Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.
Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.
Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.
Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.
Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.
Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Kedua Di Verion Group
Pukul delapan pagi, Zevanna kembali bekerja di Verion Group.
Ia sudah mulai terbiasa dengan suasana kantor dan pekerjaannya sebagai staf administrasi.
"Zevanna, ini ada beberapa dokumen. Tolong kamu periksa ini ya." Kata Elsa memberikan dokumen kepada Zevanna.
"Baik, Mbak Elsa." Ucap Zevanna mengangguk dan mengerjakannya.
Tetapi pikirannya masih tertuju pada percakapan dengan Gista kemarin.
Zoyya disebut mengundurkan diri.
Padahal Zevanna yakin kakaknya tidak pernah mengatakan ingin resign.
Saat suasana kantor mulai sepi.
Zevanna menoleh ke samping. "Mbak Gista."
Gista meliriknya dan mengerutkan keningnya. "Iya kenapa, Zev?"
"Mbak, Gista, waktu itu Mbak bilang Mbak Zoyya mengundurkan diri, kan?" Tanya Zevanna.
Gista mengangguk. "Iya."
"Mbak masih ingat kira-kira kapan dia berhenti?" Kata Zevanna.
Gista mencoba mengingat. "Kalau nggak salah... Sekitar beberapa bulan sebelum dia benar-benar nggak ada kabarnya."
Zevanna langsung terdiam. Jawaban tersebut membuatnya semakin bingung.
Beberapa bulan?
Gista memperhatikan Zevanna dan menggoyangkan tangannya di depan wajahnya.
"Mbak, Zevanna?"
Zevanna tersentak. "Eh? Iya ada apa?"
"Kamu kenapa? Kok tiba-tiba diem?" Tanya Gista.
Zevanna langsung menggeleng. "Nggak papa kok. Mbak."
Gista mengangguk. "Jangan banyakan ngelamun, Mbak. Nanti di marahin sama CEO."
Zevanna yang mendengar nama CEO. Jadi teringat wajah pria itu lalu ia mendengus kecil.
"Iya, Mbak. Makasih ya." Ucap Zevanna.
"Iya sama-sama, Mbak." Gista kembali kerja.
Zevanna menoleh ke samping kiri. "Mbak."
Fika—karyawan senior—menoleh. "Ya ada apa?"
"Aku mau tanya, Mbak! Mbak Fika ingat sama Mbak Zoyya kah?" Tanya Zevanna.
Fika mengangguk. "Iya ingat, emang kenapa?"
"Mbak Zoyya orangnya seperti apa, Mbak?"
"Menurut aku, Mbak Zoyya itu orangnya cukup teliti dalam menangani dokumen." Kata Fika.
"Kalau boleh tau, kenapa Mbak Zoyya mengundurkan diri?" Tanya Zevanna lagi.
Fika sedikit tersentak mendengar pertanyaan itu. "Aku kurang tau. Waktu itu aku juga nggak terlalu memperhatikan."
Zevanna mengernyitkan dahinya dan mengangguk. "Oh gitu ya, Mbak. Makasih ya. Maaf udah ganggu, Mbak."
Fika tersenyum. "Nggak papa kok, tapi kenapa nanya soal itu?"
Zevanna terdiam sejenak sebelum menjawab. "Aku cuma nanya aja, Mbak. Kenapa ada karyawan yang mengundurkan diri gitu, aku kan baru disini."
"Oh iya ya. Kamu lulus SMA ya?" Tanya Fika.
Zevanna mengangguk. "Iya, Mbak."
"Lulusan SMA udah pinter menginput data ya?!" Kata Fika.
Zevanna cuma tersenyum kecil. "Aku masih belajar, Mbak. Belum terlalu mahir!"
Saat sedang mengobrol. Elsa datang kemudian memberikan tugas baru kepada Zevanna.
"Zevanna, ini ada tugas baru. Tolong rapikan beberapa arsip proyek lama, ya." Kata Elsa.
"Kok saya, Mbak?" Tanya Zevanna bingung.
"Iya, kamu. Dokumen tersebut memang sedang diperbarui karena perusahaan sedang melakukan pengecekan arsip lama." Jawab Elsa.
Zevanna mengangguk. "Baik, Mbak. Saya kerjakan."
Elsa tersenyum tipis. "Makasih, Mbak Zevanna. Saya permisi dulu."
