Shareen adalah mahasiswi yang mandiri dan pintar, sedang Sanders Kal adalah seorang pengusaha yang dingin. Keduanya bertemu karena suatu kejadian dan mereka memutuskan untuk menikah. Meski Shareen belum terlalu menyukai suaminya saat itu.
Waktu berlalu, sebuah amplop coklat yang tak sengaja ditemukan Shareen mengungkapkan siapa itu Sanders Kal yang mendadak masuk di kehidupannya. Namun saat itu perasaan Sharren telah jatuh untuk Sanders, suaminya.
Takdir mereka harus terputus saat Sanders divonis penyakit mematikan. Namun permintaan terakhir pria itu membuat Shareen ragu.
Akankah Shareen setuju untuk menyanggupi permintaan itu?
Ikuti terus kisah Shareen dan jangan lupa tinggalkan jejak😆😆😆
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ftl03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Shareen keluar dari rumahnya dengan membawa bekal makanan yang sudah ia persiapkan tadi. Jam makan siang sudah hampir tiba, ia ingin sekali-kali membawakan makanan untuk suaminya dikantor. Tapi ada hal lain yang mengusiknya. Obat yang dia temukan di meja kerja suaminya, ia merasa perlu tahu tentang obat itu.
“Luna, apa kamu sedang sibuk sekarang? Aku ingin meminta bantuan mu?” ucap Shareen pada temannya di ujung telepon sana.
“Tidak.. aku sedang senggang.. ada apa Shareen?” tanya gadis itu di telepon.
“Sebentar lagi aku akan ke tempat mu bekerja, kau masih bekerja di rumah sakit itu bukan?”
“Iya aku masih bekerja disana.. ya sudah aku tunggu kamu di lobi rumah sakit ya..”
Shareen mamatikan sambungan teleponnya dan bergegas pergi ke tempat yang sudah dijanjikan. Rumah sakit itu adalah rumah sakit terbaik di kota itu, dan teman yang barusan dihubunginya bekerja disana. Dia merasa Luna dapat membantunya mengetahui obat apakah yang diminum suaminya itu.
Seorang gadis berpakaian serba putih terlihat melambaikan tangan padanya yang baru saja turun dari mobil taksi. Luna terlihat sangat ramah padanya dan langsung bertanya pada Shareen karena dirinya sudah mulai penasaran.
“Ini..” Shareen menyodorkan kapsul yang terbungkus didalam tisue.
“Apa ini?”tanya Luna.
“Apa kau bisa membantu ku untuk mengetahui obat apakah ini?”
“Memang kamu dapat ini darimana? Dan siapa yang menggunakannya?” Luna tampak melihat obat itu dan menciumnya.
“Sepertinya aku hafal dengan bau ini,” lanjutnya lagi.
“Obat itu aku temukan di laci meja kerja suamiku..”
“Sanders Kal?”
“Iya..”
“Tapi kenapa dia menggunakan obat ini? Apa dia sedang sakit? Setahuku dari baunya kupikir ini sejenis obat pereda nyeri dengan dosis tinggi..tapi aku masih harus memastikannya dulu... kamu bisa menunggu sebentar bukan?”
“Tentu.. aku akan menunggu disini..”
Shareen mencari tempat duduk terdekat, badannya belakangan ini mulai terasa sedikit aneh. Ia kadang merasa sangat kelelahan hanya karena melakukan aktivitas kecil yang memang sudah biasa dia lakukan dari dulu. Kepalanya kadang terasa pusing tanpa sebab. Mungkin lain kali dia perlu untuk memeriksakan diri ke dokter, pikirnya.
Shareen kaget saat matanya menangkap seorang pria yang dikenalnya sedang duduk di kursi roda dengan di dorong oleh seseorang yang berbadan tinggi. Terlihat sekali raut wajah pria yang dikenalnya itu sangat pucat.
Untuk memastikan kebenaran apa yang dilihatnya, gadis itu langsung menghubungi Sanders. Bunyi ‘tutttt’ tanda tersambung sudah terdengar sampai terdengar suara di ujung sana yang menjawab panggilan teleponnya.
“Haloo, Sanders.. kamu sekarang sedang berada dimana.”
“Aku sedang berada di kantor.”
Shareen yang mendengarnya sedikit bingung. Mengapa dia harus berbohong padanya? Padahal jelas-jelas gadis itu melihat Sanders sedang memegang ponsel dan berbicara padanya sambil duduk di kursi roda. Ada apa dengan pria itu sampai harus menyembunyikan darinya.
