Berkisah tentang lima orang sahabat yang berkemah di puncak gunung. Namun kendala dan segala gangguan terus menghantui mereka dari sejak mereka berangkat sampai tiba di puncak. Sosok wanita hitam misterius terus mengikuti mereka kemanapun dan mencari waktu yang tepat untuk membalaskan dendam nya pada lima orang tersebut. Akankah mereka selamat atau tiada? Siapa pengkhianat di antara mereka sebenarnya?
***
"Pergi... kita harus pergi. Mereka gak suka kita di sini"
.
.
.
"Tadi gue mimpi. Kita semua mati di tangan mereka"
.
.
.
"Sabar?! Ini semua karena lo Gun! Kematian teman teman kita itu semua karena lo! Andai lo gak keras kepala ingin naik gunung, teman teman kita pasti masih hidup! Reni gak akan mati!!"
Penasaran? Yuk kepoin cerita Kevin dan keempat temannya dalam menghadapi kematian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rai Rai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 (Bertemu Mbah Seno)
Keesokan harinya. Kami semua bersiap siap untuk pulang selepas sarapan pagi. Guntur masih tetap pada keputusannya semalam. Ia akan tetap pergi walaupun sendiri. Ia bilang akan mengantar kami sampai keluar dari kampung ini.
"Gun!" Panggilku saat dia sedang beberes pakaian.
"Hm, apa?"
"Yakin?"
"Ck, gue sangat yakin Kevin Wijaya. Capek gue denger kalian asik nanya itu aja. Lagian gue udah lama tinggal di sini. Udah sering juga gue naik turun gunung itu. Buktinya gue pulang dengan selamat" Guntur terlihat kesal hingga berhenti dengan aktivitas nya.
Aku duduk di sebelahnya. "Tapi itukan dulu sebelum kejadian itu terjadi. Lo udah satu tahun pindah, banyak hal yang terjadi dan lo gak tau. Jadi, usah ngeyel kalau di bilangin. Ini demi keselamatan lo juga"
"Gue yakin 100 persen bakalan aman, Vin. Gue juga mikirin kalian, karena itu gue gak maksa kalian untuk lanjut bareng gue"
Oke, aku sudah menyerah untuk membujuk anak keras kepala itu. Dia memiliki seribu alasan dan jawaban untuk membuatnya menang jika kami sudah berdebat.
Tiba tiba terpikir olehku sesuatu. "Lo pernah ketemu Nita, kan, selama lo tinggal di sini?" Pasti karena itu Guntur terlihat seperti sudah mengenal Nita. Aku pun ingin memastikan sesuatu. Jawaban Guntur sangat penting bagiku.
Guntur menjadi gugup. Ia salah tingkah dan berdehem beberapa kali. "Cu-cuma beberapa kali doang, kok. Itu juga karena ada keperluan sama pak RT, jadi gak sengaja ketemu dia"
"Apa dia Nita teman kita atau bukan?"
"Bukan, orang yang namanya Nita kan banyak"
Guntur benar juga. Tapi ya kali bisa hamil samaan, tujuh bulan juga lagi. Dan aku tau Guntur berbohong.
"Nak Kevin, yang lain udah pada nunggu!" Panggil pak RT dari luar.
Aku dan Guntur segera keluar dari rumah. Yang lain menatapku, aku hanya menggeleng sebagai jawaban kalau Guntur tetap tidak ingin pulang.
Pak RT ikut mengantar kami sampai gerbang kampung. Di perjalanan, kami banyak bertemu dengan orang orang yang menyapa ramah pada kami. Mungkin karena ada pak RT di antara kami.
Kami ikut berhenti saat pak RT yang memimpin jalan bersama Azmi berhenti.
Terlihat, seorang pria tua seumuran pak RT sedang berjalan ke arah kami. Ia memakai pakaian serba hitam dengan blangkon di kepalanya. Matanya tajam dan auranya buruk, pekat dan membuat orang menjadi merinding. Aku yang orang awam saja bisa merasakannya.
"Kevin" Reni memegang ujung jaketku dan bersembunyi di belakang tubuhku, menatap takut pada pria yang aku yakini adalah sesepuh kampung ini. Tapi tatapan mata Reni berubah ubah, terkadang takut, datar, tajam dan marah. Apa Reni masih ketempelan arwah itu?
Tak sengaja aku menoleh ke arah Guntur yang berada di samping kanan ku. Wajahnya memerah menahan amarah, tangannya mengepal, matanya menatap tajam dan benci pada pria itu yang sudah berdiri di depannya.
"Mbah Seno" Aku yang di samping Guntur dapat mendengar gumaman nya.