Lalu Elsa pergi meninggalkan Zevanna.
Zevanna menghela napasnya. "Ck, kerjaan lagi."
Zevanna menatap komputernya, saat memeriksa arsip. Ia kembali menemukan nama Zoyya.
Kali ini nama kakaknya tercantum sebagai sekretaris yang menangani salah satu proyek lama.
Zevanna mengerutkan dahinya saat melihat nama tersebut.
Zoyya Fiorellia Oliver.
Nama itu tercantum jelas di salah satu dokumen lama perusahaan.
"Ini beneran Kak Zoyya..." Gumam Zevanna pelan.
Ia mengambil dokumen tersebut dan membacanya dengan teliti.
Di dalamnya terdapat beberapa informasi mengenai proyek yang pernah ditangani oleh Zoyya.
Zevanna menggeser pandangannya ke bagian bawah dokumen.
Matanya berhenti pada sebuah tanggal.
15 September 2023
Zevanna terdiam.
Tanggal itu terasa tidak asing baginya.
Ia mencoba mengingat kembali kejadian beberapa bulan sebelumnya.
"Ini kan... nggak jauh dari waktu terakhir Kak Zoyya masih sering pulang ke rumah." Batin Zevanna.
Zevanna kembali membaca dokumen tersebut.
Nama Zoyya tercantum sebagai sekretaris yang menangani beberapa keperluan administrasi proyek.
"Berarti Kak Zoyya masih kerja di sini waktu itu?" Ia mengerutkan dahinya.
Bukannya Gista bilang Zoyya mengundurkan diri?
Zevanna menggigit bibir bawahnya, lalu kembali melihat tanggal pada dokumen tersebut.
"Kalau Kak Zoyya udah resign, kenapa nama dia masih ada di dokumen ini?"
Zevanna terdiam sejenak.
Namun ia segera menggelengkan kepalanya.
"Ah, mungkin aja dokumennya belum diperbarui."
Ia mencoba berpikir positif dan tidak langsung mengambil kesimpulan.
Zevanna kemudian memasukkan dokumen tersebut kembali ke dalam map.
Namun sebelum menutupnya, matanya kembali tertuju pada nama Zoyya.
Ada rasa penasaran yang mulai muncul di dalam dirinya.
Kalau memang Kak Zoyya mengundurkan diri, sebenarnya kapan dia berhenti bekerja di sini?
Zevanna menghela napas pelan. "Kayaknya gue harus cari tahu lebih banyak."
Ia menutup map tersebut dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu, di lantai eksekutif, Ravenzo duduk di kursinya. Tangannya sibuk mengetik di atas keyboard laptop.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar.
"Masuk."
Pintu terbuka. Arvin masuk sambil membawa beberapa laporan yang cukup tebal.
"Rav, ini ada beberapa laporan yang harus lo periksa." Kata Arvin sambil meletakkan dokumen tersebut di atas meja.
Ravenzo menghentikan ketikannya dan melirik tumpukan laporan itu. "Sebanyak ini?"
Arvin mengangguk. "Iya. Laporan proyek lama sama beberapa laporan terbaru."
Ravenzo mengambil salah satu berkas lalu membukanya. "Yang proyek lama kenapa diperiksa lagi?"
"Katanya bagian administrasi lagi melakukan pengecekan arsip lama. Ada beberapa dokumen yang perlu dicocokkan ulang."
Ravenzo mengangguk kecil. "Kalau begitu cek juga laporan yang datanya belum lengkap."
Arvin menghela napas. "Rav, gue ini asisten lo apa pegawai bagian arsip?"
Ravenzo menatapnya datar. "Lo keberatan?"
Arvin langsung menggeleng. "Enggak. Gue cuma nanya."
Ravenzo kembali menatap laptopnya. "Kalau cuma nanya, sana kerjain."
"Ya ampun, galak banget jadi CEO."
Ravenzo berhenti mengetik. "Lo mau gue tambah kerjaan?"
Arvin langsung mengambil kembali beberapa berkas. "Enggak, terima kasih. Saya masih ingin hidup tenang."
Arvin berbalik dan berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti.
"Oh iya, Rav."
"Apa lagi?"
"Karyawan baru tadi udah mulai kerja semua."
