Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Penghancur Rantai Takdir

Sang Penghancur Rantai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: * z *

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.

Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.

Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.

Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11_Kepingan pertama

Bau darah menyengat di mana-mana. Amis, menusuk hidung. Mayat goblin berserakan di tanah, dan aku berdiri di antara mayat para Goblin tersebut. Napasku masih terengah-engah, dada naik turun, wajahku pucat.

"Sepertinya aku bisa menciptakan sesuatu yang terbuat dari mana dengan kekuatanku."

Aku menoleh ke belakang dengan gemetar, mataku masih berkaca.

Rantai-rantai itu masih melilit tubuh mayat Goblin itu, hitam pekat. Lalu aku menatap pedang yang sedang kugenggam. Tanganku bergetar, bibirku bergetar.

"Tapi aku membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi, dan aku baru bisa membuat pedang dan rantai saja."

Pedang itu pun menghilang bersamaan dengan rantai yang melilit tubuh para Goblin.

*Wussh...*

Para mayat Goblin itu berjatuhan dengan suara berat. Aku pun berjalan mengikuti arus sungai kecil ini. Kaki terasa lemas, wajahku kusut.

*Bruk... bruk...*

"Dan sepertinya aku masih belum bisa mengendalikan proses pemadatan mana ini dengan baik."

Perutku berbunyi dengan sangat keras. Aku memegangi perutku, wajahku meringis menahan lapar.

*Kruuuk...*

"Ahh.. aku sangat lapar."

Aku melirik ke arah mayat Orc di sampingku. Wajahku meringis jijik, alisku bertaut.

"Sepertinya tidak ada pilihan lain lagi untuk sekarang."

Dengan ragu aku merobek daging Orc itu dengan kedua tanganku dan segera membuat api untuk memanggang daging Orc itu. Asapnya mengepul, baunya aneh.

*Krek... krek...*

*Whoosh...*

Aku menatap tusukan daging Orc itu. Air liurku keluar tanpa sadar. Perutku terus berbunyi, mataku sayu.

"Apakah daging monster aman untuk dimakan?? Aku tahu monster ini mirip dengan babi, akan tetapi.."

Aku langsung menggelengkan kepalaku keras dan menepuk pipiku.

*Plak!*

"Aku tidak peduli lagi."

Daging Orc itu langsung kuambil dan kugigit tanpa ragu sedikitpun. Alisku mengerut, wajahku menahan alot.

"Rasanya ternyata lumayan juga.. walaupun terlalu susah untuk dikunyah."

Aku terus melahap daging Orc itu tanpa henti, mata terpejam menahan rasa.

Setelah daging itu habis aku langsung berdiri. Kepalaku menengadah ke atas, wajahku penuh harap cemas.

"Aku sangat penasaran, sebenarnya sudah berapa lama aku berada di sini?? Tempat ini sangat dalam sampai langit pun tidak terlihat lagi."

Aku menatap ke arah aliran sungai kecil itu, mataku menyipit.

"Sepertinya satu-satunya petunjukku sekarang adalah mengikuti aliran sungai ini."

Aku langsung duduk kembali. Tubuhku gemetar hebat. Tanganku meraba tubuhku, wajahku bingung dan takut.

"Sebenarnya apa yang terjadi pada tubuhku?? Walaupun aku sudah kehilangan banyak darah tapi anehnya aku hanya merasa lemas. Normalnya orang biasa pasti sudah mati."

[Ingatan masa lalu]

Aku memejamkan mata. Bayangan masa lalu menerjang. Wajahku menegang.

Aku mengingat semua luka yang dialami selama ini. Napasku tercekat. Mulai dari tusukan, tangan yang hilang, tubuh yang hancur, dan kaki yang putus.

"Kenapa?? Aku terus hidup bahkan setelah mengalami luka yang sangat parah seperti itu." Bibirku bergetar.

[Akhir ingatan masa lalu]

Aku meregangkan tubuhku yang kaku dan berbaring di tanah. Menatap langit gelap, mata kosong.

"Entah apa yang terjadi padaku ke depannya."

Aku mengepalkan tangan dan mengarahkannya ke langit. Suaraku bergetar, mataku berkaca.

"Aku yakin semuanya akan baik-baik saja.. mungkin."

Aku langsung bangun dan berjalan masuk ke salah satu gua di lembah ini. Bahuku merosot, wajahku lelah.