“O-oh.. baiklah..aku sebentar lagi sudah akan sampai..aku juga membawa makan siang untukmu..”
“Yaa.. aku tunggu..terima kasih sayang..” ucap Sanders.
Shareen mematikan ponselnya dan masih tetap terpaku melihat dari kejauhan Sanders tampak berdiri dan berjalan pelan dengan dibantu paman James yang memegang kedua tangannya.
Sebuah mobil sedan hitam sudah terparkir dengan pintu terbuka, dan Sanders masuk kedalam mobil. Tangan sebelah kanan pria itu memegang pinggang sebelah kanannya dan wajahnya terlihat dengan jelas meringis.
“Shareen...aku sudah mengeceknya..dan benar seperti kataku tadi, ini obat dosis tinggi yang biasa digunakan untuk pereda rasa sakit. Apa suamimu baik-baik saja? Karena jelas ini bukan seperti obat yang biasa digunakan untuk penahan sakit biasa..”
“Aku tidak tahu ada apa dengannya.. aku barusan melihatnya duduk di kursi roda dan dipapah oleh sekretarisnya dan aku meneleponnya tapi dia mengatakan sedang di kantor.. Apa kamu bisa membantuku lagi?”
“Apa yang bisa kubantu?”
“Bisakah kamu mengecek daftar pasien atas nama Sanders Kal?”
“Aku pikir aku tidak bisa melakukan itu. Di rumah sakit ini, data pasien sangatlah rahasia, jika sampai aku ketahuan membocorkan data salah satu pasien di rumah sakit ini, bisa-bisa aku dipenjara..”
“Ooh begitu.. baiklah.. terima kasih banyak.. kalau begitu aku pergi dulu..” Shareen sudah akan berbalik pergi tapi langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Luna.
“Shareen, tunggu sebentar..” Luna menghampiri Shareen yang berhenti karena namanya dipanggil.
“Apa kau sudah memeriksakan kesehatanmu?” tanya Luna tiba-tiba.
“Aku baik-baik saja.. tapi yah memang belakangan ini aku merasa sedikit capek dan pusing.."
“Bagaimana jika kamu sekalian datang ke dokter kandungan saja selagi kau berada disini?”
“Dokter kandungan?” Shareen terkejut.
“Iyaaa.. dokter kandungan... Apa datang bulan mu lancar?”
“Hmmm.. aku sudah telat beberapa hari ini, tapi kupikir itu karena kondisi tubuhku yang sedang tidak baik...”
“Aku sarankan lebih baik kau memeriksakan kondisi tubuhmu secepatnya dan usahakan sampai kau memeriksakan kesehatanmu jangan sampai kau meminum obat sembarangan, karena aku merasa yakin kamu sedang hamil, Shareen..”
“Tapi apa itu mungkin?"
"Tentu, kamu ini kan wanita yang sudah menikah sekarang"
“Baiklah, esok aku usahakan untuk periksa..”
“Ya lebih baik begitu.."
Shareen tersenyum dan berlalu pergi. Hal yang berputar dikepalanya menjadi semakin bertambah, belum tentang masalah obat itu dan sekarang bagaimana jika dirinya benar-benar hamil? Apa Sanders akan senang mendengarnya jika sampai itu terjadi? Pria itu benar-benar sulit ditebak.
“Hei...” Seorang pria dengan motor besar berwarna merah datang menghampirinya yang masih melamun duduk di depan taman di pinggir jalan.
“Xavie..” Shareen terkejut saat melihat pria yang sekarang sedang tersenyum padanya.
“Kau sedang apa duduk disini sendirian?”
“Ahh aku sedang menunggu mobil taksi lewat sini..” jawab gadis itu dan senyum kecil tersungging di ujung bibirnya.
“Memang kamu akan pergi kemana?”
“Aku mau ke kantornya Sanders untuk mengantar makan siang..” Shareen mengacungkan barang bawaannya.
“Sini biar ku antar, aku tahu letak kantor suamimu itu...” Xavie menawarkan tumpangan gratisnya.
“Oh iya? Bagaimana kamu bisa tahu? Aku saja masih belum yakin kantor suamiku dimana.. aku sama sekali belum pernah kesana”
“Bagaimana kamu ini... pergi tanpa tahu yang pasti...”
“Hahahaha.... tapi bagaimana bisa kamu tahu kantor Sanders, Xav?”