Ravenzo hanya mengangguk. "Bagus. Pastikan mereka mengikuti aturan perusahaan."
"Siap, Bos."
Arvin kemudian keluar dari ruangan.
Ravenzo kembali fokus pada pekerjaannya tanpa memikirkan karyawan baru tersebut.
***
Saat jam makan siang tiba, Zevanna makan bersama beberapa karyawan baru dan senior.
"Ayo dimakan semuanya." Ucap Vera.
Vera kemudian mengambil makanannya dan mulai menyantapnya.
Zevanna yang duduk di sampingnya ikut mengambil sendok.
"Eh, Zevanna, kamu udah mulai betah kerja di sini?" Tanya Vera.
Zevanna mengangguk sambil tersenyum kecil. "Lumayan, Mbak. Walaupun masih banyak yang harus aku pelajari."
"Namanya juga baru masuk. Nanti lama-lama juga terbiasa." Jawab Vera sambil meminum minumannya.
Fika yang duduk di seberang mereka ikut menyahut. "Apalagi kalau udah hafal semua bagian di kantor ini. Awal-awal memang suka bikin bingung."
Zevanna mengangguk. "Tapi sejauh ini orang-orangnya baik kok."
Vera tertawa kecil. "Untung kamu belum ketemu semua orang."
Zevanna mengerutkan keningnya. "Maksudnya, Mbak?"
Vera hendak menjawab, tetapi Gista tiba-tiba menyela.
"Udah, jangan nakut-nakutin anak baru."
Vera tertawa. "Siapa yang nakut-nakutin, gue cuma becanda doang kok?"
Suasana meja makan kembali dipenuhi obrolan ringan.
Zevanna hanya tersenyum sambil mendengarkan percakapan mereka.
Namun beberapa saat kemudian, salah satu karyawan senior yang duduk tidak jauh dari mereka tiba-tiba berkata,
"Eh, kalian masih ingat Zoyya?" Tanya Hesa.
Tangan Zevanna yang sedang memegang sendok langsung berhenti.
Ia menoleh pelan.
"Zoyya?" Tanya Vera.
"Iya. Kak Zoyya yang dulu kerja di bagian administrasi."
Fika mengangguk. "Ya, ingat. Kenapa?"
Hesa mengangkat bahu. "Nggak kenapa-napa. Tadi gue lewat dekat ruang arsip, terus jadi keinget dia." Jawabnya pelan.
Zevanna berusaha tetap tenang. Ia menundukkan pandangannya kembali ke makanan. Namun telinganya tetap memperhatikan percakapan mereka.
"Memangnya Kak Zoyya dulu sering ke ruang arsip?" Tanya Zevanna, berusaha terdengar santai.
Fika menjawab, "Sering. Dulu dia lumayan sering bolak-balik ke sana karena pekerjaannya berhubungan sama dokumen." Jawabnya.
Zevanna mengangguk pelan. "Oh..."
Ia tidak bertanya lebih jauh. Tapi dalam pikirannya, satu hal mulai muncul.
Berarti ruang arsip mungkin pernah menyimpan banyak dokumen yang berhubungan dengan Kak Zoyya.
Beberapa saat kemudian, Zevanna menoleh dan menatap Fika.
"Mbak, Fika. Kalau boleh tau lantai tempat, Mbak Zoyya dulu bekerja dimana ya?" Tanya Zevanna.
"Ada beberapa ruangan sudah mengalami perubahan sejak bertahun-tahun lalu, dan ada pula beberapa ruangan yang sekarang digunakan untuk divisi lain. Kalau tempat Zoyya kerja itu udah jadi gudang karena dia udah mengundurkan diri dari perusahaan." Jawab Fika.
Zevanna mengangguk pelan setelah mendengar penjelasan Fika.
"Oh... jadi sekarang ruangan itu udah jadi gudang ya, Mbak?"
"Iya. Soalnya udah lama nggak dipakai." Jawab Fika.
Zevanna terdiam sejenak. "Lantai berapa, Mbak?"
Fika berpikir sebentar sebelum menjawab. "Kalau nggak salah lantai empat. Dulu bagian administrasi sama beberapa ruangan proyek ada di sana."
"Lantai empat..." Gumam Zevanna pelan.
Fika mengangguk. "Tapi sekarang jangan sembarangan masuk ke sana ya. Ada beberapa barang dan arsip lama yang masih disimpan."