"Tapi lembah ini benar-benar besar. Yang aku tahu, lembah ini hanya dihuni oleh para Orc dan para Goblin. Tapi itu hanya laporan 10 tahun yang lalu."

Aku langsung masuk ke gua itu dan menyandarkan tubuhku ke dinding gua. Napasku kacau, mata sayu.

"Tapi laporan itu hanya mencakup tengah lembah ini saja.. dan melihat kondisi tempat ini."

Aku menutup mataku. Jantungku berdegup kencang, wajahku menegang.

*Deg! Deg!*

"Tidak salah lagi, aku terjebak di bagian terdalam lembah ini."

Aku membuka mataku dan bangun dari tidurku. Tapi hidungku langsung mengerut. Wajahku meringis jijik. Aku mencium bau yang sangat tidak enak. Bau bangkai tercium di mana-mana.

"Bau tidak enak dari mana ini??" Suaraku serak, mata menyipit.

Saat aku keluar dari gua untuk mencari tahu asal bau tidak enak itu, langkahku terhenti. Mataku membelalak lebar, wajahku pucat pasi.

Apa yang terjadi di sini??

Di luar gua ada banyak sekali... puluhan.. tidak, bahkan ratusan mayat Orc dan Goblin berserakan di mana-mana. Darah mengering di batu.

Lalu saat aku berjalan keluar gua untuk melihat kondisi sekitar, nafasku tercekat lagi, bibirku bergetar.

Aku melihat banyak sekali tumpukan mayat Petualang dan Pasukan tentara Kerajaan.

"Ke-kejam sekali.. sebenarnya apa yang terjadi semalam??" Bibirku bergetar, mataku berkaca ngeri.

Saat sedang mengecek kondisi para mayat tersebut, tanganku gemetar. Aku melihat banyak sekali Tentara Kerajaan Salfaria yang tergeletak di tanah, wajah mereka membeku ketakutan.

"Bagaimana bisa dua pasukan Kerajaan bisa terbantai habis seperti ini?? Apa yang mereka lawan??"

Semakin aku pikirkan, semakin membuatku merinding. Bulukudukku berdiri, wajahku memucat.

"Aku harus segera pergi dari tempat ini."

Aku langsung berlari. Napasku panik menyusuri aliran air sungai yang sudah berubah warna menjadi merah darah.

*Tap... tap... tap...*

Saat di tengah perjalanan, lututku hampir lemas. Aku melihat lebih banyak lagi mayat para Tentara tergeletak di tanah. Bahkan sekarang ada mayat yang tertancap di bebatuan tajam lembah tersebut. Mata mereka terbuka kosong.

"Sungguh mengerikan." Tangan ku tidak berhenti gemetar, wajahku menahan mual.

Aku mengepalkan tanganku dengan erat. Kukuku menancap di telapak, rahangku mengeras.

"Padahal aku sudah mencoba untuk lebih berani sekarang, tapi setelah melihat ini semua.."

Saat aku sedang fokus melihat kondisi para mayat itu, tiba-tiba sebuah cahaya menyorot mataku. Aku menyipitkan mata, wajahku kaget.

"Apa itu cahaya?? Mungkinkah aku sudah berhasil menuju pertengahan lembah?"

Mata ku berkaca-kaca. Aku tersenyum lega, bibirku bergetar.

"Akhirnya..."

Aku pun langsung berlari tanpa pikir panjang menuju arah cahaya tersebut.

"Akhirnya aku bisa pergi dari tempat mengerikan ini."

Semakin aku berlari ke arah cahaya tersebut, semakin terang juga cahaya yang menyinari tubuhku. Hangat, menyilaukan mata.

Saat aku sudah berada di depan cahaya itu aku berhenti sejenak. Dadaku naik turun, wajahku penuh harap.

"Sepertinya sampai sini saja penderitaanku di lembah menyeramkan ini."

Aku pun menarik napas dan berjalan masuk ke dalam cahaya tersebut.

Saat sudah melewatinya, aku terpaku. Mataku melebar, mulutku terbuka.

"Apa ini??"

Di depanku terdapat Oasis dan hamparan padang rumput yang hijau sejauh mata memandang. Dan juga aku melihat sebuah Reruntuhan besar yang terlihat kuno di depanku.

"Tempat apa ini?? Dimana jalan pulangnya??"

Aku menoleh ke sekeliling dengan panik. Tapi yang aku lihat hanyalah langit cerah tanpa ujung. Wajahku tegang.

Saat aku melangkah maju, jantungku copot. Mataku membelalak.

