Indonesia
NovelToon NovelToon
SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Cahyanti

Via, gadis kelas 12, anak tunggal seorang pengusaha yang cukup sukses mengalami berbagai musibah beruntun. Setelah mamanya meninggal, tak lama kemudian papanya menyusul karena kecelakaan. Perusahaan papanya colaps dan rumah menjadi agunan. Akhirnya, ia tinggal bersama wali kelasnya yang baik hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian XII

Via sudah duduk manis di samping Bu Aisyah. Setelah memastikan Via memasang seat belt, Bu Aisyah mulai melajukan mobil.

"Sudah matang persiapan untuk lomba besok?" tanya Bu Aisyah.

"Yaaa... lebih banyak ke trik dan mental. Hanya sehari, sih."

"Tapi kalian kan sudah berpengalaman. Terutama kamu dan Viki."

"Iya, Bun. Mudah-mudahan tidak jauh berbeda dengan tahun lalu."

"Kamu bisa googling materi debat nanti malam. Pakai WiFi saja. Nanti tanyakan password-nya ke Azka."

"Baik, Bun."

"O iya, sepertinya tadi kamu ke mushola. Sudah suci?"

"Maksud Bunda?"

"Haidmu sudah selesai?"

"Iya, sudah Bun. Nanti bisa mulai belajar ngaji, ya?"

Bu Aisyah mengangguk sambil tersenyum.

"Tadi pagi sudah mandi besar?"

Via terhenyak. Rasanya ia pernah mendapat penjelasan tentang hal itu.

"Mandi besar?"

"Kalau sudah bersih dari haid atau pun nifas bagi yang baru melahirkan, harus mandi wajib sebelum mendirikan sholat."

"Keramas?"

"Iya, tapi ada tata cara yang harus diikuti."

"Sepertinya waktu SMP pernah dijelaskan, tapi Via lupa."

"Karena tidak dipraktekkan."

Via tertunduk malu.

"Nggak usah malu. Nanti sampai rumah kamu ikuti tata cara mandi besar. Pertama niat, lalu bersihkan tanganmu. Bersihkan bagian-bagian yang kotor pakai tangan kiri. Lalu, cuci tangan lagi. Kalau sudah, kamu berwudhu. Berikutnya, basahi kepala sampai kulit 3 kali dan pisahkan rambut dengan jari. Terus, guyur badan, dan mandi pakai sabun juga shampo seperti biasa."

Via menangguk tanda mengerti. Ia baru sadar kalau selama ini dia telah salah.

"Emm...niatnya gimana?"

“Nawaitul ghusla lifraf il hadatsil akbari minal haidil fardha lillahi ta’ala”

Via mengulang-ulang ucapan Bu Aisyah.

"Sudah hafal?"

Via mengangguk lalu menjawab dengan mantap," Sudah, Bun."

"Bagus! Langsung praktekkan, ya!"

Tak terasa mereka telah sampai. Setelah mobil terparkir rapi di garasi, mereka masuk rumah.

"O iya, kamu jangan masuk kamar Farhan! Masuk kamar yang baru, ya!"

Via mengiyakan. Ia melangkah ke kamar yang baru selesai direnovasi kemarin. Perlahan dibukanya pintu kamar.

Begitu terbuka, Via memekik tertahan. Ia tidak mengira ada orang di kamar itu.

"Mas Azka? Sedang apa di sini?"

"Tadi Bunda pesen agar aku menyiapkan kamar ini. Barusan aku bawa koper dan kardus punyamu ke sini."

"Oh, begitu. Maaf merepotkan. Mas Azka jadi susah payah beres-beres."

"Sudah payah apaan? Cuma masang pajangan dinding sama seprei kok. Mau aku bantuin menata buku-bukumu?"

"Eng...nggak usah. Aku bisa sendiri, kok. Terima kasih atas bantuan Mas Azka."

"Hahaha... sepertinya kamu masih malu-malu. Kamu nggak usah sungkan. Kamu anggap kami keluargamu. Oke?"

"Iya, Mas."

"Ya sudah, aku tinggal. Kalau butuh bantuan, ingat, jangan sungkan!"

Via mengangguk. Azka pun keluar dari kamar Via. Setelah Azka keluar, Via menyapukan pandangannya ke sekeliling kamar. Ada pajangan tulisan ayat kursi dan gambar Kakbah di dinding. Juga ada jam dinding berbentuk kotak bergambar pemandangan. Almari pakaian bersebelahan dengan meja belajar. Seprei bermotif polkadot warna ungu muda telah terpasang rapi.

Ruangan ini memang tak sebesar kamar di rumahnya dulu. Namun, Via merasa nyaman. Dia juga bersyukur karena ada orang sebaik Bu Aisyah yang memberikan tempat tinggal. Bahkan, kehangatan keluarga Via dapatkan di rumah tersebut.