Zevanna langsung menoleh. "Emang kenapa, Mbak?"
"Ya nggak kenapa-napa. Cuma aksesnya nggak sebebas lantai kerja biasa. Kalau mau masuk, biasanya harus izin dulu."
"Oh..." Zevanna mengangguk.
Ia kemudian kembali menyantap makanannya.
"Berarti Kak Zoyya dulu sering kerja di lantai empat?"
"Iya, kalau nggak salah. Tapi aku juga nggak terlalu ingat detailnya. Udah cukup lama soalnya." Ujar Fika.
Zevanna tersenyum kecil. "Iya, Mbak. Makasih infonya."
Fika mengangguk lalu kembali melanjutkan makan.
Zevanna menundukkan kepalanya.
Lantai empat.
Ia mengingat nomor lantai tersebut baik-baik.
Kalau memang banyak arsip lama yang masih disimpan di sana, mungkin ada sesuatu yang bisa membantunya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kakaknya.
Namun Zevanna sadar dirinya tidak boleh gegabah.
Ia baru bekerja di perusahaan ini.
Kalau tiba-tiba pergi ke gudang tanpa alasan yang jelas, orang-orang bisa mulai curiga.
"Nanti aja lah..." Batin Zevanna.
"Gue harus cari alasan yang tepat buat masuk ke sana."
***
Setelah makan siang, Zevanna kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan tugas arsip dar Elsa.
Lalu dia menemukan satu map proyek lama.
Isinya beberapa dokumen, tapi ada bagian yang tidak lengkap.
Ia kembali mengecek.
"Kok kurang satu halaman? Ini kenapa dokumen berantakan kayak gini sih?" Gumam Zevanna heran.
Zevanna menggaruk kepalanya dan memijat pelipisnya karena merasa frustasi.
Ia membolak-balik isi map tersebut satu per satu.
"Mana sih halaman yang hilang?"
Zevanna melihat ke bawah meja, berharap halaman tersebut mungkin terjatuh.
Namun tidak ada apa-apa. Ia kemudian mengecek kembali map lainnya yang berada di atas meja.
"Jangan-jangan nyelip di map sebelah."
Zevanna mengambil beberapa map dan mulai memeriksanya
Satu per satu. Tapi halaman yang dicari tetap tidak ditemukan.
"Ck... ke mana coba masa nggak ada sih?"
Saat hendak memasukkan kembali dokumen tersebut, mata Zevanna tiba-tiba tertuju pada sebuah tulisan di bagian bawah halaman terakhir.
Nama Sekretaris: Zoyya Fiorellia Oliver.
Zevanna langsung berhenti.
"Kak Zoyya?" Ia kembali membaca halaman tersebut.
Di sana tercantum tanggal, nomor proyek, dan tanda tangan beberapa orang yang menangani proyek itu.
Zevanna mengernyitkan dahi.
"Tunggu..."
Ia memperhatikan tanggal yang tertera di sana.
Tanggal tersebut ternyata cukup dekat dengan waktu ketika Zoyya masih bekerja di Verion Group.
"Berarti Kak Zoyya masih ngurusin proyek ini waktu itu?"
Zevanna terdiam. Ia kemudian mengingat perkataan Gista dan Fika tadi.
Zoyya mengundurkan diri.
Tapi kalau memang sudah mengundurkan diri, kenapa namanya masih tercantum sebagai sekretaris yang menangani proyek tersebut?
Zevanna menatap dokumen itu beberapa detik.
"Ini makin aneh banget..."
Ia mengambil ponselnya dan mencatat nomor proyek tersebut.
Bukan untuk mengambil dokumennya. Hanya supaya ia bisa mengingatnya.
Setelah itu, Zevanna memasukkan kembali dokumen ke dalam map.
"Udah. Jangan kepo dulu. Nanti gue malah ketahuan."
Ia menghela napas lalu kembali mengerjakan tugasnya.
Vera kebetulan lewat dan melihat Zevanna sedang memeriksa map tersebut.
"Belum selesai, Zev?" Tanya Vera.
Zevanna mendongak lalu menggeleng. "Belum, Mbak. Ini ada satu halaman yang kurang."