Tiba-tiba banyak muncul pilar es berduri yang melesat ke arahku.

*Wussh!!*

Aku berguling. Wajahku panik.

"BAHAYA!!"

Untung saja aku berhasil menghindarinya tepat pada waktunya. Hampir saja, satu langkah lagi maka leherku sudah tertusuk. Napasku memburu.

Pada saat itu juga tanah bergetar dengan sangat keras. Lututku hampir jatuh.

*Gruuk!!*

"Dan sekarang apa lagi yang akan muncul??"

Saat aku ingin melarikan diri dari tempat itu, darahku berhenti mengalir. Wajahku pucat.

"Pintu masuknya.. menghilang."

Jariku menunjuk ke arah pintu masuk itu dengan gemetar, mataku berkaca panik.

"O-oi.. semenjak aku mendapatkan kekuatan ini, banyak sekali hal aneh yang terjadi."

Lalu aku membalikkan badanku ke arah Reruntuhan itu. Keringat dingin mengalir di pelipis, rahang mengeras.

Dan yang kulihat adalah Golem es yang muncul dalam jumlah yang lumayan banyak dari tanah yang sudah tertutup es.

"Sudah kuduga, pasti akhirnya akan terjadi hal seperti ini." Aku menggertakkan gigi, mata menyipit tajam.

Aku menarik nafas panjang. Dadaku membusung, wajahku serius.

"Kali ini aku tidak akan menyerah di awal lagi."

Aku langsung mengumpulkan mana. Tangan bergetar. Dan memadatkannya untuk membuat pedang.

*Wung...*

Lalu urat-urat hitam itu pun muncul lagi di seluruh tubuhku. Sakit, tapi melegakan. Wajahku meringis menahannya.

Aku masih tidak mengerti bagaimana caranya urat-urat aneh ini muncul, tapi dengan ini aku bisa sedikit lega.

Aku mengarahkan pedangku dan menatap tajam kepada mereka. Mataku menyipit, alis bertaut.

"Aku mulai!!"

Aku mengikat mereka dengan rantai dan mulai menerjang mereka dengan cepat. Napasku berat. Tebasan demi tebasan aku lancarkan kepada mereka.

*Srett! Srett! Clank!*

Akan tetapi setiap aku menyerang mereka, mereka akan sembuh kembali seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Alisku bertaut, wajahku kaget.

"Apa yang terjadi?? Bukankah aku sudah menebas beberapa dari mereka tadi?"

Lalu tanpa aku sadari, bulu kudukku berdiri. Ada Golem yang bersiap menyerangku dari belakang.

Sejak kapan dia ada di sana??

Keluar sinar beku yang muncul dari matanya, mengarah ke kepalaku.

*Wiuung...*

Tanganku bergetar sangat kencang. Jantungku berdetak kencang. Keringatku bercucuran, wajahku tegang.

"Untung saja aku menyadari keberadaannya sebelum menembak."

Serangan tadi membuat jalur es yang membuat semuanya menjadi beku.

*Kraak...*

Setelah melihat jalur es tersebut, mataku menyala, alis terangkat.

"Mereka memang kuat.. akan tetapi."

Aku tersenyum tipis, sudut bibir naik. Lalu menerjang Golem itu dan langsung menebas matanya.

*Srett!!*

"Mereka tidak didesain untuk bekerja sama."

Setelah aku menyerang matanya tersebut, tubuhnya pun mulai retak dan hancur.

*Kraak... bruk...*

"Sudah aku duga."

Tembakan dari Golem lain pun mulai berdatangan kepadaku. Aku menunduk dan menghindar, wajah fokus.

Aku langsung berlari zig-zag untuk mencari celah di antara mereka semua. Otakku berputar cepat, mataku liar mencari celah.

Saat aku melihat jalur es tersebut aku menyadari satu hal.

Bahwa Golem ini tidak memedulikan rekannya sendiri.

Saat menemukan celah, aku mulai menyerang para Golem tersebut satu persatu. Napasku semakin liar, wajahku serius.

Lalu muncul ide di benakku. Mataku berbinar.

Aku langsung berlari menghindari serangan mereka sambil terus berkonsentrasi.

Pukulan dan serangan sinar beku itu terus mengarah ke arahku secara membabi buta. Aku menggertakkan gigi, wajah meringis.

*Boom! Wush!*

"Sudah selesai."

