah Tara yang terlihat begitu manis dari jarak sedekat ini.
"Mbak! Kamu cantik banget sih?" Ujar pria itu jujur, tanpa ada filter lagi.
Perkataan tiba-tiba itu membuat Tara bingung sekaligus kaget. Seketika pipinya bersemu merah... Tara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Mas Cakra ini..." sahutnya sewot, menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang luar biasa.
Cakra menegakkan badannya, memandang wajah Tara yang salah tingkah di hadapannya.
"Bareng sama saya perginya mbak! Tara!" Ucap pria itu, memberanikan diri menyebut nama Tara, setelah kata Mbak.
Tara menoleh. Matanya memandang mata Cakra yang juga menatapnya lekat.
Tiba-tiba godaan setan datang lebih cepat dari perkiraan. Di bawah remang lampu garasi, Tara terpaku pada bibir seksi milik Cakra. Dan Cakra, pria itu memandang dalam Bibir Tara.
Tanpa dikomando, keduanya perlahan mendekat, seperti tertarik oleh magnet yang sangat kuat. Cakra sadar, tapi entah kenapa rasa ingin mencium Tara lebih besar...
Tara memejamkan matanya saat wajah Cakra tinggal beberapa senti. Sampai, sebuah benda kenyal yang hangat menempel dalam pada bibirnya.
Cup'
Yang ditunggu terjadi... Cakra mengecup Bibir Tara.
Seketika seperti ada ledakan besar yang bergema dari dada keduanya. Tak tahan dengan kecupan singkat, Cakra memberanikan diri membuka bibirnya, lalu mencoba menyesap bibir Tara.
Tara pun, diikuti insting mencoba membalas... walaupun patah-patah, dan tak sejago si duda... ciuman itu seolah memantik hasrat Cakra yang sekian tahun tersimpan rapat.
Tangan keduanya mulai berani saling menumpu, mengelus, dan hinggap dimana saja. Tara mengulurkan tangannya mengusap bahu Cakra yang terasa tegap. Dan tangan kekar Cakra tak tinggal diam untuk menahan dan mengelus tengkuk mulus Tara.
Sampai, keduanya mulai merasa sama-sama kehabisan nafas. Perlahan mereka melepaskan pagutan itu. Napas mereka memburu di udara malam yang dingin.
Cakra membingkai wajah Tara dengan kedua tangannya, menyatukan dahi keduanya menjadi satu.
Tara sadar, ini semua salah! Ini seharusnya tidak terjadi. Seumur hidupnya... dia sangat jauh dari kata sentuh-menyentuh... apalagi sampai ciuman, sama Gion dulu pun dia tidak pernah berani ciuman. Tapi dengan Cakra, pria berusia 36 tahun ini begitu mudah menggodanya.
'Mau di apa? Kitakan Sudah sama-sama Dewasa' Batin Tara Berkata pasrah.
Tolong diingat, ini ciuman pertama bagi Tara, dan pengalaman mendebarkan seumur hidupnya.
Cakra mengatur nafasnya yang memburu. Pria itu menjauhkan dahinya dari wajah Tara.
"Maaf Tar! Saya kelewatan." Ucap pria itu menyesal dengan nada serak.
Tara menatap wajah Cakra, dia terdiam bingung harus bilang apa?.....
"Kamu marah? Kamu mau pukul saya, pukul saja." Ujar pria itu lemah lembut, seolah pasrah sudah dengan amukan Tara.
'Mas! Ini yang pertama buatku....' batinnya menjerit memendam rahasia.
Didera penasaran yang mendalam, wanita berumur 26 tahun itu merangsak maju, memberanikan diri mengecup bibir Cakra. Terkesan murahan, tapi keduanya sama-sama menginginkan. Belenggu hasrat yang tertahan bertahun-tahun, bagi keduanya kini meledak.
Mereka sadar ini salah, tapi... Dosa memang seenak itu, sampai membuat lupa anak manusia.
sukses slalu y 🫶🫶🫶