"Oh, dokumen lama memang pernah dipindahkan ketika sistem arsip perusahaan diperbarui. Mungkin aja halaman yang kurang itu ada di tempat lain. Mbak!" Jawab Vera pelan.
"Berarti dokumen lama yang hilang mungkin ada di tempat lain, Mbak?" Tanya Zevanna.
Vera mengangguk. "Bisa aja. Coba tanya bagian arsip pusat, siapa tahu. Mereka tau soal dokumen itu."
Zevanna mengangguk. "Makasih, Mbak Vera."
"Sama-sama." Ucap Vera. "Tapi kenapa kamu cari dokumen lama itu?"
Zevanna terdiam sejenak. "Itu tadi aku disuruh sama, Mbak Elsa buat perbaiki beberapa dokumen lama gitu!"
"Oh gitu, kirain apaan." Ujar Vera.
Setelah selesai berbicara dengan Vera, Zevanna kembali ke meja kerjanya.
Ia menatap map yang ada di hadapannya sebentar.
"Bagian arsip pusat..." Gumamnya.
Zevanna kemudian berdiri dan menghampiri Elsa yang sedang memeriksa beberapa dokumen.
"Mbak Elsa."
Elsa menoleh. "Iya, Zevanna?"
"Mbak, tadi saya menemukan dokumen lama yang halamannya kurang. Kata Mbak Vera, mungkin dokumen lengkapnya ada di bagian arsip pusat."
Elsa mengangguk. "Oh iya, memang beberapa arsip lama dipindahkan ke sana."
"Kalau begitu saya boleh ke sana sebentar buat ngecek dokumen ini, Mbak?"
Elsa berpikir sebentar lalu mengangguk. "Boleh. Tapi jangan terlalu lama ya. Setelah itu lanjutkan lagi pekerjaan kamu."
"Baik, Mbak. Makasih." Zevanna mengambil map tersebut.
Sebelum pergi, ia kembali melihat nomor proyek yang tertulis di bagian depan map.
"Semoga masih ada..." Gumamnya pelan.
Zevanna kemudian berjalan menuju bagian arsip pusat sambil membawa map dan mencatat nomor proyek yang tadi ia temukan.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya ia sampai di ruangan arsip.
Zevanna mengetuk pintu.
Tok! Tok!
"Masuk."
Zevanna membuka pintu dan masuk.
Di dalam ruangan terlihat banyak rak yang dipenuhi berbagai macam dokumen dan kotak arsip.
Seorang pria yang sedang duduk di depan komputer menoleh ke arah Zevanna.
"Eh, kamu karyawan baru ya?" Tanya pria itu.
Zevanna mengangguk. "Iya, Mas. Saya Zevanna."
Pria itu tersenyum kecil. "Saya Andrew. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau mencari dokumen proyek lama, Mas."
Andrew mengangguk pelan. "Nomor proyeknya ada?"
"Ada, Mas."
Zevanna menunjukkan nomor proyek yang sudah ia catat di ponselnya.
Andrew melihat nomor tersebut lalu mengetiknya di komputer.
"Tunggu sebentar ya."
Zevanna berdiri sambil menunggu.
Andrew melihat layar komputernya beberapa saat.
"Kayaknya ada."
Zevanna langsung sedikit mendekat. "Serius, Mas."
"Iya. Tunggu saya cek dulu." Andrew kemudian berdiri dan berjalan menuju salah satu rak arsip.
Ia mencari beberapa saat sebelum akhirnya mengambil sebuah map berwarna hitam.
"Ini mungkin yang kamu cari."
Andrew kembali ke meja dan meletakkan map tersebut di hadapan Zevanna.
Zevanna langsung melihat nomor proyek yang tertulis di bagian depan.
Nomor proyeknya sama.
"Ini benar, Mas."
Andrew mengangguk. "Silakan dicek."
Zevanna membuka map tersebut. Ia memeriksa halaman demi halaman dengan teliti.
Satu.
Dua.
Tiga.
Zevanna terus membalik halaman. Namun semakin ia memeriksa, wajahnya justru semakin bingung.
"Mas..."
Andrew menoleh. "Iya kenapa?"
"Ini memang cuma segini isinya?" Tanya Zevanna.
Andrew melihat isi map tersebut. "Sepertinya iya."
Zevanna mengerutkan keningnya. "Tapi tadi di bagian administrasi ada satu halaman yang kurang. Mas."