“Aku pernah kesana beberapa kali mengantar Papaku. Kebetulan Papaku itu rekan bisnis suamimu itu..”
“Ooo-ooh.”
“Sudah, ayo naik, nanti keburu hujan.. sudah mendung begini..”
Shareen menuruti perintah teman baiknya itu. Tapi jujur dia masih khawatir jika Xavie masih menaruh perasaan padanya. Meski Xavie sempat marah dan mendiamkannya karena tahu dirinya sudah menikah, tapi tetap saja pada kenyataannya dia adalah pria yang baik. Shareen selalu mendoakan agar Xavie mendapatkan perempuan yang lebih baik darinya.
**
“Tuan, apa anda baik-baik saja?” James khawatir melihat tuan mudanya yang duduk di sofa kantor berwarna abu-abu dan terus menerus memegang pinggangnya.
“Entahlah...” Sanders meringis sembari menyingkap kemeja putihnya. Tampak bagian pinggang sebelah kanannya terlihat membiru.
‘Knockknock’ bunyi pintu diketuk. Seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan masuk ke dalam dan memberitahukan bahwa ada seorang gadis yang ingin bertemu dengan anda bernama Shareen. Sanders langsung memerintahkan sekretaris keduanya itu untuk mempersilahkan ‘tamu’nya itu untuk masuk.
Buru-buru Sanders merapihkan pakaiannya dan menegakkan gaya duduknya agar terlihat ‘baik-baik’ saja. Dia tidak tahu reaksi Shareen jika mengetahui hal itu, bisa saja gadis itu akan sangat khawatir atau mungkin sebaliknya, tidak perduli.
Seorang gadis memakai rok sepanjang lutut berwarna coklat dengan sepatu flat hitam dan kaus berkerah sederhana datang memasuki ruang sang direktur yang terlihat luas, bersih dan wangi. Hidung gadis itu bisa mencium bau khas yang sama seperti yang biasa dia cium di tubuh suaminya.
“Kamu sudah datang?” sapa Sanders sembari tersenyum dan masih terduduk di kursinya. Tangan kanannya mengisyaratkan pada James untuk meninggalkan mereka berdua dan pria paruh baya itu mengerti.
“Iyaaa.. maaf terlambat.. kamu pasti sudah menunggu lama..”
“Tidak-tidak... aku hanya khawatir terjadi sesuatu dengan mu..duduklah, jangan berdiri terus,” ucap pria itu sembari menarik pelan tangan istrinya.
“Ini aku membuatkan spaghetti untukmu.. tapi sepertinya sudah dingin..maaf..” Kedua tangan gadis itu sibuk membuka satu persatu kotak bekal makan yang ia isi juga dengan buah-buahan segar.
“Tidak masalah.. selama ini buatanmu akan tetap enak... Apa kamu sudah makan?” tanya Sanders sembari memulai makan siangnya.
“Iyaaa aku sudah makan terlebih dahulu.. habis aku keburu kelaparan.. maaf.”
“Hei.. kalau kamu mengatakan ‘maaf’ sekali lagi, aku akan menciummu..” seru Sanders dengan tersenyum nakal.
Shareen hanya diam dan menatap laki-laki didepannya yang makan dengan lahap. Terlihat tidak ada yang aneh dengan sikapnya. Hanya saja, dia sedikit terlihat pucat. Tapi untungnya tidak sepucat tadi sewaktu dia melihatnya di rumah sakit.
“Sanders, apa kamu punya sesuatu yang ingin kamu katakan padaku?”
“Tentang apa?” tanya pria itu tanpa mengerti maksud dari perkataan istrinya.
“Ada apa denganmu tadi pagi? Aku sulit sekali menghubungimu..” Shareen masih menatap suaminya.
“Ahh.. soal tadi pagi aku minta maaf... aku sangat terburu-buru untuk mempersiapkan rapat..”
“Ohh..” Shareen tidak memperpanjang pembicaraan mereka lagi. Dirinya sudah bisa membaca ‘kebohongan’ di setiap kata yang diucapkan suaminya itu. Bahkan mata coklat yang biasa menatapnya tajam sekarang seperti berusaha menghindari tatapannya.
like
Kutunggu kedatanganmu.
Terima kasih
semangatt
yuk baca lagi cerita aku yang judulnya CONVERGE!!
ada part baru lohh 😍
mari saling support thorr ❤️
thanks
semangat berkarya ya