Via tersadar ketika melihat jam dinding. Ia segera mencari handuk dan baju gantinya lalu bergegas ke kamar mandi. Apa yang diajarkan Bu Aisyah di mobil ia praktekkan.

Selesai mandi, ia segera ke mushola.

"Sudah kamu praktekkan, Vi?" tanya Bu Aisyah begitu melihat Via keluar dari mushola.

"Sudah, Bun. Terima kasih atas bimbingan Bunda. Nanti jadi belajar ngaji, kan?"

"Iya, jadi. Terakhir kamu ngaji sampai apa?"

"Baru iqra, Bun." Via tertunduk malu.

"Nggak usah malu. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Nanti kita ulang iqra, ya!"

"Saya ikut saja gimana baiknya, Bun."

"O ya, kamu suka nggak dengan kamarmu? Tidak semewah kamarmu, sih."

"Suka, Bun. Itu sudah lebih dari cukup, kok."

"Syukurlah kalau kamu suka."

"Via permisi dulu, Bun.Via mau menata baju dan buku-buku Via dulu."

"Ya, silakan."

Via kembali ke kamar untuk melanjutkan pekerjaan Azka.Tinggal menata barang-barang pribadi miliknya.

Selesai memasukkan baju ke almari, Via membongkar kardus isi buku dan dokumen. Ia menatanya di meja belajar.

Saat hampir selesai, Via menemukan selembar foto yang terjatuh. Via menatap lekat foto itu. Seingatnya, dia belum pernah melihat foto itu.

Seorang pria berusia sekitar 30 tahun papanya dan wanita yang lebih muda tengah menggendong anak lelaki berusia sekitar 10 tahun. Via tidak mengenal orang yang ada di foto.

"Siapa orang ini? Sepertinya foto ini sudah berusia puluhan tahun. Mirip almarhum papa, sih. Tapi orang ini memiliki tatapan mata yang tajam. Apa almarhum kakek? Sayangnya dulu papa nggak pernah ngasih tahu kayak apa kakek nenek," pikir Via. Ia mencermati lagi foto di tangannya.

"Tok...tok...tok..." suara ketukan pintu membuyarkan angan-angan Via. Ia segera menyimpan foto itu.

"Vi, jamaah maghrib yuk!"

"Ya, Bun, sebentar."

Via segera keluar kamar. Bu Aisyah telah menanti di depan pintu.

"Ayo, Bun."

Mereka berjalan beriringan ke mushola keluarga. Baru saja selesai wudhu, Pak Haris menyusul. Mereka sholat maghrib berjamaah dengan diimami Pak Haris.

Selesai jamaah maghrib, Pak Haris kembali ke tempat praktik. Sementara, Bu Aisyah mengajari Via mengaji.

"Masih hafal huruf Hijaiyah, kan?"

"Masih, Bun."

"Baik, ini untuk mengecek saja."

Begitu asyiknya, mereka tidak menyadari sudah hampir satu jam berlalu. Adzan isya menghentikan kegiatan belajar Via hari itu.

Setelah sholat isya, mereka menyiapkan makan malam sembari menunggu Azka dan Farhan pulang dari masjid.

***

1
Surya Hermawan
gatot dooong/Facepalm//Facepalm/
Surya Hermawan
waaj kiky suka salsa ya /Angry//Angry/
Surya Hermawan
nggak fulgar tp aku suks
Surya Hermawan
aku suka pas part ayah bunda /Heart//Heart/
Surya Hermawan
Luar biasa
Imma Juhamzah
baru ketemu nih novel
bagus
Sapna Anah
kasian Novia Thor mungkin ppanya kena pitna
Lina Wahyuni
waah thor berhasil bikin aku nangis sejadi2nya
Akhi Jemmy
andai didunia nyata ada teman kayak gitu,seneng banget sayang cuma dunia halu adanya
Tae Kim
bikin ketawa ngakak
Eli Maliani
bgs
Eli Maliani
baru juga baca sampe sini eeh udah mewek😭😭
Efa Sriasih Efa
Lumayan
Haetsuki
mampir
Isnay Maulani
maacih thor 🙏
sukses trs tuk karya2 berikutnya 💕💕💕💕
Isnay Maulani
Maacih thor...
farhan msh hidup biar via bahagia 💕💕💕
Isnay Maulani
mesraaanyaa bikin hati adem 💕💕
Chicik Lestary
ya allah aku baca part ini sampe sek sekan... author menebar banyak bawang
Erni Fitriana
like
Xianlun Ghifa
bom like untuk karya mu Thor. jangan lupa mampir di CS saya Tumbal Cinta Jalan Ke.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!