Andrew mengangkat bahu. "Mungkin dari awal memang belum lengkap dokumennya."
Zevanna terdiam. Ia kembali membolak-balik halaman tersebut.
Tetap tidak ada.
"Padahal nomor proyeknya sama." Gumam Zevanna.
Andrew menatapnya sebentar. "Kalau kamu butuh informasi lebih lengkap, mungkin kamu bisa tanya ke bagian yang menangani proyek itu dulu."
Zevanna mengangguk pelan. "Iya, Mas. Makasih."
Andrew tersenyum. "Sama-sama."
Zevanna kembali melihat map tersebut sebelum menutupnya.
Namun saat hendak mengembalikannya, matanya berhenti pada halaman terakhir.
Ada sebuah nama yang tercantum di sana.
Zoyya Fiorellia Oliver.
Mata Zevanna langsung tertuju pada nama tersebut.
Namun ternyata ada satu nama lain di bawahnya.
Nama seseorang yang menyetujui laporan proyek tersebut.
Zevanna membaca nama itu beberapa kali.
"Ini siapa?" Batin Zevanna.
Ia kemudian menoleh kearah Andrew. "Mas, orang ini masih kerja di sini?"
Andrew melihat nama tersebut. "Iya, masih. Namanya Meisya."
Zevanna mengangguk. "Oh gitu, ya sudah. Mas. Saya permisi dulu ya!"
Andrew mengangguk sambil tersenyum kecil. "Iya, Mbak."
Zevanna kembali ke divisinya.
Ia menyimpan catatan nama tersebut di ponselnya.
Namun ia sadar kalau terlalu sering bertanya tentang Zoyya bisa membuat orang lain curiga.
Saat ia hendak meletakkan ponselnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Ting!
Tisha: Zev, lo kenapa? Dari tadi gue liat kayak mikirin sesuatu.
Zevanna membaca pesan Tisha lalu membalasnya.
Zevanna: nggak papa, gue cuma kecapean aja. Soalnya banyak dokumen yang belum diperbaiki:(
Tisha: yang sabar ya bestie. Lo harus tetep semangat ya, Zev^_^
Zevanna tersenyum tipis membaca pesan dari Tisha.
Zevanna: thanks, Tis. Lo juga semangat ya kerjanya.
Tisha: oke siap bestie ◉‿◉
Zevanna meletakkan ponsel di meja. Lalu menghela napas.
Ia mengingat ucapan dari Andrew barusan.
"Meisya...?" Batinnya.
***
Sore harinya, menjelang pulang.
Zevanna kembali merapikan meja kerjanya.
Saat ia memasukkan dokumen ke dalam map, ia menemukan salinan kecil dari laporan lama yang tadi ia liat.
"Eh...?"
Di bagian bawah dokumen terdapat tanggal dan tanda tangan.
Zevanna memperhatikan tanggal tersebut.
Tanggal itu tidak sesuai dengan informasi yang diberikan Gista tentang waktu Zoyya mengundurkan diri.
Zevanna langsung terdiam sejenak.
"Berarti kak Zoyya masih menangani proyek ini setelah tanggal yang katanya dia resign?" Gumamnya.
"Tapi kok dokumen lama kurang satu halaman? Apa jangan-jangan ada seseorang yang juga menangani dokumen ini?"
Zevanna menggeleng cepat. "Udah, ah. Jadi pusing kepala gue!"
Zevanna menyimpan salinan informasi tersebut.
"Udah beres, tinggal pulang deh!"
Zevanna membetulkan posisi tasnya.
Saat hendak pulang, ia berjalan melewati koridor kantor.
Tiba-tiba seseorang yang lebih senior dari divisinya memanggil.
"Zevanna."
Zevanna berhenti dan menoleh. "Iya ada apa?"
Orang tersebut berdiri beberapa meter darinya.
"Kamu tadi lihat dokumen proyek lama itu?"
Zevanna sedikit terkejut.
Ia tidak menyangka ada orang yang memperhatikannya.
"Iya, Mbak. Kenapa?"
Orang tersebut tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tertuju pada map yang dibawa Zevanna.
"Sebaiknya kamu jangan terlalu jauh mencari tahu tentang proyek itu."
Zevanna terdiam dan menatap orang tersebut.
Bersambung…