"Ini mau pada kemana?" Tanya Mbah Seno sok akrab.
"Mereka pada mau pulang" Pak RT yang menjawab.
"Wah, mereka 'unik unik' ya. Eh, saya kayak kenal sama kamu" Mbah Seno menunjuk ke arah Guntur sambil berpikir.
"Oh, kamu anaknya Miswandi kan, yang di usir gara gara bawa_"
"Menyingkir dari jalan kami" Guntur memotong pembicaraan Mbah Seno hingga kami tidak tau kelanjutan ucapannya. Ternyata Guntur di usir dari kampung ini, tapi karena apa? Aku merasa sepertinya aku belum tau banyak tentang sahabat sahabat ku.
Dan Guntur benar benar berani. Aku saja ketakutan berada di dekat pria tua itu. Untuk menatap matanya saja takut. Tapi Guntur berdiri tegap dan menatap tajam matanya. Bahkan berani memotong ucapan nya.
"Yo wes, aku pulang ae lah. Nanti juga kalian bakalan balik ke sini lagi. Hati hati menarik perhatian 'mereka' karena kalian semua 'unik'" Mbah Seno berlalu dari hadapan kami, tapi mata kami tak bisa lepas darinya. Semua perkataan yang keluar dari mulutnya tidak kami mengerti. Kata katanya misterius.
Kami melanjutkan perjalanan kembali. Pak RT bercerita kalau Mbah Seno memang sok akrab dengan orang lain, kata katanya juga bikin otak belibet karena tidak dapat di mengerti. Walaupun begitu, semua orang takut padanya karena auranya yang menakutkan. Mbah Seno orangnya juga tempramental dan suka bikin orang lain kesal.
Kami sampai di gerbang kampung. Pak ustadz ternyata menunggu kami di sana untuk mengantar kepergian kami.
Kami semua mencium tangannya. Pak ustadz menepuk bahuku sambil tersenyum.
"Udah ketemu sama Mbah Seno?" Tanya nya membuatku terkejut. Darimana dia tahu?
Aku mengangguk saja.
"Dia pasti ngomong sesuatu kan?"
"Iya, pak, katanya kita 'unik' lah, bakalan balik ke sini lagi lah. Dasar orang tua nyebelin!" Guntur yang menjawab pertanyaan pak ustadz dengan kesal. Seperti punya dendam sendiri padanya. Mungkin Mbah Seno ada kaitannya dengan dia dan bapak nya yang di usir.
"Hahaha, kan kalian emang 'unik'. Dia gak salah dong" Pak ustadz tergelak.
"Maksud dari 'unik' itu apa, pak?" Tanyaku.
"Nanti kalian juga pada tau"
Ah, dia sama saja dengan Mbah Seno ternyata. Kenapa tidak menjawab saja?
Kami berempat akhirnya berpamitan meninggalkan Guntur, pak RT dan pak ustadz. Aku ragu pergi dari kampung ini meninggalkan Guntur seorang diri mendaki di gunung itu. Tapi mau bagaimana lagi, Guntur terlalu keras kepala.
Seseorang terlihat kesal karena rencananya jadi berantakan. Bagaimana bisa balas dendam jika hanya satu orang yang tetap melanjutkan perjalanan, sedangkan yang lain pada memilih pulang. Semua memutuskan untuk pulang karena terus di ganggu oleh arwah itu atas perintahnya sendiri, dan sekarang ia menyesal. Seharusnya dia tidak memberikan gangguan dalam perjalanan mereka agar rencananya bisa tetap berjalan.
Sekarang, ia harus berpikir bagaimana cara agar mereka bisa kembali ke gunung itu dan semuanya berkumpul kembali agar rencana balas dendamnya bisa berjalan mulus.
. . . . . . . . . . . . . . . .
Sudah dua hari aku dan ketiga temanku pulang dari kampung Y meninggalkan Guntur. Selama itu juga aku merasa tidak tenang, gelisah memikirkan bagaimana nasib Guntur.
Aku menyeduh mi instan untuk sarapan pagi ini. Harum baunya benar benar menggugah selera. Setelah matang, aku membawanya keluar, duduk di teras kosan sambil menikmati pemandangan kota.
Drrrt
Drrrt
Aku segera mengecek ponselku yang berbunyi. Ada pesan masuk. Aku membukanya, masih dengan tanganku yang satu lagi sibuk menyendok mi ke dalam mulutku.
Aku tersedak saat membaca pesan itu. Segera mencari air putih karena tenggorokan ku sakit. Aku harus memberi tahu teman temanku. Kami harus kembali ke kampung itu karena Guntur menghilang!