Saat aku sadar, aku sudah dikepung oleh mereka semua. Dan di saat yang bersamaan mereka mulai menerjang dan menembak ke arahku secara bersamaan. Wajahku tegang tapi tenang.

Aku tersenyum. Sudut bibirku naik, mataku menyipit licik.

"Kena kalian semua."

Sebuah balok yang terbuat dari manaku menghantam kepala mereka semua dan langsung menghancurkan mata mereka yang menjadi inti mereka.

*BRAKK!!*

Sekejap semua para Golem itu hancur tak tersisa. Debu berterbangan.

Aku langsung duduk. Lututku lemas. Bernafas lega, wajahku lega.

"Syukurlah aku mendapatkan ide untuk membuat benda lain dengan mana."

Saat aku pikir semua sudah berakhir...

Tiba-tiba saja dadaku terasa sangat sakit. Aku memegangi dadaku. Meringis, wajahku memucat.

*Deg!*

"Ada apa ini?? Kenapa ini?? Padahal kemarin tidak terjadi apa-apa."

Urat-urat di seluruh tubuhku mulai menyebar lebih parah lagi. Sakitnya luar biasa, mataku memerah.

Bahkan tanpa kusadari, warna mataku berubah menjadi merah. Dan tangan kananku mengeluarkan mana liar dari tubuhku.

Apa yang terjadi?? Kenapa dengan tangan kananku?? Kenapa bisa berubah seperti ini?? Wajahku panik, mataku membelalak.

Kesadaranku juga ikut memudar. Pandanganku kabur.

"Ahh.. ini benar-benar menyakitkan." Suaraku lemah, bibir bergetar.

Saat kesadaranku mulai ingin menghilang, terdengar suara pintu terbuka. Derit pelan.

*Kriiet...*

Saat aku menoleh dengan sisa tenaga, pintu reruntuhan itu mulai terbuka. Dan keluar banyak sekali pasukan dari pintu tersebut.

"Si-siapa.. mereka??" Suaraku lemah, mataku sayu.

Saat aku berusaha untuk bangun, ada suara seseorang yang berteriak lantang kepada seluruh pasukan itu.

"Semuanya berhenti!!"

Saat itu juga seluruh pasukan itu berhenti. Sunyi.

*Hening...*

Lalu muncul 7 orang memakai topeng dari balik pasukan-pasukan itu. Langkah mereka berat. Mereka berjalan menuju ke arahku.

*Tap... tap...*

Lalu saat mereka sudah ada di depanku, salah satu dari mereka mengangkat tangan. Cahaya keluar. Menetralkan urat-urat hitam itu dari tubuhku.

*Wung...*

Urat-urat itu mulai menghilang perlahan. Rasa sakitnya reda, wajahku mulai tenang.

"Tubuhku sudah tidak sakit lagi."

Aku langsung bangun. Kaki goyah. Dan menatap ke arah mereka. Mataku masih waspada.

Aku tidak tahu siapa mereka itu?? Tapi aura mereka mulai keluar dari tubuh mereka. Menekan.

Tapi mereka sangatlah kuat.

Mereka menatapku dengan tatapan yang tajam. Lalu salah satu dari mereka bertanya kepada orang yang menyembuhkanku. Nadanya marah.

"Zafira.. aku sudah bilang kepadamu untuk tidak menjahili tuan kita."

Orang yang menyembuhkanku langsung membuka topengnya. Wajahnya cerah, tersenyum jail.

"Maaf Belial, aku pikir tuan kita akan suka dengan hal seperti itu."

Seorang pendekar pedang muncul dari belakangnya. Suaranya tegas, wajahnya serius di balik topeng.

"Nona Zafira, tolong jangan pernah melakukan ini lagi."

Aku masih kebingungan. Kepalaku pening, wajahku mengernyit bingung.

Aku serius, sebenarnya siapa mereka ini??

Lalu orang yang dipanggil Zafira itu tersenyum dan mengulurkan tangannya kepadaku. Matanya lembut.

Aku ragu. Lalu meraih tangannya dan berdiri. Tangannya hangat.

Lalu dia langsung menunduk. Diikuti dengan semua orang yang tiba-tiba serentak menunduk. Hening hormat.

"Selamat datang... Wahai tuanku."

Setelah mengatakan itu dia langsung menatapku. Matanya berkaca-kaca haru, senyumnya tulus.

"A-apa??"

Aku benar-benar kebingungan setelah melihat pemandangan tidak biasa itu. Mataku membelalak, mulut terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!